Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Bls: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

Expand Messages
  • Martin Tarigan
    salam kelihatannya ada anggota jemaat GBKP di perkotaan memang sedikit terkontaminasi dengan gaya saudara kita yang beraliran kharismatik. saya juga melihat di
    Message 1 of 25 , Apr 30, 2009
      salam

      kelihatannya ada anggota jemaat GBKP di perkotaan memang sedikit terkontaminasi dengan gaya saudara kita yang beraliran kharismatik. saya juga melihat di beberapa tempat polanya seperti itu. ini barangkali karena ada hubungan sebagian kita ke kelompok tersebut.

      ini menjadi keprihatinan kita bersama tentunya. apakah pola tersebut sudah dianggap layak atau modern karena gereja kita adalah gereja suku? barangkali...

      barangkali kondisi ini perlu mendapat perhatian kita semua. bagaimana dengan pengurus Permata GBKP Jakpal? apa ini sudah disepakati sebelumnya atau? baiknya dalam tata ibadah dalam perayaan tertentu atau lainnya, didiskusikan dengan Pendeta GBKP setempat atau Klasis sehingga kalaupun ada yang mau dimodifikasi, tapi tidak terlalu jauh meninggalkan pola gereja kita.

      lebih ironis lagi, ada jemaat GBKP bahkan yang beranggapan bahwa Pendeta GBKP "kurang" dibandingkan dengan gereja lain. pernah di jemaat saya terdaftar pada acara Natal mengundang Pendeta dari gereja lain (bukan GBKP) untuk pimpin ibadah, semantara Pendeta kita hanya kebagian dalam liturgi saja.

      gua ninta kerina si peduli dengan GBKP, apakah kita maju dengan "modernisasi" pola peribadahan supaya tidak lagi kesukuan.....?

      bujur

      --- Pada Kam, 30/4/09, sryting_karo <sryting_karo@...> menulis:

      Dari: sryting_karo <sryting_karo@...>
      Topik: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
      Kepada: gbkp@yahoogroups.com
      Tanggal: Kamis, 30 April, 2009, 8:03 PM

      Ada Apa Dengan Liturgi GBKP

      Pada beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri ibadah paskah Permata GBKP Klasis Jakarta-Palembang, yang diadakan di gedung GBKP Jakarta Pusat. Ibadah yang rencananya diadakan pada pukul 17.00 wib molor menjadi pukul 17.30 wib. Pada awalnya saya yakin bahwa ibadahnya pasti akan berbeda karena toh ini merupakan ibadah untuk orang-orang muda dan biasanya memang ibadah untuk pemuda memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya saya menyaksikan ibadah pada saat itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Betapa tidak, ibadah Paskah Permata GBKP Jakarta-Palembang dilangsungkan menurut ritual yang biasa terjadi pada gereja-gereja karismatik.
      Tidak hanya dari cara pemimpin pujian yang berlari-lari pada saat bernyanyi, saya juga sangat gamang melihat bagaimana mungkin dalam ibadah itu, hanya ada satu lagu yang berasal dari Penambahen Ende-Enden (PEE). Selebihnya adalah lagu-lagu rohani kontemporer yang -maaf- sangat miskin maknanya. Lagu-lagu tersebut memang begitu populer, karena selain pemasarannya yang bagus juga hanya karena musiknya yang menarik. Sungguh, saya sangat sedih dan kecewa melihat ibadah GBKP diobrak-abrik dengan cara demikian.
      Keterkejutan saya pun masih berlanjut saat Nande i kuta bercerita bahwa ibadah HUT permata yang ia hadiri juga dilangsungkan selayaknya ibadah gereja karismatik. Bahkan saya sangat sedih ketika saya menyatakan keterkejutan saya kepada Nande dan dia justru menjawab, "mungkin ntah kita kin enggo ketadingan nakwe, ntah enggo kin bage gundari adi ibadah Permata?", katanya. Saya menyadari bahwa liturgi GBKP yang saya cintai itu telah sedemikian gawatnya, karena telah dipreteli oleh unsur-unsur ibadah gereja karismatik.
      Bukannya saya tidak peka terhadap kebutuhan jiwa pemuda yang memang membutuhkan segala sesuatunya berbeda, termasuk dalam hal penyelenggaraan ibadah, saya juga merupakan seorang pemuda. Atau saya bukannya tidak mau mengakui bahwa, liturgi di GBKP yang saya cintai ini memang terasa kering dan bahkan di beberapa majelis (runggun) terkesan tidak bermakna. Atau saya yang anti terhadap gerakan Karismatik, sama sekali bukan. Melainkan saya hanya mau mengatakan bahwa, memilih untuk menyelenggarakan ibadah ala konser musik "band Peterpan" bukanlah pilihan yang tepat.
      Ibadah yang dilangsungkan (dalam rangka apapun itu) oleh gereja, merupakan hubungan yang paling intim antara gereja dan umat. Pada saat itulah gereja secara nyata membuat jemaat berhubungan dengan Allah. Lalu, bagaimana mungkin ibadah kepada Allah dimain-mainkan oleh hal-hal yang tidak memiliki makna. Seperti berteriak-teriak tidak jelas, atau melompat-lompat layaknya menyaksikan bintang pujaannnya sedang bernyanyi atau ketika air mata dikeluarkan bukan karena penghayatan terhadap makna sebuah ibadah, namun semata-mata karena lirik lagu yang menyayat hati.
      Saya setuju untuk sebuah perubahan liturgi GBKP yang pada akhirnya tentu membawa perubahan pada nuansa ibadah GBKP itu sendiri. Akan tetapi, perubahan itu bukan tanpa penelitian dan pencarian makna yang lebih dalam lagi, mengenai tema ibadah (hari raya liturgi) tersebut. Karena tanpa itu semua, kita pasti akan terjebak pada alternatif yang lain, yang hanya lebih menarik dalam penyajian musik. Akibatnya banyak gereja yang pada akhirnya mempermasalahkan alat musik yang terbatas. Padahal sebenarnya yang lebih penting adalah perbaikan dan pemaknaan yang lebih dalam lagi mengenai ibadah itu sendiri. Salah satu contoh perbaikan yang menurut saya penting dan genting adalah, bagaimana jemaat dapat menyanyikan nyanyian yang telah ada secara benar dan tepat.
      Ibadah Permata sekalipun, akan memiliki nuansa yang berbeda dan berjiwa pemuda yang penuh semangat, jika pemaknaan dan permainannya yang tepat. Saya rasa tidak ada larangan untuk menggubah (mengaransemen) lagu baik dari KEE atau PEE agar sesuai dengan jiwa kepemudaan. Atau sangat mungkin bagi kita untuk memasukkan unsur-unsur etnis Karo ke dalam ibadah, selain untuk mengingat bahwa kita ini adalah orang Karo, juga sebagai pengadaan sebuah nuansa yang baru dalam ibadah kita. Bukannya justru lari kepada jenis ibadah yang tidak hanya semakin menjauhkan kita dari budaya sendiri, namun juga tidak bermakna sama sekali. Pada akhirnya, hal yang perlu dan teramat sangat penting untuk kita sadari adalah, bahwa kita ini Gereja Batak Karo Protestan yang beraliran Calvinis dan yang memiliki keteraturan dalam hal liturginya. Marilah kita belajar untuk memaknai liturgi dan ibadah yang kita adakan serta bagaimana ibadah itu dapat dilangsungkan secara benar dan tepat, sesuai dengan iman dan aliran gereja kita.
      oleh: Sry Sulastri Ginting (Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)




      Berselancar lebih cepat.
      Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
    • Hendri Sembiring
      Aku sependapat ras srytiang karo kerna Tata ibadah ibas gerenanta entah pe kerna liturgi situhuna enggo melala kal bentuk liturgi simbaru ibas Buku liturginta.
      Message 2 of 25 , Apr 30, 2009
        Aku sependapat ras srytiang karo kerna Tata ibadah ibas gerenanta entah pe kerna liturgi situhuna enggo melala kal bentuk liturgi simbaru ibas Buku liturginta. Engkai maka russur tabehen siakap bentu ras model gulen kalak asa rumahta,bali ras anak-anak tabehen akapna rumah kalak man asa rumahna sendiri. Adi soal lagu,lagu kai pe labo dalih endeken sipenting nen lagu e kuja tujuken.Lagunta sendiri genduari enggo lit 212+130 lagu jadi enggo lit jumlahna 342 lagu siman pilihen,ras bentuk liturginta pe genduari enggo melala macamna si pedarat Moderamen. Emaka sitimai ka pagi perubahen ibas Siadng Sinode sireh ibas tahun 2010 pagi.,sebab adi la sesuai ras liturgi si enggo itetapken moderamen maka kai silakuken kita e enggo bertentangen ras aturan silit iba s Gerejanta GBKP.

        --- Pada Kam, 30/4/09, sryting_karo <sryting_karo@...> menulis:

        > Dari: sryting_karo <sryting_karo@...>
        > Topik: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
        > Kepada: gbkp@yahoogroups.com
        > Tanggal: Kamis, 30 April, 2009, 1:03 PM
        > Ada Apa Dengan Liturgi GBKP
        >
        > Pada beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk
        > menghadiri ibadah paskah Permata GBKP Klasis
        > Jakarta-Palembang, yang diadakan di gedung GBKP Jakarta
        > Pusat. Ibadah yang rencananya diadakan pada pukul 17.00 wib
        > molor menjadi pukul 17.30 wib. Pada awalnya saya yakin bahwa
        > ibadahnya pasti akan berbeda karena toh ini merupakan ibadah
        > untuk orang-orang muda dan biasanya memang ibadah untuk
        > pemuda memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, betapa
        > terkejutnya saya menyaksikan ibadah pada saat itu "hancur"
        > jika dilihat melalui kacamata liturgi. Betapa tidak, ibadah
        > Paskah Permata GBKP Jakarta-Palembang dilangsungkan menurut
        > ritual yang biasa terjadi pada gereja-gereja karismatik.
        > Tidak hanya dari cara pemimpin pujian yang berlari-lari
        > pada saat bernyanyi, saya juga sangat gamang melihat
        > bagaimana mungkin dalam ibadah itu, hanya ada satu lagu yang
        > berasal dari Penambahen Ende-Enden (PEE). Selebihnya adalah
        > lagu-lagu rohani kontemporer yang   
        >    -maaf- sangat miskin maknanya. Lagu-lagu
        > tersebut memang begitu populer, karena selain pemasarannya
        > yang bagus juga hanya karena musiknya yang menarik. Sungguh,
        > saya sangat sedih dan kecewa melihat ibadah GBKP
        > diobrak-abrik dengan cara demikian.
        > Keterkejutan saya pun masih berlanjut saat Nande i kuta
        > bercerita bahwa ibadah HUT permata yang ia hadiri juga
        > dilangsungkan selayaknya ibadah gereja karismatik. Bahkan
        > saya sangat sedih ketika saya menyatakan keterkejutan saya
        > kepada Nande dan dia justru menjawab, "mungkin ntah kita kin
        > enggo ketadingan nakwe, ntah enggo kin bage gundari adi
        > ibadah Permata?", katanya. Saya menyadari bahwa liturgi GBKP
        > yang saya cintai itu telah sedemikian gawatnya, karena telah
        > dipreteli oleh unsur-unsur ibadah gereja karismatik.
        > Bukannya saya tidak peka terhadap kebutuhan jiwa pemuda
        > yang memang membutuhkan segala sesuatunya berbeda, termasuk
        > dalam hal penyelenggaraan ibadah, saya juga merupakan
        > seorang pemuda. Atau saya bukannya tidak mau mengakui bahwa,
        > liturgi di GBKP yang saya cintai ini memang terasa kering
        > dan bahkan di beberapa majelis (runggun) terkesan tidak
        > bermakna. Atau saya yang anti terhadap gerakan Karismatik,
        > sama sekali bukan. Melainkan saya hanya mau mengatakan
        > bahwa, memilih untuk menyelenggarakan ibadah ala konser
        > musik "band Peterpan" bukanlah pilihan yang tepat.
        > Ibadah yang dilangsungkan (dalam rangka apapun itu) oleh
        > gereja, merupakan hubungan yang paling intim antara gereja
        > dan umat. Pada saat itulah gereja secara nyata membuat
        > jemaat berhubungan dengan Allah. Lalu, bagaimana mungkin
        > ibadah kepada Allah dimain-mainkan oleh hal-hal yang tidak
        > memiliki makna. Seperti berteriak-teriak tidak jelas, atau
        > melompat-lompat layaknya menyaksikan bintang pujaannnya
        > sedang bernyanyi atau ketika air mata dikeluarkan bukan
        > karena penghayatan terhadap makna sebuah ibadah, namun
        > semata-mata karena lirik lagu yang menyayat hati.
        > Saya setuju untuk sebuah perubahan liturgi GBKP yang pada
        > akhirnya tentu membawa perubahan pada nuansa ibadah GBKP itu
        > sendiri. Akan tetapi, perubahan itu bukan tanpa penelitian
        > dan pencarian makna yang lebih dalam lagi, mengenai tema
        > ibadah (hari raya liturgi) tersebut. Karena tanpa itu semua,
        > kita pasti akan terjebak pada alternatif yang lain, yang
        > hanya lebih menarik dalam penyajian musik. Akibatnya banyak
        > gereja yang pada akhirnya mempermasalahkan alat musik yang
        > terbatas. Padahal sebenarnya yang lebih penting adalah
        > perbaikan dan pemaknaan yang lebih dalam lagi mengenai
        > ibadah itu sendiri. Salah satu contoh perbaikan yang menurut
        > saya penting dan genting adalah, bagaimana jemaat dapat
        > menyanyikan nyanyian yang telah ada secara benar dan tepat.
        >
        > Ibadah Permata sekalipun, akan memiliki nuansa yang berbeda
        > dan berjiwa pemuda yang penuh semangat, jika pemaknaan dan
        > permainannya yang tepat. Saya rasa tidak ada larangan untuk
        > menggubah (mengaransemen) lagu baik dari KEE atau PEE agar
        > sesuai dengan jiwa kepemudaan. Atau sangat mungkin bagi kita
        > untuk memasukkan unsur-unsur etnis Karo ke dalam ibadah,
        > selain untuk mengingat bahwa kita ini adalah orang Karo,
        > juga sebagai pengadaan sebuah nuansa yang baru dalam ibadah
        > kita. Bukannya justru lari kepada jenis ibadah yang tidak
        > hanya semakin menjauhkan kita dari budaya sendiri, namun
        > juga tidak bermakna sama sekali. Pada akhirnya, hal yang
        > perlu dan teramat sangat penting untuk kita sadari adalah,
        > bahwa kita ini Gereja Batak Karo Protestan yang beraliran
        > Calvinis dan yang memiliki keteraturan dalam hal liturginya.
        > Marilah kita belajar untuk memaknai liturgi dan ibadah yang
        > kita adakan serta bagaimana ibadah itu dapat dilangsungkan
        > secara benar dan tepat, sesuai dengan iman dan aliran gereja
        > kita.   
        > oleh: Sry Sulastri Ginting (Mahasiswa Sekolah Tinggi
        > Teologi Jakarta)     
        >    
        >
        >
        >
        >
        > ------------------------------------
        >
        > Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com
        > Yahoo! Groups Links
        >
        >
        >     mailto:gbkp-fullfeatured@yahoogroups.com
        >
        >
        >


        Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
        http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
      • haryanto bode
        Syalom MJJ, Hem, begitulah ternyata, padahal dengan kembali kehati kita masing-masing kita dapat bertemu dengan Tuhan dan memuliakanNya. Luar biasa
        Message 3 of 25 , May 1, 2009
          Syalom MJJ,
           
          Hem, begitulah ternyata, padahal dengan kembali kehati kita masing-masing kita dapat bertemu dengan Tuhan dan memuliakanNya. Luar biasa perkembangan anak muda permata belakangan ini. Semoga saja segera mendapat bimbingan yang baik dan benar. Paling tidak harus di evaluasilah supaya jangan kebablasan.
           
