Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[IRIAN-L] Re: GUS DUR (2) / menjawab Bung Vito Hendrik Gambino

Expand Messages
  • Waruno Mahdi
    Bung Vito, maaf kemarin terpaksa berhenti karena sudah malam dan saya punya afsprak yang tidak bisa saya tunda. ... Saya pikir, Pancasila itu sebaiknya tidak
    Message 1 of 7 , Jan 13, 2000
    • 0 Attachment
      Bung Vito,

      maaf kemarin terpaksa berhenti karena sudah malam dan saya punya
      afsprak yang tidak bisa saya tunda.

      > kemudian apa itu ideologi pancasila. dari mana digali.
      > dari budaya bangsa indonesia yang mana?

      Saya pikir, Pancasila itu sebaiknya tidak dipandang sebagai
      ideologi, melainkan sebagai prinsip-prinsip rohani yang dijadikan
      asas untuk Undang-Undang Dasar RI saat memproklamasikan kemerdekaan
      pada tahun 1945.

      Kelima sila itu diharapkan mencerminkan hasrat dan santun budaya
      masyarakat pribumi yang seluas-luasnya agar dapat mendasari
      kesatuan sukubangsa-sukubangsa dalam satu wadah yang "bhinneka
      tunggal ika", menghadapi tugas kongkret membangun satu negara
      nasional dan menghadapi tantangan kemungkinan diduduki kembali
      oleh pihak penjajah masa lampau.

      Pada dasarnya, Pancasila itu mencakup tiga prinsip besar, yaitu:
      (1) prinsip sosial komunal;
      (2) prinsip kenasionalan;
      (3) prinsip keagaaman atau keimanan.

      Hal ini mencerminkan taraf perkembangan masyarakat Indonesia waktu
      itu, yaitu terutama watak dwitunggal koeksistensi sektor "tradisional"
      dengan sektor "modern", dan koeksistensi sektor "rukun desa/solidaritas
      komunal" dengan sektor "perniagaan dan perdagangan". Jadi, dalam
      asas-asas ini tampak benar tercerminnya tidak saja watak "aneka-
      ragam"-nya masyarakat Indonesia antara Sabang dan Merauke, tapi
      juga lebarnya spektrum variasi-variasi itu, misalnya antara orang
      Kubu dengan orang Minang dan orang Aceh di Sumatra, antara orang
      Badui dan orang Tengger dengan orang Sunda dan orang Jawa di pulau
      Jawa, antara orang Punan dengan orang Banjar di Kalimantan, atau
      antara orang pedalaman dengan penduduk lama kota-kota besar di
      Irian Barat.

      Tujuannya adalah menyediakan penghargaan yang sama bagi sumbangan
      segenap sektor-sektor yang aneka ragam itu. Dan bagaimana tepatnya
      sikap demikian ini tampak misalnya pada krisis pengangkutan laut
      ketika pemerintah keburu menasionalisasi pelayaran KPM dulu.
      Kapal-kapal itu kebanyakannya oleh kapten-keptennya dilarikan ke
      luar perairan RI, sehingga akibatnya, Indonesia kekurangan kapal
      untuk pengangkutan barang antara Jawa yang banyak penduduk dan
      industri, dan pulau lain yang banyak bahan mentah dan bahan pangannya.
      Yang menyelamatkan Indonesia waktu itu adalah armada kapal layar
      tradisional orang Bugis, Buton, Makassar, Madura, dll, yang dibangun
      di gelanggang-gelanggang tradisional dengan teknik jaman dulu
      (tidak pakai paku besi, hanya pakai pasak kayu) di pulau Buton
      (Sulawesi Tenggara) dan di pantai bagian tenggara pulau Kalimantan,
      dll.

