Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: [EAFM-Indonesia] FW: Konferensi Pers & Launching Kampanye SOSharks - 10 Mei 2013

Expand Messages
  • suraji
    Hiu = Kamu . . . maka selamatkanlah !!! Sent from Yahoo! Mail on Suraji s Android surajis.wordpress.com
    Message 1 of 1 , May 10, 2013

    Hiu = Kamu . . . maka selamatkanlah !!!

    Sent from Yahoo! Mail on Suraji's Android
    surajis.wordpress.com



    From: Imam Musthofa <IMusthofa@...>;
    To: eafm_id@yahoogroups.com <eafm_id@yahoogroups.com>;
    Subject: [EAFM-Indonesia] FW: Konferensi Pers & Launching Kampanye SOSharks - 10 Mei 2013
    Sent: Sat, May 11, 2013 4:29:42 AM

     


    Dear EAFMers,


    Kemarin (10/5) WWF Indonesia  bersama Kementrian Kelautan dan Perikanan dan dua puluh figur publik dari beragam profesi (ahli kuliner, pengusaha, aktris, musisi dan lainnya) meluncurkan sebuah kampanye online bertajuk #SOSharks (Save our Sharks) -- yaitu sebuah kampanye publik untuk  menghentikan konsumsi berbagai produk dan komoditi hiu di pasar swalayan, toko online, hotel dan restoran, serta menghentikan promosi kuliner hiu di media massa. 

    Kampanye berbasis online ini akan berlangsung hingga akhir Juni 2013. Kita semua dapat mendukung kampanye tersebut dengan mengisi petisi di www.change.org/sosharks 
    atau mengunjungi website WWF di www.wwf.or.id/sosharks

    Kampanye ini didukung oleh berbagai figur publik diantaranya William Wongso, Daniel Mananta, Titi Rajo Bintang, Denada, Kaka SLANK, Olga Lydia, Shinta Wijaja Kamdani, dan banyak lagi lainnya. Beberapa contoh poster terlampir bisa langsung disebarkan melalui sosial media masing-masing.

    Penting bagi kita semua mendukung upaya ini. Perlu diketahui data FAO (2010) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia


    Berikut saya kirimkan Q & A terkait kampanye #SOSharks seandainya rekan-rekan menerima pertanyaan terkait kampanye ini. Bagi rekan-rekan yang aktif di twitter dapat aktif mengikuti twitter account @WWF_ID dan @marinebuddies dengan memakai hashtag #SOSharks

     

    Untuk informasi lebih lanjut terkait #SOSharks silakan menghubungi:

    Dewi Satriani, Communication Manager Marine & Marine Species Program, dsatriani@...+62811910970

    Aulia Rahman, Juru Kampanye Program Kelautan WWF Indonesia, arahman@...+628113616341

     

     

     

     

    SIARAN PERS

    20 Figur Publik Mengajak Masyarakat Hentikan Konsumsi Produk-Produk Hiu

    JAKARTA– Hari ini (10/5) WWF Indonesia  bersama Kementrian Kelautan dan Perikanan dan dua puluh figur publik dari beragam profesimenyerukan kepada masyarakat untuk menghentikan konsumsi sirip hiu dan produk-produk hiu lainnya. Ajakan tersebut disampaikan dalam peluncuran kampanye bertajuk #SOSharks (Save our Sharkssebuah kampanye publik untuk  menghentikan konsumsi berbagai produk dan komoditi hiu di pasar swalayan, toko online, hotel dan restoran, serta menghentikan promosi kuliner hiu di media massa. 

     

    Hiu adalah salah satu spesies yang populasinya terancam punah. Melonjaknya jumlah permintaan sirip hiu dan produk-produk hiu lainnya telahmenyebabkan terjadinya penangkapan besar-besaran terhadap satwa ini. Data FAO (2010) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia.

     

    “WWF mendukung perlindungan hiu, bukan semata mata untuk hiu itu sendiri, tapi karena peran pentingnya untuk menjaga ketersediaan pangan kita dari sektor kelautan.” Efransjah, CEO WWF-Indonesia. Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan.Dengan demikian, populasi hiu yang sehat dan beragam berperan penting untuk menyeimbangkan ekosistem laut, termasuk menjaga kelimpahan ikan-ikan yang dikonsumsi manusia.

