Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Yang Bersinar di Negeri Orang

Expand Messages
  • ath_angga
    Sapa tau artikel yang diambil dari http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=256537&kat_id=13 ni bisa jadi inspirasi :-) Yang Bersinar di Negeri Orang Di
    Message 1 of 4 , Oct 3, 2006
      Sapa tau artikel yang diambil dari
      http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=256537&kat_id=13 ni bisa
      jadi 'inspirasi' :-)


      Yang Bersinar di Negeri Orang

      Di setiap fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia masuk daftar top
      lima persen.

      Kalau tuan rumah Singapura berhasil menggondol medali emas atau
      berdiri di podium kemenangan 37th International Physics Olympiad (37th
      IPhO) yang berakhir Senin depan (17/7), maka jangan lupakan nama ini:
      Bernard Ricardo Widjaja (21 tahun).

      Ia bukan guru besar atau ilmuwan yang hasil risetnya tertebar di
      berbagai jurnal ilmiah. Bernard cuma mahasiswa. Lulus dari SMA Regina
      Pacis, Bogor, ia memilih School of Electrical and Electronic
      Engineering Nanyang Technological University (NTU) Singapura,
      perguruan tinggi peringkat 26 dunia. Kini ia duduk di semester tujuh.

      Sebagai mahasiswa, ia tergolong bukan mahasiswa rata-rata. Pertengahan
      tahun lalu, ia didaulat memberi les fisika singkat untuk tim IPhO
      Singapura. Cuma tiga hari, tapi upahnya seribu dolar Singapura
      (sekitar Rp 5,6 juta).

      Tiga bulan terakhir, kesibukan mengajar kembali melanda Bernard. Ia
      dikontrak total jadi pelatih tim IPhO Negeri Singa untuk 37th IPhO.
      Itulah yang membuat jadwalnya sebagai mahasiswa tak lagi normal:
      mengajar dari pukul 09.00-17.00, sekaligus mengurusi tugas-tugas
      kuliahnya.

      Tapi, bukan kesibukan ganda itu yang membuatnya jadi istimewa. Bernard
      --berstatus mahasiswa tingkat tiga-- didaulat menjadi `dosen' tunggal
      buat tim IPhO Singapura, sekaligus team leader. Ini amat mengejutkan,
      mengingat tahun-tahun sebelumnya tim IPhO Negeri Singa selalu
      dikomandani guru besar ternama. Negara-negara lain pun mempercayakan
      team leader-nya pada dosen-dosen yang mumpuni.

      Menjadi kian mengejutkan, mengingat saat ini Singapura menyandang
      beban berat selaku tuan rumah untuk pertama kali sejak IPhO digelar
      pada 1967. Sungguh aneh jika tim Negeri Singa malah mengambil risiko
      dengan menyerahkan hidup matinya kepada mahasiswa semester tujuh yang
      nota bene berkewarganegaraan Indonesia. Siapa Bernard?

      Barangkali ia memang jenius. Pertengahan 2003 lalu, baru dua bulan
      lulus SMA, ia langsung ditawari mengajar siswa kelas tiga di SMU BPK
      Gading Serpong. Tawaran itu diterimanya. `'Saya jadi guru termuda di
      situ. Baru lulus kelas tiga SMA, eh, langsung mengajar kelas tiga SMA,
      ha...ha,'' kata dia kepada wartawan Republika, Iman Yuniart di kampus
      NTU, Singapura.

      Tapi bukan itu yang membuat Singapura tertarik menyewa mentah-mentah
      Bernard. Pengalaman akademiklah yang membuat negeri jiran itu bernafsu
      mempekerjakannya: Bernard adalah peraih medali emas Asian Physics
      Olympiad (APhO) 2003 di Thailand, sekaligus peraih predikat The best
      in experiment di ajang ini. Ia juga penyandang medali perak di IPhO
      2003 di Taiwan.

      Pada 2004, Bernard diterima di Jurusan Elektro NTU lewat jalur
      beasiswa. Mengetahui ada jebolan Tim Olimpiade Fisika Indonesia
      (TOFI), NTU memanggil Bernard. Ia ditugasi mengajar tim IPhO Singapura
      yang akan bertanding di Salamanca, Spanyol, pada 2005.

      Bernard tak cuma memberi materi pelajaran, tapi juga berbagi
      pengalaman selama ikut APhO dan IPhO. Trik dan strategi diungkap
      habis. Dari situlah, kata Bernard, para jago fisika Singapura ini
      terbuka mata soal kelemahan mereka. Di situ pula, sadarlah mereka
      keunggulan tim IPhO Indonesia, khususnya dalam strategi dan metode
      penguasaan materi fisika.

      Pencerahan ini membuahkan hasil mengejutkan. Untuk pertama kali dalam
      sejarah, Singapura berhasil membawa pulang tiga medali emas dari ajang
      IPhO, Spanyol. Jumlah ini bahkan melebihi perolehan tim IPhO Indonesia
      saat itu (dua medali emas). `'Sebelumnya, Singapura maksimal cuma
      mendapat satu emas di setiap IPhO,'' terang Bernard. Pengalaman bagus
      itu membuat Singapura tak ragu menyewa total Bernard pada IPhO 2006 ini.

