Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Balasan: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

Expand Messages
  • Muh. Fadil
    Sepertinya gak sesederhana itu karena di satu sisi tradisi mutakallimin dan filsafat Islam juga memperkaya tradisi keilmuan dan peradaban Islam. -fadil- ...
    Message 1 of 27 , Dec 3 3:18 AM
      Sepertinya gak sesederhana itu karena di satu sisi
      tradisi mutakallimin dan filsafat Islam juga
      memperkaya tradisi keilmuan dan peradaban Islam.

      -fadil-

      --- Abdul Rahman wrote:

      > *Pengantar*
      >
      > Lahirnya filsafat di Dunia Islam memang tidak dapat
      > dipisahkan dari tradisi
      > ilmu kalam yang mendahuluinya. Sebelumnya, para
      > mutakallimin memang telah
      > menggunakan *mantiq* (logika) dalam tradisi kalam
      > mereka, baik untuk
      > membantah maupun menyusun argumentasi. Dalam hal
      > ini, bukti paling akurat
      > dapat dilacak dalam kitab *al-Fiqh al-Akbar, *karya
      > Abu Hanifah (w. 147
      > H/768 M).1 Selain menggunakan mantik, beliau juga
      > menggunakan istilah
      > filsafat, seperti *jawhar *(substabsi) dan *'aradh
      > *(aksiden), yang *
      > notabene* banyak digunakan Aristoles dalam
      > buku-bukunya.
      >
      > Ini membuktikan, bahwa mantik* *sebagai teknik
      > pengambilan kongklusi
      > (kesimpulan) telah digunakan oleh ulama kaum Muslim
      > pada abad ke-2 H/8 M.
      > Hanya saja, ini tidak secara otomatis menunjukkan
      > bahwa filsafat telah
      > dikaji secara mendalam pada zaman itu. Bukti di atas
      > hanya membuktikan
      > pemanfaatan logika mantik dalam menghasilkan
      > kongklusi. Kesimpulan ini juga
      > tidak dapat digunakan untuk menarik kongklusi yang
      > lebih luas mengenai
      > kemungkinan logika telah dipelajari secara mendalam
      > oleh para mutakallimin,
      > sebagaimana logika yang diuraikan oleh Ibn Sina.2
      > Sebab, bukti yang akurat
      > menunjukkan, bahwa perkembangan pemikiran filsafat
      > Yunani di negeri Islam
      > baru terjadi setelah aktivitas penerjemahan pada
      > zaman Abbasiyah.
      >
      > Meski demikian, penggunaan logika (mantik), diakui
      > atau tidak, telah membuka
      > celah masuknya filsafat di Dunia Islam. Karena itu,
      > pasca generasi Washil,
      > filsafat Yunani kemudian dipelajari secara mendalam
      > oleh ulama Muktazilah,
      > separti Dhirar bin Amr, Abu Hudhail al-'Allaf,
      > an-Nazhzham, dan lain-lain.
      > Dari sinilah kemudian, lahir karya mereka, seperti
      > *Kitâb ar-Radd 'alâ
      > Aristhâlîs fî al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya*
      > *Dhirar bin 'Amr,* Al-Jawâhir
      > wa al-A'râdh *dan *Tathbît al-A'râdh*, karya Abu
      > Hudhail al-'Allaf, *Kitâb
      > al-Manthiq *dan* Kitâb al-Jawâhir wa al-A'râdh,
      > *karya an-Nazhzham.3* *
      >
      > Di samping itu, penyebaran filsafat ini semakin
      > meningkat, khususnya sejak
      > al-Makmun, murid Abu Hudhail al-'Allaf, tokoh
      > Muktazilah Baghdad, mendirikan
      > Baitul Hikmah tahun 217 H/813 M; sebuah pusat kajian
      > filsafat yang dipimpin
      > oleh Yuhana bin Masawih. Di kota ini juga al-Kindi
      > (w. 260 H/873 M) banyak
      > berinteraksi dengan para penerjemah filsafat dari
      > bahasa Yunani dan Syria ke
      > dalam bahasa Arab, seperti Yahya bin al-Baitriq (w.
      > 200 H/815 M) dan Ibn
      > Na'imah (w. 220 H/830 M).4 Di sinilah al-Kindi juga
      > dibesarkan sebagai
      > filosof Arab yang pertama. Setelah itu, menyusul
      > nama-nama seperti al-Farabi
      > (w. 339 H/951 M) dan Ibn Sina (w. 428 H/1049 M).
      > Mereka adalah para filosof
      > yang hidup di Timur. Di Barat, lahir nama-nama
      > seperti Ibn Bajjah (478-503
      > H/1099-1124 M), Ibn Thufail (w. 581 H/1185 M),5 dan
      > Ibn Rusyd (w. 600 H/1217
      > M).
      >
      > Secara umum, ciri filsafat mereka tidak jauh dari
      > filsafat Yunani yang
      > didominasi oleh Plato dan muridnya, Aristoteles.
      > Baik pandangan al-Kindi,
      > al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail maupun
      > Ibn Rusyd, semuanya
      > nyaris hanya membela pandangan Plato atau
      > Aristoteles. Kadang-kadang mereka
      > terlibat untuk mengkompromikan kedua pandangan tokoh
      > ini, seperti yang
      > dilakukan oleh al-Farabi, atau bahkan mencoba
      > mengkompromikan Islam dengan
      > pandangan kedua filosof Yunani tersebut, seperti
      > yang dilakukan oleh
      > al-Kindi6 atau Ibn Rusyd.7 Karena itu, tepat sekali
      > apa yang dikemukakan
      > oleh Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa mereka
      > hanyalah para penjiplak (*
      > al-muntahilûn*). Artinya, apa yang mereka tulis itu
      > bukan merupakan
      > pemikiran mereka sendiri, melainkan
      > pemikiran-pemikiran yang dikembangkan
      > oleh para filosof Yunani sebelumnya. Jumlah mereka,
      > kata an-Nabhani, tidak
      > banyak, sehingga pandangan-pandangan mereka tidak
      > menjadi arus utama
      > pemikiran umat Islam pada zamannya.
      >
      > Sementara itu, filsafat Persia dan India juga
      > berkembang di Dunia Islam,
      > terutama setelah ditaklukkannya kedua wilayah
      > tersebut pada zaman permulaan
      > Islam. Hanya saja, kalau filsafat Yunani telah
      > melahirkan para filosof
      > Muslim, maka filsafat Persia dan India tidak. Salah
      > satu faktornya adalah
      > karena minimnya referensi kedua filsafat
      > tersebut—kalau tidak boleh dibilang
      > tidak ada—yang bisa dikaji oleh kaum Muslim.
      >
      > *
      > Adakah Filsafat dalam Islam?*
      >
      > Secara harfiah, istilah filsafat itu berasal dari
      > kata *philosophia. *Menurut
      > Ibn Nadim (w. 380 H/985 M), mengutip keterangan
      > Plutarch (± 100 M), istilah
      > ini mula-mula digunakan oleh Phytagoras (572-497
      > SM),8 yang kemudian
      > diarabkan menjadi *al-falsafah*. Kemungkinan yang
      > mengarabkan pertama kali
      > adalah Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M),
      > penerjemah buku *Timeaus*,
      > karya Plato. Sebab, kata *philosophy *(Arab:
      > *falsafah*) itu ada di dalam
      > buku tersebut.9 Hanya saja, bukti yang paling
      > otentik penggunaan istilah
      > tersebut dapat ditemukan dalam *Kitab al-Falsafah
      > al-Ulâ fî mâ dûna
      > ath-Thabi'iyyah wa at-Tawhîd*, karya al-Kindi*.*10
      >
      > *Philosophia* itu sendiri berasal dari bahasa Greek
      > (Yunani Kuno),
      > yaitu *philos
      > *dan *sophia. Philos* artinya cinta; atau *philia*
      > berarti persahabatan,
      > kasih sayang, kesukaan pada, atau keterikatan pada.
      > *Sophia *berarti hikmah
      > (*wisdom*), kebaikan, pengetahuan, keahlian,
      > pengalaman praktis, dan
      > intelegensi.11
      >
      > *Philosophia*, menurut al-Syahrastani (w. 548 H/1153
      > M), berarti *mahabbah
      > al-hikmah* (cinta pada kebijaksanaan), dan orangnya
      > (*faylasuf*)
      > disebut *muhibb
      > al-hikmah *(orang yang mencintai kebijaksanaan).12
      > Ini seperti yang
      > dinyatakan oleh Socrates dalam *Mukhtashar Kitâb
      > at-Tuffâhah *(Ringkasan
      > Kitab Apel).13
      >
      > Saecara khusus, hikmah (*wisdom*) ini kemudian
      > dibagi menjadi dua: *qawliyyah
      > *(intelektual) dan *'amaliyyah *(praktis).14 Sebab,
      > kebahagiaan (*happiness*)
      > yang dikehendaki oleh filosof adalah substansinya;
      > *virtuous activity is
      > identical with happiness *(melakukan kebaikan adalah
      > identik dengan
      > kebahagiaan).15 Kebahagiaan itu sendiri hanya bisa
      > diraih melalui *wisdom*,
      > baik dengan mengetahui kebenaran (*knowledge of the
      > good*) maupun
      > melaksanakan kebaikan (*virtuous activity*).16
      >
      > Istilah filsafat ini kemudian digunakan oleh
      > al-Kindi dengan konotasi:
      > pengetahuan tentang hakikat sesuatu sesuai dengan
      > kemampuan manusia.17
      > Al-Farabi
      > menyebutnya sebagai pengetahuan tentang eksistensi
      > itu sendiri.18 Al-Khawarizmi
      > menyebutnya pengetahuan tentang hakikat benda dan
      > perbuatan yang berkaitan
      > dengan mana yang lebih baik sehingga dapat
      > diklasifikasikan: yang teoretis (
      > *nazhari*) dan yang praktis (*'amali*).19
      >
      > Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa
      > filsafat itu bukan merupakan
      > pengetahuan *an sich, *tetapi juga merupakan cara
      > pandang tentang berbagai
      > hal, baik yang bersifat teoretis maupun praktis.
      > Secara teoretis, filsafat
      > menawarkan tentang apa itu kebenaran (*al-haq*)?
      > Secara praktis, filsafat
      > menawarkan tentang apa itu kebaikan (*al-khayr*)?
      > Dari dua spektrum inilah
      >
      === message truncated ===





      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
    • alkattani
      Artikel ini cukup berhasil menunjukkan adanya pengaruh filsafat dalam tradisi keilmuan Islam. Namun kurang berhasil membuktikan bahwa keterpengaruhan itu
      Message 2 of 27 , Dec 3 4:38 PM
        Artikel ini cukup berhasil menunjukkan adanya pengaruh filsafat dalam tradisi keilmuan Islam. Namun kurang berhasil membuktikan bahwa keterpengaruhan itu menjadi faktor besar penyebab kemunduran Islam.



        Benar filsafat diintroduksi dalam keilmuan Islam di abad 2 hijriyah. Namun kita juga harus mencermati bahwa puncak filsafat dalam Islam berujung pada Ibn Rusyd yang wafat pada 595 H.



        Pada nyatanya, selepas wafatnya Ibnu Rusyd, Islam dan kebudayaannya melalui Khilafah Utsmaniah dan beberapa kesultanan di pelbagai penjuru dunia, seperti di Nusantara, masih menguasai dunia secara riil selama 600 tahun lebih, hingga kesultanan-kesultanan tersebut digerogoti oleh kekuatan imprealis Eropa dan berpuncak pada dibubarkannya kekhalifahan di Turki, pada 1924 M.



        Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd, filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal (w. 1938 M) di era modern ini.



        Berarti ada faktor lain yang menyebabkan kemunduran dan kekalahan Islam dari Barat.



        Menilik sejarah, kita dapati pengaruh filsafat yang dipaparkan Ibn Sina (w. 428 H) dan Ibn Rusyd (w. 595 H) menjadi trigger bagi renaissance di Eropa. Dan pada waktu yang sama pemikiran keduanya juga mempengaruhi racikan theology Kristen melalui Thomas Aquinas dan theology Yahudi melalui Musa bin Maimun. Dan berikutnya mendorong lahirnya aliran Protestan sebagai pemberontakan atas Katholik.



        Maka ketika pada waktu yang sama, filsafat yang diusung keduanya kemudian dituduh menjadi penyebab kemunduran Islam, ini tentu jadi mengherankan.



        Di era modern ini, kita juga temukan Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M. Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN dll.



        Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa semua pengaruh yang terwujud tadi itu sebagai bentuk kemunduran.



        Lantas, apa penyebab kemunduran Islam? Jawabannya mungkin multi dimensi. Diantaranya melemahnya semangat keilmuan dan merentanya ruh peradaban Islam sendiri selepas melewati puncak kejayaannya setelah 700 tahun merajai peradaban dunia. Sehingga 700 tahun berikutnya adalah kemunduran dan kemunduran. Sementara pada saat yang sama peradaban Eropa tampak baru menemukan vitalitasnya dengan semangat pencapaian keilmuan, penjelajahan, perebutan kekuasaan, pencarian kekayaan, dan semangat mengalahkan musuh besar mereka, yaitu kekuasaan Islam.

        Dan faktor-faktor lain silakan digali dan disigi.



        Maka artikel ini, mungkin judulnya bisa diubah menjadi "Pengaruh Filsafat dalam Keilmuan Islam".











        AHA







        From: insistnet@yahoogroups.com [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On Behalf Of Abdul Rahman
        Sent: Wednesday, December 03, 2008 11:10 AM
        To: sma1bkt; insistnet@yahoogroups.com; parapemikir@yahoogroups.com; kultur_tandingan@yahoogroups.com; mediabaca@yahoogroups.com; pejuang_syariah@yahoogroups.com; liberation-youth@yahoogroups.com; administrasi_publik@yahoogroups.com
        Subject: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam



        *Pengantar*

        Lahirnya filsafat di Dunia Islam memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi
        ilmu kalam yang mendahuluinya. Sebelumnya, para mutakallimin memang telah
        menggunakan *mantiq* (logika) dalam tradisi kalam mereka, baik untuk
        membantah maupun menyusun argumentasi. Dalam hal ini, bukti paling akurat
        dapat dilacak dalam kitab *al-Fiqh al-Akbar, *karya Abu Hanifah (w. 147
        H/768 M).1 Selain menggunakan mantik, beliau juga menggunakan istilah
        filsafat, seperti *jawhar *(substabsi) dan *'aradh *(aksiden), yang *
        notabene* banyak digunakan Aristoles dalam buku-bukunya.

        Ini membuktikan, bahwa mantik* *sebagai teknik pengambilan kongklusi
        (kesimpulan) telah digunakan oleh ulama kaum Muslim pada abad ke-2 H/8 M.
        Hanya saja, ini tidak secara otomatis menunjukkan bahwa filsafat telah
        dikaji secara mendalam pada zaman itu. Bukti di atas hanya membuktikan
        pemanfaatan logika mantik dalam menghasilkan kongklusi. Kesimpulan ini juga
        tidak dapat digunakan untuk menarik kongklusi yang lebih luas mengenai
        kemungkinan logika telah dipelajari secara mendalam oleh para mutakallimin,
        sebagaimana logika yang diuraikan oleh Ibn Sina.2 Sebab, bukti yang akurat
        menunjukkan, bahwa perkembangan pemikiran filsafat Yunani di negeri Islam
        baru terjadi setelah aktivitas penerjemahan pada zaman Abbasiyah.

        Meski demikian, penggunaan logika (mantik), diakui atau tidak, telah membuka
        celah masuknya filsafat di Dunia Islam. Karena itu, pasca generasi Washil,
        filsafat Yunani kemudian dipelajari secara mendalam oleh ulama Muktazilah,
        separti Dhirar bin Amr, Abu Hudhail al-'Allaf, an-Nazhzham, dan lain-lain.
        Dari sinilah kemudian, lahir karya mereka, seperti *Kitâb ar-Radd 'alâ
        Aristhâlîs fî al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya* *Dhirar bin 'Amr,* Al-Jawâhir
        wa al-A'râdh *dan *Tathbît al-A'râdh*, karya Abu Hudhail al-'Allaf, *Kitâb
        al-Manthiq *dan* Kitâb al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya an-Nazhzham.3* *

        Di samping itu, penyebaran filsafat ini semakin meningkat, khususnya sejak
        al-Makmun, murid Abu Hudhail al-'Allaf, tokoh Muktazilah Baghdad, mendirikan
        Baitul Hikmah tahun 217 H/813 M; sebuah pusat kajian filsafat yang dipimpin
        oleh Yuhana bin Masawih. Di kota ini juga al-Kindi (w. 260 H/873 M) banyak
        berinteraksi dengan para penerjemah filsafat dari bahasa Yunani dan Syria ke
        dalam bahasa Arab, seperti Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M) dan Ibn
        Na'imah (w. 220 H/830 M).4 Di sinilah al-Kindi juga dibesarkan sebagai
        filosof Arab yang pertama. Setelah itu, menyusul nama-nama seperti al-Farabi
        (w. 339 H/951 M) dan Ibn Sina (w. 428 H/1049 M). Mereka adalah para filosof
        yang hidup di Timur. Di Barat, lahir nama-nama seperti Ibn Bajjah (478-503
        H/1099-1124 M), Ibn Thufail (w. 581 H/1185 M),5 dan Ibn Rusyd (w. 600 H/1217
        M).

        Secara umum, ciri filsafat mereka tidak jauh dari filsafat Yunani yang
        didominasi oleh Plato dan muridnya, Aristoteles. Baik pandangan al-Kindi,
        al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail maupun Ibn Rusyd, semuanya
        nyaris hanya membela pandangan Plato atau Aristoteles. Kadang-kadang mereka
        terlibat untuk mengkompromikan kedua pandangan tokoh ini, seperti yang
        dilakukan oleh al-Farabi, atau bahkan mencoba mengkompromikan Islam dengan
        pandangan kedua filosof Yunani tersebut, seperti yang dilakukan oleh
        al-Kindi6 atau Ibn Rusyd.7 Karena itu, tepat sekali apa yang dikemukakan
        oleh Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa mereka hanyalah para penjiplak (*
        al-muntahilûn*). Artinya, apa yang mereka tulis itu bukan merupakan
        pemikiran mereka sendiri, melainkan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan
        oleh para filosof Yunani sebelumnya. Jumlah mereka, kata an-Nabhani, tidak
        banyak, sehingga pandangan-pandangan mereka tidak menjadi arus utama
        pemikiran umat Islam pada zamannya.

        Sementara itu, filsafat Persia dan India juga berkembang di Dunia Islam,
        terutama setelah ditaklukkannya kedua wilayah tersebut pada zaman permulaan
        Islam. Hanya saja, kalau filsafat Yunani telah melahirkan para filosof
        Muslim, maka filsafat Persia dan India tidak. Salah satu faktornya adalah
        karena minimnya referensi kedua filsafat tersebut—kalau tidak boleh dibilang
        tidak ada—yang bisa dikaji oleh kaum Muslim.

        *
        Adakah Filsafat dalam Islam?*

        Secara harfiah, istilah filsafat itu berasal dari kata *philosophia. *Menurut
        Ibn Nadim (w. 380 H/985 M), mengutip keterangan Plutarch (± 100 M), istilah
        ini mula-mula digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM),8 yang kemudian
        diarabkan menjadi *al-falsafah*. Kemungkinan yang mengarabkan pertama kali
        adalah Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M), penerjemah buku *Timeaus*,
        karya Plato. Sebab, kata *philosophy *(Arab: *falsafah*) itu ada di dalam
        buku tersebut.9 Hanya saja, bukti yang paling otentik penggunaan istilah
        tersebut dapat ditemukan dalam *Kitab al-Falsafah al-Ulâ fî mâ dûna
        ath-Thabi'iyyah wa at-Tawhîd*, karya al-Kindi*.*10

        *Philosophia* itu sendiri berasal dari bahasa Greek (Yunani Kuno),
        yaitu *philos
        *dan *sophia. Philos* artinya cinta; atau *philia* berarti persahabatan,
        kasih sayang, kesukaan pada, atau keterikatan pada. *Sophia *berarti hikmah
        (*wisdom*), kebaikan, pengetahuan, keahlian, pengalaman praktis, dan
        intelegensi.11

        *Philosophia*, menurut al-Syahrastani (w. 548 H/1153 M), berarti *mahabbah
        al-hikmah* (cinta pada kebijaksanaan), dan orangnya (*faylasuf*)
        disebut *muhibb
        al-hikmah *(orang yang mencintai kebijaksanaan).12 Ini seperti yang
        dinyatakan oleh Socrates dalam *Mukhtashar Kitâb at-Tuffâhah *(Ringkasan
        Kitab Apel).13

        Saecara khusus, hikmah (*wisdom*) ini kemudian dibagi menjadi dua: *qawliyyah
        *(intelektual) dan *'amaliyyah *(praktis).14 Sebab, kebahagiaan (*happiness*)
        yang dikehendaki oleh filosof adalah substansinya; *virtuous activity is
        identical with happiness *(melakukan kebaikan adalah identik dengan
        kebahagiaan).15 Kebahagiaan itu sendiri hanya bisa diraih melalui *wisdom*,
        baik dengan mengetahui kebenaran (*knowledge of the good*) maupun
        melaksanakan kebaikan (*virtuous activity*).16

        Istilah filsafat ini kemudian digunakan oleh al-Kindi dengan konotasi:
        pengetahuan tentang hakikat sesuatu sesuai dengan kemampuan manusia.17
        Al-Farabi
        menyebutnya sebagai pengetahuan tentang eksistensi itu sendiri.18 Al-Khawarizmi
        menyebutnya pengetahuan tentang hakikat benda dan perbuatan yang berkaitan
        dengan mana yang lebih baik sehingga dapat diklasifikasikan: yang teoretis (
        *nazhari*) dan yang praktis (*'amali*).19

        Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa filsafat itu bukan merupakan
        pengetahuan *an sich, *tetapi juga merupakan cara pandang tentang berbagai
        hal, baik yang bersifat teoretis maupun praktis. Secara teoretis, filsafat
        menawarkan tentang apa itu kebenaran (*al-haq*)? Secara praktis, filsafat
        menawarkan tentang apa itu kebaikan (*al-khayr*)? Dari dua spektrum inilah
        kemudian filsafat merambah ke berbagai wilayah kehidupan manusia, sekaligus
        memberikan tawaran-tawaran solutifnya. Karena itu, dalam konteks inilah, Ibn
        Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M) berkesimpulan, bahwa filsafat adalah
        paham (isme) di luar agama para nabi. Disamping itu, filsafat memang ajaran
        yang murni dihasilkan oleh akal manusia.20

        Jika demikian faktanya, maka jelas filsafat itu—baik sebagai ajaran maupun
        pengetahuan—tidak ada dalam Islam. Sebab, Islam telah mengajarkan tentang *
        al-haq* (kebenaran) dan *al-khayr *(kebaikan), termasuk cara pandang yang
        khas tentang keduanya. Bukan hanya itu, Islam juga telah menjelaskan hakikat
        dan batasan akal, metode berpikir dan pemikiran yang dihasilkannya. Tentang
        yang terakhir ini, barangkali dapat merujuk buku *at-Tafkîr *karya Syaikh
        Taqiyuddin an-Nabhani.

        *
        Dampak Filsafat Terhadap Kemunduran Umat Islam*

        Harus ditegaskan kembali, bahwa pemikiran filosof pada zaman Kekhilafahan
        Islam memang bukan merupakan arus utama. Namun, pola berpikir mereka,
        khususnya penggunaan logika (mantik), telah merambah hampir ke seluruh
        bidang; mulai dari bidang akidah, usul fikih hingga tasawuf—meski fikih
        tetap harus dikecualikan dari penggunaan logika tersebut.

