Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

RE: [islam-kristen] Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat

Expand Messages
  • Rizal Vahlaivi
    ok Islam jadi banyak mantera kayak mistik begini ? Yesus mengatakan itu namanya doa bertele-tele. Bukan karena banyaknya kata suatu doa didengar, karena Bapa
    Message 1 of 5 , Aug 29, 2003
      ok Islam jadi banyak mantera kayak mistik begini ? Yesus mengatakan itu
      namanya doa bertele-tele. Bukan karena banyaknya kata suatu doa didengar,
      karena Bapa di sorga mengetahui maksud dan isi hati kita sebelum kita
      mengucapkannya.


      +Silakan saja anda berdoa di wc sambil buang air kalau menurut anda itu
      memang bagus

      -----Original Message-----
      From: webmaster@... [mailto:webmaster@...]
      Sent: Fri, August 29, 2003 12:38 PM
      To: islam-kristen@yahoogroups.com
      Subject: RE: [islam-kristen] Waktu dan Tempat yang Baik untuk
      Bershalawat



      Kok Islam jadi banyak mantera kayak mistik begini ? Yesus mengatakan itu
      namanya doa bertele-tele. Bukan karena banyaknya kata suatu doa didengar,
      karena Bapa di sorga mengetahui maksud dan isi hati kita sebelum kita
      mengucapkannya.

      Nug

      -----Original Message-----
      From: retno_wahyudiaty [mailto:retno_wahyudiaty@...]
      Sent: Thursday, August 28, 2003 11:29 PM
      To: islam-kristen@yahoogroups.com
      Subject: [islam-kristen] Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat


      Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat
      Shalawat atas Nabi Saw. disyariatkan pada waktu-waktu, tempat-tempat,
      dan keadaan-keadaan tertentu. Hal ini telah dibicarakan panjang lebar
      oleh Ibn Al-Qayyim di dalam kitab Jalâ \'u al-Afhâm fî Fadhli al-
      Shalâti wa al-Salâmi \'alâ Muhammad Khayr al-Anâm, Syaikh Islam
      Quthbuddin al-Haydhari al-Syâfi\'i di dalam kitab Al-Liwâ al-Muallim
      bi Mawâthin al-Shalâh \'alâ al-Nabî Saw., Al-Hâfizh Al-Sakhâwi di
      dalam kitab Al-Qawl al-Badî\', dan Al-Qasthallânî di dalam kitab
      Masâlik al-Hunafâ\'.

      Al-Khâtib di dalam kitab Syarh al-Minhâj, dan yang lainnya, berkata:
      \"Disunnahkan memperbanyak membaca Surah Al-Kahfi dan shalawat atas
      Nabi Saw. pada hari Jumat dan malam Jumat; paling sedikit, untuk yang
      pertama tiga kali dan untuk yang kedua tiga ratus kali.\"

      Sementaraa itu, telah sah riwayat yang bersumber dari Imam Al-
      Syâfi\'i r.a., yang mengatakan bahwa, barang-siapa yang membaca Surah
      Al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan diterangi oleh cahaya yang ada di
      antara dua Jumat.

      Diriwayatkan pula bahwa barangsiapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada
      malam Jumat, ia akan diterangi oleh suatu cahaya antara dirinya dan
      Kabah. Membaca Surah Al-Kahfi di waktu siang lebih di-utamakan, dan
      lebih utama lagi bila ia dibaca sesudah selesai mengerjakan salat
      subuh, guna menyegerakan berbuat baik sebisa-bisanya.

      Hikmah diperintahkannya membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jum\'at
      adalah karena didalam Surah itu Allah menggambarkan suasana Hari
      Kiamat, sementara hari Jum\'at mirip dengan Hari Kiamat, karena orang
      banyak berkumpul untuk melaksanakan salat bersama-sama; juga karena
      Hari Kiamat itu terjadi pada hari Jum\'at, seperti yang diriwayatkan
      oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih-nya.

      Ramli mengatakan bahwa anjuran supaya memperbanyak pembacaan shalawat
      pada malam dan hari Jum\'at itu didasarkan pada hadis yang berbunyi,
      \"Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Oleh
      karena itu, perbanyaklah kalian membaca shalawat atasku, sebab
      shalawat yang kalian baca itu diperlihatkan kepadaku.\"

      Nabi Saw. bersabda, \"Sesungguhnya semua amal itu diangkat pada hari
      Senin dan hari Kamis. Oleh karena itu, aku berhasrat agar amalku
      diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.\"

      Tentang hadis di atas, Al-Manawi, di dalam kitab Syarh Al-Jamî al-
      Shghîr; permulaan jilid III, berkata, \"Disyariatkan berkumpul untuk
      membaca shalawat atas Nabi Saw. pada malam Jumat dan malam Senin,
      sebagaimana yang dikerjakan di masjid Jami\' Al-Azhar dan disuarakan
      dengan suara yang keras.\"
      Dikatakan bahwa shalawat atas Nabi Saw. itu sudah mencakup doa di
      dalamnya.
      Ibn Marzûq berkata, \"Malam Jumat lebih utama dan malam Qadar.\"


      Jamâl kembali menyatakan bahwa disunnahkan membaca Surah Ali \'Imrân
      atas dasar hadis, \"Barangsiapa yang membaca Surah Ali \'Imrân pada
      hari Jumat, niscaya dosa-dosanya ikut terbenam dengan tenggelamnya
      matahari pada hari itu.\"

      Hikmahnya, kata Jamâl, adalah karena Allah menyebutkan di dalam surah
      itu penciptaan Nabi Adam a.s., sedangkan Adam a.s. diciptakan pada
      hari Jumat.

      Disunnahkan juga membaca Surah Hûd dan Hâ Mîm Dukhân. Namun, bagi
      mereka yang hanya ingin memilih salah satu dari surah-surah yang
      disebutkan di atas, hendaklah ia memilih Surah Al-Kahfi karena
      banyaknya hadis yang meriwayatkannya

      Adapun hadis-hadis lain yang menjelaskan waktu-waktu tertentu untuk
      membaca shalawat sebagai berikut:

      Pertama, sesudah adzan.

      Rersabda Rasulullâh Saw.


