Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Natal

Expand Messages
  • I Sumarya
    HR Natal “Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia” Ajaran untuk hidup dan bertindak saling mengasihi merupakan ajaran
    Message 1 of 9 , Dec 23, 2012
    • 0 Attachment
      HR Natal
      “Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia”
      Ajaran untuk hidup dan bertindak saling mengasihi merupakan ajaran semua agama, dan kiranya semua pemuka atau pengajar agama atau pengkotbah hemat saya senantiasa menyampaikan ajaran atau kotbahnya didasari atau dijiwai oleh cintakasih. Memang karena keterbatasan dan kelemahan masing-masing, sesuai dengan lingkungan hidupnya, ada kemungkinan secara konkret apa yang diajarkan atau dikotbahkan berbeda, dan tentu saja para pendengar juga akan berbeda dalam penghayatan atau pelaksanaan perihal perintah untuk saling mengasihi. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal ‘saling mengasihi’ dalam rangka mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia atau merayakan pesta Natal. Natal berasal dari kata Latin ‘natus’ (kata sifat), yang berarti lahir, diciptakan, menurut kodratnya diperuntukkan bagi, dst.. Maka hemat saya berefleksi perihal ‘saling mengasihi’ kita dapat berpedoman perihal ‘dilahirkan, diciptakan, menurut kodratnya diperuntukkan bagi’.
                  “Allah telah mengasihi kita” (bdk 1Yoh 4:19)
      Kutipan di atas ini menjadi tema pesan Natal bersama PGI dan KWI pada tahun ini. Kasih Allah kepada manusia kiranya dapat kelihatan dan dinikmati oleh orang yang sungguh saling mengasihi, khusus suami-isteri yang saling mengasihi dengan bebas dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuataan tanpa syarat. Penghayatan ajaran saling mengasihi dalam diri suami-isteri merupakan wujud partisipasi dalam karya penciptaan Allah dalam menciptakan manusia. Buah saling mengasihi antar suami-isteri tidak lain adalah anak yang terkasih, yang kiranya juga boleh disebut sebagai ‘buah kasih’ alias yang terkasih. Bukankah kita semua juga merupakan ‘buah kasih’ atau yang terkasih, yang diciptakan oleh Allah bekerjasama dengan bapak-ibu atau orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi?
      Pesta Natal memang merupakan kenangan kasih Allah kepada manusia yang luar biasa, dimana Ia menjadi manusia seperti kita dalam hal dosa, melepaskan segala kebesaran atau ke-Allah-anNya untuk menjadi manusia sama seperti kita. KedatanganNya ke dunia juga merupakan wujud kasih pengampunan Allah kepada umat manusia yang berdosa. “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam
      palungan.” (Luk 2:10-12), demikian Warta Gembira kelahiran atau kedatangan Penyelamat Dunia.
      Kelahiran senantiasa membahagiakan dan menggembirakan, dan tentu saja bagi kaum beriman, entah itu itu kelahiran manusia atau binatang atau jika tanaman berarti menghasilkan buah. Apalagi jika yang lahir adalah akan menjadi orang penting, misalnya yang akan mewarisi tahta kerajaan. Yang kelahiranNya kita kenangkan hari ini “memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”, Ia lahir sebagai Penyelamat Dunia, untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya, dan untuk itu Ia sungguh ‘mendunia’ atau ‘membumi’. KasihNya sungguh membumi atau mendunia alias menjadi nyata. Maka jika kita menghayati ajaran saling-mengasihi hendaknya juga sungguh membumi atau mendunia alias menjadi nyata, dan hemat saya salah satu wujud kasih yang hendaknya dihayati adalah ‘boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih’ alias bermurah hati kepada yang terkasih, hatinya senantiasa terarah kepada yang terkasih.