        Di bidang akidah, penggunaan logika (mantik) ini telah melahirkan perdebatan
        panjang di kalangan para ulama usuluddin sehingga melahirkan ilmu kalam.
        Lahirnya ilmu kalam bukannya mengakhiri masalah, tetapi justru sebaliknya.
        Ilmu kalam inilah yang menyebabkan akidah kaum Muslim diwarnai dengan
        perdebatan demi perdebatan. Akibatnya, akidah mereka telah kehilangan
        substansinya sebagai pondasi. Sebab, akidah tersebut telah *oleng*. Para
        ulama ushuluddin yang juga ulama ushul fikih itu kemudian membawa pola
        berpikir tersebut dalam bidang ushul fikih. Perdebatan tentang *hasan, qabîh,
        khayr, syarr, *sampai *muqaddimah* (premis) pun terbawa. Karena itu, tidak
        pelak lagi, ushul fikih pun dipenuhi dengan perdebatan ala mutakallimin.
        Akibatnya, ushul fikih tersebut telah kehilangan substansinya sebagai kaidah
        (pondasi), yang digunakan untuk menggali hukum.

        Fenomena pertama, diakui atau tidak, telah menyebabkan hilangnya gambaran
        kaum Muslim tentang *qadhâ'* dan *qadar*, takdir, surga, neraka, serta
        keimanan yang bulat kepada Allah. Kondisi ini diperparah dengan pandangan
        sufisme—yang banyak dipengaruhi filsafat Persia dan India—seputar kehidupan
        panteistik, asketik, dan lain-lain. Semuanya ini pada gilirannya menyebabkan
        disorientasi kehidupan kaum Muslim.

        Kemudian, fenomena kedua telah menyebabkan hilangnya ketajaman intelektual
        kaum Muslim dalam menyelesaikan persoalan. Daya kreativitas mereka menjadi
        tumpul. Ushul fikih berkembang, tetapi ijtihad* mandeg*; bukan semata-mata
        karena adanya seruan ditutupnya pintu ijtihad, tetapi juga karena hilangnya
        vitalitas ushul fikih sebagai kaidah *istinbâth* (penggalian hukum)*. *

        Setelah semuanya itu, maka sempurnalah kejumudan kaum Muslim sehingga mereka
        tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan baru yang silih berganti, yang
        mereka hadapi. Bertambahnya wilayah baru pada zaman Khilafah Utsmaniyah,
        diakui atau tidak, telah memunculkan persoalan baru. Akan tetapi, karena
        kemampuan ijtihad itu telah hilang, masalah pun akhirnya menumpuk. Beban
        mereka pun semakin hari semakin berat. Karena itu, ketika Barat bangkit
        dengan *renaissance*-nya, mereka pun bingung: menerima kemajuan Barat,
        dengan segala produknya, atau menolaknya. Pada saat itu, ada yang secara
        ekstrem menolak segala produk Barat, dan ada yang sebaliknya. Hanya saja,
        tidak ada satupun di antara mereka yang bisa membedakan: mana *tsaqâfah, *dan
        mana *'ulûm*; mana* hadhârah *dan mana *madaniyah. *

        Seiring dengan kakalahan kelompok yang pertama, maka semua produk Barat
        mulai diambil oleh kaum Muslim, mulai yang bersifat fisik sampai non-fisik.
        Dari sanalah, perundang-undangan ala Barat mulai diperkenalkan kepada kaum
        Muslim. Lalu model fikih *taqnîn* (yang berbentuk undang-undang dengan pasal
        perpasal) pun mulai muncul; sebut saja kitab *al-Ahkâm al-'Adliyyah. *Setelah
        itu, perundang-undangan Barat mulai masuk dan menggantikan
        perundang-undangan Islam. Kemudian terjadilah pemisahan mahkamah menjadi:
        sipil dan syariah. Demikian seterusnya hingga sedikit demi sedikit hukum
        Islam pun lenyap dari peredaran dan tidak lagi diterapkan, selain dalam
        bidang *ahwâl syakhshiyah.*

        Selanjutnya, tepat pada tanggal 3 Maret 1924 M, pemberlakukan hukum Islam
        pun diakhiri dengan dibubarkannya institusi Khilafah, dan dibekukannya Islam
        oleh Kamal Attaturk. Setelah itu, sampai saat ini, kehidupan kaum Muslim
        terus terpuruk. *Wallâhu a'lam.* [*Mohammad Maghfur Wachid*]**

        *==============*

        1. Abu Hanifah mengatakan, "Allah Swt. adalah satu (yang diketahui) bukan
        melalui angka, tetapi dengan cara, bahwa Dia tidak mempunyai sekutu." Lihat:
        Abu Hanifah, *Matan al-Fiqh al-Akhbar*, hlm. 323. Ini melanjutkan
        perdebatan Plato tentang angka, apakah angka merupakan substansi atau
        aksiden. Untuk keluar dari perdebatan tersebut, kelihatannya Abu Hanifah
        menggunakan jawaban taktis di atas.
        2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama
        *, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam
        kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal*, karya Pirtoes.
        *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam
        kitab
        *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan
        makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On
        Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai
        susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior
        Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui
        secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang
        menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya
        Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat
        untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab
        *Tonica, *karya Aristoteles. *Ketujuh*,* *pembahasan mengenai kesalahan
        berpikir yang terjadi dalam penyusunan argumentasi dan penggunaan dalil,
        yang terangkum dalam kitab *On Sophistical Refutations*, karya
        Aristoteles. *Kedelapan, *pembahasan yang berisi standar pidato yang
        bermanfaat, yang terangkum dalam kitab *Rethoric *karya Aristoteles. *
        Kesembilan*, pembahasan yang berisi ungkapan bersyair, yang terangkum
        dalam buku *Rethoric *karya Aristoteles. Ibn Sina, *Risâlah fî Aqsâm
        al-'Ulûm al-'Aqliyyah, *hlm. 271-272.
        3. Ibn al-Nadim, *al-Fihrist, *hlm. 288, 299 dan 286.
        4. Badawi, *al-Falsafah,* hlm. 156.
        5. Ibn Tufayl, *Hayy bin Yaqzhân*, ed. Ahmad Amīn, Dar al-Ma'arif, Mesir,
        1952, hlm. 62.
        6. Al-Kindi*, Rasâ'il al-Kindi, *hlm. 35 dan 36.
        7. Ibn Rusyd, *Fasl al-Maqâl* *fî mâ bayna al-Syari'ah wa al-Hikmah min
        al-Ittishâl*, hlm. 33.
        8. Ibn Nadim, *al-Fihrist, * Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, hlm. 400.
        9. *Ibid*. hlm. 402; Plato, *Timeaus, **
        http://books.mirror.org/gb.plato.html**.,* 19 November 2001.
        10. Ibn Nadim, *ibid, *hlm. 415.
        11. Tim Rosda, *Kamus, *hlm. 249.
        12. Al-Syahrastani, *al-Milal wa an-Nihal, *hlm. 364; Aristoteles,
        *Nicomachean
        Ethics*, Book I, Part 6,
        *http://books.mirror.org/gb.aristotle.html**.,*19 November 2001.
        13. Socrates, *Mukhtashar Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Suqrâth, *hlm.
        222;* *Aristoteles, *Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Aristhûtâlis, *hlm.
        234.* *Lihat: Plato, *Fîdûn wa Kitâb at-Tuffâhah,* ed. Ali Sami
        an-Nasysyar dan Abbas asy-Syarbini, Dar al-Ma'rifah, Mesir, 1974, hlm. 222
        dan 234.
        14. Lihat: Aristoteles, *Nicomachean Ethics*, *
        http://books.mirror.org/gb.aristotle.html**.,* 19 November 2001;*
        *Aristoteles,
        *Politics, **http://books.mirror.org/gb.aristotle.html**.,* 19 November
        2001.
        15. Aristoteles, *Ibid*.
        16. Aristoteles, *Prior Analytics, **
        http://books.mirror.org/gb.aristotle.html**.,* 19 November 2001.
        17. Al-Kindi, *Rasâ'il al-Kindi al-Falsafiyyah, *ed. Abu Ridah, Kairo,
        1950, Juz I, hlm. 97.
        18. Al-Farabi, *al-Jam' Bayn Ra'yay al-Hakîmayn, *ed. Albert Nashri
        Nader, al-Mathba'ah al-Kathulikah, Beirut, 1969, hlm. 81.
        19. Klasifikasi ini dilakukan oleh Aristoteles, yang telah membagi hikmah
        (*wisdom*) menjadi dua, yaitu praktis dan teoretis. Lihat: Aristoteles, *
        Nicomachean Ethics, *Book I, Part 8 dan 13, *
        http://books.mirror.org/gb.aristotle.html**.,* 19 November 2001*. *
        20. Ibn Qayyim, *Ighâthah al-Lahfân min Mashâyid al-Syaythân, *ed. Muhammad
        al-Faqqi, t.p., t.t., hlm. 257.

        --
        "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
        kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
        merekalah orang-orang yang beruntung."

        (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)

        [Non-text portions of this message have been removed]





        [Non-text portions of this message have been removed]
      • alif mthree
        Assalamu alaykum wr wb..,   Ustadz.., antara paragraf ketiga dan keempat saya masih belum paham. Mengapa filsafat dikatakan sebagai penyebab maju-mundurnya
        Message 3 of 27 , Dec 3 6:01 PM
          Assalamu'alaykum wr wb..,
           
          Ustadz.., antara paragraf ketiga dan keempat saya masih belum paham. Mengapa filsafat dikatakan sebagai penyebab maju-mundurnya Islam. Ada 2 hal yang terpikir bagi saya saat membaca 2 paragraf ini:
           
          1. Saya ambil contoh Kesultanan Aceh. Dalam masa kejayaannya kesultanan ini memiliki 2 tokoh yang cukup terkenal yang bahkan salah satunya adalah penasehat sultan yaitu Hamzah Fansuri dan Nuruddin al-Raniri. Sementara perdebatan antara kedua tokoh ini adalah seputar filsafat pula (tolong koreksi, saya pernah baca kalau al-Raniri tidak berdebat secara langsung dengan Hamzah Fansuri melainkan dengan murid dari Hamzah Fansuri). Meski dengan menggunakan logika sebagaimana menempatkan Mulla Sadra di bawah bahwasanya Hamzah Fansuri tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keilmuan Islam secara internasional kala itu, namun dia tetaplah seorang yang memiliki kedudukan yang berpengaruh dalam kesultanan kala itu. Dari sini saya berkesimpulan (IMHO) dengan kedudukan Hamzah Fansuri sebagai penasehat sultan, Kesultanan Aceh tetap maju. Maka premis bahwasanya kemajuan filsafat berpengaruh terhadap kemunduran Islam, hingga detik ini saya masih meragukannya.
          Mohon penjelasannya, ya ustadz...
           
          2. Pada era al-Makmun penerjemahan karya2 pemikir Yunani dilakukan secara besar2an. Dan ini berlanjut pada 2 khalifah setelahnya. Baitul Hikmah dibangun oleh al-Makmun (mohon dikoreksi), sementara kita tahu penelitian yang dilakukan dalam Baitul Hikmah tidak sekedar pemikiran filsafat Yunani namun juga ilmu-ilmu yang sifatnya humaniora dan juga eksakta seperti matematika, astronomi, geografi, kimian, kedokteran, dll. Di sisi lain, justru banyak pembukaan negeri2 (futuhul buldan) baru pada era al-Makmun sehingga secara geografis wilayah kekuasaan kekhalifahan kala itu bertambah luas. Bahkan ada suatu kisah manakala ada seorang muslimah yang dilecehkan oleh salah satu penduduk Romawi lalu berakhir dengan perang karena Romawi kala itu tidak mau menyerahkan lelaki brengsek itu kepada Kekhalifahan Islam untuk dihukum. Saat itu Imam Ahmad yang mendekam dalam penjara pun mendukung Khalifah al-Makmun. Artinya bahwa saat itu (IMHO) adalah salah satu bagian dari
          kejayaan peradaban Islam, aspek keilmuan berkembang pesat, wilayah geografis yang luas, dan Islam berada pada posisi yang terhormat. Sementara kita tahu al-Makmun tidak sekedar orang yang berperan dalam melakukan penerjemahan besar2an karya2 pemikir Yunani namun juga ia adalah salah seorang pengikut Mu'tazilah. Ini bagaimana?
           
          Sebenarnya ada satu lagi yang terpikir bagi saya saat pertama membaca artikel awal postingan ini, namun saya lupa dan memang awalnya juga saya tidak mau menanggapi karena jelas artikel tsb tidak membuktikan apa2 dari judul yang dimaksud. Namun, berhubung Ustadz al-Kattani menanggapi saya berharap ada 'sesuatu' yang bisa saya dapatkan.
           
          Mohon penjelasannya...

          --- Pada Kam, 4/12/08, alkattani <alkattani1@...> menulis:

          Dari: alkattani <alkattani1@...>
          Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
          Kepada: insistnet@yahoogroups.com
          Tanggal: Kamis, 4 Desember, 2008, 12:38 AM








          Artikel ini cukup berhasil menunjukkan adanya pengaruh filsafat dalam tradisi keilmuan Islam. Namun kurang berhasil membuktikan bahwa keterpengaruhan itu menjadi faktor besar penyebab kemunduran Islam.

          Benar filsafat diintroduksi dalam keilmuan Islam di abad 2 hijriyah. Namun kita juga harus mencermati bahwa puncak filsafat dalam Islam berujung pada Ibn Rusyd yang wafat pada 595 H.

          Pada nyatanya, selepas wafatnya Ibnu Rusyd, Islam dan kebudayaannya melalui Khilafah Utsmaniah dan beberapa kesultanan di pelbagai penjuru dunia, seperti di Nusantara, masih menguasai dunia secara riil selama 600 tahun lebih, hingga kesultanan-kesultan an tersebut digerogoti oleh kekuatan imprealis Eropa dan berpuncak pada dibubarkannya kekhalifahan di Turki, pada 1924 M.

          Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd, filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal (w. 1938 M) di era modern ini.

          Berarti ada faktor lain yang menyebabkan kemunduran dan kekalahan Islam dari Barat.

          Menilik sejarah, kita dapati pengaruh filsafat yang dipaparkan Ibn Sina (w. 428 H) dan Ibn Rusyd (w. 595 H) menjadi trigger bagi renaissance di Eropa. Dan pada waktu yang sama pemikiran keduanya juga mempengaruhi racikan theology Kristen melalui Thomas Aquinas dan theology Yahudi melalui Musa bin Maimun. Dan berikutnya mendorong lahirnya aliran Protestan sebagai pemberontakan atas Katholik.

          Maka ketika pada waktu yang sama, filsafat yang diusung keduanya kemudian dituduh menjadi penyebab kemunduran Islam, ini tentu jadi mengherankan.

          Di era modern ini, kita juga temukan Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M. Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN dll.

          Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa semua pengaruh yang terwujud tadi itu sebagai bentuk kemunduran.

          Lantas, apa penyebab kemunduran Islam? Jawabannya mungkin multi dimensi. Diantaranya melemahnya semangat keilmuan dan merentanya ruh peradaban Islam sendiri selepas melewati puncak kejayaannya setelah 700 tahun merajai peradaban dunia. Sehingga 700 tahun berikutnya adalah kemunduran dan kemunduran. Sementara pada saat yang sama peradaban Eropa tampak baru menemukan vitalitasnya dengan semangat pencapaian keilmuan, penjelajahan, perebutan kekuasaan, pencarian kekayaan, dan semangat mengalahkan musuh besar mereka, yaitu kekuasaan Islam.

          Dan faktor-faktor lain silakan digali dan disigi.

          Maka artikel ini, mungkin judulnya bisa diubah menjadi "Pengaruh Filsafat dalam Keilmuan Islam".

          AHA

          From: insistnet@yahoogrou ps.com [mailto:insistnet@yahoogrou ps.com] On Behalf Of Abdul Rahman
          Sent: Wednesday, December 03, 2008 11:10 AM
          To: sma1bkt; insistnet@yahoogrou ps.com; parapemikir@ yahoogroups. com; kultur_tandingan@ yahoogroups. com; mediabaca@yahoogrou ps.com; pejuang_syariah@ yahoogroups. com; liberation-youth@ yahoogroups. com; administrasi_ publik@yahoogrou ps.com
          Subject: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

          *Pengantar*

          Lahirnya filsafat di Dunia Islam memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi
          ilmu kalam yang mendahuluinya. Sebelumnya, para mutakallimin memang telah
          menggunakan *mantiq* (logika) dalam tradisi kalam mereka, baik untuk
          membantah maupun menyusun argumentasi. Dalam hal ini, bukti paling akurat
          dapat dilacak dalam kitab *al-Fiqh al-Akbar, *karya Abu Hanifah (w. 147
          H/768 M).1 Selain menggunakan mantik, beliau juga menggunakan istilah
          filsafat, seperti *jawhar *(substabsi) dan *'aradh *(aksiden), yang *
          notabene* banyak digunakan Aristoles dalam buku-bukunya.

          Ini membuktikan, bahwa mantik* *sebagai teknik pengambilan kongklusi
          (kesimpulan) telah digunakan oleh ulama kaum Muslim pada abad ke-2 H/8 M.
          Hanya saja, ini tidak secara otomatis menunjukkan bahwa filsafat telah
          dikaji secara mendalam pada zaman itu. Bukti di atas hanya membuktikan
          pemanfaatan logika mantik dalam menghasilkan kongklusi. Kesimpulan ini juga
          tidak dapat digunakan untuk menarik kongklusi yang lebih luas mengenai
          kemungkinan logika telah dipelajari secara mendalam oleh para mutakallimin,
          sebagaimana logika yang diuraikan oleh Ibn Sina.2 Sebab, bukti yang akurat
          menunjukkan, bahwa perkembangan pemikiran filsafat Yunani di negeri Islam
          baru terjadi setelah aktivitas penerjemahan pada zaman Abbasiyah.

          Meski demikian, penggunaan logika (mantik), diakui atau tidak, telah membuka
          celah masuknya filsafat di Dunia Islam. Karena itu, pasca generasi Washil,
          filsafat Yunani kemudian dipelajari secara mendalam oleh ulama Muktazilah,
          separti Dhirar bin Amr, Abu Hudhail al-'Allaf, an-Nazhzham, dan lain-lain.
          Dari sinilah kemudian, lahir karya mereka, seperti *Kitâb ar-Radd 'alâ
          Aristhâlîs fî al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya* *Dhirar bin 'Amr,* Al-Jawâhir
          wa al-A'râdh *dan *Tathbît al-A'râdh*, karya Abu Hudhail al-'Allaf, *Kitâb
          al-Manthiq *dan* Kitâb al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya an-Nazhzham. 3* *

          Di samping itu, penyebaran filsafat ini semakin meningkat, khususnya sejak
          al-Makmun, murid Abu Hudhail al-'Allaf, tokoh Muktazilah Baghdad, mendirikan
          Baitul Hikmah tahun 217 H/813 M; sebuah pusat kajian filsafat yang dipimpin
          oleh Yuhana bin Masawih. Di kota ini juga al-Kindi (w. 260 H/873 M) banyak
          berinteraksi dengan para penerjemah filsafat dari bahasa Yunani dan Syria ke
          dalam bahasa Arab, seperti Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M) dan Ibn
          Na'imah (w. 220 H/830 M).4 Di sinilah al-Kindi juga dibesarkan sebagai
          filosof Arab yang pertama. Setelah itu, menyusul nama-nama seperti al-Farabi
          (w. 339 H/951 M) dan Ibn Sina (w. 428 H/1049 M). Mereka adalah para filosof
          yang hidup di Timur. Di Barat, lahir nama-nama seperti Ibn Bajjah (478-503
          H/1099-1124 M), Ibn Thufail (w. 581 H/1185 M),5 dan Ibn Rusyd (w. 600 H/1217
          M).

          Secara umum, ciri filsafat mereka tidak jauh dari filsafat Yunani yang
          didominasi oleh Plato dan muridnya, Aristoteles. Baik pandangan al-Kindi,
          al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail maupun Ibn Rusyd, semuanya
          nyaris hanya membela pandangan Plato atau Aristoteles. Kadang-kadang mereka
          terlibat untuk mengkompromikan kedua pandangan tokoh ini, seperti yang
          dilakukan oleh al-Farabi, atau bahkan mencoba mengkompromikan Islam dengan
          pandangan kedua filosof Yunani tersebut, seperti yang dilakukan oleh
          al-Kindi6 atau Ibn Rusyd.7 Karena itu, tepat sekali apa yang dikemukakan
          oleh Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa mereka hanyalah para penjiplak (*
          al-muntahilûn* ). Artinya, apa yang mereka tulis itu bukan merupakan
          pemikiran mereka sendiri, melainkan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan
          oleh para filosof Yunani sebelumnya. Jumlah mereka, kata an-Nabhani, tidak
          banyak, sehingga pandangan-pandangan mereka tidak menjadi arus utama
          pemikiran umat Islam pada zamannya.

          Sementara itu, filsafat Persia dan India juga berkembang di Dunia Islam,
          terutama setelah ditaklukkannya kedua wilayah tersebut pada zaman permulaan
          Islam. Hanya saja, kalau filsafat Yunani telah melahirkan para filosof
          Muslim, maka filsafat Persia dan India tidak. Salah satu faktornya adalah
          karena minimnya referensi kedua filsafat tersebut—kalau tidak boleh dibilang
          tidak ada—yang bisa dikaji oleh kaum Muslim.

          *
          Adakah Filsafat dalam Islam?*

          Secara harfiah, istilah filsafat itu berasal dari kata *philosophia. *Menurut
          Ibn Nadim (w. 380 H/985 M), mengutip keterangan Plutarch (± 100 M), istilah
          ini mula-mula digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM),8 yang kemudian
          diarabkan menjadi *al-falsafah* . Kemungkinan yang mengarabkan pertama kali
          adalah Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M), penerjemah buku *Timeaus*,
          karya Plato. Sebab, kata *philosophy *(Arab: *falsafah*) itu ada di dalam
          buku tersebut.9 Hanya saja, bukti yang paling otentik penggunaan istilah
          tersebut dapat ditemukan dalam *Kitab al-Falsafah al-Ulâ fî mâ dûna
          ath-Thabi'iyyah wa at-Tawhîd*, karya al-Kindi*.*10

          *Philosophia* itu sendiri berasal dari bahasa Greek (Yunani Kuno),
          yaitu *philos
          *dan *sophia. Philos* artinya cinta; atau *philia* berarti persahabatan,
          kasih sayang, kesukaan pada, atau keterikatan pada. *Sophia *berarti hikmah
          (*wisdom*), kebaikan, pengetahuan, keahlian, pengalaman praktis, dan
          intelegensi. 11

          *Philosophia* , menurut al-Syahrastani (w. 548 H/1153 M), berarti *mahabbah
          al-hikmah* (cinta pada kebijaksanaan) , dan orangnya (*faylasuf*)
          disebut *muhibb
          al-hikmah *(orang yang mencintai kebijaksanaan) .12 Ini seperti yang
          dinyatakan oleh Socrates dalam *Mukhtashar Kitâb at-Tuffâhah *(Ringkasan
          Kitab Apel).13

          Saecara khusus, hikmah (*wisdom*) ini kemudian dibagi menjadi dua: *qawliyyah
          *(intelektual) dan *'amaliyyah *(praktis).14 Sebab, kebahagiaan (*happiness* )
          yang dikehendaki oleh filosof adalah substansinya; *virtuous activity is
          identical with happiness *(melakukan kebaikan adalah identik dengan
          kebahagiaan) .15 Kebahagiaan itu sendiri hanya bisa diraih melalui *wisdom*,
          baik dengan mengetahui kebenaran (*knowledge of the good*) maupun
          melaksanakan kebaikan (*virtuous activity*).16

          Istilah filsafat ini kemudian digunakan oleh al-Kindi dengan konotasi:
          pengetahuan tentang hakikat sesuatu sesuai dengan kemampuan manusia.17
          Al-Farabi
          menyebutnya sebagai pengetahuan tentang eksistensi itu sendiri.18 Al-Khawarizmi
          menyebutnya pengetahuan tentang hakikat benda dan perbuatan yang berkaitan
          dengan mana yang lebih baik sehingga dapat diklasifikasikan: yang teoretis (
          *nazhari*) dan yang praktis (*'amali*).19

          Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa filsafat itu bukan merupakan
          pengetahuan *an sich, *tetapi juga merupakan cara pandang tentang berbagai
          hal, baik yang bersifat teoretis maupun praktis. Secara teoretis, filsafat
          menawarkan tentang apa itu kebenaran (*al-haq*)? Secara praktis, filsafat
          menawarkan tentang apa itu kebaikan (*al-khayr*) ? Dari dua spektrum inilah
          kemudian filsafat merambah ke berbagai wilayah kehidupan manusia, sekaligus
          memberikan tawaran-tawaran solutifnya. Karena itu, dalam konteks inilah, Ibn
          Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M) berkesimpulan, bahwa filsafat adalah
          paham (isme) di luar agama para nabi. Disamping itu, filsafat memang ajaran
          yang murni dihasilkan oleh akal manusia.20

          Jika demikian faktanya, maka jelas filsafat itu—baik sebagai ajaran maupun
          pengetahuan—tidak ada dalam Islam. Sebab, Islam telah mengajarkan tentang *
          al-haq* (kebenaran) dan *al-khayr *(kebaikan), termasuk cara pandang yang
          khas tentang keduanya. Bukan hanya itu, Islam juga telah menjelaskan hakikat
          dan batasan akal, metode berpikir dan pemikiran yang dihasilkannya. Tentang
          yang terakhir ini, barangkali dapat merujuk buku *at-Tafkîr *karya Syaikh
          Taqiyuddin an-Nabhani.