      Artinya: \"Apabila kamu mendengar muadzin membacakan adzan, sambutlah
      ucapannya. Sesudah selesai menyambut adzan, maka bershalawatlah kamu
      untukku.\"(HR. Muslim)

      Nabi Saw. bersabda:


      Artinya: \"Apabila kamu mendengar seorang muadzin (tukang membaca
      adzan itu) bacalah (sambutlah bacaan adzan itu) seperti yang
      dibacakan olehnya. Kemudian (sesudah selesai adzan dibacakan),
      bershalawatlah kamu kepadaku. Sebenarnya barangsiapa bershalawat
      kepadaku dengan suatu shalawal, niscaya Allah bershalawat ke-padanya
      dengan sepuluh shalawat. Sesudah itu mohonlah kepada Allah wasilah
      untukku. Wasilah itu suatu ke-dudukan yang paling tinggi dalam
      syurga. Tidak dapat diperoleh, melainkan oleh seorang saja dari hamba-
      hamba Allah. Aku berharap semoga akulah yang mendapat ke-dudukan itu.
      Karena itu barang siapa memohonkan wasilah untukku, wajiblah baginya
      syafaatku. \"(HR. Muslim).

      Kedua, ketika hendak masuk ke dalam mesjid dan ketika hendak keluar
      daripadanya.

      Rersahda Rasulullah Saw.:


      Artinya: \"Apabila seseorang kamu masuk ke dalam mesjid, maka
      hendaklah ia membaca \"salam\" kepadaku (membaca selwat dan salam).
      Sesudah itu hendaklah ia membaca: Allâhummaftah lî Abwâba Rahmatika
      (Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku segala pintu rahmatmu). Dan
      apabila ia hendak keluar, hendaklah ia membaca (sesudah bershalawat):
      Allâhumma Innî As aluka min Fadhlika. (Wahai Tuhanku, aku memohon
      kepada-Mu limpahan rahmat-Mu).\" (HR. Abû Dâud).

      Diberitakan oleh Ibn Al-Sunnî, bahwa Rasulullah apabila masuk ke
      dalam mesiid. maka beliau membaca:


      Artinya: \"Dengan nama Allah wahai tuhanku, berilah kebesaran kepada
      Muhammad.\"

      Dan apabila beliau hendak keluar dari mesiid, maka beliau membaca

      Ketiga, sudah membaca tasyahhud di dalam tasyahhud akhir.

      Telah ditahqikkan oleh Al-Imâm Ibn Al-Qayyim dalam Jalâ\'u al-Afhâm,
      bahwa madzhab yang haq dalam soal bershalawat dalam tasyahhud yang
      akhir, ialah madzhab Al-Syâfi\'i. Yaitu mewajibkan shalawat kepada
      Nabi di dalamnya. Al-Imam Ibn Al-Qayyim berpendapat, bahwa shalawat
      itu dituntut juga di dalam tasyahhud yang pertama, walaupun tidak
      sekeras tuntutan seperti di dalam tasyahhud yang akhir.

      Bersabda Rasulullah Saw.:


      Artinya: \"Apabila salah seorang kamu bertasayahhud di dalam
      sembahyang, maka hendaklah ia mengucapkan: Allâhumma Shalli \'alâ
      Muhammadin wa \'alâ Âli Muham-madin, Kamâ Shallayta wa Bârakta wa
      Tarahamta \'alâ Ibrâhîm wa Âli Ibrâhîm, Innaka Hamîdun Majîd.\" (HR.
      Al-Baihaqî ).

      Keempat, di dalam sembahyang jenazah.

      Berkata Al-Syâfi\'i di dalam Al-Musnad: \"Sunnah Nabi Saw. di dalam
      melaksanakan sembahyang jenazah ialah, bertakbir pada permulaannya,
      sesudah itu membaca Al-Fâtihah dengan tidak mengeraskan suara,
      kemudian sesudah takbir kedua membaca shalawat, sesudah bershalawat
      bertakbir lagi, takbir yang ketiga. Sesudah takbir yang ketiga ini
      membaca doa dengan sepenuh keikhlasan untuk jenazah itu. Dalam
      sembahyang jenazah tidak dibacakan surah (ayat-ayat Al-Quran).
      Sesudah itu bertakbir dan lalu memberi salam dengan suara yang tidak
      dikeraskan.\"

      Kelima, diantara takbir-takbir sembahyang hari-raya.

      Berkata para ulama: \"Disukai kita membaca di antara takbir-takbir
      sembahyang hari-raya:


      Artinya: \"Saya akui kesucian Allah, segala puji dan sanjung
      kepunyaan Allah juga. Tak ada Tuhan yang seebenarnya berhak disembah,
      melainkan Allah senndiri-Nya dan Allah itu Maha Besar. Ya Allah,
      wahai Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Muhammad dan akan keluarganya,
      Ya Allah, Wahai Tuhanku, ampuniah akan aku dan beri rahmatlah
      kepadaku.\"

      Keenam, di permulaan doa dan di akhirnya.

      Bersabda Rasulullah Saw.:


      Artinya:\"Bahwasannya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tiada
      naik, barang sedikit juga daripadanya sehingga engkau bershalawat
      kepada Nabi engkau.\" (HR. Al-Turmudzî).

      Fadlalah Ibn \'Ubadi berkata: \"Bahwasanya Rasulullah Saw. mendengar
      seorang laki-laki langsung berdoa dalam sembahyang (yakni dalam duduk
      tahiyat sesudah membaca tasyahhud), sebelum ia bershalawat. Maka
      Rasulullah berkata kepada orang yang di sisinya: Orang ini telah
      bergegas-gegas. Sesudah orang itu selesai sembahyang, Nabipun
      memanggil lalu mengatakan kepada-nya: Apabila bersembahyang seseorang
      kamu dan hendak berdoa di dalamnya, hendaklah ia memulai doanya
      dengan memuji Allah dan membesarkan-Nya. Sesudah itu bershalawat
      kepada Nabi Sesudah bershalawat, barulah mendoa memohon sesuatu yang
      dihajati.\" (HR. Abû Dâud dan Al-Nasâ\'i).

      Telah mufakat semua ulama, bahwa amat disukai memulai doa dengan
      memuji Allah (membaca Alhamdulillah). Di dalam sembahyang, maka
      tasyahhud adalah menggantikan kalimah puji (hamdalah). Sesudah memuji
      Tuhan bershalawat.

      Demikian pula halnya ketika mengakhiri doa. Amat disukai kita
      mengakhirinya dengan shalawat dan memuji Allah.

