Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kursus Jurnalistik

Expand Messages
  • margono muhady
    ops.. i forget to inform u about this. dan lupa juga untuk dimasukan ke www.insistnet.com insya Allah dlm waktu dekat akan segera ditambahkan menu NEWS sebagai
    Message 1 of 24 , Dec 31, 2001
    • 0 Attachment
      ops.. i forget to inform u about this. dan lupa juga untuk dimasukan
      ke www.insistnet.com insya Allah dlm waktu dekat akan segera
      ditambahkan menu NEWS sebagai ruang informasi aktifitas INSIST spt.
      pengadaan diskusi setiap sabtu pertama dan ketiga setiap bulan,
      seminar, penerbitan buletin dan jurnal, dan kegiatan lain.

      here is the adv.

      Kursus Jurnalistik

      Assalamu'alaikum wr.wb.
      Dalam upaya mengembangkan potensi mahasiswa muslim dalam arena ghazwul
      fikr, khususnya di media masa, kami pengurus INSIST akan mengadakan
      kursus singkat jurnalistik dengan tema tersebut diatas, yang insya
      Allah akan kami adakan pada:

      Hari/ tgl. : Ahad, 6 April 2003
      Tempat : Kantor PERKIM, Komplek masjid UIA Matrikulasi Petaling Jaya.
      Waktu : jam 10.00 s/d 15.00 (makan siang disediakan)
      Instruktur : Adian Husaini, M. A. (penulis & mantan wartawan republika)
      Biaya : RM. 10.00 (makan siang)

      Bagi yang berminat, silahkan hubungi:
      Nirwan Syafrin : 03-79540141
      Mustafa Munawar: 016-3478949

      Wassalam.
      HOrmat Kami,

      Adnin Armas

      NB: gelombang I hanya untuk 15 orang saja.
    • margono muhady
      Masih hangat nih. baru diambil langsung dari periuknya. ;) http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=31635 Rabu, 26 Mar 2003 Tanggapan untuk Denny
      Message 2 of 24 , Jan 1, 2002
      • 0 Attachment
        Masih hangat nih. baru diambil langsung dari periuknya. ;)

        http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=31635

        Rabu, 26 Mar 2003
        Tanggapan untuk Denny J.A.


        Negara, Pendidikan Agama, Moralitas Bangsa

        Oleh Hamid Fahmy *

        RUU Sisdiknas, khususnya pasal 12 ayat 1 (a), menghadapi keberatan kaum Nasrani karena motif tertentu. Kini muncul pandangan yang mulai meragukan urgensi dan efektivitas pendidikan agama, bahkan agama, bagi peningkatan moralitas bangsa. Tulisan ini adalah tanggapan untuk tulisan Denny J.A., Jawa Pos Kamis, 20 Maret 2003.

        Diskursus mengenai urgensi pendidikan agama di negeri ini sebaiknya dihubungkan dengan ideologi formal negeri ini. Terlepas dari wacana yang berkembang, secara ideologis, negeri ini telah mendasarkan dirinya pada Ketuhanan yang Maha Esa (sila pertama Pancasila).

        Secara konstitusional, negara memberikan hak hidup kepada agama-agama (UUD pasal 29). Kemudian, pada praktiknya, negara ikut campur dalam urusan agama. Institusi atau departemen yang mengatur agama didirikan. Bahkan, partai politik yang berdasar agama dibolehkan. Para pemimpin negeri ini menggunakan isu agama untuk kepentingan politik.

        Jika Pancasila dipahami dalam bentuk piramida terbalik, sila "Ketuhanan yang Maha Esa" harus menjadi landasan segala sistem di negeri ini. Jika pun dipahami dalam bentuk struktur kerucut, sila itu menjadi tujuan segala sistem. Karena itu, Negara RI secara ideologis dan konstitusional berhak mengatur kehidupan beragama rakyatnya, termasuk pendidikan agama. Negara ini adalah negara berketuhanan, bukan negara sekuler.

        Moralitas Bangsa

        Jika negara ini telah disepakati sebagai negara berketuhanan, baik-buruk moralitas bangsanya tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah. Ini berarti bahwa sistem dan kebijakan pemerintah di segala bidang harus senantiasa berdasar pada prinsip ketuhanan yang kondusif bagi pembinaan moralitas bangsa. Sistem pendidikan nasional adalah salah satu di antara sekian sistem yang berhubungan dengan pembinaan moral bangsa.

        Pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri dan swasta memiliki landasan konstitusional. Bahkan, itu harus terus dipertahankan dan dikembangkan sehingga efektif dalam mendukung pembinaan moral bangsa ini.

        Persoalannya, apakah pendidikan agama yang sekarang ini dilaksanakan telah benar-benar efektif. Jika jawabnya adalah negatif, aka diperlukan clinical remedy atau rekonstruksi materi pelajaran agama itu. Di sini perlu dilibatkan pakar masing-masing agama untuk menentukan kualitas materi dan pakar bidang pendidikan untuk metodologi.

        Seperti disinggung di atas, di negeri yang menjunjung prinsip ketuhanan ini, rasanya tidak perlu lagi mempersoalkan apakah pendidikan agama perlu diajarkan di sekolah atau tidak. Ide meniadakan pendidikan agama dengan alasan masih adanya dekadensi moral di masyarakat, rasanya, terlalu simplistik. Sama halnya dengan logika Gulliver Traveller: "Jika sepatu Anda kotor, Anda tidak perlu membersihkan karena nanti akan kotor lagi". Juga jika ekonomi negara ini mundur, pelajaran dan fakultas ekonomi sebaiknya dibubarkan.

        Kebobrokan moral bangsa saat ini tidak dapat dinilai dari variabel agama saja. Bahkan, variabel-variabel dalam agama seperti jumlah pelaksana haji, jumlah masjid dan gereja, atau simbol-simbol ritual lainnya tidaklah cukup. Variabel lain-lain seperti kebijakan politik pemerintah, rekrutmen pegawai, pembangunan suprastruktur dan infrastruktur, dan sebagainya, selama ini tidak meletakkan peran agama secara proporsional.

        Korelasi bahwa "semakin banyak jumlah penduduk yang naik haji semakin baiklah moralitas bangsa" adalah korelasi yang tidak signifikan. Haji bukan ukuran keimanan dan moralitas seseorang.

        Selain itu, perlu dipertanyakan pula apakah populasi pelaksana haji atau pengunjung gereja dan populasi pelaku tindakan amoral itu sama? Apakah para koruptor itu adalah orang yang benar-benar taat beragama?

