Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Tentang Qur'an

Expand Messages
  • jnoor_id
    FYI, Bung Luthfi sekarang sedang belajar (atau sudah lulus?) di Melbourne Australia. Dalam hal tulisan dan fikirannya soal Al Quran ini, pernah dia diajak
    Message 1 of 2 , Dec 29, 2003
    • 0 Attachment
      FYI,
      Bung Luthfi sekarang sedang belajar (atau sudah lulus?) di Melbourne
      Australia. Dalam hal tulisan dan fikirannya soal Al Quran ini, pernah
      dia diajak berdiskusi oleh seorang teman yang juga pada waktu itu
      sedang belajar di kota yang sama. Diatur acara diskusi/debat ilmiah di
      satu forum yang dihadiri oleh banyak jamaah lain, namun beliau TIDAK
      hadir sesuai dengan rancangan semula tanpa alasan.

      Informasi ini saya terima langsung dari orang yang mengajaknya
      berdiskusi ketika beliau mengisi ceramah di tempat saya saat menjawab
      pertanyan hadirin pengajian soal JIL.


      --- In islam-kristen@yahoogroups.com, Mariatul Kiptiah
      <lennyfrans@y...> wrote:
      >
      > Email dari milis sebelah, FYI.
      >
      > salam,
      >
      >
      >
      > From: assyaukanie@h...
      > Date: Thu Dec 18, 2003 10:38 am
      > Subject: Re: Tentang Qur'an
      >
      >
      > Tris,
      >
      >
      >
      > Untuk penjelasan tentang Qur'an itu, percaya saja sama Ulil. Saya
      > kira, untuk sebagian dia benar. Sebagian yang lain, saya mau
      > mempertegas.
      >
      > 1. Selama ini, kaum Muslim meyakini bahwa kitab suci mereka adalah
      > yang paling aseli dari Tuhan, sementara kitab-kitab suci yang lain
      > palsu, atau paling tidak ada penyimpangan. Dalam studi Qur'an, ini
      > disebut "tahrif" atau penyimpangan. Berbeda dengan study kitab-kitab
      > suci agama lain (khususnya bibel yahudi dan kristen), sampai hari ini
      > Islam tidak memiliki tradisi pembacaan kritis terhadap al-Qur'an.
      > Selama ini, yang melakukan pembacaan ini adalah para sarjana dari
      > Barat. Kajian mereka sangat luar biasa. Sayangnya, sebagian besar
      > kaum Muslim belum bisa menerimanya, bukan karena kajian mereka tidak
      > benar, tapi semata-mata karena mereka "orientalis" (Barat dan Kristen
      > atau lebih malang lagi kalau mereka beragama Yahudi) yang
      > mengucapkannya harus dengan darah mendidih penuh kebencian.
      >
      > 2. Upaya-upaya yang agak serius pernah dilakukan oleh Arkoun dan
      > dalam tingkat tertentu Rahman. Arkoun menemukan satu istilah yang
      > bisa menjelaskan sikap penolakan kaum Muslim itu. Kata dia, sejak al-
      > Qur'an telah menjadi Closed Official Corpus (COC), tak mungkin lagi
      > mengkritik al-Qur'an. Mengapa? Karena ia sudah tertutup (closed)
      > alias selesai, tamat, habis, tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
      > Kalaupun ada sebagian ulama yang mengungkapkan tentang deviasi-
      > deviasi bacaan (yang sangat marak pada abad ke-3 dan ke-4 H), ini
      > bukan dilakukan secara kritis, tapi sekadar pekerjaan skolastik, yang
      > tak mempunyai dampak apa-apa terhadap kitab suci yang sudah COC itu.
      > Al-Qur'an juga disebut "official" karena yang mengumpulkan,
      > membukukan, dan menyeragamkannya, selalu penguasa, yang pertama
      > (konon katanya) Abu Bakar (meski ini dibantah oleh Taufik dengan
      > argumen yang canggih), dan kemudian Uthman, kemudian para sultan-
      > sultan Muslim, dan seterusnya hingga edisi Mesir dan lembaga misi di
      > Saudi Arabia.
