Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

Expand Messages
  • Abdullah Yuliarso
    ... Dari: Irin Pandjaitan Tanggal: 15 September 2009 18:50 Subjek: Re: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ... Ke: Abdullah Yuliarso
    Message 1 of 4 , Sep 15 5:28 AM


      ---------- Pesan terusan ----------
      Dari: Irin Pandjaitan <tv_melody@...>
      Tanggal: 15 September 2009 18:50
      Subjek: Re: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
      Ke: Abdullah Yuliarso <doedyuli@...>





      From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@...>
      Sent: Monday, September 14, 2009 11:11:13 PM
      Subject: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

      Senin, pukul 19.00, 14 / 09 / 2009, seorang gadis imut-imut menyoorkan secarik kertas kepada saya.
      Dia adalah mahasiswi FFTV-IKJ, katakanlah namanya Nisa.
      Dikertas itu tertulis kata-kata yang meyeramkan.

      KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN
      Surat terbuka kepada civitas akademika Institut Kesenian Jakarta.

      Begitu kata pembuka dari surat terbuka tersebut.
      Sebagai warga IKJ tentu saja saya menanggapinya.
      Diharapkan teman-teman pun turut menanggapi.

      Substansi dari surat terbuka tersebut berbunyi sebagai berikut:
      Dengan sangat menyesal, Dionisius Bowo 93SR3185 lulus D3 1997, S1 th 1000 FSR-IKJ, dan sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan Tesis Magister Seni IKJ, anggota dewan pendiri Sendal-IKJ, anggota keluraga besar IKJ, penggiat anti kekerasan,  menyatakan :

      (1).    Meminta kepada Rektor IKJ dan para Dekan FFTV, FSP, dan FSR -IKJ agar segera ditegakkan aturan akademik maupun administratif atas pelanggaran yang sangat serius oleh mahasiswa IKJ, yang telah mencoreng, menantang otoritas sah yang legitim.

      (2)    Mengundang Rapat Keluarga Besar IKJ melalui Organisasi Alumni dari setiap Fakultas agar dilakukan investigasi terhadap kejadian tersebut yang patut diduga telah terkjadi pelanggaran code of cunduct yang merugikan nama baik keluarga besar IKJ.

      (3)    Mengusulkan kepada Dema dan Senat mahasiswa Fakultas agar segera dilakukan tindakan disiplin organisasi atas pelanggaran otoritasnya.

      (4)    Menyerukan kepada rekan mahasiswa dan para dosen agar tidak lagi menjadi raksasa tidur (silent majority), mari kita bersihkan rumah, halaman kreatif kita dari onak dan duri kekerasan dengan tindakan nyata. Rumah mungil haruslah menjadi ladang subur merdeka bagi kreatifitas bukan kekerasan.

      Pernyataan yang mengerikan itu merupakan respon atas suatu kejadian yang dijelaskan di alinea awal surat terbuka tersebut yang berbunyi  :

      Jum'at sore 11 September 2009 (kebetulan bersamaan dengan ultah Tragedi WTC di Amerika), menjelang buka puasa di Plaza Luwes IKJ terjadi suatu peristiwa yang membuktikan betapa trauma kekerasan mataseni ( baca Ospek ) yang telah diwariskan turun temurun, melahirkan kekarasan yang lain yang siap ditularkan.  Segerombolan mahasiswa nampak liar, beringas dan barangkali lapar melakukan ancaman, intimidasi ( baca kekerasan verbal) terhadap mahasiswa baru para yunior adik-adiknya sendiri, yang sedang melakukan kegiatan sah Institut secara telanjang, terbuka bahkan menantang dihadapan para seniornya., kakaknya sendiri. Lebih menyedihkan lagi kejadian tersebut dilakukan pada buka puasa kepada mereka yang sebagian besar akan berbuka puasa. Dimana kesopanan ? Di mana toleransi, penghormatan terhadap keyakinan ? Di mana kecerdasan ?

      Betapa bodohnya kita membiarkan diri menjadi kaki tangan kekerasan. Betapa bodohnya kita memperjuangkan sesuatu (yang nyaris tak bermakna) dengan memamerkan kekerasan yang justru hendak kita lawan bersama.

      Saya membayangkan betapa mulianya kalau energi yang iitu diarahkan kepada musuh yang benar. Melawan diberlakukannya UU Kerahasiaan Negara, Atau UU Reformasi, UU Pornografi yang jelas-jelas mengekang kebebasan berekspresi dan hak akses informasi.

      Begitulah bunyi Surat terbuka dari Dionisius Bowo, teman kita dari Senirupa.
      Pertanyaannya ....
      Apakah itu potret mahasiswa IKJ saat ini ???

      Saya punya sedikit cerita yang mungkin bisa jadi imbangannya.
      Beberapa waktu lalu, saya didaulat mhs IKJ untuk bincang-bincang di Warungku.
      Saya menolak karena saya sudah faham.
      Setiap tahun ajaran baru, suhu politik di kampus IKJ pasti memanas.
      Ada pergerakan saling tarik antara otoritas IKJ dengan mahasiswa tentang penyeleggaraan Ospek
      .
      Minggu sore, 13 / 09 / 2009, seorang mahasiswa IKJ menghubungi saya dan mohon kesediaan saya untuk mendengarkan keluhannya.
      Karena sudah beberapa kali saya tolak, malu juga, makanya saya setujui.
      Malam itu, disamping yang menyebutkan dirinya sebagai Panitia Apresiasi Seni 2009, Dema IKJ,  hadir juga para senior seperti JDR, Kinoi dan beberapa orang lainnya.
      Singkat kata mereka minta kita untuk menjembatani komunikasi dengan otoritas Kampus yang membidangi pembinaan mahasiswa.
      Oke, saya telpon Warek III / IKJ, minta waktu bertemu.
      Setuju !!! Senin siang tgl. 14 / 09 / 09, Warek III bersedia menerima.
      Wajah para mahasiswa tampak berbinar-binar melihat saya bicara dengan Warek III santai dan relaks.
      Warek III itu mas Barkah ... he he he ..

      Esok siang, saya bersama Enison dan Enggong mewakili Ikatan Alumni FFTV menghadap Warek III.
      Pak Warek begitu emosional, apa pun dan sebagus apa pun konsep mahasiswa, pasti itu hanya akal-akalan .... !!!!   Kata pak Warek dengan berapi-api ...
      No ... No ... No .. !!!
      Nehi ... nehi ... nehi ... !!!

      Sudah diputuskan oleh rapat pimpinan, urusan ini adalah urusan Dema dengan para Dekan ... !!! Tegas pak Warek sebagai kata putus.
      Kalau ada penolakan, tolong kasih solusinya, kata Enison halus.
      Sudah ... sudah ... sudah !!! Nehi... nehi ... nehi .., jawab pak Warek sambil mendelik.
      Pak Warek pernah main film India, kalee .. bisik Enggong ditelingaku.

      Saya, Enison dan Enggong pun keluar menemui para mahasiswa yang menunggu dengan harap-harap cemas.
      Setelah dijelaskan tentang hasil pertemuan tadi wajah para mahasiswa langsung kecewa dengan rona kesedihan nyaris air matanya menetes.
      Dibalik wajah lugu para mahasiswa, saya lihat amarah yang terpendam.
      Inilah adalah contoh akar permasalahan yang dapat meledak sebagai KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN, seperti kata Dionisius Bowo.

      Beberapa menit kemudian Enison dan Enggong pulang.
      Saya pun bergeser ke Soto Lamongan nunggu bedug sambil ngopi2 dan ngerokok.
      Setengah jam kemudian, seorang mahasiswa menghubungi minta saya hadir pada rapat mahasiswa saat itu juga.
      Udah kepalang, langsung saya iya'in.
      Betapa kaget saya ketika melihat lebih dari 40 orang mahasiswa yang hadir.
      Saya hanya memberi pandangan yang jernih supaya tidak ada aksi anarkis.
      Mereka sepakat dan menyatakan Panitia Apresiasi Seni membubarkan diri.
      Bola panas itu sekarang dipegang oleh Ketua Dema IKJ dan para Ketua Senat Fakultas.
      Akan ditendang kemana, kita tunggu saja ...

      Betahun-tahun selalu timbul kekerasan dalam pelaksanaan Ospek.
      Juga terjadi kekerasan fisik dalam sistem sosial kampus yang sudah terbukti makan korban.
      Kampus IKJ menjadi sarang Narkoba.
      Minuman keras kelas murahan menjadi menu setiap ada acara kampus.
      Buruk ... buruk ... buruk, begitulah stigma yang diterima kampus IKJ.
      Apakah ini semata-mata kesalahan mahasiswa ????

      Tidak sesederhana itu jawabannya.
      Yang jelas, IKJ sebagai Lembaga Pendidikan telah salah urus khususnya dalam pembinaan kemahasiwaan dan sistem sosial kehidupan kampus.
      Mahasiswa IKJ adalah korban salah urus Pengelola Pendidikan.
      Padahal ada 4 Pejabat Teras yang ngurusin Pembinaan Kemahasiswaan.
      Warek III dan tiga Wadek III Fakultas.
      Pertanyaannya ......
      Bagaimana mungkin
      KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN bisa terjadi .....

      Dudung A. Yuliarso
      Mahasiswa Crashprogram S1 FFTV-IKJ
      Art & Culture Coopertaion Committe Indonesia-Korea Friendship Association.
      Anggota DPO Ikatan Alumni FFTV-IKJ
      Mantan Perwira TNI Angkatan Laut
      Direktur Utama Creative Industrial Networking PT. Prima Bina Media.
      Direktur Primamitra Music and Film Industries.
      General Manager The Submarine Center of Music and Performing Arts. 
      Managing Partner NTOTC WANADRI PRIMA
      Narsiiiis kaleeee .. !!!  he he he





      reply by : ex. panitia apresiasi seni 2009

      mungkin kami harus bercerita dari awal sebab permasalahan2 ini bisa muncul (baca : terjadi),,

      sejak bulan februari 2009, kami sudah mengetahui bahwa mata seni (OSPEK) telah dilarang,, kami pun bingung harus berbuat apa, karena penentangan diadakannya mata seni belum pernah terjadi secara terang2an seperti ini (ditulis secara jelas di spanduk dan brosur FFTV : TIDAK ADA OSPEK),,

      akhirnya, melalui proses yang panjang kami mencoba untuk mengkonsepkan suatu acara yang baru, karena kami tahu bahwa yang paling dipermasalahkan dalam konsep Mata Seni adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh SiePam pada konsep tersebut,, akhirnya kami mencoba untuk mengganti SiePam dengan "Pecalang" yang berfungsi secara jelas hanya mengamankan acara, tanpa adanya kekerasan fisik sedikitpun,,

      kami kepanitiaan apresiasi seni 2009 sejak awal sudah menentang adanya kekerasan fisik dalam acara mata seni sebelum adanya SK penghapusan mata seni tertanggal 28 Juli 2009, karena menurut kami kekerasan fisik tidak memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan mental dan kedisiplinan yang kuat terhadap mahasiswa baru,,

      setelah konsep pecalang ditolak, kami langsung menghapus divisi pengamanan secara tegas! kami mencoba membuat sebuah konsep yang baru, tanpa adanya kekerasan sedikitpun, ataupun membuat sebuah divisi baru yang akhirnya dapat menimbulkan kekerasan lagi,,

      perlu diketahui, tertanggal hasil keputusan raker 21 Agustus 2009, DEMA mengumumkan hasil rapat seluruh organisasi mahasiswa yang berbunyi : "DEMA memutuskan, menyetujui adanya penghapusan Mata Seni (OSPEK), dan AKAN DIBUAT SEBUAH KONSEP BARU yang akan dirundingkan lagi. "

      berdasarkan surat keputusan raker, SK penghapusan mata seni, dan dilarangnya kekerasan fisik dalam Ospek, maka kami kepanitiaan mencoba membuat sebuah konsep baru,, melalui proses kurang lebih selama 2 minggu, akhirnya kami selesai membuat konsep baru tersebut dimana kekerasan fisik sama sekali dihilangkan,, konsep yang kami buat pun berdasarkan hasil bimbingan dari DEMA,, konsep pertama kami membuat konsep yang berhubungan dengan FKI,, dengan adanya kegiatan FKI, kami berusaha untuk membuat konsep yang dapat di combine dan menguntungkan kedua belah pihak,, dimana kami akan membantu workshop FKI, namun kami meminta untuk diberikan waktu untuk melaksanakan inagurasi pada acara FKI tersebut serta acara 3 hari dengan konsep yang baru,, namun, konsep tersebut tetap ditolak tanpa membaca konsep kami terlebih dahulu, karena menurut Mas Barkah, konsep workhsop kami yang bertema kebudayaan tradisional berbeda dengan konsep tema FKI yaitu Urban,,

      kami mencoba membuat konsep yang baru lagi,, setelah konsep selesai, kami meminta kesempatan kepada Warek III IKJ untuk dapat mempresentasikan konsep baru tersebut,, namun Mas Barkah menolak,, beliau meminta kami untuk bertemu dengan Dekan setiap fakultas untuk diberikan kesempatan mempresentasikan konsep tersebut, tanpa membaca proposal konsep yang telah kami buat,, beliau langsung menolak begitu saja,,

      akhirnya, Irin (Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009) langsung menemui Dekan dari setiap fakultas didampingi oleh Senat Mahasiswa dari setiap fakultas,, hasilnya :

