Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Berita-Sehari di Taman Nasional Lore Lindu

Expand Messages
  • bantaya
    Sulawesi Tengah - Central Sulawesi on the Net - Sulteng, INDONESIA Berita - * Sehari di Taman Nasional Lore Lindu sulteng12 - Sun May 22, 2005 7:58 am Post
    Message 1 of 1 , May 21, 2005
    • 0 Attachment
      Sulawesi Tengah - Central Sulawesi on the Net - Sulteng, INDONESIA

      Berita - * Sehari di Taman Nasional Lore Lindu

      sulteng12 - Sun May 22, 2005 7:58 am
      Post subject: * Sehari di Taman Nasional Lore Lindu
      http://www.sulteng.com/printview.php?t=126&start=0

      Melintasi kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), adalah sebuah hal yang
      biasa bagi yang sering melakukannya, terutama bagi masyarakat yang sering
      lalu lalang dari Napu ke Palu atau sebaliknya. Tapi bagi yang jarang, tentu
      pemandangan yang lain akan menghiasi perjalanan. Ada yang lain memang,
      sejak kawasan konservasi itu dirambah masyarakat beberapa tahun silam. Apa
      itu? Berikut sedikit catatannya.

      Laporan: ABDEE K MARI/Wartawan Radar Sulteng


      BAU khas bunga Edelweiss, menyebar di sepanjang perjalanan saat melintasi
      kawasan hijau di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Bau bunga itu berasal
      dari pegunungan di TNLL yang memang tempat dimana bunga edelweiss itu
      tumbuh. Bunga itu merebakkan bau jika pagi hari atau memang cuaca sedang
      dingin. Saat itu memang pagi hari, yakni sekitar pukul 09.30. Saat asiknya
      melihat pemandangan di lokasi taman nasional itu, kita akan disuguhkan
      dengan banyaknya bangunan rumah sederhana yang terbuat dari papan, di
      sepanjang jalan yang masih menjadi areal taman nasional. Daerah tersebut
      terkenal dengan sebutan Dongi-dongi.

      Kawasan Dongi-dongi itu dulunya dihuni oleh sekitar 1.030 kepala keluarga
      (KK). Saat hangat-hangatnya pemerintah akan melakukan relokasi, masyarakat
      yang oleh pemerintah disebut sebagai perambah itu, berontak. Berbagai aksi
      protes hingga ke aksi unjuk rasa, dilakukan warga. Tapi itu dulu. Kini,
      kawasan itu mulai adem. Sejumlah warganya tenang bekerja bahkan saat kami
      melintas, beberapa wanita dan anak-anak banyak yang tampak duduk-duduk di
      beranda rumahnya.

      Bahkan, dari pantauan langsung Koran ini, rumah-rumah yang dulunya dibuat
      saling berdekatan, kini sudah banyak yang ditinggal penghuninya dan
      dibiarkan rusak. Pemandangan lain di Dongi-dongi adalah tanaman jagung yang
      daunnya sudah menguning, juga terlihat jelas di kawasan yang dideklarasikan
      dengan nama Ngata Katuvua itu. Kemana sebagian warga Dongi-dongi itu?

      Menurut Kepala Balai TNLL Amir Hamzah, sebagian warga itu sudah turun ke
      perkampungan dan mencari lahan baru. ''Banyak di antara mereka kini sudah
      menyatakan siap untuk direlokasi,'' kata Amir Hamzah. Hal itu disebabkan
      adanya pendekatan kekeluargaan yang dilakukan oleh kepala BTNLL itu.

      Semakin dalam kita memasuki kawasan taman nasional, aroma bunga Edelweiss
      semakin kuat tercium. Sayang, saat sedang asik mencium bau Edelweiss,
      tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara chain saw meraung-raung. Semakin lama
      berjalan, suara gergaji mesin itu makin keras. Rupanya ada warga yang
      sedang melakukan aktivitas pembalakan di kawasan TNLL. Tidak diketahui
      siapa, tapi yang jelas, lokasi pembalakan itu masih sangat dekat dengan
      pemukiman Ngata Katuvua Dongi-dongi.