      Mengabdi pada asing? Bernard menolak disebut demikian. Bernard mengaku
      memperoleh beasiswa penuh dari NTU, sekitar 6.000 dolar Singapura (Rp
      35 jutaan) per tahun. Jika lulus pun, ia dikenai aturan ketat:
      dilarang bekerja selain di perusahaan milik Singapura selama tiga
      tahun. Ia sudah teken kontrak untuk itu.

      `'Banyak yang bertanya kok saya malah bantu tim Singapura?'' katar
      dia. Namun, Bernard punya pikiran lain yang sejalan dengan pikiran
      Prof Yohanes Surya, sang mentor. Menurut dia, jika tim Singapura
      sukses, orang-orang akan bertanya siapa yang melatih? `'Begitu tahu
      dari Indonesia, mereka kan kaget,'' kata Bernard.

      IPhO di Singapura lantas menjadi ajang 'perseteruan' antara murid dan
      guru. Bertindak sebagai team leader Singapura, Bernard praktis
      'bersaing' dengan tim leader Indonesia, Prof Yohanes Surya, yang
      notabene pembimbingnya saat di TOFI.

      Tak kalah
      Di jurusannya, Bernard harus bersaing dengan 400-500 mahasiswa dari
      berbagai negara. Dan ia membuktikan bahwa otak orang Indonesia tidak
      kalah encer. Buktinya, dari sembilan mata pelajaran yang diambilnya
      semester ini, delapan mata pelajaran dapat nilai A. Ada satu mahasiswa
      dari Cina yang memperoleh nilai persis sama.

      Bernard amat yakin kalau orang Indonesia cerdas-cerdas. Di NTU,
      misalnya, prestasi mahasiswa asal Indonesia di atas rata-rata.
      ''Persoalannya kita tak tahu saja cara menggali dan memeliharanya
      saja,'' terang Bernard yang almarhum ayahnya seorang dosen. Ia sepakat
      bahwa banyak orang potensial di negeri ini yang tak tersentuh.

      Ade Irawan, anggota tim IPhO 2006 asal SMAN 1 Pekanbaru, termasuk yang
      beruntung sempat terlacak. Ia pemuda pendiam. Namun gurunya melihat ia
      potensial dan mendorongnya ikut OSN untuk mata pelajaran fisika.
      Sukses. Ayah Ade Irawan cuma seorang montir di bengkel motor.

      Tahun lalu Prof Yohanes Surya, koordinator TOFI, melakukan survei
      kecerdasan (test IQ) untuk siswa-siswa SMP/SMA di wilayah timur
      Indonesia. Surya mendapati ada anak yang IQ-nya mencapai 152 (IQ
      jenius adalah 140-an). Diduga, banyak anak-anak jenius lain yang
      terabaikan, lantaran tak pernah ada survei IQ dari pemerintah untuk
      mengungkapnya.

      Karena itulah, Surya tak ragu mengadopsi anak-anak dari Papua untuk
      diikutsertakan dalam olimpiade-olimpiade internasional. Banyak yang
      sukses. Terakhir, akhir Juni 2006, siswa SMAN 5 Jayapura, Surya Bonai,
      meraih medali emas pada kompetisi internasional 'First Step to Nobel
      Prize in Chemistry'. Ini penghargaan Nobel junior pada bidang kimia,
      dan baru kali pertama digelar di dunia.

      Dua tahun lalu digelar kompetisi fisika antaruniversitas di Amerika
      Serikat (AS). Massachusetts Institute of Technology (MIT) tercatat
      keluar sebagai sebagai juara umum. MIT mengirim empat orang wakilnya.
      Tiga diantaranya ternyata orang Indonesia. n imy

      Kalau Sekolah tidak lagi Fun

      Ia memilih Singapura. Kendati pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
      (SPMB) 2003 lalu, Arfika Nurhudatiana (21 tahun) diterima di jurusan
      teknik informatika Institut Teknologi Bandung (ITB).

      Arfika sulit menampik beasiswa lebih dari 5.000 dolar Singapura per
      tahun dari Sembawang Coorporation, sebuah perusahaan Singapura. Meski
      kelak ia harus teken kontrak 'ikatan dinas' selama tiga tahun dengan
      negeri jiran ini.

      Di Singapura, Arfika menempuh studi di jurusan teknik komputer Nanyang
      Technological University (NTU) Singapura. Dan tahulah ia betapa
      kontrasnya sistem pendidikan di negeri jiran ini dengan di Indo
      --begitu mahasiswa NTU menyebut Indonesia.

      Di NTU, atau universitas Singapura pada umumnya, kata dia, belajar
      jauh lebih menyenangkan: tak melulu dijejali teori muluk-muluk, tapi
      lebih banyak praktiknya. Mahasiswa lebih getol mengerjakan proyek di
      lapangan ketimbang berjam-jam duduk mendengarkan dosen: bertemu banyak
      orang, melakukan apa yang mereka mau, dan setelah itu presentasi.
      ''Lebih banyak experience practical-nya. Ini membuat enggak boring,
      tapi fun banget,'' terang dia.

      Di Indonesia, mahasiswa dibebani mata pelajaran segudang, kadang
      banyak yang tak perlu, dan amat teoritis. Tak heran lulus S-1 bisa
      rata-rata 5 tahun. ''Itu saja sudah bikin fun belajarnya hilang,''
      kata Arfika.

      Soal profesionalitas dosen, kata Arfika, juga ada perbedaan amat
      besar. Di NTU, terang Arfika, dosen benar-benar helpful. Tak heran,
      mahasiswa senang sekali bertemu sang dosen. ''Mereka menganggap kita
      sebagai partner, bukan guru dan murid,'' terangnya.

