Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: Undangan dari FMN - Terlalu Banyak Ritual!

Expand Messages
  • Mohamad Zaki Hussein
    Yth. Mas Satrio, Pertama-tama, perlu diketahui bahwa pendapat saya di bawah merupakan pendapat pribadi saya jadi bukan pendapat FMN, karena saya mustahil
    Message 1 of 7 , Apr 27, 2004
      Yth. Mas Satrio,

      Pertama-tama, perlu diketahui bahwa pendapat saya di bawah merupakan pendapat pribadi saya jadi bukan pendapat FMN, karena saya mustahil mengatasnamakan FMN, karena
      saya tidak punya wewenang untuk itu. Saya tidak punya keterkaitan organisasional apapun dengan mereka dan bantuan saya mengirimkan proposal dan undangan mereka ke
      milis-milis hanya dalam kerangka solidaritas saja dan bukan karena keterkaitan organisasional.

      Kedua, setahu saya FMN sudah mengambil sikap dalam Pemilu, saya pernah menerima statement mereka tentang Pemilu, mungkin nanti mereka bisa mengirimkannya kepada anda,
      mengingat anda sudah men-CC-kan email anda ke alamat email FMN UI.

      Ketiga, menurut hemat, saya, acara ini tampaknya merupakan bagian dari pengorganisiran mereka di sektor mahasiswa. Pengorganisiran itu salah satu tujuannya adalah
      untuk 'membangun kekuatan.' Program politik, sebagus apapun program itu, akan sia-sia belaka dan hanya akan berupa 'hitam di atas putih,' kalau tidak didukung oleh
      suatu 'kekuatan,' yaitu salah satunya organisasi yang berbasiskan massa yang 'sadar politik'. Saya rasa kita sudah menyaksikan kelompok-kelompok pro-demokrasi lain,
      yang mengusung program politik yang bagus-bagus, seperti anti-militerisme, dsb., tapi 'kandas di tengah jalan' karena tidak memiliki suatu 'kekuatan'. Jadi saya tidak
      sependapat dengan anda bahwa acara ini merupakan 'basa-basi' saja, acara ini saya rasa merupakan bagian dari pengorganisiran mahasiswa, yakni acara ini tampaknya
      ditujukan untuk lebih mengenalkan dan mengakrabkan organisasi mereka ke mahasiswa di UI.

      Keempat, selanjutnya saya serahkan kepada kawan-kawan FMN UI untuk menjawab anda, mengingat anda sudah men-CC-kan email anda ke alamat mereka. Ada baiknya nanti
      jawaban mereka anda kirimkan juga ke milis ini (apabila mereka memberikan jawaban), agar peserta milis yang lain bisa mengetahui tanggapan mereka atas pendapat anda
      (karena mereka tampaknya tidak menjadi anggota dari milis ini).

      Saya rasa sekian. Terima kasih banyak.

      Salam,
      Zaki

      Satrio Arismunandar wrote:

      > Maaf. Acara ini kesannya kok terlalu banyak ritualnya.
      > Nggak usah terlalu banyak basa-basi dan retorika
      > (kalau cuma memaki-maki aparat sih, gampang). Yang
      > lebih penting, penyikapan dan aksi terhadap kondisi
      > real politik sekarang gimana? Situasinya:
      >
      > 1. Golkar menang Pemilu.
      > 2. Dua jenderal eks Orde Baru jadi caleg.
      > 3. Tokoh sipil lain nggak jelas (Mega sudah dianggap
      > berkhianat dari agenda reformasi, Amien meragukan, Gus
      > Dur masih tanda tanya)
      > 4. Gerakan mahasiswa terfragmentasi karena perbedaan
      > dalam tujuan jangka pendek (apakah FMN punya agenda
      > untuk menyatukan gerakan mahasiswa dan merancang
      > platform bersama??)
      > 5. Masyarakat apatis (kalau tidak sinis mendengar
      > slogan "reformasi").
    • Budiman Sudjatmiko
      Sbg info, lagu darah Juang di ciptakan tahun 1990 di daerah Pelem Kecut, di tempat sekretariat KM-UGM (Keluarga Mahasiswa UGM) pada sekitar jam 8 malam,
      Message 2 of 7 , Apr 27, 2004
        Sbg info, lagu darah Juang di ciptakan tahun 1990 di
        daerah Pelem Kecut, di tempat sekretariat KM-UGM
        (Keluarga Mahasiswa UGM) pada sekitar jam 8 malam,
        setelah makan malam. Pencipta utamanya adalah
        Johnsonny Tobing, dan liriknya dapat masukan dari
        Dadang Juliantara dan saya sendiri...
        Sementara lagu 'Satukanlah' dan yang lain ciptaan
        Yayak Kencrit, seniman alumnus ITB yg dulu tinggal di
        Yogya dan sekarang tinggal di Jerman.
        'Sumpah Rakyat Indonesia' adalah modifikasi 'Sumpah
        Mahasiswa Indonesia', pertama kali diukumandangkan
        dalam aksi mahasiswa di Yogya tahun 1998. Setahu saya,
        sumpah mahasiswa itu diciptakan oleh Afnan Malay,
        aktivis mahasiwa Fakultas Hukum UGM.
        Itu saja tammbahan keterangan dari saya

        Budiman Sudjatmiko
      • Asep Mulyana
        Mas Zaki dan semua anggota millis yth, Terima kasih atas klarifikasi dan penjelasannnya. Komentar saya dimaksudkan untuk memberikan pencerahan khususnya untuk
        Message 3 of 7 , Apr 27, 2004
          Mas Zaki dan semua anggota millis yth,
          Terima kasih atas klarifikasi dan penjelasannnya. Komentar saya
          dimaksudkan untuk memberikan pencerahan khususnya untuk saya sendiri dan
          rekan-rekan anggota millis ini, dengan harapan kita menjadikan indonesia
          ini lebih damai, dan dapat kembali dari keterpurukan akibat banyaknya
          individu-individu yang melakukan tindakan yang kurang berkenan bagi
          bangsa ini. Dan tentunya jika komentar kemarin ditujukan kepada mas Zaki
          adalah karena mas Zaki lah yang saya kenal di Milis ini dan bukan FMN.