      Kepala BTNLL Amir Hamzah dan Komandan Pos TNLL, Sersan Mayor B Makuasa,
      yang ikut bersama koran ini dalam satu mobil, hanya bisa melongo dan
      mengerutkan kening mendengar suara chain saw itu. ''Nggak mungkin itu
      menebang pohon kecil. Pasti pohon besar dan mungkin saja ada pembalakan di
      sana,'' kata Amir Hamzah sambil tak henti-hentinya memandangi lokasi hutan
      lebat sumber raungan chain saw itu. Areal itu memang kawasan yang menjadi
      kewenangannya. Tapi dengan kemampuan dan aparat terbatas tidak mungkin bisa
      langsung melakukan tindakan begitu mendengar ada aksi penebangan di kawasan
      itu. ''Kami sudah tidak akan memberi toleransi lagi, kami harus minta
      bantuan aparat,'' kata Amir bersungut.

      Makin jauh berjalan, makin miris perasaan melihat kawasan yang
      disebut-sebut sebagai daerah tangkapan air itu. Hal yang baru muncul dan
      membuat dua wartawan yang ikut dalam mobil kepala BTNLL itu tercengang.
      Lagi-lagi kawasan paru-paru dunia itu dirambah. ''Sepertinya Dongi-dongi
      berpindah di sini,'' seloroh Jamrin Abubakar, wartawan koran MAL yang ikut
      dalam rombongan. Aksi perambahan hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan
      kebun, mulai terjadi di wilayah desa Sedoa Kecamatan Lore Utara, Poso.
      Sejak kilometer ke-62 hingga kilometer 86 arah Napu. Pria-pria memegang
      kampak dan parang juga tampak asik memotong-motong batang pohon tidak
      mempedulikan kendaraan yang lalu-lalang, meski itu petugas.

      Menurut Komandan Pos Keamanan TNLL Sersan Mayor B Makuasa, aksi perambahan
      di desa Sedoa itu merupakan aksi kedua. Sebelumnya pihaknya mengamankan 14
      kepala keluarga yang pertama kali melakukan aksi perambahan. 14 KK itu
      ternyata berasal dari tiga desa di wilayah Kabupaten Donggala, yakni desa
      Sambo, Bobo dan Mantikole. Oleh Serma Makuasa dan tiga kepala desa asal
      warga itu, telah mengembalikan para perambah hutan ke tempat asalnya
      tanggal 12 Mei 2005 yang lalu.

      ''Yang masih merambah sekarang itu adalah orang-orang yang berasal dari
      bawah (Dongi-Dongi,Red) dan itu sudah sangat memprihatinkan dan perlu
      diberi sanksi,'' kata Makuasa saat ikut bersama rombongan yang dipimpin
      Kepala Balai TNLL Ir Amir Hamzah di desa Wuasa Lore Utara Senin (16/5).
      Setelah mengamankan dan kemudian mengembalikan 14 kepala keluarga (KK) yang
      pertama kali melakukan aksi perambahan ke desa asal mereka, yakni desa
      Sambo, Bobo dan Mantikole Kabupaten Donggala, ternyata aksi perambahan TNLL
      masih terus berlangsung. Bahkan, makin memprihatinkan.

      Pengembalian 14 KK warga Kabupaten Donggala yang merambah TNLL, ternyata
      belum menyelesaikan masalah. Masih tersisa sekitar 20-an KK warga Donggala
      lainnya yang masih merambah di lokasi itu, tepatnya di Maroro dan Batu
      Salome sekitar kilometer 84 hingga kilometer 86. Dua lokasi perambahan itu
      masih dalam kawasan TNLL. Bukan hanya warga Donggala, banyak juga yang
      berasal dari kawasan Dongi-dongi (perambah lama) yang ikut melakukan
      perambahan.

      ''Yang masih merambah sekarang itu adalah orang-orang yang berasal dari
      bawah (Dongi-Dongi,Red) dan itu sudah sangat memprihatinkan dan perlu
      diberi sanksi,'' kata Sersan Mayor TNI B Makuasa yang ikut bersama
      rombongan yang dipimpin Kepala Balai TNLL Ir Amir Hamzah di desa Wuasa Lore
      Utara Senin (16/5) awal pekan lalu.