      >
      > 3. Rahman muda (ketika dia menulis thesis tentang psikologi Ibn Sina)
      > pernah tergoda untuk tidak mempercayai teori wahyu yang biasa
      > diajarkan dalam Islam (tentu saja berdasarkan hadis-hadis yang
      > jumlahnya ratusan, kalau bukan ribuan itu). Teori ini kerap menyebut
      > peran Jibril yang sentral dalam mengirimkan wahyu kepada Nabi. Dengan
      > nakal, Rahman memberi catatan bahwa Jibril diperlakukan oleh kaum
      > Muslim seperti "tukang pos" yang kerjaannya hanya mengirimkan risalah
      > (dalam bahasa indonesia, risalah itu berarti "surat") Islam dari
      > Allah kepada Muhammad. Rahman lebih mempercayai penjelasan Ibn Sina
      > dan para filsuf Muslim lainnya yang meyakini bahwa Nabi bukanlah
      > penerima wahyu yang pasif, tapi ia berinteraksi, dan secara dinamis
      > melakukan kontak dan komunikasi aktif dengan Tuhan. Tentu saja,
      > penjelasannya dengan analisa filosofis yang sangat kental dipengaruhi
      > Plato dan Plotinus.
      >
      > 4. Teori wahyu yang dikembangkan oleh Ibn Sina dan para filsuf Muslim
      > mendapat konfirmasi yang sempurna dari Richard Bell dalam karya
      > jeniusnya, Introduction to the Qur'an. Menurut dia, jibril hanya
      > disebut dua kali dalam al-Qur'an (saya belum sempat ngecek, tolong
      > dicek, apakah ini benar), dan penjelasan-penjelasan Muhammad tentang
      > jibril, menurut dia, baru muncul di Madinah, setelah Nabi bertemu dan
      > banyak berinteraksi dengan orang-orang Yahudi (dua ayat yang memuat
      > tentang jibril adalah ayat madaniah). Tentu saja, Jibril atau Gabriel
      > memainkan peran sentral dalam tradisi Yahudi (dalam Hal ini, Kristen,
      > menurut saya lebih unggul, karena wahyu Tuhan itu tidak muncul dalam
      > kata-kata, seperti Qur'an atau Taurat, tapi dalam daging, flesh,
      > yakni Yesus, dan Yesus tak memerlukan Jibril, karena dia sendiri
      > adalah inkarnasi Tuhan).
      >
      > 5. Saya kira, konsep "Jibril" itu menjadi kendala besar bagi kaum
      > Muslim untuk mengembangkan teori wahyu yang tidak sederhana dan tidak
      > dull (tampak bodoh). Implikasinya menjadi besar, yakni bahwa pesan-
      > pesan wahyu dari Allah kepada Nabi, karena lewat jibril yang seolah-
      > olah terbungkus rapi dalam sebuah amplop dan mungkin juga ditempeli
      > perangko kilat, adalah pesan apa adanya, pun ketika ia telah menjadi
      > bahasa manusia, dalam kasus Islam adalah bahasa Arab. Implikasi
      > selanjutnya menjadi luar biasa. Yakni bahwa pesan-pesan (baca; ayat-
      > ayat al-Qur'an) adalah kata-kata Allah secara verbatim. Bagi saya,
      > ini menyalahi konsep agama-agama tentang adanya "kitab induk."
      >
      > 6. Seperti dijelaskan dengan baik oleh Arkoun dan kemudian saya
      > temukan penjelasan yang sangat detil dari Encyclopedia of Religion
      > yang diedit oleh Mircae Elliade, gagasan "kitab induk" adalah gagasan
      > masyarakat kitab, maksudnya agama-agama apa saja yang mengklaim punya
      > kitab. Orang-orang Babilonia dan Mesir kuno membicarakan
      > tentang "kitab langit" sebagai "kitab induk" bagi semua kitab-kitab
      > suci yang ada di dunia. Islam menyebut konsep ini dengan "ummul
      > kitab." Istilah ini adalah istilah al-Qur'an sendiri. Saya meyakini,
      > inilah kitab yang selalu terjaga dalam sebuah tablet (lauh al-
      > mahfudz). Adapun al-Qur'an sendiri, itu hanyalah manifestasi
      > manusiawi dari apa yang tertulis dalam "kitab induk."