      Mendekati waktu ujian, dosen menyediakan waktu dua jam sehari di
      kantornya. Mahasiswa bisa masuk kapan saja untuk bertanya. Di sini,
      lanjut Arfika, sidang skripsi bukan ajang 'pembantaian'. Proyek tugas
      akhir ini diartikan sebagai kerja bareng mahasiswa dan dosen, kemudian
      sang mahasiswa persentasi.

      Kalau ada proyek riset, sang dosen tak ragu melibatkan mahasiswanya.
      Mereka juga membantu mahasiswa melakukan funding untuk S2 atau S3.
      ''Di Singapura berlaku sistem meritokrasi. Silakan belajar, usaha,
      siapa pun yang belajar dan bekerja dengan baik, maka dapat pekerjaan
      bagus. Enggak ada KKN,'' terang dia.

      Arfika mengaku berminat kembali ke Indonesia untuk menjadi staf
      pengajar, tapi dengan catatan. ''Kita lihat dulu bagaimana kondisinya.
      Kalau sistem pendidikannya tidak terlalu kondusif, ya mau gimana,
      bisa-bisa semua ilmu yang didapat di Singapura percuma,'' selorohnya.

      Menurut dia, orang Indonesia punya benih kecerdasan di atas rata-rata.
      Buktinya, ''Di NTU, orang Indonesia selalu masuk top 20 persen dari
      angkatannya. Malah tak sedikit yang masuk top lima persen, dan
      langsung diberi dana besar untuk mengerjakan proyek. Di setiap
      fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia yang top lima persen,''
      kata dia. n imy

      Mereka yang di Mancanegara

      1. Okky Gunawan (perunggu IPhO 1993), program doktor Princeton University.
      2. Bagus Bani Abdillah (perunggu IPhO 1995), program master Tokyo
      Institute of Technology.
      3. Teguh Budi Mulya (perak IPhO 1995), program master Wisconsin
      University, AS.
      4. Wahyu Setiawan (perunggu IPhO 1996), program doktor Florida State
      University, AS.
      5. Boy Tanto (perunggu IPhO 1997), program master University of
      Wisconsin, AS.
      6. Hendra Johny Kwee (Special Award IPhO 1997), program doktor College
      of William and Marry, AS.
      7. Bahar Riand Passa (perunggu IPhO 2000), program master Nanyang
      Technological University, Singapura.
      8. Halim Kusumaatmaja (perunggu IPhO 2000), program doktor Oxford
      University.
    • Satria Matahari
      apa hebatnya? kadang2 aku juga diminta ngajar photoshop + coreldraw, tanpa dibayar lagi! nah, lebih mulia aku kan? ini judulnya: Yang Bersinar di Kampus
      Message 2 of 4 , Oct 3, 2006
        apa hebatnya?
        kadang2 aku juga diminta ngajar photoshop + coreldraw, tanpa dibayar
        lagi! nah, lebih mulia aku kan?
        ini judulnya: Yang Bersinar di Kampus Sendiri
        Kekekekekekekekekekekekekekeke!!!