        Korupsi, manipulasi, kolusi, dan tindakan amoral lain, sejatinya, adalah produk sistem yang tidak adil. Kotornya Sungai Ciliwung bukan karena salah ulama atau pelajaran agama di sekolah, tapi karena bobroknya sistem sanitasi yang dibangun pemerintah yang korup. Perampokan, pembunuhan, penipuan, dan lain-lain adalah buah dari ketidakadilan sosial dan ekonomi.

        Sekarang marilah kita lihat negara Amerika atau negara Barat lain. Ekonomi mereka maju, kehidupan publiknya nyaman, sistem sosialnya tampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan publik tinggi. Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungi secara hukum, tapi agama tidak boleh bersifat publik. Perayaan Natal meriah, Idul Adha tidak boleh di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon.

        Pelajaran agama tidak saja absen di sekolah, tapi murid-murid, khususnya muslim tidak mudah melaksanakan salat lima waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi, dalam kehidupan publik, kita tidak boleh melihat wajah agama.

        Apa yang disebut prinsip moral, sejatinya tak jelas, ia berbeda dan malah bertentangan dengan arti akhlak Islam. Agama direduksi menjadi konvensi publik, tuhan telah lama mati. Seorang muslimah yang menikah umur 17 tahun dan hamil, misalnya, melanggar hukum. Tapi, seorang gadis Amerika yang hamil di luar nikah tidak salah. Di manakah letak kebebasan beragamanya?

        Di negara yang berketuhanan ini, agama perlu masuk ke dalam urusan publik. Bahkan, pemerintah perlu memasukkan ke dalam setiap sistem secara jelas. Prinsip keadilan harus ditegakkan: "Segala sesuatu diletakkan sesuai dengan tempat dan proporsinya."

        Pendidikan agama di sekolah ditingkatkan dan, kalau perlu, ditambah. Dalam konteks RUU Sisdiknas, khususnya pasal 12 ayat 1 yang memberikan hak setiap siswa untuk memperoleh pendidikan dan guru agama sesuai dengan agama masing-masing, sudah cukup adil. Jika hak warga negara memperoleh pendidikan agama dicabut, itu jelas tidak adil. Lebih tidak adil lagi jika semua siswa diwajibkan belajar semua agama.

        * Hamid Fahmy, peneliti INSIST, mahasiswa PhD ISTAC Kuala Lumpur
      • sunan sembilan
        ... Do you Yahoo!? Yahoo! Platinum - Watch CBS NCAA March Madness, live on your desktop!
        Message 3 of 24 , Mar 25, 2003
        • 0 Attachment



          Do you Yahoo!?
          Yahoo! Platinum - Watch CBS' NCAA March Madness, live on your desktop!
        • sunan sembilan
          berikut ini adalah makalah bang ADI untuk diskusi sabtu depan yg sudah saya ketik dan indonesiakan, ada beberapa istilah bahasa melayu yg saya masih
          Message 4 of 24 , Apr 14, 2003
          • 0 Attachment

            berikut ini adalah makalah bang ADI untuk diskusi sabtu depan yg sudah saya ketik dan indonesiakan, ada beberapa istilah bahasa melayu yg saya masih �kepusingan� mencari istilah Indonesianya, maka:Kepada yg dzauq melayunya sudah terasah, ANDA dikehendaki dan dialu-alukan untuk membantu meng-indonesiakannya sesuai dg no, dg melihat kontek kata-2 tsb dalam kalimatnya.  

            istilah-2 tsb diantaranya:

            1) Sayugia, 2) pentaakulan tekal (KATA �TEKAL� TERULANG 6 KALI), 3) terdedah, 4). yang tidak terdapat dalam maka tidak berpunca, 5). saling tindak halus



            Do you Yahoo!?
            Yahoo! Tax Center - File online, calculators, forms, and more
          • Ugi Suharto
            on 4/14/03 6:38 PM, sunan sembilan at sunantengah@yahoo.com wrote: berikut ini adalah makalah bang ADI untuk diskusi sabtu depan yg sudah saya ketik dan
            Message 5 of 24 , Apr 14, 2003
            • 0 Attachment
              Re: [INSIST] Chomsky dan mohon diedit on 4/14/03 6:38 PM, sunan sembilan at sunantengah@... wrote:

              berikut ini adalah makalah bang ADI untuk diskusi sabtu depan yg sudah saya ketik dan indonesiakan, ada beberapa istilah bahasa melayu yg saya masih “kepusingan” mencari istilah Indonesianya, maka:Kepada yg dzauq melayunya sudah terasah, ANDA dikehendaki dan dialu-alukan untuk membantu meng-indonesiakannya sesuai dg no, dg melihat kontek kata-2 tsb dalam kalimatnya.

              istilah-2 tsb diantaranya:

              1) Sayugia, 2) pentaakulan tekal (KATA “TEKAL” TERULANG 6 KALI), 3) terdedah, 4). yang tidak terdapat dalam maka tidak berpunca, 5). saling tindak halus

              Untuk Mas Sunan Sembilan, berikut ini terjamahan kata-kata Melayu yang agak sukar ("gharib al-ahadits") dalam bahasa Indonesia:

              Sayugia = sudah sepatutnya atau (sudah seyogyanya)
              Pentaakulan = rasionalisme / "pentaakulan" berasal dari kata "taakul" yang mendapat awalan "pe" dan akhiran "an". "Taakul" itu sendiri berasal dari kata "akal" dengan wazan "tafa'ul"
              Tekal = konsisten; tidak berubah-ubah
              Terdedah = terekspos; terpengaruh; terbuka; terungkap
              Tidak berpunca = tidak bersumber (punca = sumber; asal)
              Saling tindak halus = interaksi halus

              Kalau masih ada bahasa Melayu yang susah untuk difahami, bisa tanya saya lagi.

              Sekian dulu

              Ugi Suharto

              Do you Yahoo!?
              Yahoo! Tax Center <http://us.rd.yahoo.com/finance/mailsig/*http://tax.yahoo.com>  - File online, calculators, forms, and more
              Yahoo! Groups Sponsor


              "Famaadzaa ba'da l haqqi illa dl dlalaal"
              Insist official website: www.insistnet.com


              Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/> .

