Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [islam-kristen] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam saja?

Expand Messages
  • great pretender
    Kristen duluan ada dari muslim. gp ... -- Salam, Great Pretender
    Message 1 of 5 , Nov 30, 2008
    • 0 Attachment
      Kristen duluan ada dari muslim.

      gp

      On 12/1/08, shahil talib.. <i_shahil@...> wrote:
      > Salam hormat buat anda, post ox.Benar pertanyaan anda bahawa kata ALLah
      > hanya khas bagi Muslim.
      > Muslim adalah agama dari Nabi Adam, hingga Jesus dan Muhammad. Mereka semua
      > bertuhankan ALLah yang Esa. Mereka semua Muslim kerana Muslim hanya
      > menyembah ALLah yang Esa.Kristen bukan ajaran Jesus tetapi ajaran Palus dan
      > gengnya. Tuhan ajaran Paulus dan gengnya adalah Yahweh. Maka jelas ALLah
      > yang Esa tidak berhak disebut oleh kaum anda kerana anda menuhankan Yahweh
      > yang menjawat "jabatan" Bapa, Anak dan Roh ALLah.ALLah bukan "jabatan"
      > Yahweh. Jika anda berkeras juga mahu manyebut ALLah sebagai Tuhan, saya
      > mencabar anda tunjukkan ayat Bible yang menyatakan ALLah adalah 'jabatan"
      > Yahweh.Salam hormat.
      > --- On Sun, 11/30/08, POST OX <omega.post1@...> wrote:
      > From: POST OX <omega.post1@...>
      > Subject: [islam-kristen] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam saja?
      > To: "POST OX" <omega.post1@...>
      > Date: Sunday, November 30, 2008, 8:37 AM
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Apakah istilah "Allah" hanya milik
      > umat Islam saja?
      >
      > Share
      >
      > Today at 2:52am
      >
      > SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini
      > sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya
      > atas
      > kebebasan beragama (baca International
      > Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke
      > Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang
      > berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh
      > pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya
      > terdapat
      > kata "Allah".
      >
      >
      >
      > Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk
      > memakai
      > kata "Allah", sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat
      > lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata "Allah" sebagai
      > sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim
      > dikhawatirkan bisa membingungkan dan "menipu" umat Islam (Catatan: Sedih
      > sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti
      > itu?)
      >
      >
      >
      > Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata "Allah" hanyalah
      > milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang
      > mereka
      > sembah dengan kata "Allah"? Apakah pandangan semacam ini ada
      > presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?
      >
      >
      >
      > Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli,
      > tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap
      > pemerintah
      > Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama
      > dan
      > kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan
      > larangan tersebut.
      >
      >
      >
      > Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu,
      > ada
      > seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata "Allah"
      > dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu,
      > istilah
      > "Allah" bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen.
      > Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.
      >
      >
      >
      > Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan
      > Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur.
      > Tetapi
      > jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya,
      > sebagai
      > seorang Muslim dan "orang dalam", tentu berhak mengemukakan pandangan
      > mengenainya.
      >
      >
      >
      > Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya,
      > sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa
      > pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan
      > untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan
      > berkali-kali
      > kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan
      > sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS
      > 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh
      > sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.
      >
      >
      >
      > Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab
      > dan
      > sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis
      > Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu
      > hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd
      > di
      > Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai
      > Maimonides
      > [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha'irin (Petunjuk Bagi
      > Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa
      > kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.
      >
      >
      >
      > Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat
      > pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab
      > sebagai berikut: Fi al-bad'i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca
      > Al-Kitab
      > al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi
      > Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: "Pada mulanya Allah
      > menciptakan langit dan bumi".
      >
      >
      >
      > Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu
      > mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan
      > terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak
      > seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes
      > penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.
      >
      >
      >
      > Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam,
      > dan,
      > sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang "mutakallim"
      > atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau
      > Yahudi
      > karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang
      > sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M
      > adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, "Al-Fikr al-Islami fi
      > al-Radd 'Ala al-Nashara", 2007).
      >
      >
      >
      > Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian
      > diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal
      > sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar
      > Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi
      > Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara
      > berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia
      > itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan
      > "asli" milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam
      > datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut
      > dari
      > orang lain.
      >
      >
      >
      > Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang
      > sama,
      > yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran
      > dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah
      > lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama
      > berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan
      > sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga
      > tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai
      > pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi
      > pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, "The
      > Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature", 2001).
      >
      >
      >
      > Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks
      > istilah-istilah
      > yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang
      > ada
      > dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf
      > (mengelilingi ka'bah), ruku' (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah
      > dipakai
      > jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.
      >
      >
      >
      > Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal
      > kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa
      > semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan
      > dengan
      > doktrin Islam, adalah "asli" milik umat Islam, bukan pinjaman dari
      > umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah
      > sama
      > sekali.
      >
      >
      >
      >
      >
      > JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari
      > Malaysia
      > itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah
      > ini
      > dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa
      > dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam
      > manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam
      > tubuh
      > umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan
      > batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua
      > hal
      > itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.
      >
      >
      >
      > Penegasan bahwa kata "Allah" hanyalah milik umat Islam saja adalah
      > bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana
      > suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk
      > mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi
      > juga
      > pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi
      > umat
      > Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar.
      > Teori
      > konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh "kllik"
      > tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat.
      > Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan
      > justifikasi pada perasaan terancam itu.
      >
      >
      >
      > Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan "beda" jelas alamiah
      > belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam
      > dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada
      > bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak
      > masuk
      > akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian
      > didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai
      > istilah
      > "Allah" adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya
      > sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam
      > ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam
      > antara
      > Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
      >
      >
      >
      > Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama
      > seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan
      > merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad -- apakah tidak runyam
      > jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang
      > disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam
      > tak
      > boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah
      > tentu, kita tak menghendaki situasi yang "lucu" dan ekstrem seperti
      > itu benar-benar terjadi.
      >
      >
      >
      > Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang
      > negatif
      > tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra
      > negatif
      > tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat
      > Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam
      > itu
      > menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap
      > pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika
      > umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif
      > tentang
      > agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari "dalam" tubuh
      > umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.
      >
      >
      >
      > Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam,
      > sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan
      > tak
      > masuk akal.[]
      >
      >
      >
      > Ulil Abshar Abdalla
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan
      > saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik
      > ini.
      > Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu
      > mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam
      > di
      > sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >


      --
      Salam, Great Pretender
    • mursalaat
      In apa ya maksudnya? Kayakanya Shahil Talib ndak mbaca isi tulisannya atau ndak ngerti? Ndak nyambung caaaak! ... ALLah hanya khas bagi Muslim. ... Mereka
      Message 2 of 5 , Dec 1, 2008
      • 0 Attachment
        In apa ya maksudnya?
        Kayakanya Shahil Talib ndak mbaca isi tulisannya atau ndak ngerti?
        Ndak nyambung caaaak!

        --- In islam-kristen@yahoogroups.com, "shahil talib.."
        <i_shahil@...> wrote:
        >
        > Salam hormat buat anda, post ox.Benar pertanyaan anda bahawa kata
        ALLah hanya khas bagi Muslim.
        > Muslim adalah agama dari Nabi Adam, hingga Jesus dan Muhammad.
        Mereka semua bertuhankan ALLah yang Esa. Mereka semua Muslim kerana
        Muslim hanya menyembah ALLah yang Esa.Kristen bukan ajaran Jesus
        tetapi ajaran Palus dan gengnya. Tuhan ajaran Paulus dan gengnya
        adalah Yahweh. Maka jelas ALLah yang Esa tidak berhak disebut oleh
        kaum anda kerana anda menuhankan Yahweh yang menjawat "jabatan"
        Bapa, Anak dan Roh ALLah.ALLah bukan "jabatan" Yahweh. Jika anda
        berkeras juga mahu manyebut ALLah sebagai Tuhan, saya mencabar anda
        tunjukkan ayat Bible yang menyatakan ALLah adalah 'jabatan"
        Yahweh.Salam hormat.
        > --- On Sun, 11/30/08, POST OX <omega.post1@...> wrote:
        > From: POST OX <omega.post1@...>
        > Subject: [islam-kristen] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat
        Islam saja?
        > To: "POST OX" <omega.post1@...>
        > Date: Sunday, November 30, 2008, 8:37 AM
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Apakah istilah "Allah" hanya milik
        > umat Islam saja?
        >
        > Share
        >
        > Today at 2:52am
        >
        > SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini
        > sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar
        haknya atas
        > kebebasan beragama (baca International
        > Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke
        > Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping
        DVD yang
        > berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu
        disita oleh
        > pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam
        sampulnya terdapat
        > kata "Allah".
        >
        >
        >
        > Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen
        untuk memakai
        > kata "Allah", sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat
        > lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata "Allah" sebagai
        > sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-
        Muslim
        > dikhawatirkan bisa membingungkan dan "menipu" umat Islam (Catatan:
        Sedih
        > sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal
        sepele seperti
        > itu?)
        >
        >
        >
        > Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata "Allah" hanyalah
        > milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan
        yang mereka
        > sembah dengan kata "Allah"? Apakah pandangan semacam ini ada
        > presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu
        muncul?
        >
        >
        >
        > Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan
        rasa geli,
        > tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini.
        Sikap pemerintah
        > Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada
        sejumlah ulama dan
        > kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk
        memberlakukan
        > larangan tersebut.
        >
        >
        >
        > Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa
        tahun lalu, ada
        > seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus
        kata "Allah"
        > dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta
        itu, istilah
        > "Allah" bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen.
        > Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.
        >
        >
        >
        > Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari
        dalam kalangan
        > Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut
        campur. Tetapi
        > jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka
        saya, sebagai
        > seorang Muslim dan "orang dalam", tentu berhak mengemukakan
        pandangan
        > mengenainya.
        >
        >
        >
        > Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja,
        menurut saya,
        > sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak
        masa
        > pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah
        sebagai sebutan
        > untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri,
        bahkan berkali-kali
        > kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang
        Arab, bahkan
        > sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan
        mereka (baca QS
        > 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah
        ada jauh
        > sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di
        tanah Arab.
        >
        >
        >
        > Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan
        jazirah Arab dan
        > sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para
        penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu
        > hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan
        Ibn Rushd di
        > Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin
        sebagai Maimonides
        > [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha'irin
        (Petunjuk Bagi
        > Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan
        jumpai bahwa
        > kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.
        >
        >
        >
        > Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk
        Tuhan. Ayat
        > pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam
        bahasa Arab
        > sebagai berikut: Fi al-bad'i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard
        (baca Al-Kitab
        > al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan
        versi
        > Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: "Pada mulanya
        Allah
        > menciptakan langit dan bumi".
        >
        >
        >
        > Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai
        bahasa ibu
        > mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau
        keberatan
        > terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan
        tahun itu. Tak
        > seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang
        memprotes
        > penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.
        >
        >
        >
        > Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal
        Islam, dan,
        > sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai
        seorang "mutakallim"
        > atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen
        atau Yahudi
        > karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik
        tentang
        > sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-
        4 H/10 M
        > adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, "Al-Fikr al-Islami fi
        > al-Radd 'Ala al-Nashara", 2007).