      Pada waktu itu, pemimpin-pemimpin bangsa seperti Bung Karno dan
      Bung Hatta sangat terpengaruh oleh psinsip sosial-komunal, yang
      sangat dapat kita mengerti. Pada umumnya, dalam gerakan kemerdekaan
      Indonesia dulu sudah lumrah untuk membeda-bedakan antara apa yang
      dianggapnya kepribadian nasional Indonesia dengan apa yang
      dianggapnya kepribadian bangsa penjajah (Nederland). Orang Belanda
      digambar-gambarkannya "kikir, egois, terlalu mementingkan materi
      dan kerja", sedangkan orang pribumi dilukis-lukiskannya lebih
      mementingkan "kekeluargaan , persaudaraan, dan kesantaian".
      Sesungguhnya ini hanya perbedaan masyarakat di negeri belum
      terkembang dan negeri industri terkembang, tapi waktu itu,
      orang blum menyadari hal ini. Tidak kebetulan, maka prinsip
      sosial komunal itulah oleh Bung Karno dipandang prinsip induknya,
      yaitu yang dirumuskan dengan kata "Gotong-Royong".

      Artinya, menjawab pertanyaan Bung "dari mana digali, dari budaya
      bangsa Indonesia yang mana?", Pancasila itu bukan eksponen kebudayaan
      satu atau dua sukubangsa tertentu di Indonesia, dan begitupun
      tidak berpihak pada kepentingan satu lapisan masyarakat tertentu,
      melainkan merupakan usaha Bung Karno (yang merumuskan Pancasila
      dalam bulan Juni 1945 itu) untuk (a) sedapat mungkin mencakup
      kepribadian segenap sukubangsa dan kepentingan segenap lapisan
      sosial, dan (b) menciptakan suasana kerjasama dan kekeluargaan
      antara masing-masingnya itu, sesuai dengan taraf perkembang
      masyarakat Indonesia masa itu, dan sesuai dengan taraf pengetahuan
      pemimpin-pemimpin kita pada waktu itu. Dan dalam hal penekanan
      prinsip sosial-komunal itu, walaupun Bung Karno pribadi mungkin
      lebih paham dengan rukun desa di Jawa dan Bali, sedangkan Bung
      Hatta mungkin lebih kenal dengan rukun adatnya nagari orang
      Minangkabau, tetapi pada keseluruhannya, semua tipe rukun
      kekeluargaan atau kemargaan dsb. itu, misalnya yang dinamakan
      pelo di Maluku Tengah, dan yang seperti itu di berbagai daerah
      Indonesia lain (termasuk Irian Barat) itu pun turut terwakili.
      Cuma, Bung Karno juga suka "me-modern-kan" konsep rukun komunal
      itu dengan istilah "sosialisme". Apalagi mengingat kecenderungan
      waktu itu untuk menentangkan "kepribadian Indonesia" dengan
      "kepribadian Belanda" itu, maka "sosialisme" inipun menjadi
      lawannya "kapitalisme"-nya ekonomi Belanda.

      Tapi kemudian, Pancasila itu diserobot oleh rezim Suharto dan
      dipalsukan serta diputabalikkan sepenuhnya. Kalau gagasan
      aslinya bertujuan menegakkan jiwa gotong-royong dan kekeluargaan,
      maka "Pancasila" a la Soeharto merupakan senjata untuk
      menancapkan prinsip pemerintahan otoriter yang berdasarkan
      hanya satu pendapat yang benar, pendapat "sang Bokap". Siapa
      tidak setuju "diciduk", "diamankan", diculik, mati misterius,
      dsb. Bahwa mereka terus tidak berani mengaku akan penculikan
      dan pembunuhan diam-diam itu bukan sekedar tanda mereka itu
      pengecut, melainkan tanda mereka sadar bahwa bersalah. Mereka
      tahu bahwa mereka telah melanggar undang-undang, telah melanggar
      Pancasila. Tapi selama mereka masih memegang kekuasaan, mereka
      berkaok-kaok bahwa mereka itulah "Pancasila".

      Tak beda halnya dengan nama "Irian" yang telah mereka cemari
      itu sampai orang Iriannya sendiri akhirnya lebih senang menamakan
      diri "Papua", maka begitupun dengan "Pancasila", orang sering
      menganggapnya suatu ideologi otoriter seperti yang dipraktekkan
      oleh Soeharto itu.