      Ketujuh, ketika hendak memulai sesuatu urusan penting dan berharga.

      Diberitakan oleh Abû Hurairah, bahwa Nabi Saw. bersabda:



      Artinya: \"Tiap-tiap urusan penting yang berarti dan berharga yang
      tidak dimulai dengan hamdalah dan shalawat, maka urusan itu hilang
      berkatnya.\"(HR. Al-Rahawî).

      Pengarang Syarah Dalâ\'il, --menukil pernyataan yang diberikan oleh
      Qâdhi \'Iyâdh di dalam kitabnya Al-Syifâ\'--mengatakan bahwa maksud
      pembacaan shalawat dalam pembukaan segala sesuatu itu adalah untuk
      bertabaruk (memohon berkah), sesuai dengan sabda Nabi Saw., \"Setiap
      perbuatan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan
      bershalawat kepadaku niscaya kurang sempurna.\"

      Juga didasarkan atas firman Allah Swt. di dalam surah Al-Insyirah
      ayat 4, yang berbunyi:


      Artinya: \"Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)-Mu.\" (OS. Al-
      Insyirah:4).

      Tentang maksud ayat ini, sebagian ahli hadis meriwayatkan sebuah
      hadis dari salah seorang sahabat, yakni Abû Sad r.a., bahwa makna
      ayat tersebut adalah, \"Tidaklah Aku (Allah) disebut, melainkan
      engkau (Muhammad) pun disebut pula hersama-Ku.\"

      Memenuhi sebagian hak Rasulullah Saw., sebab beliau adalah perantara
      antara Allah Saw. dan hamba-hamba-Nya. Semua nikmat yang diterima
      oleh mereka -termasuk nikmat terbesar berupa hidayah kepada Islam-
      adalah dengan perantara dan melalui Rasulullah Saw.

      Di dalam salah satu hadis, Rasulullah Saw. Bersabda, \"Belumlah
      bersyukur kepada Allah orang yang tidak ber-terima kasih kepada
      manusia.\"

      Memelihara perintah Allah Swt. yang dituangkannya di dalam firman-Nya
      yang berbunyi:


      Artinya: \"Hai orang-orang yang Beriman, bershalawatlah kalian untuk
      Nabi, dan ucapkanlah salampenghormatan kepadanya.\" (QS. Al-Ahzâb:
      33).

      Kedelapan, di akhir qunut

      Diriwayatkan oleh Al-Nasâ\'i, bahwa disukai kita mengakhiri qunut
      dengan shalawat. Tegasnya, disukai supaya kita bershalawat di akhir
      Qunut dengan kalimah:


      Artinya: \"Dan mudah-mudahan Allah melimpahkan shalawat-Nya atas
      Muhammad.\"

      Kesembilan, di malam dan hari Jumat.

      Bersabda Rasulullah Saw. :


      Artinya: \"Banyakkanlah olehmu membaca shalawat di malam hari Jumat
      dan siangnya karena shalawat itu dtkemukakan kepadaku. \" (HR. Al-
      Thabrânî).

      Dan sabdanya pula;


      Artinya: \"Banyakkanlah olehmu shalawat kepada-ku, karena shalawaatmu
      itu akan menjadi cahaya bagimu pada hari qiyamat.\" (HR Al-Thrmudzî
      dan Abû Dâud).

      Al-Ustâdz Mahmûd Sâmi dalam karyanya Mukhtashar fi Ma\'ânî Asmâ Allah
      al-Husnâ, bâbu al-Shalâh \'alâ al-Nabi, menceritakan \'Umar bin
      \'Abdul \'Azîz r.a. pernah menulis, \"sebarkanlah ilmu pada hari
      Jumat, sebab bencana ilmu itu adalah lupa. Perbanyaklah pula kalian
      membaca shalawat atas Nabi Saw. pada hari jumat.
      Sementara Imam Al-Syâfi\'i r.a. Berkata, \"Aku suka memperbanyak
      membaca shalawat dalam setiap keadaan. Namun, pada malam dan hari
      Jumat lebih aku sukai, karena ia merupakan hari yang paling baik.

      Kesepuluh, di dalam khutbbah.
      Menurut madzhab Al-Syâfi\'i, para khatib wajib membaca shalawat untuk
      Nabi Saw. pada permulaan khuthbah, sesudah membaca tahmid.
      Ibnu Katsîr herkata: \"demikianlah madzhab Al-Syâfi\'i dan Ahmad.\"

      Kesebelas, ketika berziarah ke kubur Nabi Saw.

      Bersabda Nabi Saw.


      Artinya: \"Tidak ada seorangpun di antara kamu yang memberikan
      salamnya kepadaku yakni di sisi kuburku, melainkan Allah
      mengembalikan kepadaku ruhku untuk mniawab salamnya itu.\" (HR. Abû
      Dâud).

      Kedua belas, sesudah bertalbiyah.

      Berkata Muhammad Ibn Al-Qasim:


      Artinya: \"Memang disuruh seseorang membaca shalawat kepada nabi
      apabila dia telah selesai membaca talbiyahnya dalam segala keadaan.\"
      (HR. Al-Syâfi\'i dan Al-Dâruquthnî).

      Ketiga belas, ketika telinga mendenging.

      Bersabda Rasulullah Saw :


      Artinya: \"Apabila mendenging telinga salah seorang di antaramu, maka
      hedaklah la mengingat dan bershalawat kepadaku.\" (HR. Ibn Al-Sunî)

      Keempat belas, tiap-tiap mengadakan majlis.

      Bersabda Ralulullah Saw :


      Artinya: \"Tidak duduk sesuatu kaum di dalam sesuatu majlis, sedang
      mereka tidak menyebut akan Allah dan tidak betshalawat kepda Nabinya,
      melainkan menderita kekuranganlah maka jika Allah mmghendaki niscaya
      Allah akan mengazab mereka dan jika Allah menghendaki, niscaya akan
      mengampuni mereka.\" (HR. Al-Thrmudzî Abû Dâud).

      Kelima belas, di kala tertimpa kesusahan dan kegundahan.