          Konser musik rohani ala peter pan, wihh, luar biasa. Sampai lari-lari lagi, kebayang seperti Mc Jagger  menyanyikan lagu puji-pujian untuk Tuhan.  Fenomena itu seperti mencontoh atau seperti mencari alternatif atau ingin mencoba sesuatu yang baru?
          Harus ada evaluasi dan bimbingan, minimal harus mengenal standar GBKP sebagai gereja Karo, lalu kemana arah ekspansinya.
           

          Visit God spirit just let your soul redeem to your heart.

           

          BHT, Tw


           


          From: simson gintings <uncleiting2002@...>
          To: gbkp@yahoogroups.com
          Cc: permata-gbkp@yahoogroups.com
          Sent: Thursday, April 30, 2009 10:58:00 PM
          Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

          Kalau  liturgi spt yg dilakukan oleh Permata itu karena terpengaruh "mode",  alangkah menyedihkannya. Tapi lalau mereka melakukannya karena dilandasi oleh penghayatan, itu juga menyedihkan, karena dilakukan di lingkungan GBKP. Sangat patut apabila runggun gereja dan klasis melakukan sesuatu. Ada sesuatu yg serius yg perlu diluruskan (secara arif dan bijaksana tentunya).
           
          Kecuali kalau hal-hal seperti apa yg diceritakan oleh adik Sry Sulastri ini dianggap tidak jadi soal atau bisa ditolerir.
           
          Setahu saya, liturgi mencerminkan dogmatika yg dianut satu gereja. Jadi tidak bisa diubah atau disusun secara sembarangan. Begitu juga dlm menyampaikan khotbah, tidak boleh diundang hamba Tuhan (pendeta) yg pandangan teologianya berbeda dgn yg dianut oleh GBKP.
           
           
          sg
           

          --- On Thu, 4/30/09, sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com> wrote:
          From: sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com>
          Subject: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
          To: gbkp@yahoogroups. com
          Date: Thursday, April 30, 2009, 8:03 PM

          Ada Apa Dengan Liturgi GBKP

          Pada beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri ibadah paskah Permata GBKP Klasis Jakarta-Palembang, yang diadakan di gedung GBKP Jakarta Pusat. Ibadah yang rencananya diadakan pada pukul 17.00 wib molor menjadi pukul 17.30 wib. Pada awalnya saya yakin bahwa ibadahnya pasti akan berbeda karena toh ini merupakan ibadah untuk orang-orang muda dan biasanya memang ibadah untuk pemuda memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya saya menyaksikan ibadah pada saat itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Betapa tidak, ibadah Paskah Permata GBKP Jakarta-Palembang dilangsungkan menurut ritual yang biasa terjadi pada gereja-gereja karismatik.
          Tidak hanya dari cara pemimpin pujian yang berlari-lari pada saat bernyanyi, saya juga sangat gamang melihat bagaimana mungkin dalam ibadah itu, hanya ada satu lagu yang berasal dari Penambahen Ende-Enden (PEE). Selebihnya adalah lagu-lagu rohani kontemporer yang -maaf- sangat miskin maknanya. Lagu-lagu tersebut memang begitu populer, karena selain pemasarannya yang bagus juga hanya karena musiknya yang menarik. Sungguh, saya sangat sedih dan kecewa melihat ibadah GBKP diobrak-abrik dengan cara demikian.
          Keterkejutan saya pun masih berlanjut saat Nande i kuta bercerita bahwa ibadah HUT permata yang ia hadiri juga dilangsungkan selayaknya ibadah gereja karismatik. Bahkan saya sangat sedih ketika saya menyatakan keterkejutan saya kepada Nande dan dia justru menjawab, "mungkin ntah kita kin enggo ketadingan nakwe, ntah enggo kin bage gundari adi ibadah Permata?", katanya. Saya menyadari bahwa liturgi GBKP yang saya cintai itu telah sedemikian gawatnya, karena telah dipreteli oleh unsur-unsur ibadah gereja karismatik.
          Bukannya saya tidak peka terhadap kebutuhan jiwa pemuda yang memang membutuhkan segala sesuatunya berbeda, termasuk dalam hal penyelenggaraan ibadah, saya juga merupakan seorang pemuda. Atau saya bukannya tidak mau mengakui bahwa, liturgi di GBKP yang saya cintai ini memang terasa kering dan bahkan di beberapa majelis (runggun) terkesan tidak bermakna. Atau saya yang anti terhadap gerakan Karismatik, sama sekali bukan. Melainkan saya hanya mau mengatakan bahwa, memilih untuk menyelenggarakan ibadah ala konser musik "band Peterpan" bukanlah pilihan yang tepat.
          Ibadah yang dilangsungkan (dalam rangka apapun itu) oleh gereja, merupakan hubungan yang paling intim antara gereja dan umat. Pada saat itulah gereja secara nyata membuat jemaat berhubungan dengan Allah. Lalu, bagaimana mungkin ibadah kepada Allah dimain-mainkan oleh hal-hal yang tidak memiliki makna. Seperti berteriak-teriak tidak jelas, atau melompat-lompat layaknya menyaksikan bintang pujaannnya sedang bernyanyi atau ketika air mata dikeluarkan bukan karena penghayatan terhadap makna sebuah ibadah, namun semata-mata karena lirik lagu yang menyayat hati.
          Saya setuju untuk sebuah perubahan liturgi GBKP yang pada akhirnya tentu membawa perubahan pada nuansa ibadah GBKP itu sendiri. Akan tetapi, perubahan itu bukan tanpa penelitian dan pencarian makna yang lebih dalam lagi, mengenai tema ibadah (hari raya liturgi) tersebut. Karena tanpa itu semua, kita pasti akan terjebak pada alternatif yang lain, yang hanya lebih menarik dalam penyajian musik. Akibatnya banyak gereja yang pada akhirnya mempermasalahkan alat musik yang terbatas. Padahal sebenarnya yang lebih penting adalah perbaikan dan pemaknaan yang lebih dalam lagi mengenai ibadah itu sendiri. Salah satu contoh perbaikan yang menurut saya penting dan genting adalah, bagaimana jemaat dapat menyanyikan nyanyian yang telah ada secara benar dan tepat.
          Ibadah Permata sekalipun, akan memiliki nuansa yang berbeda dan berjiwa pemuda yang penuh semangat, jika pemaknaan dan permainannya yang tepat. Saya rasa tidak ada larangan untuk menggubah (mengaransemen) lagu baik dari KEE atau PEE agar sesuai dengan jiwa kepemudaan. Atau sangat mungkin bagi kita untuk memasukkan unsur-unsur etnis Karo ke dalam ibadah, selain untuk mengingat bahwa kita ini adalah orang Karo, juga sebagai pengadaan sebuah nuansa yang baru dalam ibadah kita. Bukannya justru lari kepada jenis ibadah yang tidak hanya semakin menjauhkan kita dari budaya sendiri, namun juga tidak bermakna sama sekali. Pada akhirnya, hal yang perlu dan teramat sangat penting untuk kita sadari adalah, bahwa kita ini Gereja Batak Karo Protestan yang beraliran Calvinis dan yang memiliki keteraturan dalam hal liturginya. Marilah kita belajar untuk memaknai liturgi dan ibadah yang kita adakan serta bagaimana ibadah itu dapat dilangsungkan secara benar dan tepat, sesuai dengan iman dan aliran gereja kita.
          oleh: Sry Sulastri Ginting (Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)




        • Jimmi
          Jadi ingin bertanya, ada kah ruang di gbkp untuk sesuatu yang berbeda? Ataukah semua harus sama seperti yang terdahulu? sama liturginya, sama nyanyiannya, sama
          Message 4 of 25 , May 1, 2009
            Jadi ingin bertanya, ada kah ruang di gbkp untuk sesuatu yang berbeda?

            Ataukah semua harus sama seperti yang terdahulu? sama liturginya, sama nyanyiannya, sama gedungnya, sama pendetanya bahkan sama jumlah jemaatnya?

            Mungkinkah hanya anak-anak Tuhan yang penganut status quo yang boleh di gbkp?

            Ah, andai dunia ini dipenuhi oleh orang-orang penganut status quo, bukankah  tidak akan ada gbkp? bukankah tidak akan ada karismatik? bukankah tidak akan ada protestan? bukan kah tidak akan ada aliran-aliran kristen apa pun?

            Ah, andai petrus, yohanes, yakobus, paulus penganut status quo, siapa kah yang akan menyebarkan injil?

            Mari bersyukur karena ada orang-orang yang berani berubah dan membawa perubahan, karena tanpa mereka kita tidak bisa ada di gbkp  sekarang ini.

            salam
            ~jimmi

          • haryanto bode
            See what Love God has given us By Rev. John Crocker (bagian dari Khotbah di TICC)   Kasih Tuhan terbesar yang di anugerahkannya kepada kita adalah kita
            Message 5 of 25 , May 1, 2009

              See what Love God has given us

              By Rev. John Crocker (bagian dari Khotbah di TICC)

               

              Kasih Tuhan terbesar yang di anugerahkannya kepada kita adalah kita menjadi anak-anak Tuhan. Tuhan memberikan itu semua di dalam Yesus Kristus. Tuhan di dalam Yesus telah memberikan contoh kepada kita bagaimana manusia boleh disucikan dan menjadi sama seperti Yesus. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci. Ia menghapus segala dosa kita. Setiap orang yang tetap berada di dalam Dia tidak berbuat dosa lagi. Siapa yang melakukan kebenaran adalah benar, sama seperti Yesus adalah benar. (1 John 3 1-7). God children are born in spiritual way in the name of Jesus.

              Bagaimanakah kita dapat menjadi anak Tuhan? Yaitu: Bertobat dan percaya di dalam Yesus yang melakukan semua itu untuk kita di dalam 1 John 3 1-7. Kasih Tuhan diberikan percuma kepada setiap manusia yang membuka hatinya menerima Nya di dalam hidupnya. Kasih yang diberikan itu bukan hanya dapat dimiliki namun juga dapat diberikan kepada siapa saja di dalam nama Yesus Kristus.  Love of God is something if you give it away, you will get more.

              Kasih Tuhan di dalam Simon Petrus berubah menjadi kekuatan dimana ia dapat menyembuhkan orang yang sakit di dalam Yesus Kristus. Kasih Tuhan telah mengubah Saulus menjadi Paulus seorang yang handal dan mengasihi Tuhan. Kasih Tuhan telah menjadikan murid-murid menyampaikan kabar kemuliaan Tuhan. Kasih Tuhan telah mengerakan orang percaya untuk menolong mereka yang menjadi korban bencana alam, peperangan dan lainnya. Kasih Tuhan memberikan persekutuan (gereja) yang diharapkan dapat mengubah sekelompok orang (society) bahkan negara (nation) untuk bumi yang lebih baik Etc.

               

              Kasih Yesus apakah telah mengubah anda?   

              Love of God to challenge and to transform.  

              Love of God comes even from our smile.

               

              Sebagian yang sempat tertulis.

              BHT, Tw



            • Eethore
              Tapi tidak bisa dipungkiri, orang-orang tertentu menganggap hal ini merupakan kemajuan dalam GBKP lo?Dan orang-orang tertentu juga menganggap hal ini merupakan
              Message 6 of 25 , May 1, 2009
                Tapi tidak bisa dipungkiri, orang-orang tertentu menganggap hal ini merupakan kemajuan dalam GBKP lo?
                Dan orang-orang tertentu juga menganggap hal ini merupakan kemerosotan dalam hal beribadah di GBKP. 
                Yang mana yang benar?

                Cara kita melihat aliran tertentu (seperti kharismatik) juga perlu ditelaah lagi. 
                Di postingan pertama, ada kalimat seolah-olah mendiskreditkan lagu-lagu ala 'kharismatik' dengan menyebutnya tidak mengandung makna yang dalam, dll. Padahal begitu banyak orang-orang yang juga anak Tuhan terberkati sekali dengan lagu-lagu yang dibilang 'tidak mengandung makna dalam' tersebut. 
                Jangan-jangan, orang-orang di luar kita (calvinis) juga akan menghakimi dengan cara yang sama seperti "lagu-lagu di kidung jemaat dan kitab enden-enden tidak ada kandungan rohani-nya, tidak bisa menggerakkan Roh Kudus". Hehe, jadi apa bedanya orang gbkp dengan yang lain kalau begitu?

                Bukankah "semua yang baik, yang mulia, yang berkenan di hadapan Tuhan, pikirkanlah semuanya itu" ?


                -eethore-
                suka denger lagu-lagu GMB, Hillsongs, dan TW. 



                2009/5/1 haryanto bode <edobtrg@...>


                Syalom MJJ,
                 
                Hem, begitulah ternyata, padahal dengan kembali kehati kita masing-masing kita dapat bertemu dengan Tuhan dan memuliakanNya. Luar biasa perkembangan anak muda permata belakangan ini. Semoga saja segera mendapat bimbingan yang baik dan benar. Paling tidak harus di evaluasilah supaya jangan kebablasan.
                 
                Konser musik rohani ala peter pan, wihh, luar biasa. Sampai lari-lari lagi, kebayang seperti Mc Jagger  menyanyikan lagu puji-pujian untuk Tuhan.  Fenomena itu seperti mencontoh atau seperti mencari alternatif atau ingin mencoba sesuatu yang baru?
                Harus ada evaluasi dan bimbingan, minimal harus mengenal standar GBKP sebagai gereja Karo, lalu kemana arah ekspansinya.
                 

                Visit God spirit just let your soul redeem to your heart.

                 

                BHT, Tw


                 


                From: simson gintings <uncleiting2002@...>
                Sent: Thursday, April 30, 2009 10:58:00 PM
                Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                Kalau  liturgi spt yg dilakukan oleh Permata itu karena terpengaruh "mode",  alangkah menyedihkannya. Tapi lalau mereka melakukannya karena dilandasi oleh penghayatan, itu juga menyedihkan, karena dilakukan di lingkungan GBKP. Sangat patut apabila runggun gereja dan klasis melakukan sesuatu. Ada sesuatu yg serius yg perlu diluruskan (secara arif dan bijaksana tentunya).
                 
                Kecuali kalau hal-hal seperti apa yg diceritakan oleh adik Sry Sulastri ini dianggap tidak jadi soal atau bisa ditolerir.
                 
                Setahu saya, liturgi mencerminkan dogmatika yg dianut satu gereja. Jadi tidak bisa diubah atau disusun secara sembarangan. Begitu juga dlm menyampaikan khotbah, tidak boleh diundang hamba Tuhan (pendeta) yg pandangan teologianya berbeda dgn yg dianut oleh GBKP.
                 