      >
      > 7. Ketika saya menulis renungan saya tentang sejarah al-Qur'an yang
      > kemudian banyak dicaci-maki orang itu (lihat website JIL), saya
      > menganggap bahwa al-Qur'an hanyalah satu varian dari varian-varian
      > kitab suci lain yang ada di dunia ini yang merujuk pada "kitab induk"
      > (ummul kitab). Karena kitab induk itu bersifat eternal dan universal,
      > maka saya meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa kitab azali itu
      > tidak ditulis dengan bahasa Arab (kecuali Anda meyakini bahwa Allah
      > itu berbahasa sama dengan bahasanya Saddam Hussein dan nenek-
      > moyangnya Pak Abdillah Toha).
      >
      > 8. Dengan keyakinan itu, saya tidak terlalu risau dengan kritk-kritik
      > para orientalis tentang adanya banyak varian bacaan dalam al-Qur'an.
      > Varian bacaan adalah sesuatu yang wajar, karena itu berarti
      > merefleksikan bahasa manusia yang relatif. Saya meyakini bahwa Nabi
      > telah melakukan "penerjemahan" dan "parafrase" pesan-pesan Allah
      > yang "tertulis" dalam "kitab induk" itu ke dalam bahasa Arab. Tak
      > sampai di sini, beberapa sahabat Nabi juga melakukan parafrase. Ini
      > dibuktikan dengan sebuah hadis tentang beberapa sahabat Nabi yang
      > komplain adanya bacaan-bacaan yang berbeda di antara mereka. Ketika
      > mereka mengadu kepada Nabi, dengan enteng dan santai Nabi
      > menjawab: "Begitulah yang saya terima dari Allah."
      >
      > Jadi, Tris, untuk penjelasan tentang Qur'an itu, percaya saja sama
      > Ulil. Saya kira, untuk sebagian dia benar. Sebagian yang lain, saya
      > sudah jelaskan.
      >
      > Wassalam,
      >
      > Luthfi
      > ---------
      >
      > --- In pluralitas-icrp@yahoogroups.com, Ulil Abshar-Abdalla
      > <ulil99@y...> wrote:
      > > Tris,
      > > Saya mau beli buku itu, Qur'an Translation: Discourse,
      > > Texture and Exegesis, by Hussein Abdul-Raof. Tapi
      > > harganya mahal sekali. Harga termurah $55. Wah nanti
      > > dulu.
      > >
      > > Apa yang dikatakan oleh peresensi buku itu, Micahel B.
      > > Schub, untuk sebagian benar. Sebagian yang lain tidak
      > > benar, menurut saya. Seperti kata dia bahwa babi
      > > diharamkan di Qur'an karena hal itu sudah tercantum
      > > dalam Perjanjian Lama, dan dia merujuk kepada ayat
      > > dalam 2:173 (Al Baqarah). Ayat itu, setelah saya cek,
      > > sama sekali tidak ada menunjukkan bahwa babi
      > > diharamkan karena diharamkan di PL. Hukum dalam Qur'an
      > > yang "menyontek" dari PL sepenuhnya adalah hukum
      > > qishash (mata balas mata, gigi balas gigi).
      > >
      > > Ada tiga hal yang benar dalam resensi itu:
      > >
      > > 1. Bahwa Qur'an meminjam banyak hal dari agama-agama
      > > semitik sebelumnya. Kesalahan yang terjadi pada umat
      > > Islam adalah menolak sepenuhnya bahwa Islam adalah
      > > agama yang dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam
      > > dua agama sebelumnya. Menurut saya, "peminjaman"
      > > semacam itu adalah sesuatu yang wajar. Islam bukan
      > > agama yang unik dan sama sekali baru. Meskipun dalam
      > > beberapa hal, agama ini helas membawa sesuatu yang
      > > baru. Ada keunikan dan ketidakunikan dalam Qur'an dan
      > > Islam. Menyatakan bahwa Islam sama sekali terputus
      > > dari tradisi sebelumnya adalah kekeliruan besar. Lebih
      > > keliru lagi kalau dikatakan bahwa kebenaran Islam
      > > merupakan puncak dan dengan begitu membatalkan
      > > kebenaran-kebenaran sebelumnya. Ini adalah pendapat
      > > kaum fundamentalis yang triumfalistik.
      > >
      > > 2. Bahwa Qur'an bukanlah Kitab Suci yang terstruktur
      > > dengan baik, dan dalam sejumlah tempat terdapat
      > > kontradiksi. Mungkin saya berbeda dengan umumnya umat
      > > Islam, tetapi saya bisa menerima pendapat penulis
      > > resensi yang mengutip dari sarjan-sarjan lain itu.