          *
          Dampak Filsafat Terhadap Kemunduran Umat Islam*

          Harus ditegaskan kembali, bahwa pemikiran filosof pada zaman Kekhilafahan
          Islam memang bukan merupakan arus utama. Namun, pola berpikir mereka,
          khususnya penggunaan logika (mantik), telah merambah hampir ke seluruh
          bidang; mulai dari bidang akidah, usul fikih hingga tasawuf—meski fikih
          tetap harus dikecualikan dari penggunaan logika tersebut.

          Di bidang akidah, penggunaan logika (mantik) ini telah melahirkan perdebatan
          panjang di kalangan para ulama usuluddin sehingga melahirkan ilmu kalam.
          Lahirnya ilmu kalam bukannya mengakhiri masalah, tetapi justru sebaliknya.
          Ilmu kalam inilah yang menyebabkan akidah kaum Muslim diwarnai dengan
          perdebatan demi perdebatan. Akibatnya, akidah mereka telah kehilangan
          substansinya sebagai pondasi. Sebab, akidah tersebut telah *oleng*. Para
          ulama ushuluddin yang juga ulama ushul fikih itu kemudian membawa pola
          berpikir tersebut dalam bidang ushul fikih. Perdebatan tentang *hasan, qabîh,
          khayr, syarr, *sampai *muqaddimah* (premis) pun terbawa. Karena itu, tidak
          pelak lagi, ushul fikih pun dipenuhi dengan perdebatan ala mutakallimin.
          Akibatnya, ushul fikih tersebut telah kehilangan substansinya sebagai kaidah
          (pondasi), yang digunakan untuk menggali hukum.

          Fenomena pertama, diakui atau tidak, telah menyebabkan hilangnya gambaran
          kaum Muslim tentang *qadhâ'* dan *qadar*, takdir, surga, neraka, serta
          keimanan yang bulat kepada Allah. Kondisi ini diperparah dengan pandangan
          sufisme—yang banyak dipengaruhi filsafat Persia dan India—seputar kehidupan
          panteistik, asketik, dan lain-lain. Semuanya ini pada gilirannya menyebabkan
          disorientasi kehidupan kaum Muslim.

          Kemudian, fenomena kedua telah menyebabkan hilangnya ketajaman intelektual
          kaum Muslim dalam menyelesaikan persoalan. Daya kreativitas mereka menjadi
          tumpul. Ushul fikih berkembang, tetapi ijtihad* mandeg*; bukan semata-mata
          karena adanya seruan ditutupnya pintu ijtihad, tetapi juga karena hilangnya
          vitalitas ushul fikih sebagai kaidah *istinbâth* (penggalian hukum)*. *

          Setelah semuanya itu, maka sempurnalah kejumudan kaum Muslim sehingga mereka
          tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan baru yang silih berganti, yang
          mereka hadapi. Bertambahnya wilayah baru pada zaman Khilafah Utsmaniyah,
          diakui atau tidak, telah memunculkan persoalan baru. Akan tetapi, karena
          kemampuan ijtihad itu telah hilang, masalah pun akhirnya menumpuk. Beban
          mereka pun semakin hari semakin berat. Karena itu, ketika Barat bangkit
          dengan *renaissance* -nya, mereka pun bingung: menerima kemajuan Barat,
          dengan segala produknya, atau menolaknya. Pada saat itu, ada yang secara
          ekstrem menolak segala produk Barat, dan ada yang sebaliknya. Hanya saja,
          tidak ada satupun di antara mereka yang bisa membedakan: mana *tsaqâfah, *dan
          mana *'ulûm*; mana* hadhârah *dan mana *madaniyah. *

          Seiring dengan kakalahan kelompok yang pertama, maka semua produk Barat
          mulai diambil oleh kaum Muslim, mulai yang bersifat fisik sampai non-fisik.
          Dari sanalah, perundang-undangan ala Barat mulai diperkenalkan kepada kaum
          Muslim. Lalu model fikih *taqnîn* (yang berbentuk undang-undang dengan pasal
          perpasal) pun mulai muncul; sebut saja kitab *al-Ahkâm al-'Adliyyah. *Setelah
          itu, perundang-undangan Barat mulai masuk dan menggantikan
          perundang-undangan Islam. Kemudian terjadilah pemisahan mahkamah menjadi:
          sipil dan syariah. Demikian seterusnya hingga sedikit demi sedikit hukum
          Islam pun lenyap dari peredaran dan tidak lagi diterapkan, selain dalam
          bidang *ahwâl syakhshiyah. *

          Selanjutnya, tepat pada tanggal 3 Maret 1924 M, pemberlakukan hukum Islam
          pun diakhiri dengan dibubarkannya institusi Khilafah, dan dibekukannya Islam
          oleh Kamal Attaturk. Setelah itu, sampai saat ini, kehidupan kaum Muslim
          terus terpuruk. *Wallâhu a'lam.* [*Mohammad Maghfur Wachid*]**

          *=========== ===*

          1. Abu Hanifah mengatakan, "Allah Swt. adalah satu (yang diketahui) bukan
          melalui angka, tetapi dengan cara, bahwa Dia tidak mempunyai sekutu." Lihat:
          Abu Hanifah, *Matan al-Fiqh al-Akhbar*, hlm. 323. Ini melanjutkan
          perdebatan Plato tentang angka, apakah angka merupakan substansi atau
          aksiden. Untuk keluar dari perdebatan tersebut, kelihatannya Abu Hanifah
          menggunakan jawaban taktis di atas.
          2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama
          *, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam
          kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes.
          *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam
          kitab
          *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan
          makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On
          Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai
          susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior
          Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui
          secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang
          menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya
          Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat
          untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab
          *Tonica, *karya Aristoteles. *Ketujuh*,* *pembahasan mengenai kesalahan
          berpikir yang terjadi dalam penyusunan argumentasi dan penggunaan dalil,
          yang terangkum dalam kitab *On Sophistical Refutations* , karya
          Aristoteles. *Kedelapan, *pembahasan yang berisi standar pidato yang
          bermanfaat, yang terangkum dalam kitab *Rethoric *karya Aristoteles. *
          Kesembilan*, pembahasan yang berisi ungkapan bersyair, yang terangkum
          dalam buku *Rethoric *karya Aristoteles. Ibn Sina, *Risâlah fî Aqsâm
          al-'Ulûm al-'Aqliyyah, *hlm. 271-272.
          3. Ibn al-Nadim, *al-Fihrist, *hlm. 288, 299 dan 286.
          4. Badawi, *al-Falsafah, * hlm. 156.
          5. Ibn Tufayl, *Hayy bin Yaqzhân*, ed. Ahmad Amīn, Dar al-Ma'arif, Mesir,
          1952, hlm. 62.
          6. Al-Kindi*, Rasâ'il al-Kindi, *hlm. 35 dan 36.
          7. Ibn Rusyd, *Fasl al-Maqâl* *fî mâ bayna al-Syari'ah wa al-Hikmah min
          al-Ittishâl*, hlm. 33.
          8. Ibn Nadim, *al-Fihrist, * Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, hlm. 400.
          9. *Ibid*. hlm. 402; Plato, *Timeaus, **
          http://books. mirror.org/ gb.plato. html**.,* 19 November 2001.
          10. Ibn Nadim, *ibid, *hlm. 415.
          11. Tim Rosda, *Kamus, *hlm. 249.
          12. Al-Syahrastani, *al-Milal wa an-Nihal, *hlm. 364; Aristoteles,
          *Nicomachean
          Ethics*, Book I, Part 6,
          *http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001.
          13. Socrates, *Mukhtashar Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Suqrâth, *hlm.
          222;* *Aristoteles, *Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Aristhûtâlis, *hlm.
          234.* *Lihat: Plato, *Fîdûn wa Kitâb at-Tuffâhah,* ed. Ali Sami
          an-Nasysyar dan Abbas asy-Syarbini, Dar al-Ma'rifah, Mesir, 1974, hlm. 222
          dan 234.
          14. Lihat: Aristoteles, *Nicomachean Ethics*, *
          http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001;*
          *Aristoteles,
          *Politics, **http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November
          2001.
          15. Aristoteles, *Ibid*.
          16. Aristoteles, *Prior Analytics, **
          http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001.
          17. Al-Kindi, *Rasâ'il al-Kindi al-Falsafiyyah, *ed. Abu Ridah, Kairo,
          1950, Juz I, hlm. 97.
          18. Al-Farabi, *al-Jam' Bayn Ra'yay al-Hakîmayn, *ed. Albert Nashri
          Nader, al-Mathba'ah al-Kathulikah, Beirut, 1969, hlm. 81.
          19. Klasifikasi ini dilakukan oleh Aristoteles, yang telah membagi hikmah
          (*wisdom*) menjadi dua, yaitu praktis dan teoretis. Lihat: Aristoteles, *
          Nicomachean Ethics, *Book I, Part 8 dan 13, *
          http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001*. *
          20. Ibn Qayyim, *Ighâthah al-Lahfân min Mashâyid al-Syaythân, *ed. Muhammad
          al-Faqqi, t.p., t.t., hlm. 257.

          --
          "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
          kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
          merekalah orang-orang yang beruntung."

          (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)

          [Non-text portions of this message have been removed]

          [Non-text portions of this message have been removed]
















          ___________________________________________________________________________
          Dapatkan nama yang Anda sukai!
          Sekarang Anda dapat memiliki email di @... dan @....
          http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

          [Non-text portions of this message have been removed]
        • Qosim Nursheha Dzulhadi
          SALAM, SAYA INGIN NIMRUNG SEDIKIT SAJA TENTANG WACANCA FILSAFAT OLEH UST. KATTANI INI, Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd, filsafat tidak lagi
          Message 4 of 27 , Dec 3 6:58 PM
            SALAM,
            SAYA INGIN NIMRUNG SEDIKIT SAJA TENTANG WACANCA FILSAFAT OLEH UST. KATTANI INI,


            Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd, filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal (w. 1938 M) di era modern ini. QOSIM: Kalau langsung melompat dari Ibnu Rusyd ke Mulla Shadra dang Iqbal, rasanya ada yang janggal. Karena di sana ada Nashiruddin al-Thusi. Dia ahli Matematika, astronomi, optik, geografi, farmakologi, filsfat, musik, dan mineralogi terkemuka setelah invasi Mongol. Pada usia 60 tahun, tepatnya pada tahun 657/1259, dia berhasil membujuk Hulagu untuk membangun observatorium (rasad khanah).Karya al-Thusi, yang dicatat oleh Brockelmann sekiatr 56 judul. Filsafatnya mencakup: Metafisika, Jiwa, Moral, Politik,
            dan Kenabian.
            Selain al-Thusi, disana ada al-Suhrawardi al-Maqtul dengan konsep illuminasi (isyarq)nya. Bahkan ia dibandingkan dengan filsuf Barat, Bertrand Husserl. Filsafatnya: Metafisika dan Cahaya, Epistemologi, Kosmologi, Psikologi.Baru kemudian Mulla Shadra. Dimana filsafatnya mencakup: Epistemologi, Metafisika (mencakup: wujud, jiwa, moral. Baru kemudian rantainya ditutup oleh Muhammaq Iqbal.
            Yang ingin saya kemukakan adalah sosok filsufnya, bukan filsafatnya an sich. Dimana setiap filsuf itu memberikan sumbangan yang tak kecil pada keilmuan Islam. Termasuk Iqbal.
            Ustadz Kattani: Di era modern ini, kita juga temukan Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M. Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN dll.QOSIM: Saya koreksi dikit aja. Mungkin maksud Ustadz Kattani Jamaluddin al-Afghani, bukan Jalaluddin.Di beberapa negara Islam masih banyak pegiat Filsafat. Di Darul Ulum (Mesir) misalnya, kita mengenal Athif al-Iraqi. Artinya, pengaruh filsfat masih kuat dalam ranah keilmuan Islam. Dan wacana yang terus dikembangan saat ini adalah Filsafat Ilmu. Ini menarik, apakah bisa dikaitkan dengan Islam? Ada yang ingin sharing? Tafadhal ustadz.Qosim,http://qosim-deedat.blogspot.com/
            .

























            [Non-text portions of this message have been removed]
          • fauzi dex
            http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg06734.html Al Qur an, dalam berbagai Media Hampir semua rumah orang Islam menyimpan Al Quran dan kita tahu
            Message 5 of 27 , Dec 3 7:18 PM
              http://www.mail-archive.com/jamaah@.../msg06734.html

              Al Qur'an, dalam berbagai Media

              Hampir semua rumah orang Islam menyimpan Al Quran dan kita tahu banyak
              sekali orang Islam yang membacanya. Di Negeri kita ini saja, banyak sekali
              orang yang hafal Al Quran.
              Yang kita tidak tahu persis di negeri kita sendiri yang mayoritas Islam ini,
              berapa orangkah yang memahami kandungan Al Quran?
              Sebagai pemilik Al Quran, kita mesti malakukan apa yang bisa dilakukan bagi
              tujuan utama memasyarakatkan pemahaman , penghayatan dan pemahaman Al
              Quran.
              Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari
              Al-Qur`an dan mengajarkannya." (HR Bukhari - Muslim). Mempelajari Al-Qur`an
              dan mengajarkannya adalah pekerjaan mulia sehingga mendapatkan predikat
              terbaik dari Allah dan rasul-Nya. Dan, masih banyak lagi keutamaan dan
              pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
              Bahkan, satu huruf pun yang dibaca menjadi kebaikan yang dilipatgandakan
              menjadi sepuluh kebaikan. Andai saja seseorang membaca, menelaah, menghafal,
              dan mempelajarinya tentu ia akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang tidak
              terbilang besarnya.
              Namun, pada praktiknya, sebagian orang sering mengalami kesulitan dalam
              mempelajari Al-Qur`an, terutama bagi pemula. Yaitu, disebabkan oleh beberapa
              faktor, di antaranya minimnya penguasaan bahasa Arab, sistematika susunan
              ayat-ayat Al-Qur`an yang berpindah-pindah tema dari ayat ke ayat, dan masih
              sedikitnya ayat-ayat yang telah dihafal. Tentu lebih berat lagi bagi mereka
              yang benar-benar tidak bisa baca Al-Qur`an.

               Kesulitan-kesulitan di atas bisa menjadikan seseorang enggan belajar
              Al-Qur`an. Tentu ini adalah problema yang mesti diselesaikan dan dicari
              solusinya agar belajar Al-Qur`an tidak menjadi beban. Sebab, Allah juga
              menyukai orang yang membuat kemudahan dalam suatu urusan.
              Hingga hari ini, sudah banyak media yang memuat Al Qur'an di dalamnya.
              Apalagi di jaman teknologi yang begitu pesat sekarang ini. Dari dulunya
              hanya Mushaf Al Qur'an yang hingga kini banyak penerbit Islam yang juga
              mencetak mushaf Al Qur'an ( untuk Indonesia tentunya dibawah kendali
              Departemen Agama RI dan Majelis Ulama Indonesia ). Kemudian, ada yang
              berbentuk kaset dan Murottal Al Qur'an, VCD Murottal Al Qur'an ( baik hanya
              Murottal nya saja, ada Terjemahannya baik Teks maupun Suara ). Tak
              ketinggalan melalui media MP3 Murottal Al Qur'an.
              Kemudian diikuti, oleh hadirnya software Al Qur'an Digital yang menampilkan
              ayat-ayat Al Quran dalam tulisan Arab dan terjemahan Indonesia.


              Sebuah penerbit telah menerbitkan sebuah buku Pintar Al Qur'an yang disusun
              oleh Abu Nizhan. Buku ini menjadi salah satu solusi tepat dalam mendapatkan
              kemudahan mempelajari atau mengkaji Al-Qur`an.
              Buku ini berisi indeks Al-Qur`an dalam bahasa Indonesia untuk mempermudah
              mencari ayat-ayat tertentu sesuai kebutuhan, berisi tema besar isi
              kandungan Al-Qur`an yang disusun sesuai judul -mulai dari rukun Islam, rukun
              iman, muamalah, dan seterusnya- sehingga membantu mempermudah dalam mencari
              ayat sekaligus memahami kandungan Al-Qur`an, serta membahas ilmu tajwid
              sebagai pegangan utama dalam membaca Al-Qur`an.
              Selain itu, dibahas pula ulumul Qur`an yang meliputi tafsir dan kitab-kitab
              tafsir. Terakhir, yaitu membahas sebab-sebab diturunkannya Al-Qur`an (asbabu
              nuzul) yang merupakan salah satu bagian pokok dalam memahami kandungan
              Al-Qur`an. Buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang hendak
              berhubungan dengan Al-Qur`an. Terutama bagi yang ingin menelaah atau
              mempelajari Al-Qur`an.




              Untuk anak-anak, telah ada Atlas AL-Qur'an Untuk Anak : Kisah Dan Perjalanan
              Para Nabi & Rasul yang diterbitkan oleh Pena. Ini merupakan sebuah metode
              baru dunia buku Islam untuk anak, guna memperkenalkan nilai-nilai historis
              dalam AI-Qur'an. Menghidupkan kembali konsep Ilahiyah dengan memasukkan
              fakta sejarah yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan unsur cerita
              dan gambar, agar dapat difahami lebih mendalam di benak anak-anak muslim,
              sekaligus mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka. Buku ini
              memaparkan banyak peta lokasi dan bukti-bukti sejarah kehidupan para Nabi
              dan Rasul seperti yang dijelaskan Al-Qur'an. Diolah dengan visualisasi
              gambar yang memikat menjadikan buku ini sangat penting untuk dibaca oleh
              anak-anak.
              Bahkan ada Chatting Al Qur'an. Berikut ini buddy list yang dapat anda
              manfaatkan dalam CHAT dengan BOT QURAN :
              Yahoo!: Quran.Noor
              Yahoo!: Quran.Mubeen
              MSN : [EMAIL PROTECTED]
              MSN : [EMAIL PROTECTED]
              GTalk-Jabber: [EMAIL PROTECTED]
              AOL: QuranNoble or RafeeqA
              ICQ : 44421074 or 11431053
              Selamat mencoba, dan sering-seringlah berintraksi dengan Al Qur'an.

              Di tengah upaya gigih kaum sekularisme, liberalisme, dan pluralisme
              memisahkan umat dari Al Quran, hadir I Love My Al Quran yang diharapkan
              dapat mengilhami lahirnya generasi Qurani yang tidak hanya membaca, tapi
              juga berupaya memahami, menghayati, serta mengamalkan Al Quran dalam semua
              aspek kehidupan sehingga dirasakan keberadaan Al Quran sebagai "Hudan"
              (pedoman) hidup serta sebagai "Al Furqan" (pembeda) antara yang haq dan yang
              batil.
              Untuk permainan anak, ada sebuah permainan Ular Tangga, dimana Papan
              permainan ular tangga tersebut mengenal nama 114 surah Al-Quran dengan
              magnetic board
              Umat muslim diperintahkan agar selalu membaca Al Qur`an. Ini merupakan
              amalan bernilai ibadah yang dijanjikan pahala bahkan untuk setiap huruf yang
              dilafalkan. Setiap tahun jutaan eksemplar mushaf diterbitkan dan
              disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Untuk memudahkan memahami kandungan
              isinya, maka selain tetap wajib dengan bahasa dan huruf aslinya yakni Arab,
              sebagian dilengkapi dengan penterjemahan atau bahkan catatan asbabun nuzul
              (riwayat turunnya ayat) atau sekaligus tafsir. Malah untuk menuntun
              pengucapannya baru-baru ini dikembangkan sistem pencetakan Al Qur`an dengan
              kode tajwid (ilmu tentang bacaan) berwarna-warni.
              Ketentuan bacaan dipermudah melalui alat peraga kode warna, misalnya saat
              bacaan mendengung, memantul, suara sengau dari hidung dan lain-lain,
              masing-masing dibuatkan warna cetakan berbeda-beda. Pada akhirnya blok warna
              yang dipakai tersebut dimaksudkan menuntun pembaca agar memperhatikan
              tekanan, fonetik, irama serta cara membaca Al Qur`an.
              Ide menampilkan kode-kode warna untuk setiap jenis bacaan sesuai ketentuan
              tajwid pertama kali dicetuskan oleh tiga orang pengusaha muslim di India,
              Abdus Sami, Abdul Naeem, dan Abdul Moin pada tahun 2002. Dituturkan oleh
              direktur sekaligus pemilik usaha Lautan Lestari (Lestari Books) yang juga
              merupakan pemegang hak cipta untuk penerbitan dan pemasarannya di
              Indonesia, Dalpat Mirchandani, ketiga orang itu memperoleh inspirasi dari
              lampu rambu-rambu lalu lintas. "Aturan lampu lalu lintas di mana-mana sama,
              merah berarti harus berhenti, hijau artinya silahkan jalan, kuning hendaknya
              berhati-hati," tukasnya.
              Terakhir, dan pertama di dunia, Al Qur`an 'pojok' dengan Terjemah Per-Kata.
              Yang menampilkan arti (bahasa Indonesia) setiap kata (bahasa Arab) dalam Al
              Quran. Membaca sekaligus belajar bahasa Al Qur`an. Memudahkan Anda belajar
              dan melatih memaknai serta menguasai bahasa Al Quran . Lengkap isinya
              meliputi Al Qur`an, terjemahan, dan arti tiap kata.
              Sudahkah Anda mengetahui itu semua ? Barangkali masih ada lagi media yang
              memuat Al Qur'an didalamnya yang belum termaktub diatas. Mungkin Anda dapat
              menambahkannya. Sudah sepatutnya kita bangga dengan Al Qur'an yang merupakan
              salah satu Mukjizat Rasulullah SAW yang merupakan wahyu dari Alloh SWT.
              Apakah kitab agama lain ada yang seperti Al Qur'an ? Rasanya tidak ...
              Bahkan untuk Surat Al Fatihah saja, ada seorang penulis Indonesia yang
              menulis Makna Al Fatihah dengan judul buku The Power Of Al Fatihah dengan
              lumayan tebal bukunya. Itu baru surat Al Fatihah.
              Subhanalloh ....

              wassalam / abu Haidar




              [Non-text portions of this message have been removed]
            • Qosim Nursheha Dzulhadi
              Mufti Mesir Sarankan Penyaluran Hewan Kurban untuk Gaza Mufti Besar Mesir, Syeikh Dr. Ali Jum ah mengeluarkan fatwa untuk menyalurkan daging hewan kurban umat
              Message 6 of 27 , Dec 3 8:40 PM
                Mufti Mesir Sarankan Penyaluran Hewan Kurban untuk Gaza

                Mufti
                Besar Mesir, Syeikh Dr. Ali Jum'ah mengeluarkan fatwa untuk menyalurkan
                daging hewan kurban umat Muslim di Mesir ke Jalur Gaza

                  Hidayatullah.com--Jum’ah
                menegaskan, bahwa penyaluran daging kurban ke Gaza justru menjadi lebih
                utama dan diprioritaskan daripada didistribusikan di Mesir.