      Diberitakan oleh Ubay Ibn Ka\'ab, bahwa seorang laki-laki bertanya
      kepada Rasulullah Saw. ujarnya: \"Ya Rasulallah, bagaimana pendapat
      engkau sekiranya saya jadikan shalawat saya untuk engkau semua?
      Rasulullah Saw. menjawab :
      \"Kalau demikian Allah akan memelihara engkau dari segala yang
      membimbangkan engkau, baik mengenai dunia, maupun mengenai akhirat
      engkau. \"(HR. Ahmad).

      Keenam belas, tiap-tiap waktu pagi dan petang.

      Bersabda Rasululullah Saw:


      Artinya: \"Barangsiapa bershalawat kepadaku waktu pagi sepuluh kali
      waktu petang sepuluh kali, maka ia akan mendapat syafa\'atku di hari
      qiamat, \" (HR. Al-Thabarî).

      Ketujuh belas, waktu berjumpa dengan para shahabat, handai dan tolan.

      Besabda Rasulullah Saw :


      Artinya: \"Tidak ada dua orang hamba yang berkasih-kasihan karena
      Allah, apabila berjumpa salah seorang dengan yang lainnya lalu
      berjabatan tangan dan bershalawat kepada Nabi Saw., melainkan Allah
      mengampuni dosanya sebelum mereka berpisah, baik yang telah lalu
      maupun yang akan datang. \" (HR Ibn Al-Sunnî).

      Kedelapan belas. ketika Orang menyebut nama Rasulullah Saw.:


      Artinya: \"Orang yang kikir ialah: Orang yang tidak mau bershalawat
      ketika orang menyebut namaku di sisinya.\" (HR. Ahmad).

      Inilah delapan belas tempat atau waktu yang ditentukan supaya kita
      bershalawat kepada Nabi, ketika kita berada pada tempat, waktu atau
      keadaan itu. Maka marilah kita wahai para pencinta Rasul, bershalawat
      kepadanya pada tempat-tempat, waktu-waktu dan keadaan-keadaan
      tertentu dengan sebaik-baiknya.

      Kemudian kita perhatikan makna hadis yang tersebut di bawah ini.
      Bersabdalah Rasulullah Saw :



      Artinya: \"Tidak beriman salah seorang kamu, sehingga la mencintai
      aku lebih daripada anaknya, ayahnya dan manusia semua.\" (HR. Al-
      Bukhârî, Muslim, dan Ahmad)



      Artinya: \"Diriwayatkan bahwasanya \'Umar pernah berkata kepada
      Rasulullah Saw.: Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih kucintai
      dari segala sesuatu, kecuali kecintaanku terhadap diriku. Menjawab
      Nabi: Ya \'Umar engkau belum lagi mencintai aku sebelum engkau
      melebihkan cintamu itu daripada kepada dirimu sendiri. Mendengar itu
      \'Umarpun berkata: Demi Allah, engkau ya Muhammd, lebih aku cintai
      daripada diriku sendiri! Nabi menjawab: barulah sekarang engkau
      mencintai aku hai \'Umar.\" (HR. Ahmad, Bukhârî, dan Muslim).

      Sebagai tanda mencintai Rasulllah Saw. itu, ialah: memperbanyak
      shalawat kepadanya. Dan marilah kita ber-shalawat kepadanya dengan
      khusyu\' dan khudlu\', terlepas dari riya. Karena sealawat yang
      dilakukan dengan riya, tiadalah diridlai oleh Allah dan tiada pula
      diterima-Nya.

      *******************************
      Tambahan :
      Bila ditanya mengapa umat Islam mengangkat jari ketika membaca
      tahiyat, saya akan menjawab - Kerana mengikut sunnah Rasulullah
      s.a.w. Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan bahawa baginda s.a.w.
      berbuat demikian. Itulah sebab yang sebenar-benarnya.

      Hadis-hadis yang menyatakan mengenai perkara berkenaan, antaranya
      ialah:

      1. Dari Ibnu Umar r.a., katanya: "Adalah Rasulullah s.a.w. apabila
      duduk dalam sembahyang, baginda meletakkan kedua-dua tangannya di
      atas lutut dan mengangkat anak jarinya yang mengiringi ibu jari (jari
      telunjuk), lalu beliau berdoa dengannya, sedang tangannya yang kiri
      diletakkan di atas lutu kiri dengan menghamparkannya." (HR Ahmad, al-
      Nasa'I dan Abu Daud)

      2. Dari Wa'il bin Hujr r.a. katanya: "...kemudian Rasulullah duduk,
      lalu baginda menghamparkan kaki kirinya dengan meletakkan telapak
      tangan kiri di atas peha kiri dan mejadikan hujung siku kanan di atas
      peha kanan. Baginda menggenggam dua anak jarinya (jari kelingking dan
      jari manis) dan membuat gelungan, lalu baginda mengangkat-angkat anak
      jari telunjuk. Aku lihat baginda menggerak-gerakkannya sambil berdoa
      dengan dia." (HR Ahmad, al-Nasa'I dan Abu Daud)

      3. Dari Abdullah bin al-Zubair r.a., katanya: "Adalah Rasulullah
      s.a.w. apabila duduk dalam tahiyat, meletakkan tangan kanannya atas
      peha kanannya dan tangan kiri atas peha kirinya sambil berisyarat
      dengan telunjuk. Pandangannya tidak melampaui isyaratnya.

      Dan ada beberapa hadis lain lagi...

      ********
      Bila masanya mengangkat/berisyarat jari telunjuk? Menurut mazhab
      Syafi'iyah ia hendaklah dilakukan ketika mengucapkan
      kalimat "illallah".

      Apakah hikmah mengangkat jari telunjuk ketika tahiyat? Menurut Ibnu
      Ruslan bahwa hikmah mengangkat/berisyarat jari telunjuk ialah
      mengisyaratkan keesaan Allah, agar berhimpunlah ketika itu - Tauhid
      qauli (ucapan), tauhid amali (amalan) dan tauhid I'tiqadi (hati).

      Menurut satu riwayat dari Ibnu Mas'ud, bahawa maksud isyarat itu
      ialah ikhlas.

      Dan boleh juga dikatakan ia adalah sebagai isyarat tauhid dan ikhlas.

      Mungkin inilah yang ditanyakan oleh saudara...