        --- In ilmukomputerugm2004@yahoogroups.com, "ath_angga"
        <ath.angga@...> wrote:
        >
        > Sapa tau artikel yang diambil dari
        > http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=256537&kat_id=13 ni bisa
        > jadi 'inspirasi' :-)
        >
        >
        > Yang Bersinar di Negeri Orang
        >
        > Di setiap fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia masuk daftar
        top
        > lima persen.
        >
        > Kalau tuan rumah Singapura berhasil menggondol medali emas atau
        > berdiri di podium kemenangan 37th International Physics Olympiad
        (37th
        > IPhO) yang berakhir Senin depan (17/7), maka jangan lupakan nama
        ini:
        > Bernard Ricardo Widjaja (21 tahun).
        >
        > Ia bukan guru besar atau ilmuwan yang hasil risetnya tertebar di
        > berbagai jurnal ilmiah. Bernard cuma mahasiswa. Lulus dari SMA
        Regina
        > Pacis, Bogor, ia memilih School of Electrical and Electronic
        > Engineering Nanyang Technological University (NTU) Singapura,
        > perguruan tinggi peringkat 26 dunia. Kini ia duduk di semester
        tujuh.
        >
        > Sebagai mahasiswa, ia tergolong bukan mahasiswa rata-rata.
        Pertengahan
        > tahun lalu, ia didaulat memberi les fisika singkat untuk tim IPhO
        > Singapura. Cuma tiga hari, tapi upahnya seribu dolar Singapura
        > (sekitar Rp 5,6 juta).
        >
        > Tiga bulan terakhir, kesibukan mengajar kembali melanda Bernard. Ia
        > dikontrak total jadi pelatih tim IPhO Negeri Singa untuk 37th IPhO.
        > Itulah yang membuat jadwalnya sebagai mahasiswa tak lagi normal:
        > mengajar dari pukul 09.00-17.00, sekaligus mengurusi tugas-tugas
        > kuliahnya.
        >
        > Tapi, bukan kesibukan ganda itu yang membuatnya jadi istimewa.
        Bernard
        > --berstatus mahasiswa tingkat tiga-- didaulat menjadi `dosen'
        tunggal
        > buat tim IPhO Singapura, sekaligus team leader. Ini amat
        mengejutkan,
        > mengingat tahun-tahun sebelumnya tim IPhO Negeri Singa selalu
        > dikomandani guru besar ternama. Negara-negara lain pun mempercayakan
        > team leader-nya pada dosen-dosen yang mumpuni.
        >
        > Menjadi kian mengejutkan, mengingat saat ini Singapura menyandang
        > beban berat selaku tuan rumah untuk pertama kali sejak IPhO digelar
        > pada 1967. Sungguh aneh jika tim Negeri Singa malah mengambil risiko
        > dengan menyerahkan hidup matinya kepada mahasiswa semester tujuh
        yang
        > nota bene berkewarganegaraan Indonesia. Siapa Bernard?
        >
        > Barangkali ia memang jenius. Pertengahan 2003 lalu, baru dua bulan
        > lulus SMA, ia langsung ditawari mengajar siswa kelas tiga di SMU BPK
        > Gading Serpong. Tawaran itu diterimanya. `'Saya jadi guru termuda di
        > situ. Baru lulus kelas tiga SMA, eh, langsung mengajar kelas tiga
        SMA,
        > ha...ha,'' kata dia kepada wartawan Republika, Iman Yuniart di
        kampus
        > NTU, Singapura.
        >
        > Tapi bukan itu yang membuat Singapura tertarik menyewa mentah-mentah
        > Bernard. Pengalaman akademiklah yang membuat negeri jiran itu
        bernafsu
        > mempekerjakannya: Bernard adalah peraih medali emas Asian Physics
        > Olympiad (APhO) 2003 di Thailand, sekaligus peraih predikat The best
        > in experiment di ajang ini. Ia juga penyandang medali perak di IPhO
        > 2003 di Taiwan.
        >
        > Pada 2004, Bernard diterima di Jurusan Elektro NTU lewat jalur
        > beasiswa. Mengetahui ada jebolan Tim Olimpiade Fisika Indonesia
        > (TOFI), NTU memanggil Bernard. Ia ditugasi mengajar tim IPhO
        Singapura
        > yang akan bertanding di Salamanca, Spanyol, pada 2005.
        >
        > Bernard tak cuma memberi materi pelajaran, tapi juga berbagi
        > pengalaman selama ikut APhO dan IPhO. Trik dan strategi diungkap
        > habis. Dari situlah, kata Bernard, para jago fisika Singapura ini
        > terbuka mata soal kelemahan mereka. Di situ pula, sadarlah mereka
        > keunggulan tim IPhO Indonesia, khususnya dalam strategi dan metode
        > penguasaan materi fisika.
        >
        > Pencerahan ini membuahkan hasil mengejutkan. Untuk pertama kali
        dalam
        > sejarah, Singapura berhasil membawa pulang tiga medali emas dari
        ajang
        > IPhO, Spanyol. Jumlah ini bahkan melebihi perolehan tim IPhO
        Indonesia
        > saat itu (dua medali emas). `'Sebelumnya, Singapura maksimal cuma
        > mendapat satu emas di setiap IPhO,'' terang Bernard. Pengalaman
        bagus
        > itu membuat Singapura tak ragu menyewa total Bernard pada IPhO 2006
        ini.
        >
        > Mengabdi pada asing? Bernard menolak disebut demikian. Bernard
        mengaku
        > memperoleh beasiswa penuh dari NTU, sekitar 6.000 dolar Singapura
        (Rp
        > 35 jutaan) per tahun. Jika lulus pun, ia dikenai aturan ketat:
        > dilarang bekerja selain di perusahaan milik Singapura selama tiga
        > tahun. Ia sudah teken kontrak untuk itu.
        >
        > `'Banyak yang bertanya kok saya malah bantu tim Singapura?'' katar
        > dia. Namun, Bernard punya pikiran lain yang sejalan dengan pikiran
        > Prof Yohanes Surya, sang mentor. Menurut dia, jika tim Singapura
        > sukses, orang-orang akan bertanya siapa yang melatih? `'Begitu tahu
        > dari Indonesia, mereka kan kaget,'' kata Bernard.
        >
        > IPhO di Singapura lantas menjadi ajang 'perseteruan' antara murid
        dan
        > guru. Bertindak sebagai team leader Singapura, Bernard praktis
        > 'bersaing' dengan tim leader Indonesia, Prof Yohanes Surya, yang
        > notabene pembimbingnya saat di TOFI.
        >
        > Tak kalah
        > Di jurusannya, Bernard harus bersaing dengan 400-500 mahasiswa dari
        > berbagai negara. Dan ia membuktikan bahwa otak orang Indonesia tidak
        > kalah encer. Buktinya, dari sembilan mata pelajaran yang diambilnya
        > semester ini, delapan mata pelajaran dapat nilai A. Ada satu
        mahasiswa
        > dari Cina yang memperoleh nilai persis sama.
        >
        > Bernard amat yakin kalau orang Indonesia cerdas-cerdas. Di NTU,
        > misalnya, prestasi mahasiswa asal Indonesia di atas rata-rata.