                "Diperbolehkan
                untuk menyalurkan daging hewan kurban ke Gaza dan Palestina. Bahkan,
                hewan kurban lebih baik disembelih di wilayah tersebut, dari pada di
                Mesir. Hal ini menimbang kondisi masyarakat Gaza dan Palestina yang
                tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat blokade Israel," demikian
                ungkap Jum’ah dalam fatwanya.
                Situs Mafkarah al-Islam
                (2/12) mengabarkan, fatwa tersebut dikeluarkan oleh Mufti Agung Mesir
                untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang anggota
                Komite Bantuan dari Persatuan Dokter Arab. [ism/arb/atj/www.hidayatullah.com]
                http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8087:mufti-mesir-sarankan-penyaluran-hewan-kurban-untuk-gaza&catid=67:internasional&Itemid=55






                [Non-text portions of this message have been removed]
              • saifuddin amin
                assalamu alakum wrwb.. ayyuhal asaatidz.... semua ilmu yang telah ditemukan atau dikembangkan ulama, filsuf, fukaha, mufassir, muhaddits dsb bermanfaat bagi
                Message 7 of 27 , Dec 3 9:18 PM
                  assalamu'alakum wrwb..

                  ayyuhal asaatidz....
                  semua ilmu yang telah ditemukan atau dikembangkan ulama, filsuf, fukaha, mufassir, muhaddits dsb bermanfaat bagi umat, termasuk filsafat Islam. sejak zaman abbasi sampai sekarang, filsafat Islam tak ada matinya.

                  kalau filsafat Islam kagak boleh, bagaimana dengan matematika, fisika, seni dan sebagainya, yang semua itu adalah varian dari filfasat? Garaudy menjelaskan, dasar-dasar aljabar, optika, fisika, algoritma, dsb ditemukan oleh ilmuan/ulama Muslim. apakah mereka yang memundurkan Islam? atau kita yang ndak selevel dengan mereka?


                  adakah  dalil/nash yang melarang orang belajar filsafat? yang dilarang adalah belajar ilmu sihir  dan semacamnya.




                  --- On Wed, 12/3/08, alif mthree <alif_m3@...> wrote:
                  From: alif mthree <alif_m3@...>
                  Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
                  To: insistnet@yahoogroups.com
                  Date: Wednesday, December 3, 2008, 6:01 PM











                  Assalamu'alaykum wr wb..,

                   

                  Ustadz.., antara paragraf ketiga dan keempat saya masih belum paham. Mengapa filsafat dikatakan sebagai penyebab maju-mundurnya Islam. Ada 2 hal yang terpikir bagi saya saat membaca 2 paragraf ini:

                   

                  1. Saya ambil contoh Kesultanan Aceh. Dalam masa kejayaannya kesultanan ini memiliki 2 tokoh yang cukup terkenal yang bahkan salah satunya adalah penasehat sultan yaitu Hamzah Fansuri dan Nuruddin al-Raniri. Sementara perdebatan antara kedua tokoh ini adalah seputar filsafat pula (tolong koreksi, saya pernah baca kalau al-Raniri tidak berdebat secara langsung dengan Hamzah Fansuri melainkan dengan murid dari Hamzah Fansuri). Meski dengan menggunakan logika sebagaimana menempatkan Mulla Sadra di bawah bahwasanya Hamzah Fansuri tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keilmuan Islam secara internasional kala itu, namun dia tetaplah seorang yang memiliki kedudukan yang berpengaruh dalam kesultanan kala itu. Dari sini saya berkesimpulan (IMHO) dengan kedudukan Hamzah Fansuri sebagai penasehat sultan, Kesultanan Aceh tetap maju. Maka premis bahwasanya kemajuan filsafat berpengaruh terhadap kemunduran Islam, hingga detik ini saya masih meragukannya.

                  Mohon penjelasannya, ya ustadz...

                   

                  2. Pada era al-Makmun penerjemahan karya2 pemikir Yunani dilakukan secara besar2an. Dan ini berlanjut pada 2 khalifah setelahnya. Baitul Hikmah dibangun oleh al-Makmun (mohon dikoreksi), sementara kita tahu penelitian yang dilakukan dalam Baitul Hikmah tidak sekedar pemikiran filsafat Yunani namun juga ilmu-ilmu yang sifatnya humaniora dan juga eksakta seperti matematika, astronomi, geografi, kimian, kedokteran, dll. Di sisi lain, justru banyak pembukaan negeri2 (futuhul buldan) baru pada era al-Makmun sehingga secara geografis wilayah kekuasaan kekhalifahan kala itu bertambah luas. Bahkan ada suatu kisah manakala ada seorang muslimah yang dilecehkan oleh salah satu penduduk Romawi lalu berakhir dengan perang karena Romawi kala itu tidak mau menyerahkan lelaki brengsek itu kepada Kekhalifahan Islam untuk dihukum. Saat itu Imam Ahmad yang mendekam dalam penjara pun mendukung Khalifah al-Makmun. Artinya bahwa saat itu (IMHO) adalah salah satu bagian dari

                  kejayaan peradaban Islam, aspek keilmuan berkembang pesat, wilayah geografis yang luas, dan Islam berada pada posisi yang terhormat. Sementara kita tahu al-Makmun tidak sekedar orang yang berperan dalam melakukan penerjemahan besar2an karya2 pemikir Yunani namun juga ia adalah salah seorang pengikut Mu'tazilah. Ini bagaimana?

                   

                  Sebenarnya ada satu lagi yang terpikir bagi saya saat pertama membaca artikel awal postingan ini, namun saya lupa dan memang awalnya juga saya tidak mau menanggapi karena jelas artikel tsb tidak membuktikan apa2 dari judul yang dimaksud. Namun, berhubung Ustadz al-Kattani menanggapi saya berharap ada 'sesuatu' yang bisa saya dapatkan.

                   

                  Mohon penjelasannya. ..



                  --- Pada Kam, 4/12/08, alkattani <alkattani1@gmail. com> menulis:



                  Dari: alkattani <alkattani1@gmail. com>

                  Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

                  Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com

                  Tanggal: Kamis, 4 Desember, 2008, 12:38 AM



                  Artikel ini cukup berhasil menunjukkan adanya pengaruh filsafat dalam tradisi keilmuan Islam. Namun kurang berhasil membuktikan bahwa keterpengaruhan itu menjadi faktor besar penyebab kemunduran Islam.



                  Benar filsafat diintroduksi dalam keilmuan Islam di abad 2 hijriyah. Namun kita juga harus mencermati bahwa puncak filsafat dalam Islam berujung pada Ibn Rusyd yang wafat pada 595 H.



                  Pada nyatanya, selepas wafatnya Ibnu Rusyd, Islam dan kebudayaannya melalui Khilafah Utsmaniah dan beberapa kesultanan di pelbagai penjuru dunia, seperti di Nusantara, masih menguasai dunia secara riil selama 600 tahun lebih, hingga kesultanan-kesultan an tersebut digerogoti oleh kekuatan imprealis Eropa dan berpuncak pada dibubarkannya kekhalifahan di Turki, pada 1924 M.



                  Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd, filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal (w. 1938 M) di era modern ini.



                  Berarti ada faktor lain yang menyebabkan kemunduran dan kekalahan Islam dari Barat.



                  Menilik sejarah, kita dapati pengaruh filsafat yang dipaparkan Ibn Sina (w. 428 H) dan Ibn Rusyd (w. 595 H) menjadi trigger bagi renaissance di Eropa. Dan pada waktu yang sama pemikiran keduanya juga mempengaruhi racikan theology Kristen melalui Thomas Aquinas dan theology Yahudi melalui Musa bin Maimun. Dan berikutnya mendorong lahirnya aliran Protestan sebagai pemberontakan atas Katholik.



                  Maka ketika pada waktu yang sama, filsafat yang diusung keduanya kemudian dituduh menjadi penyebab kemunduran Islam, ini tentu jadi mengherankan.



                  Di era modern ini, kita juga temukan Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M. Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN dll.



                  Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa semua pengaruh yang terwujud tadi itu sebagai bentuk kemunduran.



                  Lantas, apa penyebab kemunduran Islam? Jawabannya mungkin multi dimensi. Diantaranya melemahnya semangat keilmuan dan merentanya ruh peradaban Islam sendiri selepas melewati puncak kejayaannya setelah 700 tahun merajai peradaban dunia. Sehingga 700 tahun berikutnya adalah kemunduran dan kemunduran. Sementara pada saat yang sama peradaban Eropa tampak baru menemukan vitalitasnya dengan semangat pencapaian keilmuan, penjelajahan, perebutan kekuasaan, pencarian kekayaan, dan semangat mengalahkan musuh besar mereka, yaitu kekuasaan Islam.



                  Dan faktor-faktor lain silakan digali dan disigi.



                  Maka artikel ini, mungkin judulnya bisa diubah menjadi "Pengaruh Filsafat dalam Keilmuan Islam".



                  AHA



                  From: insistnet@yahoogrou ps.com [mailto:insistnet@ yahoogrou ps.com] On Behalf Of Abdul Rahman

                  Sent: Wednesday, December 03, 2008 11:10 AM

                  To: sma1bkt; insistnet@yahoogrou ps.com; parapemikir@ yahoogroups. com; kultur_tandingan@ yahoogroups. com; mediabaca@yahoogrou ps.com; pejuang_syariah@ yahoogroups. com; liberation-youth@ yahoogroups. com; administrasi_ publik@yahoogrou ps.com

                  Subject: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam



                  *Pengantar*



                  Lahirnya filsafat di Dunia Islam memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi

                  ilmu kalam yang mendahuluinya. Sebelumnya, para mutakallimin memang telah

                  menggunakan *mantiq* (logika) dalam tradisi kalam mereka, baik untuk

                  membantah maupun menyusun argumentasi. Dalam hal ini, bukti paling akurat

                  dapat dilacak dalam kitab *al-Fiqh al-Akbar, *karya Abu Hanifah (w. 147

                  H/768 M).1 Selain menggunakan mantik, beliau juga menggunakan istilah

                  filsafat, seperti *jawhar *(substabsi) dan *'aradh *(aksiden), yang *

                  notabene* banyak digunakan Aristoles dalam buku-bukunya.



                  Ini membuktikan, bahwa mantik* *sebagai teknik pengambilan kongklusi

                  (kesimpulan) telah digunakan oleh ulama kaum Muslim pada abad ke-2 H/8 M.

                  Hanya saja, ini tidak secara otomatis menunjukkan bahwa filsafat telah

                  dikaji secara mendalam pada zaman itu. Bukti di atas hanya membuktikan

                  pemanfaatan logika mantik dalam menghasilkan kongklusi. Kesimpulan ini juga

                  tidak dapat digunakan untuk menarik kongklusi yang lebih luas mengenai

                  kemungkinan logika telah dipelajari secara mendalam oleh para mutakallimin,

                  sebagaimana logika yang diuraikan oleh Ibn Sina.2 Sebab, bukti yang akurat

                  menunjukkan, bahwa perkembangan pemikiran filsafat Yunani di negeri Islam

                  baru terjadi setelah aktivitas penerjemahan pada zaman Abbasiyah.



                  Meski demikian, penggunaan logika (mantik), diakui atau tidak, telah membuka

                  celah masuknya filsafat di Dunia Islam. Karena itu, pasca generasi Washil,

                  filsafat Yunani kemudian dipelajari secara mendalam oleh ulama Muktazilah,

                  separti Dhirar bin Amr, Abu Hudhail al-'Allaf, an-Nazhzham, dan lain-lain.

                  Dari sinilah kemudian, lahir karya mereka, seperti *Kitâb ar-Radd 'alâ

                  Aristhâlîs fî al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya* *Dhirar bin 'Amr,* Al-Jawâhir

                  wa al-A'râdh *dan *Tathbît al-A'râdh*, karya Abu Hudhail al-'Allaf, *Kitâb

                  al-Manthiq *dan* Kitâb al-Jawâhir wa al-A'râdh, *karya an-Nazhzham. 3* *



                  Di samping itu, penyebaran filsafat ini semakin meningkat, khususnya sejak

                  al-Makmun, murid Abu Hudhail al-'Allaf, tokoh Muktazilah Baghdad, mendirikan

                  Baitul Hikmah tahun 217 H/813 M; sebuah pusat kajian filsafat yang dipimpin

                  oleh Yuhana bin Masawih. Di kota ini juga al-Kindi (w. 260 H/873 M) banyak

                  berinteraksi dengan para penerjemah filsafat dari bahasa Yunani dan Syria ke

                  dalam bahasa Arab, seperti Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M) dan Ibn

                  Na'imah (w. 220 H/830 M).4 Di sinilah al-Kindi juga dibesarkan sebagai

                  filosof Arab yang pertama. Setelah itu, menyusul nama-nama seperti al-Farabi

                  (w. 339 H/951 M) dan Ibn Sina (w. 428 H/1049 M). Mereka adalah para filosof

                  yang hidup di Timur. Di Barat, lahir nama-nama seperti Ibn Bajjah (478-503

                  H/1099-1124 M), Ibn Thufail (w. 581 H/1185 M),5 dan Ibn Rusyd (w. 600 H/1217

                  M).



                  Secara umum, ciri filsafat mereka tidak jauh dari filsafat Yunani yang

                  didominasi oleh Plato dan muridnya, Aristoteles. Baik pandangan al-Kindi,

                  al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail maupun Ibn Rusyd, semuanya

                  nyaris hanya membela pandangan Plato atau Aristoteles. Kadang-kadang mereka

                  terlibat untuk mengkompromikan kedua pandangan tokoh ini, seperti yang

                  dilakukan oleh al-Farabi, atau bahkan mencoba mengkompromikan Islam dengan

                  pandangan kedua filosof Yunani tersebut, seperti yang dilakukan oleh

                  al-Kindi6 atau Ibn Rusyd.7 Karena itu, tepat sekali apa yang dikemukakan

                  oleh Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa mereka hanyalah para penjiplak (*

                  al-muntahilûn* ). Artinya, apa yang mereka tulis itu bukan merupakan

                  pemikiran mereka sendiri, melainkan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan

                  oleh para filosof Yunani sebelumnya. Jumlah mereka, kata an-Nabhani, tidak

                  banyak, sehingga pandangan-pandangan mereka tidak menjadi arus utama

                  pemikiran umat Islam pada zamannya.



                  Sementara itu, filsafat Persia dan India juga berkembang di Dunia Islam,

                  terutama setelah ditaklukkannya kedua wilayah tersebut pada zaman permulaan

                  Islam. Hanya saja, kalau filsafat Yunani telah melahirkan para filosof

                  Muslim, maka filsafat Persia dan India tidak. Salah satu faktornya adalah

                  karena minimnya referensi kedua filsafat tersebut—kalau tidak boleh dibilang

                  tidak ada—yang bisa dikaji oleh kaum Muslim.



                  *

                  Adakah Filsafat dalam Islam?*



                  Secara harfiah, istilah filsafat itu berasal dari kata *philosophia. *Menurut

                  Ibn Nadim (w. 380 H/985 M), mengutip keterangan Plutarch (± 100 M), istilah

                  ini mula-mula digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM),8 yang kemudian

                  diarabkan menjadi *al-falsafah* . Kemungkinan yang mengarabkan pertama kali

                  adalah Yahya bin al-Baitriq (w. 200 H/815 M), penerjemah buku *Timeaus*,

                  karya Plato. Sebab, kata *philosophy *(Arab: *falsafah*) itu ada di dalam

                  buku tersebut.9 Hanya saja, bukti yang paling otentik penggunaan istilah

                  tersebut dapat ditemukan dalam *Kitab al-Falsafah al-Ulâ fî mâ dûna

                  ath-Thabi'iyyah wa at-Tawhîd*, karya al-Kindi*.*10



                  *Philosophia* itu sendiri berasal dari bahasa Greek (Yunani Kuno),

                  yaitu *philos

                  *dan *sophia. Philos* artinya cinta; atau *philia* berarti persahabatan,

                  kasih sayang, kesukaan pada, atau keterikatan pada. *Sophia *berarti hikmah

                  (*wisdom*), kebaikan, pengetahuan, keahlian, pengalaman praktis, dan

                  intelegensi. 11



                  *Philosophia* , menurut al-Syahrastani (w. 548 H/1153 M), berarti *mahabbah

                  al-hikmah* (cinta pada kebijaksanaan) , dan orangnya (*faylasuf*)

                  disebut *muhibb

                  al-hikmah *(orang yang mencintai kebijaksanaan) .12 Ini seperti yang

                  dinyatakan oleh Socrates dalam *Mukhtashar Kitâb at-Tuffâhah *(Ringkasan

                  Kitab Apel).13



                  Saecara khusus, hikmah (*wisdom*) ini kemudian dibagi menjadi dua: *qawliyyah

                  *(intelektual) dan *'amaliyyah *(praktis).14 Sebab, kebahagiaan (*happiness* )

                  yang dikehendaki oleh filosof adalah substansinya; *virtuous activity is

                  identical with happiness *(melakukan kebaikan adalah identik dengan

                  kebahagiaan) .15 Kebahagiaan itu sendiri hanya bisa diraih melalui *wisdom*,

                  baik dengan mengetahui kebenaran (*knowledge of the good*) maupun

                  melaksanakan kebaikan (*virtuous activity*).16



                  Istilah filsafat ini kemudian digunakan oleh al-Kindi dengan konotasi:

                  pengetahuan tentang hakikat sesuatu sesuai dengan kemampuan manusia.17

                  Al-Farabi

                  menyebutnya sebagai pengetahuan tentang eksistensi itu sendiri.18 Al-Khawarizmi

                  menyebutnya pengetahuan tentang hakikat benda dan perbuatan yang berkaitan

                  dengan mana yang lebih baik sehingga dapat diklasifikasikan: yang teoretis (

                  *nazhari*) dan yang praktis (*'amali*).19



                  Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa filsafat itu bukan merupakan

                  pengetahuan *an sich, *tetapi juga merupakan cara pandang tentang berbagai

                  hal, baik yang bersifat teoretis maupun praktis. Secara teoretis, filsafat

                  menawarkan tentang apa itu kebenaran (*al-haq*)? Secara praktis, filsafat

                  menawarkan tentang apa itu kebaikan (*al-khayr*) ? Dari dua spektrum inilah

                  kemudian filsafat merambah ke berbagai wilayah kehidupan manusia, sekaligus

                  memberikan tawaran-tawaran solutifnya. Karena itu, dalam konteks inilah, Ibn

                  Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M) berkesimpulan, bahwa filsafat adalah

                  paham (isme) di luar agama para nabi. Disamping itu, filsafat memang ajaran

                  yang murni dihasilkan oleh akal manusia.20



                  Jika demikian faktanya, maka jelas filsafat itu—baik sebagai ajaran maupun

                  pengetahuan—tidak ada dalam Islam. Sebab, Islam telah mengajarkan tentang *

                  al-haq* (kebenaran) dan *al-khayr *(kebaikan), termasuk cara pandang yang

                  khas tentang keduanya. Bukan hanya itu, Islam juga telah menjelaskan hakikat

                  dan batasan akal, metode berpikir dan pemikiran yang dihasilkannya. Tentang

                  yang terakhir ini, barangkali dapat merujuk buku *at-Tafkîr *karya Syaikh

                  Taqiyuddin an-Nabhani.



                  *

                  Dampak Filsafat Terhadap Kemunduran Umat Islam*



                  Harus ditegaskan kembali, bahwa pemikiran filosof pada zaman Kekhilafahan

                  Islam memang bukan merupakan arus utama. Namun, pola berpikir mereka,

                  khususnya penggunaan logika (mantik), telah merambah hampir ke seluruh

                  bidang; mulai dari bidang akidah, usul fikih hingga tasawuf—meski fikih

                  tetap harus dikecualikan dari penggunaan logika tersebut.



                  Di bidang akidah, penggunaan logika (mantik) ini telah melahirkan perdebatan

                  panjang di kalangan para ulama usuluddin sehingga melahirkan ilmu kalam.

                  Lahirnya ilmu kalam bukannya mengakhiri masalah, tetapi justru sebaliknya.

                  Ilmu kalam inilah yang menyebabkan akidah kaum Muslim diwarnai dengan

                  perdebatan demi perdebatan. Akibatnya, akidah mereka telah kehilangan

                  substansinya sebagai pondasi. Sebab, akidah tersebut telah *oleng*. Para

                  ulama ushuluddin yang juga ulama ushul fikih itu kemudian membawa pola

                  berpikir tersebut dalam bidang ushul fikih. Perdebatan tentang *hasan, qabîh,

                  khayr, syarr, *sampai *muqaddimah* (premis) pun terbawa. Karena itu, tidak

                  pelak lagi, ushul fikih pun dipenuhi dengan perdebatan ala mutakallimin.

                  Akibatnya, ushul fikih tersebut telah kehilangan substansinya sebagai kaidah

                  (pondasi), yang digunakan untuk menggali hukum.



                  Fenomena pertama, diakui atau tidak, telah menyebabkan hilangnya gambaran

                  kaum Muslim tentang *qadhâ'* dan *qadar*, takdir, surga, neraka, serta

                  keimanan yang bulat kepada Allah. Kondisi ini diperparah dengan pandangan

                  sufisme—yang banyak dipengaruhi filsafat Persia dan India—seputar kehidupan

                  panteistik, asketik, dan lain-lain. Semuanya ini pada gilirannya menyebabkan

                  disorientasi kehidupan kaum Muslim.



                  Kemudian, fenomena kedua telah menyebabkan hilangnya ketajaman intelektual

                  kaum Muslim dalam menyelesaikan persoalan. Daya kreativitas mereka menjadi

                  tumpul. Ushul fikih berkembang, tetapi ijtihad* mandeg*; bukan semata-mata

                  karena adanya seruan ditutupnya pintu ijtihad, tetapi juga karena hilangnya

                  vitalitas ushul fikih sebagai kaidah *istinbâth* (penggalian hukum)*. *



                  Setelah semuanya itu, maka sempurnalah kejumudan kaum Muslim sehingga mereka

                  tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan baru yang silih berganti, yang

                  mereka hadapi. Bertambahnya wilayah baru pada zaman Khilafah Utsmaniyah,

                  diakui atau tidak, telah memunculkan persoalan baru. Akan tetapi, karena

                  kemampuan ijtihad itu telah hilang, masalah pun akhirnya menumpuk. Beban

                  mereka pun semakin hari semakin berat. Karena itu, ketika Barat bangkit

                  dengan *renaissance* -nya, mereka pun bingung: menerima kemajuan Barat,

                  dengan segala produknya, atau menolaknya. Pada saat itu, ada yang secara

                  ekstrem menolak segala produk Barat, dan ada yang sebaliknya. Hanya saja,

                  tidak ada satupun di antara mereka yang bisa membedakan: mana *tsaqâfah, *dan

                  mana *'ulûm*; mana* hadhârah *dan mana *madaniyah. *



                  Seiring dengan kakalahan kelompok yang pertama, maka semua produk Barat

                  mulai diambil oleh kaum Muslim, mulai yang bersifat fisik sampai non-fisik.