      > > Qur'an bukanlah Kitab Suci yang ditulis dengan plot
      > > tertentu dari awal sampai akhir seperti sebuah novel,
      > > secara konsisten. Qur'an adalah kitab yang
      > > pewahyuannya berlangsung mengikuti pasang-surut
      > > peristiwa yang terjadi pada masa Nabi. Dengan agak
      > > sedikit ceroboh, saya ingin menggambarkan Qur'an
      > > seperti sebuah koran harian, yang memuat banyak
      > > rubrik, memgandung banyak tema. Sebuah koran jika
      > > diterbitkan dalam sebuah buku, sudah tentu tidak akan
      > > menjadi sebuah "cerita" dengan plot yang urut,
      > > konsisten, koheren, dari awal sampai akhir. Dengan
      > > kata lain, Qur'an lebih mirip sebagai sebuah "bunga
      > > rampai" ketimbang sebuah buku utuh, dengan pembukaan,
      > > batang tubuh, penutup, atau kalau perlu ditambah
      > > indeks dan bibliografi. Jangan lah dilupakan bahwa
      > > Qur'an adalah kitab yang "muncul" sebagai bagian dari
      > > masyarakat yang "non-literare". Qur'an membawa banyak
      > > "imprint" atau bekas-bekas dari budaya oral. Ide
      > > tentang sebuah buku yang disusun dengan out-line yang
      > > utuh dan kosisten dari awal sampai akhir adalah
      > > fenomena dalam masyarakat yang sudah mengenal
      > > baca-tulis, masyarakat yang "literate".
      > >
      > > Karena saya baru menonton filmnya seorang sutradara
      > > besar Rusia, Andrei Tarkovski, yang berjudul "Andrei
      > > Rubleov", saya menjadi berpikir bahwa struktur literer
      > > Qur'an kurang lebih menyerupai film itu. Siapapun yang
      > > terbiasa dengan film-film Hollywood, dengan plot
      > > cerita yang lurus, ketat, konsisten, dengan pembukaan,
      > > konflik, suspensi, penyelesaian, penutup dan "happy
      > > ending", pasti akan bosan sekali menonton filmnya
      > > Tarkovski yang panjangnya minta ampun itu. Tapi karena
      > > saya sering baca Qur'an (ceileeee.....), dan
      > > strukturnya kok hampir sama dengan film itu, maka saya
      > > betah saja nonton film tersebut berlama-lama.
      > > Sebenarnya bukan betah, tapi dibetah-betahkan.
      > > Struktur Qur'an yang "tak-berstruktur-ketat" seperti
      > > ini, bisa juga dianggap membosankan, dikritik, dicaci,
      > > tetapi juga bisa dianggap sebagai bacaan yang
      > > "menantang", karena masing-masing orang dituntut untuk
      > > menyusun, merangkai, "kisah"-nya sendiri-sendiri. Pada
      > > penutup film "Andrei Rubleov" itu, ada wawancara agak
      > > panjang dengan Tarkovski dan ulasan dari seorang
      > > pengamat tentang film itu. Salah satu poin yang
      > > dikemukakan adalah bahwa film itu memang tidak seperti
      > > umumnya film-film yang kita kenal selama ini, terutama
      > > film Hollywood. Film itu terdiri dari sekuen-sekuen
      > > (ada 7 sekuen) yang menyerupai sebuah bab dalam buku;
      > > masing-masing bisa dipandang sebagai sekuen yang
      > > kurang lebih independen dari sekuen sebelum atau
      > > sesudahnya (mirip dengan ide tentang "surah" dalam
      > > Qur'an). Struktur naratif-nya begitu aneh dan unik
      > > sehingga tak ada seorang "tokoh" sentral dalam
      > > pengertian yang selama ini kita kenal dalam film
      > > konvensional. Meskipun film itu adalah tentang Andrei
      > > Rubleov, seorang pendeta, pelukis mural gereja, dan
      > > anggota sebuah monasteri, di awal abad 15, tetapi
      > > tokoh Rubleov tidak merupakan "arus utama" dalam film
      > > itu. Dalam satu sekuen, dia kelihatan menonjol, dalam
      > > sekuen yang lain dia bahkan seperti sebuah "catatan
      > > kaki" bagi tokoh dan cerita lain. Film ini seperti
      > > memuat berlapis-lapis kisah. Film itu juga tidak jelas
      > > ujungnya: apakah "ujung bahagia" (catatan: ini bukan
      > > nama desa di Bekasi, lho) atau "ujung malang". Kata
      > > Tarkovski dalam wawancara itu: begitulah kehidupan
      > > manusia; kehidupan yang tidak merupakan "kisah" lurus
      > > yang kalau ditulis akan menjadi sebuah novel. Memang
      > > ada sebuah biografi atau otobiografi, di mana
      > > kehidupan seseorang tampil seolah-olah menjadi sebuah
      > > kisah yang utuh dan padu; tetapi saya curiga, "plot"
      > > semacam itu pasti merupakan hasil suntingan dari
      > > seorang editor atau orang bersangkutan, dengan cara
      > > membuang bagian-bagian yang tak relevan atau kurang
      > > mendukung "citra" yang hendak dibangun oleh orang itu.