      1. Mas Pur (DEKAN FSP) menyetujui untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk mempresentasikan terlebih dahulu, namun harus bersamaan dengan DEKAN kedua fakultas yang lain dan Warek III IKJ. Mas Pur mendengarkan pengantar dari Irin dengan sangat baik dan seksama,,

      2. Mba Citra (DEKAN FSR) didampingi Mas Dionisius (Wadek III FSR) menolak untuk memberikan kesempatan kepada kami karena menurut mereka SK penghapusan dan pelanggaran Mata Seni (OSPEK) sudah sangat jelas,, dan mas Dio mengatakan kekecewaannya, karena kami dari rektorat masih dilempar lagi ke Dekan seperti bola pingpong,, menurut beliau, bila rektorat sudah mengatakan tidak, maka kami tidak perlu dilempar lagi ke DEKAN setiap fakultas,,

      3. Mas Gotot (DEKAN FFTV) pada awalnya menolak secara tegas,, beliau juga menjelaskan menurunnya kuantitas mahasiswa baru yang masuk ke FFTV akibat adanya Mata Seni,, namun akhirnya, beliau bertanya kapan kami akan presentasi, namun beliau tidak menjamin dapat hadir pada hari tersebut,,

      akhirnya, kami memutuskan untuk presentasi pada tanggal 11 September 2009,, kami tahu, ada kesalahan dari kami dalam prosedur, dimana kami mengadakan rencana presentasi pada tanggal 11 September 2009 namun surat undangan pun baru turun pada tanggal 11 September 2009 tersebut,, akhirnya, yang hadir hanya Mas Kusen Dony (Wadek III FFTV) dan Mas Barkah (Warek III IKJ),,

      saat Mas Barkah datang, beliau langsung secara tegas memprotes karena diundang ke presentasi tersebut, karena beliau sudah mengatakan ini bukan lagi urusan rektorat karena sudah ada SK yang turun, jika mau kami langsung berhubungan dengan DEKAN setiap fakultas,, tapi kami mengundang, dengan maksud menghormatinya sebagai Warek III bidang Kemahasiswaan yang pastinya berdasarkan jabatannya, berhubungan langsung dengan kami sebagai mahasiswa,,

      namun, hasil dari sore itu, nihil,, kami justru berdebat dengan Mas Barkah,, dan yang membuat kami kecewa, karena kami terus menerus disamakan dengan kepanitiaan yang lalu - lalu yang dikatakan oleh beliau tidak bertanggung jawab,, sedangkan kami, dengan niat yang sangat tulus dan tegas sangat ingin dapat dipercaya, karena tidak ada sedikitpun niat kami untuk melakukan tindakan kekerasan pada acara Apresiasi Seni 2009 yang rencananya akan kami laksanakan,, akhirnya, jadwal untuk presentasi pun gagal tanpa adanya kesempatan sedikitpun bagi kami untuk mempresentasikan konsep baru kami,,

      kekecewaan tertinggi meledak di hati kami,, sejak awal, ego kami sudah kami singkirkan,, kami berusaha tidak ngotot untuk membuat acara Mata Seni dengan konsep yang lama lagi,, dilarang untuk adanya kekerasan, kami ikuti,, dilempar ke Dekan, kami ikuti juga,, sampai dari Dekan, kami masih harus membuat presentasi yang secara langsung dipresentasikan di depan ketiga DEKAN secara bersamaan,, rasa sakit hati kami memuncak, kekecewaan sudah tidak dapat kami bendung lagi,, akhirnya, terjadilah peristiwa 11 September 2009 dimana kami menolak secara tegas untuk diadakannya FKI,,

      perlu digaris bawahi, kami mahasiswa aktiv (Keluarga Besar IKJ) tidak mengatakan memboikot, tapi kami mengatakan :
      "kami, keluarga besar Institut Kesenian Jakarta, tidak menyetujui diadakannya Festival Kesenian Indonesia, bila tidak diadakannya acara penerimaan Mahasiswa Baru 2009",,

      itulah puncak kekecewaan kami dan seluruh mahasiswa aktiv keluarga besar IKJ,, kami tidak melakukan kegiatan anarki sedikitpun, karena kami tahu, itu adalah tindakan yang sangat memalukan dan seperti tidak berpendidikan,,

      akhirnya, para pejabat rektorat dan dekanat fakultas, beserta DEMA dan Senat Fakultas mengadakan rapat di Ruang Dewan Penyantun langsung setelah kejadian tersebut,, setelah selesai rapat tersebut, DEMA mengatakan bahwa kami diberikan kesempatan untuk presentasi pada hari Senin, 14 September 2009,, waktu akan ditentukan setelah pihak rektorat dan dekanat mengadakan rapat hari Sabtu, 12 September 2009,, namun, sampai dengan hari Minggu, 13 September 2009, saat kami bertemu dengan alumni Mas Dudunk, Bang JDR dan Bang Kinoi, masih belum ada kabar dari rektorat kapan kami diberikan kesempatan untuk presentasi,, akhirnya Mas Dudunk menerima telpon dari Mas Barkah, dan dikatakan bahwa pukul 14.00 WIB kami dapat melakukan presentasi tersebut,, kami pun sangat senang, dan langsung merapat untuk membicarakan persiapan presentasi agar dapat maksimal,,

      namun lagi2, hasilnya nihil,, hari Senin, 14 September 2009, berdasarkan penjelasan email dari Mas Dudunk sebelum email ini kami kirim, lagi2 kami tidak jadi untuk presentasi,, jadwal tersebut dibatalkan,, kekecewaan lagi2 muncul di hati kami,, kami mencoba meminta penjelasan kepada DEMA,, dan dikatakan, acara penerimaan mahasiswa baru sudah dengan pasti tidak dapat diadakan,, kemungkinan masih bisa diadakan bila kepanitiaan dipegang oleh DEMA sebagai penanggung jawab,,

      dengan berat hati dan dengan penuh pertimbangan dari kami, akhirnya Irin sebagai Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009 mewakili kepanitiaan mengatakan, bahwa kami mundur, kepanitiaan dialihkan ke DEMA, dan kami membubarkan diri sebagai kepanitiaan,, karena menurut kami, perang urat, hati, dan otot tidak akan menyelesaikan masalah ini,, maka kami memutuskan untuk mundur,, apapun yang terbaik untuk 2009, akan kami lakukan,,

      saat ini, kepanitiaan telah dibubarkan,, namun, kabar terbaru,
      2 orang mahasiswa dan mahasiswi FSR (Bona dan Ilvi) telah dikenakan sanksi skors,, SK sedang dalam proses untuk dapat diturunkan,, dan kabar terbaru, FFTV sedang dalam proses pembuatan SK tersebut dan akan segera dikirimkan ke rumah masing2 panitia,,
      hal ini terjadi, dikarenakan terjadinya kasus 11 September 2009 yang telah ditanggapi secara langsung oleh Mas Dionius tersebut,,

      tindakan kami memang radikal,, kami mohon maaf sebesar2nya,, tidak ada maksud dari kami untuk menghancurkan kampus kami sendiri,, kami mencintai kampus ini dengan sepenuh hati,, kami hanya meminta, untuk sekali saja, aspirasi kami didengarkan, dan kami diberikan kesempatan untuk mengeluarkan suara kami sebagai Mahasiswa,,

      kami sudah banyak mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh para pejabat tinggi, hingga akhirnya ego kami sudah mati,, namun mengapa sampai ini, kami masih saja dijajah dalam berbagai bentuk? (akademis),, padahal tidak ada hubungannya antara akademis dengan kegiatan mahasiswa,, dan perlu diketahui, berdasarkan surat DO yang turun dari FSR, kami bisa dihukum, bila acara tersebut telah berlangsung,,

      padahal acara tersebut belum berlangsung dan kami sudah mengalah (mengundurkan diri),, maka kami tidak dapat menerima keputusan tersebut,,


      Salam Hangat dari Kami

      - Ex. Kepanitiaan Apresiasi Seni 2009 -




       
       


    • Ki Bolo Dewo
      komentar dionisius bowo.. Mas Dudung sudah membuat analis dengan benar. Bahwa berlarutnya urusan ospek di IKJ karena salah urus selama ini. Lebih tepatnya
      Message 2 of 4 , Sep 17 12:31 AM
        komentar dionisius bowo..
        Mas Dudung sudah membuat analis dengan benar. Bahwa berlarutnya urusan ospek di IKJ karena salah urus selama ini. Lebih tepatnya tidak adanya tindakan otoritatif (bukan otoriter) oleh otoritas IKJ. Justru saat ini kita sedang memperbaiki kesalahan tersebut.
         
        Pointnya apapun alasanya, kekerasan tidak boleh terus terulang. Otoritas sebelumnya tidak pernah punya ketegasan memotong/meniadakan potensi terjadinya kekerasan. Kali ini saatnya (bandingkan ISI Yogja 2005/2006 sudah selesai).
         
        Surat terbuka itu adalah surat pribadi sama sekali tidak mencerminkan kebijakan otoritas IKJ ataupun berdampak mempengaruhinya.
        Surat tersebut secara pribadi dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi civitas, contoh protes secara "legal" sekaligus menggugurkan klaim atas nama keluarga besar IKJ secara semena-mena oleh sekelompok kecil mahasiswa (30an dibanding 1500an populasi mahasiswa IKJ)

        salam
         
        dio


        From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@...>
        To: alumnifftv@yahoogroups.com; ikjbanget@yahoogroups.com; Egifedly@...; fftvikj@...; senirupaikj@...
        Sent: Tuesday, September 15, 2009 7:28:05 PM
        Subject: [ikjbanget] Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

         



        ---------- Pesan terusan ----------
        Dari: Irin Pandjaitan <tv_melody@yahoo. com>
        Tanggal: 15 September 2009 18:50
        Subjek: Re: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
        Ke: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>





        From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>
        Sent: Monday, September 14, 2009 11:11:13 PM
        Subject: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

        Senin, pukul 19.00, 14 / 09 / 2009, seorang gadis imut-imut menyoorkan secarik kertas kepada saya.
        Dia adalah mahasiswi FFTV-IKJ, katakanlah namanya Nisa.
        Dikertas itu tertulis kata-kata yang meyeramkan.

        KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN
        Surat terbuka kepada civitas akademika Institut Kesenian Jakarta.

        Begitu kata pembuka dari surat terbuka tersebut.
        Sebagai warga IKJ tentu saja saya menanggapinya.
        Diharapkan teman-teman pun turut menanggapi.

        Substansi dari surat terbuka tersebut berbunyi sebagai berikut:
        Dengan sangat menyesal, Dionisius Bowo 93SR3185 lulus D3 1997, S1 th 1000 FSR-IKJ, dan sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan Tesis Magister Seni IKJ, anggota dewan pendiri Sendal-IKJ, anggota keluraga besar IKJ, penggiat anti kekerasan,  menyatakan :

        (1).    Meminta kepada Rektor IKJ dan para Dekan FFTV, FSP, dan FSR -IKJ agar segera ditegakkan aturan akademik maupun administratif atas pelanggaran yang sangat serius oleh mahasiswa IKJ, yang telah mencoreng, menantang otoritas sah yang legitim.

        (2)    Mengundang Rapat Keluarga Besar IKJ melalui Organisasi Alumni dari setiap Fakultas agar dilakukan investigasi terhadap kejadian tersebut yang patut diduga telah terkjadi pelanggaran code of cunduct yang merugikan nama baik keluarga besar IKJ.

        (3)    Mengusulkan kepada Dema dan Senat mahasiswa Fakultas agar segera dilakukan tindakan disiplin organisasi atas pelanggaran otoritasnya.

        (4)    Menyerukan kepada rekan mahasiswa dan para dosen agar tidak lagi menjadi raksasa tidur (silent majority), mari kita bersihkan rumah, halaman kreatif kita dari onak dan duri kekerasan dengan tindakan nyata. Rumah mungil haruslah menjadi ladang subur merdeka bagi kreatifitas bukan kekerasan.

        Pernyataan yang mengerikan itu merupakan respon atas suatu kejadian yang dijelaskan di alinea awal surat terbuka tersebut yang berbunyi  :

        Jum'at sore 11 September 2009 (kebetulan bersamaan dengan ultah Tragedi WTC di Amerika), menjelang buka puasa di Plaza Luwes IKJ terjadi suatu peristiwa yang membuktikan betapa trauma kekerasan mataseni ( baca Ospek ) yang telah diwariskan turun temurun, melahirkan kekarasan yang lain yang siap ditularkan.  Segerombolan mahasiswa nampak liar, beringas dan barangkali lapar melakukan ancaman, intimidasi ( baca kekerasan verbal) terhadap mahasiswa baru para yunior adik-adiknya sendiri, yang sedang melakukan kegiatan sah Institut secara telanjang, terbuka bahkan menantang dihadapan para seniornya., kakaknya sendiri. Lebih menyedihkan lagi kejadian tersebut dilakukan pada buka puasa kepada mereka yang sebagian besar akan berbuka puasa. Dimana kesopanan ? Di mana toleransi, penghormatan terhadap keyakinan ? Di mana kecerdasan ?