                  Dari sanalah, perundang-undangan ala Barat mulai diperkenalkan kepada kaum

                  Muslim. Lalu model fikih *taqnîn* (yang berbentuk undang-undang dengan pasal

                  perpasal) pun mulai muncul; sebut saja kitab *al-Ahkâm al-'Adliyyah. *Setelah

                  itu, perundang-undangan Barat mulai masuk dan menggantikan

                  perundang-undangan Islam. Kemudian terjadilah pemisahan mahkamah menjadi:

                  sipil dan syariah. Demikian seterusnya hingga sedikit demi sedikit hukum

                  Islam pun lenyap dari peredaran dan tidak lagi diterapkan, selain dalam

                  bidang *ahwâl syakhshiyah. *



                  Selanjutnya, tepat pada tanggal 3 Maret 1924 M, pemberlakukan hukum Islam

                  pun diakhiri dengan dibubarkannya institusi Khilafah, dan dibekukannya Islam

                  oleh Kamal Attaturk. Setelah itu, sampai saat ini, kehidupan kaum Muslim

                  terus terpuruk. *Wallâhu a'lam.* [*Mohammad Maghfur Wachid*]**



                  *=========== ===*



                  1. Abu Hanifah mengatakan, "Allah Swt. adalah satu (yang diketahui) bukan

                  melalui angka, tetapi dengan cara, bahwa Dia tidak mempunyai sekutu." Lihat:

                  Abu Hanifah, *Matan al-Fiqh al-Akhbar*, hlm. 323. Ini melanjutkan

                  perdebatan Plato tentang angka, apakah angka merupakan substansi atau

                  aksiden. Untuk keluar dari perdebatan tersebut, kelihatannya Abu Hanifah

                  menggunakan jawaban taktis di atas.

                  2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama

                  *, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam

                  kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes.

                  *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam

                  kitab

                  *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan

                  makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On

                  Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai

                  susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior

                  Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui

                  secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang

                  menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya

                  Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat

                  untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab

                  *Tonica, *karya Aristoteles. *Ketujuh*,* *pembahasan mengenai kesalahan

                  berpikir yang terjadi dalam penyusunan argumentasi dan penggunaan dalil,

                  yang terangkum dalam kitab *On Sophistical Refutations* , karya

                  Aristoteles. *Kedelapan, *pembahasan yang berisi standar pidato yang

                  bermanfaat, yang terangkum dalam kitab *Rethoric *karya Aristoteles. *

                  Kesembilan*, pembahasan yang berisi ungkapan bersyair, yang terangkum

                  dalam buku *Rethoric *karya Aristoteles. Ibn Sina, *Risâlah fî Aqsâm

                  al-'Ulûm al-'Aqliyyah, *hlm. 271-272.

                  3. Ibn al-Nadim, *al-Fihrist, *hlm. 288, 299 dan 286.

                  4. Badawi, *al-Falsafah, * hlm. 156.

                  5. Ibn Tufayl, *Hayy bin Yaqzhân*, ed. Ahmad Amīn, Dar al-Ma'arif, Mesir,

                  1952, hlm. 62.

                  6. Al-Kindi*, Rasâ'il al-Kindi, *hlm. 35 dan 36.

                  7. Ibn Rusyd, *Fasl al-Maqâl* *fî mâ bayna al-Syari'ah wa al-Hikmah min

                  al-Ittishâl*, hlm. 33.

                  8. Ibn Nadim, *al-Fihrist, * Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, hlm. 400.

                  9. *Ibid*. hlm. 402; Plato, *Timeaus, **

                  http://books. mirror.org/ gb.plato. html**.,* 19 November 2001.

                  10. Ibn Nadim, *ibid, *hlm. 415.

                  11. Tim Rosda, *Kamus, *hlm. 249.

                  12. Al-Syahrastani, *al-Milal wa an-Nihal, *hlm. 364; Aristoteles,

                  *Nicomachean

                  Ethics*, Book I, Part 6,

                  *http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001.

                  13. Socrates, *Mukhtashar Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Suqrâth, *hlm.

                  222;* *Aristoteles, *Kitâb al-Tuffâhah al-Mansûb li Aristhûtâlis, *hlm.

                  234.* *Lihat: Plato, *Fîdûn wa Kitâb at-Tuffâhah,* ed. Ali Sami

                  an-Nasysyar dan Abbas asy-Syarbini, Dar al-Ma'rifah, Mesir, 1974, hlm. 222

                  dan 234.

                  14. Lihat: Aristoteles, *Nicomachean Ethics*, *

                  http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001;*

                  *Aristoteles,

                  *Politics, **http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November

                  2001.

                  15. Aristoteles, *Ibid*.

                  16. Aristoteles, *Prior Analytics, **

                  http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001.

                  17. Al-Kindi, *Rasâ'il al-Kindi al-Falsafiyyah, *ed. Abu Ridah, Kairo,

                  1950, Juz I, hlm. 97.

                  18. Al-Farabi, *al-Jam' Bayn Ra'yay al-Hakîmayn, *ed. Albert Nashri

                  Nader, al-Mathba'ah al-Kathulikah, Beirut, 1969, hlm. 81.

                  19. Klasifikasi ini dilakukan oleh Aristoteles, yang telah membagi hikmah

                  (*wisdom*) menjadi dua, yaitu praktis dan teoretis. Lihat: Aristoteles, *

                  Nicomachean Ethics, *Book I, Part 8 dan 13, *

                  http://books. mirror.org/ gb.aristotle. html**.,* 19 November 2001*. *

                  20. Ibn Qayyim, *Ighâthah al-Lahfân min Mashâyid al-Syaythân, *ed. Muhammad

                  al-Faqqi, t.p., t.t., hlm. 257.



                  --

                  "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada

                  kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;

                  merekalah orang-orang yang beruntung."



                  (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)



                  [Non-text portions of this message have been removed]



                  [Non-text portions of this message have been removed]



                  ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

                  Dapatkan nama yang Anda sukai!

                  Sekarang Anda dapat memiliki email di @... dan @rocketmail. com.

                  http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/



                  [Non-text portions of this message have been removed]





























                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • alkattani
                  Salam, Nashiruddin Ath Thusi dikategorikan sebagai pengikuti filsafat Ibnu Sina semata. Bukunya tentang filsafat yang terkenal adalah syarah terhadap kitab
                  Message 8 of 27 , Dec 3 9:19 PM
                    Salam,



                    Nashiruddin Ath Thusi dikategorikan sebagai pengikuti
                    filsafat Ibnu Sina semata. Bukunya tentang filsafat
                    yang terkenal adalah syarah terhadap kitab Isyarat wa
                    Tanbihat karya Ibnu Sina. Dalam konteks pembicaraan
                    topik semula, menurut saya, Nashiruddin ath Thusi lah
                    orang yang benar-benar dapat digolongkan sebagai
                    pembawa kemunduran Islam yang sebenarnya. Karena dia
                    turut serta membantu Hulaku untuk menghancurkan Baghdad
                    dan membunuh khalifah di Baghdad dan ribuan umat Islam.




                    Sedangkan Sahruwardi al Maqtul, dapat digolongkan
                    sebagai penerus filsafat Abul Barakat al Baghdadi. Dan
                    dia pun mempunyai masalah dengan jamaah umat Islam,
                    ketika umat Islam sedang menghadapi situasi genting
                    ditengah ancaman pasukan Salib, sehingga Shalahuddin al
                    Ayyubi menjatuhi hukuman mati terhadap dirinya.
                    Hubungannya dengan golongan Ismailiah Qaramithah juga
                    dipertanyakan.



                    Ya ada kesalahan ketik, seharusnya Jamaluddin al
                    Afghani.



                    Kajian filsafat Islam di dunia modern kalangan Sunni
                    baru kembali semarak setelah direintroduksi oleh Al
                    Afghani dan M. Abduh. Setelah itu dilanjutkan oleh
                    Mushtafa Abdurraziq, dan seterusnya oleh
                    murid-muridnya. Athif Iraqi dan Hasan Hanafi generasi
                    setelah mereka. Dan saat ini sudah biasa Universitas
                    Islam mengajarkan filsafat, termasuk Al Azhar.



                    Ya Filsafat Ilmu merupakan salah satu bagian filsafat
                    kuno yang masih tersisa dan disematkan dengan sebutan
                    filsafat. Sedangkan bagian-bagian lainnya sudah
                    "talak" menjadi ilmu-ilmu tersendiri, seperti ilmu
                    jiwa, politik, astronomi, fisika, kimia, kedokteran
                    dsb.



                    Syukran







                    AHA

































                    From: insistnet@yahoogroups.com
                    [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On Behalf Of Qosim
                    Nursheha Dzulhadi
                    Sent: Thursday, December 04, 2008 4:59 AM
                    To: insistnet@yahoogroups.com
                    Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap
                    Kemunduran Islam





                    SALAM,
                    SAYA INGIN NIMRUNG SEDIKIT SAJA TENTANG WACANCA
                    FILSAFAT OLEH UST. KATTANI INI,

                    Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd,
                    filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting
                    dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia
                    telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar
                    dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang
                    tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra
                    (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh
                    berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal
                    (w. 1938 M) di era modern ini. QOSIM: Kalau langsung
                    melompat dari Ibnu Rusyd ke Mulla Shadra dang Iqbal,
                    rasanya ada yang janggal. Karena di sana ada
                    Nashiruddin al-Thusi. Dia ahli Matematika, astronomi,
                    optik, geografi, farmakologi, filsfat, musik, dan
                    mineralogi terkemuka setelah invasi Mongol. Pada usia
                    60 tahun, tepatnya pada tahun 657/1259, dia berhasil
                    membujuk Hulagu untuk membangun observatorium (rasad
                    khanah).Karya al-Thusi, yang dicatat oleh Brockelmann
                    sekiatr 56 judul. Filsafatnya mencakup: Metafisika,
                    Jiwa, Moral, Politik,
                    dan Kenabian.
                    Selain al-Thusi, disana ada al-Suhrawardi al-Maqtul
                    dengan konsep illuminasi (isyarq)nya. Bahkan ia
                    dibandingkan dengan filsuf Barat, Bertrand Husserl.
                    Filsafatnya: Metafisika dan Cahaya, Epistemologi,
                    Kosmologi, Psikologi.Baru kemudian Mulla Shadra. Dimana
                    filsafatnya mencakup: Epistemologi, Metafisika
                    (mencakup: wujud, jiwa, moral. Baru kemudian rantainya
                    ditutup oleh Muhammaq Iqbal.
                    Yang ingin saya kemukakan adalah sosok filsufnya, bukan
                    filsafatnya an sich. Dimana setiap filsuf itu
                    memberikan sumbangan yang tak kecil pada keilmuan
                    Islam. Termasuk Iqbal.
                    Ustadz Kattani: Di era modern ini, kita juga temukan
                    Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha
                    menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan
                    filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan
                    selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M.
                    Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang
                    selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru
                    dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya
                    Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN
                    dll.QOSIM: Saya koreksi dikit aja. Mungkin maksud
                    Ustadz Kattani Jamaluddin al-Afghani, bukan
                    Jalaluddin.Di beberapa negara Islam masih banyak pegiat
                    Filsafat. Di Darul Ulum (Mesir) misalnya, kita mengenal
                    Athif al-Iraqi. Artinya, pengaruh filsfat masih kuat
                    dalam ranah keilmuan Islam. Dan wacana yang terus
                    dikembangan saat ini adalah Filsafat Ilmu. Ini menarik,
                    apakah bisa dikaitkan dengan Islam? Ada yang ingin
                    sharing? Tafadhal
                    ustadz.Qosim,http://qosim-deedat.blogspot.com/
                    .














                    [Non-text portions of this message have been removed]





                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • andi rahman
                    salam. bagaimana caranya menyampaikan qurban ke ghaza? ... From: Qosim Nursheha Dzulhadi Subject: [INSISTS] “KURBAN UNTUK GAZA”
                    Message 9 of 27 , Dec 3 11:22 PM
                      salam.
                      bagaimana caranya menyampaikan qurban ke ghaza?

                      --- On Thu, 12/4/08, Qosim Nursheha Dzulhadi <qosim_deedat@...> wrote:
                      From: Qosim Nursheha Dzulhadi <qosim_deedat@...>
                      Subject: [INSISTS] “KURBAN UNTUK GAZA”
                      To: insistnet@yahoogroups.com
                      Date: Thursday, December 4, 2008, 11:40 AM













                      Mufti Mesir Sarankan Penyaluran Hewan Kurban untuk Gaza



                      Mufti

                      Besar Mesir, Syeikh Dr. Ali Jum'ah mengeluarkan fatwa untuk menyalurkan

                      daging hewan kurban umat Muslim di Mesir ke Jalur Gaza



                        Hidayatullah. com--Jum’ah

                      menegaskan, bahwa penyaluran daging kurban ke Gaza justru menjadi lebih

                      utama dan diprioritaskan daripada didistribusikan di Mesir.



                      "Diperbolehkan

                      untuk menyalurkan daging hewan kurban ke Gaza dan Palestina. Bahkan,

                      hewan kurban lebih baik disembelih di wilayah tersebut, dari pada di

                      Mesir. Hal ini menimbang kondisi masyarakat Gaza dan Palestina yang

                      tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat blokade Israel," demikian

                      ungkap Jum’ah dalam fatwanya.

                      Situs Mafkarah al-Islam

                      (2/12) mengabarkan, fatwa tersebut dikeluarkan oleh Mufti Agung Mesir

                      untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang anggota

                      Komite Bantuan dari Persatuan Dokter Arab. [ism/arb/atj/ www.hidayatullah .com]

                      http://hidayatullah .com/index. php?option= com_content& view=article& id=8087:mufti- mesir-sarankan- penyaluran- hewan-kurban- untuk-gaza& catid=67: internasional& Itemid=55



                      [Non-text portions of this message have been removed]





























                      [Non-text portions of this message have been removed]
                    • alif mthree
                      Salam..,   Jujur saja, saya baru tahu bila dikatakan Nashiruddin al-Thusi membantu Hulagu Khan. Semoga Ustadz berkenan untuk memebrikan saya referensi bacaan
                      Message 10 of 27 , Dec 4 3:44 AM
                        Salam..,
                         
                        Jujur saja, saya baru tahu bila dikatakan Nashiruddin al-Thusi membantu Hulagu Khan. Semoga Ustadz berkenan untuk memebrikan saya referensi bacaan mengenai hal ini.
                         
                        Sedangkan mengenai Suhrawardi al-Maqtul. Saya pernah membaca sekilas kisahnya bahwa alasan ia dieksekusi justru karena filsafat yang dicetuskannya. Jadi, apabila dikatakanSuhrawardi al-Maqtul dieksekusi karena ia memiliki kasus tersendiri terkait Perang Salib, saya baru tahu. Bisa berikan referensi bacaannya Ustadz?
                         
                        Mungkin dalam hal ini (mohon maaf) saya sepakat dengan Ustadz Qosim. Dalam range 600 tahun tsb sekalipun dikatakan mereka meneruskan/ hanya mengembangkan pemikiran filsuf sebelumnya tetap saja mereka adalah orang2 yang memiliki posisi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan dikatakan bahwasanya salah satu kemenakan dari Shalahuddin al-Ayyubi pernah berguru pada Suhrawardi al-Maqtul.
                         
                        Sedangkan mengenai yang Ustadz katakan (kalaulah dikatakan demikian karena saya belum tahu/ belum membaca) mengenai kisah 2 tokoh yang disebutkan di bawah (al-Thusi dan al-Maqtul) adalah penyebab faktor kemunduran dalam ummat Islam, saya rasa perlu dibedakan di sini antara pemikiran filsafat dengan apa yang dilakukan oleh orang yang mengkaji filsafat. Karena filsafat tidak hanya dikaji oleh ke2 orang itu saja, bukan? dengan kata lain: Kalaulah dikatakan 2 hal di bawah ini adalah salah satu faktor kemunduran ummat Islam, bukankah ini pilihan sikap dari ke2 filsuf tsb. Maksud saya, bukan pemikiran filsafat yang bermasalah tapi pilihan sikap dari tokoh tsb yang bermasalah (dg catatan tentunya 2 kisah ini memiliki bukti yang otentik, sekali lagi saya tidak tahu mengenai 2 kisah ini). Apakah semua orang yang mengkaji filsafat memilih sikap yang sama dengan ke2 tokoh tsb karena itu merupakan kesimpulan dari apa yang mereka dapatkan dari kajian mereka terhadap
                        filsafat?
                         
                        Saya rasa (mohon maaf) sepertinya kurang fair kita menghakimi filsafat sebagi faktor kemunduran umat Islam hanya karena ada oknum yang kebetulan mengkaji filsafat yang tercatat melakukan tindakan yang bermasalah. Sama halnya kita tidak bisa menghakimi bahwa ahlul qurra adalah orang2 yang kejam hanya karena kita melihat sosok al-Hajjaj.
                         
                        Sekali lagi, mohon penjelasannnya...
                         
                        Hormat saya//

                        --- Pada Kam, 4/12/08, alkattani <alkattani1@...> menulis:

                        Dari: alkattani <alkattani1@...>
                        Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
                        Kepada: insistnet@yahoogroups.com
                        Tanggal: Kamis, 4 Desember, 2008, 5:19 AM








                        Salam,

                        Nashiruddin Ath Thusi dikategorikan sebagai pengikuti
                        filsafat Ibnu Sina semata. Bukunya tentang filsafat
                        yang terkenal adalah syarah terhadap kitab Isyarat wa
                        Tanbihat karya Ibnu Sina. Dalam konteks pembicaraan
                        topik semula, menurut saya, Nashiruddin ath Thusi lah
                        orang yang benar-benar dapat digolongkan sebagai
                        pembawa kemunduran Islam yang sebenarnya. Karena dia
                        turut serta membantu Hulaku untuk menghancurkan Baghdad
                        dan membunuh khalifah di Baghdad dan ribuan umat Islam.

                        Sedangkan Sahruwardi al Maqtul, dapat digolongkan
                        sebagai penerus filsafat Abul Barakat al Baghdadi. Dan
                        dia pun mempunyai masalah dengan jamaah umat Islam,
                        ketika umat Islam sedang menghadapi situasi genting
                        ditengah ancaman pasukan Salib, sehingga Shalahuddin al
                        Ayyubi menjatuhi hukuman mati terhadap dirinya.
                        Hubungannya dengan golongan Ismailiah Qaramithah juga
                        dipertanyakan.

                        Ya ada kesalahan ketik, seharusnya Jamaluddin al
                        Afghani.

                        Kajian filsafat Islam di dunia modern kalangan Sunni
                        baru kembali semarak setelah direintroduksi oleh Al
                        Afghani dan M. Abduh. Setelah itu dilanjutkan oleh
                        Mushtafa Abdurraziq, dan seterusnya oleh
                        murid-muridnya. Athif Iraqi dan Hasan Hanafi generasi
                        setelah mereka. Dan saat ini sudah biasa Universitas
                        Islam mengajarkan filsafat, termasuk Al Azhar.

                        Ya Filsafat Ilmu merupakan salah satu bagian filsafat
                        kuno yang masih tersisa dan disematkan dengan sebutan
                        filsafat. Sedangkan bagian-bagian lainnya sudah
                        "talak" menjadi ilmu-ilmu tersendiri, seperti ilmu
                        jiwa, politik, astronomi, fisika, kimia, kedokteran
                        dsb.

                        Syukran

                        AHA

                        From: insistnet@yahoogrou ps.com
                        [mailto:insistnet@yahoogrou ps.com] On Behalf Of Qosim
                        Nursheha Dzulhadi
                        Sent: Thursday, December 04, 2008 4:59 AM
                        To: insistnet@yahoogrou ps.com
                        Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap
                        Kemunduran Islam

                        SALAM,
                        SAYA INGIN NIMRUNG SEDIKIT SAJA TENTANG WACANCA
                        FILSAFAT OLEH UST. KATTANI INI,

                        Ini berarti selama 600 tahun selepas Ibn Rusyd,
                        filsafat tidak lagi memainkan peranan yang penting
                        dalam tradisi keilmuan Islam. Malah boleh dikatakan ia
                        telah mati. Sehingga kita tidak temukan filosof besar
                        dalam Islam selama rentang waktu yang sangat panjang
                        tersebut. Kecuali kita dapati sosok seperti Mulla Sadra
                        (w. 1649 M), yang tampak tidak mempunyai pengaruh
                        berarti dalam keilmuan Islam, atau pada sosok M. Iqbal
                        (w. 1938 M) di era modern ini. QOSIM: Kalau langsung
                        melompat dari Ibnu Rusyd ke Mulla Shadra dang Iqbal,
                        rasanya ada yang janggal. Karena di sana ada
                        Nashiruddin al-Thusi. Dia ahli Matematika, astronomi,
                        optik, geografi, farmakologi, filsfat, musik, dan
                        mineralogi terkemuka setelah invasi Mongol. Pada usia
                        60 tahun, tepatnya pada tahun 657/1259, dia berhasil
                        membujuk Hulagu untuk membangun observatorium (rasad
                        khanah).Karya al-Thusi, yang dicatat oleh Brockelmann
                        sekiatr 56 judul. Filsafatnya mencakup: Metafisika,
                        Jiwa, Moral, Politik,
                        dan Kenabian.
                        Selain al-Thusi, disana ada al-Suhrawardi al-Maqtul
                        dengan konsep illuminasi (isyarq)nya. Bahkan ia
                        dibandingkan dengan filsuf Barat, Bertrand Husserl.
                        Filsafatnya: Metafisika dan Cahaya, Epistemologi,
                        Kosmologi, Psikologi.Baru kemudian Mulla Shadra. Dimana
                        filsafatnya mencakup: Epistemologi, Metafisika
                        (mencakup: wujud, jiwa, moral. Baru kemudian rantainya
                        ditutup oleh Muhammaq Iqbal.
                        Yang ingin saya kemukakan adalah sosok filsufnya, bukan
                        filsafatnya an sich. Dimana setiap filsuf itu
                        memberikan sumbangan yang tak kecil pada keilmuan
                        Islam. Termasuk Iqbal.
                        Ustadz Kattani: Di era modern ini, kita juga temukan
                        Jalaluddin Al Afghani dan M. Abduh yang berusaha
                        menggerakkan semangat keilmuan, dengan cara mengajarkan
                        filsafat di benteng keilmuan Islam, yaitu Al Azhar. Dan
                        selanjutnya di Darul Ulum. Dari gerakan dan didikan M.
                        Abduh ini kemudian tercetak banyak tokoh yang
                        selanjutnya melakukan perubahan di seluruh penjuru
                        dunia Islam. Seperti di Indonesia dengan berdirinya
                        Muhammadiyah, berdirinya pondok-pondok modern, IAIN
                        dll.QOSIM: Saya koreksi dikit aja. Mungkin maksud
                        Ustadz Kattani Jamaluddin al-Afghani, bukan
                        Jalaluddin.Di beberapa negara Islam masih banyak pegiat
                        Filsafat. Di Darul Ulum (Mesir) misalnya, kita mengenal
                        Athif al-Iraqi. Artinya, pengaruh filsfat masih kuat
                        dalam ranah keilmuan Islam. Dan wacana yang terus
                        dikembangan saat ini adalah Filsafat Ilmu. Ini menarik,
                        apakah bisa dikaitkan dengan Islam? Ada yang ingin
                        sharing? Tafadhal
                        ustadz.Qosim,http://qosim- deedat.blogspot. com/
                        .