      Tidaklah benar, bahwa penumpasan G-30-S itu "kejayaan Pancasila",
      wong "penumpasnya" itu sendiri mungkin malah tersangkut kok. Tetapi
      kudeta 11 Maret 1966 dengan dalih "Supersemar" (yang aslinya
      sampai sekarang belum berani mereka tunjukkan kepada umum) itulah
      kekalahan Pancasila yang pahit, dan kekalahan itu baru akan bisa
      ditiadakan kembali kalau sisa oknum-oknum Orde Baru itu lenyap dari
      pemerintahan, administrasi sipil, angkatan bersenjata dan keamanan.
      Dan untuk itu, segenap lapisan dan kelompok yang pernah dirugikan
      oleh rezim Orde Baru itu perlu bekerjasama dan tidak membolehkan
      dirinya diadu-domba satu sama lain oleh mereka itu.

      Tentu saja, perlu juga kita catat bahwa Indonesia yang sekarang
      sudah tidak identik dengan Indonesia 1945. Walaupun pesan inti
      dari Pancasila itu, yaitu "gotong-royong" antara aneka kelompok,
      masih tetap aktuil, tetapi ada pergeseran-pergeseran tertentu
      dalam tekanannya. Terutama dengan perkembangan ekonomi dua
      dasawarsa terakhir menjelang krisis moneter, klas menengah
      di Indonesia bertambah maju dan berpengaruh, sedangkan sektor
      rukun-desa itu berkurang. Moga-moga, reformasi di Indonesia
      dapat berhasil menegakkna kehidupan demokrasi yang menyeluruh,
      dan sisa oknum-oknum Orde Baru berhasil disisihkan. Dengan
      demikian, mungkin lambat laun bisa timbul sistem dua-partai
      yang mana satunya (misalnya gabungan PKB, PAN, PPP, PBB, PK,
      dll., ini cuma misal yang abstrak lho) lebih mewakili kepentingan
      bisnisnya klas menengah pada khususnya, dan khasiat "masyarakat
      madani" pada umumnya, sedangkan yang satunya lagi (misalnya
      PDIP dengan Golkar-putih) lebih menekankan prinsip sosial dan
      rukun komunal yang mencerminkan "masyarakat gotong-royong".
      Maka prinsip keadilan dan kemakmuran itu hanyalah akan terjamin
      dengan terpeliharanya keseimbangan demokratis daripada kedua
      "partai" itu.

      > tapi saya pikir kemerdekaan bukan merupakan akhir
      > perjuangan, tapi mungkin awal.
      > saya ingat kata2 samora michel ketua FRELIMO di
      > Mosambique, bahwa "tidak perlu anda bertanya pada
      > seorang budak apakah dia ingin merdeka?"

      Setuju Bung, cuma saya tidak menganggap orang Irian itu budak
      orang Indonesia lainnya, melainkan kita semua kemarin sama-sama
      jadi budaknya rezim Soeharto.

      Sekian dulu, nanti saya masih mau sempat menyambut respons teman
      lain.

      Salam hangat, Waruno


      P.S. Satu himbauan saya kepada teman-teman sekalian, kalau
      menjawab masukan orang, mohon jangan mengutip surat yang
      dijawab itu terlalu panjang lebar, karena banyak memenuhi
      storage dan juga mempersulitkan rekan-rekan yang komputernya
      atau modemnya lamban. Sebelumnya, banyak terimakasih.