        Betapa bodohnya kita membiarkan diri menjadi kaki tangan kekerasan. Betapa bodohnya kita memperjuangkan sesuatu (yang nyaris tak bermakna) dengan memamerkan kekerasan yang justru hendak kita lawan bersama.

        Saya membayangkan betapa mulianya kalau energi yang iitu diarahkan kepada musuh yang benar. Melawan diberlakukannya UU Kerahasiaan Negara, Atau UU Reformasi, UU Pornografi yang jelas-jelas mengekang kebebasan berekspresi dan hak akses informasi.

        Begitulah bunyi Surat terbuka dari Dionisius Bowo, teman kita dari Senirupa.
        Pertanyaannya ....
        Apakah itu potret mahasiswa IKJ saat ini ???

        Saya punya sedikit cerita yang mungkin bisa jadi imbangannya.
        Beberapa waktu lalu, saya didaulat mhs IKJ untuk bincang-bincang di Warungku.
        Saya menolak karena saya sudah faham.
        Setiap tahun ajaran baru, suhu politik di kampus IKJ pasti memanas.
        Ada pergerakan saling tarik antara otoritas IKJ dengan mahasiswa tentang penyeleggaraan Ospek
        .
        Minggu sore, 13 / 09 / 2009, seorang mahasiswa IKJ menghubungi saya dan mohon kesediaan saya untuk mendengarkan keluhannya.
        Karena sudah beberapa kali saya tolak, malu juga, makanya saya setujui.
        Malam itu, disamping yang menyebutkan dirinya sebagai Panitia Apresiasi Seni 2009, Dema IKJ,  hadir juga para senior seperti JDR, Kinoi dan beberapa orang lainnya.
        Singkat kata mereka minta kita untuk menjembatani komunikasi dengan otoritas Kampus yang membidangi pembinaan mahasiswa.
        Oke, saya telpon Warek III / IKJ, minta waktu bertemu.
        Setuju !!! Senin siang tgl. 14 / 09 / 09, Warek III bersedia menerima.
        Wajah para mahasiswa tampak berbinar-binar melihat saya bicara dengan Warek III santai dan relaks.
        Warek III itu mas Barkah ... he he he ..

        Esok siang, saya bersama Enison dan Enggong mewakili Ikatan Alumni FFTV menghadap Warek III.
        Pak Warek begitu emosional, apa pun dan sebagus apa pun konsep mahasiswa, pasti itu hanya akal-akalan .... !!!!   Kata pak Warek dengan berapi-api ...
        No ... No ... No .. !!!
        Nehi ... nehi ... nehi ... !!!

        Sudah diputuskan oleh rapat pimpinan, urusan ini adalah urusan Dema dengan para Dekan ... !!! Tegas pak Warek sebagai kata putus.
        Kalau ada penolakan, tolong kasih solusinya, kata Enison halus.
        Sudah ... sudah ... sudah !!! Nehi... nehi ... nehi .., jawab pak Warek sambil mendelik.
        Pak Warek pernah main film India, kalee .. bisik Enggong ditelingaku.

        Saya, Enison dan Enggong pun keluar menemui para mahasiswa yang menunggu dengan harap-harap cemas.
        Setelah dijelaskan tentang hasil pertemuan tadi wajah para mahasiswa langsung kecewa dengan rona kesedihan nyaris air matanya menetes.
        Dibalik wajah lugu para mahasiswa, saya lihat amarah yang terpendam.
        Inilah adalah contoh akar permasalahan yang dapat meledak sebagai KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN, seperti kata Dionisius Bowo.

        Beberapa menit kemudian Enison dan Enggong pulang.
        Saya pun bergeser ke Soto Lamongan nunggu bedug sambil ngopi2 dan ngerokok.
        Setengah jam kemudian, seorang mahasiswa menghubungi minta saya hadir pada rapat mahasiswa saat itu juga.
        Udah kepalang, langsung saya iya'in.
        Betapa kaget saya ketika melihat lebih dari 40 orang mahasiswa yang hadir.
        Saya hanya memberi pandangan yang jernih supaya tidak ada aksi anarkis.
        Mereka sepakat dan menyatakan Panitia Apresiasi Seni membubarkan diri.
        Bola panas itu sekarang dipegang oleh Ketua Dema IKJ dan para Ketua Senat Fakultas.
        Akan ditendang kemana, kita tunggu saja ...

        Betahun-tahun selalu timbul kekerasan dalam pelaksanaan Ospek.
        Juga terjadi kekerasan fisik dalam sistem sosial kampus yang sudah terbukti makan korban.
        Kampus IKJ menjadi sarang Narkoba.
        Minuman keras kelas murahan menjadi menu setiap ada acara kampus.
        Buruk ... buruk ... buruk, begitulah stigma yang diterima kampus IKJ.
        Apakah ini semata-mata kesalahan mahasiswa ????

        Tidak sesederhana itu jawabannya.
        Yang jelas, IKJ sebagai Lembaga Pendidikan telah salah urus khususnya dalam pembinaan kemahasiwaan dan sistem sosial kehidupan kampus.
        Mahasiswa IKJ adalah korban salah urus Pengelola Pendidikan.
        Padahal ada 4 Pejabat Teras yang ngurusin Pembinaan Kemahasiswaan.
        Warek III dan tiga Wadek III Fakultas.
        Pertanyaannya ......
        Bagaimana mungkin
        KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN bisa terjadi .....

        Dudung A. Yuliarso
        Mahasiswa Crashprogram S1 FFTV-IKJ
        Art & Culture Coopertaion Committe Indonesia-Korea Friendship Association.
        Anggota DPO Ikatan Alumni FFTV-IKJ
        Mantan Perwira TNI Angkatan Laut
        Direktur Utama Creative Industrial Networking PT. Prima Bina Media.
        Direktur Primamitra Music and Film Industries.
        General Manager The Submarine Center of Music and Performing Arts. 
        Managing Partner NTOTC WANADRI PRIMA
        Narsiiiis kaleeee .. !!!  he he he





        reply by : ex. panitia apresiasi seni 2009

        mungkin kami harus bercerita dari awal sebab permasalahan2 ini bisa muncul (baca : terjadi),,

        sejak bulan februari 2009, kami sudah mengetahui bahwa mata seni (OSPEK) telah dilarang,, kami pun bingung harus berbuat apa, karena penentangan diadakannya mata seni belum pernah terjadi secara terang2an seperti ini (ditulis secara jelas di spanduk dan brosur FFTV : TIDAK ADA OSPEK),,

        akhirnya, melalui proses yang panjang kami mencoba untuk mengkonsepkan suatu acara yang baru, karena kami tahu bahwa yang paling dipermasalahkan dalam konsep Mata Seni adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh SiePam pada konsep tersebut,, akhirnya kami mencoba untuk mengganti SiePam dengan "Pecalang" yang berfungsi secara jelas hanya mengamankan acara, tanpa adanya kekerasan fisik sedikitpun,,

        kami kepanitiaan apresiasi seni 2009 sejak awal sudah menentang adanya kekerasan fisik dalam acara mata seni sebelum adanya SK penghapusan mata seni tertanggal 28 Juli 2009, karena menurut kami kekerasan fisik tidak memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan mental dan kedisiplinan yang kuat terhadap mahasiswa baru,,

        setelah konsep pecalang ditolak, kami langsung menghapus divisi pengamanan secara tegas! kami mencoba membuat sebuah konsep yang baru, tanpa adanya kekerasan sedikitpun, ataupun membuat sebuah divisi baru yang akhirnya dapat menimbulkan kekerasan lagi,,

        perlu diketahui, tertanggal hasil keputusan raker 21 Agustus 2009, DEMA mengumumkan hasil rapat seluruh organisasi mahasiswa yang berbunyi : "DEMA memutuskan, menyetujui adanya penghapusan Mata Seni (OSPEK), dan AKAN DIBUAT SEBUAH KONSEP BARU yang akan dirundingkan lagi. "

        berdasarkan surat keputusan raker, SK penghapusan mata seni, dan dilarangnya kekerasan fisik dalam Ospek, maka kami kepanitiaan mencoba membuat sebuah konsep baru,, melalui proses kurang lebih selama 2 minggu, akhirnya kami selesai membuat konsep baru tersebut dimana kekerasan fisik sama sekali dihilangkan, , konsep yang kami buat pun berdasarkan hasil bimbingan dari DEMA,, konsep pertama kami membuat konsep yang berhubungan dengan FKI,, dengan adanya kegiatan FKI, kami berusaha untuk membuat konsep yang dapat di combine dan menguntungkan kedua belah pihak,, dimana kami akan membantu workshop FKI, namun kami meminta untuk diberikan waktu untuk melaksanakan inagurasi pada acara FKI tersebut serta acara 3 hari dengan konsep yang baru,, namun, konsep tersebut tetap ditolak tanpa membaca konsep kami terlebih dahulu, karena menurut Mas Barkah, konsep workhsop kami yang bertema kebudayaan tradisional berbeda dengan konsep tema FKI yaitu Urban,,

        kami mencoba membuat konsep yang baru lagi,, setelah konsep selesai, kami meminta kesempatan kepada Warek III IKJ untuk dapat mempresentasikan konsep baru tersebut,, namun Mas Barkah menolak,, beliau meminta kami untuk bertemu dengan Dekan setiap fakultas untuk diberikan kesempatan mempresentasikan konsep tersebut, tanpa membaca proposal konsep yang telah kami buat,, beliau langsung menolak begitu saja,,

        akhirnya, Irin (Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009) langsung menemui Dekan dari setiap fakultas didampingi oleh Senat Mahasiswa dari setiap fakultas,, hasilnya :

        1. Mas Pur (DEKAN FSP) menyetujui untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk mempresentasikan terlebih dahulu, namun harus bersamaan dengan DEKAN kedua fakultas yang lain dan Warek III IKJ. Mas Pur mendengarkan pengantar dari Irin dengan sangat baik dan seksama,,

        2. Mba Citra (DEKAN FSR) didampingi Mas Dionisius (Wadek III FSR) menolak untuk memberikan kesempatan kepada kami karena menurut mereka SK penghapusan dan pelanggaran Mata Seni (OSPEK) sudah sangat jelas,, dan mas Dio mengatakan kekecewaannya, karena kami dari rektorat masih dilempar lagi ke Dekan seperti bola pingpong,, menurut beliau, bila rektorat sudah mengatakan tidak, maka kami tidak perlu dilempar lagi ke DEKAN setiap fakultas,,

        3. Mas Gotot (DEKAN FFTV) pada awalnya menolak secara tegas,, beliau juga menjelaskan menurunnya kuantitas mahasiswa baru yang masuk ke FFTV akibat adanya Mata Seni,, namun akhirnya, beliau bertanya kapan kami akan presentasi, namun beliau tidak menjamin dapat hadir pada hari tersebut,,

        akhirnya, kami memutuskan untuk presentasi pada tanggal 11 September 2009,, kami tahu, ada kesalahan dari kami dalam prosedur, dimana kami mengadakan rencana presentasi pada tanggal 11 September 2009 namun surat undangan pun baru turun pada tanggal 11 September 2009 tersebut,, akhirnya, yang hadir hanya Mas Kusen Dony (Wadek III FFTV) dan Mas Barkah (Warek III IKJ),,

        saat Mas Barkah datang, beliau langsung secara tegas memprotes karena diundang ke presentasi tersebut, karena beliau sudah mengatakan ini bukan lagi urusan rektorat karena sudah ada SK yang turun, jika mau kami langsung berhubungan dengan DEKAN setiap fakultas,, tapi kami mengundang, dengan maksud menghormatinya sebagai Warek III bidang Kemahasiswaan yang pastinya berdasarkan jabatannya, berhubungan langsung dengan kami sebagai mahasiswa,,

        namun, hasil dari sore itu, nihil,, kami justru berdebat dengan Mas Barkah,, dan yang membuat kami kecewa, karena kami terus menerus disamakan dengan kepanitiaan yang lalu - lalu yang dikatakan oleh beliau tidak bertanggung jawab,, sedangkan kami, dengan niat yang sangat tulus dan tegas sangat ingin dapat dipercaya, karena tidak ada sedikitpun niat kami untuk melakukan tindakan kekerasan pada acara Apresiasi Seni 2009 yang rencananya akan kami laksanakan,, akhirnya, jadwal untuk presentasi pun gagal tanpa adanya kesempatan sedikitpun bagi kami untuk mempresentasikan konsep baru kami,,

        kekecewaan tertinggi meledak di hati kami,, sejak awal, ego kami sudah kami singkirkan,, kami berusaha tidak ngotot untuk membuat acara Mata Seni dengan konsep yang lama lagi,, dilarang untuk adanya kekerasan, kami ikuti,, dilempar ke Dekan, kami ikuti juga,, sampai dari Dekan, kami masih harus membuat presentasi yang secara langsung dipresentasikan di depan ketiga DEKAN secara bersamaan,, rasa sakit hati kami memuncak, kekecewaan sudah tidak dapat kami bendung lagi,, akhirnya, terjadilah peristiwa 11 September 2009 dimana kami menolak secara tegas untuk diadakannya FKI,,