     

    Upaya penggalangan dukungan melalui kampanye #SOShark ini sejalan dengan telah dimasukkannya 12 jenis hiu dalam daftar yang harus dilindungi dalam kesepakatan internasional CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Floradan diterbitkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 12 dan 30 Tahun 2012 tentang Perikanan Tangkap di Laut Lepas dan Wilayah Pengelolaan Perikanan  Indonesia, yang diantaranya mewajibkan melepaskan jenis hiu tertentu dan juga melaporkan aktifitas penangkapan hiu.

     

    Secara umum sirip hiu (atau terkadang bagian tubuh lainnya) didapatkan dengan memotong sirip mereka hidup-hidup atau biasa disebut denganShark Finning, lalu hiu tanpa sirip tersebut dibuang ke laut dalam keadaan masih bernyawa untuk kemudian mati secara perlahan.  Praktik yang keji tersebut dilakukan terhadap 38 juta hiu setiap tahunnya (Clarke, 2006) dari sekitar 26-73 juta hiu yang tertangkap dalam aktivitas perikanan dunia (Fordham, 2010). Ini berarti sekitar 1-2 individu hiu tertangkap setiap detiknya. Disisi lain, hiu adalah ikan yang perkembangbiakannya lambat serta menghasilkan sedikit anakan sehingga rentan terhadap eksploitasi berlebih.

     

    Toni Ruchimat – Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, “Konservasi sumber daya ikan yang dilakukan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Pemerintah Daerah, merupakan upaya pemerintah dalam melindungi kawasan dan jenis serta genetik ikan. Hiu merupakan ikan yang masuk dalam prioritas dilindungi dari eksploitasi yang berlebihan. Kementrian Kelautan dan Perikanan, sedang menyusun National Plan of Action untuk hiu dan menyiapkan peraturan menteri untuk perlindungan hiu jenis tertentu. Pengolahan hiu yang berkelanjutan, menjamin potensi laut Indonesia semakin bermanfaat bagi kehidupan manusia”.

     

    Hingga saat ini, 20 orang figur publik turut memberikan dukungan terhadap kampanye #SOSharks, dan menjadi duta atau Champion kampanye ini.  Para Champion tersebut antara lain: Shinta Widjaja Kamdani (Pengusaha dan Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia),  Emirsyah Satar(President & CEO Garuda Indonesia); William Wongso  (Pakar Kuliner); Bondan Winarno (Pakar Kulineri); Andrian Ishak (Molecular Gastronomy Chef); Olga Lydia (Model dan Presenter); Nadine Chandrawinata (Model, Aktris dan Aktivis Lingkungan); Nugie (Musisi dan Aktivis Lingkungan);Denada (Penyanyi dan Aktris); Jerry Aurum ( Photograper); Kaka  Slank (Musisi dari Grup Band SLANK); Davina (Model dan Aktivis Lingkungan); Alexandra Gottardo (Aktris)Vera Lasut (Produser Film); Nina Taman (Musisi dan Penyanyi); Erikar Lebang (Penulis Buku  dan Praktisi Kesehatan); Titi Rajo Bintang (Aktris dan Musisi); Ringgo Agus Rahman (Aktor dan Presenter); Marischka Prudence (Travel Blogger); dan,Daniel Mananta (Entertainer/Entrepreneur, Owner of Damn! I Love Indonesia).

     

    Melalui kampanye #SOSharks ini, WWF, KKP dan figur publik mengajak masyarakat dan pihak terkait untuk mengambil langkah nyata, misalnya bagi mereka yang masih mengonsumsi sirip hiu untuk berhenti mengonsumsinya sekarang juga. Sedangkan bagi penjual, menghentikan penjualan produk-produk dari hiu dan bagi media massa untuk berhenti mempromosikan kuliner hiu. Kampanye penggalangan dukungan publik melalui media sosial ini akan berlangsung hingga akhir Juni 2013.

    #SELESAI#

     

    Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi:

    Dewi Satriani, Communication Manager Marine & Marine Species Program, dsatriani@... +62811910970

    Hafizh Adyas, By Catch Coordinator, Fisheries Program WWF Indonesia, ahafizh@..., +628111875658

    Aulia Rahman, Juru Kampanye Program Kelautan WWF Indonesia, arahman@... +628113616341

     

    Catatan untuk editor:

    ·         FOTO-FOTO hiu, ancaman dan penangkapannya dapat diunduh di tautan berikut ini http://bit.ly/17NLvSN dengan syarat pemakaian foto harus disertai dengan pencantuman copyright photo WWF, sebagaimana tercantum.