      -----------------------------------------------------------------------
      Waruno Mahdi tel: +49 30 8413-5411
      Faradayweg 4-6 fax: +49 30 8413-3155
      14195 Berlin email: mahdi@...
      Germany WWW: http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/
      -----------------------------------------------------------------------
    • Pierre Habshi
      Hello, My name is Pierre Habshi. I am new to this list and do not speak Bahasa Indonesia. I am urgently seeking information on East Timorese refugees in West
      Message 2 of 7 , Jan 13, 2000
      • 0 Attachment
        Hello,

        My name is Pierre Habshi. I am new to this list and do not speak Bahasa
        Indonesia. I am urgently seeking information on East Timorese refugees in
        West Timor and other parts of Indonesia. Contacts with local Indonesian and
        international NGO's would be greatly appreciated. If anyone can help, please
        feel free to contact me at the earliest time.

        Information on other refugees and internally displaced persons would also be
        highly valued.

        All the best,

        Pierre
      • Waruno Mahdi
        Bung Andy Ayamiseba yang terhormat, terimakasih untuk tanggapan Bung yang sangat konstruktif dan juga untuk kepercayaan dan kerelaan Bung bertukar fikiran
        Message 3 of 7 , Jan 13, 2000
        • 0 Attachment
          Bung Andy Ayamiseba yang terhormat,

          terimakasih untuk tanggapan Bung yang sangat konstruktif dan juga
          untuk kepercayaan dan kerelaan Bung bertukar fikiran dengan saya.

          > menghormatinya dan memujinya sebagai pernyataan seorang True Indonesian
          > Nasionalist yg sangat menjunjung tinggi Persatuan Negara dan Bangsanya
          > diatas se-gala2nya. Khususnya tentang soal Papua Barat dapat saya ikuti juga
          > tulisan2 Bung yg sangat bertoleransi dengan Pengorbanan Bangsa Papua Barat

          Terimakasih. Tapi kalau saya mau jujur, Bung terlalu membesar-besarkan
          "nasionalisme" saya. Sesungguhnya, saya cuma hasil pendidikan periode
          pra-Soeharto, dan terbiasa sejak muda untuk menganggap sukuisme atau
          tribalisme sebagai sesuatu jang negatif, dan solidaritas antara segenap
          sukubangsa Indonesia sebagai suatu kewajiban yang jelas dengan
          sendirinya. Begitupun, saya terbiasa oleh didikan di masa muda untuk
          menganggap orang Irian Barat itu sebagai kawan setanahair. Jadi, dalam
          tanggapan subyektif saya, barang siapa melukai orang Irian Barat, dia itu
          melukai orang Indonesia.

          > 1. Argumentasi2 yg selalu dipakai sebagai Dasar Papua Barat adalah Bagian
          > dari RI adalah se-mata2 Sejarah Hindia Belanda yg nota bene adalah Dasar2
          > Kolonialis.

          Ini sesungguhnya cuma alasan formal yang diajukan untuk membantah argumen
          formal yang menuduh Indonesia "mencaplok" Irian Barat (maaf saya sebut
          Irian terus, karena di masa muda saya, kata "Papua" itu dalam bahasa
          Melayu dianggap menghina; kalau dalam bahasa Inggeris tidak).

          Namanya saja alasan formal, jadi tidak sepenting sebab-sebab hakiki yang
          justru itu, yang hakiki, yang perlu diperiksa lebih seksama.

          > ............ Seyognya RI selaku Pelopor Dunia Ketiga dan Negara2 Non Blok
          > dibawah Pemerintahan Alm Bung Karno membebaskan Papua Barat dari Jajahan
          > Kolonialis
          > Belanda dan memberi Kemerdekaan dan Kedaulatan Penuh pada saat itu juga. Itu
          > akan membuktikan bahwa Indonesia adalah a True Pioneer dari Dunia2 Ketiga.

          Ini kalau kita anggap orang Irian Barat itu orang asing. Soalnya, segala
          kejahatan rezim Soeharto yang membuat rakyat Irian Barat merasa diri asing
          itu baru terjadi belakangan. Pada waktu Bung Karno dan Bung Hatta
          memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, orang Irian Barat
          tidak dianggap orang asing. Dan orang Irian Baratpun, seperti Lukas
          Rumkorem, yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di bumi Irian
          Barat, itupun tidak menanggap dirinya orang asing dibandingkan dengan
          Indonesia. Begitupun tahun 1962, Bung Karno tidak memandang orang
          Irian Barat sebagai orang asing, melainkan sebagai kawean setanahair
          yang dipisah secara paksa oleh pihak penjajah kolonial, dan kini bisa
          kembali bersatu dengan Indonesia lainnya.