      “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”(Tit 2:11-12). Penyelamat Dunia datang sebagai manusia ke tengah-tengah kita untuk “mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”. Pertama-tama kita semua diharapkan hidup dan bertindak tidak materialistis, melainkan secara spiritual alias lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia. Untuk itu antara lain kita diharapkan “hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”.
      Bertindak bijaksana berarti buah tindakan atau kebijakannya senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan dirinya sendiri maupun orang lain yang kena dampak tindakan atau kebijakannya. Saya percaya dalam Malam Natal atau di hari-hari yang bersuasana Natal ini kira semua dalam keadaan berbahagia dan bergembira dan kiranya juga terjadi pembagian hadiah atau makanan dan minuman alias tukar ‘tali asih’. Kami berharap dalam hal ini sungguh adil, dan keadilan yang paling mendasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia alias semakin memanusiakan manusia. Jika kita semua sungguh manusiawi, maka panggilan atau ajakan untuk “beribadah di dalam dunia sekarang ini” dapat kita lakukan atau hayati dengan mudah dan baik.
      Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” (Luk 2:20)
      Penerima dan saksi pertama Warta Gembira Natal, kelahiran Penyelamat Dunia adalah para gembala domba. Dalam tata susunan social kemasyarakatan para gembala termasuk ‘orang buangan’ yang kurang diperhatikan, meskipun demikian para gembala tidak kecewa, tidak frustrasi, melainkan tetap bahagia dan gembira. Karena tiada yang diharapkan dari manusia, sesamanya, maka dambaan atau harapan mereka senantiasa terarah kepada Allah, Penyelenggaraan Ilahi. Maka kiranya dapat dimengerti dengan baik bahwa akhirnya mereka yang pertama kali mampu mengimani kelahiran Penyelamat Dunia, yang lahir dalam puncak kemiskinan dan kesederhanaan di palungan kandang domba.
      Para pemimpin Umat Allah sering juga disebut gembala umat, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap gembala umat untuk menghayati panggilan penggembalaan dengan baik dan benar. Motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yaitu “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (= keteladanan/kesaksian, pemberdayaan, motivasi) kiranya dapat dihayati dalam penggembalaan umat Allah. Kami berharap kepada para gembala umat dapat menjadi teladan dalam hal ‘boros waktu dan tenaga’ terhadap sesamanya, mengasihi umat. Selain itu hendaknya dapat menjadi teladan hidup sederhana dan tidak materialistis, sehingga dambaan atau harapannya ada pada Penyelenggaraan Ilahi. Pemberdayaan juga penting sekali dalam penggembalaan umat, yang antara lain berarti kedatangan atau keberadaan gembala umat dimana pun dan kapan pun senantiasa memberdayakan umat, menggairahkan, mempesona dan menarik umat untuk semakin tumbuh berkembang sebagai umat Allah yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Hendaknya juga mendorong dan meneguhkan umat yang berkehendak baik untuk mewujudkan kehendak baiknya dalam cara hidup dan cara bertindak.