        > ''Persoalannya kita tak tahu saja cara menggali dan memeliharanya
        > saja,'' terang Bernard yang almarhum ayahnya seorang dosen. Ia
        sepakat
        > bahwa banyak orang potensial di negeri ini yang tak tersentuh.
        >
        > Ade Irawan, anggota tim IPhO 2006 asal SMAN 1 Pekanbaru, termasuk
        yang
        > beruntung sempat terlacak. Ia pemuda pendiam. Namun gurunya melihat
        ia
        > potensial dan mendorongnya ikut OSN untuk mata pelajaran fisika.
        > Sukses. Ayah Ade Irawan cuma seorang montir di bengkel motor.
        >
        > Tahun lalu Prof Yohanes Surya, koordinator TOFI, melakukan survei
        > kecerdasan (test IQ) untuk siswa-siswa SMP/SMA di wilayah timur
        > Indonesia. Surya mendapati ada anak yang IQ-nya mencapai 152 (IQ
        > jenius adalah 140-an). Diduga, banyak anak-anak jenius lain yang
        > terabaikan, lantaran tak pernah ada survei IQ dari pemerintah untuk
        > mengungkapnya.
        >
        > Karena itulah, Surya tak ragu mengadopsi anak-anak dari Papua untuk
        > diikutsertakan dalam olimpiade-olimpiade internasional. Banyak yang
        > sukses. Terakhir, akhir Juni 2006, siswa SMAN 5 Jayapura, Surya
        Bonai,
        > meraih medali emas pada kompetisi internasional 'First Step to Nobel
        > Prize in Chemistry'. Ini penghargaan Nobel junior pada bidang kimia,
        > dan baru kali pertama digelar di dunia.
        >
        > Dua tahun lalu digelar kompetisi fisika antaruniversitas di Amerika
        > Serikat (AS). Massachusetts Institute of Technology (MIT) tercatat
        > keluar sebagai sebagai juara umum. MIT mengirim empat orang
        wakilnya.
        > Tiga diantaranya ternyata orang Indonesia. n imy
        >
        > Kalau Sekolah tidak lagi Fun
        >
        > Ia memilih Singapura. Kendati pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
        > (SPMB) 2003 lalu, Arfika Nurhudatiana (21 tahun) diterima di jurusan
        > teknik informatika Institut Teknologi Bandung (ITB).
        >
        > Arfika sulit menampik beasiswa lebih dari 5.000 dolar Singapura per
        > tahun dari Sembawang Coorporation, sebuah perusahaan Singapura.
        Meski
        > kelak ia harus teken kontrak 'ikatan dinas' selama tiga tahun dengan
        > negeri jiran ini.
        >
        > Di Singapura, Arfika menempuh studi di jurusan teknik komputer
        Nanyang
        > Technological University (NTU) Singapura. Dan tahulah ia betapa
        > kontrasnya sistem pendidikan di negeri jiran ini dengan di Indo
        > --begitu mahasiswa NTU menyebut Indonesia.
        >
        > Di NTU, atau universitas Singapura pada umumnya, kata dia, belajar
        > jauh lebih menyenangkan: tak melulu dijejali teori muluk-muluk, tapi
        > lebih banyak praktiknya. Mahasiswa lebih getol mengerjakan proyek di
        > lapangan ketimbang berjam-jam duduk mendengarkan dosen: bertemu
        banyak
        > orang, melakukan apa yang mereka mau, dan setelah itu presentasi.
        > ''Lebih banyak experience practical-nya. Ini membuat enggak boring,
        > tapi fun banget,'' terang dia.
        >
        > Di Indonesia, mahasiswa dibebani mata pelajaran segudang, kadang
        > banyak yang tak perlu, dan amat teoritis. Tak heran lulus S-1 bisa
        > rata-rata 5 tahun. ''Itu saja sudah bikin fun belajarnya hilang,''
        > kata Arfika.
        >
        > Soal profesionalitas dosen, kata Arfika, juga ada perbedaan amat
        > besar. Di NTU, terang Arfika, dosen benar-benar helpful. Tak heran,
        > mahasiswa senang sekali bertemu sang dosen. ''Mereka menganggap kita
        > sebagai partner, bukan guru dan murid,'' terangnya.
        >
        > Mendekati waktu ujian, dosen menyediakan waktu dua jam sehari di
        > kantornya. Mahasiswa bisa masuk kapan saja untuk bertanya. Di sini,
        > lanjut Arfika, sidang skripsi bukan ajang 'pembantaian'. Proyek
        tugas
        > akhir ini diartikan sebagai kerja bareng mahasiswa dan dosen,
        kemudian
        > sang mahasiswa persentasi.
        >
        > Kalau ada proyek riset, sang dosen tak ragu melibatkan mahasiswanya.
        > Mereka juga membantu mahasiswa melakukan funding untuk S2 atau S3.
        > ''Di Singapura berlaku sistem meritokrasi. Silakan belajar, usaha,
        > siapa pun yang belajar dan bekerja dengan baik, maka dapat pekerjaan
        > bagus. Enggak ada KKN,'' terang dia.
        >
        > Arfika mengaku berminat kembali ke Indonesia untuk menjadi staf
        > pengajar, tapi dengan catatan. ''Kita lihat dulu bagaimana
        kondisinya.
        > Kalau sistem pendidikannya tidak terlalu kondusif, ya mau gimana,
        > bisa-bisa semua ilmu yang didapat di Singapura percuma,''
        selorohnya.
        >
        > Menurut dia, orang Indonesia punya benih kecerdasan di atas rata-
        rata.
        > Buktinya, ''Di NTU, orang Indonesia selalu masuk top 20 persen dari
        > angkatannya. Malah tak sedikit yang masuk top lima persen, dan
        > langsung diberi dana besar untuk mengerjakan proyek. Di setiap
        > fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia yang top lima persen,''
        > kata dia. n imy
        >
        > Mereka yang di Mancanegara
        >
        > 1. Okky Gunawan (perunggu IPhO 1993), program doktor Princeton
        University.
        > 2. Bagus Bani Abdillah (perunggu IPhO 1995), program master Tokyo
        > Institute of Technology.
        > 3. Teguh Budi Mulya (perak IPhO 1995), program master Wisconsin
        > University, AS.
        > 4. Wahyu Setiawan (perunggu IPhO 1996), program doktor Florida State
        > University, AS.
        > 5. Boy Tanto (perunggu IPhO 1997), program master University of
        > Wisconsin, AS.
        > 6. Hendra Johny Kwee (Special Award IPhO 1997), program doktor
        College
        > of William and Marry, AS.
        > 7. Bahar Riand Passa (perunggu IPhO 2000), program master Nanyang
        > Technological University, Singapura.
        > 8. Halim Kusumaatmaja (perunggu IPhO 2000), program doktor Oxford
        > University.
        >
      • Bram
        Lebih hebat orang yang punya koleksi miyabi oktober-juni,wekekekeke ... From: Satria Matahari To: ilmukomputerugm2004@yahoogroups.com
        Message 3 of 4 , Oct 3, 2006
          Lebih hebat orang yang punya koleksi miyabi oktober-juni,wekekekeke