        perlu digaris bawahi, kami mahasiswa aktiv (Keluarga Besar IKJ) tidak mengatakan memboikot, tapi kami mengatakan :
        "kami, keluarga besar Institut Kesenian Jakarta, tidak menyetujui diadakannya Festival Kesenian Indonesia, bila tidak diadakannya acara penerimaan Mahasiswa Baru 2009",,

        itulah puncak kekecewaan kami dan seluruh mahasiswa aktiv keluarga besar IKJ,, kami tidak melakukan kegiatan anarki sedikitpun, karena kami tahu, itu adalah tindakan yang sangat memalukan dan seperti tidak berpendidikan, ,

        akhirnya, para pejabat rektorat dan dekanat fakultas, beserta DEMA dan Senat Fakultas mengadakan rapat di Ruang Dewan Penyantun langsung setelah kejadian tersebut,, setelah selesai rapat tersebut, DEMA mengatakan bahwa kami diberikan kesempatan untuk presentasi pada hari Senin, 14 September 2009,, waktu akan ditentukan setelah pihak rektorat dan dekanat mengadakan rapat hari Sabtu, 12 September 2009,, namun, sampai dengan hari Minggu, 13 September 2009, saat kami bertemu dengan alumni Mas Dudunk, Bang JDR dan Bang Kinoi, masih belum ada kabar dari rektorat kapan kami diberikan kesempatan untuk presentasi,, akhirnya Mas Dudunk menerima telpon dari Mas Barkah, dan dikatakan bahwa pukul 14.00 WIB kami dapat melakukan presentasi tersebut,, kami pun sangat senang, dan langsung merapat untuk membicarakan persiapan presentasi agar dapat maksimal,,

        namun lagi2, hasilnya nihil,, hari Senin, 14 September 2009, berdasarkan penjelasan email dari Mas Dudunk sebelum email ini kami kirim, lagi2 kami tidak jadi untuk presentasi,, jadwal tersebut dibatalkan,, kekecewaan lagi2 muncul di hati kami,, kami mencoba meminta penjelasan kepada DEMA,, dan dikatakan, acara penerimaan mahasiswa baru sudah dengan pasti tidak dapat diadakan,, kemungkinan masih bisa diadakan bila kepanitiaan dipegang oleh DEMA sebagai penanggung jawab,,

        dengan berat hati dan dengan penuh pertimbangan dari kami, akhirnya Irin sebagai Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009 mewakili kepanitiaan mengatakan, bahwa kami mundur, kepanitiaan dialihkan ke DEMA, dan kami membubarkan diri sebagai kepanitiaan, , karena menurut kami, perang urat, hati, dan otot tidak akan menyelesaikan masalah ini,, maka kami memutuskan untuk mundur,, apapun yang terbaik untuk 2009, akan kami lakukan,,

        saat ini, kepanitiaan telah dibubarkan,, namun, kabar terbaru,
        2 orang mahasiswa dan mahasiswi FSR (Bona dan Ilvi) telah dikenakan sanksi skors,, SK sedang dalam proses untuk dapat diturunkan,, dan kabar terbaru, FFTV sedang dalam proses pembuatan SK tersebut dan akan segera dikirimkan ke rumah masing2 panitia,,
        hal ini terjadi, dikarenakan terjadinya kasus 11 September 2009 yang telah ditanggapi secara langsung oleh Mas Dionius tersebut,,

        tindakan kami memang radikal,, kami mohon maaf sebesar2nya, , tidak ada maksud dari kami untuk menghancurkan kampus kami sendiri,, kami mencintai kampus ini dengan sepenuh hati,, kami hanya meminta, untuk sekali saja, aspirasi kami didengarkan, dan kami diberikan kesempatan untuk mengeluarkan suara kami sebagai Mahasiswa,,

        kami sudah banyak mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh para pejabat tinggi, hingga akhirnya ego kami sudah mati,, namun mengapa sampai ini, kami masih saja dijajah dalam berbagai bentuk? (akademis),, padahal tidak ada hubungannya antara akademis dengan kegiatan mahasiswa,, dan perlu diketahui, berdasarkan surat DO yang turun dari FSR, kami bisa dihukum, bila acara tersebut telah berlangsung, ,

        padahal acara tersebut belum berlangsung dan kami sudah mengalah (mengundurkan diri),, maka kami tidak dapat menerima keputusan tersebut,,


        Salam Hangat dari Kami

        - Ex. Kepanitiaan Apresiasi Seni 2009 -




         
         



      • Abdullah Yuliarso
        Pada 17 September 2009 16:09, Abdullah Yuliarso menulis: *MINDSET YANG BERBEDA ....... *Diawali dari tarik menarik dan saling ancam antara
        Message 3 of 4 , Sep 17 10:40 AM
          Pada 17 September 2009 16:09, Abdullah Yuliarso <doedyuli@...> menulis:
           
          MINDSET YANG BERBEDA .......
          Diawali dari tarik menarik dan saling ancam antara Otoritas IKJ dengan Mahasiswa.
          Setiap tahun masalah Ospek selalu muncul ke permukaan dengan segala macam intriknya.
          Penanganan atau kebijakan yg dilakukan tidak pernah menyentuh substansinya.
          Selama 39 tahun IKJ berdiri, tarik menarik Ospek biasanya dimenangkan oleh mahasiswa.
          Tetapi,  pada tahun ke 39 sepertinya akan dimenangkan oleh Otoritas IKJ.
          Score menjadi 38 : 1 
           
          Ospek sebagai ritual penerimaan mahasiswa baru seolah kegiatan wajib sekaligus terlarang.
          Kegiatan itu dianggap penting oleh mahasiswa, tapi dianggap remeh temeh oleh Otoritas IKJ.
          Bagi Otoritas IKJ, Ospek adalah nightmare dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
          Ospek adalah peluang terjadinya tindak kekerasan yang tak terkendali, begitu stigmanya.
          Mindset yang berbeda itu selalu mencapai titik didih perbedaan pada setiap awal tahun pelajaran baru.

          JOHN RICKY MALAU
          Nenek-nenek juga tauk ... !!!

          JOHN DE RANTAU
          Jo' iii .... !!!

          Sekilas perspektif sejarah dunia kemahasiswaan.
          Sejak Indonesia merdeka, Ospek memang sudah eksis, begitu yang saya dengar dari para orang tua.
          Ospek yang bentuk fisiknya adalah perpeloncoan, dari waktu ke waktu mendapat stigma sebagai warisan kolonial Belanda.
          Sampai dengan tahun 1976, Ospek adalah kegiatan yang didominasi upaya perekrutan organisasi mahasiswa seperti GMNI, HMI,  PMKRI, IMADA dsbnya.
          Kelanjutan Ospek adalah LTC (Leadership Training Course) sebagai salah satu persyaratan menjadi jajaran pengurus Student Goverment.

          Filosofi pendidikan saat itu:
          Kurikulum pendidikan formal adalah sarana pembentukan mahasiswa menjadi mahluk intelektual ( sekarang dikenal sebagai Hard Competency)
          Program Kemahasiswaan adalah sarana pembentukan manusia menjadi mahluk sosial yang berbudaya ( sekarang dikenal sebagai Soft Competency ).
          Berdasarkan filosofi tersebut, Student Goverment memiliki kesetaraan dengan otoritas sekolah.
          Aspirasi mahasiswa terepresentasi dalam Senat Institut yang diwakili oleh Ketua Dema secara ex Officio.
          Di tingkat fakultas, Ketua Senat Mahasiswa duduk secara ex Officio di Senat Fakultas.
          Sertifikat Ospek memjadi salah satu persyaratan kelulusan ujian akhir.
          Semua ketentuan itu diatur secara sah dalam Anggaran Dasar Institut yang sekarang disebut Statuta. 

          Tahun 1977, sejalan dengan kebijakan Daoed Yoesoef  Menteri Pendidkan dan Kebudayaan saat itu,  semua program kemahasiswaan diatur melalui Program Normalisasi Kehidupan Kampus ( NKK) & Badan Kegiatan Kemahasiswaan (BKK).
          Semua hak dan previlise Student Goverment dipangkas habis.
          Semua organisasi mahasiswa underbouw partai harus hengkang dari kampus.
          Sejak itu Ospek dilarang,  tapi terus berjalan sebagai kegiatan illegal yang semakin lama semakin kejam.

          Semua kegiatan kemahasiswaan harus dibawah kontrol Rektor sebagai implementasi Program NKK/BKK.
          Sambil mengacung-acungkan SK Rektor, pak Warek bisa bilang nehi ... nehi ... nehi ... oh yes ... oh no .. !!!
          Pengurus Dema dan Senat Fakultas kemudian dicurigai oleh mahasiswa sebagai antek-antek pak Warek.
          Semua itu terjadi sebagai akibat proses pemandulan fungsi yang sesungguhnya merupakan salah satu fungsi pendidikan.
          Dunia pendidikan Indonesia pun kehilangan sarana untuk menstimulasi berkembangnya soft competency.
          Akibatnya pada tahun 2005, posisi Indonesia dalam Human Development Index - UNDP menjadi rendah pada posisi No. 110 dari 177 negara.
          Berdasarkan The World Competitivess Scoreboard 2009,  daya saing bangsa Indonesia pada posisi No. 51.
          Bandingkan dengan :
          Malaysia   :  Human Development Index - UNDP  No. 61
                               Daya saing bangsa pada posisi No. 19.
          Singapore : Human Development Index - UNDP No. 25
                             Daya saing bangsa pada posisi No. 2 ( Amerika No. 1 )
                            
          Tindakan Daoed Yoesoef ketika itu merupakan respon Pemerintah atas terjadinya demo mahasiswa yang dikenal sebagai Peristiwa MALARI yang membakar kota Jakarta pada tahun 1974.
          Melalui NKK/BKK, mahasiswa kehilangan independensinya.
          Tugas mahasiswa hanya belajar, ujian dan selesai.
          Semua kegiatan mahasiswa diurus dan diawasi Rektor melalui struktur  Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan di tingkat Universitas/Institut dan Wakil Dekan III ditingkat Fakultas.
          Dewan Mahasiswa dan Senat Fakultas kewenangannya dikebiri dan hanya menjadi underboow Warek/Wadek III.
          Posisi mahasiswa dari subyek bergeser sebagai obyek pendidikan.
           
          Tahun 1998 sejalan dengan reformasi politik, dunia pendidikan turut berubah menyesuaikan diri.
          Tapi struktur yang dibangun melalui NKK/BKK tidak direformasi.
          Pejabat Warek III dan Wadek III tetap pada posisi struktur birokrasi.
          Mereka tumbuh sebagi birokrat-birokrat kampus yang tidak faham dinamika mahasiswa.
          Mereka menempatkan mahasiswa sebagai obyek yang kalau perlu ditindas.
          Hal ini bukan karena para pejabat tersebut bodoh atau tidak pandai.
          Tetapi, mereka duduk pada jabatan dengan MINDSET kekuasaan.
          Dengan mindset seperti itu, mereka pun terbentuk sebagai penguasa.
          Pak Warek akan memanggil para mahasiswa pembangkang.
          Sambil mengacung-acungkan peraturan yang dibikinnya bikin sendiri, pak Warek akan berkata dengan keras.
          E .. 'e .. 'e .. kowe para mahasiswa pembangkang. Kalian diskors 85 thn.
          Hoek ... hoek ... hoek ,,,
          pak Warek terbatuk-batuk,
          Mahasiswa tidak mau kalah dan berteriak.
          Kita tidak takut ... !!!
          Kita akan memboikot program yang tidak kami setujui... !!!
          Kami tidak sebodoh seperti yang kalian pikir !!!


          Dudung.


          ---------- Pesan terusan ----------
          Dari: Ki Bolo Dewo <pacitaner@...>
          Tanggal: 17 September 2009 14:31
          Subjek: Re: [ikjbanget] Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
          Ke: ikjbanget@yahoogroups.com



           

          komentar dionisius bowo..
          Mas Dudung sudah membuat analis dengan benar. Bahwa berlarutnya urusan ospek di IKJ karena salah urus selama ini. Lebih tepatnya tidak adanya tindakan otoritatif (bukan otoriter) oleh otoritas IKJ. Justru saat ini kita sedang memperbaiki kesalahan tersebut.
           
          Pointnya apapun alasanya, kekerasan tidak boleh terus terulang. Otoritas sebelumnya tidak pernah punya ketegasan memotong/meniadakan potensi terjadinya kekerasan. Kali ini saatnya (bandingkan ISI Yogja 2005/2006 sudah selesai).
           
          Surat terbuka itu adalah surat pribadi sama sekali tidak mencerminkan kebijakan otoritas IKJ ataupun berdampak mempengaruhinya.
          Surat tersebut secara pribadi dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi civitas, contoh protes secara "legal" sekaligus menggugurkan klaim atas nama keluarga besar IKJ secara semena-mena oleh sekelompok kecil mahasiswa (30an dibanding 1500an populasi mahasiswa IKJ)

          salam
           
          dio


          From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@...>
          Sent: Tuesday, September 15, 2009 7:28:05 PM
          Subject: [ikjbanget] Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

           



          ---------- Pesan terusan ----------
          Dari: Irin Pandjaitan <tv_melody@yahoo. com>
          Tanggal: 15 September 2009 18:50
          Subjek: Re: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
          Ke: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>





          From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>
          Sent: Monday, September 14, 2009 11:11:13 PM
          Subject: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

          Senin, pukul 19.00, 14 / 09 / 2009, seorang gadis imut-imut menyoorkan secarik kertas kepada saya.
          Dia adalah mahasiswi FFTV-IKJ, katakanlah namanya Nisa.
          Dikertas itu tertulis kata-kata yang meyeramkan.

          KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN
          Surat terbuka kepada civitas akademika Institut Kesenian Jakarta.

          Begitu kata pembuka dari surat terbuka tersebut.
          Sebagai warga IKJ tentu saja saya menanggapinya.
          Diharapkan teman-teman pun turut menanggapi.

          Substansi dari surat terbuka tersebut berbunyi sebagai berikut:
          Dengan sangat menyesal, Dionisius Bowo 93SR3185 lulus D3 1997, S1 th 1000 FSR-IKJ, dan sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan Tesis Magister Seni IKJ, anggota dewan pendiri Sendal-IKJ, anggota keluraga besar IKJ, penggiat anti kekerasan,  menyatakan :

          (1).    Meminta kepada Rektor IKJ dan para Dekan FFTV, FSP, dan FSR -IKJ agar segera ditegakkan aturan akademik maupun administratif atas pelanggaran yang sangat serius oleh mahasiswa IKJ, yang telah mencoreng, menantang otoritas sah yang legitim.

          (2)    Mengundang Rapat Keluarga Besar IKJ melalui Organisasi Alumni dari setiap Fakultas agar dilakukan investigasi terhadap kejadian tersebut yang patut diduga telah terkjadi pelanggaran code of cunduct yang merugikan nama baik keluarga besar IKJ.

          (3)    Mengusulkan kepada Dema dan Senat mahasiswa Fakultas agar segera dilakukan tindakan disiplin organisasi atas pelanggaran otoritasnya.

          (4)    Menyerukan kepada rekan mahasiswa dan para dosen agar tidak lagi menjadi raksasa tidur (silent majority), mari kita bersihkan rumah, halaman kreatif kita dari onak dan duri kekerasan dengan tindakan nyata. Rumah mungil haruslah menjadi ladang subur merdeka bagi kreatifitas bukan kekerasan.

          Pernyataan yang mengerikan itu merupakan respon atas suatu kejadian yang dijelaskan di alinea awal surat terbuka tersebut yang berbunyi  :

          Jum'at sore 11 September 2009 (kebetulan bersamaan dengan ultah Tragedi WTC di Amerika), menjelang buka puasa di Plaza Luwes IKJ terjadi suatu peristiwa yang membuktikan betapa trauma kekerasan mataseni ( baca Ospek ) yang telah diwariskan turun temurun, melahirkan kekarasan yang lain yang siap ditularkan.  Segerombolan mahasiswa nampak liar, beringas dan barangkali lapar melakukan ancaman, intimidasi ( baca kekerasan verbal) terhadap mahasiswa baru para yunior adik-adiknya sendiri, yang sedang melakukan kegiatan sah Institut secara telanjang, terbuka bahkan menantang dihadapan para seniornya., kakaknya sendiri. Lebih menyedihkan lagi kejadian tersebut dilakukan pada buka puasa kepada mereka yang sebagian besar akan berbuka puasa. Dimana kesopanan ? Di mana toleransi, penghormatan terhadap keyakinan ? Di mana kecerdasan ?

          Betapa bodohnya kita membiarkan diri menjadi kaki tangan kekerasan. Betapa bodohnya kita memperjuangkan sesuatu (yang nyaris tak bermakna) dengan memamerkan kekerasan yang justru hendak kita lawan bersama.

          Saya membayangkan betapa mulianya kalau energi yang iitu diarahkan kepada musuh yang benar. Melawan diberlakukannya UU Kerahasiaan Negara, Atau UU Reformasi, UU Pornografi yang jelas-jelas mengekang kebebasan berekspresi dan hak akses informasi.

          Begitulah bunyi Surat terbuka dari Dionisius Bowo, teman kita dari Senirupa.
          Pertanyaannya ....
          Apakah itu potret mahasiswa IKJ saat ini ???

          Saya punya sedikit cerita yang mungkin bisa jadi imbangannya.
          Beberapa waktu lalu, saya didaulat mhs IKJ untuk bincang-bincang di Warungku.
          Saya menolak karena saya sudah faham.
          Setiap tahun ajaran baru, suhu politik di kampus IKJ pasti memanas.
          Ada pergerakan saling tarik antara otoritas IKJ dengan mahasiswa tentang penyeleggaraan Ospek
          .
          Minggu sore, 13 / 09 / 2009, seorang mahasiswa IKJ menghubungi saya dan mohon kesediaan saya untuk mendengarkan keluhannya.
          Karena sudah beberapa kali saya tolak, malu juga, makanya saya setujui.
          Malam itu, disamping yang menyebutkan dirinya sebagai Panitia Apresiasi Seni 2009, Dema IKJ,  hadir juga para senior seperti JDR, Kinoi dan beberapa orang lainnya.
          Singkat kata mereka minta kita untuk menjembatani komunikasi dengan otoritas Kampus yang membidangi pembinaan mahasiswa.
          Oke, saya telpon Warek III / IKJ, minta waktu bertemu.
          Setuju !!! Senin siang tgl. 14 / 09 / 09, Warek III bersedia menerima.
          Wajah para mahasiswa tampak berbinar-binar melihat saya bicara dengan Warek III santai dan relaks.
          Warek III itu mas Barkah ... he he he ..

          Esok siang, saya bersama Enison dan Enggong mewakili Ikatan Alumni FFTV menghadap Warek III.
          Pak Warek begitu emosional, apa pun dan sebagus apa pun konsep mahasiswa, pasti itu hanya akal-akalan .... !!!!   Kata pak Warek dengan berapi-api ...
          No ... No ... No .. !!!
          Nehi ... nehi ... nehi ... !!!

          Sudah diputuskan oleh rapat pimpinan, urusan ini adalah urusan Dema dengan para Dekan ... !!! Tegas pak Warek sebagai kata putus.
          Kalau ada penolakan, tolong kasih solusinya, kata Enison halus.
          Sudah ... sudah ... sudah !!! Nehi... nehi ... nehi .., jawab pak Warek sambil mendelik.
          Pak Warek pernah main film India, kalee .. bisik Enggong ditelingaku.

          Saya, Enison dan Enggong pun keluar menemui para mahasiswa yang menunggu dengan harap-harap cemas.
          Setelah dijelaskan tentang hasil pertemuan tadi wajah para mahasiswa langsung kecewa dengan rona kesedihan nyaris air matanya menetes.
          Dibalik wajah lugu para mahasiswa, saya lihat amarah yang terpendam.
          Inilah adalah contoh akar permasalahan yang dapat meledak sebagai KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN, seperti kata Dionisius Bowo.

          Beberapa menit kemudian Enison dan Enggong pulang.
          Saya pun bergeser ke Soto Lamongan nunggu bedug sambil ngopi2 dan ngerokok.
          Setengah jam kemudian, seorang mahasiswa menghubungi minta saya hadir pada rapat mahasiswa saat itu juga.
          Udah kepalang, langsung saya iya'in.
          Betapa kaget saya ketika melihat lebih dari 40 orang mahasiswa yang hadir.
          Saya hanya memberi pandangan yang jernih supaya tidak ada aksi anarkis.
          Mereka sepakat dan menyatakan Panitia Apresiasi Seni membubarkan diri.
          Bola panas itu sekarang dipegang oleh Ketua Dema IKJ dan para Ketua Senat Fakultas.
          Akan ditendang kemana, kita tunggu saja ...

          Betahun-tahun selalu timbul kekerasan dalam pelaksanaan Ospek.
          Juga terjadi kekerasan fisik dalam sistem sosial kampus yang sudah terbukti makan korban.
          Kampus IKJ menjadi sarang Narkoba.
          Minuman keras kelas murahan menjadi menu setiap ada acara kampus.
          Buruk ... buruk ... buruk, begitulah stigma yang diterima kampus IKJ.
          Apakah ini semata-mata kesalahan mahasiswa ????

          Tidak sesederhana itu jawabannya.
          Yang jelas, IKJ sebagai Lembaga Pendidikan telah salah urus khususnya dalam pembinaan kemahasiwaan dan sistem sosial kehidupan kampus.
          Mahasiswa IKJ adalah korban salah urus Pengelola Pendidikan.
          Padahal ada 4 Pejabat Teras yang ngurusin Pembinaan Kemahasiswaan.
          Warek III dan tiga Wadek III Fakultas.
          Pertanyaannya ......
          Bagaimana mungkin
          KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN bisa terjadi .....

          Dudung A. Yuliarso
          Mahasiswa Crashprogram S1 FFTV-IKJ
          Art & Culture Coopertaion Committe Indonesia-Korea Friendship Association.
          Anggota DPO Ikatan Alumni FFTV-IKJ
          Mantan Perwira TNI Angkatan Laut
          Direktur Utama Creative Industrial Networking PT. Prima Bina Media.
          Direktur Primamitra Music and Film Industries.
          General Manager The Submarine Center of Music and Performing Arts. 
          Managing Partner NTOTC WANADRI PRIMA
          Narsiiiis kaleeee .. !!!  he he he





          reply by : ex. panitia apresiasi seni 2009

          mungkin kami harus bercerita dari awal sebab permasalahan2 ini bisa muncul (baca : terjadi),,

          sejak bulan februari 2009, kami sudah mengetahui bahwa mata seni (OSPEK) telah dilarang,, kami pun bingung harus berbuat apa, karena penentangan diadakannya mata seni belum pernah terjadi secara terang2an seperti ini (ditulis secara jelas di spanduk dan brosur FFTV : TIDAK ADA OSPEK),,

          akhirnya, melalui proses yang panjang kami mencoba untuk mengkonsepkan suatu acara yang baru, karena kami tahu bahwa yang paling dipermasalahkan dalam konsep Mata Seni adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh SiePam pada konsep tersebut,, akhirnya kami mencoba untuk mengganti SiePam dengan "Pecalang" yang berfungsi secara jelas hanya mengamankan acara, tanpa adanya kekerasan fisik sedikitpun,,

          kami kepanitiaan apresiasi seni 2009 sejak awal sudah menentang adanya kekerasan fisik dalam acara mata seni sebelum adanya SK penghapusan mata seni tertanggal 28 Juli 2009, karena menurut kami kekerasan fisik tidak memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan mental dan kedisiplinan yang kuat terhadap mahasiswa baru,,

          setelah konsep pecalang ditolak, kami langsung menghapus divisi pengamanan secara tegas! kami mencoba membuat sebuah konsep yang baru, tanpa adanya kekerasan sedikitpun, ataupun membuat sebuah divisi baru yang akhirnya dapat menimbulkan kekerasan lagi,,

          perlu diketahui, tertanggal hasil keputusan raker 21 Agustus 2009, DEMA mengumumkan hasil rapat seluruh organisasi mahasiswa yang berbunyi : "DEMA memutuskan, menyetujui adanya penghapusan Mata Seni (OSPEK), dan AKAN DIBUAT SEBUAH KONSEP BARU yang akan dirundingkan lagi. "

          berdasarkan surat keputusan raker, SK penghapusan mata seni, dan dilarangnya kekerasan fisik dalam Ospek, maka kami kepanitiaan mencoba membuat sebuah konsep baru,, melalui proses kurang lebih selama 2 minggu, akhirnya kami selesai membuat konsep baru tersebut dimana kekerasan fisik sama sekali dihilangkan, , konsep yang kami buat pun berdasarkan hasil bimbingan dari DEMA,, konsep pertama kami membuat konsep yang berhubungan dengan FKI,, dengan adanya kegiatan FKI, kami berusaha untuk membuat konsep yang dapat di combine dan menguntungkan kedua belah pihak,, dimana kami akan membantu workshop FKI, namun kami meminta untuk diberikan waktu untuk melaksanakan inagurasi pada acara FKI tersebut serta acara 3 hari dengan konsep yang baru,, namun, konsep tersebut tetap ditolak tanpa membaca konsep kami terlebih dahulu, karena menurut Mas Barkah, konsep workhsop kami yang bertema kebudayaan tradisional berbeda dengan konsep tema FKI yaitu Urban,,

          kami mencoba membuat konsep yang baru lagi,, setelah konsep selesai, kami meminta kesempatan kepada Warek III IKJ untuk dapat mempresentasikan konsep baru tersebut,, namun Mas Barkah menolak,, beliau meminta kami untuk bertemu dengan Dekan setiap fakultas untuk diberikan kesempatan mempresentasikan konsep tersebut, tanpa membaca proposal konsep yang telah kami buat,, beliau langsung menolak begitu saja,,

          akhirnya, Irin (Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009) langsung menemui Dekan dari setiap fakultas didampingi oleh Senat Mahasiswa dari setiap fakultas,, hasilnya :

          1. Mas Pur (DEKAN FSP) menyetujui untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk mempresentasikan terlebih dahulu, namun harus bersamaan dengan DEKAN kedua fakultas yang lain dan Warek III IKJ. Mas Pur mendengarkan pengantar dari Irin dengan sangat baik dan seksama,,