      Wallahu a'lam

      Rujukan
      Nailul Authar
      Subulus Salam
      Mughnil Muhtaj








      Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/



      this message was sent from outside Lembaga Manajemen PPM




      this message was sent by Lembaga Manajemen PPM







      Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
    • Bagus Dj, SKAI-New
      Setuju ... From: Ivan Ko [mailto:ailnavi66@yahoo.com] Sent: Monday, September 01, 2003 7:56 AM To: islam-kristen@yahoogroups.com Subject: RE: [islam-kristen]
      Message 2 of 5 , Sep 1 3:15 AM
        Setuju
        -----Original Message-----
        From: Ivan Ko [mailto:ailnavi66@...]
        Sent: Monday, September 01, 2003 7:56 AM
        To: islam-kristen@yahoogroups.com
        Subject: RE: [islam-kristen] Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat

        Masing-masing agama punya cara tersendiri. Kita tidak bisa melihat dari kacamata agama yang kita anut. Mau bertele-tele atau singkat, itu tergantung dari niat didalam hati masing-masing individu tsb.
        Yang terpenting, apakah dari cara berdoa seperti itu dapat membuat karakternya menjadi lebih baik.
         
        GBU

        webmaster@... wrote:

        Kok Islam jadi banyak mantera kayak mistik begini ?  Yesus mengatakan itu
        namanya doa bertele-tele. Bukan karena banyaknya kata suatu doa didengar,
        karena Bapa di sorga mengetahui maksud dan isi hati kita sebelum kita
        mengucapkannya. 

        Nug

        -----Original Message-----
        From: retno_wahyudiaty [mailto:retno_wahyudiaty@...]
        Sent: Thursday, August 28, 2003 11:29 PM
        To: islam-kristen@yahoogroups.com
        Subject: [islam-kristen] Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat


        Waktu dan Tempat yang Baik untuk Bershalawat
        Shalawat atas Nabi Saw. disyariatkan pada waktu-waktu, tempat-tempat,
        dan keadaan-keadaan tertentu. Hal ini telah dibicarakan panjang lebar
        oleh Ibn Al-Qayyim di dalam kitab Jalâ \'u al-Afhâm fî Fadhli al-
        Shalâti wa al-Salâmi \'alâ Muhammad Khayr al-Anâm, Syaikh Islam
        Quthbuddin al-Haydhari al-Syâfi\'i di dalam kitab Al-Liwâ al-Muallim
        bi Mawâthin al-Shalâh \'alâ al-Nabî Saw., Al-Hâfizh Al-Sakhâwi di
        dalam kitab Al-Qawl al-Badî\', dan Al-Qasthallânî di dalam kitab
        Masâlik al-Hunafâ\'.

        Al-Khâtib di dalam kitab Syarh al-Minhâj, dan yang lainnya, berkata:
        \"Disunnahkan memperbanyak membaca Surah Al-Kahfi dan shalawat atas
        Nabi Saw. pada hari Jumat dan malam Jumat; paling sedikit, untuk yang
        pertama tiga kali dan untuk yang kedua tiga ratus kali.\"

        Sementaraa itu, telah sah riwayat yang bersumber dari Imam Al-
        Syâfi\'i r.a., yang mengatakan bahwa, barang-siapa yang membaca Surah
        Al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan diterangi oleh cahaya yang ada di
        antara dua Jumat.

        Diriwayatkan pula bahwa barangsiapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada
        malam Jumat, ia akan diterangi oleh suatu cahaya antara dirinya dan
        Kabah. Membaca Surah Al-Kahfi di waktu siang lebih di-utamakan, dan
        lebih utama lagi bila ia dibaca sesudah selesai mengerjakan salat
        subuh, guna menyegerakan berbuat baik sebisa-bisanya.

        Hikmah diperintahkannya membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jum\'at
        adalah karena didalam Surah itu Allah menggambarkan suasana Hari
        Kiamat, sementara hari Jum\'at mirip dengan Hari Kiamat, karena orang
        banyak berkumpul untuk melaksanakan salat bersama-sama; juga karena
        Hari Kiamat itu terjadi pada hari Jum\'at, seperti yang diriwayatkan
        oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih-nya.

        Ramli mengatakan bahwa anjuran supaya memperbanyak pembacaan shalawat
        pada malam dan hari Jum\'at itu didasarkan pada hadis yang berbunyi,
        \"Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Oleh
        karena itu, perbanyaklah kalian membaca shalawat atasku, sebab
        shalawat yang kalian baca itu diperlihatkan kepadaku.\"

        Nabi Saw. bersabda, \"Sesungguhnya semua amal itu diangkat pada hari
        Senin dan hari Kamis. Oleh karena itu, aku berhasrat agar amalku
        diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.\"

        Tentang hadis di atas, Al-Manawi, di dalam kitab Syarh Al-Jamî al-
        Shghîr; permulaan jilid III, berkata, \"Disyariatkan berkumpul untuk
        membaca shalawat atas Nabi Saw. pada malam Jumat dan malam Senin,
        sebagaimana yang dikerjakan di masjid Jami\' Al-Azhar dan disuarakan
        dengan suara yang keras.\"
        Dikatakan bahwa shalawat atas Nabi Saw. itu sudah mencakup doa di
        dalamnya.
        Ibn Marzûq berkata, \"Malam Jumat lebih utama dan malam Qadar.\"


        Jamâl kembali menyatakan bahwa disunnahkan membaca Surah Ali \'Imrân
        atas dasar hadis, \"Barangsiapa yang membaca Surah Ali \'Imrân pada
        hari Jumat, niscaya dosa-dosanya ikut terbenam dengan tenggelamnya
        matahari pada hari itu.\"

        Hikmahnya, kata Jamâl, adalah karena Allah menyebutkan di dalam surah
        itu penciptaan Nabi Adam a.s., sedangkan Adam a.s. diciptakan pada
        hari Jumat.

        Disunnahkan juga membaca Surah Hûd dan Hâ Mîm Dukhân. Namun, bagi
        mereka yang hanya ingin memilih salah satu dari surah-surah yang
        disebutkan di atas, hendaklah ia memilih Surah Al-Kahfi karena
        banyaknya hadis yang meriwayatkannya

        Adapun hadis-hadis lain yang menjelaskan waktu-waktu tertentu untuk
        membaca shalawat sebagai berikut:

        Pertama, sesudah adzan.

        Rersabda Rasulullâh Saw.