          > Sebaliknya RI mendasari Territorial Claimnya atas Dasar wilayah Perbatasan
          > Kolonialis Hindia Belanda. Hal ini membuat RI dianggap sebagai suatu Negara
          > Expansionist

          Lihat di atas, Bung. "Indonesia" dan "Hindia Belanda" itu dua nama untuk
          cakupan wilayah yang sama. Baik dari pihak penglihatan Indonesia, yang
          diproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 itu seluruh Indonesia,
          bukan pilih kasih: sini diproklamasikan merdeka, sana tidak.
          Begitupun secara de jure dari pihak penglihatan Belanda berdasarkan
          pengumuman resmi letnan gubernur jenderal van Mook tgl. 21 September 21
          1948 (Staatsblad van Indonesiƫ 1948 no. 224) yang menyatakan istilah
          "Indonesia" itu menggantikan istilah lama "Nederlandsch Indie".
          Karena itu, kalau Indonesia berusaha untuk mengembalikan propinsinya,
          itu bukan ekspansi. melainkan ekspansi itu adalah yang mencaplok
          Irian Barat dari Indonesia dulu pada 1946. Indonesia cuma
          mengembalikannya, dan memang wajib begitu, karena itu sesungguhnya
          sesama warganegara yang masih meringkuk dibawah jajahan asing, yang
          perlu dibebaskan.

          Cuma celaka, setelah dibebaskan, seluruh Indonesia bersama Irian Barat
          itu kecaplok rezim militer soeharto.....

          > ........... apalagi setelah Timor Leste diduduki yg sama sekali bukanlah
          > bagian dari Hindia Belanda.

          Benar, karena itu Timor Lorosa'e bukan bagian dari Indonesia, tidak
          pernah diakui bagian dari Indonesia baik oleh PBB, begitupun oleh
          Organisasi Negara Non-Blok. Sayapun sejak semula (1975) selalu mengecam
          pencaplokan Timor Lorosa'e oleh rezim Soeharto itu, dan secara konsisten
          menuntut pembebasan Timor Lorosa'e dari Indonesia.

          > ............................ Hal ini juga dibuktikan dalam Proses
          > Dekolonisasi bahwa apa yg menjadi Claim RI bukan selalu Benar.

          Terutama waktu Indonesia dibawah kekuasaan rezim Soeharto. Tindakan
          Soeharto mencaplok Timor Lorosa'e itu bukan saja pelanggaran prinsip
          PBB, dan Negara Non-Blok, tapi terang-terang melanggar Lima Sila
          Konperensi Asia-Afrika yanbg diselenggarakan di Bandung 1955. dan
          juga melanggar Undang-Undang Dasar RI 1955.

          > 2. Kesalahan yg berikut adalah Perjanjian New York atau New York Agreement
          > yg disponsori oleh USA dan ditanda-tangani oleh RI dan Belanda mengikat

          Sesungguhnya ini tidak salah, Bung, karena waktu itu, semua pihak bisa
          melihat, bahwa Indonesia benar-benar dan secara ikhlas ingin memulangkan
          rakyat Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Dan memang, begitu itu
          terlaksana, rakyat Irian Barat mendapat sambutan hangat dari penduduk
          Indonesia lainnya. Sebelum itusaja (tahun 1962), pemerintah Indonesia
          mengangkat status geopolitis wilayah Irian Barat itu menjadi propinsi
          tersendiri. Langsung didirikan universitas pertama di Irian Barat
          (Universitas Cendrawasih). Putra-putri dari Irian Barat mendapat
          jatah lebih diberbagai perguruan-perguruan di seluruh Indonesia.

