Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[indonesia] GSJ - ABRI Kembali ke Komitmen Tentara Rakyat

Expand Messages
  • Gerakan Sarjana Jakarta
    GERAKAN SARJANA JAKARTA mailto:GSJ@thepentagon.com ABRI KEMBALILAH KE KOMITMEN TENTARA PERJUANGAN RAKYAT Mustahil, negara zonder tentara, demikian Jend.
    Message 1 of 1 , May 9 3:35 PM
    • 0 Attachment
      GERAKAN SARJANA JAKARTA
      mailto:GSJ@...

      ABRI KEMBALILAH KE KOMITMEN TENTARA PERJUANGAN RAKYAT

      "Mustahil, negara zonder tentara," demikian Jend. Oerip Soemohardjo
      kepada Soekarno beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
      Sebagai jawabannya, sebulan kemudian dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR),
      kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu menjadi TRI,
      dan akhirnya, berdirilah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang hari
      lahirnya selalu diperingati tiap tanggal 5 Nopember.

      Tulisan ini tidak menguraikan sejarah ABRI. Sekedar mengingatkan kembali
      bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, darah dan nyawa rakyatlah
      yang berhasil menebus kemerdekaan bangsa Indonesia. Darah yang tertumpah,
      tulang-tulang yang berserakan, nyawa yang melayang, adalah semata-mata
      darah, tulang, dan nyawa laskar pejuang rakyat. Ketika kemudian muncul
      laskar bersenjata yang terlatih dan terorganisir, asalnya adalah tetap dari
      rakyat. Semangat dan tekadnya hanya satu, merebut kemerdekaan Indonesia
      agar seluruh rakyat dan anak cucu bisa hidup di alam Indonesia yang merdeka.

      Dan Tuhan mengaruniakan kemerdekaan itu pada bangsa yang telah mengorbankan
      cita-cita dan segenap hidupnya untuk lepas dari belenggu dan penindasan
      penjajah. Untuk menjaga karunia Tuhan itulah pemerintah negara Indonesia
      yang merdeka dan berdaulat membentuk kesatuan tentara yang profesional dan
      terorganisir untuk membela negara dan melindungi segenap bangsa Indonesia.
      Maka akhirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki laskar militer,
      yaitu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dengan adanya laskar militer
      ini, kekuatan persenjataan militer secara resmi hanya ada di tangan ABRI.
      Artinya, rakyat sipil tidak lagi berhak memegang senjata seperti pada jaman
      perang merebut kemerdekaan. Konsekuensinya, tentara sebagai anggota ABRI
      harus melakukan perlindungan kepada setiap warga negara Indonesia dan
      melindungi negara dari usaha-usaha yang merongrong kemerdekaan dan
      kedulatan Republik Indonesia.

      Hak eksklusif sebagai pemegang kekuatan persenjataan selanjutnya diperkuat
      lagi dengan Dwifungsi ABRI. Diawali itikad mengembangkan peran tentara dalam
      bernegara, Jend. A.H. Nasution mencetuskan agar ABRI menjalankan fungsi
      ganda, sebagai fungsi hankamnas (militer) dan fungsi sosial (non militer).
      Fungsi non militer inilah yang dikooptasi oleh rejim $oeharto sehingga
      tentara bukan hanya berperan membantu pembangunan di masa damai dengan
      poyek-proyek ABRI Masuk Desa, namun membelokkan itikad awal agar tentara
      berperan dalam urusan bernegara menjadi mengkodratkan militer menjalankan
      seluruh fungsi kenegaraan. Seluruh pos-pos penting pemerintahan dari pusat
      sampai daerah dikuasai ABRI. Bahkan penguasaan militer melebar sampai ke
      urusan-urusan bisnis. Hal ini menjadikan aparat penguasa menjadi tidak
      profesional dan militer menjadi berorientasi kekuasaan. ABRI dikooptasi
      oleh rejim $oeharto sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya dan
      karena telah turut merasakan nikmatnya madu kekuasaan, komitmen kerakyatan
      ABRI menjadi cemar oleh racun-racun harta penguasa. Penindasan rakyat kecil
      tidak lagi dirasakan sebagai suatu angkara, semata hanya dilandaskan alasan
      menjaga kestabilan nasional yang sebenarnya hanyalah jaminan kelangsungan
      kekuasaan rejim orde baru.


      ABRI DIPAKAI SEBAGAI ALAT KEKUASAN $OEHARTO
      -------------------------------------------
      Sampai sekarang, sudah 32 tahun ABRI mendukung kekuasaan $oeharto.
      Berarti sudah 32 tahun ABRI mendukung praktek-praktek keji Orde Baru dengan
      nepotisme, korupsi, dan kolusi (NKK) dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia
      yang menjadikan keluarga $oeharto dan sekutunya mendirikan "negara
      perekonomian"
      sendiri di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara
      bernama "Negara $oeharto".