      Pemantauan langsung wartawan Senin (16/5), aksi perambahan kawasan taman
      nasional itu, tampak sedang berlangsung di sepanjang pinggiran jalan menuju
      ke Napu. Kepulan asap dan gemuruh pohon tumbang, menghiasi sepanjang
      perjalanan mulai dari kawasan Dongi-Dongi hingga ke Desa Sedoa Kecamatan
      Lore Utara. Kiri kanan bahu jalan yang dulunya hijau berubah menjadi
      kekuning-kuningan akibat dedaunan pohon yang ditebang sudah menjadi kering.

      Kontan saja masyarakat Kecamatan Lore Utaran bereaksi. Di bawah pimpinan
      Ketua Hondo Adat Pekurehua Lore Utara Karel megati, sejumlah kepala desa,
      tokoh adat dan tokoh pemuda di Lore Utara, berkumpul dan menyatakan sikap
      tegasnya atas perambahan yang sudah masuk wilayah mereka. ''Masyarakat Lore
      itu kesal. Kenapa kesal? Kenapa hal ini terkesan lamban dan dibiarkan
      sehingga sudah terjadi perambahan hingga jauh seperti sekarang ini.
      Kemudian, aksi itu membuat kerugian bagi negara yang sangat besar,'' kata
      Karel Megati ditemui usai pertemuan di aula Kantor Camat Lore Utara saat itu.

      Menyikapi hal itu, seluruh kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat dan
      pemuda di Lore Utara, menandatangani pernyataan sikap yang isinya antara
      lain, tidak menolerir lagi aksi perambahan hutan dan akan melaporkannya ke
      pihak yang berkompeten di Jakarta.

      ''Dalam satu atau dua hari ini, Saya dan Kepala BTNLL Amir Hamzah akan
      menyerahkan pernyataan sikap itu kepada Menteri Kehutanan, Kapolri dan
      Panglima TNI. Dan dalam dua hari ini, kami akan menghadap Pak Danrem dan
      Pak Kapolda untuk meminta agar diturunkan pasukan untuk membersihkan aksi
      perambahan itu,'' kata Karel.

      Kekhawatiran Karel itu beralasan. Pasalnya, sejak aksi perambahan itu
      terjadi dua bulan yang lalu, sejumlah ruas jalan menuju ke Napu menjadi
      longsor. Bahkan, beberapa ruas jalan nyaris putus.

      Keterangan yang berhasil di korek dari Kepala Desa Wunga, Viktor Palanti,
      aksi perambahan hutan itu terjadi sejak dua bulan yang lalu. Ironisnya kata
      Viktor, itu terjadi saat dirinya dan beberapa kepala desa dari Lore Utara
      kembali dari menyerahkan pernyataan sikap menentang aksi perambahan TNLL ke
      gubernur.

      ''Bagai diiris-iris hati kami saat melihat jalur hijau di bahu jalan di
      TNLL itu dirambah dan dijadikan perkebunan. Kami hanya meminta ini segera
      ditangani pusat, karena sudah banyak upaya kami meminta penanganan daerah
      namun tidak ada realisasinya,'' tandasnya.

      Ketua Lembaga Adat Desa Wuasa SP Ngkiro dengan tegas mengecam aksi
      perambahan itu. Menurut dia, yang membuat masyarakat Lore Utara tersinggung
      adalah, karena wilayah yang dirambah sekarang itu adalah wilayah adat
      Pekurehua. ''Dampak negatif dari perambahan itu ada pada masyarakat. Kami
      bisa terancam, banjir dan longsor. Jalur transportasi akan putus dan kami
      akan terisolasi. Itu yang kami tidak mau,'' tegas SP Ngkiro.

      Menurutnya, daerah itu (Maroro dan Batu Salome) adalah daerah yang menurut
      warga adat Pekurehua disebut Poloka atau tempat bertanam pisang. Sejak itu
      daerah itu menjadi daerah adat Pekurehua Lore Utara. Namun setelah diminta
      pemerintah untuk dijadikan taman nasional, masyarakat kemudian
      melepakannya. ''Itu untuk kepentingan bersama. Karena dengan begitu
      manfaatnya akan besar bagi umat manusia,'' ujar Ngkiro. Namun dirambahnya
      lagi wilayah itu, membuat para tokoh adat itu geram dan menyatakan tidak
      akan menolerir aksi itu.
      Ketua Lembaga Adat Desa Wuasa SP Ngkiro memang wajar gusar. Pasalnya, sejak
      turun-temurun wilayah Maroro dan Batu Salome sekitar kilometer 84 hingga
      kilometer 86 TNLL yang kini dirambah warga dari luar itu, adalah wilayah
      adat dan sangat dilindungi oleh warga adat. ''Daerah itu dulunya sebelum
      diminta pemerintah untuk dijadikan taman nasional, adalah tempat warga
      menanam pisang, sehingga lokasi itu disebut Poloka atau tempat menanam
      pisang,'' kata Ngkiro.

