Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[indonesia] RE:RE:Fenomena Megawati

Expand Messages
  • Kawulo Alit
    Terimakasih tanggapan - tanggapannya. Namun ada beberapa yang perlu saya tambahkan disini. Simpati yang ditujukan kepada Mega pada dasarnya tak lebih rasa
    Message 1 of 4 , Oct 1, 1998
    • 0 Attachment
      Terimakasih tanggapan - tanggapannya. Namun ada beberapa yang perlu saya
      tambahkan disini.
      Simpati yang ditujukan kepada Mega pada dasarnya tak lebih rasa simpati
      yang ditujukan juga pada Marsinah, Udin (Bernas) dan anggota masyarakat
      Indonesia lainnnya yang mengalami perilaku yang sewenang-wenang.
      Siapapun orangnya yang punya nurani tentu akan punya rasa simpati pada
      orang lain yang diperlakukan sewenang - wenang. Demikian juga dengan
      Mega.
      Akan tetapi yang terjadi sekarang adalah simpati yang "kebablasan".
      Artinya hanya karena dorongan rasa simpati dan kasihan koq terus
      dicalonkan sebagai presiden. Benar memang seorang presiden tidak perlu
      pengalaman pernah jadi presiden. Akan tetapi kadar dan prilaku
      sebelumnya akan menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya.
      Langsung saja saya fokuskan ke sosok Megawati.
      Kelebihan yang dia punya satu-satunya adalah karena dia anaknya Bung
      Karno. Itu saja. Jadi amat naif apabila ada yang bilang belum melihat
      kekurangannya. Justru nggak ada kelebihan lainya sama sekali. Artinya
      betul-betul orang awam atau orang kebanyakan. Bisa dilihat
      contoh-contohnya.
      Sebagai seorang wanita ia sampai kawin 3 kali (walaupun ini bukan
      parameter ) seorang calon presiden, namun konon di Amerika yang
      kiblatnya demokrasi kehidupan seseorang mempengaruhi. Entah di Indonesia
      yang konon punya adat ketimuran yang saat sedang mengadopsi demokrasi
      dari Barat.
      Sebagai sosok yang dianggap "pemimpin" oleh sebagian orang Indonesia ,
      sama sekali tidak dapat mengendalikan pendukungnya. Sehingga masa
      pendukungnya hanyalah bagaikan gang-gang anak anak nakal yang konvoi di
      kota-kota. Demokrasi yang diperjuangkan hanyalah mengandalkan masa yang
      hingar-bingar dan otot belaka.
      Pendukungnya sebagian besar hanya dilandasai rasa keterikatan emosional
      terhadap sosok Bung Karno padahal mereka umumnya anak-anak muda yang
      tidak pernah melihat Bung Karno. Namun hal ini dapat dimaklumi, karena
      sebagai negara bekas jajahan dan feodal sikap yang hanya melihat sosok
      tanpa melihat konsep dan isinya belum bisa hilang walaupun sudah negara
      ini merdeka.Artinya sikap membungkuk (perut) lebih kuat dibanding sikap
      hormat (kepala).
      Dalam masa reformasi ini apa peran Mega?. Nothing!. Setelah mahasiswa
      dan tokoh-tokoh kritis turun ke jalan dan malah ada yang mati , kemana
      Mega?. Dia hanya datang di pemakaman salah satu korban dan bukanya
      mengungkapkan belasungkawa dan sikap tegas tapi malah ngomongin PDI-nya.
      Benar-benar egois dan goblok.
      Sesudah Soeharto turun karena desakan mahasiswa dan tokoh kritis malah
      Mega mengklaim bahwa reformasi sebetulnya telah mulai sejak 27 Juli '96.
      Dimana ini otaknya. Seolah-olah mencari peran dalam reformasi karena dia
      sendiri tak tahu apa itu peristiwa refornasi.
      Keegoisannya menjadi keterlaluan setelah mendapat angin dari
      simpatisanya, sehingga undangan untuk hadir dalam acara 17-an, dimana
      tokoh dan anggota pejuang diundang untuk hadir dalam upacara kemerdekaan
      eh...malah bertanya diundang sebagai apa sebagai pribadi atau ketua
      PDI,...ini gimana orang ini. Ya jelas sebagai keluarga
      pejuang...blok....
      Dalam seminar di hotel berbintang baru-baru yang untuk menunjukkan bahwa
      pendukungnya juga orang-orang menengah Mega melontarkan gagasan yang
      antara lain menolak negara federal karena negara kesatuan telah teruji.
      Segitu saja logikanya. Soalnya yang dia anggap negara federal adalah Uni
      Sovyet dan Yugoslavia. Kenapa nggak ambil contoh Amerika atau Jerman.
      Dan katanya dulu pernah dicoba tapi nggak berhasil di sini. Bukankah
      yang menggagas sebetulnya Bung Hatta , yang kemudian dimanfaatkan Van
      Mook untuk adu domba. Tujuan membentuk negara adalah kemakmuran ,
      kesejahteraan dan keadilan. Jadi tidak perlu di pertentangkan mana yang
      lebih baik dan mana yang harus dijauhi. Bentuk negara hanyalah jalan
      untuk mencapainya. Kedaulatan sesungguhnya ada di tangan rakyat, bukan
      ditangan penguasa. Sekarang seolah-olah penguasa mengindektikan dirinya
      sebagai dasar, falsafah dan bahkan bentuk negara. Jadi bila ada
      pemikiran yang tidak sama dengan penguasa berarti melawan dasar,
      falsafah atau bentuk negara. Itu kan logika penguasa jaman Orla dan
      Orba. Dan pemikiran yang salah inipun diadopsi Megawati, disaat dia
      belum jadi apa-apa.
      Tentang konggres dan konsilidasi PDI-pun terasa sekali keegoisannya dan
      kapasitasnya. Tawaran yang disampaikan adalah ganti nama atau
      konsilidasi. tapi agaknya ngotot tidak konsilidasi dan tidak ganti nama.
      Ini kan rancu. PDI ini adalah produk Orba, karena fusinya beberapa
      partai, terus Mega masuk , lalu dia disingkirkan , lalu dia pingin balik
      tapi nggak boleh , karena sudah ada yang pakai, jadi ganti nama saja
      atau gabung. Itu saja . Karena PDI ini produk Orba , terserah Orba mau
      mengakui yang mana. Nggak usah dipaksa mengakui yang memang tidak
      diakui. Buktikan kalau memang punya massa . Bikin partai sendiri, terus
      ikut Pemilu.
      Dan sosok Megawati yang dielu-elukan pendukungnya ini , bukan karena
      kiprah Mega yang brilian dan mengagumkam tapi semata-mata memang
      ditiup-tiupkan sekelompok orang yang menginginkannya. Lain halnya misal
      di Amerika seorang Presiden akan dipilih karena punya konsep yang jelas,
      riwayat yang jelas yang dipaparkan lewat media masa dan secara langsung.
      Jadi tidak seperti beli kucing dalam karung , dimana penjualnya mengemas
      dengan karung menarik sehingga pembeli akan terkecoh.
      Hanya ada dua kemungkinan seorang pemimpin yang tidak mempunyai
      kapasitas sebagai pemimpin yaitu : Sangat diktator atau hanyalah sebagai
      boneka dari sekelompok orang. Kecenderungan sekarang untuk kasus Mega
      adalah yang kedua .Entah nanti kalau beneran jadi .Semoga saja tidak.





      ______________________________________________________

      ______________________________________________________________________

      Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
      at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.