          ----- Original Message ----
          From: Satria Matahari <morgan_cupids@...>
          To: ilmukomputerugm2004@yahoogroups.com
          Sent: Wednesday, October 4, 2006 12:01:26 PM
          Subject: [ilmukomputerugm2004] Re: Yang Bersinar di Negeri Orang

          apa hebatnya?
          kadang2 aku juga diminta ngajar photoshop + coreldraw, tanpa dibayar
          lagi! nah, lebih mulia aku kan?
          ini judulnya: Yang Bersinar di Kampus Sendiri
          Kekekekekekekekekekekekekekeke!!!


          --- In ilmukomputerugm2004@yahoogroups.com, "ath_angga"
          <ath.angga@...> wrote:
          >
          > Sapa tau artikel yang diambil dari
          > http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=256537&kat_id=13 ni bisa
          > jadi 'inspirasi' :-)
          >
          >
          > Yang Bersinar di Negeri Orang
          >
          > Di setiap fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia masuk daftar
          top
          > lima persen.
          >
          > Kalau tuan rumah Singapura berhasil menggondol medali emas atau
          > berdiri di podium kemenangan 37th International Physics Olympiad
          (37th
          > IPhO) yang berakhir Senin depan (17/7), maka jangan lupakan nama
          ini:
          > Bernard Ricardo Widjaja (21 tahun).
          >
          > Ia bukan guru besar atau ilmuwan yang hasil risetnya tertebar di
          > berbagai jurnal ilmiah. Bernard cuma mahasiswa. Lulus dari SMA
          Regina
          > Pacis, Bogor, ia memilih School of Electrical and Electronic
          > Engineering Nanyang Technological University (NTU) Singapura,
          > perguruan tinggi peringkat 26 dunia. Kini ia duduk di semester
          tujuh.
          >
          > Sebagai mahasiswa, ia tergolong bukan mahasiswa rata-rata.
          Pertengahan
          > tahun lalu, ia didaulat memberi les fisika singkat untuk tim IPhO
          > Singapura. Cuma tiga hari, tapi upahnya seribu dolar Singapura
          > (sekitar Rp 5,6 juta).
          >
          > Tiga bulan terakhir, kesibukan mengajar kembali melanda Bernard. Ia
          > dikontrak total jadi pelatih tim IPhO Negeri Singa untuk 37th IPhO.
          > Itulah yang membuat jadwalnya sebagai mahasiswa tak lagi normal:
          > mengajar dari pukul 09.00-17.00, sekaligus mengurusi tugas-tugas
          > kuliahnya.
          >
          > Tapi, bukan kesibukan ganda itu yang membuatnya jadi istimewa.
          Bernard
          > --berstatus mahasiswa tingkat tiga-- didaulat menjadi `dosen'
          tunggal
          > buat tim IPhO Singapura, sekaligus team leader. Ini amat
          mengejutkan,
          > mengingat tahun-tahun sebelumnya tim IPhO Negeri Singa selalu
          > dikomandani guru besar ternama. Negara-negara lain pun mempercayakan
          > team leader-nya pada dosen-dosen yang mumpuni.
          >
          > Menjadi kian mengejutkan, mengingat saat ini Singapura menyandang
          > beban berat selaku tuan rumah untuk pertama kali sejak IPhO digelar
          > pada 1967. Sungguh aneh jika tim Negeri Singa malah mengambil risiko
          > dengan menyerahkan hidup matinya kepada mahasiswa semester tujuh
          yang
          > nota bene berkewarganegaraan Indonesia. Siapa Bernard?
          >
          > Barangkali ia memang jenius. Pertengahan 2003 lalu, baru dua bulan
          > lulus SMA, ia langsung ditawari mengajar siswa kelas tiga di SMU BPK
          > Gading Serpong. Tawaran itu diterimanya. `'Saya jadi guru termuda di
          > situ. Baru lulus kelas tiga SMA, eh, langsung mengajar kelas tiga
          SMA,
          > ha...ha,'' kata dia kepada wartawan Republika, Iman Yuniart di
          kampus
          > NTU, Singapura.
          >
          > Tapi bukan itu yang membuat Singapura tertarik menyewa mentah-mentah
          > Bernard. Pengalaman akademiklah yang membuat negeri jiran itu
          bernafsu
          > mempekerjakannya: Bernard adalah peraih medali emas Asian Physics
          > Olympiad (APhO) 2003 di Thailand, sekaligus peraih predikat The best
          > in experiment di ajang ini. Ia juga penyandang medali perak di IPhO
          > 2003 di Taiwan.
          >
          > Pada 2004, Bernard diterima di Jurusan Elektro NTU lewat jalur
          > beasiswa. Mengetahui ada jebolan Tim Olimpiade Fisika Indonesia
          > (TOFI), NTU memanggil Bernard. Ia ditugasi mengajar tim IPhO
          Singapura
          > yang akan bertanding di Salamanca, Spanyol, pada 2005.
          >
          > Bernard tak cuma memberi materi pelajaran, tapi juga berbagi