                 
                sg
                 

                --- On Thu, 4/30/09, sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com> wrote:
                From: sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com>
                Subject: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
                To: gbkp@yahoogroups. com
                Date: Thursday, April 30, 2009, 8:03 PM

                Ada Apa Dengan Liturgi GBKP

                Pada beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri ibadah paskah Permata GBKP Klasis Jakarta-Palembang, yang diadakan di gedung GBKP Jakarta Pusat. Ibadah yang rencananya diadakan pada pukul 17.00 wib molor menjadi pukul 17.30 wib. Pada awalnya saya yakin bahwa ibadahnya pasti akan berbeda karena toh ini merupakan ibadah untuk orang-orang muda dan biasanya memang ibadah untuk pemuda memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya saya menyaksikan ibadah pada saat itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Betapa tidak, ibadah Paskah Permata GBKP Jakarta-Palembang dilangsungkan menurut ritual yang biasa terjadi pada gereja-gereja karismatik.
                Tidak hanya dari cara pemimpin pujian yang berlari-lari pada saat bernyanyi, saya juga sangat gamang melihat bagaimana mungkin dalam ibadah itu, hanya ada satu lagu yang berasal dari Penambahen Ende-Enden (PEE). Selebihnya adalah lagu-lagu rohani kontemporer yang -maaf- sangat miskin maknanya. Lagu-lagu tersebut memang begitu populer, karena selain pemasarannya yang bagus juga hanya karena musiknya yang menarik. Sungguh, saya sangat sedih dan kecewa melihat ibadah GBKP diobrak-abrik dengan cara demikian.
                Keterkejutan saya pun masih berlanjut saat Nande i kuta bercerita bahwa ibadah HUT permata yang ia hadiri juga dilangsungkan selayaknya ibadah gereja karismatik. Bahkan saya sangat sedih ketika saya menyatakan keterkejutan saya kepada Nande dan dia justru menjawab, "mungkin ntah kita kin enggo ketadingan nakwe, ntah enggo kin bage gundari adi ibadah Permata?", katanya. Saya menyadari bahwa liturgi GBKP yang saya cintai itu telah sedemikian gawatnya, karena telah dipreteli oleh unsur-unsur ibadah gereja karismatik.
                Bukannya saya tidak peka terhadap kebutuhan jiwa pemuda yang memang membutuhkan segala sesuatunya berbeda, termasuk dalam hal penyelenggaraan ibadah, saya juga merupakan seorang pemuda. Atau saya bukannya tidak mau mengakui bahwa, liturgi di GBKP yang saya cintai ini memang terasa kering dan bahkan di beberapa majelis (runggun) terkesan tidak bermakna. Atau saya yang anti terhadap gerakan Karismatik, sama sekali bukan. Melainkan saya hanya mau mengatakan bahwa, memilih untuk menyelenggarakan ibadah ala konser musik "band Peterpan" bukanlah pilihan yang tepat.
                Ibadah yang dilangsungkan (dalam rangka apapun itu) oleh gereja, merupakan hubungan yang paling intim antara gereja dan umat. Pada saat itulah gereja secara nyata membuat jemaat berhubungan dengan Allah. Lalu, bagaimana mungkin ibadah kepada Allah dimain-mainkan oleh hal-hal yang tidak memiliki makna. Seperti berteriak-teriak tidak jelas, atau melompat-lompat layaknya menyaksikan bintang pujaannnya sedang bernyanyi atau ketika air mata dikeluarkan bukan karena penghayatan terhadap makna sebuah ibadah, namun semata-mata karena lirik lagu yang menyayat hati.
                Saya setuju untuk sebuah perubahan liturgi GBKP yang pada akhirnya tentu membawa perubahan pada nuansa ibadah GBKP itu sendiri. Akan tetapi, perubahan itu bukan tanpa penelitian dan pencarian makna yang lebih dalam lagi, mengenai tema ibadah (hari raya liturgi) tersebut. Karena tanpa itu semua, kita pasti akan terjebak pada alternatif yang lain, yang hanya lebih menarik dalam penyajian musik. Akibatnya banyak gereja yang pada akhirnya mempermasalahkan alat musik yang terbatas. Padahal sebenarnya yang lebih penting adalah perbaikan dan pemaknaan yang lebih dalam lagi mengenai ibadah itu sendiri. Salah satu contoh perbaikan yang menurut saya penting dan genting adalah, bagaimana jemaat dapat menyanyikan nyanyian yang telah ada secara benar dan tepat.
                Ibadah Permata sekalipun, akan memiliki nuansa yang berbeda dan berjiwa pemuda yang penuh semangat, jika pemaknaan dan permainannya yang tepat. Saya rasa tidak ada larangan untuk menggubah (mengaransemen) lagu baik dari KEE atau PEE agar sesuai dengan jiwa kepemudaan. Atau sangat mungkin bagi kita untuk memasukkan unsur-unsur etnis Karo ke dalam ibadah, selain untuk mengingat bahwa kita ini adalah orang Karo, juga sebagai pengadaan sebuah nuansa yang baru dalam ibadah kita. Bukannya justru lari kepada jenis ibadah yang tidak hanya semakin menjauhkan kita dari budaya sendiri, namun juga tidak bermakna sama sekali. Pada akhirnya, hal yang perlu dan teramat sangat penting untuk kita sadari adalah, bahwa kita ini Gereja Batak Karo Protestan yang beraliran Calvinis dan yang memiliki keteraturan dalam hal liturginya. Marilah kita belajar untuk memaknai liturgi dan ibadah yang kita adakan serta bagaimana ibadah itu dapat dilangsungkan secara benar dan tepat, sesuai dengan iman dan aliran gereja kita.
                oleh: Sry Sulastri Ginting (Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)







                --
                www.eethore.com
                ::faith is seeing the unseen, believing what others not::
              • sryting_karo
                Bukannya status quo teman..., tapi bagenda. pertama, sebagai penganut aliran calvinis. Kedua, sebagai sebuah gereja arus utama dan ketiga (yang lebih penting
                Message 7 of 25 , May 1, 2009
                  Bukannya status quo teman..., tapi bagenda.
                  pertama, sebagai penganut aliran calvinis. Kedua, sebagai sebuah gereja arus utama dan ketiga (yang lebih penting lagi), sebagai umat yang menyelenggarakan ibadah untuk bersyukur kepada Tuhan, Pantaskah kita melakukan perubahan tanpa mengenali siapa kita?? Atau, pantaskah kita berubah hanya demi tuntutan zaman tanpa memerdulikan makna teologis dari sebuah ibadah -liturgi-?
                  Justru kita harus berubah.
                  Justru karena kita harus berubah, maka kita harus belajar untuk berubah, bukan mengganti total. Karena perubahan adalah penggalian makna yang lebih mendalam lagi pada apa yang telah kita miliki.
                  Mari berubah karena dari awal kita layak dan sudah waktunya untuk berubah.
                • Ginting, Juspri
                  Mejuah-juah.. Ketika aku membaca postingan turangku calon sarjana teologia tsb yang langsung muncul di benakku adalah sedih melihat masa depan gbkp ada di
                  Message 8 of 25 , May 1, 2009

                    Mejuah-juah..

                     

                    Ketika aku membaca postingan turangku calon sarjana teologia tsb yang langsung muncul di benakku  adalah sedih melihat masa depan gbkp ada di ‘tangan’

                    calon ‘pemimpin’ seperti turangku tsb L.

                    Luaskanlah wawasan kita sehingga kita tidak jadi seperti katak dibawah tempurung, yang merasa apapun di kita ini benar semata dan ‘aliran’ lain salah.

                    Itu sama saja dengan cerita2 yg kita dengar bahwa teman2 karismatik mengatakan di gereja tradisional tidak ada Roh Kudus.

                    Kita tidak perlu marah atau emosi, mengapa? karena jangan sampai iblis ambil kesempatan di celah2 kecil yg timbul karena emosi kita. Sehingga kita membenci saudara kita yang juga percaya bahwa Yesus lah juruslamat.

                     

                    Pertanyaan nakalnya seperti ini’

                    mengapa landek bisa di gereja tapi menari2 untuk memuji Tuhan seolah2 salah, padahal mazmur ‘bercerita’ tentang tarian dan pujian buat Tuhan.

                    mana yang kita pegang.

                    Tapi kita juga tidak perlu heran dengan paradigma seperti turangku tsb, mengapa?

                    GBKP bervisi pada 2 hal :

                    1. Kerohanian

                    2. Kekaroan (liat visi GBKP), maaf jika salah

                    Padahal PB bilang, tidak mungkin memiliki 2 tuan (walaupun ‘melestarikan budaya karo’ bukanlah salah)

                     

                    Pertanyaan nakal lainnya,

                    Buatlah penelitian tentang pengaruh liturgi karo vs liturgi versi karismatik terhadap pertumbuhan iman.

                    Trus, bagaimana mengukur pertumbuhan iman?

                     

                    ‘setau’ ku GBKP ‘mengukur’ pertumbuhan iman jemaat/runggun (bukan perorangan) dari tren pertumbuhan persembahan.

                    dan kalau mau  cara paling ‘gampang’ untuk mengukur ‘keberhasilan’ pelayanan pendeta di sebuah runggun, yaaaa…dengan cara ini juga

                     

                    Itu dulu aaah, ada janji lagi nih J and have a nice weekend (sedikit penggunaan bahasa karo-nya, apa iman ku pasti lebih ‘rendah’ dari orang2 yang postingannya menggunakan bahasa karo…hahahaaaa)

                     

                    GBu

                     

                     

                    From: gbkp@yahoogroups.com [mailto:gbkp@yahoogroups.com] On Behalf Of Eethore
                    Sent: 2009 May 01 4:41 PM
                    To: gbkp@yahoogroups.com; Permata
                    Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                     




                    Tapi tidak bisa dipungkiri, orang-orang tertentu menganggap hal ini merupakan kemajuan dalam GBKP lo?

                    Dan orang-orang tertentu juga menganggap hal ini merupakan kemerosotan dalam hal beribadah di GBKP. 

                    Yang mana yang benar?

                     

                    Cara kita melihat aliran tertentu (seperti kharismatik) juga perlu ditelaah lagi. 

                    Di postingan pertama, ada kalimat seolah-olah mendiskreditkan lagu-lagu ala 'kharismatik' dengan menyebutnya tidak mengandung makna yang dalam, dll. Padahal begitu banyak orang-orang yang juga anak Tuhan terberkati sekali dengan lagu-lagu yang dibilang 'tidak mengandung makna dalam' tersebut. 

                    Jangan-jangan, orang-orang di luar kita (calvinis) juga akan menghakimi dengan cara yang sama seperti "lagu-lagu di kidung jemaat dan kitab enden-enden tidak ada kandungan rohani-nya, tidak bisa menggerakkan Roh Kudus". Hehe, jadi apa bedanya orang gbkp dengan yang lain kalau begitu?

                     

                    Bukankah "semua yang baik, yang mulia, yang berkenan di hadapan Tuhan, pikirkanlah semuanya itu" ?

                     

                     

                    -eethore-

                    suka denger lagu-lagu GMB, Hillsongs, dan TW. 

                     

                     

                     

                    2009/5/1 haryanto bode <edobtrg@...>

                     

                    Syalom MJJ,

                     

                    Hem, begitulah ternyata, padahal dengan kembali kehati kita masing-masing kita dapat bertemu dengan Tuhan dan memuliakanNya. Luar biasa perkembangan anak muda permata belakangan ini. Semoga saja segera mendapat bimbingan yang baik dan benar. Paling tidak harus di evaluasilah supaya jangan kebablasan.

                     

                    Konser musik rohani ala peter pan, wihh, luar biasa. Sampai lari-lari lagi, kebayang seperti Mc Jagger  menyanyikan lagu puji-pujian untuk Tuhan.  Fenomena itu seperti mencontoh atau seperti mencari alternatif atau ingin mencoba sesuatu yang baru?

                    Harus ada evaluasi dan bimbingan, minimal harus mengenal standar GBKP sebagai gereja Karo, lalu kemana arah ekspansinya.

                     

                    Visit God spirit just let your soul redeem to your heart.

                     

                    BHT, Tw


                     

                     


                    From: simson gintings <uncleiting2002@...>

                    Sent: Thursday, April 30, 2009 10:58:00 PM
                    Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                     

                    Kalau  liturgi spt yg dilakukan oleh Permata itu karena terpengaruh "mode",  alangkah menyedihkannya. Tapi lalau mereka melakukannya karena dilandasi oleh penghayatan, itu juga menyedihkan, karena dilakukan di lingkungan GBKP. Sangat patut apabila runggun gereja dan klasis melakukan sesuatu. Ada sesuatu yg serius yg perlu diluruskan (secara arif dan bijaksana tentunya).

                     

                    Kecuali kalau hal-hal seperti apa yg diceritakan oleh adik Sry Sulastri ini dianggap tidak jadi soal atau bisa ditolerir.

                     

                    Setahu saya, liturgi mencerminkan dogmatika yg dianut satu gereja. Jadi tidak bisa diubah atau disusun secara sembarangan. Begitu juga dlm menyampaikan khotbah, tidak boleh diundang hamba Tuhan (pendeta) yg pandangan teologianya berbeda dgn yg dianut oleh GBKP.