      Semoga di antara kita setelah saling bertemu, bercakap-cakap dan bercurhat kemudian      memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” Dengan kata lain masing-masing dari kita hendaknya berkata-kata atau berceritera perihal kebenaran-kebenaran , bukan kebohongan atau pura-pura. Berkata-kata atau berceriteralah apa adanya, tidak berkurang atau berlebih dari kenyataan atau kebenaran yang ada.  
                  Natal adalah Kabar Gembira atau Kabar Baik.
      Akhirnya marilah kita sadari dan hayati bahwa kelahiran Penyelamat Dunia adalah kabar baik, maka merayakan Natal atau mengenangkan kelahiranNya berarti kita senantiasa dapat menjadi pewarta kabar baik, menyebarluaskan dan melakukan apa yang baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Maka baiklah saya kutipkan apa yang dipesankan oleh PGI dan KWI dalam pesan Natal Bersama 2012 sebagai berikut:
      “Dalam terang kasih itu, kami mengajak saudara-saudari untuk menanggapi kasih Allah dengan bertobat dan sungguh-sungguh mewujudkan kasih dengan memperhatikan beberapa hal penting berikut ini:
      Pertama, Allah menciptakan alam semesta itu baik adanya dan menyerahkan pemeliharaan serta pemanfaatannya secara bertangungjawab kepada manusia. Perilaku tidak bertanggung-jawab terhadap alam ciptaan akan menyengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini, tetapi terlebih generasi yang akan datang. Maka kita dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaanNya dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam
      Kedua, melibatkan diri dalam berbagai usaha baik yang dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan seperti konflik kemanusiaan, menguatnya intoleran dan perilaku serta tindakan yang menjauhkan semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa.
      Ketiga, melalui jabatan, pekerjaan dan tempat kita masing-masing dalam masyarakat, kita ikut sepenuhnya dalam semua usaha yang bertujuan memerangi kemiskinan jasmani maupun rohani. Demikian juga kita melibatkan diri dalam berbagai upaya untuk memberantas korupsi. Salah satu caranya adalah mengembangkan semangat hidup sederhana dan berlaku jujur.
      Keempat, melibatkan diri dalam menjawab keprihatinan bersama terkait dengan lemahnya penegakan hukum. Hal itu bisa kita mulaiu dari diri kita sendiri dengan menjadi warga negara yang taat kepada hukum dan yang menghormati setiap proses hukum seraya terus mendorong ditegakkannya hukum demi keadilan dan kebaikan seluruh warga bangsa”.
      “SELAMAT NATAL 2012 DAN TAHUN BARU 2013”
      Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.” (Mzm 97:11-12)
      Ign 25 Desember 2012
    • Tawangalun
      Secara kebetulan dalam pesawat Ga-102 tempat duduk Pak Kyai jejer dg tempat duduk Pastur.Setelah mencapai ketinggian 7000 Kaki maka sang Pastur nawari Pak Kyai
      Message 2 of 9 , Dec 25, 2012
      • 0 Attachment
        Secara kebetulan dalam pesawat Ga-102 tempat duduk Pak Kyai jejer dg tempat duduk Pastur.Setelah mencapai ketinggian 7000 Kaki maka sang Pastur nawari Pak Kyai sampanye yg ditolak ah trimakasih saya teh saja,sebab agama saya Khamr masuk daftar yg tdk dibolehkan.Lalu Pastur bilang Oo ya sudah tapi sayang ya Pak Kyai gak bisa menikmati padahal sampanye itu seger sekali lo.Setelah mendarat Pak Kyai dijemput 4 orang wanita yg tergolong muda dan cantik pula.Lalu Pastur bilang wah Pak Kyai dijemput putri2nya ya?Pak Kyai:Ooo itu bukan putri saya tapi istriku yg seluruhnya ada 4,la istri Pak Pastur mana kok gak njemput?wah kalau istri diagama saya masuk daftar yg tdk dibolehkan.Ooo gitu padahal wanita itu enak sekali lo Pak,sayang ya agama Bapak melarangnya.