          > pengalaman selama ikut APhO dan IPhO. Trik dan strategi diungkap
          > habis. Dari situlah, kata Bernard, para jago fisika Singapura ini
          > terbuka mata soal kelemahan mereka. Di situ pula, sadarlah mereka
          > keunggulan tim IPhO Indonesia, khususnya dalam strategi dan metode
          > penguasaan materi fisika.
          >
          > Pencerahan ini membuahkan hasil mengejutkan. Untuk pertama kali
          dalam
          > sejarah, Singapura berhasil membawa pulang tiga medali emas dari
          ajang
          > IPhO, Spanyol. Jumlah ini bahkan melebihi perolehan tim IPhO
          Indonesia
          > saat itu (dua medali emas). `'Sebelumnya, Singapura maksimal cuma
          > mendapat satu emas di setiap IPhO,'' terang Bernard. Pengalaman
          bagus
          > itu membuat Singapura tak ragu menyewa total Bernard pada IPhO 2006
          ini.
          >
          > Mengabdi pada asing? Bernard menolak disebut demikian. Bernard
          mengaku
          > memperoleh beasiswa penuh dari NTU, sekitar 6.000 dolar Singapura
          (Rp
          > 35 jutaan) per tahun. Jika lulus pun, ia dikenai aturan ketat:
          > dilarang bekerja selain di perusahaan milik Singapura selama tiga
          > tahun. Ia sudah teken kontrak untuk itu.
          >
          > `'Banyak yang bertanya kok saya malah bantu tim Singapura?'' katar
          > dia. Namun, Bernard punya pikiran lain yang sejalan dengan pikiran
          > Prof Yohanes Surya, sang mentor. Menurut dia, jika tim Singapura
          > sukses, orang-orang akan bertanya siapa yang melatih? `'Begitu tahu
          > dari Indonesia, mereka kan kaget,'' kata Bernard.
          >
          > IPhO di Singapura lantas menjadi ajang 'perseteruan' antara murid
          dan
          > guru. Bertindak sebagai team leader Singapura, Bernard praktis
          > 'bersaing' dengan tim leader Indonesia, Prof Yohanes Surya, yang
          > notabene pembimbingnya saat di TOFI.
          >
          > Tak kalah
          > Di jurusannya, Bernard harus bersaing dengan 400-500 mahasiswa dari
          > berbagai negara. Dan ia membuktikan bahwa otak orang Indonesia tidak
          > kalah encer. Buktinya, dari sembilan mata pelajaran yang diambilnya
          > semester ini, delapan mata pelajaran dapat nilai A. Ada satu
          mahasiswa
          > dari Cina yang memperoleh nilai persis sama.
          >
          > Bernard amat yakin kalau orang Indonesia cerdas-cerdas. Di NTU,
          > misalnya, prestasi mahasiswa asal Indonesia di atas rata-rata.
          > ''Persoalannya kita tak tahu saja cara menggali dan memeliharanya
          > saja,'' terang Bernard yang almarhum ayahnya seorang dosen. Ia
          sepakat
          > bahwa banyak orang potensial di negeri ini yang tak tersentuh.
          >
          > Ade Irawan, anggota tim IPhO 2006 asal SMAN 1 Pekanbaru, termasuk
          yang
          > beruntung sempat terlacak. Ia pemuda pendiam. Namun gurunya melihat
          ia
          > potensial dan mendorongnya ikut OSN untuk mata pelajaran fisika.
          > Sukses. Ayah Ade Irawan cuma seorang montir di bengkel motor.
          >
          > Tahun lalu Prof Yohanes Surya, koordinator TOFI, melakukan survei
          > kecerdasan (test IQ) untuk siswa-siswa SMP/SMA di wilayah timur
          > Indonesia. Surya mendapati ada anak yang IQ-nya mencapai 152 (IQ
          > jenius adalah 140-an). Diduga, banyak anak-anak jenius lain yang
          > terabaikan, lantaran tak pernah ada survei IQ dari pemerintah untuk
          > mengungkapnya.
          >
          > Karena itulah, Surya tak ragu mengadopsi anak-anak dari Papua untuk
          > diikutsertakan dalam olimpiade-olimpiade internasional. Banyak yang
          > sukses. Terakhir, akhir Juni 2006, siswa SMAN 5 Jayapura, Surya
          Bonai,
          > meraih medali emas pada kompetisi internasional 'First Step to Nobel
          > Prize in Chemistry'. Ini penghargaan Nobel junior pada bidang kimia,
          > dan baru kali pertama digelar di dunia.
          >
          > Dua tahun lalu digelar kompetisi fisika antaruniversitas di Amerika
          > Serikat (AS). Massachusetts Institute of Technology (MIT) tercatat
          > keluar sebagai sebagai juara umum. MIT mengirim empat orang
          wakilnya.
          > Tiga diantaranya ternyata orang Indonesia. n imy
          >
          > Kalau Sekolah tidak lagi Fun
          >
          > Ia memilih Singapura. Kendati pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
          > (SPMB) 2003 lalu, Arfika Nurhudatiana (21 tahun) diterima di jurusan