                        [Non-text portions of this message have been removed]

                        [Non-text portions of this message have been removed]
















                        Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

                        [Non-text portions of this message have been removed]
                      • Abdul Hayyie al Kattani
                        Wa alaikum salam wr. wb. Mungkin di situ filsafat bisa dilihat sebagai pertanda. Bahwa saat itu keilmuan sedang maju dan pemerintahan yang berkuasa memberikan
                        Message 11 of 27 , Dec 4 5:22 AM
                          Wa'alaikum salam wr. wb.

                          Mungkin di situ filsafat bisa dilihat sebagai pertanda. Bahwa saat itu
                          keilmuan sedang maju dan pemerintahan yang berkuasa memberikan
                          perhatian yang besar terhadap keilmuan.
                          Saat itupun filsafat masih mencakup banyak bidang. Malah kedokteran
                          pun sering dimasukkan dalam filsafat. Juga ilmu jiwa, ilmu alam,
                          politik, alhlak, dan sebagainya.
                          Sehingga ketika disebut bahwa suatu masa tertentu dalam sejarah Islam
                          kajian filsafat maju, berarti konotasinya ilmu-ilmu diatas sedang
                          mendapatkan perhatian.

                          Sedangkan menghafal Al Qur`an dan hadits sudah menjadi tradisi yang
                          hampir dilakukan oleh banyak orang. Demikian juga fiqih maupun tauhid.
                          Semua ilmu ini bisa dikatakan sebagai ilmu mendasar yang menjadi
                          kurikulum dasar pendidikan Islam, dan yang menjadi pembeda antara
                          seorang terpelajar dengan oran awam.

                          Sehingga perdebatan Hamzah Fansuri dengan Raniri hanya menjadi
                          petunjuk bahwa saat itu di Aceh pendidikan sedang berkembang pesat,
                          pemerintah sedang kuat, dan negara sedang makmur, sehingga bisa
                          menyediakan "kemewahan" bagi rakyat untuk berkontemplasi dan
                          memperdebatkan hal-hal abstrak. Sedangkan ketika ditanya apakah
                          perdebatan-perdebatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi
                          kejayaan kerajaan Aceh saat itu, mungkin kita agak sulit menjawabnya.

                          Jadi itu kita lihat sebagai perlambang kemajuan. Bukan sebagai unsur
                          pembentuk. Sementara pada faktanya, sendi-sendi yang mendukung bagi
                          kejayaan kerajaan Aceh saat itu adalah perdagangan, kerukunan,
                          keadilan pemerintah, kekuatan angkatan bersenjata dll.

                          Sebetulnya ada perlambang lain kemajuan kerajaan Islam saat itu, yaitu
                          tampilnya alumnus Ma'had Baitul Maqdis yang bernama Keumalahayati
                          sebagai laksamana perang wanita pertama di dunia. Kehadirannya menjadi
                          bukti nyata kemajuan peradaban dan pendidikan di dunia Islam saat itu.
                          Dan dirinya pun bukan tampil hanya sebagai penghias belaka, namun
                          dengan mantap menunjukkan prestasinya memimpin armada Inong Balee
                          dengan kekuatan 100 armada kapal laut menghancurkan pasukan Cournelis
                          de Hotman yang datang dari Belanda.

                          Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa kemajuan dan kemunduran
                          Islam itu merupakan hasil dari kontribusi semua bidang dari umat
                          Islam. Tidak semata-mata satu bidang tertentu.

                          Dan dari situ pula mengapa kita lihat Imam Ahmad tetap loyal kepada
                          khalifah Al Makmun, meskipun yang terakhir banyak melakukan kesalahan.
                          Karena ia melihat semua pihak sebagai bagian dari bangunan Islam yang
                          harus diakui, didukung dan saling menguatkan. Sedangkan
                          perbedaan-perbedaan khilafiah diantara mereka diselesaikan dalam momen
                          dan bentuk lain. Apalagi bagi kalangan Sunni, ketaatan kepada
                          pemerintah yang berkuasa merupakan suatu keharusan. Meskipun tidak
                          menutup diri untuk menyampaikan kritik dan nasihat kepada yang berkuasa.


                          Wassalam,


                          AHA






                          From: insistnet@yahoogroups.com [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On
                          Behalf Of alif mthree
                          Sent: Thursday, December 04, 2008 4:02 AM
                          To: insistnet@yahoogroups.com
                          Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

                          Assalamu'alaykum wr wb..,

                          Ustadz.., antara paragraf ketiga dan keempat saya masih belum paham.
                          Mengapa filsafat dikatakan sebagai penyebab maju-mundurnya Islam. Ada
                          2 hal yang terpikir bagi saya saat membaca 2 paragraf ini:

                          1. Saya ambil contoh Kesultanan Aceh. Dalam masa kejayaannya
                          kesultanan ini memiliki 2 tokoh yang cukup terkenal yang bahkan salah
                          satunya adalah penasehat sultan yaitu Hamzah Fansuri dan Nuruddin
                          al-Raniri. Sementara perdebatan antara kedua tokoh ini adalah seputar
                          filsafat pula (tolong koreksi, saya pernah baca kalau al-Raniri tidak
                          berdebat secara langsung dengan Hamzah Fansuri melainkan dengan murid
                          dari Hamzah Fansuri). Meski dengan menggunakan logika sebagaimana
                          menempatkan Mulla Sadra di bawah bahwasanya Hamzah Fansuri tidak
                          memiliki pengaruh yang besar terhadap keilmuan Islam secara
                          internasional kala itu, namun dia tetaplah seorang yang memiliki
                          kedudukan yang berpengaruh dalam kesultanan kala itu. Dari sini saya
                          berkesimpulan (IMHO) dengan kedudukan Hamzah Fansuri sebagai penasehat
                          sultan, Kesultanan Aceh tetap maju. Maka premis bahwasanya kemajuan
                          filsafat berpengaruh terhadap kemunduran Islam, hingga detik ini saya
                          masih meragukannya.
                          Mohon penjelasannya, ya ustadz...

                          2. Pada era al-Makmun penerjemahan karya2 pemikir Yunani dilakukan
                          secara besar2an. Dan ini berlanjut pada 2 khalifah setelahnya. Baitul
                          Hikmah dibangun oleh al-Makmun (mohon dikoreksi), sementara kita tahu
                          penelitian yang dilakukan dalam Baitul Hikmah tidak sekedar pemikiran
                          filsafat Yunani namun juga ilmu-ilmu yang sifatnya humaniora dan juga
                          eksakta seperti matematika, astronomi, geografi, kimian, kedokteran,
                          dll. Di sisi lain, justru banyak pembukaan negeri2 (futuhul buldan)
                          baru pada era al-Makmun sehingga secara geografis wilayah kekuasaan
                          kekhalifahan kala itu bertambah luas. Bahkan ada suatu kisah manakala
                          ada seorang muslimah yang dilecehkan oleh salah satu penduduk Romawi
                          lalu berakhir dengan perang karena Romawi kala itu tidak mau
                          menyerahkan lelaki brengsek itu kepada Kekhalifahan Islam untuk
                          dihukum. Saat itu Imam Ahmad yang mendekam dalam penjara pun mendukung
                          Khalifah al-Makmun. Artinya bahwa saat itu (IMHO) adalah salah satu
                          bagian dari
                          kejayaan peradaban Islam, aspek keilmuan berkembang pesat, wilayah
                          geografis yang luas, dan Islam berada pada posisi yang terhormat.
                          Sementara kita tahu al-Makmun tidak sekedar orang yang berperan dalam
                          melakukan penerjemahan besar2an karya2 pemikir Yunani namun juga ia
                          adalah salah seorang pengikut Mu'tazilah. Ini bagaimana?

                          Sebenarnya ada satu lagi yang terpikir bagi saya saat pertama membaca
                          artikel awal postingan ini, namun saya lupa dan memang awalnya juga
                          saya tidak mau menanggapi karena jelas artikel tsb tidak membuktikan
                          apa2 dari judul yang dimaksud. Namun, berhubung Ustadz al-Kattani
                          menanggapi saya berharap ada 'sesuatu' yang bisa saya dapatkan.

                          Mohon penjelasannya...
                        • alif mthree
                          Alhamdulillah..   Sebelumnya saya berterima kasih atas responnya dari Ustadz...   Dalam hal kajian filsafat sebagai salah satu lambang kemajuan/ kemapanan
                          Message 12 of 27 , Dec 4 5:55 PM
                            Alhamdulillah..
                             
                            Sebelumnya saya berterima kasih atas responnya dari Ustadz...
                             
                            Dalam hal kajian filsafat sebagai salah satu lambang kemajuan/ kemapanan masyarakat Islam (Aceh) saat itu, saya sepakat dalam hal ini. Saya setuju dengan apa yang Ustadz katakan, dengan kondisi masyarakat yang cukup mapan perhatian mereka juga tercurah pada hal2 yang sifatnya abstrak/ detail/ etc seperti ini, mungkin memang karena kondisi kesempatan dll mereka miliki.
                             
                            Kemajuan dan kemunduran umat Islam adalah hasil dan kontribusi dari seluruh bidang umat Islam dan tidak semata-mata dari bidang tertentu, dalam hal ini pun kita sepakat.
                             
                            Namun, saya rasa (IMHO) perlu jika dipikirkan sebaliknya. Apakah filsafat adalah satu-satunya bidang yang membuat umat Islam mundur? Saya rasa mungkin dalam hal ini kita punya persepsi yang sama: tidak (mohon dikoreksi).
                             
                            Namun, dari sintesa yang Ustadz katakan sebagaimana yang saya ulangi pada paragraf ke-4 di atas, mungkin bisa dibalik: ummat terlalu meunmpukan perhatiannya pada sebuah bidang saja dan melupakan bidang yang lain, mungkin ini salah satu faktor kemunduran Islam (eq: terlalu memperhatikan penelitian2 ilmiah tapi tidak memperhatikan kekuatan militer misalnya sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu sejarah fase Kekhalifahan Abbasiyah, dll).
                             
                            Dalam hal ini, saya rasa (IMHO) filsafat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Saya rasa (IMHO) menggeneralisir filsafat sebagai faktor kemunduran ummat adalah hal yang (mohon maaf) kurang bijak pula. Saya rasa kita perlu memilah filsafat seperti apa yang membuat kemunduran ummat. Karena saya rasa kita tidak bisa memungkiri kontribusi filsafat (saya bicara filsafat secara umum, tidak sekedar mantiq Yunani) terhadap bangunan peradaban Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh reply dari Ustadz Qosim.
                             
                            Bagaimana Ustadz? Mohon penjelasannya, yaa Ustadz...

                            --- Pada Kam, 4/12/08, Abdul Hayyie al Kattani <alkattani1@...> menulis:

                            Dari: Abdul Hayyie al Kattani <alkattani1@...>
                            Topik: Re: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
                            Kepada: insistnet@yahoogroups.com
                            Tanggal: Kamis, 4 Desember, 2008, 1:22 PM








                            Wa'alaikum salam wr. wb.

                            Mungkin di situ filsafat bisa dilihat sebagai pertanda. Bahwa saat itu
                            keilmuan sedang maju dan pemerintahan yang berkuasa memberikan
                            perhatian yang besar terhadap keilmuan.
                            Saat itupun filsafat masih mencakup banyak bidang. Malah kedokteran
                            pun sering dimasukkan dalam filsafat. Juga ilmu jiwa, ilmu alam,
                            politik, alhlak, dan sebagainya.
                            Sehingga ketika disebut bahwa suatu masa tertentu dalam sejarah Islam
                            kajian filsafat maju, berarti konotasinya ilmu-ilmu diatas sedang
                            mendapatkan perhatian.

                            Sedangkan menghafal Al Qur`an dan hadits sudah menjadi tradisi yang
                            hampir dilakukan oleh banyak orang. Demikian juga fiqih maupun tauhid.
                            Semua ilmu ini bisa dikatakan sebagai ilmu mendasar yang menjadi
                            kurikulum dasar pendidikan Islam, dan yang menjadi pembeda antara
                            seorang terpelajar dengan oran awam.

                            Sehingga perdebatan Hamzah Fansuri dengan Raniri hanya menjadi
                            petunjuk bahwa saat itu di Aceh pendidikan sedang berkembang pesat,
                            pemerintah sedang kuat, dan negara sedang makmur, sehingga bisa
                            menyediakan "kemewahan" bagi rakyat untuk berkontemplasi dan
                            memperdebatkan hal-hal abstrak. Sedangkan ketika ditanya apakah
                            perdebatan-perdebat an tersebut memberikan manfaat langsung bagi
                            kejayaan kerajaan Aceh saat itu, mungkin kita agak sulit menjawabnya.

                            Jadi itu kita lihat sebagai perlambang kemajuan. Bukan sebagai unsur
                            pembentuk. Sementara pada faktanya, sendi-sendi yang mendukung bagi
                            kejayaan kerajaan Aceh saat itu adalah perdagangan, kerukunan,
                            keadilan pemerintah, kekuatan angkatan bersenjata dll.

                            Sebetulnya ada perlambang lain kemajuan kerajaan Islam saat itu, yaitu
                            tampilnya alumnus Ma'had Baitul Maqdis yang bernama Keumalahayati
                            sebagai laksamana perang wanita pertama di dunia. Kehadirannya menjadi
                            bukti nyata kemajuan peradaban dan pendidikan di dunia Islam saat itu.
                            Dan dirinya pun bukan tampil hanya sebagai penghias belaka, namun
                            dengan mantap menunjukkan prestasinya memimpin armada Inong Balee
                            dengan kekuatan 100 armada kapal laut menghancurkan pasukan Cournelis
                            de Hotman yang datang dari Belanda.

                            Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa kemajuan dan kemunduran
                            Islam itu merupakan hasil dari kontribusi semua bidang dari umat
                            Islam. Tidak semata-mata satu bidang tertentu.

                            Dan dari situ pula mengapa kita lihat Imam Ahmad tetap loyal kepada
                            khalifah Al Makmun, meskipun yang terakhir banyak melakukan kesalahan.
                            Karena ia melihat semua pihak sebagai bagian dari bangunan Islam yang
                            harus diakui, didukung dan saling menguatkan. Sedangkan
                            perbedaan-perbedaan khilafiah diantara mereka diselesaikan dalam momen
                            dan bentuk lain. Apalagi bagi kalangan Sunni, ketaatan kepada
                            pemerintah yang berkuasa merupakan suatu keharusan. Meskipun tidak
                            menutup diri untuk menyampaikan kritik dan nasihat kepada yang berkuasa.

                            Wassalam,

                            AHA

                            From: insistnet@yahoogrou ps.com [mailto:insistnet@yahoogrou ps.com] On
                            Behalf Of alif mthree
                            Sent: Thursday, December 04, 2008 4:02 AM
                            To: insistnet@yahoogrou ps.com
                            Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

                            Assalamu'alaykum wr wb..,

                            Ustadz.., antara paragraf ketiga dan keempat saya masih belum paham.
                            Mengapa filsafat dikatakan sebagai penyebab maju-mundurnya Islam. Ada
                            2 hal yang terpikir bagi saya saat membaca 2 paragraf ini:

                            1. Saya ambil contoh Kesultanan Aceh. Dalam masa kejayaannya
                            kesultanan ini memiliki 2 tokoh yang cukup terkenal yang bahkan salah
                            satunya adalah penasehat sultan yaitu Hamzah Fansuri dan Nuruddin
                            al-Raniri. Sementara perdebatan antara kedua tokoh ini adalah seputar
                            filsafat pula (tolong koreksi, saya pernah baca kalau al-Raniri tidak
                            berdebat secara langsung dengan Hamzah Fansuri melainkan dengan murid
                            dari Hamzah Fansuri). Meski dengan menggunakan logika sebagaimana
                            menempatkan Mulla Sadra di bawah bahwasanya Hamzah Fansuri tidak
                            memiliki pengaruh yang besar terhadap keilmuan Islam secara
                            internasional kala itu, namun dia tetaplah seorang yang memiliki
                            kedudukan yang berpengaruh dalam kesultanan kala itu. Dari sini saya
                            berkesimpulan (IMHO) dengan kedudukan Hamzah Fansuri sebagai penasehat
                            sultan, Kesultanan Aceh tetap maju. Maka premis bahwasanya kemajuan
                            filsafat berpengaruh terhadap kemunduran Islam, hingga detik ini saya
                            masih meragukannya.
                            Mohon penjelasannya, ya ustadz...

                            2. Pada era al-Makmun penerjemahan karya2 pemikir Yunani dilakukan
                            secara besar2an. Dan ini berlanjut pada 2 khalifah setelahnya. Baitul
                            Hikmah dibangun oleh al-Makmun (mohon dikoreksi), sementara kita tahu
                            penelitian yang dilakukan dalam Baitul Hikmah tidak sekedar pemikiran
                            filsafat Yunani namun juga ilmu-ilmu yang sifatnya humaniora dan juga
                            eksakta seperti matematika, astronomi, geografi, kimian, kedokteran,
                            dll. Di sisi lain, justru banyak pembukaan negeri2 (futuhul buldan)
                            baru pada era al-Makmun sehingga secara geografis wilayah kekuasaan
                            kekhalifahan kala itu bertambah luas. Bahkan ada suatu kisah manakala
                            ada seorang muslimah yang dilecehkan oleh salah satu penduduk Romawi
                            lalu berakhir dengan perang karena Romawi kala itu tidak mau
                            menyerahkan lelaki brengsek itu kepada Kekhalifahan Islam untuk
                            dihukum. Saat itu Imam Ahmad yang mendekam dalam penjara pun mendukung
                            Khalifah al-Makmun. Artinya bahwa saat itu (IMHO) adalah salah satu
                            bagian dari
                            kejayaan peradaban Islam, aspek keilmuan berkembang pesat, wilayah
                            geografis yang luas, dan Islam berada pada posisi yang terhormat.
                            Sementara kita tahu al-Makmun tidak sekedar orang yang berperan dalam
                            melakukan penerjemahan besar2an karya2 pemikir Yunani namun juga ia
                            adalah salah seorang pengikut Mu'tazilah. Ini bagaimana?

                            Sebenarnya ada satu lagi yang terpikir bagi saya saat pertama membaca
                            artikel awal postingan ini, namun saya lupa dan memang awalnya juga
                            saya tidak mau menanggapi karena jelas artikel tsb tidak membuktikan
                            apa2 dari judul yang dimaksud. Namun, berhubung Ustadz al-Kattani
                            menanggapi saya berharap ada 'sesuatu' yang bisa saya dapatkan.

                            Mohon penjelasannya. ..
















                            Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

                            [Non-text portions of this message have been removed]
                          • muhim zaki
                            assalamu alaikum wr.wb. mas, ada temenku anak fakultas ilmu budaya (dulu fak.sastra) unair pingin mengedit naskah islam melayu untuk skripsinya, dia sih
                            Message 13 of 27 , Dec 4 6:03 PM
                              assalamu alaikum wr.wb.
                              mas, ada temenku anak fakultas ilmu budaya (dulu fak.sastra) unair pingin mengedit naskah islam melayu untuk skripsinya, dia sih pinginnya yang berkaitan dengan obat-obatan tradisional. bisa dicarikan naskah yang cocok di perpustakaan ISTAC atau IIUM? jazakumullah atas bantuannya. tolong dibalas ya!



                              Apakah demonstrasi & turun ke jalan itu hal yang wajar? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com

                              [Non-text portions of this message have been removed]
                            • Akmal Sjafril
                              Wah, paragraf terakhir sangat menarik, ustadz... memang seharusnya umat ini melihat dirinya sbg suatu bangunan yang saling menguatkan, bukannya saling
                              Message 14 of 27 , Dec 4 7:25 PM
                                Wah, paragraf terakhir sangat menarik, ustadz... memang seharusnya umat ini
                                melihat dirinya sbg suatu bangunan yang saling menguatkan, bukannya saling
                                menjatuhkan ya... :(





                                Akmal Sjafril, ST.



                                <http://akmal.multiply.com> http://akmal.multiply.com













                                Dan dari situ pula mengapa kita lihat Imam Ahmad tetap loyal kepada
                                khalifah Al Makmun, meskipun yang terakhir banyak melakukan kesalahan.
                                Karena ia melihat semua pihak sebagai bagian dari bangunan Islam yang
                                harus diakui, didukung dan saling menguatkan. Sedangkan
                                perbedaan-perbedaan khilafiah diantara mereka diselesaikan dalam momen
                                dan bentuk lain. Apalagi bagi kalangan Sunni, ketaatan kepada
                                pemerintah yang berkuasa merupakan suatu keharusan. Meskipun tidak
                                menutup diri untuk menyampaikan kritik dan nasihat kepada yang berkuasa.

                                Wassalam,

                                AHA






                                [Non-text portions of this message have been removed]
                              • alkattani
                                Menurut saya, untuk menyikapi filsafat kita harus kembali kepada sifat dasar filsafat itu sendiri. Apa itu? Yaitu setiap aliran pemikiran dalam filsafat
                                Message 15 of 27 , Dec 5 1:41 PM
                                  Menurut saya, untuk menyikapi filsafat kita harus kembali kepada sifat dasar filsafat itu sendiri. Apa itu? Yaitu setiap aliran pemikiran dalam filsafat dibangun dengan "batu dan pasir " kritik atas bangunan filsafat yang lain. Setiap aliran baru membangun rumuhnya di atas runtuhan aliran sebelumnya. Seperti Aristoteles yang membangun pemikirannya di atas reruntuhan pemikiran gurunya, Plato, yang ia runtuhkan.



                                  Selama seorang filosof tidak mampu meruntuhkan pemikiran sebelumnya, atau memberikan alternatif lain, berarti ia belum dianggap sebagai filosof yang mumpuni. Dia hanya dinilai sebagai pengikut suatu aliran filsafat tertentu.



                                  Di titik inilah, menurut saya, kesalahan para filosof Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Karena mereka sangat loyal terhadap Plato dan Aristoteles. Sehingga mereka tampak duduk dengan takzim mengikuti "pengajian" Plato dan Aristoteles. Sehingga yang dilakukan oleh mereka adalah "mensyarahkan" pemikiran Plato dan Aristoteles. Bukan mengkritik dan membabat pemikiran mereka, untuk kemudian mengajukan pemikiran tandingan. Dan ketika mendapati pemikiran Plato dan Aristoteles yang bersebrangan, mereka tampak kebingungan. Dan sebagian mereka, yaitu Farabi, malah berusaha "mendamaikan" diantara kedua pemikiran tersebut.



                                  Mengapa para filosof Muslim tersebut sangat loyal terhadap para filosof Yunani itu? Menurut Ibn Sina, karena ajaran-ajaran para filosof tersebut adalah ajaran-ajaran ilahi, dan para filosof tersebut adalah para nabi yang diutus untuk mengajarkan 'uluum aqliyah atau ilmu-ilmu logika. Karena itu, para filosof Muslim tersebut sangat patuh dan menjunjung tinggi ajaran para filosof Yunani. Sementara apa yang dibawa oleh Nabi saw. adalah ilmu-ilmu sunnah. Bukan ilmu-ilmu akal.



                                  Dan ketika ada benturan antara ajaran filsafat dengan sunnah Nabi saw. atau Al Qur`an, apakah yang mereka (para filosof) perbuat? Mereka mentakwil ayat-ayat dan hadits tersebut sehingga maknanya menjadi sesuai dan sejalan dengan ajaran filsafat.