                     

                     

                    sg

                     


                    --- On Thu, 4/30/09, sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com> wrote:

                    From: sryting_karo <sryting_karo@ yahoo.com>
                    Subject: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
                    To: gbkp@yahoogroups. com
                    Date: Thursday, April 30, 2009, 8:03 PM

                    Ada Apa Dengan Liturgi GBKP

                    Pada beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri ibadah paskah Permata GBKP Klasis Jakarta-Palembang, yang diadakan di gedung GBKP Jakarta Pusat. Ibadah yang rencananya diadakan pada pukul 17.00 wib molor menjadi pukul 17.30 wib. Pada awalnya saya yakin bahwa ibadahnya pasti akan berbeda karena toh ini merupakan ibadah untuk orang-orang muda dan biasanya memang ibadah untuk pemuda memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya saya menyaksikan ibadah pada saat itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Betapa tidak, ibadah Paskah Permata GBKP Jakarta-Palembang dilangsungkan menurut ritual yang biasa terjadi pada gereja-gereja karismatik.
                    Tidak hanya dari cara pemimpin pujian yang berlari-lari pada saat bernyanyi, saya juga sangat gamang melihat bagaimana mungkin dalam ibadah itu, hanya ada satu lagu yang berasal dari Penambahen Ende-Enden (PEE). Selebihnya adalah lagu-lagu rohani kontemporer yang -maaf- sangat miskin maknanya. Lagu-lagu tersebut memang begitu populer, karena selain pemasarannya yang bagus juga hanya karena musiknya yang menarik. Sungguh, saya sangat sedih dan kecewa melihat ibadah GBKP diobrak-abrik dengan cara demikian.
                    Keterkejutan saya pun masih berlanjut saat Nande i kuta bercerita bahwa ibadah HUT permata yang ia hadiri juga dilangsungkan selayaknya ibadah gereja karismatik. Bahkan saya sangat sedih ketika saya menyatakan keterkejutan saya kepada Nande dan dia justru menjawab, "mungkin ntah kita kin enggo ketadingan nakwe, ntah enggo kin bage gundari adi ibadah Permata?", katanya. Saya menyadari bahwa liturgi GBKP yang saya cintai itu telah sedemikian gawatnya, karena telah dipreteli oleh unsur-unsur ibadah gereja karismatik.
                    Bukannya saya tidak peka terhadap kebutuhan jiwa pemuda yang memang membutuhkan segala sesuatunya berbeda, termasuk dalam hal penyelenggaraan ibadah, saya juga merupakan seorang pemuda. Atau saya bukannya tidak mau mengakui bahwa, liturgi di GBKP yang saya cintai ini memang terasa kering dan bahkan di beberapa majelis (runggun) terkesan tidak bermakna. Atau saya yang anti terhadap gerakan Karismatik, sama sekali bukan. Melainkan saya hanya mau mengatakan bahwa, memilih untuk menyelenggarakan ibadah ala konser musik "band Peterpan" bukanlah pilihan yang tepat.
                    Ibadah yang dilangsungkan (dalam rangka apapun itu) oleh gereja, merupakan hubungan yang paling intim antara gereja dan umat. Pada saat itulah gereja secara nyata membuat jemaat berhubungan dengan Allah. Lalu, bagaimana mungkin ibadah kepada Allah dimain-mainkan oleh hal-hal yang tidak memiliki makna. Seperti berteriak-teriak tidak jelas, atau melompat-lompat layaknya menyaksikan bintang pujaannnya sedang bernyanyi atau ketika air mata dikeluarkan bukan karena penghayatan terhadap makna sebuah ibadah, namun semata-mata karena lirik lagu yang menyayat hati.
                    Saya setuju untuk sebuah perubahan liturgi GBKP yang pada akhirnya tentu membawa perubahan pada nuansa ibadah GBKP itu sendiri. Akan tetapi, perubahan itu bukan tanpa penelitian dan pencarian makna yang lebih dalam lagi, mengenai tema ibadah (hari raya liturgi) tersebut. Karena tanpa itu semua, kita pasti akan terjebak pada alternatif yang lain, yang hanya lebih menarik dalam penyajian musik. Akibatnya banyak gereja yang pada akhirnya mempermasalahkan alat musik yang terbatas. Padahal sebenarnya yang lebih penting adalah perbaikan dan pemaknaan yang lebih dalam lagi mengenai ibadah itu sendiri. Salah satu contoh perbaikan yang menurut saya penting dan genting adalah, bagaimana jemaat dapat menyanyikan nyanyian yang telah ada secara benar dan tepat.
                    Ibadah Permata sekalipun, akan memiliki nuansa yang berbeda dan berjiwa pemuda yang penuh semangat, jika pemaknaan dan permainannya yang tepat. Saya rasa tidak ada larangan untuk menggubah (mengaransemen) lagu baik dari KEE atau PEE agar sesuai dengan jiwa kepemudaan. Atau sangat mungkin bagi kita untuk memasukkan unsur-unsur etnis Karo ke dalam ibadah, selain untuk mengingat bahwa kita ini adalah orang Karo, juga sebagai pengadaan sebuah nuansa yang baru dalam ibadah kita. Bukannya justru lari kepada jenis ibadah yang tidak hanya semakin menjauhkan kita dari budaya sendiri, namun juga tidak bermakna sama sekali. Pada akhirnya, hal yang perlu dan teramat sangat penting untuk kita sadari adalah, bahwa kita ini Gereja Batak Karo Protestan yang beraliran Calvinis dan yang memiliki keteraturan dalam hal liturginya. Marilah kita belajar untuk memaknai liturgi dan ibadah yang kita adakan serta bagaimana ibadah itu dapat dilangsungkan secara benar dan tepat, sesuai dengan iman dan aliran gereja kita.
                    oleh: Sry Sulastri Ginting (Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)

                     

                     




                    --
                    www.eethore.com
                    ::faith is seeing the unseen, believing what others not::



                    The information contained in this message may be confidential and legally protected under applicable law. The message is intended solely for the addressee(s). If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, forwarding, dissemination, or reproduction of this message is strictly prohibited and may be unlawful. If you are not the intended recipient, please contact the sender by return e-mail and destroy all copies of the original message.
                  • Eethore
                    Hehe, teologis banget bahasanya :)Tapi seperti kata pepatah cina bilang Yang tetap adalah perubahan . Marilah senantiasa berubah. -eethore- 2009/5/1
                    Message 9 of 25 , May 1, 2009
                      Hehe, teologis banget bahasanya :)
                      Tapi seperti kata pepatah cina bilang "Yang tetap adalah perubahan". 
                      Marilah senantiasa berubah. 

                      -eethore-

                      2009/5/1 sryting_karo <sryting_karo@...>


                      Bukannya status quo teman..., tapi bagenda.
                      pertama, sebagai penganut aliran calvinis. Kedua, sebagai sebuah gereja arus utama dan ketiga (yang lebih penting lagi), sebagai umat yang menyelenggarakan ibadah untuk bersyukur kepada Tuhan, Pantaskah kita melakukan perubahan tanpa mengenali siapa kita?? Atau, pantaskah kita berubah hanya demi tuntutan zaman tanpa memerdulikan makna teologis dari sebuah ibadah -liturgi-?
                      Justru kita harus berubah.
                      Justru karena kita harus berubah, maka kita harus belajar untuk berubah, bukan mengganti total. Karena perubahan adalah penggalian makna yang lebih mendalam lagi pada apa yang telah kita miliki.
                      Mari berubah karena dari awal kita layak dan sudah waktunya untuk berubah.





                      --
                      www.eethore.com
                      ::faith is seeing the unseen, believing what others not::
                    • Edward Victor Gidion Barus
                      Mejuah-juah!   Banci sitik turikenndu hubungen Teologi Calvinis ras tata cara ibadah (liturgi) i bas gerejaNta?   Bujur, ________________________________
                      Message 10 of 25 , May 1, 2009
                        Mejuah-juah!

                         

                        Banci sitik turikenndu hubungen Teologi Calvinis ras tata cara ibadah (liturgi) i bas gerejaNta?

                         

                        Bujur,




                        From: sryting_karo <sryting_karo@...>
                        To: gbkp@yahoogroups.com
                        Sent: Friday, May 1, 2009 5:48:15 PM
                        Subject: [gbkp] Re: Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                        Bukannya status quo teman..., tapi bagenda.
                        pertama, sebagai penganut aliran calvinis. Kedua, sebagai sebuah gereja arus utama dan ketiga (yang lebih penting lagi), sebagai umat yang menyelenggarakan ibadah untuk bersyukur kepada Tuhan, Pantaskah kita melakukan perubahan tanpa mengenali siapa kita?? Atau, pantaskah kita berubah hanya demi tuntutan zaman tanpa memerdulikan makna teologis dari sebuah ibadah -liturgi-?
                        Justru kita harus berubah.
                        Justru karena kita harus berubah, maka kita harus belajar untuk berubah, bukan mengganti total. Karena perubahan adalah penggalian makna yang lebih mendalam lagi pada apa yang telah kita miliki.
                        Mari berubah karena dari awal kita layak dan sudah waktunya untuk berubah.



                      • yessy_arnold
                        Mejuah-juah, Supaya diskusinya asik ada baiknya kita pertajam argumen/pendapat yang ada. Saya sendiri benar2 sedang mencari esensi dari Tata Ibadah untuk kita
                        Message 11 of 25 , May 1, 2009
                          Mejuah-juah,

                          Supaya diskusinya asik ada baiknya kita pertajam argumen/pendapat yang ada. Saya sendiri benar2 sedang mencari esensi dari Tata Ibadah untuk kita orang Kristen.

                          Impal kami Sry Ginting berpendapat kalau liturgi Paskah yang dilakukan oleh Permata Klasis Jakarta-Palembang itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Ada beberapa alasan:
                          1. Liturgi kebaktian serupa dengan liturgi kebaktian Gereja Karismatik.
                          2. Lagu-lagu "gereja Karismatik" miskin makna.
                          3. Takutnya penerapan liturgi Karismatik a la Permata hanya menjiplak saja tanpa ada makna yang mendalam.

                          Kemudian dalam reply untuk eetore Sry juga mengatakan kalau harusnya GBKP sebagai gereja yang mengikuti dogma Calvinis tidak ter-kontaminasi liturginya.

                          Saya sendiri sepakat untuk tidak sepakat dengan point 2 dan 3 yang disampaikan oleh Sry. Biarlah masalah hati dan motif diperiksa oleh Tuhan dan bukan oleh kita.

                          Namun saya butuh masukan dari Sry dan anggota Milis. Pertama, apakah sebenarnya yang menyelamatkan kita? Calvinis-nya atau Kristus-nya. Yang kedua, bagaimana kita menghubungkan liturgi dengan dogma Calvinis? Apa memang ada formulasinya? Saya benar2 bertanya lho Pal, karena kam sedang belajar hal2 ini.

                          Saya sendiri merasa gamang dengan kualitas pujian di GBKP. Susah untuk menjaga konsistensi hati yang memuji. Terkadang saya merasa sangat diberkati ketika sambil bermain organ saya menyanyi, tapi di beberapa waktu yang lain saya merasa kosong ketika menyanyi.

                          Mungkin tanpa menganggap aliran di luar GBKP lebih rendah kita bisa meningkatkan kualitas Tata Ibadah kita sehingga esensi dari Tata Ibadah bisa benar2 menjadi suatu fasilitas yang membawa semua jemaat ke hadirat Allah.

                          Yessy Peranginangin
                          (mamre depok)
                        • Eethore
                          ini yessy yang ikutan piara 97 bukan?hehehehe :) sorry, intermezzo... 2009/5/1 yessy_arnold ... -- www.eethore.com
                          Message 12 of 25 , May 1, 2009
                            ini yessy yang ikutan piara 97 bukan?
                            hehehehe :)

                            sorry, intermezzo...



                            2009/5/1 yessy_arnold <y.peranginangin@...>


                            Mejuah-juah,

                            Supaya diskusinya asik ada baiknya kita pertajam argumen/pendapat yang ada. Saya sendiri benar2 sedang mencari esensi dari Tata Ibadah untuk kita orang Kristen.

                            Impal kami Sry Ginting berpendapat kalau liturgi Paskah yang dilakukan oleh Permata Klasis Jakarta-Palembang itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata liturgi. Ada beberapa alasan:
                            1. Liturgi kebaktian serupa dengan liturgi kebaktian Gereja Karismatik.
                            2. Lagu-lagu "gereja Karismatik" miskin makna.
                            3. Takutnya penerapan liturgi Karismatik a la Permata hanya menjiplak saja tanpa ada makna yang mendalam.

                            Kemudian dalam reply untuk eetore Sry juga mengatakan kalau harusnya GBKP sebagai gereja yang mengikuti dogma Calvinis tidak ter-kontaminasi liturginya.

                            Saya sendiri sepakat untuk tidak sepakat dengan point 2 dan 3 yang disampaikan oleh Sry. Biarlah masalah hati dan motif diperiksa oleh Tuhan dan bukan oleh kita.

                            Namun saya butuh masukan dari Sry dan anggota Milis. Pertama, apakah sebenarnya yang menyelamatkan kita? Calvinis-nya atau Kristus-nya. Yang kedua, bagaimana kita menghubungkan liturgi dengan dogma Calvinis? Apa memang ada formulasinya? Saya benar2 bertanya lho Pal, karena kam sedang belajar hal2 ini.

                            Saya sendiri merasa gamang dengan kualitas pujian di GBKP. Susah untuk menjaga konsistensi hati yang memuji. Terkadang saya merasa sangat diberkati ketika sambil bermain organ saya menyanyi, tapi di beberapa waktu yang lain saya merasa kosong ketika menyanyi.

                            Mungkin tanpa menganggap aliran di luar GBKP lebih rendah kita bisa meningkatkan kualitas Tata Ibadah kita sehingga esensi dari Tata Ibadah bisa benar2 menjadi suatu fasilitas yang membawa semua jemaat ke hadirat Allah.

                            Yessy Peranginangin
                            (mamre depok)




                            --
                            www.eethore.com
                            ::faith is seeing the unseen, believing what others not::
                          • Timothy
                            Wow, panas juga perdebatannya ya, sampai ada mamre juga yang ikut turun tangan menengahi. Si pemena aku mindo maaf lebe man bandu kerina, aku la tading i
                            Message 13 of 25 , May 1, 2009
                              Wow, panas juga perdebatannya ya, sampai ada mamre juga yang ikut
                              turun tangan menengahi. Si pemena aku mindo maaf lebe man bandu
                              kerina, aku la tading i jakarta, tapi kami termasuk klasis Jakarta
                              Palembang denga, jadi.
                              Secara pribadi, aku tdak terlalu mempermasalahkan bagimana liturgi,
                              memang ada patokan yang harus diambil, bagaimana bentuk liturg itu
                              harus disusun agar bisa membawa orang masuk ke dalam pujian dan
                              penyembahan kepada Allah kita. Aku sendiri tidak bermasalah dengan
                              metode yang sering disebut "berbau karismatik", aku juga menikmati.
                              Aku juga menikmati kebaktian pagi kami yang berbahasa Indonesia dengan
                              lagu-lagiu kidung jemaat. Bahkan aku sangat menikmati suasana
                              kebaktian pada saat kebaktian siang yang selalu menggunakan bahasa
                              karo, ditambah pula dengan aransemen musik yang mungkin sedikit seerti
                              gendang keyboard karo. (Perbandingan pada runggun kami). Jadi aku
                              tidak bermasalah dengan bentuk lturgi. Kebetulan di runggun kami di
                              Sumbagsel, kami selalu mengkonsultasikan dengan orang lain yang
                              bertanggung jawab, dalam hal ini Pendeta dan majelis.
                              Yang perlu ditanyakan pada orang yang menyusun liturgi, bagaimana dia
                              menyusun liturgi tersebut, tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa.
                              Apakah dia minta bimbingan Tuhan saat menyusunnya, atau hanya
                              mengikuti cara-cara yang mungkin dia tahu atau yang saat ini sedang
                              populer. Semua ibadah kita punya tujuan, memuji, menyembah dan
                              memuliakan Tuhan. Itulah yang perlu jadi perhatian.
                              Buat kita semua, baik yang datang maupun tidak, baik yang setuju
                              maupun yang tidak, coba renungkan, apa yang ingin didapatkan saat
                              datang ke kebaktian itu. Tuhan hadir pada saat kebaktian loh, tapi
                              apakah anda merasakan kehadiranNya.