          > teknik informatika Institut Teknologi Bandung (ITB).
          >
          > Arfika sulit menampik beasiswa lebih dari 5.000 dolar Singapura per
          > tahun dari Sembawang Coorporation, sebuah perusahaan Singapura.
          Meski
          > kelak ia harus teken kontrak 'ikatan dinas' selama tiga tahun dengan
          > negeri jiran ini.
          >
          > Di Singapura, Arfika menempuh studi di jurusan teknik komputer
          Nanyang
          > Technological University (NTU) Singapura. Dan tahulah ia betapa
          > kontrasnya sistem pendidikan di negeri jiran ini dengan di Indo
          > --begitu mahasiswa NTU menyebut Indonesia.
          >
          > Di NTU, atau universitas Singapura pada umumnya, kata dia, belajar
          > jauh lebih menyenangkan: tak melulu dijejali teori muluk-muluk, tapi
          > lebih banyak praktiknya. Mahasiswa lebih getol mengerjakan proyek di
          > lapangan ketimbang berjam-jam duduk mendengarkan dosen: bertemu
          banyak
          > orang, melakukan apa yang mereka mau, dan setelah itu presentasi.
          > ''Lebih banyak experience practical-nya. Ini membuat enggak boring,
          > tapi fun banget,'' terang dia.
          >
          > Di Indonesia, mahasiswa dibebani mata pelajaran segudang, kadang
          > banyak yang tak perlu, dan amat teoritis. Tak heran lulus S-1 bisa
          > rata-rata 5 tahun. ''Itu saja sudah bikin fun belajarnya hilang,''
          > kata Arfika.
          >
          > Soal profesionalitas dosen, kata Arfika, juga ada perbedaan amat
          > besar. Di NTU, terang Arfika, dosen benar-benar helpful. Tak heran,
          > mahasiswa senang sekali bertemu sang dosen. ''Mereka menganggap kita
          > sebagai partner, bukan guru dan murid,'' terangnya.
          >
          > Mendekati waktu ujian, dosen menyediakan waktu dua jam sehari di
          > kantornya. Mahasiswa bisa masuk kapan saja untuk bertanya. Di sini,
          > lanjut Arfika, sidang skripsi bukan ajang 'pembantaian'. Proyek
          tugas
          > akhir ini diartikan sebagai kerja bareng mahasiswa dan dosen,
          kemudian
          > sang mahasiswa persentasi.
          >
          > Kalau ada proyek riset, sang dosen tak ragu melibatkan mahasiswanya.
          > Mereka juga membantu mahasiswa melakukan funding untuk S2 atau S3.
          > ''Di Singapura berlaku sistem meritokrasi. Silakan belajar, usaha,
          > siapa pun yang belajar dan bekerja dengan baik, maka dapat pekerjaan
          > bagus. Enggak ada KKN,'' terang dia.
          >
          > Arfika mengaku berminat kembali ke Indonesia untuk menjadi staf
          > pengajar, tapi dengan catatan. ''Kita lihat dulu bagaimana
          kondisinya.
          > Kalau sistem pendidikannya tidak terlalu kondusif, ya mau gimana,
          > bisa-bisa semua ilmu yang didapat di Singapura percuma,''
          selorohnya.
          >
          > Menurut dia, orang Indonesia punya benih kecerdasan di atas rata-
          rata.
          > Buktinya, ''Di NTU, orang Indonesia selalu masuk top 20 persen dari
          > angkatannya. Malah tak sedikit yang masuk top lima persen, dan
          > langsung diberi dana besar untuk mengerjakan proyek. Di setiap
          > fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia yang top lima persen,''
          > kata dia. n imy
          >
          > Mereka yang di Mancanegara
          >
          > 1. Okky Gunawan (perunggu IPhO 1993), program doktor Princeton
          University.
          > 2. Bagus Bani Abdillah (perunggu IPhO 1995), program master Tokyo
          > Institute of Technology.
          > 3. Teguh Budi Mulya (perak IPhO 1995), program master Wisconsin
          > University, AS.
          > 4. Wahyu Setiawan (perunggu IPhO 1996), program doktor Florida State
          > University, AS.
          > 5. Boy Tanto (perunggu IPhO 1997), program master University of
          > Wisconsin, AS.
          > 6. Hendra Johny Kwee (Special Award IPhO 1997), program doktor
          College
          > of William and Marry, AS.
          > 7. Bahar Riand Passa (perunggu IPhO 2000), program master Nanyang
          > Technological University, Singapura.
          > 8. Halim Kusumaatmaja (perunggu IPhO 2000), program doktor Oxford
          > University.
          >







          Yahoo! Groups Links
        • true_afi
          wah..kalo bagi saya itu menginspirasi kok.....
          Message 4 of 4 , Oct 5, 2006
            wah..kalo bagi saya itu menginspirasi kok.....
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.