          Jadi, baik pemerintah Sukarno yang memperjuangkan Irian Barat kembali,
          begitupun Nederland yang memberikannya kembali, dan begitu juga Amerika
          Serikat dan PBB yang memperantarai proses pengembalian itu, semuanya
          secara ikhlas membuat sesuatu untuk kebaikan orang Irian Barat.
          Tak ada yang menyangkan, bahwa Soeharto akan merebut kekeuasaan dan
          mengubah Indonesia menjadi neraka bagi orang Irian Barat dan banyak
          orang lain juga di Indonesia.

          > Ketiga Negara tersbt dalam Pelaksanaanya yg terwujud lewat PEPERA

          "Pelaksanaan" PEPERA oleh rezim Soeharto itu satu penipuan besar
          dan samasekali tidak sah. Itu cara-cara negara penjajah kolonial,
          seperti halnya Nederland dulu mendirikan negara-negara boneka di
          daerah pendudukan antara 1946-1949. Bahwasanya satu pemerintah
          Indonesia dibawah Soeharto itu memperlakukan penduduk Indonesia
          seperti negeri penjajah memperlakukan penduduk negeri jajahan itu
          adalah suatu pelanggaran yang berat terhadap Undang-Undang Dasar RI,
          dan menurut saya, itu harus diulangi kembali. Mungkin tahun 2003
          nanti bisa, seperti diusulkan oleh Thom Beanal. Asal saja waktu itu
          keadaan di Indonesia sudah tertib dan demokratis, dan pemerintah dan
          rakyat di daerah-daerah tidak lagi dikenai intimidasi oknum-oknum
          sisa Orde Baru seperti sekarang.

          > 3. Pemimpin2 Indonesia dan Pemimpin2 Dunia harus sadar bahwa jalan yg
          > terbaik untuk menjamin Stabilitas di Region ini adalah Kemerdekaan Papua
          > Barat.

          Bung, justru inilah yang amat diragukan orang, dan sayapun sangat
          meragukannya. Soalnya, Irian Barat itu tidak lain daripada Indonesia
          secara keseluruhan. Di Irian Barat pun banyak sukubangsa besar dan
          kecil, yang tingkat perkembangannya serba aneka ragam, seperti di
          Indonesia pada keseluruhannya. Demikianpun antara sukubangsa-sukubangsa
          itu bisa ada pergesekan, dan kalau diprovokasi seperti di Maluku
          sekarang, bisa timbul huru-hara yang tidak kurang dahsyatnya. Tak
          ingin dan tak perlu saya menelaahnya secara mendetil. Bung sendiri
          pasti tahu, dan semua rekan yang pernah berdiam di Irian Barat cukup
          lama pun pasti tahu.

          Begitupun peranan modal asing di Irian Barat itu tidak bedanya dengan
          peranan modal asing di Indonensia seluruhnya, malah lebih menyerupai
          situasi Indonesia pada dasawarsa 1950-an. Waktu itu, Bung Karno
          melihat, bahwa walaupun Indonesian sudah merdeka, dan kekayaan alam
          Indonesia sangat besar, tapi penghasilan dari kekayaan itu diterima
          bukan oleh rakyat Indonesia, melainkan oleh perusahaan-perusahaan
          asing (terutama Belanda). Lalu itu dinasionalisasi. Tapi hasilnya
          lebih jelek lagi, karena Indonesia belum punya tenaga ahli yang cukup
          untuk menjalankan perusahaan-perusahaan itu, akhirnya bangkrut, dan
          kekuasaan direbut oleh Soeharto.

          Apakah Irian Barat mau begitu juga? Irian Barat itu sama dengan
          Indonesia pada tahun 1945, cuma dalam ukuran lebih kecil sedikit.
          Kalau sekarang dibuat merdeka, akan mengalami kesulitan persis sama
          dengan Indonesia 1950-1965. Memang maksud teman-teman sih baik, dan
          sangat mulia. Tapi percayalah, maksud bapak-bapak kemerdekaan Indonesia
          dulu itu begitu juga mulia dan ikhlasnya. Tak ada maksud mereka
          menjebloskan negeri kita dalam kesulitan 1950-1965, kemudian dalam
          kesengsaraan rezim Soeharto.