        Shalom,
        Tawangalun.
      • infokasih
        Buat semua teman-teman, sahabat , dan kerabat Selamat Hari Natal bagi yang merayakan. Salam hangat ya ^_^
        Message 3 of 9 , Dec 25, 2012
        • 0 Attachment
          Buat semua teman-teman, sahabat  , dan kerabat

          Selamat Hari Natal bagi yang merayakan. 

          Salam hangat ya ^_^
        • Tawangalun
          Saya nilai Pancasila ini gagal berdasar data2 ini: 1.Utang RI pergundul Rp 8 juta termasuk bayi yg baru lahir. 2.Pengangguran tinggi tapi saya nyari tukang
          Message 4 of 9 , Dec 25, 2012
          • 0 Attachment
            Saya nilai Pancasila ini gagal berdasar data2 ini:

            1.Utang RI pergundul Rp 8 juta termasuk bayi yg baru lahir.
            2.Pengangguran tinggi tapi saya nyari tukang bangunan saja susah.
            3.Korupsinya ngudubilah.
            4.Kalau ada kampanye Calon Presiden pemenangnya adalah siapa yg sanggup ngasih
            uang bensin massa pergundul Rp 50000.Kalau hanya bisa ngasih Rp 10000 jangan
            harap bisa menang.
            Hal tsb wajar soalnya tokoh Pancasila yakni Penggalinya(BK) justru pelanggar UUD
            45 dg gelem diangkat jadi Presiden seumur hidup.Padahal George Washington mau
            dicalonkan lagi ora gelem.Jangan Presiden itu cukup sekali wae.Kalau BK bisa
            jadi seumur hidup kenapa mBah Harta gak bisa,akirnya pemimpin yg menyuruh
            penggalangan P-4 inipun podo wae seumur hidup juga.Yg bejo itu India dia
            dikaruniai Pemimpin yg sederhana Gandhi kemana mana hanya berbaju Ihram,jadi RI
            ini belum pernah punya pemimpin Pancasilais sing apik.La nek Islam punya
            pemimpin apik opo enggak? wooo banyak:

            1.Ketika Rasul meninggal kabeh do nggruduk ke Abu Bakar minta agar dia jadi
            Khalifah.Dia nolak sebaiknya Umar aja yg lebih tegas.Lalau kabeh do nggruduk ke
            Umar agar bersedia jadi Khalifah.Demi Allah kalau Abu Bakar masih hidup saya gak
            mau.Kembali kabeh nggruduk ke Abu Bakar lagi ,la baru gelem.

            2.Gak usah Khalifahnya yg memang jujur jujur tdk numpuk bondo minded,bahkan yg
            tingkat Gubernur aja hebat2.Coba tanya Salahudin ketika mati punya opo dia.Rata2
            yg jadi gubernurpun setengah dipaksa,bukan seperti sekarang malah do kampanye
            AKU PILIHEN.Ini yg paling saya benci.
            Intinya Ideology Islam itu pernah punya tokoh Islami yg apik sementara Pansila
            itu belum ada tokoh,apa masih mau diteruskan?Lihat Malaysia yg sama2 klas Melayu
            ngapo kok makmur,kok lalulintasnya apik.Soale lebih Syariah dia.Padahal wilayah
            Malaysia itu gur podo dg Sumatra plus Sulawesi.Minyak sama2 punya.

            Shalom,
            Tawangalun.
          • *AleXander*
            ‎​‎​ªªkªªkªª=Dªªk.., ªªkªªkªª=Dªªk.., ‎​pakdeee.. pakde..., ªªkªªkªª=Dªªk..,
            Message 5 of 9 , Dec 27, 2012
            • 0 Attachment
              ‎​‎​ªªkªªkªª=Dªªk.., ªªkªªkªª=Dªªk.., ‎​pakdeee.. pakde..., ªªkªªkªª=Dªªk.., ‎​ªªkªªkªª=Dªªk.., joke nya ter..la..lu.., ‎​ªªkªªkªª=Dªªk.., ter..la..lu...


              Powered by AEC-sel Corp®

              From: "Tawangalun" <tawangalun@...>
              Sender: islam-kristen@yahoogroups.com
              Date: Tue, 25 Dec 2012 09:17:34 -0000
              To: <islam-kristen@yahoogroups.com>
              ReplyTo: islam-kristen@yahoogroups.com
              Subject: [islam-kristen] Joke Pak Kyai dg Pastur

               

              Secara kebetulan dalam pesawat Ga-102 tempat duduk Pak Kyai jejer dg tempat duduk Pastur.Setelah mencapai ketinggian 7000 Kaki maka sang Pastur nawari Pak Kyai sampanye yg ditolak ah trimakasih saya teh saja,sebab agama saya Khamr masuk daftar yg tdk dibolehkan.Lalu Pastur bilang Oo ya sudah tapi sayang ya Pak Kyai gak bisa menikmati padahal sampanye itu seger sekali lo.Setelah mendarat Pak Kyai dijemput 4 orang wanita yg tergolong muda dan cantik pula.Lalu Pastur bilang wah Pak Kyai dijemput putri2nya ya?Pak Kyai:Ooo itu bukan putri saya tapi istriku yg seluruhnya ada 4,la istri Pak Pastur mana kok gak njemput?wah kalau istri diagama saya masuk daftar yg tdk dibolehkan.Ooo gitu padahal wanita itu enak sekali lo Pak,sayang ya agama Bapak melarangnya.

              Shalom,
              Tawangalun.

            Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.