          2. Mba Citra (DEKAN FSR) didampingi Mas Dionisius (Wadek III FSR) menolak untuk memberikan kesempatan kepada kami karena menurut mereka SK penghapusan dan pelanggaran Mata Seni (OSPEK) sudah sangat jelas,, dan mas Dio mengatakan kekecewaannya, karena kami dari rektorat masih dilempar lagi ke Dekan seperti bola pingpong,, menurut beliau, bila rektorat sudah mengatakan tidak, maka kami tidak perlu dilempar lagi ke DEKAN setiap fakultas,,

          3. Mas Gotot (DEKAN FFTV) pada awalnya menolak secara tegas,, beliau juga menjelaskan menurunnya kuantitas mahasiswa baru yang masuk ke FFTV akibat adanya Mata Seni,, namun akhirnya, beliau bertanya kapan kami akan presentasi, namun beliau tidak menjamin dapat hadir pada hari tersebut,,

          akhirnya, kami memutuskan untuk presentasi pada tanggal 11 September 2009,, kami tahu, ada kesalahan dari kami dalam prosedur, dimana kami mengadakan rencana presentasi pada tanggal 11 September 2009 namun surat undangan pun baru turun pada tanggal 11 September 2009 tersebut,, akhirnya, yang hadir hanya Mas Kusen Dony (Wadek III FFTV) dan Mas Barkah (Warek III IKJ),,

          saat Mas Barkah datang, beliau langsung secara tegas memprotes karena diundang ke presentasi tersebut, karena beliau sudah mengatakan ini bukan lagi urusan rektorat karena sudah ada SK yang turun, jika mau kami langsung berhubungan dengan DEKAN setiap fakultas,, tapi kami mengundang, dengan maksud menghormatinya sebagai Warek III bidang Kemahasiswaan yang pastinya berdasarkan jabatannya, berhubungan langsung dengan kami sebagai mahasiswa,,

          namun, hasil dari sore itu, nihil,, kami justru berdebat dengan Mas Barkah,, dan yang membuat kami kecewa, karena kami terus menerus disamakan dengan kepanitiaan yang lalu - lalu yang dikatakan oleh beliau tidak bertanggung jawab,, sedangkan kami, dengan niat yang sangat tulus dan tegas sangat ingin dapat dipercaya, karena tidak ada sedikitpun niat kami untuk melakukan tindakan kekerasan pada acara Apresiasi Seni 2009 yang rencananya akan kami laksanakan,, akhirnya, jadwal untuk presentasi pun gagal tanpa adanya kesempatan sedikitpun bagi kami untuk mempresentasikan konsep baru kami,,

          kekecewaan tertinggi meledak di hati kami,, sejak awal, ego kami sudah kami singkirkan,, kami berusaha tidak ngotot untuk membuat acara Mata Seni dengan konsep yang lama lagi,, dilarang untuk adanya kekerasan, kami ikuti,, dilempar ke Dekan, kami ikuti juga,, sampai dari Dekan, kami masih harus membuat presentasi yang secara langsung dipresentasikan di depan ketiga DEKAN secara bersamaan,, rasa sakit hati kami memuncak, kekecewaan sudah tidak dapat kami bendung lagi,, akhirnya, terjadilah peristiwa 11 September 2009 dimana kami menolak secara tegas untuk diadakannya FKI,,

          perlu digaris bawahi, kami mahasiswa aktiv (Keluarga Besar IKJ) tidak mengatakan memboikot, tapi kami mengatakan :
          "kami, keluarga besar Institut Kesenian Jakarta, tidak menyetujui diadakannya Festival Kesenian Indonesia, bila tidak diadakannya acara penerimaan Mahasiswa Baru 2009",,

          itulah puncak kekecewaan kami dan seluruh mahasiswa aktiv keluarga besar IKJ,, kami tidak melakukan kegiatan anarki sedikitpun, karena kami tahu, itu adalah tindakan yang sangat memalukan dan seperti tidak berpendidikan, ,

          akhirnya, para pejabat rektorat dan dekanat fakultas, beserta DEMA dan Senat Fakultas mengadakan rapat di Ruang Dewan Penyantun langsung setelah kejadian tersebut,, setelah selesai rapat tersebut, DEMA mengatakan bahwa kami diberikan kesempatan untuk presentasi pada hari Senin, 14 September 2009,, waktu akan ditentukan setelah pihak rektorat dan dekanat mengadakan rapat hari Sabtu, 12 September 2009,, namun, sampai dengan hari Minggu, 13 September 2009, saat kami bertemu dengan alumni Mas Dudunk, Bang JDR dan Bang Kinoi, masih belum ada kabar dari rektorat kapan kami diberikan kesempatan untuk presentasi,, akhirnya Mas Dudunk menerima telpon dari Mas Barkah, dan dikatakan bahwa pukul 14.00 WIB kami dapat melakukan presentasi tersebut,, kami pun sangat senang, dan langsung merapat untuk membicarakan persiapan presentasi agar dapat maksimal,,

          namun lagi2, hasilnya nihil,, hari Senin, 14 September 2009, berdasarkan penjelasan email dari Mas Dudunk sebelum email ini kami kirim, lagi2 kami tidak jadi untuk presentasi,, jadwal tersebut dibatalkan,, kekecewaan lagi2 muncul di hati kami,, kami mencoba meminta penjelasan kepada DEMA,, dan dikatakan, acara penerimaan mahasiswa baru sudah dengan pasti tidak dapat diadakan,, kemungkinan masih bisa diadakan bila kepanitiaan dipegang oleh DEMA sebagai penanggung jawab,,

          dengan berat hati dan dengan penuh pertimbangan dari kami, akhirnya Irin sebagai Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009 mewakili kepanitiaan mengatakan, bahwa kami mundur, kepanitiaan dialihkan ke DEMA, dan kami membubarkan diri sebagai kepanitiaan, , karena menurut kami, perang urat, hati, dan otot tidak akan menyelesaikan masalah ini,, maka kami memutuskan untuk mundur,, apapun yang terbaik untuk 2009, akan kami lakukan,,

          saat ini, kepanitiaan telah dibubarkan,, namun, kabar terbaru,
          2 orang mahasiswa dan mahasiswi FSR (Bona dan Ilvi) telah dikenakan sanksi skors,, SK sedang dalam proses untuk dapat diturunkan,, dan kabar terbaru, FFTV sedang dalam proses pembuatan SK tersebut dan akan segera dikirimkan ke rumah masing2 panitia,,
          hal ini terjadi, dikarenakan terjadinya kasus 11 September 2009 yang telah ditanggapi secara langsung oleh Mas Dionius tersebut,,

          tindakan kami memang radikal,, kami mohon maaf sebesar2nya, , tidak ada maksud dari kami untuk menghancurkan kampus kami sendiri,, kami mencintai kampus ini dengan sepenuh hati,, kami hanya meminta, untuk sekali saja, aspirasi kami didengarkan, dan kami diberikan kesempatan untuk mengeluarkan suara kami sebagai Mahasiswa,,

          kami sudah banyak mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh para pejabat tinggi, hingga akhirnya ego kami sudah mati,, namun mengapa sampai ini, kami masih saja dijajah dalam berbagai bentuk? (akademis),, padahal tidak ada hubungannya antara akademis dengan kegiatan mahasiswa,, dan perlu diketahui, berdasarkan surat DO yang turun dari FSR, kami bisa dihukum, bila acara tersebut telah berlangsung, ,

          padahal acara tersebut belum berlangsung dan kami sudah mengalah (mengundurkan diri),, maka kami tidak dapat menerima keputusan tersebut,,


          Salam Hangat dari Kami

          - Ex. Kepanitiaan Apresiasi Seni 2009 -




           
           





        • toni agustono
          Aku ingat ada cerita : Bapa sama anak bengklai, sianak pingin dapet perhatian bapa nya, si bapa minta dihormatin anaknya... sampe kuda makan nyamuk juga ga
          Message 4 of 4 , Sep 18 5:18 AM
            Aku ingat ada cerita :

            "Bapa' sama anak bengklai, sianak pingin dapet perhatian bapa'nya, si bapa minta dihormatin anaknya...
            sampe kuda makan nyamuk juga ga bakal ketemu... bapa'nya keras pingin ngajarin anaknya..anaknya keras pingin kasih liat egonya...."

            So-Lusinya :
            Bapa'nya harus punya jiwa arif dan bijaksana lagi pandai dan tekun..ngayomi dalam koridor pendidik, mau mendengar tapi juga tegas..
            siAnak juga mesti tau diri, wong mau belajar seni ga usah nyari kegiatan yang keras-keras, galak-galak, serem-seraman, ganti sama yang lucu2, asyik2, anget-anget poko'e berkesan makin cinta sama almamater...

            Kalo mau jujur..Rasanya di dunia manapun, kecuali di sini, sekolah seni emang ga ada ospek (kayanya..)

            Apakah mungkin.. bila bentuk Ospek IKJ dibentuk bersama dengan hati terbuka, antara institusi IKJ, DEMA dan mahasiswa, supaya everybodi heppi gitu loo...rasanya ga susah kalo semua punya persepsi yang sama buat IKJ..kecuali bila masing-masing punya niat yang beda2 (pada jai'im)..
            Berhentilah bikin ultimatum, ga' ada yang untung dengan segala bentuk ultimatum dan ancaman... duduk bareng...sambil ngeroko' nunggu bedug (wah batal dah..) cairkan segala ketegangan, mahasiswa sama wadek/ warek/ warok pan udah ketauan beda umur, tapi belon tentu soal kreativitasnya.. ya salah satu boleh ngalah duluan laa..

            Saatnya semua, ngalah buwat menang... bersatu boooo...
            Hayooo ah'..idup udah susah jangan bikin susah...capeee' deeeee...



            Pada 18 September 2009 00:40, Abdullah Yuliarso <doedyuli@...> menulis:
             



            Pada 17 September 2009 16:09, Abdullah Yuliarso <doedyuli@...> menulis:
             
            MINDSET YANG BERBEDA .......
            Diawali dari tarik menarik dan saling ancam antara Otoritas IKJ dengan Mahasiswa.
            Setiap tahun masalah Ospek selalu muncul ke permukaan dengan segala macam intriknya.
            Penanganan atau kebijakan yg dilakukan tidak pernah menyentuh substansinya.
            Selama 39 tahun IKJ berdiri, tarik menarik Ospek biasanya dimenangkan oleh mahasiswa.
            Tetapi,  pada tahun ke 39 sepertinya akan dimenangkan oleh Otoritas IKJ.
            Score menjadi 38 : 1 
             
            Ospek sebagai ritual penerimaan mahasiswa baru seolah kegiatan wajib sekaligus terlarang.
            Kegiatan itu dianggap penting oleh mahasiswa, tapi dianggap remeh temeh oleh Otoritas IKJ.
            Bagi Otoritas IKJ, Ospek adalah nightmare dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
            Ospek adalah peluang terjadinya tindak kekerasan yang tak terkendali, begitu stigmanya.
            Mindset yang berbeda itu selalu mencapai titik didih perbedaan pada setiap awal tahun pelajaran baru.

            JOHN RICKY MALAU
            Nenek-nenek juga tauk ... !!!

            JOHN DE RANTAU
            Jo' iii .... !!!

            Sekilas perspektif sejarah dunia kemahasiswaan.
            Sejak Indonesia merdeka, Ospek memang sudah eksis, begitu yang saya dengar dari para orang tua.
            Ospek yang bentuk fisiknya adalah perpeloncoan, dari waktu ke waktu mendapat stigma sebagai warisan kolonial Belanda.
            Sampai dengan tahun 1976, Ospek adalah kegiatan yang didominasi upaya perekrutan organisasi mahasiswa seperti GMNI, HMI,  PMKRI, IMADA dsbnya.
            Kelanjutan Ospek adalah LTC (Leadership Training Course) sebagai salah satu persyaratan menjadi jajaran pengurus Student Goverment.

            Filosofi pendidikan saat itu:
            Kurikulum pendidikan formal adalah sarana pembentukan mahasiswa menjadi mahluk intelektual ( sekarang dikenal sebagai Hard Competency)
            Program Kemahasiswaan adalah sarana pembentukan manusia menjadi mahluk sosial yang berbudaya ( sekarang dikenal sebagai Soft Competency ).
            Berdasarkan filosofi tersebut, Student Goverment memiliki kesetaraan dengan otoritas sekolah.
            Aspirasi mahasiswa terepresentasi dalam Senat Institut yang diwakili oleh Ketua Dema secara ex Officio.
            Di tingkat fakultas, Ketua Senat Mahasiswa duduk secara ex Officio di Senat Fakultas.
            Sertifikat Ospek memjadi salah satu persyaratan kelulusan ujian akhir.
            Semua ketentuan itu diatur secara sah dalam Anggaran Dasar Institut yang sekarang disebut Statuta. 

