Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

politik di polling TV - SELAMATKAN INDONESIAKU

Expand Messages
  • ikan tongkol "bj"
    sory telat -- http://defrimardinsyah.wordpress.com/2009/07/05/854/ Terlalu memaksakan, faktor utama kekalahan SBY-NO Posted on Juli 5, 2009 by defrimardinsyah
    Message 1 of 1 , Aug 1, 2009
    • 0 Attachment
      sory telat -- http://defrimardinsyah.wordpress.com/2009/07/05/854/


      Terlalu memaksakan, faktor utama kekalahan SBY-NO
      Posted on Juli 5, 2009 by defrimardinsyah

      Kata salah satu orang yang saya percaya sebagai Opinion LeaderShip, bahwa kekalahan yang akan dialami oleh SBY-NO, sebenarnya lebih disebabkan karena keinginan tim Sukses SBY-NO untuk memaksakan kemenangan dengan menggunakan cara-cara yang tidak pada tempatnya. kata kuncinya adalah “memaksakan”.

      Sebenarnya jika SBY-NO tidak “memaksakan” kemenangan tersebut, tentu saja SBY-NO akan dapat dengan mudah memenangkan pertarungan. Justru karena merasa sudah diatas angin inilah yang membuat para tim sukses yang rata-rata memiliki ego yang super, sehingga menepuk dada.. sambil berteriak..” ini dadaku… mana dadamu…”.

      Banyak dari Tim sukses SBY-NO yang menyerang sana… serang sini… sindir sana … dan sindir sini… pemaksaan secara sistematik dengan menggunakan politik pencitraan yang over dosis malah membuat kelompok SBY-NO ini menjadi melorot, semelorot-melorot.

      Sikap Ruhut yang menghina Etnis Arab, Malarangeng bersaudara yang seringkali menyerang lawan politik, yang dilakukan oleh Rizal dan Andi Malarangeng, serang prabowo tentang kuda, serang Kwik dengan nada melecehkan, Andi malah melecehkan etnis Sulawesi, dan dibela oleh Rizal dengan menyatakan bahwa itu hanya candaan.

      Anda Bayangkan, penghinaan dianggap sebagai candaan. bayangkan saja etnis anda dihina dan dianggap sebagai candaan. Pencitraan yang dilakukan oleh Tim Sukses dengan membayar Lembaga Survey, yang mencoba membentuk opini bahwa SBY-NO akan memenangkan pemilu, SBY-NO akan menang satu putaran, merupakan “pemaksaan” yang tidak pada tempatnya.

      Bahkan Polling SMSpun diserang dengan teknologi, serta ketersediaan dana yang Unlimited. sepertinya kelompok SBY-NO ini memang bertempur mati-matian dengan ketersediaan dana yang Unlimited, yang penting menang, segala cara dihalalkan.

      dalam blog ini pernah ditayangakan hasil polling di detik dotcom yang posisinya SBY-NO akan mengalami kekalahan, tetapi juga memang sudah diprediksi bahwa SBY-NO akan melakukan penyerangan secara sistematik terhadap polling SMS tersebut. Saat itu tidak ada gambaran tentang cara teknis pelaksaanaa penyerangan yang dilakukan, Alhamdulillah, ternyata ada tulisan dari salah satu blog yang menjelaskan penjerangan terhadap polling SMS tersebut, walaupun dalam tulisan itu tidak dijelaskan tentang serangan yang dilakukan terhadap Polling SMS didetikdotcom, tetapi dengan mengetahui teknik yang dapat dilakukan, sangat diyakini bahwa hal yang sama juga dilakukan oleh SBY-NO terhadap polling SMS di detikdotcom atau polling-polling SMS lain yang dilakukan oleh berbagai lembaga.

      Coba sima tulisan berikut :





      Rahasia di Balik Polling SMS TV One dan Metro TV

      4 Juli 2009 oleh Dwiki Setiyawan

      Keluarga Fami Fachrudin

      Keluarga Fami Fachrudin

      Di milis Kahmi Pro Network, rekan saya Fami Fachrudin yang mantan caleg DPR-RI dari Partai Gerindra, menulis catatan ringan mengenai kegiatan polling short message servive (sms) saat berlangsung acara Debat Capres dan Cawapres beberapa waktu lalu.

      Dari penuturannya, barulah saya tahu, “Oh begini tho ‘pertempuran’ yang terjadi dibalik kegiatan polling sms untuk saling dongkrak-mendongkrak perolehan hasil akhir yang selama ini tidak diketahui publik.”