                              Timothy
                              Sumbagsel

                              On 5/1/09, yessy_arnold <y.peranginangin@...> wrote:
                              > Mejuah-juah,
                              >
                              > Supaya diskusinya asik ada baiknya kita pertajam argumen/pendapat yang ada.
                              > Saya sendiri benar2 sedang mencari esensi dari Tata Ibadah untuk kita orang
                              > Kristen.
                              >
                              > Impal kami Sry Ginting berpendapat kalau liturgi Paskah yang dilakukan oleh
                              > Permata Klasis Jakarta-Palembang itu "hancur" jika dilihat melalui kacamata
                              > liturgi. Ada beberapa alasan:
                              > 1. Liturgi kebaktian serupa dengan liturgi kebaktian Gereja Karismatik.
                              > 2. Lagu-lagu "gereja Karismatik" miskin makna.
                              > 3. Takutnya penerapan liturgi Karismatik a la Permata hanya menjiplak saja
                              > tanpa ada makna yang mendalam.
                              >
                              > Kemudian dalam reply untuk eetore Sry juga mengatakan kalau harusnya GBKP
                              > sebagai gereja yang mengikuti dogma Calvinis tidak ter-kontaminasi
                              > liturginya.
                              >
                              > Saya sendiri sepakat untuk tidak sepakat dengan point 2 dan 3 yang
                              > disampaikan oleh Sry. Biarlah masalah hati dan motif diperiksa oleh Tuhan
                              > dan bukan oleh kita.
                              >
                              > Namun saya butuh masukan dari Sry dan anggota Milis. Pertama, apakah
                              > sebenarnya yang menyelamatkan kita? Calvinis-nya atau Kristus-nya. Yang
                              > kedua, bagaimana kita menghubungkan liturgi dengan dogma Calvinis? Apa
                              > memang ada formulasinya? Saya benar2 bertanya lho Pal, karena kam sedang
                              > belajar hal2 ini.
                              >
                              > Saya sendiri merasa gamang dengan kualitas pujian di GBKP. Susah untuk
                              > menjaga konsistensi hati yang memuji. Terkadang saya merasa sangat diberkati
                              > ketika sambil bermain organ saya menyanyi, tapi di beberapa waktu yang lain
                              > saya merasa kosong ketika menyanyi.
                              >
                              > Mungkin tanpa menganggap aliran di luar GBKP lebih rendah kita bisa
                              > meningkatkan kualitas Tata Ibadah kita sehingga esensi dari Tata Ibadah bisa
                              > benar2 menjadi suatu fasilitas yang membawa semua jemaat ke hadirat Allah.
                              >
                              > Yessy Peranginangin
                              > (mamre depok)
                              >
                              >
                              >
                              >
                              >
                            • simson gintings
                              Saya kira permasalahannya harus dilihat dalam perspektif yg pas. Kalau tidak, dgn alasan memuliakan nama Tuhan maka apa saja boleh. Konsekwensinya, sejauh
                              Message 14 of 25 , May 1, 2009
                                Saya kira permasalahannya harus dilihat dalam perspektif yg pas. Kalau tidak, dgn alasan memuliakan nama Tuhan maka apa saja boleh. Konsekwensinya, sejauh yg jadi pusat   adalah Yesus Kristus, maka semua aliran sama saja. Karena yang menyelamatkan adalah Yesus, bukan doktrin, bukan theologia bukan ini bukan itu kita bilang. Makin kacau kita jadinya.

                                Kalau asas spt itu yg menjadi dasar pegangan kita maka bisa-bisa GBKP yg dengan segala dogmatika dan peraturannya jadi tidak penting. Semua doktrin gereja manapun di dunia ini menjadi tidak ada gunanya.  Apakah begitu? Jelas tidak.
                                 
                                Saya kira, masalah liturgi di permatan klasis Jakarta - Palembang itu harus kita lihat dalam bingkai GBKP, itulah tempat kita  berpijak, GBKP dengan doktrin dan liturginya. Dari sudut itulah kita harus melihatnya. 
                                 
                                Mungkin ada yg bertanya, apakah ada yg salah dgn aliran karismatik? Mungkin lebih baik kita tidak pergunakan kata "salah", itu berbau menghakimi. Yg jelas, ada perbedaan teologis yg mendasar dgn GBKP. Bukan hanya soal "gaya ibadah".
                                 
                                Sekarang, banyak pemuda gereja denominasi yg terpengaruh oleh aliran karismatik, termasuk permata (di sebuah acara Permata GBKP Bekasi juga pernah saya lihat MC-nya bergaya seperti itu)
                                 
                                Bagaimana kita melihat permasalahan ini secara pas? Kalau trend yg ada sebagian di kalangan pemuda seperti itu, apakah kita biarkan berkembang apa adanya?  Kalau dilarang dengan keras juga bukan solusi yg arif. Kalau dianggap tidak masalah, apa saja boleh, juga bukan sikap yg tepat.

                                Kalau begitu bagaimana caranya? Kita serahkan saja kepada Klasis Jakarta - Palembang.
                                 
                                sg
                                 

                              • nomi sinulingga
                                Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada
                                Message 15 of 25 , May 1, 2009
                                  Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada sekarang tidak lagi menjadi PERMATA.
                                   
                                  Tahun 2007 dan 2008 sudah dilaksanakan Seminar Theologia untuk PERMATA yang pesertanya adalah pengurus Klasis dan Pengurus Runggun. Seminar ini terlaksana atas kerja sama dengan Kabid SDM Moderamen dan Biro Teologi dan Litbang GBKP. Di dalam seminar ini ada dimasukkan topik Liturgi dan Ibadah untuk PERMATA yang diberikan oleh Pdt. Krismas. Seminar ini sangat bagus, bukan hanya sesi liturgi dan ibadah tapi juga sesi-sesi yang lain.
                                   
                                  Seminar ini tidak berjalan dengan baik, karena PERMATA yang hadir tidak sesuai dengan yang diharapkan. KEhadiran peserta membuat seminar dievaluasi untuk dilanjutkan.. (Ija kita PERMATA ??)
                                   
                                  Memang PERMATA sering tidak mengkaji prinsip apa yang ada di dalam Tata Liturgi sehingga wujudnya seperti yang sekarang ini. MEnjiplak tanpa tahu maknanya memang akan membuat kita jauh dari makna ibadah yang sesungguhnya. Ketika kita mengerti setiap makna di dalam tata ibadah itu...erpantomim pe kita sanga ibadah boleh-boleh saja... Apalagi ka akapndu hanya bergerak dan melompat. Karena dalam ibadah yang terlihat itu adalah ekspresi dari nilai-nilai INJIL (Votum, Salam, ...khotbah, persembahan, pengakuan iman... doa bapa kami dan berkat).
                                   
                                  Memang sering sekali membuat ekspresi yang berbeda dari suatu nilai dan prinsip akan mengundang pertentangan. Puji TUHAN, itu tandanya kita membuka mata dengan yang terjadi. Memang banyak sekali ibadah PERMATA yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti apa yang dilakukannya, caplok sana caplok sini... dungna memang kehilangan makna.
                                  Tapi bukan berarti tidak ada ibadah PERMATA yang lebih smengat dan membakar (istilah orang-orang kayak kharismatik) dan masih sesuai dengan koridor tata ibadah GBKP.
                                   
                                  Kalau lagi di Medan, datanglah sekali-sekali di Kebaktian GBKP KM 8 yang jam 7 malam. Ije kari idahndu kange MC si bergerak janah meriah... Gereja penuh dengan anak muda kalau keb. Jam 7 malam. Hanya adi aku pe 2 kali dengan nge keb jam 7 malam... Sebab aku la kuakap meriah adi meriah kebaktian e... enggo jadi penonton kebaktian kuakap aku :)
                                   
                                  Sori adi gedangsa, hanya pengen ikut berbagi dengan topik ini...
                                   
                                  Bujur
                                  Nomi 
                                   
                                   
                                   

                                • Ginting, Juspri
                                  Teman ku Nomi terkasih.. Pergumulan akan teologia , tata ibadah , dll adalah pergumulan para elite gereja. Karena mereka mempelajari Firman Tuhan (S1, S2,
                                  Message 16 of 25 , May 1, 2009

                                     

                                    Teman ku Nomi terkasih..

                                     

                                    Pergumulan akan  ‘teologia’, ‘tata ibadah’, dll adalah pergumulan para ‘elite’ gereja. Karena mereka mempelajari Firman Tuhan (S1, S2, S3) juga sebagai ilmu pengetahuan dimana semakin banyak yang diketahui, semakin banyak juga yang tidak diketahui karena pencarian pencarian terus menerus.

                                    Sedangkan pada level sebagian besar jemaat yang dibutuhkan adalah bagaimana pendeta, pt/dk (mostly pendeta) datang mengunjungi mereka di rumah mereka yang kecil, jauh dari jalan besar, yang berjualan setiap hari di pasar pagi, bangun jam 2 (datanglah ke pasar cibitung atau cikarang yg banyak orang karo jualan).  Orang2 yg jauh dari hiruk pikuk perdebatan akan konsep ibadah, yg calvinlah, yg lutheranlah. Bagaimana mereka mengenal Bapa di sorga jika orang yang mereka anggap sbg ‘perwakilan’ Tuhan saja jarang bertanya apa kabarndu, jarang atau bahkan tidak pernah datang ke rumahnya.

                                    Dari banyak pengalaman pelayanan bapak di rumah, ada satu yg membuat air mataku mau jatuh…dia cerita bagaimana seorang keluarga yang pekerjaannya berjualan di pasar cibitung/cikarang (?) menangis karena bapak dan mamak datang ke rumah mereka (jalannya melalui sawah dan gelap). “Belum pernah kami didatangi oleh pendeta”, katanya.

                                     

                                    Nungkun aku man bandu Nomi temanku terkasih, teman ‘seproduk’ dari Bandung.

                                    Liturgi mana yang membentuk kita jadi seperti sekarang ini, liturgi mana yg mendominasi sewaktu kita belajar mengenal Tuhan, belajar melayani (padahal tujuan utama ke bandung adalah kuliah) dan aktif di permata Bandung sehingga memiliki hati seperti sekarang (bahkan mungkin bahasa ‘memiliki hati’ ini masih asing di telinga ‘GBKP’)

                                    Liturgi versi GBKP kah atau liturgy ‘versi’ permata Bandung?

                                    Bukankah kam juga salah seorang yang tidak pernah putuh asa untuk tetap mempertahankan semangat Persekutuan Doa di lt. 3, dimana pada awalnya pendeta kita menentangnya? Sehingga sampai sekarang PD itu masih terus berjalan bahkan sekarang orang tua juga sudah ikut bergabung di dalamnya. ‘Ibadah’ versi GBKP kah PD? Berapa runggun GBKP yang punya PD setiap minggu?

                                    Bukankah kita-kita juga yang ‘menolak’ pedoman PA permata dari Pusat dan kita membuat pedoman permata versi kita sendiri (yg ‘click’ dgn kehidupan permata di perkotaan), bahkan pedoman itu di adopt ke tinggkat Klasis Jakarta-Bandung dengan bimbingan mama Alamta Singarimbun?

                                    Bukankah kebaktian PA permata kita sangat ‘tidak’ GBKP dengan lagu2 Giving My Best, Don Moen versi Indonesia, Robert and Lea, dll, dll? Tapi berapa banyak orang yang datang? ‘Semua’ kita menanti2 kan hari minggu PA gabungan (bahkan ada yg tidak kebaktian di GBKP tapi sewaktu PA gabungan malah hadir).

                                    Apakah pengkaderan pola pemuridan yang kita adopt dari kampus2 adalah ibadah versi ‘GBKP’, dimana setiap minggu kita belajar firman Tuhan (berpindah2 dari kost-kost an si A ke si B, ke rumah si C,dst), buka konkordansi, tafsiran kitab-kitab, ada ayat yang harus dihafal tiap minggu (bersifat akumulatif).

                                    Dan bagaimana sekarang hasilnya iman anak-anak Tuhan tadi semua yang sudah tersebar ke banyak tempat di Indonesia. Apakah kita pernah mendengar mereka mengeluh akan hidup ini? Apakah kam mengeluh buat pelayanan kam sekarang ini (padahal kami teman2ndu tau, banyak orang yang kurang sependapat dgn cara kam memilih jalan hidup J).

                                     

                                    Coba kam bandingkan dengan ibadah permata versi GBKP yang kam jumpai di kabanjahe.

                                    Bagaimanakah ‘iman’ mereka, bagaimana tanah karo sekarang?

                                     

                                    Dengan segala hormat dengan para pemikir GBKP,

                                    marilah kita fokus kepada manusia-nya bukan hanya semata pada caranya (bandingkan kehidupan TJ, berapa banyak kisah Dia tentang ibadah dibandingkan kisah Dia di tengah2 manusia).

                                    Tapi bagaimana para pendeta bisa fokus pada manusia (jemaat) jika uang sekolah anaknya pun tidak cukup, sedangkan jika nora bekerja, maka malam hari letih (dan tidak ikut PJJ), sang pendeta jadi kurang ‘dihargai’…(dan ada jemaat hanya mengatakan “Percayalah bahwa Tuhan akan mencukupkan jika pendeta melayani dengan sungguh2” dan jemaat tidak menyadari / tidak mau, bahwa kecukupan/berkat itu diberikan Tuhan melalui mereka..hahahahaaaa, GBKP, GBKP tercinta !!!)

                                     

                                    Hari minggu yang lalu (26 april), abang Hendri Sembiring (Bp. Karel / member jg di milist ini), bertanya ke aku,”uda kebaktian jus?” ketika melihat aku pakai jeans, kemeja dikeluarkan, pakai sandal (tapi bukan sandal jepit) dan ku jawab dengan gaya bercanda,”udah bang, kebaktian KA/KR) padahal aku memang tidak kebaktian baik yg I maupun II.

                                    Apakah aku merasa ‘bersalah’ karena tidak kebaktian? Tentu tidak, mengapa? Karena abang Bp. Karel tidak tahu (dan aku tidak perlu menjelaskan kepadanya) bahwa aku harus mengambil kue ulang tahun Iglary jam 10.00 untuk ‘syukuran’ ulang tahun dia bersama teman2 sekolah minggunya. Dan aku ingin anakku tahu bahwa aku, bapanya  ada bersama2 dengan dia di sekolah minggunya (sedangkan versi karo kan jarang bapa ikut2 an di acara seperti ini, yang ada hanya mama semata…karena orang karo gitu lho J) ketika teman2 sekolah minggunya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mengapa aku ‘melanggar’ kebiasaan itu (dan kebiasan2 karo lainnya J)? Karena aku fokus kepada manusianya yaitu anakku Iglary (jika aku fokus pada caranya tentu aku malu ada disitu), aku mau dia tahu, melihat, tertanam di benaknya bahwa di sekolah minggu (yg sering cerita soal Bapa) bukan hanya mama yg ada tapi juga ada bapa.

                                     

                                    “The God I never knew”, ingatkan kan kam buku ini  Nom? J,

                                    Jadi marilah kita jadi tokoh ‘revolusi’, karena TJ juga adalah tokoh ‘revolusi’ pada saat Dia ada di bumi (hari sabat kan tidak boleh bekerja tapi Dia bekerja menolong orang, merubah air menjadi anggur padahal kataNya,”belum saatnya” tapi Dia lakukan juga, dll, dll, baca sendirilah J…lihat, TJ selalu fokus pada manusia nya bukan proses).

                                    Jadi marilah kita mengenal Tuhan….bukan belajar Alkitab dan memperdebatkan “kata per kata”

                                     

                                    Biarlah Tuhan semakin besar dan aku semakin kecil,

                                     

                                    Juspri Ginting

                                    GBKP Bekasi

                                     

                                     

                                    From: gbkp@yahoogroups.com [mailto:gbkp@yahoogroups.com] On Behalf Of nomi sinulingga
                                    Sent: 2009 May 02 1:29 AM
                                    To: gbkp@yahoogroups.com
                                    Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                                     




                                    Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada sekarang tidak lagi menjadi PERMATA.

                                     

                                    Tahun 2007 dan 2008 sudah dilaksanakan Seminar Theologia untuk PERMATA yang pesertanya adalah pengurus Klasis dan Pengurus Runggun. Seminar ini terlaksana atas kerja sama dengan Kabid SDM Moderamen dan Biro Teologi dan Litbang GBKP. Di dalam seminar ini ada dimasukkan topik Liturgi dan Ibadah untuk PERMATA yang diberikan oleh Pdt. Krismas. Seminar ini sangat bagus, bukan hanya sesi liturgi dan ibadah tapi juga sesi-sesi yang lain.

