Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Aceh Appeals & Commentary

Expand Messages
  • John MacDougall
    From Saiful - smabdullah2003 Dear John, Please forward to your list. For those who want to donate directly to Achehnese managed
    Message 1 of 2 , Jan 1, 2005
      From Saiful - smabdullah2003 <smabdullah2003@...>

      Dear John,

      Please forward to your list. For those who want to donate directly to
      Achehnese managed relief work on the disaster, please consider
      donating through:

      https://www.achehtimes.hivelocity.net/news/2004/122704a.htm

      ---

      From m. hisyam <adu@...>

      Re: [indonesian-studies] MMI: Berkaca pada Musibah


      Jika musibah Tsunami yang terjadi di Aceh adalah teguran Allah buat bangsa
      Indonesia yang tidak mau menerapkan syariat Islam, korup, dan senang merusak
      lingkungan; mengapa yang menjadi korban adalah bangsa Aceh yang telah
      menerapkan syariat Islam, dan selalu tertindas? Bukankah masyarakat Aceh
      adalah masyarakat yang sangat relijius? Saudara Fauzan Anshori tidak bijak
      mengaitkan musibah ini dengan siksa dari Allah. Pernyataan sdr. Fauzan akan
      menjadikan bangsa Aceh lebih menderita.

      Tulisan sdr. Fauzan (sama persis dengan khatib Jumat di masjid UGM) senada
      dengan pernyataan seorang pendeta di Amerika, Daniel Lapin, yang menganggap
      bahwa gempa bumi tahun lalu di Bam, Iran yang menewaskan 20.000 orang
      sebagai siksa Tuhan atas umat yang tidak mau menerima ajaran
      Judeo-Kristiani. Kutipan dari The Age 30 Dec. 2004
      http://www.theage.com.au/articles/2004/12/29/1103996609356.html?
      sebagai berikut:

      In the aftermath to last year's Bam earthquakes, which killed more than
      20,000 (mostly Muslim) Iranians, conservative American rabbi Daniel Lapin
      argued in the Chicago Jewish News that God dispatches natural disasters to
      punish
      those who have not embraced Judeo-Christian traditions. Noting that the US
      had been relatively untouched by natural disasters, Lapin wrote: "We ought
      to acknowledge that each day, every American derives enormous benefit from
      the faith of our founders and of their heirs."

      Musibah ini harus dihadapi dengan penuh kearifan, bahwa manusia amat lemah
      menghadapi fenomena alam. Sekalipun demikian kita tidak boleh pesimis
      menghadapi hidup. Kita hendaknya menolong para korban musibah itu,
      memperbaiki lingkungan hidup, belajar geologi, dan tidak perlu cari kambing
      hitam.

      --

      From Carla Bianpoen <carlab@...>

      Pada tgl 30 Desember, para perempuan dari Suara Masyarakat untuk Aceh (SMUA)
      membuat SURAT TERBUKA kepada Pemerintah RI (disebarkan kepada mass media)
      yang meminta kejelasan dari Pemerintah mengenai pernyataan Wakil Presiden M
      Jusuf Kalla 'darurat apapun tidak ada lagi' (Kompas 30 Des. 2004). Surat
      Terbuka yang di buat Saparinah Sadli, Mayling Oey, Rita Kolibonso, Debra H.
      Yatim, Carla Bianpoen, Hermandari Kartowisastro dan Liang, didukung oleh
      sekitar 30 LSM, mendesak Pemerintah untuk segera mengklarifikasi secara
      publik arti nyata dari pernyataan Wakil Presiden tersebut, serta mencabut
      status darurat sipil di NAD agar masyarakat yang ingin membantu pekerjaan
      kemanusiaan di daerah bencana dapat melakukannya tanpa batas.

      Didukung oleh
      Yayasan Lotus ; Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan; Perempuan untuk
      Perdamaian dan Keadilan, ; Mitra Perempuan ; Yayasan Kesehatan Perempuan ;
      Gerakan Perempuan Peduli Indonesia; Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk
      Keadilan; Center for Electoral Reform ; Solidaritas Perempuan; Komunitas
      Penegakkan Hak-Hak Sipil ; Women's Research Institute; Aceh Working Group ;
      acehkita.com; Ikatan Keluarga Orang Hilang ; Imparsial, Kontras,; Komunitas
      Masyarakat Sipil untuk Korban Tsunami, Kalyanamitra; Komisi Nasional Anti
      Kekerasan Terhadap Perempuan; Yayasan NADI; Yayasan Bina Usaha Lingkungan;
      Masyarakat Dialog Antar Agama; Suara Penegakan Hak2 Sipil; Suara Hak Asasi
      Manusia Indonesia, Masyarakat Lingkungan Binaan, Indonesian Conference on
      Religion and Peace; Jaringan Islam Liberal, Lakpesdam NU; Fatayat NU;
      Rahima; Puan Amal Hayati. Persatuan Penyandang Cacat Indonesia.
      -----------
      Pada tgl 31 Desember, surat terbuka tersebut ditindak lanjuti dengan
      KUNJUNGAN ke Presiden SBY (lihat daftar nama). Mereka menyatakan prihatin
      tentang berita kelaparan di daerah bencana di hampir semua media, padahal di
      ketahui umumi bahwa bantuan dari berbagai pihak dari pemerintah dan
      masyarakat sudah berlimpah, tapi sarana yang sudah tersedia tidak bisa
      diakses oleh masyarakat yang memerlukan.

      Mereka inginkan kerjasama yang mulus antara pemerintah dan masyarakat madani
      dan mendesak Presiden:

      1. Agar kerjasama antara pemerintah dengan semua pihak dalam
      masyarakat bisa berjalan lebih efektif dan efisien;

      2. Agar mereka yang telah diberi kepercayaan melakukan bantuan
      kemanusiaan, baik dari dalam maupun luar negeri, bisa melakukan kegiatannya
      berkelanjutan;

      3. agar dipikirkan bersama kejelasan konkrit mengenai prosedur perolehan
      izin bagi mereka yang memrlukan;

      4. agar Pemerintah memberikan penjelasan secara publik mengenai apa
      arti konkritnya pernyataan Wakil Presiden bahwa 'darurat apapun tidak ada
      lagi' (Kompas 30 Desember, 2004).

      5. agar dibuka akses seluas-luasnya agar upaya kemanusiaan, baik dari
      dalam maupun luar negeri, dapat berjalan tanpa ambatan

      6. agar Presiden memegang tongkat komando untuk pelaksanaan hal-hal
      tersebut.

      7. agar pemerintah memberikan informasi secara publik mengenai apa yang
      sudah dilakukan atau strategi rinci mengenai apa yang akan dilakukan.

      Ditekankan bahwa perlu ada kerjasama yang baik antara Pemerintah dan LSM.
      Presiden menyambut baik, dan mengundang LSM ikut dalam kunjungan beliau ke
      Aceh tgl 1 Januari, serta kemudian mendampingi Menko Kesra (Alwi Shihab)
      yang akan tinggal di Banda Aceh untuk beberapa waktu. Disediakan tempat
      untuk 2 orang (satu perempuan dan satu laki-laki), yang mestinya sudah
      berangkat saat laporan ini di tulis.

      Daftar nama: Saparinah Sadli, Rita Serena Kolibonso, Mayling Oey, Carla
      Bianpoen, Ade Simatupang, Ulil Abshar Abdilah, Faisal Basri, Usman Hamid
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.