      "Negara $oeharto" adalah negara konsep dalam wilayah geografis Indonesia.
      "Negara $oeharto" itu ikut-ikutan menggunakan Pancasila, UUD 45, perangkat
      hukum, sejarah, dan tata negara Indonesia, namun dengan pelaksanaan yang
      berbeda. Warga negara "Negara $oeharto" tidak bisa kena sanksi hukum.
      Pancasila "Negara $oeharto" bunyinya sama dengan dasar negara asli Republik
      Indonesia. UUD 45 "Negara $oeharto" isinya sama dengan UUD 45 asli Republik
      Indonesia. Bedanya, "Negara $oeharto" punya penafsiran sendiri sehingga
      Pancasila dan UUD 45 yang asli dipakai untuk menuding warga negara Indonesia
      yang bukan warga negara "Negara $oeharto" yang kritis dan mau meluruskan
      segala penyelewengan sebagai pelanggar Pancasila, pelanggar UUD 45, atau
      bahkan dicap komunis. Stigma-stigma politik seperti cap komunis dan GPK
      seringkali dipakai sebagai fitnah oleh "Negara $oeharto" untuk menyingkirkan
      musuh-musuhnya, yaitu warga negara Republik Indonesia yang menginginkan
      segala penyelewengan dan penindasan Orde Baru diakhiri.

      Pasal 28 UUD 45 sering dilanggar untuk menyingkirkan pendapat2 kritis sehingga
      secara terstruktur pembodohan rakyat dilakukan secara legal. Pasal 33 UUD 45
      dilanggar dengan sengaja menyedot kekayaan Republik Indonesia dan melakukan
      pemiskinan terstruktur terhadap rakyat Indonesia demi memperkaya "Negara
      $oeharto" tersebut. Pasal-pasal tentang pemerintahan negara diinterpretasi
      sedemikian rupa untuk mempertahankan kekuasaan orde baru sebagai legitimasi
      kelangsungan "Negara $oeharto" itu.
      Inilah 3 politik inti "Negara $oeharto", yaitu intensifikasi, ekstensifikasi,
      dan kontinuitas. Intensifikasi adalah mengeruk kekayaan negara sebesar2nya
      untuk memperkaya "Negara $oeharto". Ekstensifikasi adalah merangkul berbagai
      kelompok massa yang potensial untuk mendukung kejayaan "Negara $oeharto".
      Dan kontinuitas adalah menempatkan orang-orang sendiri sebanyak-banyaknya
      dalam sistem pemerintahan dan perwakilan rakyat untuk menjamin pergantian
      kekuasaan oleh keluarganya sendiri demi kelanjutan dinasti "Negara $oeharto".
      Ketiga politik inti itu saling berkait. Kekayaan dipakai untuk merangkul
      massa demi mendukung kelangsungan dinasti, massa dirangkul untuk membantu
      mengeduk kekayaan sebanyak-banyaknya demi pembiayaan kelangsungan dinasti,
      dan kelangsungan dinasti dipakai untuk mengeduk kekayaan sebesar-besarnya
      selama-lamanya dan mempertahankan massa yang dirangkul untuk kepentingan
      dinasti.

      Dengan demikian telah jelas dan nyata bahwa adanya praktek-praktek negara
      konsep "Negara $oeharto" itu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
      membuktikan penyelewengan dan pengkhianatan rejim Orde Baru terhadap Pancasila
      dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ini sebabnya bangsa
      Indonesia tidak pernah bisa tinggal landas atau mencapai kesejahteraan
      yang sesungguhnya selama dalam belenggu kekuasaan $oeharto. Karena selama
      ini telah terbukti pemiskinan dan pembodohan terstruktur sebagai akibat
      nepotisme, korupsi, kolusi (NKK) dan pelanggaran HAM yang tidak tersentuh
      sanksi hukum adalah perbuatan yang disengaja. Dan ABRI selama 32 tahun ini
      selalu dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan rejim $oeharto.

      Kini, ketika penyelewengan dan pengkhianatan rejim Orde Baru telah
      menghempaskan rakyat Indonesia ke dalam jurang penderitaan, warga negara
      "Negara $oeharto", yaitu keluarga dan crony-nya tetap tidak merasakan
      penderitaan yang sama dan tetap konsisten menyengsarakan rakyat. Mereka
      tidak mau menjual aset-aset usaha dan pribadi untuk membayar hutang dolar,
      melainkan justru menerbangkan kekayaannya ke luar negeri dan membebani rakyat
      dengan mencabut subsidi BBM. Kenaikan harga BBM ini sama saja rakyat kecil
      dibebani biaya hutang keluarga $oeharto dan crony-nya.