                                     

                                    Seminar ini tidak berjalan dengan baik, karena PERMATA yang hadir tidak sesuai dengan yang diharapkan. KEhadiran peserta membuat seminar dievaluasi untuk dilanjutkan.. (Ija kita PERMATA ??)

                                     

                                    Memang PERMATA sering tidak mengkaji prinsip apa yang ada di dalam Tata Liturgi sehingga wujudnya seperti yang sekarang ini. MEnjiplak tanpa tahu maknanya memang akan membuat kita jauh dari makna ibadah yang sesungguhnya. Ketika kita mengerti setiap makna di dalam tata ibadah itu...erpantomim pe kita sanga ibadah boleh-boleh saja... Apalagi ka akapndu hanya bergerak dan melompat. Karena dalam ibadah yang terlihat itu adalah ekspresi dari nilai-nilai INJIL (Votum, Salam, ...khotbah, persembahan, pengakuan iman... doa bapa kami dan berkat).

                                     

                                    Memang sering sekali membuat ekspresi yang berbeda dari suatu nilai dan prinsip akan mengundang pertentangan. Puji TUHAN, itu tandanya kita membuka mata dengan yang terjadi. Memang banyak sekali ibadah PERMATA yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti apa yang dilakukannya, caplok sana caplok sini... dungna memang kehilangan makna.

                                    Tapi bukan berarti tidak ada ibadah PERMATA yang lebih smengat dan membakar (istilah orang-orang kayak kharismatik) dan masih sesuai dengan koridor tata ibadah GBKP.

                                     

                                    Kalau lagi di Medan, datanglah sekali-sekali di Kebaktian GBKP KM 8 yang jam 7 malam. Ije kari idahndu kange MC si bergerak janah meriah... Gereja penuh dengan anak muda kalau keb. Jam 7 malam. Hanya adi aku pe 2 kali dengan nge keb jam 7 malam... Sebab aku la kuakap meriah adi meriah kebaktian e... enggo jadi penonton kebaktian kuakap aku :)

                                     

                                    Sori adi gedangsa, hanya pengen ikut berbagi dengan topik ini...

                                     

                                    Bujur

                                    Nomi 

                                     

                                     

                                     

                                     



                                    The information contained in this message may be confidential and legally protected under applicable law. The message is intended solely for the addressee(s). If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, forwarding, dissemination, or reproduction of this message is strictly prohibited and may be unlawful. If you are not the intended recipient, please contact the sender by return e-mail and destroy all copies of the original message.
                                  • rscolia
                                    Syalom Saya senang banyaknya anakmuda yang berdiskusi mengenai liturgy GBKP. Saya melihat ada tiga kutup: yang setuju, tidak stuju dan jalan tengah mengenai
                                    Message 17 of 25 , May 1, 2009

                                      Syalom

                                      Saya senang banyaknya anakmuda yang berdiskusi mengenai liturgy GBKP. Saya melihat ada tiga kutup: yang setuju, tidak stuju dan jalan tengah mengenai perububahan Liturgi GBKP yang sedang didiksusikan.

                                      Kabar baiknya semua peduli dengan liturgy GBKP. Kabar kurang baiknya bahwa kajian mengenai lituri GBKP tersebut belum mendalam. Saya  mau jelaskan beberapa hal. Bahwa liturgy  adalah sebuah tata ibadah/ kebaktian  yang merupakan perpaduan antara tradisi, tiologi dan budaya. Jadi bukan soal “sor dan tak sor’. Melainkan bagaimana sebuah komunitas mengungkapkan jati dirinya, imannya dalam memuji Tuhan dalam suatu perjumpaan melalui ibadah. Saya bukan pro kemapanan, tetapi jika kita mau mengubah, ‘memodernisasi’ suatu liturgy kita harus mengkaji beberapa hal terlebih dahulu:

                                      1.       Apakah kita mengerti dengan baik tradisi, tiologi, dan budaya dari liturgy  GBKP kita?  Apa kelebihannya, apa kekurangannya, dan  apa unsur yang masih potensial yang perlu kita pertahankan? Kalau masih dangkal pengenalan kita tentang itu, perlu diadakan kajian mendalam terlebih dahulu dan jangan adili kemudian tinggalkan liturgu GBKP kita itu.

                                      2.       Apakah kita mengerti dengan baik tradisi, teologi dan budaya dari liturgy gereja ‘tetangga’ yang kita pakai? Apa kelebihannya, apa kekurangannya, mana unsur  yang dapat membangun iman kita?

                                      3.       Baru setelah itu kita adakan perubahan yang relevan untuk pembangunan iman jemaat kita,  melalui prosudur yang benar:  diskusi dalam convent PKPW kemudian legitimasi dalam sidang sinode atau antar sidang sinode. Tuhan bergembira dengan sesuatu yang dilakukan dengan tertip.

                                      4.       Perubahan itu mutlak perlu, tapi kita harus bijak untuk mengetahui mana yang kita mau rubah dan mana yang tidak perlu dirubah. Kita  manusia berakal, artinya jika kita melakukan sesuatu kita harus tau mengapa kita melakukan dan apa yang sedang kta lakukan, termasuk dalam melakukan ibadah kita harus pakai otak dan pakai hati, karena seantero kemanusiaan kita itulah yang memuja Tuhan.

                                      Saya perlu informasikan bahwa saya  pernah menikmati  Liturgi GBKP dipakai oleh sebuah komunitas non GBKP, saya sangat menikmatinya sebagai sebuah ibadah yang indah dan membangun iman. Ya tapi memang bukan orang Karo yang memakainya, tetapi sebuah komunitas mahasiswa. Mereka mengorganisasi ibadah sedemikian rupa, memakai program easy worship, outline khotbah dengan power point, lagu-lagu diiring oleh organ dan  keyboard dan menyanyikan ende2en dan penambahan ee dengan benar. Asyh deh…

                                      Maksud saya sebelum kita menghabiskan energi membicarakan pro kontra liturgy GBKP, bukankah terlebih dahulu kita harus menguasainya dan memakainya dengan benar? Sori ya jika pendapat saya ini miring….

                                       

                                      Salam hot to all

                                      rs

                                       

                                      From: gbkp@yahoogroups.com [mailto:gbkp@yahoogroups.com] On Behalf Of nomi sinulingga
                                      Sent: Saturday, May 02, 2009 1:29 AM
                                      To: gbkp@yahoogroups.com
                                      Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                                       




                                      Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada sekarang tidak lagi menjadi PERMATA.

                                       

                                      Tahun 2007 dan 2008 sudah dilaksanakan Seminar Theologia untuk PERMATA yang pesertanya adalah pengurus Klasis dan Pengurus Runggun. Seminar ini terlaksana atas kerja sama dengan Kabid SDM Moderamen dan Biro Teologi dan Litbang GBKP. Di dalam seminar ini ada dimasukkan topik Liturgi dan Ibadah untuk PERMATA yang diberikan oleh Pdt. Krismas. Seminar ini sangat bagus, bukan hanya sesi liturgi dan ibadah tapi juga sesi-sesi yang lain.

                                       

                                      Seminar ini tidak berjalan dengan baik, karena PERMATA yang hadir tidak sesuai dengan yang diharapkan. KEhadiran peserta membuat seminar dievaluasi untuk dilanjutkan.. (Ija kita PERMATA ??)

                                       

                                      Memang PERMATA sering tidak mengkaji prinsip apa yang ada di dalam Tata Liturgi sehingga wujudnya seperti yang sekarang ini. MEnjiplak tanpa tahu maknanya memang akan membuat kita jauh dari makna ibadah yang sesungguhnya. Ketika kita mengerti setiap makna di dalam tata ibadah itu...erpantomim pe kita sanga ibadah boleh-boleh saja... Apalagi ka akapndu hanya bergerak dan melompat. Karena dalam ibadah yang terlihat itu adalah ekspresi dari nilai-nilai INJIL (Votum, Salam, ...khotbah, persembahan, pengakuan iman... doa bapa kami dan berkat).

                                       

                                      Memang sering sekali membuat ekspresi yang berbeda dari suatu nilai dan prinsip akan mengundang pertentangan. Puji TUHAN, itu tandanya kita membuka mata dengan yang terjadi. Memang banyak sekali ibadah PERMATA yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti apa yang dilakukannya, caplok sana caplok sini... dungna memang kehilangan makna.

                                      Tapi bukan berarti tidak ada ibadah PERMATA yang lebih smengat dan membakar (istilah orang-orang kayak kharismatik) dan masih sesuai dengan koridor tata ibadah GBKP.

                                       

                                      Kalau lagi di Medan, datanglah sekali-sekali di Kebaktian GBKP KM 8 yang jam 7 malam. Ije kari idahndu kange MC si bergerak janah meriah... Gereja penuh dengan anak muda kalau keb. Jam 7 malam. Hanya adi aku pe 2 kali dengan nge keb jam 7 malam... Sebab aku la kuakap meriah adi meriah kebaktian e... enggo jadi penonton kebaktian kuakap aku :)

                                       

                                      Sori adi gedangsa, hanya pengen ikut berbagi dengan topik ini...

                                       

                                      Bujur

                                      Nomi 

                                       

                                       

                                       

                                       

                                      No virus found in this incoming message.
                                      Checked by AVG - www.avg.com
                                      Version: 8.0.238 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 04/30/09 17:53:00

                                    • Jimmi
                                      Mejuah-juah man banta kerina Mungkinkah ada pertumbuhan tanpa ada perbedaan? tidak mungkin, pertumbuhan ada karena yang ada sekarang berbeda dengan yang ada
                                      Message 18 of 25 , May 1, 2009
                                        Mejuah-juah man banta kerina

                                        Mungkinkah ada pertumbuhan tanpa ada perbedaan? tidak mungkin, pertumbuhan ada karena yang ada sekarang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Pertumbuhan ada karena ada perubahan. Tidak mungkin kita bertumbuh kalau kita tidak mau berubah. Jadi perubahaan atau sesuatu yang berbeda dari yang selama ini kita alami adalah salah satu syarat dari pertumbuhan.

                                        ->  Mari jangan lihat sesuatu yang berbeda dengan zona nyaman kita sebagai musuh.

                                        Kebaktian hening bukan lah milik gbkp, kebaktian berisik juga bukanlah milik karismatik, kebaktian penuh tangis juga bukanlah milik pantekosta, kebaktian penuh keteraturan bukanlah milik katolik. Dari jaman alkitab, kebaktian ya sudah seperti itu, dari jaman Musa, Daud, Daniel memuji Tuhan ya sudah seperti itu.

                                        -> Apa yang kita sombongkan dengan keheningan, atau keberisikan atau tangisan atau keteraturan? la wong dari dulu semuanya sudah dilakukan kok.

                                        Bukan kah liturgi kebaktian gbkp adalah hasil kesepakatan tokoh-tokoh gbkp, dibuat sebagai panduan bagi kita semua, agar kita tidak bingung kalau kebaktian, agar kebaktian bisa berjalan lancar. Duduk atau berdiri adalah kesepakatan tokoh-tokoh kita. Semua itu bukan atas permintaan Tuhan kita. Di gereja kita baca firman duduk, tapi ada gereja yang harus berdiri. Liturgi kebaktian hanyalah panduan teknis berkebaktian saja kan.

                                        Apakah jika buku liturgi tidak ada ketika kita akan kebaktian minggu di gereja kemudian kebaktiannya dibatalkan? ataukah tetap dijalankan semampu kita?

                                        -> Akhirnya liturgi kebaktian hanya sebuah kesepakatan kita bersama:
                                        - kalau ada gbkp yang sepakat menggunakan keyboard dan nyanyi pelan-pelan penuh penghayatan baik lah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang sepakat menggunakan full band dengan 3 song leader dan bernyanyi dengan kencang dan semangat baiklah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang sepakat hanya menggunakan kee+pee+kj saja baiklah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang sepakat menggunakan lagu-lagu rohani laennya juga baiklah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang melarang tepuk tangan dalam bernyanyi baiklah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang memperbolehkan tepuk tangan dalam bernyanyi baiklah begitu
                                        - kalau ada gbkp yang sepakat berbeda terhadap sesuatu hal dalam liturgi kebaktian, baiklah begitu.

                                        Kita sibuk saling "mandangi", si iblis tersenyum penuh kemenangan.


                                        bujur,
                                        ~jimmi
                                      • nomi sinulingga
                                        bujur untuk komentarndu bang JUs... Aku jadi dibawa ke masa lalu..masa-masa pembentukan waktu di Bandung. Makasih  banyak kalau banyak diantara kalian
                                        Message 19 of 25 , May 1, 2009
                                          bujur untuk komentarndu bang JUs...
                                          Aku jadi dibawa ke masa lalu..masa-masa pembentukan waktu di Bandung. Makasih  banyak kalau banyak diantara kalian teman-temanku menilai bahwa jalan hidup yang aku pilih masih perlu dinasihati. Bujur melala untuk perhatian kalian. Aku sampai saat ini tidak pernah menyesal dengan pilihan jalan hidupku bang... tetap doakan aku. Karena aku tahu dan yakin sekali aku sedang menjalani jalanku. Ini bukan keputusan yang mendadak...tapu sudah pergumulan lama. Waktu masih di ITB aku sudah terdorong untuk kuliah di STTB bang...bahkan ingin aku tinggalkan dulu ITB. Tapi puji Tuhan ITB nya juga bisa selesai dan masa sekolah formal itu sdah selesai semua.. Sekarang saatnya kuliah pendalaman akan kehidupan ini me bage ? Geluhku meriah kel kuakap ndalanisa bang.. tetap dukung doa.

                                          Bang Juspri yang terkasih,
                                          ketika kita berdiskusi tentang TUHAN, DIBATA dan kehidupan manusia ini. Maka kita sedang bertheologia. Berteologia bukan hanya urusan pendeta, pertua dan diaken. Semua orang yang percaya Tuhan akan berteologia dalam hidupnya. Bahkan ateis sekalipun berteologia dalam hidup ini...mereka akan selalu menjelaskan bahwa bagi mereka tidak ada TUHAN dan ketidakadaan TUHAN itulah DIBATAnya. Artinya mereka ber-TUHAN juga.

                                          Aku sangat setuju dengan semua yang kam bilang bang...setuju dengan kunjungan, setuju dengan fokus pada manusia. Bang Jus...sampai hari ini aku masih begitu. Selain terlibat didalam sistem gereja yang menjadi pengurus PERMATA Pusat yang memikirkan pelayanan PERMATA ini. AKu juga masih mengurusi manusia. Masih mau berpuasa, mau memberi pada anak jalanan, mau memberi pada tukang beca, dan juga sampai hari ini punya anak kuliah yang dibeasiswain bersama teman-teman yang lain. Tapi keterpanggilan seperti itu tidak aku bagikan dengan berteriak bang. Tapi bagikan dengan membiarkan orang lain melihat hidup ini.

                                          Bang, aku bukan lagi hanya produk "Permata Bandung", tapi aku juga sudah menjadi produk "STTB", aku produk "setahun melayani pemuda tsunami di BAnda Aceh", aku juga produk "Pengurus PERMATA Pusat". DAn banyak lagi bang...dan dalam semua ini untuk menjalaninya tidak bisa dipaksakan hanya pengalaman dari satu bagian yang mempengaruhi kehidupan ini. Tapi secara menyeluruh itu semua menghasilkan sosok nomi sekarang.

