Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

OPINION: Anak muda dan kerangka berpikir

Expand Messages
  • M.Ridha
    Assalamu alaikum wr.wb., Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2 muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak
    Message 1 of 1 , Jul 13, 2005
    • 0 Attachment
      Assalamu'alaikum wr.wb.,

      Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2
      muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak segan2
      mempertanyakan keimanan dan aturan2 dalam agama. Kalau kurikulum
      pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu mengaddress
      masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

      1) anak2 muda ini menjadi ragu terhadap agama dan bila keragu2an ini
      lambat laun menumpuk, mereka tidak segan2 mendeclarekan diri keluar
      dari agama atau bahkan mencela agama,

      2) mereka akan mencari sumber2 informasi dari luar sekolah yang dapat
      menjawab pertanyaan2 mereka. Informasi dari luar ini mungkin bisa
      memuaskan keingintahuan dalam pemahaman terhadap agama. Bisa jadi ini
      mengantarkan mereka kepada pemahaman agama yang benar, atau pemahaman
      agama yang salah yang dapat melahirkan sikap ekstrimisme dalam
      beragama, atau sebaliknya mungkin malah membuat mereka tambah ragu dan
      keluar dari agama.

      Berdasarkan pengalaman saya sejak SD sampai SMA di tanah air dahulu,
      pelajaran2 agama di sekolah lebih bersifat kepada doktrin dan sangat
      sedikit (kalau bisa dibilang ada) yang membahas kerangka berpikir
      dalam menyikapi pertanyaan2 terhadap masalah keimanan dan aturan2
      agama. Baru semasa kuliah S1 dulu, ketika saya tinggal dengan beberapa
      roomates non-Muslims, saya dihadapkan kepada banyak pertanyaan2 yang
      sebelumnya tidak pernah saya dapatkan dari pelajaran agama di sekolah
      di Indonesia. Kebetulan roomates saya dulu ada yang Kristen, ada yang
      atheist dan ada yang agnostic. Saya dihadapkan kepada pertanyaan
      mengenai masalah keimanan, baik dari si atheist ("Why do you believe
      in God that cannot be seen?", "Why do you believe in such God that
      creates evil in the world?", etc.), dari agnostic ("Why are you so
      sure that God sent down His revelation to us on this earth?", "Isn't
      possible God of all religions is infact an alien -UFO- that has more
      advanced technology than us who wants to control over us?", etc.),
      maupun dari Kristen ("Why are you not sure that you are going to
      heaven like us who accept Jesus died for our sin?", "Why do you
      believe in the Arabian Prophet who came 600 years later after Jesus?",
      etc). Ada pula pertanyaan mengenai masalah tata cara ibadah yang
      diamati mereka ("Why do you have to wash 3-3 times?", "Why do you have
      to pray 5 times a day?", "Why do you have to face that way?", "Why do
      you have to say your prayer in Arabic?", "Why do you have to suffer
      not eating or drinking for many hours?", etc.). Belum lagi kalau ada
      peristiwa2 yang terjadi di Middle East yang diberitakan di media
      massa. "Look, Muslims are killing innocent people again!", "Are
      Muslims not allowed to live peacefully with people of other faith?",
      "Aren't you somewhat embarrassed to profess this faith that has
      spilled so much blood in its history?", etc.

      Mungkin pertanyaan2 atau komentar2 seperti di atas tidak pernah
      terdengar di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslims, sehingga
      tidak ada atau masih sedikit usaha dari pihak pengajar agama untuk
      meng-address-nya. Mungkin menurut banyak da'i di Indonesia, buat apa
      buang2 waktu menjawab pertanyaan2 yang aneh2 macam itu, masih banyak
      urusan umat yang real, yang harus diperbaiki. Para da'i seharusnya
      siap menghadapi pertanyaan2 yang mungkin sebelumnya tidak pernah
      keluar (atau tidak berani) ditanyakan oleh generasi2 zaman mereka.
      Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap
      "kafir" oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak2
      yang sejak kecil (terutama yang dibesarkan di negara2 barat) yang
      kritis dan tidak mau menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan
      yang masuk akal mereka. Dan saya rasa pertanyaan2 macam ini cepat atau
      lambat akan keluar juga dari para generasi muda akibat era globalisasi
      di mana pertukaran informasi di bumi sudah terjadi dan tidak bisa
      dihindarkan lagi. Dan bila tidak ada yang care terhadap masalah ini,
      tidak mustahil tidak sedikit generasi muda yang bingung dan
      berpandangan liberal yang menghalalkan segala2nya, atau berpandangan
      extrim yang mudah termakan emosi dan membuat konflik di masyarakat,
      atau bisa pula menjadi ragu dan keluar dari agama. Ini semua muncul
      akibat pemahaman agama yang salah.