      Rekan Fami Fachrudin ini pendapatnya saya kutip lengkap untuk tulisan ini, karena dia punya kapasitas untuk bicara soal polling sms dimaksud. Saat ini ia Presiden Direktur PT ASMINDO. Sebuah perusahaan berkantor di Jakarta yang bergerak di bidang content provider, telekomunikasi dan teknologi informasi. Pembaca yang ingin tahu banyak soal sosok satu ini, silakan klik situsnya di http://www.masfami.com

      Di milis tersebut, Fami yang asli Bumiayu Jawa Tengah itu menuturkan bahwa ia menggunakan SMSCaster untuk ‘membom’ empat digit nomor tujuan pengiriman sms. Program SMSCaster ini, katanya pula bisa dicari di internet lewat Mesin Pencari Google.

      Berikut catatan Fami Fachrudin mengenai sepak terjang dibalik kegiatan Polling SMS Debat Capres dan Cawapres selengkapnya:

      Karena debat capres-cawapres sudah usai, mungkin perlu sedikit diungkap secara singkat bagaimana kegiatan polling di TV One dan Metro TV.

      Saya sedih dan geli, ketika para pakar dan juru bicara Tim Kampanye Nasional dengan “serius” membahas hasil polling tersebut, termasuk our newly crowned as professor yang pada debat cawapres ke-1 jadi komentator di Metro TV. Padahal, bersama Ami Geis, Dian, dan Tatat di OhLaLa (belakangan datang Medrial, Hamid, dan IJP) saya kirim ribuan sms dari laptop saya untuk menyodok suara dukungan sms utk Prabowo hingga 32%. Saya geli saat pengamat kita membahas hasil polling tersebut dengan segala argumennya.

      ***

      Saat debat capres pertama usai, paginya Mega-Prabowo Media Center membahas soal perolehan suara Mega pada polling sms kedua TV tersebut yang sangat rendah. Mereka mengeluh karena kesulitan mengirimkan sms dukungan ke 3030 (TV One) maupun 6876 (Metro TV).

      Sebagai orang yang menggeluti bisnis content provider, saya mengerti betul bagaimana teknis yang ada di belakang mesin 3030 dan 6876 bekerja. Lalu saya sampaikan kepada kawan-kawan (di Tim Sukses Mega-Prabowo), sediakan saya pulsa senilai 10 juta rupiah, saya akan bekerja menaikkan angkanya.

      Singkat kata, seusai debat cawapres 1, suara Prabowo di Metro TV mencapai 32, Boediono 45, dan Wiranto 20. Itu berkat 2 buah modem dan pulsa senilai Rp 10 juta.

      Mungkin merasa kecolongan (Boediono di bawah 50%), pada debat capres ke-2, atau seri debat ke-3 dari serial debat itu, pengiriman memakai modem dipersulit. Puji Tuhan, ada orang Metro TV yang teledor kirim sms ke nomor yang dipakai untuk “menggempur” berbunyi:
      “Tolong jangan jadi spammers –Metro TV“.

      I got you! Rupanya aliran sms yang masuk ke mesin 6876 ‘diplototin’ sama mereka sehingga nomor yang berkali-kali masuk bisa ketahuan. Sms itu adalah bukti bahwa aliran sms yang masuk “dikontrol” oleh mereka. Pikiran kotor saya berpendapat, mereka mau mengontrol agar suara SBY-Boediono tetap di atas 50%.

      Ini jelas tidak fair. Pertama, sms yang saya kirim isinya sesuai dengan petunjuk. Kedua, jumlah sms yg saya kirim tidak melanggar aturan karena presenter bilang: kirim sebanyak-banyaknya !

      Malam itu hasilnya mengecewakan. Paginya Media Center mengadakan jumpa pers untuk sedikit menyentil praktek tersebut.

      Pada seri ke-4 atau debat cawapres ke-2, saya sediakan 5 modem dan pulsa senilai 3p 20 juta. Hasilnya, suara Prabowo di TV One merangsek hingga 36% (Boediono 48). Hanya di Metro TV yang saya dapati masih “dipermainkan”. Sejak pukul 18.00 hingga 21.00 wib, seluruh sms berisi “Cawapres 1″ yg dikirim ke 6876 mental dan dapat jawaban “layanan tidak tersedia”. Anehnya, jam 21.00 Metro TV tetap mengumumkan hasil pollingnya.

      Seri debat terakhir saya pulang kampung jadi tidak ikutan polling. Hasilnya Mega mendapat 14% di TV One dan 9% di Metro TV.

      Tahukah Saudara bagamana SBY-Boediono menangani polling ini? Mereka membayar sebuah perusahaan content provider (namanya saya rahasiakan) dan menyiapkan seluruhnya 50 modem.

      *****

      politik pencitraan yang dilakukan over dosis ini ternyata malah menjadi faktor utama kekalahan SBY-NO…

      Sebarkan tulisan ini… copy kirimkan ke milist-milist dengan mencatumkan link sumber asal tulisan ini, mudah-mudahan hal yang anda lakukan dapat membuka mata rakyat Indonesia, sehingga bangsa ini tidak salah pilih pada tanggal 8 Juli 2009 nanti…

      <><><><><><><>
      Happy Day


      --
      Powered By Outblaze
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.