Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

FW: Orang Sombong vs Orang Sinting (Maaf, telat diposting)

Expand Messages
  • omega
    Date: Mon, 17 Sep 2001 15:27:44 EDT Prof. Glinka: Orang Sombong vs Orang Sinting Guru Besar Antropologi Universitas Airlangga Surabaya ini menilai bahwa
    Message 1 of 1 , Oct 2, 2001
      Date: Mon, 17 Sep 2001 15:27:44 EDT

      Prof. Glinka:
      Orang Sombong vs Orang Sinting

      Guru Besar Antropologi Universitas Airlangga Surabaya ini menilai bahwa
      konflik antara AS dan Osama adalah konflik antara orang sombong dan
      orang sinting. Sama sekali bukan konflik Islam dan Kristen. Demikian
      pendapat Profesor Dr J Glinka, SVD yang disampaikan kepada Jelita dari
      Duta, Senin (17/9). Berikut penuturannya:

      Saya kira Amerika bukan tanpa dosa, bangsa ini agak sombong menganggap
      diri sebagai satu-satunya super power dan menjadi polisi dunia, kata
      Prof. Glinka seraya menarik nafas panjang. Penyerangan ini, menurutnya,
      berawal dari seluruh policy Amerika Serikat terhadap Timur Tengah,
      khususnya terhadap Irak dan Palestina yang tidak jelas. Sebenarnya
      seluruh kecelakaan itu dimulai dari perang Teluk. Waktu itu Osama bin
      Laden kembali dari Afghanistan ke Arab Saudi, dan dia tidak mau orang
      kafir masuk tanah suci (Arab). Apalagi orang Arab juga sedikit agak
      sombong karena membuat aturan yang macam-macam. Sehingga, sepertinya
      Osama merasa terlindungi. Akibatnya, dimana saja Osama bin Laden bebas
      menyerang bangsa barat, bukan hanya Amerika. Dan menurut saya, Osama
      memang gila. Sudah dua kali dia unjuk kebolehannya dan selalu berdarah,
      dan yang menjadi korban adalah bukan orang AS tapi orang yang sama
      sekali tidak berdosa. Serangan pertama dilakukan Osama bin Laden, pada
      kantor Kedutaan Besar AS di Kenya dan kedua menyerang pusat ekonomi
      global dunia di Amerika Serikat, Selasa pekan lalu. Untuk kedua aksi
      teror itu, Osama menyangkal. Saya kira dia yang melakukan itu. Kurang
      lebih dia di belakangnya, walaupun sampai sekarang AS belum bisa
      membuktikan tuduhan itu, tapi sekurang-kurangnya sebagian bukti mengarah
      ke sana . Sekarang yang menjadi persoalan, kata Prof. Glinka, apakah itu
      clash antar peradaban yang berbeda atau bentrokan antar orang gila dan
      orang yang merasa super power. Dan mayoritas negara Islam yang
      berpenduduk Islam terbesar tidak mengutuk Amerika, malah waktu tragedi
      itu mereka menyampaikan ucapan belasungkawa dan simpati yang mendalam.
      Jadi saya tidak percaya kalau itu perang antara Islam dan Kristiani
      (Barat) atau Islam dan Amerika, tukasnya. Hal tersebut bisa dibuktikan
      dengan inisiatif pemimpin Iran yang menjadikan tahun 2001 sebagai tahun
      dialog antar civilization dan agama. Dan saya kira, ide Iran ini
      mewakili negara-negara Islam di mana Paus
      (Vatikan) sendiri mendukung rencana tersebut.
      Bahkan hal itu resmi diumumkan, tuturnya. Sehingga salah besar kalau ada
      yang menilai tragedi kemanusiaan di AS tersebut dikait-kaitkan dengan
      konflik dua agama besar dunia itu. Rohaniawan Katolik ini juga
      mengungkapkan bahwa reaksi Vatikan terhadap serangan teror ini adalah
      belasungkawa. Paus menyesalkan kejadian ini dan Paus mengatakan bahwa
      kekerasan yang dilawan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan
      masalah. Sedangkan mengenai ancaman AS untuk menyerang Afghanistan, Prof
      Glinka mengatakan jika itu dilakukan, berarti Amerika akan menambah
      panjang daftar dosa yang telah mereka lakukan terhadap penduduk sipil.
      Berarti AS tidak gentleman. Seharusnya mereka menangkap Osama bin Laden
      daripada harus menyerang negara itu dan menimbulkan korban jiwa tak
      berdosa, tandasnya. Namun jika ada pihak yang memprediksikan ancaman
      tersebut akan melahirkan perang salib jilid II, pemikiran demikian
      sebaiknya dihilangkan. Jadi kalau ada pemahaman bahwa sekarang terjadi
      perang salib, itu salah besar, tukasnya. Menjawab pertanyaan mengenai
      implikasi langsung bagi kehidupan beragama di Indonesia terhadap tragedi
      kemanusiaan ini, dengan sedikit hati-hati, Prof. Glinka mengatakan
      tergantung pemahaman orang per orang. Kalau kita tidak memfungsikan
      kepala kita dengan normal maka akan berimpact buruk. Sebaiknya kita
      mengikuti pemikiran Gus Dur sajalah, katanya tanpa menjelaskan lebih
      rinci.(*)

      ----- End of forwarded message from Sefdin Bahks -----
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.