        Artinya: \"Apabila kamu mendengar muadzin membacakan adzan, sambutlah
        ucapannya. Sesudah selesai menyambut adzan, maka bershalawatlah kamu
        untukku.\"(HR. Muslim)

        Nabi Saw. bersabda:


        Artinya: \"Apabila kamu mendengar seorang muadzin (tukang membaca
        adzan itu) bacalah (sambutlah bacaan adzan itu) seperti yang
        dibacakan olehnya. Kemudian (sesudah selesai adzan dibacakan),
        bershalawatlah kamu kepadaku. Sebenarnya barangsiapa bershalawat
        kepadaku dengan suatu shalawal, niscaya Allah bershalawat ke-padanya
        dengan sepuluh shalawat. Sesudah itu mohonlah kepada Allah wasilah
        untukku. Wasilah itu suatu ke-dudukan yang paling tinggi dalam
        syurga. Tidak dapat diperoleh, melainkan oleh seorang saja dari hamba-
        hamba Allah. Aku berharap semoga akulah yang mendapat ke-dudukan itu.
        Karena itu barang siapa memohonkan wasilah untukku, wajiblah baginya
        syafaatku. \"(HR. Muslim).

        Kedua, ketika hendak masuk ke dalam mesjid dan ketika hendak keluar
        daripadanya.

        Rersahda Rasulullah Saw.:


        Artinya: \"Apabila seseorang kamu masuk ke dalam mesjid, maka
        hendaklah ia membaca \"salam\" kepadaku (membaca selwat dan salam).
        Sesudah itu hendaklah ia membaca: Allâhummaftah lî Abwâba Rahmatika
        (Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku segala pintu rahmatmu). Dan
        apabila ia hendak keluar, hendaklah ia membaca (sesudah bershalawat):
        Allâhumma Innî As aluka min Fadhlika. (Wahai Tuhanku, aku memohon
        kepada-Mu limpahan rahmat-Mu).\" (HR. Abû Dâud).

        Diberitakan oleh Ibn Al-Sunnî, bahwa Rasulullah apabila masuk ke
        dalam mesiid. maka beliau membaca:


        Artinya: \"Dengan nama Allah wahai tuhanku, berilah kebesaran kepada
        Muhammad.\"

        Dan apabila beliau hendak keluar dari mesiid, maka beliau membaca

        Ketiga, sudah membaca tasyahhud di dalam tasyahhud akhir.

        Telah ditahqikkan oleh Al-Imâm Ibn Al-Qayyim dalam Jalâ\'u al-Afhâm,
        bahwa madzhab yang haq dalam soal bershalawat dalam tasyahhud yang
        akhir, ialah madzhab Al-Syâfi\'i. Yaitu mewajibkan shalawat kepada
        Nabi di dalamnya. Al-Imam Ibn Al-Qayyim berpendapat, bahwa shalawat
        itu dituntut juga di dalam tasyahhud yang pertama, walaupun tidak
        sekeras tuntutan seperti di dalam tasyahhud yang akhir.

        Bersabda Rasulullah Saw.:


        Artinya: \"Apabila salah seorang kamu bertasayahhud di dalam
        sembahyang, maka hendaklah ia mengucapkan: Allâhumma Shalli \'alâ
        Muhammadin wa \'alâ Âli Muham-madin, Kamâ Shallayta wa Bârakta wa
        Tarahamta \'alâ Ibrâhîm wa Âli Ibrâhîm, Innaka Hamîdun Majîd.\" (HR.
        Al-Baihaqî ).

        Keempat, di dalam sembahyang jenazah.

        Berkata Al-Syâfi\'i di dalam Al-Musnad: \"Sunnah Nabi Saw. di dalam
        melaksanakan sembahyang jenazah ialah, bertakbir pada permulaannya,
        sesudah itu membaca Al-Fâtihah dengan tidak mengeraskan suara,
        kemudian sesudah takbir kedua membaca shalawat, sesudah bershalawat
        bertakbir lagi, takbir yang ketiga. Sesudah takbir yang ketiga ini
        membaca doa dengan sepenuh keikhlasan untuk jenazah itu. Dalam
        sembahyang jenazah tidak dibacakan surah (ayat-ayat Al-Quran).
        Sesudah itu bertakbir dan lalu memberi salam dengan suara yang tidak
        dikeraskan.\"

        Kelima, diantara takbir-takbir sembahyang hari-raya.

        Berkata para ulama: \"Disukai kita membaca di antara takbir-takbir
        sembahyang hari-raya:


        Artinya: \"Saya akui kesucian Allah, segala puji dan sanjung
        kepunyaan Allah juga. Tak ada Tuhan yang seebenarnya berhak disembah,
        melainkan Allah senndiri-Nya dan Allah itu Maha Besar. Ya Allah,
        wahai Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Muhammad dan akan keluarganya,
        Ya Allah, Wahai Tuhanku, ampuniah akan aku dan beri rahmatlah
        kepadaku.\"

        Keenam, di permulaan doa dan di akhirnya.

        Bersabda Rasulullah Saw.:


        Artinya:\"Bahwasannya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tiada
        naik, barang sedikit juga daripadanya sehingga engkau bershalawat
        kepada Nabi engkau.\" (HR. Al-Turmudzî).

        Fadlalah Ibn \'Ubadi berkata: \"Bahwasanya Rasulullah Saw. mendengar
        seorang laki-laki langsung berdoa dalam sembahyang (yakni dalam duduk
        tahiyat sesudah membaca tasyahhud), sebelum ia bershalawat. Maka
        Rasulullah berkata kepada orang yang di sisinya: Orang ini telah
        bergegas-gegas. Sesudah orang itu selesai sembahyang, Nabipun
        memanggil lalu mengatakan kepada-nya: Apabila bersembahyang seseorang
        kamu dan hendak berdoa di dalamnya, hendaklah ia memulai doanya
        dengan memuji Allah dan membesarkan-Nya. Sesudah itu bershalawat
        kepada Nabi Sesudah bershalawat, barulah mendoa memohon sesuatu yang
        dihajati.\" (HR. Abû Dâud dan Al-Nasâ\'i).

        Telah mufakat semua ulama, bahwa amat disukai memulai doa dengan
        memuji Allah (membaca Alhamdulillah). Di dalam sembahyang, maka
        tasyahhud adalah menggantikan kalimah puji (hamdalah). Sesudah memuji
        Tuhan bershalawat.

        Demikian pula halnya ketika mengakhiri doa. Amat disukai kita
        mengakhirinya dengan shalawat dan memuji Allah.