    ·         FAQ (Frequently asked question) dan informasi lengkap lainnya mengenai #SOShark dapat diakses melalui www.wwf.or.id/sosharks

    ·         Petisi publik untuk menghentikan konsumsi produk hiu dapat diakses di www.change.org/sosharks

    ·         Testimoni pernyataan dukungan para figur publik Champion’ #SOSharks TERLAMPIR

     

    Tentang WWF-Indonesia

    WWF-Indonesia merupakan organisasi konservasi alam terbesar di Indonesia dan telah memulai kegiatannya sejak tahun 1962. Telah berbadan hukum Yayasan sejak tahun 1998, saat ini, WWF-Indonesia bekerja di 28 kantor wilayah dari Aceh hingga Papua dan didukung oleh lebih dari 400karyawan. Sejak tahun 2006, WWF Indonesia mendapatkan dukungan lebih dari 54,000 supporter yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.Silakan kunjungi www.wwf.or.id

     

     

     

     

    TESTIMONI FIGUR PUBLIK

     

    Tidak pantas lagi bangga makan hiu! Orang modern harus lebih peduli pada alam dan lingkungan. Berhentilah makan hiu karena populasinya telah menurun. Bila hiu habis, seluruh ikan di laut akan ikut habis. Saya ingin anak-cucu saya tetap bisa makan ikan.” (William Wongso, Pakar Kuliner)

     

    Banyak orang yang masih memanfaatkan hiu sebagai bisnis dan sumber mata pencahariaan mereka. Saya menghimbau agar pengembangan ekonomi tidak didasarkan pada penganiyayaan binatang. Dulu saya penggemar sup sirip hiu, tapi setelah tahu cara sirip hiu diambil, maka saya memutuskan tidak lagi mengonsumsinya. Ingatlah, setiap Anda makan hiu maka Anda turut membantu orang mendapatkan uang dari tindakan keji.  Shark fin business is one of the most cruel businesses, where blood was spilled and less valuable parts were wasted in the ocean. Stop consuming shark fin soup. DON'T MAKE MONEY OUT OF A CRUELTY ACT...  Jadilah pengusaha yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.(Shinta Widjaja Kamdani, Pengusaha dan Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia)

     

    “Sirip hiu itu gak ada rasanya. Tekstur sirip hiu yang krenyes-krenyes itu bisa diganti dengan bahan lain… Menurut saya, sup yang maknyus itu adalah kaldu hasil olahan Chef yang andal.” (Bondan Winarno, Pakar Kuliner)

     

    Ngapain makan sirip hiu? Dengan molecular gastronomy, saya bisa bikin makanan yang teksturnya mirip dengan sirip hiu, dengan bahan-bahan yang lebih sehat, lebih enak, dan tentunya lebih ramah lingkungan.” (Andrian Ishak, Molecular Gastronomy Chef)

     

    “Saya ogah makan hiu. Buat saya sih sehat itu mahal…daripada makan hiu yang mengandung merkuri, mendingan menyelam dan membuat foto-foto mereka”. (Olga Lydia, Model dan Presenter)

     

    Waktu ditanya 'hal gila apa yang pingin gue lakukan dalam hidup', gue langsung jawab: Berenang sama hiu! Dan setelah itu, setiap ada kesempatan diving, yang gue inginkan cuma lihat hiu! Gue udah lihat hammer head, itu menakjubkan banget! Tapi gue juga pernah nemu hiu kayak guling, tergeletak di dasar laut, udah gak ada siripnya semua! Gue sedih banget.. Loe semua gak usah lah pada makan hiu, soalnya gue mau selalu bisa diving sama hiu. Pokoknya, I Love Hiu deh!. (Kaka, Musisi dari Grup Band SLANK)

     

    Like in Garuda Indonesia we want you to experience Indonesia at its best. Marine biodiversity is the biggest asset of Indonesia’s tourism and sharks, above all else are the most precious one in Peril. Save sharks Save Indonesia Experience. (Emirsyah Satar, President & CEO Garuda Indonesia)