          Dalam sebuah organisasi perlu sebuah kata, kalimat untuk membuat
          semangat yang akan menjadi jiwa dari organisasi tersebut. Ini adalah
          sebuah cara untuk menanamkan pesan secara kontinyu, sehingga tertanam
          dalam hati dan pikiran anggota organisasi, perusahaan atau negara. Jaman
          kemerdekaan ada slogan "/*Merdeka atau Mati"*/, sehinggga setiap anggota
          masyarakat pada saat itu dalam pikiran dan hatinya hanya ada satu kata
          yang paling penting yaitu Indonesia Merdeka atau mati sebagai pejuang
          negeri ini.
          Dalam proses selnjutnya tidak semua menjadi pemimipin dan rakyat
          setuju dengan semboyan "Merdeka atau Mati:, sehingga kita lihat ada
          diantara rakyat yang masih menjadi /antek-antek penjajah/ pada saat itu,
          tetapi itu bukan menjadi alasan buat kita menghujat sebelum mengetahui
          kebenaran dan keabsahan.

          Pada peristiwa tahun 1965 betapa banyak korban yang tidak berdosa, hanya
          karena dianggap pernah membantu atau partisan kecil PKI. Kalau sudah
          terjadi demikian apakah kita bisa menghidukpkan kembali mereka dan
          meminta maaf, yang pertama tidak tetapi yang kedua mungkin ya. Mohon
          maaf, ini adalah penekanan bahwa kita tidak dapat menyatakan bahwa
          orang yang sekarang menurut mas Zaki "bajingan politik" itu harus
          dibuktikan dengan hukum yang berlaku. Seandainya hukum yang berlaku
          tidak jalan, maka presure group lah yang mengontrolnya, misalnya membuat
          opini publik supaya mereka berubah dengan cara yang damai.

          Emosi ....? hal ini lumrah dan pasti, dimana manusia diberikan oleh
          Tuhan untuk merasakan sedih, gembira, marah dan lain-lain. Hanya emosi
          ini juga ada cara pengendaliannya agar tidak menjadi kita terjebak dan
          menjadi sengsara. Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini yang
          mengakibatkan hancurnya negeri ini adalah karena tingkat pengendalian
          emosi individu-individu dan kita semua (Aparat, Mahasiswa, Masyarakat
          lain) agak menurun, sehingga semua permasalahan dianggap akan selesai
          dengan cara _*kekerasan*_.
          Kalau boleh menyalahkan, ini terjadi salah satunya adalah karena
          televisi kita setiap hari telah mempertontonkan hidangan-hidangan
          kekerasan. Penelitian di US membuktikan bahwa, jika masyarakat sudah di
          suguhi dan suka dengan tontonan kekerasan, maka akan mudah terpicu emosi
          untuk melakukan kekerasan itu. Tontonan itu adalah seperti iklan kata
          orang pemasaran, dimana iklan adalah berfungsi untuk membujuk dan
          mempengaruhi perilaku seseorang untuk memilih produk yang kita iklankan.


          Salam hangat Dari Bandung

          Asep
          http://asepmulyana.tripod.com


          >Keempat, tanpa bermaksud membela mereka, kalau melihat represi aparat terhadap gerakan mahasiswa dan rakyat di tahun 90-an-1998/2000 [saya sempat ikutan juga di Semanggi segala macam] saya koq bisa memaklumi lirik lagu itu yang tampaknya diciptakan dalam suasana 'kemarahan terhadap represi aparat', sekalipun saya sendiri juga tidak begitu suka dengan
          >'caci-maki.' Meskipun mereka itu mahasiswa yang konon katanya 'intelektual,' tapi mereka juga manusia biasa yang punya 'emosi', yang bisa sedih-menangis dan marah-mencaci melihat temannya tewas tertembak. Lirik lagu itu tampaknya merupakan pencerminan dari emosi mereka ketika bergulat dengan realitas penindasan aparat. Momen 'kemarahan' itu mungkin
          >sudah lalu dan dilupakan banyak orang di negeri ini (apalagi kebanyakan orang Indon punya penyakit 'lupa,' dulu marah ditindas tentara, sekarang mengharapkan tentara bisa bikin stabilitas lagi, ini sekedar kesan saya atas 'opini publik' yang sekarang terbentuk di sekitar Pemilu, khususnya Pemilu Capres), tapi di hati/memori mereka (baca: sebagian
          >kawan-kawan mahasiswa yang masih 'idealis' [mengingat ada atau jangan-jangan banyak juga mantan-aktivis mahasiswa yang jadi, maaf, 'bajingan politik', seperti broker], korban [yang bisa terdiri dari mahasiswa dan masyarakat] atau keluarga korban) 'semangat' dari momen itu tampaknya masih hidup.
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.