                                  Al Ghazali berusaha mengingatkan hal ini. Diantaranya, dia mengingatkan agar filsafat jangan dipakai untuk mengkaji hal-hal yang metafisik. Karena itu bukan bidangnya dan akal tidak akan mampu memasukinya. Sekalipun akal mengkajinya juga, maka hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang spekulatif dan tidak pasti. Sedangkan umat Islam sudah punya pedoman yang pasti dan lengkap tentang hal ini. Yaitu Al Qur`an dan hadits.



                                  Ibnu Rusyd yang berusaha menjawab Al Ghazali, sebenarnya juga setuju dengan kenyataan bahwa Al Qur`an sudah mengandung ajaran-ajaran yang memuaskan dan pasti tentang hal itu. Dia juga mengakui bahwa Al Qur`an juga mengajarkan metode berpikir yang mumpuni yang lebih canggih dibandingkan logika Yunani. Namun sayangnya, Ibnu Rusyd masih terlalu terpukau dengan filsfat Yunani terutama Aristoteles, sehingga dia tetap takzim menjadi murid Aristoteles yang berbakti terhadap gurunya, dan tidak mengembangkan lebih lanjut kajian tentang logika Al Qur`an.



                                  Yang mengenaskan, ternyata pilihan Ibnu Rusyd tersebut tidak tepat. Karena ternyata pemikiran-pemikiran filsafat Yunani tentang alam, penciptaan dan sebagainya, saat ini didapati banyak yang keliru.

                                  Seandainya dia menggali metode logika dan filsafat dari Al Qur`an dan hadits, tentu hasilnya akan lain.







                                  AHA









































                                  From: insistnet@yahoogroups.com [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On Behalf Of alif mthree
                                  Sent: Friday, December 05, 2008 3:56 AM
                                  To: insistnet@yahoogroups.com
                                  Subject: Re: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam



                                  Alhamdulillah..

                                  Sebelumnya saya berterima kasih atas responnya dari Ustadz...

                                  Dalam hal kajian filsafat sebagai salah satu lambang kemajuan/ kemapanan masyarakat Islam (Aceh) saat itu, saya sepakat dalam hal ini. Saya setuju dengan apa yang Ustadz katakan, dengan kondisi masyarakat yang cukup mapan perhatian mereka juga tercurah pada hal2 yang sifatnya abstrak/ detail/ etc seperti ini, mungkin memang karena kondisi kesempatan dll mereka miliki.

                                  Kemajuan dan kemunduran umat Islam adalah hasil dan kontribusi dari seluruh bidang umat Islam dan tidak semata-mata dari bidang tertentu, dalam hal ini pun kita sepakat.

                                  Namun, saya rasa (IMHO) perlu jika dipikirkan sebaliknya. Apakah filsafat adalah satu-satunya bidang yang membuat umat Islam mundur? Saya rasa mungkin dalam hal ini kita punya persepsi yang sama: tidak (mohon dikoreksi).

                                  Namun, dari sintesa yang Ustadz katakan sebagaimana yang saya ulangi pada paragraf ke-4 di atas, mungkin bisa dibalik: ummat terlalu meunmpukan perhatiannya pada sebuah bidang saja dan melupakan bidang yang lain, mungkin ini salah satu faktor kemunduran Islam (eq: terlalu memperhatikan penelitian2 ilmiah tapi tidak memperhatikan kekuatan militer misalnya sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu sejarah fase Kekhalifahan Abbasiyah, dll).

                                  Dalam hal ini, saya rasa (IMHO) filsafat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Saya rasa (IMHO) menggeneralisir filsafat sebagai faktor kemunduran ummat adalah hal yang (mohon maaf) kurang bijak pula. Saya rasa kita perlu memilah filsafat seperti apa yang membuat kemunduran ummat. Karena saya rasa kita tidak bisa memungkiri kontribusi filsafat (saya bicara filsafat secara umum, tidak sekedar mantiq Yunani) terhadap bangunan peradaban Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh reply dari Ustadz Qosim.

                                  Bagaimana Ustadz? Mohon penjelasannya, yaa Ustadz...

                                  ---





                                  .

                                  <http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=9543180/grpspId=1705076179/msgId=12765/stime=1228442167/nc1=5349272/nc2=5028924/nc3=5170420>




                                  [Non-text portions of this message have been removed]
                                • alif mthree
                                  Subhanallah...   Jujur saja Ustadz, banyak hal yang saya ambil dari postingan Ustadz di bawah. Syukran katsiran...   Namun, saya masih belum mendapatkan
                                  Message 16 of 27 , Dec 8 8:14 AM
                                    Subhanallah...
                                     
                                    Jujur saja Ustadz, banyak hal yang saya ambil dari postingan Ustadz di bawah. Syukran katsiran...
                                     
                                    Namun, saya masih belum mendapatkan jawaban konkret untuk mengatakan bahwasanya filsafat adalah salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran ummat. Sehingga saya masih bertanya-tanya, apa iya? Atau mungkin saya belum menangkap jawabannya dari postingan Ustadz di bawah?
                                     
                                    Mohon pencerahannya...
                                     
                                    Salam//

                                    --- Pada Jum, 5/12/08, alkattani <alkattani1@...> menulis:

                                    Dari: alkattani <alkattani1@...>
                                    Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
                                    Kepada: insistnet@yahoogroups.com
                                    Tanggal: Jumat, 5 Desember, 2008, 9:41 PM








                                    Menurut saya, untuk menyikapi filsafat kita harus kembali kepada sifat dasar filsafat itu sendiri. Apa itu? Yaitu setiap aliran pemikiran dalam filsafat dibangun dengan "batu dan pasir " kritik atas bangunan filsafat yang lain. Setiap aliran baru membangun rumuhnya di atas runtuhan aliran sebelumnya. Seperti Aristoteles yang membangun pemikirannya di atas reruntuhan pemikiran gurunya, Plato, yang ia runtuhkan.

                                    Selama seorang filosof tidak mampu meruntuhkan pemikiran sebelumnya, atau memberikan alternatif lain, berarti ia belum dianggap sebagai filosof yang mumpuni. Dia hanya dinilai sebagai pengikut suatu aliran filsafat tertentu.

                                    Di titik inilah, menurut saya, kesalahan para filosof Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Karena mereka sangat loyal terhadap Plato dan Aristoteles. Sehingga mereka tampak duduk dengan takzim mengikuti "pengajian" Plato dan Aristoteles. Sehingga yang dilakukan oleh mereka adalah "mensyarahkan" pemikiran Plato dan Aristoteles. Bukan mengkritik dan membabat pemikiran mereka, untuk kemudian mengajukan pemikiran tandingan. Dan ketika mendapati pemikiran Plato dan Aristoteles yang bersebrangan, mereka tampak kebingungan. Dan sebagian mereka, yaitu Farabi, malah berusaha "mendamaikan" diantara kedua pemikiran tersebut.

                                    Mengapa para filosof Muslim tersebut sangat loyal terhadap para filosof Yunani itu? Menurut Ibn Sina, karena ajaran-ajaran para filosof tersebut adalah ajaran-ajaran ilahi, dan para filosof tersebut adalah para nabi yang diutus untuk mengajarkan 'uluum aqliyah atau ilmu-ilmu logika. Karena itu, para filosof Muslim tersebut sangat patuh dan menjunjung tinggi ajaran para filosof Yunani. Sementara apa yang dibawa oleh Nabi saw. adalah ilmu-ilmu sunnah. Bukan ilmu-ilmu akal.

                                    Dan ketika ada benturan antara ajaran filsafat dengan sunnah Nabi saw. atau Al Qur`an, apakah yang mereka (para filosof) perbuat? Mereka mentakwil ayat-ayat dan hadits tersebut sehingga maknanya menjadi sesuai dan sejalan dengan ajaran filsafat.

                                    Al Ghazali berusaha mengingatkan hal ini. Diantaranya, dia mengingatkan agar filsafat jangan dipakai untuk mengkaji hal-hal yang metafisik. Karena itu bukan bidangnya dan akal tidak akan mampu memasukinya. Sekalipun akal mengkajinya juga, maka hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang spekulatif dan tidak pasti. Sedangkan umat Islam sudah punya pedoman yang pasti dan lengkap tentang hal ini. Yaitu Al Qur`an dan hadits.

                                    Ibnu Rusyd yang berusaha menjawab Al Ghazali, sebenarnya juga setuju dengan kenyataan bahwa Al Qur`an sudah mengandung ajaran-ajaran yang memuaskan dan pasti tentang hal itu. Dia juga mengakui bahwa Al Qur`an juga mengajarkan metode berpikir yang mumpuni yang lebih canggih dibandingkan logika Yunani. Namun sayangnya, Ibnu Rusyd masih terlalu terpukau dengan filsfat Yunani terutama Aristoteles, sehingga dia tetap takzim menjadi murid Aristoteles yang berbakti terhadap gurunya, dan tidak mengembangkan lebih lanjut kajian tentang logika Al Qur`an.

                                    Yang mengenaskan, ternyata pilihan Ibnu Rusyd tersebut tidak tepat. Karena ternyata pemikiran-pemikiran filsafat Yunani tentang alam, penciptaan dan sebagainya, saat ini didapati banyak yang keliru.

                                    Seandainya dia menggali metode logika dan filsafat dari Al Qur`an dan hadits, tentu hasilnya akan lain.

                                    AHA

                                    From: insistnet@yahoogrou ps.com [mailto:insistnet@yahoogrou ps.com] On Behalf Of alif mthree
                                    Sent: Friday, December 05, 2008 3:56 AM
                                    To: insistnet@yahoogrou ps.com
                                    Subject: Re: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam

                                    Alhamdulillah. .

                                    Sebelumnya saya berterima kasih atas responnya dari Ustadz...

                                    Dalam hal kajian filsafat sebagai salah satu lambang kemajuan/ kemapanan masyarakat Islam (Aceh) saat itu, saya sepakat dalam hal ini. Saya setuju dengan apa yang Ustadz katakan, dengan kondisi masyarakat yang cukup mapan perhatian mereka juga tercurah pada hal2 yang sifatnya abstrak/ detail/ etc seperti ini, mungkin memang karena kondisi kesempatan dll mereka miliki.

                                    Kemajuan dan kemunduran umat Islam adalah hasil dan kontribusi dari seluruh bidang umat Islam dan tidak semata-mata dari bidang tertentu, dalam hal ini pun kita sepakat.

                                    Namun, saya rasa (IMHO) perlu jika dipikirkan sebaliknya. Apakah filsafat adalah satu-satunya bidang yang membuat umat Islam mundur? Saya rasa mungkin dalam hal ini kita punya persepsi yang sama: tidak (mohon dikoreksi).

                                    Namun, dari sintesa yang Ustadz katakan sebagaimana yang saya ulangi pada paragraf ke-4 di atas, mungkin bisa dibalik: ummat terlalu meunmpukan perhatiannya pada sebuah bidang saja dan melupakan bidang yang lain, mungkin ini salah satu faktor kemunduran Islam (eq: terlalu memperhatikan penelitian2 ilmiah tapi tidak memperhatikan kekuatan militer misalnya sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu sejarah fase Kekhalifahan Abbasiyah, dll).

                                    Dalam hal ini, saya rasa (IMHO) filsafat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Saya rasa (IMHO) menggeneralisir filsafat sebagai faktor kemunduran ummat adalah hal yang (mohon maaf) kurang bijak pula. Saya rasa kita perlu memilah filsafat seperti apa yang membuat kemunduran ummat. Karena saya rasa kita tidak bisa memungkiri kontribusi filsafat (saya bicara filsafat secara umum, tidak sekedar mantiq Yunani) terhadap bangunan peradaban Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh reply dari Ustadz Qosim.

                                    Bagaimana Ustadz? Mohon penjelasannya, yaa Ustadz...

                                    ---

                                    .

                                    <http://geo.yahoo com/serv? s=97359714/ grpId=9543180/ grpspId=17050761 79/msgId= 12765/stime= 1228442167/ nc1=5349272/ nc2=5028924/ nc3=5170420>


                                    [Non-text portions of this message have been removed]
















                                    Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

                                    [Non-text portions of this message have been removed]
                                  • Syamsuddin Arif
                                    Ass wr wb, artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang mana,
                                    Message 17 of 27 , Dec 8 8:09 PM
                                      Ass wr wb,

                                      artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst). Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang, ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola, pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok atau tabrakan?

                                      Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:

                                      2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab

                                      *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 

                                       

                                       




















                                      [Non-text portions of this message have been removed]
                                    • alif mthree
                                      Alhamdulillah..,   Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.   Iya, beginilah
                                      Message 18 of 27 , Dec 9 9:06 AM
                                        Alhamdulillah..,
                                         
                                        Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.
                                         
                                        Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung (baca: problematis) dari artikel tsb, sebagaimana yang saya pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2 ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/ maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.
                                         
                                        Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa mempertanggungjawabkan artikelnya secara intelektual atas beberapa problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.
                                         
                                        Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2 kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist  he..he..he...
                                         
                                        Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik dari tanggapan yang singkat ini.
                                         
                                         
                                        Hormat saya//
                                        alif fikri

                                        --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@...> menulis:

                                        Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@...>
                                        Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                        Kepada: insistnet@yahoogroups.com
                                        Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM






                                        Ass wr wb,

                                        artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst). Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang, ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola, pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok atau tabrakan?

                                        Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:

                                        2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab

                                        *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 

                                         

                                         









                                        [Non-text portions of this message have been removed]
















                                        ___________________________________________________________________________
                                        Dapatkan alamat Email baru Anda!
                                        Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
                                        http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

                                        [Non-text portions of this message have been removed]
                                      • hilal nuha
                                        dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan salah satu sebab
                                        Message 19 of 27 , Dec 9 10:44 AM
                                          dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan salah satu sebab ketertinggalan islam dari barat adalah karena munculnya ilmu filsafat dan mulai meninggalkan ilmu terapan.wallahua'lam

                                          --- On Tue, 12/9/08, alif mthree <alif_m3@...> wrote:
                                          From: alif mthree <alif_m3@...>
                                          Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                          To: insistnet@yahoogroups.com
                                          Date: Tuesday, December 9, 2008, 11:06 AM


















                                          Alhamdulillah. .,

                                           

                                          Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.

                                           

                                          Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung (baca: problematis)  dari artikel tsb, sebagaimana yang saya pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2 ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/ maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.

                                           

                                          Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa mempertanggungjawab kan artikelnya secara intelektual atas beberapa problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.

                                           

                                          Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2 kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist  he..he..he.. .

                                           

                                          Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik dari tanggapan yang singkat ini.

                                           

                                           

                                          Hormat saya//

                                          alif fikri



                                          --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com> menulis:



                                          Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com>

                                          Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?

                                          Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com

                                          Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM



                                          Ass wr wb,



                                          artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst). Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang, ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola, pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok atau tabrakan?



                                          Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:



                                          2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab



                                          *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 



                                           



                                           



                                          [Non-text portions of this message have been removed]



                                          ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

                                          Dapatkan alamat Email baru Anda!

                                          Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

                                          http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/



                                          [Non-text portions of this message have been removed]


































                                          [Non-text portions of this message have been removed]
                                        • malki_tea
                                          maap saudara boleh disebutkan halamannya? dan buku apa? asli atau terjemahan yang saudara gunakan? trims ... bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini)
                                          Message 20 of 27 , Dec 9 4:57 PM
                                            maap saudara boleh disebutkan halamannya? dan buku apa? asli atau
                                            terjemahan yang saudara gunakan?
                                            trims

                                            --- In insistnet@yahoogroups.com, hilal nuha <h2nforever@...> wrote:
                                            >
                                            > dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul
                                            bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan
                                            salah satu sebab ketertinggalan islam dari barat adalah karena
                                            munculnya ilmu filsafat dan mulai meninggalkan ilmu terapan.wallahua'lam
                                            >
                                            > --- On Tue, 12/9/08, alif mthree <alif_m3@...> wrote:
                                            > From: alif mthree <alif_m3@...>
                                            > Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                            > To: insistnet@yahoogroups.com
                                            > Date: Tuesday, December 9, 2008, 11:06 AM
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > Alhamdulillah. .,
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan
                                            mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung
                                            (baca: problematis)  dari artikel tsb, sebagaimana yang saya
                                            pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat
                                            (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita
                                            memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada
                                            referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2
                                            ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat
                                            antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg
                                            Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/
                                            maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa
                                            mempertanggungjawab kan artikelnya secara intelektual atas beberapa
                                            problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait
                                            point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2
                                            kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal
                                            seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist 
                                            he..he..he.. .
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik
                                            dari tanggapan yang singkat ini.
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            > Hormat saya//
                                            >
                                            > alif fikri
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com> menulis:
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com>
                                            >
                                            > Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                            >
                                            > Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com
                                            >
                                            > Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > Ass wr wb,
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini
                                            yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat
                                            yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst).
                                            Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang,
                                            ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta
                                            universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari
                                            sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa
                                            yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola,
                                            pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai
                                            reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur
                                            diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or
                                            regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok
                                            atau tabrakan?
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must
                                            be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan
                                            akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica?
                                            ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > 2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian.
                                            *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang
                                            dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya
                                            Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang
                                            dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,*
                                            pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif,
                                            yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles.
                                            *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang
                                            dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*,
                                            pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat
                                            analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini
                                            dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,*
                                            *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada
                                            orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >  
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > [Non-text portions of this message have been removed]
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
                                            >
                                            > Dapatkan alamat Email baru Anda!
                                            >
                                            > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
                                            >
                                            > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > [Non-text portions of this message have been removed]
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            >
                                            > [Non-text portions of this message have been removed]
                                            >
                                          • malki_tea
                                            sebab pernyataanya a historis, coba bayangkan waktu proses penterjemahan buku2 filsdafat yunani sampai ke periode komentar2 dan sarahan2 seperti yang dilakukan
                                            Message 21 of 27 , Dec 9 5:42 PM
                                              sebab pernyataanya a historis, coba bayangkan waktu proses
                                              penterjemahan buku2 filsdafat yunani sampai ke periode komentar2 dan
                                              sarahan2 seperti yang dilakukan oleh ibn rusd, Barat masih dalam
                                              periode Dark Age, justru Barat karena ditolong oleh para philosof2
                                              Muslim, jadi hemat saya jangan comot sini dan comot sana dalam
                                              mengutif sesuatu. kemudian apa maksudnya ilmu terapan apa in modern
                                              sense? jika iyah itu yang dimaksud, itu dualistik lah jadi ilmu itu
                                              terpisah dan tidak terkait erat anatara teori dan praktek, dan seperti
                                              ilmu eksak lah yang dimaksud dengan ilmu terapan...apa yang dimaksud
                                              ini..?gak jelas sebab gak ada penjelasannya sebabnya asal ngutif sini
                                              dan sana, kalau boleh saran saya bertanggungjawab, kecuali asal
                                              meramaikan.

                                              jika mau yang benar2 disebut faktor asasi kemunduran Islam (umat
                                              Islam) adalah berikut inilah kemusyrikan dan kemungkaran merajalela
                                              seperti terhadap majalah playboy yang leluasa, syariat islam
                                              dilecehkan, pergaulan bebas dibudayakan, materialisme dan hedonisme
                                              ditanamkan, paham sirik modern (pluralisme agama)dikurikulumkan,
                                              aliran sesat dibela, liberalisme dibanggakan, relatisme dijadikan
                                              panduan, ilmu tafsir digusur dan ditukar dengan tafsir yahudi-nasrani
                                              (hermeneutika, perzinaan dibela, homoseksual dan lesbianisme
                                              dihalalkan, perkawinan lintas agama dipromosikan, artis jadi panutan,
                                              ulama pejuang disingkirkan, ulama as-su' ditampilkan.

                                              terimakasih
                                              malki



                                              --- In insistnet@yahoogroups.com, "malki_tea" <malki_tea@...> wrote:
                                              >
                                              > maap saudara boleh disebutkan halamannya? dan buku apa? asli atau
                                              > terjemahan yang saudara gunakan?
                                              > trims
                                              >
                                              > --- In insistnet@yahoogroups.com, hilal nuha <h2nforever@> wrote:
                                              > >
                                              > > dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul
                                              > bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan
                                              > salah satu sebab ketertinggalan islam dari barat adalah karena
                                              > munculnya ilmu filsafat dan mulai meninggalkan ilmu terapan.wallahua'lam
                                              > >
                                              > > --- On Tue, 12/9/08, alif mthree <alif_m3@> wrote:
                                              > > From: alif mthree <alif_m3@>
                                              > > Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                              > > To: insistnet@yahoogroups.com
                                              > > Date: Tuesday, December 9, 2008, 11:06 AM
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > Alhamdulillah. .,
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan
                                              > mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung
                                              > (baca: problematis)  dari artikel tsb, sebagaimana yang saya
                                              > pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat
                                              > (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita
                                              > memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada
                                              > referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2
                                              > ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat
                                              > antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg
                                              > Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/
                                              > maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa
                                              > mempertanggungjawab kan artikelnya secara intelektual atas beberapa
                                              > problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait
                                              > point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2
                                              > kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal
                                              > seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist 
                                              > he..he..he.. .
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik
                                              > dari tanggapan yang singkat ini.
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > > Hormat saya//
                                              > >
                                              > > alif fikri
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com> menulis:
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com>
                                              > >
                                              > > Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                              > >
                                              > > Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com
                                              > >
                                              > > Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > Ass wr wb,
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini
                                              > yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat
                                              > yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst).
                                              > Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang,
                                              > ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta
                                              > universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari
                                              > sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa
                                              > yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola,
                                              > pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai
                                              > reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur
                                              > diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or
                                              > regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok
                                              > atau tabrakan?
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must
                                              > be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan
                                              > akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica?
                                              > ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > 2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian.
                                              > *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang
                                              > dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya
                                              > Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang
                                              > dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,*
                                              > pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif,
                                              > yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles.
                                              > *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang
                                              > dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*,
                                              > pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat
                                              > analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini
                                              > dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,*
                                              > *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada
                                              > orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >  
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
                                              > >
                                              > > Dapatkan alamat Email baru Anda!
                                              > >
                                              > > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
                                              > >
                                              > > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > >
                                              > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                              > >
                                              >
                                            • Qosim Nursheha Dzulhadi
                                              SALAM, Saya kira wajar jika As-Syahid Hasan al-Banna menyatakan itu, karena memang beliau tidak fak dalam Filsafat. Tentunya tidak demikian jika dinisbatkan
                                              Message 22 of 27 , Dec 9 7:39 PM
                                                SALAM,

                                                Saya kira wajar jika As-Syahid Hasan al-Banna menyatakan itu, karena memang beliau tidak fak dalam Filsafat. Tentunya tidak demikian jika dinisbatkan kepada Al-Farabi, Ibnu Sina, al-Kindi, Ibnu Rusyd, al-Ghazali. Toh mereka adalah orang hebat dalam filsafat. Juga mereka mantap dalam ilmu-ilmu syariat.

                                                Qosim

                                                --- On Tue, 12/9/08, hilal nuha <h2nforever@...> wrote:
                                                From: hilal nuha <h2nforever@...>
                                                Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                                To: insistnet@yahoogroups.com
                                                Date: Tuesday, December 9, 2008, 1:44 PM











                                                dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan salah satu sebab ketertinggalan islam dari barat adalah karena munculnya ilmu filsafat dan mulai meninggalkan ilmu terapan.wallahua' lam



                                                --- On Tue, 12/9/08, alif mthree <alif_m3@yahoo. com> wrote:

                                                From: alif mthree <alif_m3@yahoo. com>

                                                Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?