      Senada dengannya, Sekretaris Lembaga Adat Pekurehua Lore Utara Harongi Tebo
      yang diwawancarai Radar Sulteng di Desa Wuasa awal pekan lalu menyatakan
      rasa prihatinnya atas aksi perambahan yang dilakukan oleh warga yang tak
      bertanggung jawab itu. Keprihatinan sekaligus kekawatiran itu disebabkan
      wilayah itu adalah zona inti yang melindungi kawasan sekitarnya seperti
      wilayah Kecamatan Lore Utara. ''Hal itu akan merugikan masyarakat Lore
      Utara. Jika masalah perambahan di Dongi-dongi dan di batu Salome itu tidak
      selesai, itu akan jadi barometer bagi taman nasional lainnya,'' kata Harongi.

      Kepala Desa Kadua Hendrik Sampali yang juga ditemui Radar Sulteng
      mengatakan bahwa masalah itu sudah final, sehingga respons pemerintah pusat
      terhadap penyelesaian perambahan taman nasional, sangat diharapkan.
      ''Kenapa karena kami tidak percaya lagi terhadap pemerintah daerah yang
      seakan-akan membiarkan perambahan itu,'' kata Hendrik.

      Memang, akhir pekan lalu, seluruh kepala desa, tokoh adat dan tokoh
      masyarakat, melakukan pertemuan untuk membahas nasib TNLL yang sangat
      memprihatinkan itu. Pertemuan yang dipimpin Ketua Majelis Hondo Adat
      Pekurehua Lore Utara Ir Karel Megati juga mengeluarkan pernyataan bersama
      yang berisi kekhawatiran akan ancaman akibat perambahan hutan itu.

      ''Masyarakat Lore itu kesal. Kenapa kesal? Kenapa hal ini terkesan lamban
      dan dibiarkan sehingga sudah terjadi perambahan hingga jauh seperti
      sekarang ini. Kemudian, aksi itu membuat kerugian bagi negara yang sangat
      besar,'' kata Karel Megati ditemui usai pertemuan di aula Kantor Camat Lore
      Utara akhir pakan lalu.

      Menyikapi hal itu, seluruh kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat dan
      pemuda di Lore Utara, menandatangani pernyataan sikap yang isinya antara
      lain, tidak menolerir lagi aksi perambahan hutan dan akan melaporkannya ke
      pihak yang berkompeten di Jakarta.

      ''Dalam satu atau dua hari ini, Saya dan Kepala BTNLL Amir Hamzah akan
      menyerahkan pernyataan sikap itu kepada Menteri Kehutanan, Kapolri dan
      Panglima TNI. Dan dalam dua hari ini, kami akan menghadap Pak Danrem dan
      Pak Kapolda untuk meminta agar diturunkan pasukan untuk membersihkan aksi
      perambahan itu,'' tandas Karel.

      Kepala BTNLL Amir Hamzah dalam pertemuan itu mengakui, adanya kembali
      perambahan di TNLL disebabkan pemerintah belum tegas. Selama ini pihaknya
      menggunakan pendekatan kekeluargaan untuk mengeluarkan masyarakat yang
      bermukim di Dongi-Dongi, dan itu berhasil. Kini pihaknya sedang mencarikan
      lahan untuk tempat tinggal alternatif bagi ribuan warga yang mendiami
      Dongi-Dongi.

      ''Tapi yang terjadi dua bulan terakhir ini di sekitar wilayah Desa Sedoa,
      sudah sangat keterlaluan, tidak bisa ditolerir. Mereka itu menantang
      pemerintah. Saya akan menghadap Pak Kapolda dan Danrem untuk meminta agar
      diturunkan pasukan ke TNLL. Karena sesuai dengan Inpres No.4 2005 TNI dan
      Polri berhak untuk melakukan itu,'' kata Amir Hamzah geram.***

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.