Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, MPhil: Sejarah Islam Perlu Dipaparkan dengan Jujur

Expand Messages
  • Wido Q Supraha
    Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, MPhil: Sejarah Islam Perlu Dipaparkan dengan Jujur Kamis, 14 Peb 08 19:24 WIB Umat Islam kini menanti hadirnya kembali peradaban
    Message 1 of 1 , Feb 17, 2008
    • 0 Attachment
      Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, MPhil: Sejarah Islam Perlu Dipaparkan dengan
      Jujur



      Kamis, 14 Peb 08 19:24 WIB







      Umat Islam kini menanti hadirnya kembali peradaban Islam sebagaimana yang
      pernah terjadi pada masa al-Khulafa' al-Rasyidah sampai masa khilafah
      Usmaniyah. Dengan kelebihannya dan kekurangan pada saat itu, peradaban Islam
      berjaya selama kurang lebih 10 abad dari rentang19 pemerintahan Islam.



      Tapi semenjak imperalisme Barat menggerus kaum muslim, peradaban Islam
      seolah sirna dan tanpa jejak. Barat yang sejatinya dibesarkan dan
      dipengaruhi oleh peradaban Islam juga menafikan semua itu. Implikasinya umat
      Islam menjadi terjajah dari berbagai aspek kehidupan.



      Adakah yang keliru dari umat Islam dalam merekontruksi sejarahnya? Direktur
      Institute for The Study Islamic Thought and Civilization (INSIST) Dr. Hamid
      Fahmi Zarkasyi, MA, MPhil. kepada eramuslim menuturkan problem umat Islam
      saat ini. Hamid adalah doktor bidang peradaban Islam dari Internasional
      Islamic University, Malaysia dan pengasuh pondok modern Darussalam Gontor,
      Jawa Timur. Berikut petikannya:



      Bicara soal peradaban Islam dan Barat saat ini sebagian orang kemudian
      merujuk ke peradaban Barat. Bagaimana Anda melihat hal itu?



      Kelihatannya begini. Ketika peradaban Barat menjadi unggul itu kemudian
      sangat menarik bagi sebagian umat Islam. Umat Islam kemudian melihat Barat
      sebagai peradaban yang ideal. Dan orang Barat sendiri memasukkan
      konsep-konsep Barat ke dalam orang Islam, yang biasa kita sebut dengan
      imperalisme. Sehingga orang Islam dengan (kejayaan) masa lalunya, peradaban
      Islam yang telah dibangun dan terus dilanjutkan.



      Kata peradaban sendiri sekarang ini telah berubah maknanya, dan diganti
      dengan civilization. Orang Islam sendiri lebih senang dengan istilah civil
      society daripada masyarakat madani. Atau orang Islam menyamakan antara civil
      society dengan masyarakat madani. Padahal keduanya itu berbeda secara
      konseptual. Itulah karena orang Islam tidak menghargai atau lupa dengan
      membangun peradaban Islam lagi.



      Kita harus merujuk khazanah Islam di masa lalu bagaimana mereka bisa membuat
      sebuah peradaban yang tangguh dan bisa mempengaruhi peradaban lain. Ini yang
      harus menjadi pelajaran orang Islam sekarang. Dan sejarah ini perlu diungkap
      kembali, karena sejarah itu ditutup-tutupi oleh Barat agar umat Islam tidak
      ingat bahwa mereka pernah berjaya dan memberikan sumbangan peradaban Islam
      terhadap peradaban Barat, sehingga Barat menjadi peradaban yang tangguh
      seperti saat ini.



      Yang paling jelas ketika mereka dalam kegelapan dan menjadi abad pencerahan
      karena mereka bersentuhan dengan peradaban Islam. Ini yang perlu diungkap
      kembali oleh umat Islam.



      Bagaimana umat Islam bisa mengingat kembali dan mengembalikan masa kejayaan
      itu?



      Nah, ini yang perlu menjadi kajian peradaban Barat. Karena kalau orang
      mengkaji sejarah sains peradaban Barat, saintis atau ilmuan Muslim tidak
      disebutkan di situ.



      Jadi sengaja ada pengaburan oleh Barat?



      Iya. Sengaja ada pengkaburan. Ibnu Sathir itu seorang astronom yang
      kualitasnya tidak kalah dengan Galilie Galileo dan Copernicus. Tapi mereka
      ini tidak pernah diungkap dalam teks-teks buku sekolah atau kuliah bahwa
      mereka ini berhutang kepada Ibnu Sathir. Ini ditutupi seolah Barat maju
      dengan sendirinya. Ini artinya mereka menyembunyikan fakta ini. Ketika
      mereka menyebut sains Barat tidak pernah menyebut sains Muslim. Ini berbeda
      dengan sejarah Islam. Ketika kita belajar sains Islam, kita juga menyebut
      sains Barat.



      Kenapa mereka bersikap seperti itu? Soal teologis ideologis atau karena soal
      apa?

      Itu karena prejudice.



      Maksudnya?