                                                To: insistnet@yahoogrou ps.com

                                                Date: Tuesday, December 9, 2008, 11:06 AM



                                                Alhamdulillah. .,



                                                 



                                                Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.



                                                 



                                                Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung (baca: problematis)  dari artikel tsb, sebagaimana yang saya pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2 ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/ maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.



                                                 



                                                Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa mempertanggungjawab kan artikelnya secara intelektual atas beberapa problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.



                                                 



                                                Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2 kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist  he..he..he.. .



                                                 



                                                Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik dari tanggapan yang singkat ini.



                                                 



                                                 



                                                Hormat saya//



                                                alif fikri



                                                --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com> menulis:



                                                Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com>



                                                Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?



                                                Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com



                                                Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM



                                                Ass wr wb,



                                                artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst). Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang, ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola, pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok atau tabrakan?



                                                Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:



                                                2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab



                                                *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 



                                                 



                                                 



                                                [Non-text portions of this message have been removed]



                                                ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _



                                                Dapatkan alamat Email baru Anda!



                                                Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!



                                                http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/



                                                [Non-text portions of this message have been removed]































                                                [Non-text portions of this message have been removed]





























                                                [Non-text portions of this message have been removed]
                                              • alif mthree
                                                Awalnya saya tidak mau mendebatkan tentang pernyataan dari Imam al-Banna ini, karena biasanya kalau yang didiskusikan adalah salah satu tokoh pergerakan
                                                Message 23 of 27 , Dec 10 8:41 AM
                                                  Awalnya saya tidak mau mendebatkan tentang pernyataan dari Imam al-Banna ini, karena biasanya kalau yang didiskusikan adalah salah satu tokoh pergerakan tertentu biasanya unsur objektifitasnya lebih banyak kurangnya dalam menilai sebuah gagasan, (mohon maaf) bahkan tidak jarang hanya berujung pada untuk emosi belaka. Namun berhubung di sini Ust. Malki dan Ust. Qosim sudah berkomentar, saya juga ingin mencoba untuk sedikit urun rembug. Bukan untuk ikut berkomentar (krn saya juga sedang belajar) namun lebih kepada merangkai mutiara diskusi ini agar menjadi sebuah gelang atau kalung yang indah, dengan kata lain mencoba untuk merangkum.
                                                   
                                                  Saya juga membaca buku tsb (majmu'at al-rasail), dan seingat saya (tlg koreksi) memang beliau ada mengatakan seperti di bawah ini. Namun, saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Ust. Qosim. Mungkin ini lebih disebabkan karena beliau tidak memiliki pemahaman yang utuh mengenai posisi filsafat bila dilihat dari background pendidikan dan latar belakang lingkungan di sekitarnya kala itu. Mengapa demikian? Hal ini dijelaskan oleh Ust. Malki, bahwasanya pernyataan beliau tsb justru ahistoris. Dan kalau Mas Hilal perhatikan diskusi ini sejak awal, selain penjelasan dari Ust. Malki bisa dilihat juga dari berbagai macam contoh yang telah banyak dipaparkan dalm diskusi ini.
                                                   
                                                  Catatan yang tidak kalah berharganya pula dari apa yang disampaikan oleh Ust. Malki adalah agar kita tidak asal kutip, saya rasa juga perlu menjadi perhatian kita bersama.
                                                   
                                                  Mengenai kemunduran Islam, I absolutely agree with Ust. Malki. Selain sebagaimana yang dikatakan dalam diskusi ini sebelumnya oleh Ust. al-Kattani (terlalu memperhatikan sebuah bidang dan melupakan bidang yang lain yang tidak kalah pentingnya), apa yang dikatakan oleh Ust. Malki di bawah tentunya juga termasuk dalam hal ini.
                                                   
                                                  Namun jika ingin mengatakan filsafat sebagai faktor kemunduran umat Islam, saya rasa kita perlu mengkaji hal ini lebih hati2, cermat, dan bijak pula. Catatan yang diberikan oleh Dr. Arif sebelumnya adalah satu hal yang berharga yang perlu kita perhatikan dalam hal ini. 
                                                   
                                                  Mohon koreksinya...
                                                   
                                                  Salam..


                                                  --- Pada Rab, 10/12/08, malki_tea <malki_tea@...> menulis:

                                                  Dari: malki_tea <malki_tea@...>
                                                  Topik: Re: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam? lbih detail lagi
                                                  Kepada: insistnet@yahoogroups.com
                                                  Tanggal: Rabu, 10 Desember, 2008, 1:42 AM






                                                  sebab pernyataanya a historis, coba bayangkan waktu proses
                                                  penterjemahan buku2 filsdafat yunani sampai ke periode komentar2 dan
                                                  sarahan2 seperti yang dilakukan oleh ibn rusd, Barat masih dalam
                                                  periode Dark Age, justru Barat karena ditolong oleh para philosof2
                                                  Muslim, jadi hemat saya jangan comot sini dan comot sana dalam
                                                  mengutif sesuatu. kemudian apa maksudnya ilmu terapan apa in modern
                                                  sense? jika iyah itu yang dimaksud, itu dualistik lah jadi ilmu itu
                                                  terpisah dan tidak terkait erat anatara teori dan praktek, dan seperti
                                                  ilmu eksak lah yang dimaksud dengan ilmu terapan...apa yang dimaksud
                                                  ini..?gak jelas sebab gak ada penjelasannya sebabnya asal ngutif sini
                                                  dan sana, kalau boleh saran saya bertanggungjawab, kecuali asal
                                                  meramaikan.

                                                  jika mau yang benar2 disebut faktor asasi kemunduran Islam (umat
                                                  Islam) adalah berikut inilah kemusyrikan dan kemungkaran merajalela
                                                  seperti terhadap majalah playboy yang leluasa, syariat islam
                                                  dilecehkan, pergaulan bebas dibudayakan, materialisme dan hedonisme
                                                  ditanamkan, paham sirik modern (pluralisme agama)dikurikulumka n,
                                                  aliran sesat dibela, liberalisme dibanggakan, relatisme dijadikan
                                                  panduan, ilmu tafsir digusur dan ditukar dengan tafsir yahudi-nasrani
                                                  (hermeneutika, perzinaan dibela, homoseksual dan lesbianisme
                                                  dihalalkan, perkawinan lintas agama dipromosikan, artis jadi panutan,
                                                  ulama pejuang disingkirkan, ulama as-su' ditampilkan.

                                                  terimakasih
                                                  malki

                                                  --- In insistnet@yahoogrou ps.com, "malki_tea" <malki_tea@. ..> wrote:
                                                  >
                                                  > maap saudara boleh disebutkan halamannya? dan buku apa? asli atau
                                                  > terjemahan yang saudara gunakan?
                                                  > trims
                                                  >
                                                  > --- In insistnet@yahoogrou ps.com, hilal nuha <h2nforever@ > wrote:
                                                  > >
                                                  > > dalam majmuatur rasail, Hasan Al Banna dalam risalahnya yng berjudul
                                                  > bainal amsi wa yaum(antara kemarin dan hari ini) beliau menyebutkan
                                                  > salah satu sebab ketertinggalan islam dari barat adalah karena
                                                  > munculnya ilmu filsafat dan mulai meninggalkan ilmu terapan.wallahua' lam
                                                  > >
                                                  > > --- On Tue, 12/9/08, alif mthree <alif_m3@> wrote:
                                                  > > From: alif mthree <alif_m3@>
                                                  > > Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                                  > > To: insistnet@yahoogrou ps.com
                                                  > > Date: Tuesday, December 9, 2008, 11:06 AM
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > Alhamdulillah. .,
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Ternyata yang merasa ada problem dalam artikel tsb dan tanggapan
                                                  > mengenai maju-mundurnya Islam tidak hanya saya.
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Iya, beginilah maksudnya. Ada beberapa pertanyaan yang menggantung
                                                  > (baca: problematis)  dari artikel tsb, sebagaimana yang saya
                                                  > pertanyakan berulang-ulang dalam tanggapan saya. Seperti filsafat
                                                  > (seperti tanggapan saya sebelumnya, mungkin lebih bijak bila kita
                                                  > memilahnya). Lalu bicara tentang faktor kemunduran pun kita mesti ada
                                                  > referensi parameternya, mengapa dikatakan mundur/ maju (eq: contoh2
                                                  > ttg kondisi yang sudah dipaparkan dalama tanggapan2 sebelumnya: debat
                                                  > antara Hamzah Fansuri - al-Raniri, masa pemerintahan al-Makmun dg
                                                  > Baitul Hikmah-nya, dll). Sehingga saat mengatakan kondisi ini mundur/
                                                  > maju tidak hanya sekedar beradasarkan pengamatan yang sektoral.
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Tentunya seharusnya penulis artikel itu pulalah yang mestinya bisa
                                                  > mempertanggungjawab kan artikelnya secara intelektual atas beberapa
                                                  > problem di atas sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Arif.
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Namun, mungkin bagi saya ada yang baru dan menarik di sini. Terkait
                                                  > point ketiga dan point teknis yang dipaparkan oleh Dr. Arif. Kira2
                                                  > kapan ya bisa membahasnya dalam kajian rutin di INSISTS? Sebab hal
                                                  > seperti ini rasanya kurang puas bila hanya dibahas di milist 
                                                  > he..he..he.. .
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Terima kasih Dr. Arif atas tanggapannya, banyak hal yang saya petik
                                                  > dari tanggapan yang singkat ini.
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > > Hormat saya//
                                                  > >
                                                  > > alif fikri
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > --- Pada Sel, 9/12/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com> menulis:
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > Dari: Syamsuddin Arif <tagesauge@yahoo. com>
                                                  > >
                                                  > > Topik: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?
                                                  > >
                                                  > > Kepada: insistnet@yahoogrou ps.com
                                                  > >
                                                  > > Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 4:09 AM
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > Ass wr wb,
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini
                                                  > yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat
                                                  > yang mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst).
                                                  > Kedua, soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang,
                                                  > ataukah ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta
                                                  > universal ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari
                                                  > sisi apa? Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa
                                                  > yang ukuran dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola,
                                                  > pergerakan maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai
                                                  > reference point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur
                                                  > diterapkan pada Islam, can we speak of Islam being in progress or
                                                  > regress? sepertimana kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok
                                                  > atau tabrakan?
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must
                                                  > be silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan
                                                  > akhir artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica?
                                                  > ---What on earth is going on here?) Saya kutipkan:
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > 2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian.
                                                  > *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang
                                                  > dijelaskan dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya
                                                  > Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang
                                                  > dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,*
                                                  > pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif dan negatif,
                                                  > yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles.
                                                  > *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang
                                                  > dijelaskan dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*,
                                                  > pembahasan untuk mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat
                                                  > analogi dalam menyusun proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini
                                                  > dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,*
                                                  > *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk menyerukan kepada
                                                  > orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >  
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
                                                  > >
                                                  > > Dapatkan alamat Email baru Anda!
                                                  > >
                                                  > > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
                                                  > >
                                                  > > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > >
                                                  > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                                  > >
                                                  >
















                                                  Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

                                                  [Non-text portions of this message have been removed]
                                                • Umm Duha
                                                  as-Salaamu alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh, Maaf, berhubung saya tidak paham filsafat, mohon Dr. Arif menjelaskan poin ke-2 yg beliau sebut sebagai
                                                  Message 24 of 27 , Dec 10 7:29 PM
                                                    as-Salaamu 'alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh,

                                                    Maaf, berhubung saya tidak paham filsafat, mohon Dr. Arif menjelaskan poin ke-2 yg beliau sebut sebagai kesalahan yg memilukan. Apa maksudnya judul bukunya salah? Atau nama penulisnya salah? Atau bagaimana? Jzk.

                                                    Was-Salaamu 'alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh,
                                                    ummduha


                                                    --- On Tue, 12/9/08, Syamsuddin Arif <tagesauge@...> wrote:
                                                    Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent,
                                                    kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir artikel tersebut
                                                    memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on earth is going on here?)
                                                    Saya kutipkan:

                                                    2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian. *Pertama*,
                                                    pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan dalam kitab yang
                                                    populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes. *Kedua,*pembahasan mengenai
                                                    makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam kitab *Categories, *karya
                                                    Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai susunan makna tunggal secara positif
                                                    dan negatif, yang dijelaskan dalam kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles.
                                                    *Keempat*, pembahasan mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan
                                                    dalam kitab *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk
                                                    mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun
                                                    proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab *Ponethyca*,
                                                    karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi yang bermanfaat untuk
                                                    menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini dijelaskan dalam kitab

                                                    *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~ 





                                                    [Non-text portions of this message have been removed]
                                                  • Syaikhul Amin - MTD
                                                    Shodaqta ustadz, almuslimuuna mahjuubun bil muslimiin ________________________________ From: insistnet@yahoogroups.com [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On
                                                    Message 25 of 27 , Dec 11 1:00 AM
                                                      Shodaqta ustadz,



                                                      "almuslimuuna mahjuubun bil muslimiin"



                                                      ________________________________

                                                      From: insistnet@yahoogroups.com [mailto:insistnet@yahoogroups.com] On
                                                      Behalf Of Syamsuddin Arif
                                                      Sent: Tuesday, December 09, 2008 11:09 AM
                                                      To: insistnet@yahoogroups.com
                                                      Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat pada Kemunduran Islam?



                                                      Ass wr wb,

                                                      artikel tsb berusaha menangani beberapa persoalan sekaligus -dan ini
                                                      yang membuatnya rada poblematik- . Pertama, soal filsafat (filsafat yang
                                                      mana, filsafat apa, filsafat siapa, filsafat kapan, dimana dst). Kedua,
                                                      soal "kemunduran" (apakah maksudnya berjalan ke belakang, ataukah
                                                      ketinggalan? Lalu, "kemunduran" yang dimaksud itu fakta universal
                                                      ataukah persepsi personal/kommunal? Lagi pula, mundur dari sisi apa?
                                                      Sebaliknya, jika lawannya adalah kemajuan (progress), apa yang ukuran
                                                      dan referensinya? Sebab, seperti orang bermain sepak bola, pergerakan
                                                      maju atau mundurnya pemain terkait dengan gawang sebagai reference
                                                      point. Ketiga, soal apakah bisa konsep maju/mundur diterapkan pada
                                                      Islam, can we speak of Islam being in progress or regress? sepertimana
                                                      kita bicara tentang mobil: maju, mundur, mogok atau tabrakan?

                                                      Terakhir masalah teknis. Whereof one cannot speak, thereof one must be
                                                      silent, kata Wittgenstein. Kekeliruan2 yang terdapat di catatan akhir
                                                      artikel tersebut memilukan (i.e. Pirtoes, Ponethyca, Tonica? ---What on
                                                      earth is going on here?) Saya kutipkan:

                                                      2. Menurut Ibn Sina, *mantiq* (logika) meliputi sembilan bagian.
                                                      *Pertama*, pembahasan tentang pembagian lafal dan makna, yang dijelaskan
                                                      dalam kitab yang populer dengan judul, *al-Madkhal* , karya Pirtoes.
                                                      *Kedua,*pembahasan mengenai makna angka tunggal, yang dijelaskan dalam
                                                      kitab *Categories, *karya Aristoteles. *Ketiga,* pembahasan mengenai
                                                      susunan makna tunggal secara positif dan negatif, yang dijelaskan dalam
                                                      kitab *On Interpretation, *karya Aristoteles. *Keempat*, pembahasan
                                                      mengenai susunan proposisi, atau analogi, yang dijelaskan dalam kitab
                                                      *Prior Analytics, *karya Aristoteles. *Kelima*, pembahasan untuk
                                                      mengetahui secara mendalam mengenai syarat-syarat analogi dalam menyusun
                                                      proposisi yang menjadi premis-premisnya. Ini dijelaskan dalam kitab
                                                      *Ponethyca*, karya Aristoteles. *Keenam*,* *pembahasan mengenai analogi
                                                      yang bermanfaat untuk menyerukan kepada orang yang kurang paham. Ini
                                                      dijelaskan dalam kitab *Tonica, *karya Aristoteles. ~~~



                                                      [Non-text portions of this message have been removed]
                                                    • zuhriyyah hidayati
                                                      Seandainya dia menggali metode logika dan filsafat dari Al Qur`an dan hadits, tentu hasilnya akan lain. menarik sekali ide Bapak tentang yang terakhir ini.
                                                      Message 26 of 27 , Dec 18 1:05 AM
                                                        "Seandainya dia menggali metode logika dan filsafat dari Al Qur`an dan hadits, tentu hasilnya akan lain."

                                                        menarik sekali ide Bapak tentang yang terakhir ini. MOhon dilanjutkan Pak...

                                                        salam
                                                        ZUh

                                                        --- On Fri, 12/5/08, alkattani <alkattani1@...> wrote:
                                                        From: alkattani <alkattani1@...>
                                                        Subject: RE: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam
                                                        To: insistnet@yahoogroups.com
                                                        Date: Friday, December 5, 2008, 1:41 PM















                                                        Menurut saya, untuk menyikapi filsafat kita harus kembali kepada sifat dasar filsafat itu sendiri. Apa itu? Yaitu setiap aliran pemikiran dalam filsafat dibangun dengan "batu dan pasir " kritik atas bangunan filsafat yang lain. Setiap aliran baru membangun rumuhnya di atas runtuhan aliran sebelumnya. Seperti Aristoteles yang membangun pemikirannya di atas reruntuhan pemikiran gurunya, Plato, yang ia runtuhkan.



                                                        Selama seorang filosof tidak mampu meruntuhkan pemikiran sebelumnya, atau memberikan alternatif lain, berarti ia belum dianggap sebagai filosof yang mumpuni. Dia hanya dinilai sebagai pengikut suatu aliran filsafat tertentu.



                                                        Di titik inilah, menurut saya, kesalahan para filosof Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Karena mereka sangat loyal terhadap Plato dan Aristoteles. Sehingga mereka tampak duduk dengan takzim mengikuti "pengajian" Plato dan Aristoteles. Sehingga yang dilakukan oleh mereka adalah "mensyarahkan" pemikiran Plato dan Aristoteles. Bukan mengkritik dan membabat pemikiran mereka, untuk kemudian mengajukan pemikiran tandingan. Dan ketika mendapati pemikiran Plato dan Aristoteles yang bersebrangan, mereka tampak kebingungan. Dan sebagian mereka, yaitu Farabi, malah berusaha "mendamaikan" diantara kedua pemikiran tersebut.



                                                        Mengapa para filosof Muslim tersebut sangat loyal terhadap para filosof Yunani itu? Menurut Ibn Sina, karena ajaran-ajaran para filosof tersebut adalah ajaran-ajaran ilahi, dan para filosof tersebut adalah para nabi yang diutus untuk mengajarkan 'uluum aqliyah atau ilmu-ilmu logika. Karena itu, para filosof Muslim tersebut sangat patuh dan menjunjung tinggi ajaran para filosof Yunani. Sementara apa yang dibawa oleh Nabi saw. adalah ilmu-ilmu sunnah. Bukan ilmu-ilmu akal.



                                                        Dan ketika ada benturan antara ajaran filsafat dengan sunnah Nabi saw. atau Al Qur`an, apakah yang mereka (para filosof) perbuat? Mereka mentakwil ayat-ayat dan hadits tersebut sehingga maknanya menjadi sesuai dan sejalan dengan ajaran filsafat.



                                                        Al Ghazali berusaha mengingatkan hal ini. Diantaranya, dia mengingatkan agar filsafat jangan dipakai untuk mengkaji hal-hal yang metafisik. Karena itu bukan bidangnya dan akal tidak akan mampu memasukinya. Sekalipun akal mengkajinya juga, maka hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang spekulatif dan tidak pasti. Sedangkan umat Islam sudah punya pedoman yang pasti dan lengkap tentang hal ini. Yaitu Al Qur`an dan hadits.



                                                        Ibnu Rusyd yang berusaha menjawab Al Ghazali, sebenarnya juga setuju dengan kenyataan bahwa Al Qur`an sudah mengandung ajaran-ajaran yang memuaskan dan pasti tentang hal itu. Dia juga mengakui bahwa Al Qur`an juga mengajarkan metode berpikir yang mumpuni yang lebih canggih dibandingkan logika Yunani. Namun sayangnya, Ibnu Rusyd masih terlalu terpukau dengan filsfat Yunani terutama Aristoteles, sehingga dia tetap takzim menjadi murid Aristoteles yang berbakti terhadap gurunya, dan tidak mengembangkan lebih lanjut kajian tentang logika Al Qur`an.



                                                        Yang mengenaskan, ternyata pilihan Ibnu Rusyd tersebut tidak tepat. Karena ternyata pemikiran-pemikiran filsafat Yunani tentang alam, penciptaan dan sebagainya, saat ini didapati banyak yang keliru.



                                                        Seandainya dia menggali metode logika dan filsafat dari Al Qur`an dan hadits, tentu hasilnya akan lain.



                                                        AHA



                                                        From: insistnet@yahoogrou ps.com [mailto:insistnet@yahoogrou ps.com] On Behalf Of alif mthree

                                                        Sent: Friday, December 05, 2008 3:56 AM

                                                        To: insistnet@yahoogrou ps.com

                                                        Subject: Re: [INSISTS] Pengaruh Filsafat Terhadap Kemunduran Islam



                                                        Alhamdulillah. .



                                                        Sebelumnya saya berterima kasih atas responnya dari Ustadz...



                                                        Dalam hal kajian filsafat sebagai salah satu lambang kemajuan/ kemapanan masyarakat Islam (Aceh) saat itu, saya sepakat dalam hal ini. Saya setuju dengan apa yang Ustadz katakan, dengan kondisi masyarakat yang cukup mapan perhatian mereka juga tercurah pada hal2 yang sifatnya abstrak/ detail/ etc seperti ini, mungkin memang karena kondisi kesempatan dll mereka miliki.



                                                        Kemajuan dan kemunduran umat Islam adalah hasil dan kontribusi dari seluruh bidang umat Islam dan tidak semata-mata dari bidang tertentu, dalam hal ini pun kita sepakat.



                                                        Namun, saya rasa (IMHO) perlu jika dipikirkan sebaliknya. Apakah filsafat adalah satu-satunya bidang yang membuat umat Islam mundur? Saya rasa mungkin dalam hal ini kita punya persepsi yang sama: tidak (mohon dikoreksi).



                                                        Namun, dari sintesa yang Ustadz katakan sebagaimana yang saya ulangi pada paragraf ke-4 di atas, mungkin bisa dibalik: ummat terlalu meunmpukan perhatiannya pada sebuah bidang saja dan melupakan bidang yang lain, mungkin ini salah satu faktor kemunduran Islam (eq: terlalu memperhatikan penelitian2 ilmiah tapi tidak memperhatikan kekuatan militer misalnya sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu sejarah fase Kekhalifahan Abbasiyah, dll).



                                                        Dalam hal ini, saya rasa (IMHO) filsafat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Saya rasa (IMHO) menggeneralisir filsafat sebagai faktor kemunduran ummat adalah hal yang (mohon maaf) kurang bijak pula. Saya rasa kita perlu memilah filsafat seperti apa yang membuat kemunduran ummat. Karena saya rasa kita tidak bisa memungkiri kontribusi filsafat (saya bicara filsafat secara umum, tidak sekedar mantiq Yunani) terhadap bangunan peradaban Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh reply dari Ustadz Qosim.



                                                        Bagaimana Ustadz? Mohon penjelasannya, yaa Ustadz...



                                                        ---



                                                        .



                                                        <http://geo.yahoo com/serv? s=97359714/ grpId=9543180/ grpspId=17050761 79/msgId= 12765/stime= 1228442167/ nc1=5349272/ nc2=5028924/ nc3=5170420>





                                                        [Non-text portions of this message have been removed]





























                                                        [Non-text portions of this message have been removed]
                                                      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.