          Tapi, segala pelajaran-pelajaran yang dibeli dengan harga mahal sekali
          itu kini sudah diperoleh, dan moga-moga sekarang bisa maju setapak
          lebih maju, memasuki periode demokrasi yang stabil yang menjamin
          rakyat kita bisa membangun kehidupannya dengan damai dan sentausa.

          Nah, Irian Barat, walaupun tidak sempat mengikuti periode 1950-1963
          (karena dipisahkan dari Indonesia oleh negeri Belanda), tapi kemudian
          turut kena getahnya, menderita pengalaman rezim Soeharto. Jadi, Orang
          Irian Barat ini telah turut membayar rekeningnya yang amat berat itu.
          Sudah sepantasnya, kalau rakyat Irian Barat sekarang boleh turut
          menikmati hasilnya yang telah dibayarkan itu, bukan?

          Tetapi, kalau Irian Barat pisah, itu malah rugi. Hasilnya tidak dapat,
          tapi harus mulai dari nol. Ini pengalamannya sama di semua negeri
          yang baru merdeka, apakah itu di Asia atau di Afrika, apakah orangnya
          kulit sawomatang, hitam, kuning, putih, berbintik-bintik atau poleng,
          apa rambutnya keriting, kejat, berombak, atau botak, sama saja.
          Mula-mula kacau, dan baru setelah pengalaman cukup lama, bisa
          mencapau taraf perkembangan yang agak mantap. Jadi, kalau Irian
          Barat merdeka lepas dari Indonesia, maka masa mulanya pasti akan
          tidak stabil seperti yang bung harapkan. Dan juga pasti mengalami
          kesulitan dalam penguasaan harta kekayaan alamnya.

          Tetapi, kalau Irian Barat tidak lepas dari Indonesia, maka kesatuan
          sukubangsa-sukubangsa dari Sabang sampai Merauke ini merupakan
          suatu kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi perusahaan-perusahaan
          internasional dan problem-problem globalisasi. Makin banyak kita
          bersatu makin kita kuat, makin kita bercerai-berai, Irian Barat
          sendiri, Aceh sendiri, dst., makin kita lemah. Indonesia dalam hal
          ini juga akan tambah lemah, tapi tambah lemahnya cuma sedikit,
          karena sudah melalui pelajaran-pelajaran dari 1945 sampai sekarang.
          Yang lain akan makin lemahnya banyak, karena mulai kembali dari nol....

          Jadi, anjuran saya secara jujur dan ikhlas kepada segenap kawan
          setanahair saya di Irian Barat: janganlah pisah dari Indonesia,
          melainkan bersatulah dengan semua golongan reformasi di Indonesia
          untuk sama-sama mengalahkan oknum-oknum sisa Orba yang telah
          menganiayai kita semua, dan sama-sama membahu problem-problem
          haridepan dalam hal mengeksploitasi kekayaan alam, menjaga kemurnian
          lingkungan alam, menjamin kesejahteraan penduduk di semua pulau,
          dan mencegah jangan sampai ada minoritas etnik ataupun agama ataupun
          manapun juga sampai didiskriminasi lagi seperti di masa Soeharto.

          Ini benar tidak ada sangkut-pautnya dengan nasionalisme, melainkan
          semata-mata suatu pandangan yang bersifat sosial dan wajar, bukan?
          Sekian dulu, ini sudah malam lagi, dan saya ditunggu orang.

          Salam hangat, Waruno

          -----------------------------------------------------------------------
          Waruno Mahdi tel: +49 30 8413-5411
          Faradayweg 4-6 fax: +49 30 8413-3155
          14195 Berlin email: mahdi@...
          Germany WWW: http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/
          -----------------------------------------------------------------------
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.