      Begini, mereka itu tidak ingin umat Islam kembali kepada masa kejayaannya.
      Sebab, kalau kaum muslimin jaya lagi maka Barat hancur. Begitu logikanya.
      Jadi menurut mereka umat Islam jangan sampai jaya lagi. Makanya dalam buku
      When Religion Be Come Will karya Charles Chimbell itu mengatakan, agama yang
      mengingingkan sebagai sebuah peradaban itu jahat.



      Sudah menjadi prasyarat kemajuan peradaban adalah nilai-nilai spiritual.
      Tapi ini dinegasikan oleh Barat. Dan kenyataannya mereka kini unggul.
      Menurut Anda bagaimana?

      Begini. Unggulnya Barat dengan Islam itu berbeda. Unggulnya Islam itu
      ditambah dengan berkah dan rahmat. Berbeda dengan Barat yang kering dari
      nilai-nilai ruhani seperti kondisi dunia saat ini.



      Sebagai judgment atau klaim tentang keorisinilan peradaban Barat, mereka
      menyatakan peradaban Barat berasal dari Yunani. Atau melalui proses
      Helenisme. Betulkah demikian?

      Mereka tidak bisa menafikan bahwa tanpa orang Islam mereka tidak mengenal
      budaya Yunani. Ini satu yang ditutup-tutupi. Fakta bahwa mereka
      menerjemahkan dari bahasa Arab itu ditutupi. Mereka mengklaim ada terjemahan
      dari Yunani ke Latin. Itu ada, tapi tidak sebanyak terjemahan dari bahasa
      Yunani ke Arab, karena saat itu bahasa Yunani sudah dialihbahasakan ke
      bahasa Syiriac.



      Para orientalis membuat sebuah teori bahwa peradaban Barat banyak
      dipengaruhi oleh Yunani. Yunani sendiri itu Barat, karena berada di Barat.
      Orang Barat ingin menunjukkan kehebatan mereka. Menurut mereka Islam adalah
      bagian dari peradaban Barat karena prose Helenisme itu.



      Padahal, Islam itu peradaban yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis yang
      kemudian menjelma jadi ilmu dan diambil oleh Barat. Seperti trasisi ilmu
      hadis itu tidak kaitannya dengan helenisme. Dia punya tradisi sendiri. Orang
      Barat ingin mengkait-kaitkan itu. Misalnya, mereka mengklaim filsafat dari
      Yunani, ilmu Kalam dari Yunani, Fiqh dari Yunani. Ini mereka mengangagap
      superioritas.



      Begitu juga ketika orang India kalau menyusun sejarah akan menyebut Barat
      dari peradaban India. Karena itu seharusnya ketika orang Islam menyusun
      sejarahnya harus menyatakan, sumber peradaban Persia, India, Mesir dan Barat
      dari Islam. Ini karena kemajuan Barat dihasilkan oleh peradaban Islam. Tapi,
      orang Barat tidak mengakui itu.



      Apakah ketika para ilmuan Muslim menerjemahkan karya-karya pemikir Yunani ke
      dalam bahasa arab juga terjadi Islamisasi?

      Itu bisa saja terjadi. Misalnya soal astronomi. Astronomi oleh ilmuan Muslim
      tidak sekadar melihat bidang-bidang, tapi terkait dengan ilmu Falak. Lalu
      sains teknologi dalam Islam digunakan untuk kemakmuran, bukan untuk
      eksploitasi besar-besaran seperti yang terjadi di Barat. Kemajuan peradaban
      Barat yang sekular itu tidak bisa menghasilkan kemakmuran dunia, tapi
      melahirkan ketimpangan. Teknologi timpang, ekonomi timpang, pendidikan
      mereka menjadikan orang-orang tidak bermoral. Berbeda dengan Islam. Kita
      mengembangkan teknologi untuk kemakmuran masyarakat. Bertahun-tahun itu
      orang Spanyol menikamti kemajuan perabadan Islam.



      Demikian pula di India, Mesir dan Persia. Di Spanyol itu ada Islam dan
      Kristen berdampingan ketika Islam berkuasa di sana. Tidak peperangan di sana
      atas nama agama di sana. Tapi sekarang lihat. di dalam Kristen sendiri
      terjadi peperangan. Apalagi Kristen dengan Islam sampai terjadi perang
      Salib. Itulah bedanya peradaban yang merahmati dengan peradaban yang memberi
      petaka.



      Mereka menyatakan ilmu itu netral alias bebas nilai. Tapi kenapa mereka
      takut dengan kemajun ilmu-ilmu Islam. Apakah ketakutan itu karena khilafah?

      Begini, peradaban itu bermula dari kekuasaan. Itu yang mereka takutkan.
      Orang Islam dapat membangun peradaban kalau punya kekuasaan. Asumsi itu bisa
      betul. Karena kalau pemerintahan politik tidak stabil dan ekonomi
      dihancurkan, maka ilmu itu tidak jalan. Kalau mau jalan, politik harus
      dikuatkan, ekonomi dikuatkan, maka ilmu pengetahuan mesti berkembang. Tapi,
      orang Barat tidak mau.