            Tahun 1977, sejalan dengan kebijakan Daoed Yoesoef  Menteri Pendidkan dan Kebudayaan saat itu,  semua program kemahasiswaan diatur melalui Program Normalisasi Kehidupan Kampus ( NKK) & Badan Kegiatan Kemahasiswaan (BKK).
            Semua hak dan previlise Student Goverment dipangkas habis.
            Semua organisasi mahasiswa underbouw partai harus hengkang dari kampus.
            Sejak itu Ospek dilarang,  tapi terus berjalan sebagai kegiatan illegal yang semakin lama semakin kejam.

            Semua kegiatan kemahasiswaan harus dibawah kontrol Rektor sebagai implementasi Program NKK/BKK.
            Sambil mengacung-acungkan SK Rektor, pak Warek bisa bilang nehi ... nehi ... nehi ... oh yes ... oh no .. !!!
            Pengurus Dema dan Senat Fakultas kemudian dicurigai oleh mahasiswa sebagai antek-antek pak Warek.
            Semua itu terjadi sebagai akibat proses pemandulan fungsi yang sesungguhnya merupakan salah satu fungsi pendidikan.
            Dunia pendidikan Indonesia pun kehilangan sarana untuk menstimulasi berkembangnya soft competency.
            Akibatnya pada tahun 2005, posisi Indonesia dalam Human Development Index - UNDP menjadi rendah pada posisi No. 110 dari 177 negara.
            Berdasarkan The World Competitivess Scoreboard 2009,  daya saing bangsa Indonesia pada posisi No. 51.
            Bandingkan dengan :
            Malaysia   :  Human Development Index - UNDP  No. 61
                                 Daya saing bangsa pada posisi No. 19.
            Singapore : Human Development Index - UNDP No. 25
                               Daya saing bangsa pada posisi No. 2 ( Amerika No. 1 )
                              
            Tindakan Daoed Yoesoef ketika itu merupakan respon Pemerintah atas terjadinya demo mahasiswa yang dikenal sebagai Peristiwa MALARI yang membakar kota Jakarta pada tahun 1974.
            Melalui NKK/BKK, mahasiswa kehilangan independensinya.
            Tugas mahasiswa hanya belajar, ujian dan selesai.
            Semua kegiatan mahasiswa diurus dan diawasi Rektor melalui struktur  Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan di tingkat Universitas/Institut dan Wakil Dekan III ditingkat Fakultas.
            Dewan Mahasiswa dan Senat Fakultas kewenangannya dikebiri dan hanya menjadi underboow Warek/Wadek III.
            Posisi mahasiswa dari subyek bergeser sebagai obyek pendidikan.
             
            Tahun 1998 sejalan dengan reformasi politik, dunia pendidikan turut berubah menyesuaikan diri.
            Tapi struktur yang dibangun melalui NKK/BKK tidak direformasi.
            Pejabat Warek III dan Wadek III tetap pada posisi struktur birokrasi.
            Mereka tumbuh sebagi birokrat-birokrat kampus yang tidak faham dinamika mahasiswa.
            Mereka menempatkan mahasiswa sebagai obyek yang kalau perlu ditindas.
            Hal ini bukan karena para pejabat tersebut bodoh atau tidak pandai.
            Tetapi, mereka duduk pada jabatan dengan MINDSET kekuasaan.
            Dengan mindset seperti itu, mereka pun terbentuk sebagai penguasa.
            Pak Warek akan memanggil para mahasiswa pembangkang.
            Sambil mengacung-acungkan peraturan yang dibikinnya bikin sendiri, pak Warek akan berkata dengan keras.
            E .. 'e .. 'e .. kowe para mahasiswa pembangkang. Kalian diskors 85 thn.
            Hoek ... hoek ... hoek ,,,
            pak Warek terbatuk-batuk,
            Mahasiswa tidak mau kalah dan berteriak.
            Kita tidak takut ... !!!
            Kita akan memboikot program yang tidak kami setujui... !!!
            Kami tidak sebodoh seperti yang kalian pikir !!!


            Dudung.


            ---------- Pesan terusan ----------
            Dari: Ki Bolo Dewo <pacitaner@...>
            Tanggal: 17 September 2009 14:31
            Subjek: Re: [ikjbanget] Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
            Ke: ikjbanget@yahoogroups.com



             

            komentar dionisius bowo..
            Mas Dudung sudah membuat analis dengan benar. Bahwa berlarutnya urusan ospek di IKJ karena salah urus selama ini. Lebih tepatnya tidak adanya tindakan otoritatif (bukan otoriter) oleh otoritas IKJ. Justru saat ini kita sedang memperbaiki kesalahan tersebut.
             
            Pointnya apapun alasanya, kekerasan tidak boleh terus terulang. Otoritas sebelumnya tidak pernah punya ketegasan memotong/meniadakan potensi terjadinya kekerasan. Kali ini saatnya (bandingkan ISI Yogja 2005/2006 sudah selesai).
             
            Surat terbuka itu adalah surat pribadi sama sekali tidak mencerminkan kebijakan otoritas IKJ ataupun berdampak mempengaruhinya.
            Surat tersebut secara pribadi dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi civitas, contoh protes secara "legal" sekaligus menggugurkan klaim atas nama keluarga besar IKJ secara semena-mena oleh sekelompok kecil mahasiswa (30an dibanding 1500an populasi mahasiswa IKJ)

            salam
             
            dio


            From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@...>
            Sent: Tuesday, September 15, 2009 7:28:05 PM
            Subject: [ikjbanget] Fwd: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

             



            ---------- Pesan terusan ----------
            Dari: Irin Pandjaitan <tv_melody@yahoo. com>
            Tanggal: 15 September 2009 18:50
            Subjek: Re: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...
            Ke: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>





            From: Abdullah Yuliarso <doedyuli@gmail. com>
            Sent: Monday, September 14, 2009 11:11:13 PM
            Subject: KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN ...

            Senin, pukul 19.00, 14 / 09 / 2009, seorang gadis imut-imut menyoorkan secarik kertas kepada saya.
            Dia adalah mahasiswi FFTV-IKJ, katakanlah namanya Nisa.
            Dikertas itu tertulis kata-kata yang meyeramkan.

            KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN
            Surat terbuka kepada civitas akademika Institut Kesenian Jakarta.

            Begitu kata pembuka dari surat terbuka tersebut.
            Sebagai warga IKJ tentu saja saya menanggapinya.
            Diharapkan teman-teman pun turut menanggapi.

            Substansi dari surat terbuka tersebut berbunyi sebagai berikut:
            Dengan sangat menyesal, Dionisius Bowo 93SR3185 lulus D3 1997, S1 th 1000 FSR-IKJ, dan sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan Tesis Magister Seni IKJ, anggota dewan pendiri Sendal-IKJ, anggota keluraga besar IKJ, penggiat anti kekerasan,  menyatakan :

            (1).    Meminta kepada Rektor IKJ dan para Dekan FFTV, FSP, dan FSR -IKJ agar segera ditegakkan aturan akademik maupun administratif atas pelanggaran yang sangat serius oleh mahasiswa IKJ, yang telah mencoreng, menantang otoritas sah yang legitim.

            (2)    Mengundang Rapat Keluarga Besar IKJ melalui Organisasi Alumni dari setiap Fakultas agar dilakukan investigasi terhadap kejadian tersebut yang patut diduga telah terkjadi pelanggaran code of cunduct yang merugikan nama baik keluarga besar IKJ.

            (3)    Mengusulkan kepada Dema dan Senat mahasiswa Fakultas agar segera dilakukan tindakan disiplin organisasi atas pelanggaran otoritasnya.

            (4)    Menyerukan kepada rekan mahasiswa dan para dosen agar tidak lagi menjadi raksasa tidur (silent majority), mari kita bersihkan rumah, halaman kreatif kita dari onak dan duri kekerasan dengan tindakan nyata. Rumah mungil haruslah menjadi ladang subur merdeka bagi kreatifitas bukan kekerasan.

            Pernyataan yang mengerikan itu merupakan respon atas suatu kejadian yang dijelaskan di alinea awal surat terbuka tersebut yang berbunyi  :

            Jum'at sore 11 September 2009 (kebetulan bersamaan dengan ultah Tragedi WTC di Amerika), menjelang buka puasa di Plaza Luwes IKJ terjadi suatu peristiwa yang membuktikan betapa trauma kekerasan mataseni ( baca Ospek ) yang telah diwariskan turun temurun, melahirkan kekarasan yang lain yang siap ditularkan.  Segerombolan mahasiswa nampak liar, beringas dan barangkali lapar melakukan ancaman, intimidasi ( baca kekerasan verbal) terhadap mahasiswa baru para yunior adik-adiknya sendiri, yang sedang melakukan kegiatan sah Institut secara telanjang, terbuka bahkan menantang dihadapan para seniornya., kakaknya sendiri. Lebih menyedihkan lagi kejadian tersebut dilakukan pada buka puasa kepada mereka yang sebagian besar akan berbuka puasa. Dimana kesopanan ? Di mana toleransi, penghormatan terhadap keyakinan ? Di mana kecerdasan ?

            Betapa bodohnya kita membiarkan diri menjadi kaki tangan kekerasan. Betapa bodohnya kita memperjuangkan sesuatu (yang nyaris tak bermakna) dengan memamerkan kekerasan yang justru hendak kita lawan bersama.

            Saya membayangkan betapa mulianya kalau energi yang iitu diarahkan kepada musuh yang benar. Melawan diberlakukannya UU Kerahasiaan Negara, Atau UU Reformasi, UU Pornografi yang jelas-jelas mengekang kebebasan berekspresi dan hak akses informasi.

            Begitulah bunyi Surat terbuka dari Dionisius Bowo, teman kita dari Senirupa.
            Pertanyaannya ....
            Apakah itu potret mahasiswa IKJ saat ini ???

            Saya punya sedikit cerita yang mungkin bisa jadi imbangannya.
            Beberapa waktu lalu, saya didaulat mhs IKJ untuk bincang-bincang di Warungku.
            Saya menolak karena saya sudah faham.
            Setiap tahun ajaran baru, suhu politik di kampus IKJ pasti memanas.
            Ada pergerakan saling tarik antara otoritas IKJ dengan mahasiswa tentang penyeleggaraan Ospek
            .
            Minggu sore, 13 / 09 / 2009, seorang mahasiswa IKJ menghubungi saya dan mohon kesediaan saya untuk mendengarkan keluhannya.
            Karena sudah beberapa kali saya tolak, malu juga, makanya saya setujui.
            Malam itu, disamping yang menyebutkan dirinya sebagai Panitia Apresiasi Seni 2009, Dema IKJ,  hadir juga para senior seperti JDR, Kinoi dan beberapa orang lainnya.
            Singkat kata mereka minta kita untuk menjembatani komunikasi dengan otoritas Kampus yang membidangi pembinaan mahasiswa.
            Oke, saya telpon Warek III / IKJ, minta waktu bertemu.
            Setuju !!! Senin siang tgl. 14 / 09 / 09, Warek III bersedia menerima.
            Wajah para mahasiswa tampak berbinar-binar melihat saya bicara dengan Warek III santai dan relaks.
            Warek III itu mas Barkah ... he he he ..

            Esok siang, saya bersama Enison dan Enggong mewakili Ikatan Alumni FFTV menghadap Warek III.
            Pak Warek begitu emosional, apa pun dan sebagus apa pun konsep mahasiswa, pasti itu hanya akal-akalan .... !!!!   Kata pak Warek dengan berapi-api ...
            No ... No ... No .. !!!
            Nehi ... nehi ... nehi ... !!!

            Sudah diputuskan oleh rapat pimpinan, urusan ini adalah urusan Dema dengan para Dekan ... !!! Tegas pak Warek sebagai kata putus.
            Kalau ada penolakan, tolong kasih solusinya, kata Enison halus.
            Sudah ... sudah ... sudah !!! Nehi... nehi ... nehi .., jawab pak Warek sambil mendelik.
            Pak Warek pernah main film India, kalee .. bisik Enggong ditelingaku.

            Saya, Enison dan Enggong pun keluar menemui para mahasiswa yang menunggu dengan harap-harap cemas.
            Setelah dijelaskan tentang hasil pertemuan tadi wajah para mahasiswa langsung kecewa dengan rona kesedihan nyaris air matanya menetes.
            Dibalik wajah lugu para mahasiswa, saya lihat amarah yang terpendam.
            Inilah adalah contoh akar permasalahan yang dapat meledak sebagai KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN, seperti kata Dionisius Bowo.

            Beberapa menit kemudian Enison dan Enggong pulang.
            Saya pun bergeser ke Soto Lamongan nunggu bedug sambil ngopi2 dan ngerokok.
            Setengah jam kemudian, seorang mahasiswa menghubungi minta saya hadir pada rapat mahasiswa saat itu juga.
            Udah kepalang, langsung saya iya'in.
            Betapa kaget saya ketika melihat lebih dari 40 orang mahasiswa yang hadir.
            Saya hanya memberi pandangan yang jernih supaya tidak ada aksi anarkis.
            Mereka sepakat dan menyatakan Panitia Apresiasi Seni membubarkan diri.
            Bola panas itu sekarang dipegang oleh Ketua Dema IKJ dan para Ketua Senat Fakultas.
            Akan ditendang kemana, kita tunggu saja ...