        >
        >
        >
        > Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang
        kemudian
        > diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan
        janggal
        > sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar
        > Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-
        olok bagi
        > Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali
        memperlihatkan cara
        > berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama
        di Malaysia
        > itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan
        > "asli" milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam
        > datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata
        tersebut dari
        > orang lain.
        >
        >
        >
        > Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim
        yang sama,
        > yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi
        dan ajaran
        > dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan
        sendirinya sudah
        > lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama
        itu. Selama
        > berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah
        Arab dan
        > sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi
        antara ketiga
        > tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya,
        mempunyai
        > pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam
        tradisi
        > pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif
        Khalidi, "The
        > Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature", 2001).
        >
        >
        >
        > Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam
        konteks istilah-istilah
        > yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah
        ritual yang ada
        > dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf
        > (mengelilingi ka'bah), ruku' (membungkuk pada saat salat) dsb.,
        sudah dipakai
        > jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.
        >
        >
        >
        > Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung
        sejak awal
        > kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah
        mengandaikan bahwa
        > semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang
        berkenaan dengan
        > doktrin Islam, adalah "asli" milik umat Islam, bukan pinjaman dari
        > umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu
        salah sama
        > sekali.
        >
        >
        >
        >
        >
        > JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal
        dari Malaysia
        > itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah
        melihat masalah ini
        > dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak
        beberapa
        > dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia
        Islam
        > manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas
        dalam tubuh
        > umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk
        menetapkan
        > batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas
        antara kedua hal
        > itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.
        >
        >
        >
        > Penegasan bahwa kata "Allah" hanyalah milik umat Islam saja adalah
        > bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-
        momen di mana
        > suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya
        dorongan untuk
        > mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang
        terjadi juga
        > pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah
        psikologi umat
        > Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak
        luar. Teori
        > konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi
        oleh "kllik"
        > tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya
        oleh umat.
        > Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa
        memberikan
        > justifikasi pada perasaan terancam itu.
        >
        >
        >
        > Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan "beda" jelas
        alamiah
        > belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan
        itu dalam
        > dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada
        > bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama
        sekali tak masuk
        > akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang
        kemudian
        > didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen
        memakai istilah
        > "Allah" adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu.
        Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam
        > ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling
        meminjam antara
        > Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
        >
        >
        >
        > Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang
        berpikiran sama
        > seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak
        ikut-ikutan
        > merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad -- apakah tidak
        runyam
        > jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar
        nabi yang
        > disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu
        umat Islam tak
        > boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah
        > tentu, kita tak menghendaki situasi yang "lucu" dan ekstrem seperti
        > itu benar-benar terjadi.
        >
        >
        >
        > Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan
        yang negatif
        > tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar
        citra negatif
        > tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa
        sebagian umat
        > Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat
        citra Islam itu
        > menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap
        > pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam
        itu. Jika
        > umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang
        positif tentang
        > agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari "dalam"
        tubuh
        > umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak
        masuk akal.
        >
        >
        >
        > Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra
        Islam,
        > sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang
        janggal dan tak
        > masuk akal.[]
        >
        >
        >
        > Ulil Abshar Abdalla
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika
        tulisan
        > saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang
        spesifik ini.
        > Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah
        Malaysia itu
        > mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak
        kalangan Islam di
        > sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia
        itu.
        >
        >  
        >
      • shahil talib..
        Salam hormat untuk anda, GP.Duluan atau kemudian bukan hujah kebenaran. Hujah kebenaran adalah kewajaran yang diterima akal dan norma kejadian. Nabi Musa lebih
        Message 3 of 5 , Dec 2, 2008
        • 0 Attachment