        Ketujuh, ketika hendak memulai sesuatu urusan penting dan berharga.

        Diberitakan oleh Abû Hurairah, bahwa Nabi Saw. bersabda:



        Artinya: \"Tiap-tiap urusan penting yang berarti dan berharga yang
        tidak dimulai dengan hamdalah dan shalawat, maka urusan itu hilang
        berkatnya.\"(HR. Al-Rahawî).

        Pengarang Syarah Dalâ\'il, --menukil pernyataan yang diberikan oleh
        Qâdhi \'Iyâdh di dalam kitabnya Al-Syifâ\'--mengatakan bahwa maksud
        pembacaan shalawat dalam pembukaan segala sesuatu itu adalah untuk
        bertabaruk (memohon berkah), sesuai dengan sabda Nabi Saw., \"Setiap
        perbuatan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan
        bershalawat kepadaku niscaya kurang sempurna.\"

        Juga didasarkan atas firman Allah Swt. di dalam surah Al-Insyirah
        ayat 4, yang berbunyi:


        Artinya: \"Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)-Mu.\" (OS. Al-
        Insyirah:4).

        Tentang maksud ayat ini, sebagian ahli hadis meriwayatkan sebuah
        hadis dari salah seorang sahabat, yakni Abû Sad r.a., bahwa makna
        ayat tersebut adalah, \"Tidaklah Aku (Allah) disebut, melainkan
        engkau (Muhammad) pun disebut pula hersama-Ku.\"

        Memenuhi sebagian hak Rasulullah Saw., sebab beliau adalah perantara
        antara Allah Saw. dan hamba-hamba-Nya. Semua nikmat yang diterima
        oleh mereka -termasuk nikmat terbesar berupa hidayah kepada Islam-
        adalah dengan perantara dan melalui Rasulullah Saw.

        Di dalam salah satu hadis, Rasulullah Saw. Bersabda, \"Belumlah
        bersyukur kepada Allah orang yang tidak ber-terima kasih kepada
        manusia.\"

        Memelihara perintah Allah Swt. yang dituangkannya di dalam firman-Nya
        yang berbunyi:


        Artinya: \"Hai orang-orang yang Beriman, bershalawatlah kalian untuk
        Nabi, dan ucapkanlah salampenghormatan kepadanya.\" (QS. Al-Ahzâb:
        33).

        Kedelapan, di akhir qunut

        Diriwayatkan oleh Al-Nasâ\'i, bahwa disukai kita mengakhiri qunut
        dengan shalawat. Tegasnya, disukai supaya kita bershalawat di akhir
        Qunut dengan kalimah:


        Artinya: \"Dan mudah-mudahan Allah melimpahkan shalawat-Nya atas
        Muhammad.\"

        Kesembilan, di malam dan hari Jumat.

        Bersabda Rasulullah Saw. :


        Artinya: \"Banyakkanlah olehmu membaca shalawat di malam hari Jumat
        dan siangnya karena shalawat itu dtkemukakan kepadaku. \" (HR. Al-
        Thabrânî).

        Dan sabdanya pula;


        Artinya: \"Banyakkanlah olehmu shalawat kepada-ku, karena shalawaatmu
        itu akan menjadi cahaya bagimu pada hari qiyamat.\" (HR Al-Thrmudzî
        dan Abû Dâud).

        Al-Ustâdz Mahmûd Sâmi dalam karyanya Mukhtashar fi Ma\'ânî Asmâ Allah
        al-Husnâ, bâbu al-Shalâh \'alâ al-Nabi, menceritakan \'Umar bin
        \'Abdul \'Azîz r.a. pernah menulis, \"sebarkanlah ilmu pada hari
        Jumat, sebab bencana ilmu itu adalah lupa. Perbanyaklah pula kalian
        membaca shalawat atas Nabi Saw. pada hari jumat.
        Sementara Imam Al-Syâfi\'i r.a. Berkata, \"Aku suka memperbanyak
        membaca shalawat dalam setiap keadaan. Namun, pada malam dan hari
        Jumat lebih aku sukai, karena ia merupakan hari yang paling baik.

        Kesepuluh, di dalam khutbbah.
        Menurut madzhab Al-Syâfi\'i, para khatib wajib membaca shalawat untuk
        Nabi Saw. pada permulaan khuthbah, sesudah membaca tahmid.
        Ibnu Katsîr herkata: \"demikianlah madzhab Al-Syâfi\'i dan Ahmad.\"

        Kesebelas, ketika berziarah ke kubur Nabi Saw.

        Bersabda Nabi Saw.


        Artinya: \"Tidak ada seorangpun di antara kamu yang memberikan
        salamnya kepadaku yakni di sisi kuburku, melainkan Allah
        mengembalikan kepadaku ruhku untuk mniawab salamnya itu.\" (HR. Abû
        Dâud).

        Kedua belas, sesudah bertalbiyah.

        Berkata Muhammad Ibn Al-Qasim:


        Artinya: \"Memang disuruh seseorang membaca shalawat kepada nabi
        apabila dia telah selesai membaca talbiyahnya dalam segala keadaan.\"
        (HR. Al-Syâfi\'i dan Al-Dâruquthnî).

        Ketiga belas, ketika telinga mendenging.

        Bersabda Rasulullah Saw :


        Artinya: \"Apabila mendenging telinga salah seorang di antaramu, maka
        hedaklah la mengingat dan bershalawat kepadaku.\" (HR. Ibn Al-Sunî)

        Keempat belas, tiap-tiap mengadakan majlis.

        Bersabda Ralulullah Saw :


        Artinya: \"Tidak duduk sesuatu kaum di dalam sesuatu majlis, sedang
        mereka tidak menyebut akan Allah dan tidak betshalawat kepda Nabinya,
        melainkan menderita kekuranganlah maka jika Allah mmghendaki niscaya
        Allah akan mengazab mereka dan jika Allah menghendaki, niscaya akan
        mengampuni mereka.\" (HR. Al-Thrmudzî Abû Dâud).

        Kelima belas, di kala tertimpa kesusahan dan kegundahan.