            • sunantengah
              terimakasih kepada ust. ugi yang telah memberikan pencerahan beberapa istilah melayu sehingga tdk membuat saya tersesat di antara kata-2 yg ghamid.
              Message 6 of 24 , Apr 15, 2003
              • 0 Attachment
                terimakasih kepada ust. ugi yang telah memberikan pencerahan beberapa
                istilah melayu sehingga tdk membuat saya tersesat di antara kata-2 yg
                ghamid. jazakumullah khairan katsira..
                selanjutnya langsung saya print dan saya kopi sore ini, in sha'allah.

                henri shalahuddin-uia

                > "Famaadzaa ba'da l haqqi illa dl dlalaal"
                > Insist official website: www.insistnet.com
                >
                >
                > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service
                > <http://docs.yahoo.com/info/terms/> .
              • sunan sembilan
                salam semua aktifis insis senin kemaren ketika saya menemani supervisor saya (prof.dr. abu ya rub marzuki) membeli komputer, saya sempat ngobrol dg beliau ttg
                Message 7 of 24 , May 15 3:46 AM
                • 0 Attachment

                  salam semua aktifis insis

                  senin kemaren ketika saya menemani supervisor saya (prof.dr. abu ya'rub marzuki) membeli komputer, saya sempat ngobrol dg beliau ttg pandangan beliau mengenai hermeneutika dlm penafsiran quran. dan ndilalah saya juga bawa recorder dan sempat saya rekam obralan dlm taxi tsb kira-2 10 menit.

                  globalnya beliau menolak hermeniutika kalau itu dijadikan semacam aqidah dan cara untuk menemukan tulisan al-quran yg lebih benar dari sekarang, seperti yg dilakukan kaum nashrani.

                  tapi di sisi lain beliau menerima hermenetik kalo dipandang sebagai metode untuk mencari pemahaman al-quran melakukan interpretasi ayat-2 atau hadist dan yg berhubungan dg ayat. bukankah dalam kaum sufi dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi qurra'iha"?

                  saya juga menanyakan ttg efek yg timbul dari metode interpretasi baik yg berupa satanic circle maupun kerancuan istilah stawabit dan mutaghayyirat....

                  jawaban beliau jelas sekali sayangnya saya lagi terburu-2 nulis email ini, intinya beliau berpesan: mengapa kita tidak berupaya seperti upaya ghazali dlm memasukkan filsafat dlm kajian islam dgn membatasi hal-2 yg tdk bersesuaian dg akidah islam.

                  wassalam

                  henri


                  Do you Yahoo!?
                  The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                • adian husaini
                  Setelah Saya mengikuti beberapa penjelasan tentang hermeneutika, saya punya saran, agar ada seorang dari kita yang meneliti serius tentang masalah ini, secara
                  Message 8 of 24 , May 15 5:35 AM
                  • 0 Attachment
                    Setelah Saya mengikuti beberapa penjelasan tentang
                    hermeneutika, saya punya saran, agar ada seorang dari
                    kita yang meneliti serius tentang masalah ini, secara
                    komprehensif, kalau bisa dalam bentuk tesis PhD. Biar
                    tidak ada diskusi lagi dan sikap kita jelas. Diskusi
                    saja tidak cukup. Tapi, tetap penting untuk diskusi.
                    Kata-kata Hendri: "bukankah dalam kaum sufi
                    dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi qurra'iha"?"
                    ini apa pula maksudnya. Ini sufi yang mana? dan ada di
                    buku apa? apa maksudnya? Biar ane paham. thanks...


                    --- sunan sembilan <sunantengah@...> wrote:
                    >
                    > salam semua aktifis insis
                    >
                    > senin kemaren ketika saya menemani supervisor saya
                    > (prof.dr. abu ya'rub marzuki) membeli komputer, saya
                    > sempat ngobrol dg beliau ttg pandangan beliau
                    > mengenai hermeneutika dlm penafsiran quran. dan
                    > ndilalah saya juga bawa recorder dan sempat saya
                    > rekam obralan dlm taxi tsb kira-2 10 menit.
                    >
                    > globalnya beliau menolak hermeniutika kalau itu
                    > dijadikan semacam aqidah dan cara untuk menemukan
                    > tulisan al-quran yg lebih benar dari sekarang,
                    > seperti yg dilakukan kaum nashrani.
                    >
                    > tapi di sisi lain beliau menerima hermenetik kalo
                    > dipandang sebagai metode untuk mencari pemahaman
                    > al-quran melakukan interpretasi ayat-2 atau hadist
                    > dan yg berhubungan dg ayat. bukankah dalam kaum sufi
                    > dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi qurra'iha"?
                    >
                    > saya juga menanyakan ttg efek yg timbul dari metode
                    > interpretasi baik yg berupa satanic circle maupun
                    > kerancuan istilah stawabit dan mutaghayyirat....
                    >
                    > jawaban beliau jelas sekali sayangnya saya lagi
                    > terburu-2 nulis email ini, intinya beliau berpesan:
                    > mengapa kita tidak berupaya seperti upaya ghazali
                    > dlm memasukkan filsafat dlm kajian islam dgn
                    > membatasi hal-2 yg tdk bersesuaian dg akidah islam.
                    >
                    > wassalam
                    >
                    > henri
                    >
                    >
                    > ---------------------------------
                    > Do you Yahoo!?
                    > The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.


                    __________________________________
                    Do you Yahoo!?
                    The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                    http://search.yahoo.com
                  • malki_tea
                    pak Adian sebenarnya sudah banyak karya-karya baik S2 ataupun S3 tentang isu ini, misalnya the problem of hermeneutic karya al-sid, atau orang indonesia
                    Message 9 of 24 , May 15 6:16 AM
                    • 0 Attachment
                      pak Adian sebenarnya sudah banyak karya-karya baik S2 ataupun S3
                      tentang isu ini, misalnya "the problem of hermeneutic" karya al-sid,
                      atau orang indonesia sendiri, seperti Yusuf Rahman, Moch Irwan. malah
                      saya dengan Nirwan sendiri mau nulis ttg isu ini. Persoalannya ilmu
                      itu begitu luas, dan apa yang dihidangkan kepada kita hanya
                      secuilnya, itu pun belum.

                      apalagi misalnya mempertanyakan sufi yang mana, aliran mana, apakah
                      sudah keluar dari mainstream enggak? dan seterusnya. justru
                      pertanyaan-pertanyaan baru itulah, menurut saya menjadi bahan yang
                      memotivasi untuk terus membaca buku yang banyak.
                      salam
                      m