      Berdasarkan pengamatan saya, perasaan sensitif anak2 muda terhadap
      agama ini bisa dipengaruhi pula oleh pandangan mereka terhadap tingkah
      laku orang2 tua (terutama para ulama atau ustadz) yang mereka anggap
      merupakan contoh "ideal" dari orang2 yang ahli agama. Ketika ada orang
      tua atau ulama yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, image
      agama orang tsb turut menjadi buruk dalam pandangan mereka. Kekaguman
      mereka terhadap seorang ustadz misalnya berubah menjadi kebencian
      (bukan hanya terhadap sang ustadz tapi juga terhadap agamanya) setelah
      mengetahui "kekurangan" dari ustadz tsb. Karena itu tidak aneh kalau
      ada anak muda yang KTPnya Islam berkomentar "Ah agama apaan tuh,
      ngajarinnya cuma kawin melulu!" atau "Ah, nggak usah capek2 belajar
      Islam, tuh lihat orang ahli Islam aja tingkah lakunya seperti itu!" -
      akibat kecewa melihat "kemunafikan" orang2 yang sebelumnya diidolakan.
      Mereka menilai suatu agama dari perbuatan pemeluk2nya, serupa dengan
      banyak orang di banyak negara yang menilai Islam sebagai agama yang
      buruk akibat melihat perbuatan buruk pemeluknya.

      Atau bisa pula kekecewaan mereka timbul akibat melihat pertikaian yang
      tidak kunjung habis antara intern pemeluk agama sendiri, baik yang
      berbeda pandangan atau pun akibat banyaknya sekte2 di dalam Islam.
      Bagi banyak orang mungkin banyaknya paham2 dalam Islam ini membuat
      mereka bingung sehingga feel frustrated dalam memahami perbedaan2 yang
      ada ini. "Islam yang mana?" menjadi pertanyaan yang tidak asing lagi
      di telinga kita. Tiap2 pandangan yang berbeda sama2 berusaha
      mendasarkan pandangannya dengan Qur'an maupun hadits Nabi. "Islam
      warna-warni", "Islam multi-interpretasi", "jangan mengklaim kebenaran
      sendiri", dll, juga sering terlontar secara apriori tanpa ada usaha
      melihat dan menganalisa setiap pandangan yang berbeda ini.

      Ada baiknya kerangka dasar dalam berpikir atau berargumentasi yang
      benar dipahami oleh setiap Muslim terutama para generasi mudanya
      sehingga mereka dapat meresponse dengan baik argument2 yang banyak
      ditemui dalam pergolakan pemikiran (ghazwul fikr) baik dari kalangan
      internal (paham liberalism, extremism, sectarians, dll) dan kalangan
      external (atheism, orientalism, missionaries, Islamophobic, dll).
      Sebenarnya para ulama sejak dulu dalam membahas masalah2 agama, baik
      itu dalam hal ushul fiqh, ibadah, aqidah, maupun muamalah, selalu
      menggunakan metode2 maupun kerangka berpikir yang bisa dijumpai dalam
      kitab2 mereka. Sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini
      sering hilang dalam argument2 orang Islam ketika meresponse pendapat
      yang berbeda, yang sering kali lebih terasa nada emosionalnya daripada
      bobot argumentnya.

      Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari kesalahan2 dalam
      berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini antara lain:

      1. "Inconsistent": Contohnya si A bilang "Sirah dan hadits tidak bisa
      dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal". Tapi ketika A
      ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad,
      atau dari mana ia tahu Qur'an yang ia percayai terjaga kemurniaannya
      sejak zaman Nabi sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis
      sirah dan hadith, ini namanya inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah
      dan hadits, mengapa masih dipakai untuk dasar keimanannya?

      Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika menghujat Nabi SAW
      dengan leluasa menggunakan cuplikan2 hadits dan sirah sesukanya (Nabi
      berpoligami, kisah2 dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi ketika
      ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan
      tanda2 kenabian Nabi seperti mu'jizat2 beliau, mereka berkomentar
      bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh
      sesudah Nabi wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih
      dipakai untuk menghujat Nabi?

      Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang pada
      kenyataannya jelas2 berbeda. Kalau ada orang yang bilang "Semua
      interpretasi atau tafsiran agama adalah sah2 saja dan benar adanya
      karena kebenaran itu relatif sifatnya", maka ia harus bisa konsisten
      untuk tidak menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh
      orang2 tak berdosa, atau pendapat2 yang menghalalkan sex bebas,
      incest, dlsb, dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan
      orang tidak ada salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu
      bilang halal, yang lain bilang haram, benar kedua2nya? Kalau kita mau
      jujur, kita akan mengakui bahwa "logical circuit" dalam otak kita
      jelas menolaknya.

      2. "Incomprehensive": Si A bilang "Orang Islam diajarkan Qur'an ayat
      5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang2 non-Muslim."
      Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata2, context maupun
      historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan
      ayat tsb seharusnya tahu ada ayat2 Al Qur'an lain yang menjelaskan
      lebih jauh mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang
      partial terhadap hal2 ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil
      kesimpulan.

      3. "Out-of-context": Si A bilang "Dalam Al Qur'an ayat 9:5, orang
      Islam diperintahkan membunuh orang2 musyrik di mana saja mereka
      jumpai". Si A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum
      mengambil kesimpulan demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang2
      kafir Quraisy serta sekutu2 mereka yang memerangi umat Islam saat itu).

      4. "Generalization": Ini serupa dengan pepatah "Karena nila setitik
      rusak susu sebelanga". Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena
      di antara pemeluk2nya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan
      dalih agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya,
      mayoritas umat Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang
      teguh pada prinsip2 agama yang jelas2 melarang aksi terorisme. Apakah
      orang2 Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama
      penjajah "gold-glory-gospel" karena perlakuan sebagian kelompok mereka
      terhadap bangsa2 di dunia?

      5. "Double-standard": Si A yang beragama Kristen bilang "Islam adalah
      agama palsu karena Nabinya berpoligami". Seharusnya si A tahu bahwa
      Nabi2 yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang
      mengutuk pembunuhan orang2 tak bersalah sebagai perbuatan terorisme,
      tapi di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah
      melabelnya sebagai "collateral damage". Dengan menggunakan standard
      yang sama, pembunuhan orang2 tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai
      tindakan terorisme, tidak peduli siapa korban dan siapa pelakunya.

      6. "Straw-man" : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya
      (biasanya dicampur "half-truth" atau "twisted-truth"). Misalnya si A
      menuduh "Al Qur'an merendahkan status wanita di bawah status laki2".
      Meskipun dalam Qur'an disebutkan "Laki2 adalah pelindung /pemimpin
      kaum wanita" ini tidak berarti di dalam Islam status wanita itu lebih
      rendah dari status laki2 karena masing2 memiliki role yang berbeda
      dalam pandangan Allah SWT.

      7. "Red-herring" : mengalihkan subject sehingga bukan membahas
      argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya,
      ketika si A ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya
      menjawab pertanyaan tsb, si A malah membawa tuduhan banyaknya
      kontradiksi di dalam Qur'an.

      8. "Appeal to authority": Si A bilang ke si B "Argument anda pasti
      salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli
      dalam bidang ini". Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan
      merefer ke authority yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si
      professor yang disebutnya tadi.

      9. "Ad-hominem" (argument to the man): bukan argumentnya yang dibahas,
      tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan
      dengan argument yang didebatkan. Misalnya, "Pendapat si A itu sudah
      pasti salah karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren", atau
      "Ah, pendapat si B yang playboy kayak gitu kok dibahas!". Padahal
      logis tidaknya suatu argument tidak bisa ditentukan dari pribadi orang
      yang berargument. Dalam beargumentasi, yang harus dilihat adalah
      argumentnya, jangan diserang orangnya.

      etc.

      Kerangka berpikir hanyalah "tool" (framework) yang bisa digunakan
      dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan
      masalah2 agama, tapi juga masalah2 dalam hidup lainnya. Karena hanya
      general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa
      saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang2
      non-Muslim orang2 Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan
      mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini,
      metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama
      dapat dimengerti, sehingga diskusi2 maupun debat2 dalam memahami agama
      dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing2 pihak
      yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan
      perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari.

      Wallahu'alam.

      Mudah2an ada manfaatnya.

      --
      Wassalam,
      Ridha
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.