      > > Bukankah setiap biografi adalah sebuah "pose", mirip
      > > kalau kita memasang pose di depan kamera?
      > >
      > > 3. Tentang bahasa Arab dalam Qur'an yang tidak seperti
      > > bahasa percakapan sehari-hari, tetapi merupakan bahasa
      > > "spesial" yang nilainya tinggi dan sakral, saya kira
      > > penulis resensi itu sudah mengutip kritik para sarjana
      > > terhadap anggapan yang salah kaprah. Sudah tentu bahwa
      > > Qur'an adalah bahasa Arab, ya bahasa Arab yang sering
      > > kita temui dalam buku-buku, dalam koran, majalah,
      > > acara di TV dan seterusnya. Sudah tentu dengan
      > > mengatakan begini, tidak berarti tidak suatu
      > > "kualitas" tertentu dalam susunan kebahasaan Qur'an
      > > yang membuatnya "lain" dari bahasa Arab pada umumnya.
      > > Tetapi ini kan tidak hanya khas pada Qur'an. Ambil
      > > contoh sejumlah karya sastra besar dalam bahasa
      > > Inggris. Kalau kita baca beberapa James Joyce,
      > > misalnya "Ulysse", jelas yang ia pakai di sana adalah
      > > bahasa Inggris pada umumnya. Tetapi dengan mengatakan
      > > begini tentu kita tidak menolak adanya "genius" yang
      > > khas pada karya itu. Intelijensi Joyce telah
      > > memberikan "sapuan yang khas" dalam karya itu yang
      > > membuatnya berbeda dengan karya-karya lain yang jusa
      > > sama-sama memakai bahasa Inggris. Begitulah Qur'an.
      > > Sebab, kalau Qur'an memakai bahasa yang sama sekali
      > > "eksternal", sama sekali "lain", sama sekali "unik",
      > > menantang semua konvensi yang ada, dengan kata lain:
      > > jika Qur'an adalah sama sekali "in-konvensional",
      > > bagaimana kita bisa memahaminya, dan buat apa dia
      > > datang kepada manusia yang memahami sesuatu berdasar
      > > pada "konvensi" tertentu. Saya kira, "the very
      > > foundation of any kind of plausibility", dasar pokok
      > > dari segala hal untuk bisa dipahami adalah kalau ia,
      > > dalam satu atau lain cara, mengikuti, memakai,
      > > mendasarkan diri pada konvensi atau kesepakatan yang
      > > ada. Memahami hanya mungkin terjadi kalau kita
      > > "menyepakati". Karena Qur'an "sepakat" dengan konvensi
      > > kebahasaan yang ada pada masyarakat Arab saat itu,
      > > maka ia bisa diakses, bisa dipahami. Dalam kasus
      > > sebaliknya, ia akan menjadi "the complete other" yang
      > > tak terjangkau daya nalar.
      > >
      > > Ini hanya renungan "pendek" tentang Qur'an, hasil dari
      > > bulan Ramadlan kemaren.
      > >
      > > athens,
      > > ulil
      > >
      >
      >
      >
      >
      > ---------------------------------
      > Do you Yahoo!?
      > Yahoo! Photos - Get your photo on the big screen in Times Square
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.