                      --- In insistnet@yahoogroups.com, adian husaini <adianh@y...> wrote:
                      > Setelah Saya mengikuti beberapa penjelasan tentang
                      > hermeneutika, saya punya saran, agar ada seorang dari
                      > kita yang meneliti serius tentang masalah ini, secara
                      > komprehensif, kalau bisa dalam bentuk tesis PhD. Biar
                      > tidak ada diskusi lagi dan sikap kita jelas. Diskusi
                      > saja tidak cukup. Tapi, tetap penting untuk diskusi.
                      > Kata-kata Hendri: "bukankah dalam kaum sufi
                      > dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi qurra'iha"?"
                      > ini apa pula maksudnya. Ini sufi yang mana? dan ada di
                      > buku apa? apa maksudnya? Biar ane paham. thanks...
                      >
                      >
                      > --- sunan sembilan <sunantengah@y...> wrote:
                      > >
                      > > salam semua aktifis insis
                      > >
                      > > senin kemaren ketika saya menemani supervisor saya
                      > > (prof.dr. abu ya'rub marzuki) membeli komputer, saya
                      > > sempat ngobrol dg beliau ttg pandangan beliau
                      > > mengenai hermeneutika dlm penafsiran quran. dan
                      > > ndilalah saya juga bawa recorder dan sempat saya
                      > > rekam obralan dlm taxi tsb kira-2 10 menit.
                      > >
                      > > globalnya beliau menolak hermeniutika kalau itu
                      > > dijadikan semacam aqidah dan cara untuk menemukan
                      > > tulisan al-quran yg lebih benar dari sekarang,
                      > > seperti yg dilakukan kaum nashrani.
                      > >
                      > > tapi di sisi lain beliau menerima hermenetik kalo
                      > > dipandang sebagai metode untuk mencari pemahaman
                      > > al-quran melakukan interpretasi ayat-2 atau hadist
                      > > dan yg berhubungan dg ayat. bukankah dalam kaum sufi
                      > > dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi qurra'iha"?
                      > >
                      > > saya juga menanyakan ttg efek yg timbul dari metode
                      > > interpretasi baik yg berupa satanic circle maupun
                      > > kerancuan istilah stawabit dan mutaghayyirat....
                      > >
                      > > jawaban beliau jelas sekali sayangnya saya lagi
                      > > terburu-2 nulis email ini, intinya beliau berpesan:
                      > > mengapa kita tidak berupaya seperti upaya ghazali
                      > > dlm memasukkan filsafat dlm kajian islam dgn
                      > > membatasi hal-2 yg tdk bersesuaian dg akidah islam.
                      > >
                      > > wassalam
                      > >
                      > > henri
                      > >
                      > >
                      > > ---------------------------------
                      > > Do you Yahoo!?
                      > > The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                      >
                      >
                      > __________________________________
                      > Do you Yahoo!?
                      > The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                      > http://search.yahoo.com
                    • adian husaini
                      Ya, itulah yang saya usulkan. Karya al-Sid, misalnya, masih menyisakan pertanyaan. Juga yang lain. Saya berpikir praktis, harus ada diantara kita yang
                      Message 10 of 24 , May 15 1:11 PM
                      • 0 Attachment
                        Ya, itulah yang saya usulkan. Karya al-Sid, misalnya,
                        masih menyisakan pertanyaan. Juga yang lain. Saya
                        berpikir praktis, harus ada diantara kita yang
                        menguasai dan "credible" serta "otoritatif" bicara
                        soal hermeneutika, dan itu bisa dicapai dengan menulis
                        tesis tentang hermeneutika. Atau melakukan riset
                        serius tentang masalah ini, kemudian menerbitkannya
                        menjadi sebuah buku. Bagus juga, misalnya, paper Mas
                        Ugi itu dikembangkan menjadi sebuah buku. Nirwan atau
                        Malki boleh juga. hanya di kepala Nirwan itu
                        kebanyakan ide dan belum terumuskan, sehingga belum
                        "ditabligh-kan" kepada umat, masih sebatas dinikmati
                        sendiri.


                        --- malki_tea <malki_tea@...> wrote:
                        > pak Adian sebenarnya sudah banyak karya-karya baik
                        > S2 ataupun S3
                        > tentang isu ini, misalnya "the problem of
                        > hermeneutic" karya al-sid,
                        > atau orang indonesia sendiri, seperti Yusuf Rahman,
                        > Moch Irwan. malah
                        > saya dengan Nirwan sendiri mau nulis ttg isu ini.
                        > Persoalannya ilmu
                        > itu begitu luas, dan apa yang dihidangkan kepada
                        > kita hanya
                        > secuilnya, itu pun belum.
                        >
                        > apalagi misalnya mempertanyakan sufi yang mana,
                        > aliran mana, apakah
                        > sudah keluar dari mainstream enggak? dan seterusnya.
                        > justru
                        > pertanyaan-pertanyaan baru itulah, menurut saya
                        > menjadi bahan yang
                        > memotivasi untuk terus membaca buku yang banyak.
                        > salam
                        > m
                        >
                        > --- In insistnet@yahoogroups.com, adian husaini
                        > <adianh@y...> wrote:
                        > > Setelah Saya mengikuti beberapa penjelasan tentang
                        > > hermeneutika, saya punya saran, agar ada seorang
                        > dari
                        > > kita yang meneliti serius tentang masalah ini,
                        > secara
                        > > komprehensif, kalau bisa dalam bentuk tesis PhD.
                        > Biar
                        > > tidak ada diskusi lagi dan sikap kita jelas.
                        > Diskusi
                        > > saja tidak cukup. Tapi, tetap penting untuk
                        > diskusi.
                        > > Kata-kata Hendri: "bukankah dalam kaum sufi
                        > > dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi
                        > qurra'iha"?"
                        > > ini apa pula maksudnya. Ini sufi yang mana? dan
                        > ada di
                        > > buku apa? apa maksudnya? Biar ane paham. thanks...
                        > >
                        > >
                        > > --- sunan sembilan <sunantengah@y...> wrote:
                        > > >
                        > > > salam semua aktifis insis
                        > > >
                        > > > senin kemaren ketika saya menemani supervisor
                        > saya
                        > > > (prof.dr. abu ya'rub marzuki) membeli komputer,
                        > saya
                        > > > sempat ngobrol dg beliau ttg pandangan beliau
                        > > > mengenai hermeneutika dlm penafsiran quran. dan
                        > > > ndilalah saya juga bawa recorder dan sempat saya
                        > > > rekam obralan dlm taxi tsb kira-2 10 menit.
                        > > >
                        > > > globalnya beliau menolak hermeniutika kalau itu
                        > > > dijadikan semacam aqidah dan cara untuk
                        > menemukan
                        > > > tulisan al-quran yg lebih benar dari sekarang,
                        > > > seperti yg dilakukan kaum nashrani.
                        > > >
                        > > > tapi di sisi lain beliau menerima hermenetik
                        > kalo
                        > > > dipandang sebagai metode untuk mencari pemahaman
                        > > > al-quran melakukan interpretasi ayat-2 atau
                        > hadist
                        > > > dan yg berhubungan dg ayat. bukankah dalam kaum
                        > sufi
                        > > > dikatakan: "al-quran yufhamu bi'adadi
                        > qurra'iha"?
                        > > >
                        > > > saya juga menanyakan ttg efek yg timbul dari
                        > metode
                        > > > interpretasi baik yg berupa satanic circle
                        > maupun
                        > > > kerancuan istilah stawabit dan mutaghayyirat....
                        > > >
                        > > > jawaban beliau jelas sekali sayangnya saya lagi
                        > > > terburu-2 nulis email ini, intinya beliau
                        > berpesan:
                        > > > mengapa kita tidak berupaya seperti upaya
                        > ghazali
                        > > > dlm memasukkan filsafat dlm kajian islam dgn
                        > > > membatasi hal-2 yg tdk bersesuaian dg akidah
                        > islam.
                        > > >
                        > > > wassalam
                        > > >
                        > > > henri
                        > > >
                        > > >
                        > > > ---------------------------------
                        > > > Do you Yahoo!?
                        > > > The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                        > >
                        > >
                        > > __________________________________
                        > > Do you Yahoo!?
                        > > The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                        > > http://search.yahoo.com
                        >
                        >


