Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Papua Merdeka, Satu Babak Penantian

Expand Messages
  • PaPua
    Kompas, Senin, 19 Juni 2000 Papua Merdeka, Satu Babak Penantian Oleh Muridan S Widjojo SEKITAR 1970-an lalu, di Desa Keikwa, pantai selatan Papua, seorang
    Message 1 of 1 , Jun 21, 2000
      Kompas, Senin, 19 Juni 2000

      Papua Merdeka, Satu Babak Penantian

      Oleh Muridan S Widjojo


      SEKITAR 1970-an lalu, di Desa Keikwa, pantai selatan Papua, seorang paitua Kamoro sedang duduk memandang laut lepas. Ia ditanya pastor tua Frankenmollen, apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang keberadaan Belanda, Jepang, dan kini Indonesia. Dengan enggan paitua itu menjawab, "Bapa, dulu Belanda datang, lalu ada datang Jepang, dan sekarang Indonesia. Kaitorang sekarang ada tunggu siapa lagi yang akan datang."
      Dalam mitos Kamoro, nenek moyang mereka dulu pergi ke arah barat dan suatu saat akan pulang membawa berbagai barang yang mereka butuhkan. Kemakmuran suatu saat akan datang. Namun, nenek moyang itu tidak kunjung pulang. Yang datang ternyata tenawe, orang-orang asing. Mereka membawa kapal, pesawat, mobil, dan makanan berlimpah. "Adakah ini titipan nenek moyangku yang seharusnya diberikan kepadaku? Namun, mengapa mereka menguasainya untuk diri sendiri?"

      Orang Kamoro lalu mengalami, sedikit saja dari barang-barang itu diberikan untuk mereka. Sebaliknya tenawe menguasai dan menebang hutan-hutan sagu. Pantai dan laut penuh kapal-kapal besar pe-nangkap ikan dan udang. Sebagian sungai dan muara, di mana dulu ikan dan udang berlomba melompat ke atas perahu, kini sarat pasir sisa tambang Freeport. Azab itu seperti tanpa ujung, mereka masih harus terusir dari kampung halamannya, untuk ditempatkan di tanah suku lain, jauh dari kepala air dan sungai. Mereka hanya mengumpat dalam diam, tenawe otomowe! (pendatang itu pencuri).

      Penantian selalu mengandung harapan. Ketika orang Dani me-lihat misionaris berkulit putih pertama kali pada 1950-an, mereka langsung mengaitkannya dengan pengharapan dalam mitos Nabelan-Kabelan. Orang-orang putih itu datang untuk membebaskan mereka dari penyakit, kesengsaraan duniawi, kematian, dan menghadirkan kemakmuran dalam sekejap. Bagi mereka waktu itu, si bule akan hidup abadi dan tak akan pernah mati. Keunggulan pengetahuan dan teknologi serta "kabar keselamatan" yang dibawa bahwa Kerajaan Allah akan datang kian meyakinkan mereka tentang keselamatan itu. Bertahun-tahun kemudian mereka mendapatkan kenyataan, bule-bule itu adalah manusia biasa. Mereka ternyata mengalami sakit dan mati, seperti orang Papua juga.

      Dani dan Kamoro adalah salah satu suku Papua. Umumnya orang Papua punya mitos-mitos pengharapan akan kehidupan baru. Ahli-ahli agama dan antropolog tentang Papua seperti Benny Giai, Godschalk, Trenkenschuh, Schoorl, dan lainnya, dalam penelitiannya selalu menemukan mitos penantian dan gerakan kargoistis menyongsong zaman baru itu. Di Biak ada koreri. Amungme ada hai. Kamoro punya otepe. Muyu punya oi. Dani menyimpan nabelan-kabelan... dan seterusnya.


      ***
      KETIKA Indonesia datang ke Papua awal tahun 1960-an dan menjajakan "pembangunan", harapan yang bersumber dari mitos itu sempat menyala lagi. Petugas-petugas Indonesia ber-hasil menggalang para pejuang Pepera untuk memilih bergabung dengan Indonesia. Namun, harapan itu dikecewakan. Para petugas pemerintahnya korup dan serakah, membuat tenggelam pengabdian tulus para guru di pedalaman. Pembunuhan demi pembunuhan dilakukan militer. Penjarahan hutan tanah ulayat dipimpin konglomerat Indonesia dengan ketamakan tak terhingga. Diskriminasi, penghinaan, dan peminggiran terus berlangsung. Semakin hari, penderitaan itu kian menusuk jantung eksistensi Papua. Penantian dan harapan itu telah luluh lantak.