          Salam hormat untuk anda, GP.

          Duluan atau kemudian bukan hujah kebenaran. Hujah kebenaran adalah kewajaran yang diterima akal dan norma kejadian.

          Nabi Musa lebih dulu dari Jesus. Musa mengajarkan Tuhan adalah Esa. Itulah juga yang diajar oleh Jesus iaitu "Hua ALLah tuhan kita yang Esa...bla bla bla".

          Namun anda mempertuhankan Jesus kerana mengikuti ajaran palsu Paulus. Seharusnya jika anda kata Kristen duluan, ikutilah kata-kata Jesus ALLah adalah Esa. 

          Jesus juga duluan dari Paulus namun mengapa anda tidak mengikuti Jesus tetapi mengikuti ajaran Paulus. Jesus berkata "anak manusia" anda tidak ikut, anda kata Jesus "tuhan Anak".

          Maka jelas kristen duluan yang anda kata itu dusta sahaja.

          Salam hormat.


          --- On Mon, 12/1/08, great pretender <great.pretender2000@...> wrote:
          From: great pretender <great.pretender2000@...>
          Subject: Re: [islam-kristen] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam saja?
          To: islam-kristen@yahoogroups.com
          Date: Monday, December 1, 2008, 1:51 AM

          Kristen duluan ada dari muslim.