                        __________________________________
                        Do you Yahoo!?
                        The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.
                        http://search.yahoo.com
                      • abubasyar
                        Tiga Calon Presiden Dekati PPP oleh redaksi Jumat, 16-Mei-2003, 03:28:07 WIB 14 klik JAKARTA (RP) - Seminar sehari bertema ` Telaah kritis dan public hearing
                        Message 11 of 24 , May 16 1:18 AM
                        • 0 Attachment
                          Tiga Calon Presiden Dekati PPP
                          oleh redaksi
                          Jumat, 16-Mei-2003, 03:28:07 WIB 14 klik


                          JAKARTA (RP) - Seminar sehari bertema `'Telaah kritis dan public
                          hearing program perjuangan PPP 2003-2008'' DPP PPP di Sahid Jaya
                          Hotel kemarin memang cukup istimewa. Bagaimana tidak, acara yang
                          dimulai pukul 10.00 WIB tersebut dihadiri tiga calon presiden
                          (Capres) yang dianggap punya kans cukup besar. Mereka adalah KH
                          Hasyim Muzadi, Nurcholish Madjid dan Agum Gumelar.



                          Namun, dari pantauan JPNN, ketiga pembicara tersebut tidak
                          memfokuskan diri pada tema yang dibuat. Meski samar-samar, public
                          hearing tersebut terkesan menjadi arena penjajakan dari ketiga Capres
                          terhadap PPP, apakah ada peluang bagi mereka untuk dicalonkan partai
                          berlambang Ka'bah itu.
                          Nurcholish Madjid misalnya. Dalam seminar kemarin, Cak Nur
                          mengklarifikasi pernyataannya tentang partai Islam. Cak Nur memang
                          dikenal dengan ucapan, Islam Yes, Partai Islam No, ini menunjukkan
                          kalau Cak Nur tidak setuju dengan keberadaan partai Islam. Sementara
                          PPP sendiri adalah partai yang berasaskan Islam.

                          Menurut Cak Nur, pernyataan tersebut dia sampaikan karena merasa
                          jengkel dengan partai Islam ketika itu. Saat itu, hampir semua partai
                          Islam yang ada tidak melaksanakan balance of power sebagaimana yang
                          diamanatkan agama. Banyak kebijakan partai yang dibuat melenceng dari
                          kaidah agama.

                          `'Ketika jengkel dengan partai Islam itulah, saya katakan No. Karena
                          mereka mendirikan partai tidak memahami Islam lebih dulu. Karena
                          itulah, kalau mau bikin partai, pahami dulu Islam secara luas dan
                          benar,'' katanya.

                          Selain mengklarifikasi soal pernyataan itu, Cak Nur juga mengingatkan
                          kader PPP bahwa dirinya punya hubungan historik dengan partai
                          berlambang Ka'bah itu. `'Saya pernah berkampanye untuk PPP. Yakni di
                          tahun 1977. Waktu itu PPP menjadi satu diantara tiga partai yang ada.
                          Terus terang, saya setuju dengan apa yang diperjuangkan PPP sekarang,
                          termasuk soal kabinet bayangan. Jika memang tidak berkesempatan
                          menang, jadilah oposisi yang baik. Karena membangun bangsa tidak
                          mutlak dengan duduk di pemerintahan, tapi bisa dengan ide-ide yang
                          disumbangkan sebagai oposan,'' urainya.

                          Meski demikian, Cak Nur secara tegas membantah kalau kehadirannya di
                          seminar kemarin untuk melobi PPP. Apalagi melamar partai pimpinan
                          Hamzah Has itu supaya mencalonkan dirinya. `'Tidak ada hubungannya
                          dengan itu, saya hanya diminta PPP untuk menyampaikan pandangan dan
                          masukan tentang program perjuangan PPP mendatang,'' elak Cak Nur.

                          Lain Cak Nur, lain pula Agum Gumelar. Menteri Perhubungan ini punya
                          cara lain untuk meraih simpati kader PPP. `'Mohon kehadiran saya
                          dalam seminar ini jangan ditempatkan sebagai Menteri Perhubungan,
                          tapi sebagai ketua Ikal (ikatan alumni lemhanas) saja,'' kata Agum
                          saat membuka percakapan.

                          Ikal sendiri kata Agum, memiliki anggota yang berjumlah ribuan orang.
                          Terkait dengan pemilu 2004, belum lama ini, Ikal telah menggelar
                          konvensi tentang perkembangan bangsa, potret dan pemetaan posisi
                          bangsa saat ini. Rekomendasi dari konvensi tersebut telah dibukukan
                          dan disumbangkan ke PPP sebagai masukan dalam menyusun program
                          perjuangan PPP 2003-2008.

                          `'Perlu saya katakan, kehadiran saya di sini mewakili ribuan anggota
                          Ikal di seluruh Indonesia. Dan kita meyakini, PPP mampu menjadi
                          partai alternatif yang bisa menyelamatkan bangsa. Karena yang
                          dibutuhkan bangsa saat ini adalah manajer lapangan yang bisa
                          mentransformasikan semua masalah dengan tuntas,'' urai Agum.