      Melihat fakta di atas artinya perlu pelurusan sejarah?

      Kita perlu meluruskan sejarah. Itu lebih obyektif dan faktual dibanding apa
      yang ditutup-tutupi orang Barat.



      Langkahnya seperti apa? Pasalnya banyak buku sejarah Islam dan lainnya sudah
      mereka tulis dengan versi mereka.



      Yang paling real adalah menyusun sejarah peradaban Islam yang di dalamnya
      kajian fakta-fakta kemajuan Islam dimasukkan. Selain itu, buku sejarah Barat
      mestinya juga ditulis oleh orang Islam.



      Belum ada yang melakukan hal itu?

      Belum ada. Yang sudah menulis itu Prof. Ackparsalan, tapi bukunya belum
      diterbitkan. Dia membuat dan melacak sejarah Barat itu sejatinya dari mana,
      dan ia membuatnya dengan framework Islam.



      Ribuan perguruan tingggi Islam belum ada yang menempuh langkah itu? Sebut
      saja misalnya Al-Azhar tidak ada kepentingan untuk itu?

      Bukan tidak ada kepentingan, tapi tidak ada ilmu untuk itu. Dan ilmu butuh
      kesadaran dan ilmu tersendiri. Selain itu, saintis Muslim yang komitmen
      dengan Islamic science itu jarang. Ini karena dari sisi frameworknya
      terpengaruh oleh orientalis. Susahnya perkembangan sains Islam di situ.



      Di tengah harapan agar peradaban Islam hadir kembali ke puncak, di sisi lain
      Islamic Studies di kampus-kampus seperti UIN, IAIN, STAIN dan semacamnya
      justru mengalami penurunan peminat. Fakultas keIslaman tak layak jual lagi.
      Ini bagaimana?

      Ini pengaruh dari sistem pendidikan yang sekularistik dan dualistik itu.
      Pendidikan hanya dilihat sebagai pencapaian kemakmuran material. Makanya,
      kajian agama yang dianggap tidak ada dampak materialnya ditinggalkan.
      Mestinya orang yang belajar di universitas Islam, mau belajar sosiologi,
      politik, teknologi, komputer, dan sebagainya harus juga belajar Islam dengan
      framework Islam. Ini harus dicermati, bahwa kajian ilmu pengetahuan sekuler
      itu lebih dominan.



      Karena itu harus ada rekontruksi fakultas. Kaitannya dengan pengembangan
      peradaban Islam, maka harus dimulai dari konsep ilmu dan agama. Kita perlu
      mengkombinasikan ilmu-ilmu tradisional Islam dengan ilmu-ilmu modern.
      Siapapun yang belajar ilmu modern harus belajar ilmu-ilmu tradisional secara
      mendasar, dan tidak harus seperti ulama. Orang yang belajar fisika harus
      eblajar ilmu Kalam, orang yang belajar ekonomi, harus belajar Syari'ah.
      Orang yang belajar hukum harus menguasai hukum-hukum syari'ah. Yang terjadi
      saat ini sarjana hukum UIN, Gajah Mada, dan di universitas Muhammadiyah itu
      sama saja.



      Bukankah saat ini beberapa UIN atau IAIN ingin melakukan integrasi keilmuan?



      Integrasi yang ditempuh mereka itu mendekatkan atau memasukkan konsep-konsep
      dan ilmu-ilmu asing sebagai metodologi memahami Islam. Kemudian produk yang
      muncul tentu tidak kompatibel dengan Islam. Kalau pendekatannya salah, maka
      hasilnya juga salah.



      Sebagaimana diketahui, banyak tuduhan yang menyebutkan UIN/IAIN sebagai
      sarang pemikiran Barat. Kenapa INSIST misalnya tidak mendekati untuk
      meluruskan mereka?

      Mereka itu komunitas yang besar. Lalu mereka juga ada semacam self
      confidence, karena merasa punya otoritas. Misalnya, kasus di UIN Bandung
      yang ada mahasiswa mengatakan, " anjinghu akbar." Dekannya mengatakan, yang
      mengeritik itu siapa. Kami S3 dan tahu masalahnya. Forum Umat Islam (FUI)
      itu siapa. Jadi mereka ada arogansi. Kalau INSIST melakukan hal itu, kasunya
      seperti FUI.



      Mereka tidak begitu saja menerima kritik dan masukan kita. Yang kita
      kerjakan saat ini adalah menawarkan kepada perguruan tinggi yang bisa diajak
      kerjasama sehingga jelas apa yang kita hasilkan. Apa yang dilakukan UIN/IAIN
      sendiri tidak jelas. Masalah lain, mereka mendukung sekularisme, kita
      menentang. (dina)



      Source :
      http://www.eramuslim.com/berita/bc2/8214192116-dr.-hamid-fahmy-zarkasyi-ma-m
      phil-sejarah-islam-perlu-dipaparkan-dengan-jujur.htm





      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.