      SEGENAP PRAJURIT ABRI,
      DUKUNGLAH RAKYAT MEREBUT KEMERDEKAAN,
      BEBAS DARI PENJAJAHAN REJIM $OEHARTO!
      --------------------------------------
      Satu-satunya jalan bagi rakyat untuk lepas dari semua penderitaan ini adalah
      turunnya $oeharto. Ini sama dengan tekad memerdekakan diri lepas dari
      penindasan
      penjajah. Karena itu, ketika rakyat ingin bersatu untuk merdeka, lepas dari
      penyelewengan dan pengkhianatan $oeharto, ABRI harus kembali pada komitmennya
      sebagai Tentara Rakyat yang juga berasal dari rakyat sampai saat ini. Cukup
      sudah 32 tahun ABRI dimanfaatkan untuk melindungi kekuasaan $oeharto. Kini
      ABRI harus bijaksana dengan mendukung tuntutan REFORMASI rakyat Indonesia
      yang hanya terwujud dengan pergantian kepemimpinan nasional. Bahkan, ABRI
      sebagai laskar perjuangan rakyat masa kini harus MEMPELOPORI TERWUJUDNYA
      REFORMASI. Jangan biarkan mahasiswa terus sendirian di garis depan. Ketika
      partai-partai politik, golkar, dan para wakil rakyat tidak aspiratif terhadap
      tuntutan pergantian $oeharto, ABRI sudah saatnya maju memimpin usaha elit untuk
      reformasi Indonesia. Jangan biarkan sejarah Indonesia mencatat ketidakbijakan
      ABRI yang terlambat mendukung digantinya $oeharto sehingga tidak memiliki peran
      yang berarti dalam sejarah pembaharuan Indonesia modern.

      Bukankah sesuai dengan pernyataan PBNU reformasi itu adalah Ishlah dan
      menolak reformasi berarti menolak sunnah Allah? Jika ABRI tidak berkehendak
      menolak sunnah Allah kiranya hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya lagi
      korban-korban rakyat dan mahasiswa yang terluka atau tertembak karena
      memperjuangkan reformasi. Terlepas dari itu semua, kiranya tiap prajurit ABRI
      kembali mengingat sumpahnya sendiri sebagai komitmen patriot dan ksatria
      pembela rakyat. Agar masyarakat mengetahui sumpah prajurit ABRI, berikut ini
      adalah naskah Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib ABRI. Apakah
      pelaksanaan selama ini sudah sesuai dengan komitmen tersebut, biarlah masing-
      masing menilai dengan pikiran dan hati terbuka seluas-luasnya.


      DELAPAN WAJIB ABRI
      1. Bersikap ramah tamah terhadap rakyat.
      2. Bersikap sopan santun terhadap rakyat.
      3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
      4. Menjaga kehormatan diri di muka umum.
      5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaan.
      6. Tidak sekali-sekali merugikan rakyat.
      7. Tidak sekali-sekali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
      8. Menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi
      kesulitan sekelilingnya.


      SUMPAH PRAJURIT
      1. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
      Pancasila dan UUD 1945.
      2. Tunduk kepada Hukum dan Memegang teguh Disiplin Keprajuritan.
      3. Taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.
      4. Menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggungjawab kepada
      Tentara dan Negara Republik Indonesia.
      5. Memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.


      SAPTA MARGA
      1. Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila.
      2. Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara,
      yang bertanggungjawab dan tidak mengenal menyerah.
      3. Kami Ksatria Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta
      membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan.
      4. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, adalah Bhayangkari
      Negara dan Bangsa Indonesia.
      5. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia memegang teguh
      disiplin,
      patuh, dan taat kepada pimpinan, serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan
      prajurit.
      6. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengutamakan
      keperwiraan
      di dalam melaksanakan tugas serta senantiasa siap sedia berbakti kepada
      Negara
      dan Bangsa.
      7. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, setia dan menepati
      janji,
      serta Sumpah Prajurit.


      GERAKAN SARJANA JAKARTA
      mailto:GSJ@...




      ----
      List Archive: http://www.FindMail.com/listsaver/indonesia/
      To Subscribe: e-mail to indonesia-subscribe@...
      To Unsubscribe: e-mail to indonesia-unsubscribe@...
      --
      Start Your Own Free Mailing List at http://www.MakeList.com !
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.