                          Sama seperti Cak Nur, Agum juga membantah kehadiran di Sahid kemarin
                          untuk meminta dukungan. Bahkan dia sendiri mengaku belum pernah
                          menyatakan siap dicalonkan sebagai Capres 2004. Namun, boleh saja
                          publik menduga, penekanan kalimat mewakili ribuan anggota lemhanas
                          seolah-olah Agum ingin menunjukkan kalau dia punya massa yang bisa
                          mendongkrak suara PPP di 2004.

                          Bagaimana dengan KH Hasyim Muzadi ? Cak Hasyim yang kemarin sempat
                          datang terlambat karena banyak tamu, lebih banyak beromantika tentang
                          masa lalu. `'Kedatangan saya ke sini untuk membuktikan kalau NU itu
                          milik semua masyarakat. Dan juga milik semua parpol,'' katanya
                          diplomatis.

                          Cak Hasyim kemudian bercerita, kalau dirinya pernah menjadi pimpinan
                          PPP selama 12 tahun. Sejak 1973, Cak Hasyim memimpin DPC PPP Malang
                          dan DPD PPP Jatim. Namun di tahun 1985, Cak Hasyim berhenti karena
                          ingin mendalami agama.

                          Hanya berselang setahun (1986), Cak Hasyim kembali menjadi kader PPP.
                          Ini terkait dengan pengangkatan dirinya sebagai anggota legislatif
                          melalui pergantian antar waktu (PAW). `'Karena anggota fraksi PPP ada
                          yang meninggal, saya yang menggantikan,'' urainya.

                          Sejak keluar dari PPP, menurut Cak Hasyim dia tidak pernah masuk
                          struktur partai manapun, termasuk PKB. `'Memang saya telah
                          memenangkan PKB tapi tidak masuk PKB. Saya lakukan itu demi NU,
                          karena banyak pengurus NU yang pengangguran,'' ucapnya.

                          Selama 12 tahun di PPP, Cak Hasyim merasakan kalau PPP adalah partai
                          yang lumayan. Ada lini komando, ada pembahasan wacana tentang
                          bagaimana hubungan agama dengan politik dan hubungan agama dengan
                          negara. `'PPP sebagai partai Islam punya tanggung jawab untuk membawa
                          bangsa ini menjadi lebih baik, dan saya melihat ada peluang untuk
                          mewujudkan itu,''ucapnya.

                          Saat berbicara kemarin, Cak Hasyim banyak membandingkan antara PPP
                          dan PKB. Intinya, Cak Hasyim berusaha meyakinkan kader partai yang
                          bermarkas di Diponegoro tersebut kalau PPP masih lebih baik dari PKB.

                          Menurut dia, meski menang di Jatim, PKB itu sesungguhnya bukan
                          menang, melainkan dimenangkan. `'Tapi untuk 2004, PKB sama sekali
                          tidak punya peluang. Baik itu menyangkut pengalaman historik,
                          kesempatan retorik untuk memperbaiki demokrasi saat ini,'' tukasnya.

                          Jangankan untuk menang pemilu, untuk mendapatkan jatah gubernur atau
                          wakil gubernur saja akan sulit. `'Mayoritas itu bukan jaminan kalau
                          partai akan mendapatkan kedudukan,'' tegasnya.

                          Dari pengamatan koran ini, saat sesi tanya jawab berlangsung, memang
                          banyak kader PPP yang menginginkan 3 Capres tersebut masuk lewat PPP.
                          Bahkan Rektor Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEA), Kemala Motik
                          secara terang-terangan meminta Cak Hasyim tetap maju karena dianggap
                          paling pas sebagai figur Capres ke depan.

                          Benarkah ada peluang ketiga Capres tersebut masuk lewat PPP? Ketua
                          DPP PPP, Zarkasih Nur tak memungkiri hal itu. Menurut dia, ada dua
                          wacana yang berkembang di PPP, terkait pengajuan Capres-cawapres
                          mendatang. Pertama, mengajukan ketua umum PPP, Hamzah Has sebagai
                          Capres, serta wacana kedua membuka jalur konvensi seperti yang
                          dilakukan golkar.

                          PPP kata dia, terbuka bagi siapapun yang mau menjadi caleg dan Capres
                          2004. Syaratnya, yang bersangkutan harus menaati AD/ART partai.
                          Karena itulah, Zarkasih tidak membantah kemungkinan orang-orang yang
                          diundang dalam seminar kemarin akan menjadi Capres PPP. Termasuk Cak
                          Nur, Cak Hasyim dan Agum.

                          `'Seminar ini memang menjadi salah satu upaya untuk menuju ke arah
                          wacana kedua, yakni konvensi. Namun nama-nama yang akan diajukan
                          nantinya akan diserahkan pada keputusan muktamar.'' (ing/jpnn)
                        • malki_tea
                          Date: Wed, 4 Jan 2006 15:49:26 -0800 (PST) From: hafis azhari Subject: SURAT TERBUKA UNTUK ABDULLAH GYMNASTIAR SURAT TERBUKA K2PSI
                          Message 12 of 24 , Jan 12, 2006
                          • 0 Attachment
                            Date: Wed, 4 Jan 2006 15:49:26 -0800 (PST)
                            From: "hafis azhari" <hafisazhari@...>
                            Subject: SURAT TERBUKA UNTUK ABDULLAH GYMNASTIAR

                            SURAT TERBUKA K2PSI KEPADA ABDULLAH GYMNASTIAR


                            Risa Octavianty
                            (Aktivis Gema Nusa Banten)


                            Pada bulan Juni 2005 lalu, kami mengirimkan surat terbuka kepada
                            seorang da'i kenamaan Aa Gym (panggilan akrab dari Abdullah
                            Gymnastiar) melalui pos kilat, sekaligus e-mail Aa Gym
                            (sekre_gemanusa@...). Surat itu ditulis langsung oleh Bung
                            Hafis dengan tema utama: "Memperkenalkan keluarga tapol kepada Aa
                            Gym". Tak berapa lama Bung Hafis bertandang ke rumah Aa Gym di
                            Bandung, dan karenanya - sayang sekali - tidak ada balasan atas surat
                            yang dianggap kontroversial itu. Meski begitu, kita dapat membaca
                            adanya perubahan dahsyat pada dakwah-dakwah tokoh agama asal Sunda
                            (bukan Jawa) itu, bahkan pada situs-situs yang diasuhnya. Pada
                            November 2005 lalu telah ditampilkan pemikiran-pemikiran Bung Karno
                            selama tiga minggu berturut-turut dalam CyberMQ, yang menjadi bahan
                            kajian menarik di sekitar komunitas Daruttauhid Bandung dan Jakarta,
                            serta Gema Nusa Banten, Yogya dan Surabaya. Berikut ini kami
                            tampilkan surat Bung Hafis - setelah mendapat izin darinya - yang
                            ditujukan kepada kiai kondang kelahiran Pasundan itu:


                            Yang terhormat,
                            K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
                            di
                            Tempat


                            Assalamualaikum wr.wb.,




                            Aa Gym yang baik,
                            Beberapa waktu lalu kami berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer,
                            seorang sastrawan terkemuka yang selama puluhan tahun telah dizalimi
                            oleh Orde Baru (bersama dengan ratusan ribu pendukung Bung Karno
                            lainnya).