     

    “Siapa bilang makan sirip hiu bikin badan lebih sehat? Kenyataannya, untuk membuat tampilannya lebih menarik, sering ditambahkan Hidrogen Peroksida, yang dapat meningkatkan radikal bebas dan berbahaya bagi tubuh manusia. Mending makan sayur daripada makan hiu”. (Nina Tamam & Erikar Lebang, pasangan penyanyi dan Penulis Buku  dan Praktisi Kesehatan)

     

    “Cantik dan sehat itu berasal dari apa yang kamu makan, jadi jangan coba-coba mengkonsumsi produk Hiu. Sharks in the sea, not for food”.(Davina, Model dan Aktivis Lingkungan)

     

    “Saya gak mau makan sirip hiu, karena hiu mengandung merkuri dan zat kimia yang tinggi

    Sharks in the sea, not for food”. (Vera Lasut, Produser film)

     

    “Dengan memakan sirip hiu, berarti anda tidak mempedulikan kecantikan dan kesehatan anda sendiri

    Sharks in the sea, not for food”. (Alexandra Gottardo, Aktris)

     

    “Sebagai pencinta laut, saya melihat hiu lebih berharga ketika berenang di lautan, dibandingkan berenang di dalam semangkuk sup. Stop shark finning”. (Nadine Chandrawinata, Model, Aktris dan Aktivis Lingkungan)

     

    “Bertemu HIU itu rasanya luar biasa… Saya ingin sekali mengajak anak saya diving, supaya dia bisa melihat hiu di laut, bukan hanya di buku cerita atau di ensiklopedia”. (Titi Rajo Bintang, Aktris & Musisi)

     

    “Hiu adalah penyeimbang ekosistem laut, seperti musik dalam kehidupan saya… Bila hiu punah, maka kekayaan alam laut, akan ikut punah… Indonesia akan kehilangan kekayaannya, dan saya akan kehilangan alam inspirasi… Selamatkan hiu, untuk kehidupan kita”. (Nugie, Musisi & Aktivis lingkungan)

     

    Shark finning adalah salah satu bentuk kekejaman terhadap hewan.  Hiu ditangkap, dipotong siripnya hidup-hidup, dan dalam keadaan berdarah-darah dilempar kembali ke laut. Di dasar laut mereka tergeletak tak berdaya, dan akhirnya mati perlahan-lahan. Mengonsumsi shark fin sama dengan ambil bagian dalam kekejaman ini!. Stop shark finning”. (Denada & Jerry Aurum, pasangan penyanyi dan photografer)

     

    “Hiu jahat itu cuma ada di film… Kemungkinan orang meninggal karena hiu 1 berbanding300 juta. Lebih tinggi kemungkinan orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, terjangkit penyakit malaria, digigit anjing, ataupun kesamber petir… Tapi nyatanya,hiu yang dibantai oleh manusia tiap tahunnya lebih dari 100 juta ekor. Jadi, tentuin sikap, jangan pernah makan hiu dalam bentuk apapun!” (Ringgo Agus, aktor dan presenter)

     

    “Sharks are friend, not food. Banyak orang salah pengertian tentang hiu. Hiu dianggap galak, ganas dan juga menyerang manusia, padahal itu tidak benar. Waktu saya diving dan bertemu hiu, mereka sama sekali tidak berbahaya, dan justru menjauh pada saat saya dekati. So, I’d rather dive with shark than eating them”. (Marischka Prudence, Travel Blogger)

     

    Don’t eat sharks, don’t be a loser!

    Fakta 1 : Ikan hiu sudah hampir punah

    Fakta 2 : Banyak nelayan memotongi sirip bayi ikan hiu

    Fakta 3 : Banyak orang sukses dan smart, tidak mau lagi makan sirip ikan hiu”

    (Daniel Mananta, Entertainer/Entrepreneur, Owner of Damn! I Love Indonesia)

     

     

     

     

     



    -- 
    This e-mail message and any attached files are confidential and may contain privileged information. 
    If you are not the addressee of this e-mail, you may not copy, disclose, distribute or otherwise use it, or any part of it, in any form whatsoever. 
    If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately by return e-mail or by telephoning +62-21-7829461 and then delete this e-mail.
Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.