            Betahun-tahun selalu timbul kekerasan dalam pelaksanaan Ospek.
            Juga terjadi kekerasan fisik dalam sistem sosial kampus yang sudah terbukti makan korban.
            Kampus IKJ menjadi sarang Narkoba.
            Minuman keras kelas murahan menjadi menu setiap ada acara kampus.
            Buruk ... buruk ... buruk, begitulah stigma yang diterima kampus IKJ.
            Apakah ini semata-mata kesalahan mahasiswa ????

            Tidak sesederhana itu jawabannya.
            Yang jelas, IKJ sebagai Lembaga Pendidikan telah salah urus khususnya dalam pembinaan kemahasiwaan dan sistem sosial kehidupan kampus.
            Mahasiswa IKJ adalah korban salah urus Pengelola Pendidikan.
            Padahal ada 4 Pejabat Teras yang ngurusin Pembinaan Kemahasiswaan.
            Warek III dan tiga Wadek III Fakultas.
            Pertanyaannya ......
            Bagaimana mungkin
            KEBODOHAN YANG TAK TERMAAFKAN bisa terjadi .....

            Dudung A. Yuliarso
            Mahasiswa Crashprogram S1 FFTV-IKJ
            Art & Culture Coopertaion Committe Indonesia-Korea Friendship Association.
            Anggota DPO Ikatan Alumni FFTV-IKJ
            Mantan Perwira TNI Angkatan Laut
            Direktur Utama Creative Industrial Networking PT. Prima Bina Media.
            Direktur Primamitra Music and Film Industries.
            General Manager The Submarine Center of Music and Performing Arts. 
            Managing Partner NTOTC WANADRI PRIMA
            Narsiiiis kaleeee .. !!!  he he he





            reply by : ex. panitia apresiasi seni 2009

            mungkin kami harus bercerita dari awal sebab permasalahan2 ini bisa muncul (baca : terjadi),,

            sejak bulan februari 2009, kami sudah mengetahui bahwa mata seni (OSPEK) telah dilarang,, kami pun bingung harus berbuat apa, karena penentangan diadakannya mata seni belum pernah terjadi secara terang2an seperti ini (ditulis secara jelas di spanduk dan brosur FFTV : TIDAK ADA OSPEK),,

            akhirnya, melalui proses yang panjang kami mencoba untuk mengkonsepkan suatu acara yang baru, karena kami tahu bahwa yang paling dipermasalahkan dalam konsep Mata Seni adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh SiePam pada konsep tersebut,, akhirnya kami mencoba untuk mengganti SiePam dengan "Pecalang" yang berfungsi secara jelas hanya mengamankan acara, tanpa adanya kekerasan fisik sedikitpun,,

            kami kepanitiaan apresiasi seni 2009 sejak awal sudah menentang adanya kekerasan fisik dalam acara mata seni sebelum adanya SK penghapusan mata seni tertanggal 28 Juli 2009, karena menurut kami kekerasan fisik tidak memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan mental dan kedisiplinan yang kuat terhadap mahasiswa baru,,

            setelah konsep pecalang ditolak, kami langsung menghapus divisi pengamanan secara tegas! kami mencoba membuat sebuah konsep yang baru, tanpa adanya kekerasan sedikitpun, ataupun membuat sebuah divisi baru yang akhirnya dapat menimbulkan kekerasan lagi,,

            perlu diketahui, tertanggal hasil keputusan raker 21 Agustus 2009, DEMA mengumumkan hasil rapat seluruh organisasi mahasiswa yang berbunyi : "DEMA memutuskan, menyetujui adanya penghapusan Mata Seni (OSPEK), dan AKAN DIBUAT SEBUAH KONSEP BARU yang akan dirundingkan lagi. "

            berdasarkan surat keputusan raker, SK penghapusan mata seni, dan dilarangnya kekerasan fisik dalam Ospek, maka kami kepanitiaan mencoba membuat sebuah konsep baru,, melalui proses kurang lebih selama 2 minggu, akhirnya kami selesai membuat konsep baru tersebut dimana kekerasan fisik sama sekali dihilangkan, , konsep yang kami buat pun berdasarkan hasil bimbingan dari DEMA,, konsep pertama kami membuat konsep yang berhubungan dengan FKI,, dengan adanya kegiatan FKI, kami berusaha untuk membuat konsep yang dapat di combine dan menguntungkan kedua belah pihak,, dimana kami akan membantu workshop FKI, namun kami meminta untuk diberikan waktu untuk melaksanakan inagurasi pada acara FKI tersebut serta acara 3 hari dengan konsep yang baru,, namun, konsep tersebut tetap ditolak tanpa membaca konsep kami terlebih dahulu, karena menurut Mas Barkah, konsep workhsop kami yang bertema kebudayaan tradisional berbeda dengan konsep tema FKI yaitu Urban,,

            kami mencoba membuat konsep yang baru lagi,, setelah konsep selesai, kami meminta kesempatan kepada Warek III IKJ untuk dapat mempresentasikan konsep baru tersebut,, namun Mas Barkah menolak,, beliau meminta kami untuk bertemu dengan Dekan setiap fakultas untuk diberikan kesempatan mempresentasikan konsep tersebut, tanpa membaca proposal konsep yang telah kami buat,, beliau langsung menolak begitu saja,,

            akhirnya, Irin (Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009) langsung menemui Dekan dari setiap fakultas didampingi oleh Senat Mahasiswa dari setiap fakultas,, hasilnya :

            1. Mas Pur (DEKAN FSP) menyetujui untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk mempresentasikan terlebih dahulu, namun harus bersamaan dengan DEKAN kedua fakultas yang lain dan Warek III IKJ. Mas Pur mendengarkan pengantar dari Irin dengan sangat baik dan seksama,,

            2. Mba Citra (DEKAN FSR) didampingi Mas Dionisius (Wadek III FSR) menolak untuk memberikan kesempatan kepada kami karena menurut mereka SK penghapusan dan pelanggaran Mata Seni (OSPEK) sudah sangat jelas,, dan mas Dio mengatakan kekecewaannya, karena kami dari rektorat masih dilempar lagi ke Dekan seperti bola pingpong,, menurut beliau, bila rektorat sudah mengatakan tidak, maka kami tidak perlu dilempar lagi ke DEKAN setiap fakultas,,

            3. Mas Gotot (DEKAN FFTV) pada awalnya menolak secara tegas,, beliau juga menjelaskan menurunnya kuantitas mahasiswa baru yang masuk ke FFTV akibat adanya Mata Seni,, namun akhirnya, beliau bertanya kapan kami akan presentasi, namun beliau tidak menjamin dapat hadir pada hari tersebut,,

            akhirnya, kami memutuskan untuk presentasi pada tanggal 11 September 2009,, kami tahu, ada kesalahan dari kami dalam prosedur, dimana kami mengadakan rencana presentasi pada tanggal 11 September 2009 namun surat undangan pun baru turun pada tanggal 11 September 2009 tersebut,, akhirnya, yang hadir hanya Mas Kusen Dony (Wadek III FFTV) dan Mas Barkah (Warek III IKJ),,

            saat Mas Barkah datang, beliau langsung secara tegas memprotes karena diundang ke presentasi tersebut, karena beliau sudah mengatakan ini bukan lagi urusan rektorat karena sudah ada SK yang turun, jika mau kami langsung berhubungan dengan DEKAN setiap fakultas,, tapi kami mengundang, dengan maksud menghormatinya sebagai Warek III bidang Kemahasiswaan yang pastinya berdasarkan jabatannya, berhubungan langsung dengan kami sebagai mahasiswa,,

            namun, hasil dari sore itu, nihil,, kami justru berdebat dengan Mas Barkah,, dan yang membuat kami kecewa, karena kami terus menerus disamakan dengan kepanitiaan yang lalu - lalu yang dikatakan oleh beliau tidak bertanggung jawab,, sedangkan kami, dengan niat yang sangat tulus dan tegas sangat ingin dapat dipercaya, karena tidak ada sedikitpun niat kami untuk melakukan tindakan kekerasan pada acara Apresiasi Seni 2009 yang rencananya akan kami laksanakan,, akhirnya, jadwal untuk presentasi pun gagal tanpa adanya kesempatan sedikitpun bagi kami untuk mempresentasikan konsep baru kami,,

            kekecewaan tertinggi meledak di hati kami,, sejak awal, ego kami sudah kami singkirkan,, kami berusaha tidak ngotot untuk membuat acara Mata Seni dengan konsep yang lama lagi,, dilarang untuk adanya kekerasan, kami ikuti,, dilempar ke Dekan, kami ikuti juga,, sampai dari Dekan, kami masih harus membuat presentasi yang secara langsung dipresentasikan di depan ketiga DEKAN secara bersamaan,, rasa sakit hati kami memuncak, kekecewaan sudah tidak dapat kami bendung lagi,, akhirnya, terjadilah peristiwa 11 September 2009 dimana kami menolak secara tegas untuk diadakannya FKI,,

            perlu digaris bawahi, kami mahasiswa aktiv (Keluarga Besar IKJ) tidak mengatakan memboikot, tapi kami mengatakan :
            "kami, keluarga besar Institut Kesenian Jakarta, tidak menyetujui diadakannya Festival Kesenian Indonesia, bila tidak diadakannya acara penerimaan Mahasiswa Baru 2009",,

            itulah puncak kekecewaan kami dan seluruh mahasiswa aktiv keluarga besar IKJ,, kami tidak melakukan kegiatan anarki sedikitpun, karena kami tahu, itu adalah tindakan yang sangat memalukan dan seperti tidak berpendidikan, ,

            akhirnya, para pejabat rektorat dan dekanat fakultas, beserta DEMA dan Senat Fakultas mengadakan rapat di Ruang Dewan Penyantun langsung setelah kejadian tersebut,, setelah selesai rapat tersebut, DEMA mengatakan bahwa kami diberikan kesempatan untuk presentasi pada hari Senin, 14 September 2009,, waktu akan ditentukan setelah pihak rektorat dan dekanat mengadakan rapat hari Sabtu, 12 September 2009,, namun, sampai dengan hari Minggu, 13 September 2009, saat kami bertemu dengan alumni Mas Dudunk, Bang JDR dan Bang Kinoi, masih belum ada kabar dari rektorat kapan kami diberikan kesempatan untuk presentasi,, akhirnya Mas Dudunk menerima telpon dari Mas Barkah, dan dikatakan bahwa pukul 14.00 WIB kami dapat melakukan presentasi tersebut,, kami pun sangat senang, dan langsung merapat untuk membicarakan persiapan presentasi agar dapat maksimal,,

            namun lagi2, hasilnya nihil,, hari Senin, 14 September 2009, berdasarkan penjelasan email dari Mas Dudunk sebelum email ini kami kirim, lagi2 kami tidak jadi untuk presentasi,, jadwal tersebut dibatalkan,, kekecewaan lagi2 muncul di hati kami,, kami mencoba meminta penjelasan kepada DEMA,, dan dikatakan, acara penerimaan mahasiswa baru sudah dengan pasti tidak dapat diadakan,, kemungkinan masih bisa diadakan bila kepanitiaan dipegang oleh DEMA sebagai penanggung jawab,,

            dengan berat hati dan dengan penuh pertimbangan dari kami, akhirnya Irin sebagai Ex. Ketua Apresiasi Seni 2009 mewakili kepanitiaan mengatakan, bahwa kami mundur, kepanitiaan dialihkan ke DEMA, dan kami membubarkan diri sebagai kepanitiaan, , karena menurut kami, perang urat, hati, dan otot tidak akan menyelesaikan masalah ini,, maka kami memutuskan untuk mundur,, apapun yang terbaik untuk 2009, akan kami lakukan,,

            saat ini, kepanitiaan telah dibubarkan,, namun, kabar terbaru,
            2 orang mahasiswa dan mahasiswi FSR (Bona dan Ilvi) telah dikenakan sanksi skors,, SK sedang dalam proses untuk dapat diturunkan,, dan kabar terbaru, FFTV sedang dalam proses pembuatan SK tersebut dan akan segera dikirimkan ke rumah masing2 panitia,,
            hal ini terjadi, dikarenakan terjadinya kasus 11 September 2009 yang telah ditanggapi secara langsung oleh Mas Dionius tersebut,,

            tindakan kami memang radikal,, kami mohon maaf sebesar2nya, , tidak ada maksud dari kami untuk menghancurkan kampus kami sendiri,, kami mencintai kampus ini dengan sepenuh hati,, kami hanya meminta, untuk sekali saja, aspirasi kami didengarkan, dan kami diberikan kesempatan untuk mengeluarkan suara kami sebagai Mahasiswa,,

            kami sudah banyak mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh para pejabat tinggi, hingga akhirnya ego kami sudah mati,, namun mengapa sampai ini, kami masih saja dijajah dalam berbagai bentuk? (akademis),, padahal tidak ada hubungannya antara akademis dengan kegiatan mahasiswa,, dan perlu diketahui, berdasarkan surat DO yang turun dari FSR, kami bisa dihukum, bila acara tersebut telah berlangsung, ,

            padahal acara tersebut belum berlangsung dan kami sudah mengalah (mengundurkan diri),, maka kami tidak dapat menerima keputusan tersebut,,


            Salam Hangat dari Kami

            - Ex. Kepanitiaan Apresiasi Seni 2009 -




             
             






          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.