                            Pramoedya menganjurkan agar kaum muda menyelenggarakan Kongres Pemuda
                            Indonesia lagi, sebagai kelanjutan dari pesan Bung Karno
                            bahwa "revolusi kita belum selesai". Pengertian revolusi ini tidak
                            mesti dipahami sebagai bertikai atau menumpahkan darah (seperti yang
                            telah dilakukan Soeharto dan Orde Baru antara 1965-1966 lalu).


                            Bagaimanapun kita ini belum selesai sebagai suatu bangsa (nation),
                            konsekuensinya tanah-air kita belum selesai menjadi suatu negeri
                            Indonesia yang merdeka. Juga pola keberagamaan bangsa ini sama sekali
                            tak bisa dikatakan sebagai manusia beriman yang baik, yang ditekankan
                            oleh Bung Karno dalam sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa). Para
                            orang tua dan leluhur kita (terlebih-lebih dari Jawa) masih
                            mengagungkan hal-hal dogmatis dalam tata-keberagamaan mereka, di mana
                            pikiran mereka telah mengalami kelumpuhan dalam memahami substansi
                            agama itu sendiri.


                            Bagimana mereka mampu memahami agama secara rasional, ketika praktek
                            sembahyang masih diselubungi oleh kepercayaan-kepercayaan purba pada
                            kekuasaan Dewi Laut Selatan (Nyi Roro Kidul). Coba perhatian, ke mana
                            mereka berkiblat pada awal Muharam atau Maulid Nabi? Bagaimana
                            mungkin suatu bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa, masih
                            memperlakukan mesjid dan gereja sebagai berhala-berhala; Al-Quran
                            sebagai jimat dan mantra-mantra; bahkan tidak sedikit yang
                            menghamburkan kekayaannya untuk pergi haji berkali-kali (seakan-akan
                            sorga dapat dibeli dengan uang), tanpa peduli orang-orang miskin dan
                            telantar yang butuh bantuan di sekitar mereka. Boleh jadi
                            keberangkatan haji itu malah hasil dari memeras hak kaum miskin,
                            karena kekuasaan yang didominasi oleh orang-orang kuat atau tuan-
                            tuan tanah di kampung-kampung mereka.


                            Aa Gym yang baik,
                            Maaf kami tidak bermaksud untuk menggurui. Kami hanya ingin
                            mengatakan bahwa kita tidak perlu phobi mendengar kata "revolusi".
                            Pengertian revolusi ini harus difokuskan pada penegakan keadilan dan
                            kebenaran, yang menjadi anjuran bagi seluruh agama-agama besar dunia.
                            Pengertian revolusi ini - sekali lagi - tidak selalu harus diartikan
                            dengan bertikai atau menumpahkan darah, meskipun kita harus punya
                            kesiapan mental-spiritual bila dimungkinkan ada darah tertumpah.


                            Bukankah Muhammad di sepanjang hijrah ke Medinah telah dituduh
                            sebagai pemberontak yang melakukan makar dan keonaran, hingga
                            memisahkan hubungan orang-orang tua dari anak-anaknya? Bukankah
                            Ibrahim telah melakukan "pembangkangan" hingga menghancurkan bisnis
                            orang tuanya sendiri (meskipun dari bisnis itu ia telah dinafkahi)?
                            Bukankah Musa justru "mengorbankan" pengasuhnya sendiri (Firaun) yang
                            sering menimang-nimangnya sejak bayi? Dan bukankah ketiga rasul itu
                            yang justru paling dipopulerkan dalam sejarah (Al-Quran)?


                            Lantas siapakah Bung Karno dan kawan-kawan founding fathers kita?
                            Bukankah mereka pun dijuluki sebagai pembangkang-pembangkang, yang
                            oleh kolonialisme Belanda disebut "Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)"?


                            Ini tentulah berbeda dengan model penulisan sejarah selama kekuasaan
                            Orde Baru (Soeharto), di mana Raja Penguasa Indonesia, bersama
                            dinasti raja-raja Jawa sebelumnya telah diagung-agungkan sedemikian
                            rupa, tanpa peduli pada fakta-fakta bahwa mereka sebetulnya adalah
                            pelaku-pelaku penindasan terhadap rakyatnya sendiri. Ya, sejarah Jawa
                            adalah sejarah penguasa yang menang, sedangkan mereka yang dianggap
                            kalah harus dibungkam dan diasingkan (diperlakukan selaku Togog).
                            Konsekuensinya sejarah Jawa penuh dengan manusia-manusia populer yang
                            telah berhasil menindas dan menganiaya lawan politiknya, dan inilah
                            yang terjadi dalam genosida ideologis antara tahun 1965 dan 1966.


                            Dan kita mengerti bahwa Islam (dan agama apapun) secara telak
                            melarang praktek-praktek kekuasaan semacam itu, karena yang berhak
                            mendapat kehormatan justru adalah mereka-mereka yang sanggup
                            mengendalikan diri dari tindakan zalim dan sewenang-wenang. Islam
                            mengajarkan kita bahwa orang-orang yang layak tercatat dalam sejarah
                            adalah mereka yang tinggi kadar ketakwaannya. Hal ini bisa
                            dibandingkan dengan kebesaran Ali bin Abi Thalib (dalam sejarah),
                            meskipun ia telah dikudeta secara "merangkak" oleh Muawiyah. Bahkan
                            juga Isa Al-Masih yang telah difitnah dan diperlakukan sewenang-
                            wenang oleh kolaborasi Romawi dan Yahudi? Tentu saja hal ini sepadan
                            dengan kolaborasi Orde Baru bersama induk-semangnya (CIA dan Amerika)
                            yang telah menjatuhkan Bung Karno secara tidak bertanggungjawab….


                            Aa Gym,
                            Dengan kebesaran hati kami mengakui ketokohan Aa Gym sebagai
                            cendikiawan muslim dan pembaharu Indonesia, karenanya tak perlu phobi
                            kepada kata komunisme, marxisme, leninisme dan seterusnya. Ketakutan
                            dan kephobian kita selama ini tak lain karena kita telah terjebak
                            oleh sejarah-sejarah bikinan Orde Baru yang disusupkan kepada kita
                            semua, agar kita "mendewakan" mereka sebagai bapak pembangunan, di
                            bawah kaki landasan para fakir-miskin yang dijadikan korban.