          gp

          On 12/1/08, shahil talib.. <i_shahil@yahoo. com> wrote:
          > Salam hormat buat anda, post ox.Benar pertanyaan anda bahawa kata ALLah
          > hanya khas bagi Muslim.
          > Muslim adalah agama dari Nabi Adam, hingga Jesus dan Muhammad. Mereka semua
          > bertuhankan ALLah yang Esa. Mereka semua Muslim kerana Muslim hanya
          > menyembah ALLah yang Esa.Kristen bukan ajaran Jesus tetapi ajaran Palus dan
          > gengnya. Tuhan ajaran Paulus dan gengnya adalah Yahweh. Maka jelas ALLah
          > yang Esa tidak berhak disebut oleh kaum anda kerana anda menuhankan Yahweh
          > yang menjawat "jabatan" Bapa, Anak dan Roh ALLah.ALLah bukan "jabatan"
          > Yahweh. Jika anda berkeras juga mahu manyebut ALLah sebagai Tuhan, saya
          > mencabar anda tunjukkan ayat Bible yang menyatakan ALLah adalah 'jabatan"
          > Yahweh.Salam hormat.
          > --- On Sun, 11/30/08, POST OX <omega.post1@ winfos.net> wrote:
          > From: POST OX <omega.post1@ winfos.net>
          > Subject: [islam-kristen] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam saja?
          > To: "POST OX" <omega.post1@ winfos.net>
          > Date: Sunday, November 30, 2008, 8:37 AM
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > Apakah istilah "Allah" hanya milik
          > umat Islam saja?
          >
          > Share
          >
          > Today at 2:52am
          >
          > SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini
          > sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya
          > atas
          > kebebasan beragama (baca International
          > Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke
          > Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang
          > berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh
          > pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya
          > terdapat
          > kata "Allah".
          >
          >
          >
          > Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk
          > memakai
          > kata "Allah", sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat
          > lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata "Allah" sebagai
          > sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim
          > dikhawatirkan bisa membingungkan dan "menipu" umat Islam (Catatan: Sedih
          > sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti
          > itu?)
          >
          >
          >
          > Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata "Allah" hanyalah
          > milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang
          > mereka
          > sembah dengan kata "Allah"? Apakah pandangan semacam ini ada
          > presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?
          >
          >
          >
          > Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli,
          > tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap
          > pemerintah
          > Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama
          > dan
          > kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan
          > larangan tersebut.
          >
          >
          >
          > Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu,
          > ada
          > seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata "Allah"
          > dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu,
          > istilah
          > "Allah" bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen.
          > Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.
          >
          >
          >
          > Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan
          > Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur..
          > Tetapi
          > jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya,
          > sebagai
          > seorang Muslim dan "orang dalam", tentu berhak mengemukakan pandangan
          > mengenainya.
          >
          >
          >
          > Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya,
          > sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa
          > pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan
          > untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan
          > berkali-kali
          > kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan
          > sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS
          > 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh
          > sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.
          >
          >
          >
          > Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab
          > dan
          > sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis
          > Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu
          > hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd
          > di
          > Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai
          > Maimonides
          > [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha'irin (Petunjuk Bagi
          > Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa
          > kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.
          >
          >
          >
          > Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat
          > pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab
          > sebagai berikut: Fi al-bad'i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca
          > Al-Kitab
          > al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi
          > Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: "Pada mulanya Allah
          > menciptakan langit dan bumi".
          >
          >
          >
          > Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu
          > mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan
          > terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak
          > seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes
          > penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.
          >
          >
          >
          > Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam,
          > dan,
          > sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang "mutakallim"
          > atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau
          > Yahudi
          > karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang
          > sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M
          > adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, "Al-Fikr al-Islami fi
          > al-Radd 'Ala al-Nashara", 2007).
          >
          >
          >
          > Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian
          > diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal
          > sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar
          > Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi
          > Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara
          > berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia
          > itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan
          > "asli" milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam
          > datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut
          > dari
          > orang lain.
          >
          >
          >
          > Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang
          > sama,
          > yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran
          > dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah
          > lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama
          > berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan
          > sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga
          > tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai
          > pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi
          > pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, "The
          > Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature", 2001).
          >
          >
          >
          > Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks
          > istilah-istilah
          > yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang
          > ada
          > dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf
          > (mengelilingi ka'bah), ruku' (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah
          > dipakai
          > jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.
          >
          >
          >
          > Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal
          > kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa
          > semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan
          > dengan
          > doktrin Islam, adalah "asli" milik umat Islam, bukan pinjaman dari
          > umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah
          > sama
          > sekali.
          >
          >
          >
          >
          >
          > JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari
          > Malaysia
          > itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah
          > ini
          > dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa
          > dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam
          > manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam
          > tubuh
          > umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan
          > batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua
          > hal
          > itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.
          >
          >
          >
          > Penegasan bahwa kata "Allah" hanyalah milik umat Islam saja adalah
          > bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana
          > suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk
          > mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi
          > juga
          > pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi
          > umat
          > Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar..
          > Teori
          > konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh "kllik"
          > tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat.
          > Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan
          > justifikasi pada perasaan terancam itu.
          >
          >
          >
          > Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan "beda" jelas alamiah
          > belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam
          > dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada
          > bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak
          > masuk
          > akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian
          > didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai
          > istilah
          > "Allah" adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya
          > sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam
          > ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam
          > antara
          > Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
          >
          >
          >
          > Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama
          > seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan
          > merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad -- apakah tidak runyam
          > jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang
          > disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam
          > tak
          > boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah
          > tentu, kita tak menghendaki situasi yang "lucu" dan ekstrem seperti
          > itu benar-benar terjadi.
          >
          >
          >
          > Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang
          > negatif
          > tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra
          > negatif
          > tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat
          > Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam
          > itu
          > menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap
          > pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika
          > umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif
          > tentang
          > agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari "dalam" tubuh
          > umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.
          >
          >
          >
          > Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam,
          > sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan
          > tak
          > masuk akal.[]
          >
          >
          >
          > Ulil Abshar Abdalla
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan
          > saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik
          > ini.
          > Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu
          > mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam
          > di
          > sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >

          --
          Salam, Great Pretender


        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.