      Orang Papua melihat bencana politik dan ekonomi di masa Orde Baru bukan soal rezim Orde Baru melawan rakyatnya, melainkan soal Indonesia melawan Papua. Indonesia-lah yang menyengsarakan Papua. Tidak ada urusan dengan Orde Baru atau Orde Reformasi. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Indonesia. Indonesia otomowe! Oleh karena itu, kebersamaan Papua-Indonesia dipandang tak layak lagi dipertahankan. Keputusan politis-kultural semacam ini tidak terjadi karena dis-kusi atau provokasi satu dua malam, tetapi karena pengalaman penderitaan bersama dan pembacaan kolektif selama tiga puluh tahun lebih.

      Kini melalui kalangan terdidiknya, di bawah Tom Beanal dan Theys Eluay, mereka mengais penantian dan harapan baru. Sejarah Negara Papua Barat digali dan dihidupkan kembali untuk merangkai masa depan yang penuh keselamatan. Seluruh argumentasi sejarah, ditambah wacana kultural, etnisitas, keagamaan, dan lain sebagainya, dikerahkan untuk meneguhkan sikapnya menolak Indo-nesia. Deklarasi Papua Merdeka, 3 Juni 2000, adalah penanda gerakan kebudayaan Papua.


      ***
      RAKYAT Papua tidak pernah lelah menagih janji pada nenek moyangnya. Berbagai kekecewaan dan kegagalan gerakan mitis kargoisme di masa lalu tidak pernah memutus asa untuk meniti penantian baru. Penantian itu kini mendapatkan bentuknya dalam perjuangan "Papua Merdeka". "Merdeka" bagi rakyat Papua di pedalaman adalah kegairahan penantian sekaligus harapan baru. Pembalikan zaman segera datang. Apa pun mesti dikorbankan untuk menjaga momentum mitis ini.

      Papua Merdeka adalah puisi kehidupan sebagian besar dari sekitar 250 bangsa Papua. "Bintang Kejora" segera menyinari Hai Tanahku Papua. Suburlah kebunku. Sungai dan lautku penuh ikan dan segala makanan untuk kerabatku. Sagu-sagu kembali menjulang siap ditokok. Babi-babi beranak pinak siap dipotong kapan saja. Bata-tas tumbuh montok memenuhi lembah-lembah dan lereng-lereng pegunungan tengah. Perempuan-perempuan melahirkan banyak anak sehat dan kuat. Tiada penyakit dan kematian. Toko-toko penuh barang. Kapal merapat ke dermaga dan pesawat terbang mendarat menunggu untuk dinaiki.

      Sementara itu ide dan cita-cita Papua Merdeka di kalangan tokoh intelektual dan pemimpinnya juga kian mengkristal. Negara Papua yang berdaulat akan tiba. Nasib dan masa depan bangsa Papua akan mereka tentukan sendiri. Dalam imaji mereka, penindasan akan segera berakhir. Pelanggaran HAM, pembunuhan massal, penjarahan tanah dan kekayaan oleh Indonesia, tinggal sejarah. Birokrasi yang arogan dan korup se-gera lenyap. Seluruh hasil kekayaan alam-hutan-hutan, tambang tembaga dan emas, serta kekayaan lainnya-akan menjadi milik mereka sepenuhnya, dan menghantarkan mereka pada kemakmuran baru.


      ***
      SETELAH deklarasi 3 Juni itu, kaum elite dan masyarakat Indonesia tersentak. Dengan bersandar pada legalitas internasional, atas nama nasionalisme, dan demi keutuhan integritas wilayah negara-negara Indonesia, kita beramai-ramai menolak tuntutan Papua Merdeka. Sebagian dari kita menuduh mereka makar. Bahkan kita mulai berpikir untuk menggunakan TNI. Kita menggunakan bahasa yang berbeda. Namun tak satu pun dari kita jujur mengatakan, dalam pikiran kita sesungguhnya ada ketakutan kehilangan bertrilyun-trilyun rupiah dari rahim Bumi Papua. Kita takut menjadi semakin miskin dengan hilangnya Papua dari genggaman kita.

      Tak ada satu isyarat pun yang mampu meyakinkan orang Papua bahwa kehendak memper-tahankan Papua didasarkan pada ketulusan kita menerima Pa-pua sebagaimana adanya dan merasa Papua sebagai bagian dari kita, negara-bangsa Indo-nesia.

      Setelah penderitaan kolektif Papua yang demikian panjang, salahkah mereka memimpikan semua itu? Adakah hak kita untuk menghalangi aspirasi Papua? Dari mana, siapa, dan mengapa, hak itu ada? Jika hak itu dianggap ada, adakah daya kita untuk kembali merangkul dan meyakinkan ipar Papua untuk kembali ke rumah Indonesia?

      (* Muridan S Widjojo, peneliti PPW LIPI)



      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.