                            Konsekuensi dari revolusi ini tentu akan memisahkan garis pendukung
                            Bung Karno dan pendukung Soeharto, suatu "perang" antara pembaharuan
                            dan kemapanan (status quo), suatu "pertempuran" antara kebenaran dan
                            pembenaran, suatu "perbenturan" antara mereka yang menuduh diktator
                            dengan diktator yang sesungguhnya.


                            Aa Gym,
                            Pembunuhan terhadap pendukung-pendukung Bung Karno yang mencapai
                            jumlah sekurang-kurangnya 700.000 hingga 1.000.000 korban (sumber
                            resmi Amnesty International) untuk membutuhkan pengakuan sebagai
                            penguasa baru, tidak bisa ditoleransi dengan alasan apapun. Dan agama
                            melarang kita untuk melupakan pembunuhan satu jiwa pun (tanpa alasan
                            yang benar). Ini telah dilakukan oleh Soeharto dan kroni-kroninya…
                            untuk menakut-nakuti seluruh rakyat… untuk menunjukkan pengakuan
                            dirinya sebagai penguasa (Jawa) yang baru, dengan lebih dulu
                            memenjarakan Bung Karno di Wisma Yaso (hingga wafatnya), menggelapkan
                            sejarahnya, memaksanya untuk menandatangani supersemar, memecat
                            menteri-menteri pendukungnya, membentuk DPR baru, merekayasa sidang
                            MPRS hingga menampilkan dirinya sebagai Penguasa Indonesia.


                            Apapun dan siapapun pelaku G30S, Soeharto telah mengambil keuntungan
                            dari peristiwa tragis itu, dengan menghalangi Bung Karno untuk
                            menyampaikan pertanggungjawaban (di pengadilan), karena dia sudah
                            telanjur menuduh Bung Karno terlibat dalam G30S, tanpa ada bukti dan
                            pembuktian apapun.


                            Aa Gym yang baik,
                            Kalau ada kelompok tertentu yang berpendapat bahwa kita harus
                            menjunjung-tinggi bapak pembangunan, dengan mengucap terimakasih pada
                            Bapak Soeharto, maka kami tidak akan berbaris dalam kelompok atau
                            gerombolan semacam itu. Lebih baik kami bersandar pada kekuatan hukum
                            yang legitimasinya langsung diakui oleh Tuhan (Al-Quran). Bukankah
                            dalam surat Asy-Syu'ara (ayat 18-22) difirmankan tentang adanya
                            dialog panjang, di mana Firaun telah mengkalim Musa sebagai anak yang
                            tidak tahu rasa terimakasih? Bahkan dengan angkuhnya Firaun
                            mengatakan: "Bukankah aku yang mengasuhmu sejak kecil, memberimu
                            makan dan membesarkanmu? Kenapa setelah dewasa kau menjadi pemuda
                            pembangkang yang tidak tahu balas-budi dan balas-jasa kepada orang
                            yang menafkahimu?" Tetapi kemudian, sejarah telah membuktikan kepada
                            siapakah Tuhan berpihak dan memberi kemenangan….


                            Aa Gym, seperti yang telah Aa Gym katakan, perjuangan melawan
                            ketidakadilan ini bukanlah pekerjaan sepele dan ringan. Dibutuhkan
                            ketekunan, kesabaran dan kematangan intelektual yang tinggi. Karena
                            itu tidak sedikit para pejuang - termasuk sebagian pejuang reformasi
                            kita - telah terjatuh dan terperangkap untuk berkompromi dengan
                            pelaku-pelaku penindasan. Bolehlah hal ini kita anggap sebagai suatu
                            proses, dan karenanya kita bertanggungjawab untuk mengingatkan
                            saudara-saudara kita itu.


                            Mengingat pengakuan publik yang sedemikian besar kepada Aa Gym, dalam
                            usia yang masih terbilang muda (43 tahun), kami akan sangat
                            menghargai bila Aa Gym lebih memfokuskan dakwah-dakwah agama pada
                            titik sumber kejahatan yang utama, yakni kesewenangan dan kezaliman
                            Penguasa Orde Baru selama 32 tahun ini. Tentulah kesalahan kecil pun
                            tak bisa diremehkan, dan setiap kesalahan manusia tentu akan dihakimi
                            oleh imajinasinya sendiri. Tapi persoalannya, bila seorang da'i atau
                            mubalig hanya sibuk berkutat di wilayah kesalahan sepele atau di
                            tingkat maling ayam dan kriminal-kriminal kecil, lantas mengabaikan
                            fakta-nyata terhadap rejim yang telah menyelenggarakan kezaliman dan
                            kesalahan besar selama puluhan tahun ini, rasanya kita hanya menjadi
                            penolong-penolong agama Tuhan di tingkat - mohon maaf - kelas teri
                            dan loakan saja. Karena itu kami mengusulkan kepada segenap para da'i
                            maupun ulama - dan berharap optimis pada Aa Gym - untuk lebih
                            memfokuskan perhatian pada hal-hal urgen dan prinsipil, agar menjadi
                            prioritas bagi bahan dakwah maupun fatwa-fatwa agama.


                            Bagi angkatan muda, perjuangan semacam ini akan mengandung
                            konsekuensi berhadap-hadapan dengan kehendak ideologi (agama) dari
                            para orang tua dan leluhur, namun inilah keniscayaan perjuangan yang
                            memang tidak mengenal kompromi terhadap segala bentuk kesewenangan
                            dan ketidakadilan. Bagaimanapun perjuangan untuk suatu perbaikan
                            hidup, dengan menciptakan iklim peradaban yang lebih manusiawi dan
                            demokratis, adalah cita-cita yang dikumandangkan oleh setiap agama
                            maupun ideologi-ideologi mulia, yang merupakan tanggungjawab kita
                            bersama untuk menegakkannya. Semoga suara-suara kebenaran yang sedang
                            kita perjuangkan, menjadi kesatuan integral yang membawa fajarbudi
                            dan pencerahan Indonesia di kemudian hari.


                            Demikian surat kami, semoga Aa Gym, keluarga dan komunitas
                            Daruttauhid dalam keadaan baik-baik selalu, dan semoga lain kali bisa
                            kita sambung kembali….


                            Wassalam,




                            Hafis Azhari
                            (Ketua K2PSI)
                          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.