        Diberitakan oleh Ubay Ibn Ka\'ab, bahwa seorang laki-laki bertanya
        kepada Rasulullah Saw. ujarnya: \"Ya Rasulallah, bagaimana pendapat
        engkau sekiranya saya jadikan shalawat saya untuk engkau semua?
        Rasulullah Saw. menjawab :
        \"Kalau demikian Allah akan memelihara engkau dari segala yang
        membimbangkan engkau, baik mengenai dunia, maupun mengenai akhirat
        engkau. \"(HR. Ahmad).

        Keenam belas, tiap-tiap waktu pagi dan petang.

        Bersabda Rasululullah Saw:


        Artinya: \"Barangsiapa bershalawat kepadaku waktu pagi sepuluh kali
        waktu petang sepuluh kali, maka ia akan mendapat syafa\'atku di hari
        qiamat, \" (HR. Al-Thabarî).

        Ketujuh belas, waktu berjumpa dengan para shahabat, handai dan tolan.

        Besabda Rasulullah Saw :


        Artinya: \"Tidak ada dua orang hamba yang berkasih-kasihan karena
        Allah, apabila berjumpa salah seorang dengan yang lainnya lalu
        berjabatan tangan dan bershalawat kepada Nabi Saw., melainkan Allah
        mengampuni dosanya sebelum mereka berpisah, baik yang telah lalu
        maupun yang akan datang. \" (HR Ibn Al-Sunnî).

        Kedelapan belas. ketika Orang menyebut nama Rasulullah Saw.:


        Artinya: \"Orang yang kikir ialah: Orang yang tidak mau bershalawat
        ketika orang menyebut namaku di sisinya.\" (HR. Ahmad).

        Inilah delapan belas tempat atau waktu yang ditentukan supaya kita
        bershalawat kepada Nabi, ketika kita berada pada tempat, waktu atau
        keadaan itu. Maka marilah kita wahai para pencinta Rasul, bershalawat
        kepadanya pada tempat-tempat, waktu-waktu dan keadaan-keadaan
        tertentu dengan sebaik-baiknya.

        Kemudian kita perhatikan makna hadis yang tersebut di bawah ini.
        Bersabdalah Rasulullah Saw :



        Artinya: \"Tidak beriman salah seorang kamu, sehingga la mencintai
        aku lebih daripada anaknya, ayahnya dan manusia semua.\" (HR. Al-
        Bukhârî, Muslim, dan Ahmad)



        Artinya: \"Diriwayatkan bahwasanya \'Umar pernah berkata kepada
        Rasulullah Saw.: Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih kucintai
        dari segala sesuatu, kecuali kecintaanku terhadap diriku. Menjawab
        Nabi: Ya \'Umar engkau belum lagi mencintai aku sebelum engkau
        melebihkan cintamu itu daripada kepada dirimu sendiri. Mendengar itu
        \'Umarpun berkata: Demi Allah, engkau ya Muhammd, lebih aku cintai
        daripada diriku sendiri! Nabi menjawab: barulah sekarang engkau
        mencintai aku hai \'Umar.\" (HR. Ahmad, Bukhârî, dan Muslim).

        Sebagai tanda mencintai Rasulllah Saw. itu, ialah: memperbanyak
        shalawat kepadanya. Dan marilah kita ber-shalawat kepadanya dengan
        khusyu\' dan khudlu\', terlepas dari riya. Karena sealawat yang
        dilakukan dengan riya, tiadalah diridlai oleh Allah dan tiada pula
        diterima-Nya.

        *******************************
        Tambahan :
        Bila ditanya mengapa umat Islam mengangkat jari ketika membaca
        tahiyat, saya akan menjawab - Kerana mengikut sunnah Rasulullah
        s.a.w. Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan bahawa baginda s.a.w.
        berbuat demikian. Itulah sebab yang sebenar-benarnya.

        Hadis-hadis yang menyatakan mengenai perkara berkenaan, antaranya
        ialah:

        1. Dari Ibnu Umar r.a., katanya: "Adalah Rasulullah s.a.w. apabila
        duduk dalam sembahyang, baginda meletakkan kedua-dua tangannya di
        atas lutut dan mengangkat anak jarinya yang mengiringi ibu jari (jari
        telunjuk), lalu beliau berdoa dengannya, sedang tangannya yang kiri
        diletakkan di atas lutu kiri dengan menghamparkannya." (HR Ahmad, al-
        Nasa'I dan Abu Daud)

        2. Dari Wa'il bin Hujr r.a. katanya: "...kemudian Rasulullah duduk,
        lalu baginda menghamparkan kaki kirinya dengan meletakkan telapak
        tangan kiri di atas peha kiri dan mejadikan hujung siku kanan di atas
        peha kanan. Baginda menggenggam dua anak jarinya (jari kelingking dan
        jari manis) dan membuat gelungan, lalu baginda mengangkat-angkat anak
        jari telunjuk. Aku lihat baginda menggerak-gerakkannya sambil berdoa
        dengan dia." (HR Ahmad, al-Nasa'I dan Abu Daud)

        3. Dari Abdullah bin al-Zubair r.a., katanya: "Adalah Rasulullah
        s.a.w. apabila duduk dalam tahiyat, meletakkan tangan kanannya atas
        peha kanannya dan tangan kiri atas peha kirinya sambil berisyarat
        dengan telunjuk. Pandangannya tidak melampaui isyaratnya.

        Dan ada beberapa hadis lain lagi...

        ********
        Bila masanya mengangkat/berisyarat jari telunjuk? Menurut mazhab
        Syafi'iyah ia hendaklah dilakukan ketika mengucapkan
        kalimat "illallah".

        Apakah hikmah mengangkat jari telunjuk ketika tahiyat? Menurut Ibnu
        Ruslan bahwa hikmah mengangkat/berisyarat jari telunjuk ialah
        mengisyaratkan keesaan Allah, agar berhimpunlah ketika itu - Tauhid
        qauli (ucapan), tauhid amali (amalan) dan tauhid I'tiqadi (hati).

        Menurut satu riwayat dari Ibnu Mas'ud, bahawa maksud isyarat itu
        ialah ikhlas.

        Dan boleh juga dikatakan ia adalah sebagai isyarat tauhid dan ikhlas.

        Mungkin inilah yang ditanyakan oleh saudara...

        Wallahu a'lam

        Rujukan
        Nailul Authar
        Subulus Salam
        Mughnil Muhtaj








        Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/



        this message was sent from outside Lembaga Manajemen PPM




        this message was sent by Lembaga Manajemen PPM





        Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


        Do you Yahoo!?
        Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

        Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.