                                          Berbagi tentang ibadah yang meriah dan semangat. Ternyata itu bisa dilakukan dengan situasi yang memang mendukung. Adi nai di PERMATA BAndung meriah kin sanga ibadah e.. tapi ternyata aku sekarang sudah berubah bang. di GBKP KM 8 aku kagum dengan ibadahnya, dan aku sangat setuju karena itu sesuai dengan banyak PERMATA. tapi jujur aku bilang, ternyata aku balik menyukai yang lebih hening. dan aku enggak bilang yang hening yang lebih baik. Kadang aku pikir, mungkin karena gak banyak yang aku kenal di gereja sehingga gak mudah bagiku melompat. Bangku gereja terlalu sempit sehingga gak mudah bertepuk dan menari...kena siku tetangga. Banyak hal lain mungkin penyebabnya, aku gak tahu.

                                          Bang Jus, aku punya pengalaman berharga disini..ke gereja bersama-sama teman-teman PERMATA Pusat dari sembahe ke dalam. Lupa aku gelar GBKP Rungguna. Kami bawa keyboard dan ingin sekali memberikan pujian di tengah-tengah ibadah. Bahkan teman PP mau melayani jadi pemain musik di ibadah kali ini. Kenyataannya sampai di GEREJA, ternyata tidak ada aliran listrik ke gereja itu. Key board tadi akhirnya menganggur. Yang kebaktian hanya 20 orang lebih...bahkan kehadiran kami menambah jumlah yang ke gereja. (kami reh 13 kalak). Bukan cuma itu, gereja hening dan anjing nya jemaat atau pengkhotbah pun ikut ngantuk-ngaktuk di dekat kaki mimbar itu. Bang itu juga adalah gambaran jemaat GBKP yang mesti kita lihat semuanya. Dan itu mempengaruhi aku juga, Banhkan saat itu bagiku itu potret kebaktian yang sangat unik...dan bahkan jauh dari pengalaman selama ini. WAktu e akapndu piga-piga bulan denga aku i jenda.

                                          Bang Jus... Kehidupan GBKP ini sangat kompleks...dan juga pada akhirnya ketika kita ada dalam satu sistem, kita akan berusaha melihat lebih lagi ke banyak kebutuhan. Kebutuhan PEmuda perkotaan memang sedikit lebih perlu ibadah yang semangat untuk merilekskan otot-otot dan syaraf yang tegang lima hari bekerja. Itu juga gak papa... tapi adi kami i Kabanjahe enda, seh bergehna kadang kami tidak mudah beradaptasi ke kebaktian yang semangat dan melompat. Ridi pe erpagi-pagi lenga sanga eribadah e akapndu...hehehe

                                          Oh ya...selamat ulang tahun buat IGlary... telat dikit gak papa kan ? hehehe.
                                          Panjang umur dan kita doakan menjadi anak yang Takut akan TUHAN lebih dari takut kepada bapaknya nantinya....heheheh

                                          Tetap semangat bang Jus... dan tetap melayani dimanapun TUHAN ijinkan kita berada..

                                          Nomi Sinulingga
                                          ~ yang akhirnya curhat...




                                          --- On Fri, 5/1/09, Ginting, Juspri <juspri.ginting@...> wrote:

                                          From: Ginting, Juspri <juspri.ginting@...>
                                          Subject: RE: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP
                                          To: "gbkp@yahoogroups.com" <gbkp@yahoogroups.com>
                                          Date: Friday, May 1, 2009, 4:31 PM

                                           

                                          Teman ku Nomi terkasih..

                                           

                                          Pergumulan akan  ‘teologia’, ‘tata ibadah’, dll adalah pergumulan para ‘elite’ gereja. Karena mereka mempelajari Firman Tuhan (S1, S2, S3) juga sebagai ilmu pengetahuan dimana semakin banyak yang diketahui, semakin banyak juga yang tidak diketahui karena pencarian pencarian terus menerus.

                                          Sedangkan pada level sebagian besar jemaat yang dibutuhkan adalah bagaimana pendeta, pt/dk (mostly pendeta) datang mengunjungi mereka di rumah mereka yang kecil, jauh dari jalan besar, yang berjualan setiap hari di pasar pagi, bangun jam 2 (datanglah ke pasar cibitung atau cikarang yg banyak orang karo jualan).  Orang2 yg jauh dari hiruk pikuk perdebatan akan konsep ibadah, yg calvinlah, yg lutheranlah. Bagaimana mereka mengenal Bapa di sorga jika orang yang mereka anggap sbg ‘perwakilan’ Tuhan saja jarang bertanya apa kabarndu, jarang atau bahkan tidak pernah datang ke rumahnya.

                                          Dari banyak pengalaman pelayanan bapak di rumah, ada satu yg membuat air mataku mau jatuh…dia cerita bagaimana seorang keluarga yang pekerjaannya berjualan di pasar cibitung/cikarang (?) menangis karena bapak dan mamak datang ke rumah mereka (jalannya melalui sawah dan gelap). “Belum pernah kami didatangi oleh pendeta”, katanya.

                                           

                                          Nungkun aku man bandu Nomi temanku terkasih, teman ‘seproduk’ dari Bandung.

                                          Liturgi mana yang membentuk kita jadi seperti sekarang ini, liturgi mana yg mendominasi sewaktu kita belajar mengenal Tuhan, belajar melayani (padahal tujuan utama ke bandung adalah kuliah) dan aktif di permata Bandung sehingga memiliki hati seperti sekarang (bahkan mungkin bahasa ‘memiliki hati’ ini masih asing di telinga ‘GBKP’)

                                          Liturgi versi GBKP kah atau liturgy ‘versi’ permata Bandung?

                                          Bukankah kam juga salah seorang yang tidak pernah putuh asa untuk tetap mempertahankan semangat Persekutuan Doa di lt. 3, dimana pada awalnya pendeta kita menentangnya? Sehingga sampai sekarang PD itu masih terus berjalan bahkan sekarang orang tua juga sudah ikut bergabung di dalamnya. ‘Ibadah’ versi GBKP kah PD? Berapa runggun GBKP yang punya PD setiap minggu?

                                          Bukankah kita-kita juga yang ‘menolak’ pedoman PA permata dari Pusat dan kita membuat pedoman permata versi kita sendiri (yg ‘click’ dgn kehidupan permata di perkotaan), bahkan pedoman itu di adopt ke tinggkat Klasis Jakarta-Bandung dengan bimbingan mama Alamta Singarimbun?

                                          Bukankah kebaktian PA permata kita sangat ‘tidak’ GBKP dengan lagu2 Giving My Best, Don Moen versi Indonesia, Robert and Lea, dll, dll? Tapi berapa banyak orang yang datang? ‘Semua’ kita menanti2 kan hari minggu PA gabungan (bahkan ada yg tidak kebaktian di GBKP tapi sewaktu PA gabungan malah hadir).

                                          Apakah pengkaderan pola pemuridan yang kita adopt dari kampus2 adalah ibadah versi ‘GBKP’, dimana setiap minggu kita belajar firman Tuhan (berpindah2 dari kost-kost an si A ke si B, ke rumah si C,dst), buka konkordansi, tafsiran kitab-kitab, ada ayat yang harus dihafal tiap minggu (bersifat akumulatif).

                                          Dan bagaimana sekarang hasilnya iman anak-anak Tuhan tadi semua yang sudah tersebar ke banyak tempat di Indonesia. Apakah kita pernah mendengar mereka mengeluh akan hidup ini? Apakah kam mengeluh buat pelayanan kam sekarang ini (padahal kami teman2ndu tau, banyak orang yang kurang sependapat dgn cara kam memilih jalan hidup J).

                                           

                                          Coba kam bandingkan dengan ibadah permata versi GBKP yang kam jumpai di kabanjahe.

                                          Bagaimanakah ‘iman’ mereka, bagaimana tanah karo sekarang?

                                           

                                          Dengan segala hormat dengan para pemikir GBKP,

                                          marilah kita fokus kepada manusia-nya bukan hanya semata pada caranya (bandingkan kehidupan TJ, berapa banyak kisah Dia tentang ibadah dibandingkan kisah Dia di tengah2 manusia).

                                          Tapi bagaimana para pendeta bisa fokus pada manusia (jemaat) jika uang sekolah anaknya pun tidak cukup, sedangkan jika nora bekerja, maka malam hari letih (dan tidak ikut PJJ), sang pendeta jadi kurang ‘dihargai’…(dan ada jemaat hanya mengatakan “Percayalah bahwa Tuhan akan mencukupkan jika pendeta melayani dengan sungguh2” dan jemaat tidak menyadari / tidak mau, bahwa kecukupan/berkat itu diberikan Tuhan melalui mereka..hahahahaaaa , GBKP, GBKP tercinta !!!)

                                           

                                          Hari minggu yang lalu (26 april), abang Hendri Sembiring (Bp. Karel / member jg di milist ini), bertanya ke aku,”uda kebaktian jus?” ketika melihat aku pakai jeans, kemeja dikeluarkan, pakai sandal (tapi bukan sandal jepit) dan ku jawab dengan gaya bercanda,”udah bang, kebaktian KA/KR) padahal aku memang tidak kebaktian baik yg I maupun II.

                                          Apakah aku merasa ‘bersalah’ karena tidak kebaktian? Tentu tidak, mengapa? Karena abang Bp. Karel tidak tahu (dan aku tidak perlu menjelaskan kepadanya) bahwa aku harus mengambil kue ulang tahun Iglary jam 10.00 untuk ‘syukuran’ ulang tahun dia bersama teman2 sekolah minggunya. Dan aku ingin anakku tahu bahwa aku, bapanya  ada bersama2 dengan dia di sekolah minggunya (sedangkan versi karo kan jarang bapa ikut2 an di acara seperti ini, yang ada hanya mama semata…karena orang karo gitu lho J) ketika teman2 sekolah minggunya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mengapa aku ‘melanggar’ kebiasaan itu (dan kebiasan2 karo lainnya J)? Karena aku fokus kepada manusianya yaitu anakku Iglary (jika aku fokus pada caranya tentu aku malu ada disitu), aku mau dia tahu, melihat, tertanam di benaknya bahwa di sekolah minggu (yg sering cerita soal Bapa) bukan hanya mama yg ada tapi juga ada bapa.

                                           

                                          “The God I never knew”, ingatkan kan kam buku ini  Nom? J,

                                          Jadi marilah kita jadi tokoh ‘revolusi’, karena TJ juga adalah tokoh ‘revolusi’ pada saat Dia ada di bumi (hari sabat kan tidak boleh bekerja tapi Dia bekerja menolong orang, merubah air menjadi anggur padahal kataNya,”belum saatnya” tapi Dia lakukan juga, dll, dll, baca sendirilah J…lihat, TJ selalu fokus pada manusia nya bukan proses).

                                          Jadi marilah kita mengenal Tuhan….bukan belajar Alkitab dan memperdebatkan “kata per kata”

                                           

                                          Biarlah Tuhan semakin besar dan aku semakin kecil,

                                           

                                          Juspri Ginting

                                          GBKP Bekasi

                                           

                                           

                                          From: gbkp@yahoogroups. com [mailto:gbkp@ yahoogroups. com] On Behalf Of nomi sinulingga
                                          Sent: 2009 May 02 1:29 AM
                                          To: gbkp@yahoogroups. com
                                          Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                                           




                                          Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada sekarang tidak lagi menjadi PERMATA.

                                           

                                          Tahun 2007 dan 2008 sudah dilaksanakan Seminar Theologia untuk PERMATA yang pesertanya adalah pengurus Klasis dan Pengurus Runggun. Seminar ini terlaksana atas kerja sama dengan Kabid SDM Moderamen dan Biro Teologi dan Litbang GBKP. Di dalam seminar ini ada dimasukkan topik Liturgi dan Ibadah untuk PERMATA yang diberikan oleh Pdt. Krismas. Seminar ini sangat bagus, bukan hanya sesi liturgi dan ibadah tapi juga sesi-sesi yang lain.

                                           

                                          Seminar ini tidak berjalan dengan baik, karena PERMATA yang hadir tidak sesuai dengan yang diharapkan. KEhadiran peserta membuat seminar dievaluasi untuk dilanjutkan. . (Ija kita PERMATA ??)

                                           

                                          Memang PERMATA sering tidak mengkaji prinsip apa yang ada di dalam Tata Liturgi sehingga wujudnya seperti yang sekarang ini. MEnjiplak tanpa tahu maknanya memang akan membuat kita jauh dari makna ibadah yang sesungguhnya. Ketika kita mengerti setiap makna di dalam tata ibadah itu...erpantomim pe kita sanga ibadah boleh-boleh saja... Apalagi ka akapndu hanya bergerak dan melompat. Karena dalam ibadah yang terlihat itu adalah ekspresi dari nilai-nilai INJIL (Votum, Salam, ...khotbah, persembahan, pengakuan iman... doa bapa kami dan berkat).

                                           

                                          Memang sering sekali membuat ekspresi yang berbeda dari suatu nilai dan prinsip akan mengundang pertentangan. Puji TUHAN, itu tandanya kita membuka mata dengan yang terjadi. Memang banyak sekali ibadah PERMATA yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti apa yang dilakukannya, caplok sana caplok sini... dungna memang kehilangan makna.

                                          Tapi bukan berarti tidak ada ibadah PERMATA yang lebih smengat dan membakar (istilah orang-orang kayak kharismatik) dan masih sesuai dengan koridor tata ibadah GBKP.

                                           

                                          Kalau lagi di Medan, datanglah sekali-sekali di Kebaktian GBKP KM 8 yang jam 7 malam. Ije kari idahndu kange MC si bergerak janah meriah... Gereja penuh dengan anak muda kalau keb. Jam 7 malam. Hanya adi aku pe 2 kali dengan nge keb jam 7 malam... Sebab aku la kuakap meriah adi meriah kebaktian e... enggo jadi penonton kebaktian kuakap aku :)

                                           

                                          Sori adi gedangsa, hanya pengen ikut berbagi dengan topik ini...

                                           

                                          Bujur

                                          Nomi 

                                           

                                           

                                           

                                           



                                          The information contained in this message may be confidential and legally protected under applicable law. The message is intended solely for the addressee(s) . If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, forwarding, dissemination, or reproduction of this message is strictly prohibited and may be unlawful. If you are not the intended recipient, please contact the sender by return e-mail and destroy all copies of the original message.

                                        • haryanto bode
                                          Syaloom, Saya ambil jalan tengah pendeta rscolia, ketika gendangnya dangdut saya ikut berdangdut untuk memuji Tuhan, kalau rock n roll saya juga ikut, yang
                                          Message 20 of 25 , May 2, 2009
                                            Syaloom,
                                            Saya ambil jalan tengah pendeta rscolia, ketika gendangnya dangdut saya ikut berdangdut untuk memuji Tuhan, kalau rock n roll saya juga ikut, yang penting tujuannya untuk memuji Tuhan. Namun kita sekarang bicara GBKP yang ada Karonya. Kalau kita mau pake GBKP maka minimal harus ada syarat yang sebaiknya diikuti, atau ya seperti gereja saya di Taiwan inilah TICC gereje segala suku bangsa berbahasa Inggris, tapi liturge di adopsi dari berbagai gereja presbitarian+calvinis, methodist+anglikan dan UK Reformis.
                                             
                                            Lagu di GBKP itu juga banyak yang meriah dan gembira cuma orang karo saja yang nyayikannya pada lemas. Saya di GBKP simpang marindal selalu goyang-goyang hentak (cuma ndak sampai angkat tangan, karena akan menggangu suasana) kalau masuk lagu Kam kap lalap man ikutenku Yesus kap penawarku........... (lupa nomor berapa), isinya lagu pengampunan dosa ya harus bersuka cita nyayikannya.
                                             
                                            Kami disini malah menyanyikan lagu Hendrik Wesly adiknya John Wesly dengan gaya english united kingdom, dengan meriah, diiringi organ oleh seorang saudari pianis (Wenndy).  Lagu Reformis lebih gila, seperti tentara baris.....hehehe.
                                             
                                            Kemaren acara pasu-pasu di GBKP gereja didepan sentrum kebetulan pendetanya Dormanis Sembiring, dengan musik organ yang lumayan baik, cukup semangat saya melihatnya. Pdt DS pun ikut goyang-goyang juga kelihatan dari tpt duduk jemaat.  ( Pdt ini kawan-kawan sebayalah seangkatan pdt Ekwin Gt waktu masih permata dulu).
                                             
                                            Kita harus sepakat bahwa liturge disusun sedemikian rupa (spt keterangan pdt Colia) agar memenuhi nilai rasa sebuah gereja bermerek lokal spt GBKP. Tentunya spt kata Nomi, tidak dapat disama ratakan pendekatannya. Saya lebih mengusulkan untuk dievaluasi, lagu gereja  GBKP  luar biasa isinya. Banyak di dalamnya berisikan bagaimana ROH itu dapat masuk kedalam Hati manusia. Saya belakangan ini baru sadar bahwa lagu yang kami nyayikan di TICC banyak sama dengan lagu GBKP, tapi kok semangatnya beda?
                                             
                                            Saya setuju dengan Jimmi dan Nomi juga, memiliki orentasi wilayah, disesuaikan dengan kebutuhan jemaat setempat, karena tentunya kita tidak boleh kaku tetapi harus ada basic pattern/ acuan dasar oleh GBKP selama kita masih memakai gereja ini sebagai tempat kita membangun hubungan dengan Tuhan.
                                             
                                            Menurut saya GBKP juga OK, lagunya juga Ok eksplorasi yang kurang, semangat orang GBKP yang kurang, mungkin latar belakang sifat yang perlu diperbaiki. Mengadobsi boleh-boleh saja, semua lagu untuk memuji Tuhan adalah baik. 
                                             
                                            begitulah T/S semoga ada hasil, GBU
                                             
                                            Bode Haryanto Tarigan, Tw 
                                             
                                             
                                             


                                            From: rscolia <rscolia@...>
                                            To: gbkp@yahoogroups.com
                                            Cc: mindaperanginangin@...; jadiamanperanginangin@...; david ketaren <david_ketaren@...>; saluran <berkat@...>; moderamen@...
                                            Sent: Saturday, May 2, 2009 10:15:11 AM
                                            Subject: RE: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                                            Syalom

                                            Saya senang banyaknya anakmuda yang berdiskusi mengenai liturgy GBKP. Saya melihat ada tiga kutup: yang setuju, tidak stuju dan jalan tengah mengenai perububahan Liturgi GBKP yang sedang didiksusikan.

                                            Kabar baiknya semua peduli dengan liturgy GBKP. Kabar kurang baiknya bahwa kajian mengenai lituri GBKP tersebut belum mendalam. Saya  mau jelaskan beberapa hal. Bahwa liturgy  adalah sebuah tata ibadah/ kebaktian  yang merupakan perpaduan antara tradisi, tiologi dan budaya. Jadi bukan soal “sor dan tak sor’. Melainkan bagaimana sebuah komunitas mengungkapkan jati dirinya, imannya dalam memuji Tuhan dalam suatu perjumpaan melalui ibadah. Saya bukan pro kemapanan, tetapi jika kita mau mengubah, ‘memodernisasi’ suatu liturgy kita harus mengkaji beberapa hal terlebih dahulu:

                                            1.       Apakah kita mengerti dengan baik tradisi, tiologi, dan budaya dari liturgy  GBKP kita?  Apa kelebihannya, apa kekurangannya, dan  apa unsur yang masih potensial yang perlu kita pertahankan? Kalau masih dangkal pengenalan kita tentang itu, perlu diadakan kajian mendalam terlebih dahulu dan jangan adili kemudian tinggalkan liturgu GBKP kita itu.

                                            2.       Apakah kita mengerti dengan baik tradisi, teologi dan budaya dari liturgy gereja ‘tetangga’ yang kita pakai? Apa kelebihannya, apa kekurangannya, mana unsur  yang dapat membangun iman kita?

                                            3.       Baru setelah itu kita adakan perubahan yang relevan untuk pembangunan iman jemaat kita,  melalui prosudur yang benar:  diskusi dalam convent PKPW kemudian legitimasi dalam sidang sinode atau antar sidang sinode. Tuhan bergembira dengan sesuatu yang dilakukan dengan tertip.

                                            4.       Perubahan itu mutlak perlu, tapi kita harus bijak untuk mengetahui mana yang kita mau rubah dan mana yang tidak perlu dirubah. Kita  manusia berakal, artinya jika kita melakukan sesuatu kita harus tau mengapa kita melakukan dan apa yang sedang kta lakukan, termasuk dalam melakukan ibadah kita harus pakai otak dan pakai hati, karena seantero kemanusiaan kita itulah yang memuja Tuhan.

                                            Saya perlu informasikan bahwa saya  pernah menikmati  Liturgi GBKP dipakai oleh sebuah komunitas non GBKP, saya sangat menikmatinya sebagai sebuah ibadah yang indah dan membangun iman. Ya tapi memang bukan orang Karo yang memakainya, tetapi sebuah komunitas mahasiswa. Mereka mengorganisasi ibadah sedemikian rupa, memakai program easy worship, outline khotbah dengan power point, lagu-lagu diiring oleh organ dan  keyboard dan menyanyikan ende2en dan penambahan ee dengan benar. Asyh deh…

                                            Maksud saya sebelum kita menghabiskan energi membicarakan pro kontra liturgy GBKP, bukankah terlebih dahulu kita harus menguasainya dan memakainya dengan benar? Sori ya jika pendapat saya ini miring….

                                             

                                            Salam hot to all

                                            rs

                                             

                                            From: gbkp@yahoogroups. com [mailto:gbkp@ yahoogroups. com] On Behalf Of nomi sinulingga
                                            Sent: Saturday, May 02, 2009 1:29 AM
                                            To: gbkp@yahoogroups. com
                                            Subject: Re: [gbkp] Mari Peduli dengan Liturgi GBKP

                                             




                                            Liturgi dan ibadah di ibadah-ibadah PERMATA selalu memang menjadi perbeben. Juga pergumulan yang tiada hentinya, mungkin sampai nanti PERMATA-PERMATA yang ada sekarang tidak lagi menjadi PERMATA.

                                             

                                            Tahun 2007 dan 2008 sudah dilaksanakan Seminar Theologia untuk PERMATA yang pesertanya adalah pengurus Klasis dan Pengurus Runggun. Seminar ini terlaksana atas kerja sama dengan Kabid SDM Moderamen dan Biro Teologi dan Litbang GBKP. Di dalam seminar ini ada dimasukkan topik Liturgi dan Ibadah untuk PERMATA yang diberikan oleh Pdt. Krismas. Seminar ini sangat bagus, bukan hanya sesi liturgi dan ibadah tapi juga sesi-sesi yang lain.

                                             

                                            Seminar ini tidak berjalan dengan baik, karena PERMATA yang hadir tidak sesuai dengan yang diharapkan. KEhadiran peserta membuat seminar dievaluasi untuk dilanjutkan. . (Ija kita PERMATA ??)

                                             

                                            Memang PERMATA sering tidak mengkaji prinsip apa yang ada di dalam Tata Liturgi sehingga wujudnya seperti yang sekarang ini. MEnjiplak tanpa tahu maknanya memang akan membuat kita jauh dari makna ibadah yang sesungguhnya. Ketika kita mengerti setiap makna di dalam tata ibadah itu...erpantomim pe kita sanga ibadah boleh-boleh saja... Apalagi ka akapndu hanya bergerak dan melompat. Karena dalam ibadah yang terlihat itu adalah ekspresi dari nilai-nilai INJIL (Votum, Salam, ...khotbah, persembahan, pengakuan iman... doa bapa kami dan berkat).

                                             

                                            Memang sering sekali membuat ekspresi yang berbeda dari suatu nilai dan prinsip akan mengundang pertentangan. Puji TUHAN, itu tandanya kita membuka mata dengan yang terjadi. Memang banyak sekali ibadah PERMATA yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti apa yang dilakukannya, caplok sana caplok sini... dungna memang kehilangan makna.

                                            Tapi bukan berarti tidak ada ibadah PERMATA yang lebih smengat dan membakar (istilah orang-orang kayak kharismatik) dan masih sesuai dengan koridor tata ibadah GBKP.

                                             

                                            Kalau lagi di Medan, datanglah sekali-sekali di Kebaktian GBKP KM 8 yang jam 7 malam. Ije kari idahndu kange MC si bergerak janah meriah... Gereja penuh dengan anak muda kalau keb. Jam 7 malam. Hanya adi aku pe 2 kali dengan nge keb jam 7 malam... Sebab aku la kuakap meriah adi meriah kebaktian e... enggo jadi penonton kebaktian kuakap aku :)

                                             

                                            Sori adi gedangsa, hanya pengen ikut berbagi dengan topik ini...

                                             

                                            Bujur

                                            Nomi 

                                             

                                             

                                             

                                             

                                            No virus found in this incoming message.
                                            Checked by AVG - www.avg.com
                                            Version: 8.0.238 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 04/30/09 17:53:00


                                          • haryanto bode
                                            Sekedar mengingat kembali   Kalau mau cerita perhatian kepada jemaat, hehehe, saya juga teringat cerita bapak saya ketua permata GBKP Bangun Mulia (POLDASU),
                                            Message 21 of 25 , May 2, 2009

                                              Sekedar mengingat kembali

                                               

                                              Kalau mau cerita perhatian kepada jemaat, hehehe, saya juga teringat cerita bapak saya ketua permata GBKP Bangun Mulia (POLDASU), di awal tahun 60 han. Mereka dengan menggunakan sepeda menuju ke Tanjung merawa (10 km), dan hari lain ke patumbak kampung (10 km), untuk ber PI (istilah sekarang) mengunjungi orang karo yang miskin, pengungsian gerombolan dari tanah karo dan sekitarnya. Tujuan mereka adalah mengajak petani dan sebagian pengungsi dan pelarian yang sebagaian tidak beragama untuk masuk kristen atau bergabung ke GBKP.  Biasanya jam 8 malam mereka baru selesai bersih-bersih dari ladang dan setelah itu jam 9 mereka seminggu sekali dikunjungi selama 1 hingga 2 jam oleh Tim PI tersebut. Selesai melayani mereka harus balik kembali ke Km 11 Bangun Mulia. Biasanya sampai dirumah mereka jam 12 malam. Bayangkan mereka melewati  perladangan dan jalan di persawahan di sekitar itu.

                                               

                                              Mereka rata-rata miskin dan tinggal di gubuk-gubuk bekerja mengarap ladang disekitar Tj Mmorawa dan Patumbak. Jangankan ada fasilitas, minum teh saja belum tentu dapat. Semua harus dipersiapkan dari rumah. Puji Tuhan  GBKP Bangun Mulia telah beranak pinak menjadi GBKP Tanjung Morawa dan GBKP Patumbak Kampung dan turunannya. 

                                               

                                              Waktu itu belum ada pendeta, yang ada hanya guru agama (Bulang Sembiring ini anak beru Pak Nuah Tarigan anggota milis kita).  Semua di usahakan sendiri, istilah  sekarangnya tek-tek an. Entah apalah yang telah mendorong mereka rela, bermalam-2 melakukan pembinaan perpulungan. Ya pasti Roh Kudus . Jika kita bandingkan saat ini, betapa enaknya kita saat ini, juga pelayan Tuhan saat ini dibandingkan dengan fasilitas mereka dulu serba mandiri.

                                               

                                              Ini diceritakan oleh bapak saya ketika saya dipilih jadi ketua permata Sp Marindal 1992. Satu lagi pesannya, jangan lupa belajar terlalu asik ngurusi permata, hehehe. Pengalam Permata tidak mungkin terulang, begitu banyak kenangan indah dan mesra bersama permata. Juga betapa banyak pertolongan Tuhan yang diberikanNya hingga saat ini, wow luar biasa. Tentunya juga kepada Bapak saya dan keluarga.

                                               

                                              Hanya satu kuncinya: hendaklah dengan hati yang tulus dalam melayani.

                                               

                                              Sekedar mengingat kembali, God magnify believer.

                                               

                                              BHT, Tw


                                            • Nuah P Tarigan
                                              TUHANKU TIDAK MEMANDANGKU DALAM CARA MEMUJI TUHAN Dimana pun bisa memuji Tuhan Didalam hati maupun diluar hati Cara apapun tanpa memandang muka dan memandang
                                              Message 22 of 25 , May 3, 2009

                                                TUHANKU TIDAK MEMANDANGKU DALAM CARA MEMUJI TUHAN

                                                 

                                                Dimana pun bisa memuji Tuhan

                                                Didalam hati maupun diluar hati

                                                Cara apapun tanpa memandang muka dan memandang cara

                                                Karena Kasih Karunia Tuhan bukan datang hanya seperti angin sepoi sepoi tapi juga angin semilir dan angin ribut

                                                Aku mau bersorak sorak sorai maupun hening

                                                Engkau tidak marah

                                                Engkau tidak memandang cara namun hati

                                                 

                                                Oh Tuhan manusia memang aneh...

                                                Oh Tuhan manusia memang tidak peka...

                                                Manusia menganggap bahwa Tuhanku sama dengan mereka...

                                                Hati Manusia siapa tahu, namun HATI TUHAN semua kan tahu...

                                                Dia suka akan hati yang remuk redam..yang menyesal

                                                Dia suka akan hati yang terbuka karena Tuhanku dalam YESUS memang terbuka

                                                Tanpa memandang cara dan metodologi...

                                                 

                                                Tuhanku betapa banyak manusia membedakan dirinya namun ENGKAU tidak pernah membedakan diriMU

                                                Bahkan mau menjadi manusia menjadi FANA

                                                Supaya daku selamat

                                                Supaya daku sadar

                                                Supaya daku tahu bahwa aku ini seperti daun daun yang berserakan dan pasir pasir dilaut..

                                                 

                                                Tuhanku Engkau tidak memandang cara

                                                Tuhanku Engkau tidak memandang rupa

                                                Tuhanku Engkau tidak memandang gaya

                                                Tuhanku Engkau tidak memandang metodologi

                                                Namun aku gembira karena Engkau memandang HATIKU..

                                                HATIKU yang terdalam...

                                                Terima kasih Tuhan atas KASIHMU

                                                Yang begitu LUAS

                                                Yang begitu TINGGI

                                                Yang begitu DALAM

                                                Dan SEGALANYA...,...

                                                 

                                                AMEN

                                                 

                                                Nuah P. Tarigan

                                              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.