Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [gbkp] Premanisme Dalam Jubah Agama

Expand Messages
  • Daniel Ginting
    Senina Simson: Aku membidik SEMUA AGAMA, termasuk kristen. Tentu kita harus membidik semua agama dan prinsip di dalamnya yang tidak sesuai dengan nilai
    Message 1 of 9 , Nov 1, 2005
    • 0 Attachment
      Senina Simson:

      Aku membidik SEMUA AGAMA, termasuk kristen. Tentu kita harus membidik
      semua agama dan prinsip di dalamnya yang tidak sesuai dengan nilai
      kemanusiaan. Jangan malu-malu atau mencoba "down play" ajaran yang tidak
      cocok dengan nilai kemanusiaan, karena pada akhirnya agama itu akan
      menyebabkan kekacauan. Maaf kalau "saat ini" kebetulan ajaran Islam sedang
      disorot. Sejarah menunjukkan "ajakran risten" juga di sorot sehingga
      sampai pada masa kini. Mungkin dimasa datang, Hindu dan Budha, dalam
      konteks Indonesia. Jadi makanya untuk tidak kacau, Agama itu atau kitab
      sucinya harus di sorot, kok malah kekacauan yang terjadi, again-and
      again. What is wrong with the teaching. Seandainya "AGAMA" itu tidak ada,
      mungkin dunia ini selangkah lebih aman?

      Bujur.


      At 11:40 PM 10/31/2005, you wrote:

      >
      >
      >Kalau kita mulai membidik agama lain sebagai sumber kejahatan atau apapun
      >namanya, rasanya kita perlu hati-hati, jangan sampai tanpa sadar kita
      >mulai menganut "theologia premanisme".
      >
      >
      >
      >Karena itu isitilah "jubah" saya pakai, karena orang yang menganut agama
      >apapun, dari segi kemanusiaan banyak yang lebih memperlihatkan kasih
      >sayang daripada orang Kristen sendiri.
      >
      >Penyelewangan terjadi oleh orang-orang tertentu dengan kedok agama, bisa
      >dengan motif politik atau ekonomi, atau kedua-duanya.
      >
      >
      >
      >
      >
      >sg
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >Daniel Ginting <dginting@...> wrote:
      >Shalom:
      >
      >Premanisme berjubah agama? Membaca link ini,
      >(<http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc),>http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc),
      >dimana
      >tiga siswa di penggal di Poso yang dimana pada waktu lalu konflic sectatian
      >antara muslim dan kristen memakan banyak korban, saya rasa sudah melebihi
      >tindakan premanisme dengan memakai jubah agama.
      >
      >Bukan jubah lagi, malah agama itu yang menjadikan dasar untuk melakukan
      >pembunuhan. Marilah kita tidak memainkan "politically correct term" dengan
      >memakai istilah "jubah". Yang jadi masalah adalah "AGAMA" itu
      >sendiri. Memang "Agama" tidak sama dengan penganut agama, karena penganut
      >agama itu beragam-ragam tingkat penganutannya, pengertiannya,
      >interpretasinya, dsb-dsb. Coba lihat begitu banyak aliran-aliran pada
      >agama yang sama. Tetapi pada hakekatnya, Agama itu adalah "Garis besar
      >haluan bertindak", jadi agama itu yang seharusnya di telaah dan
      >dipermasalahkan. Kalau mau lebih blatant, sumber agama itu sendiri (kitab
      >suci yang di pakai apakah itu bible, weda, kuran, gita, dsb-dsb) juga harus
      >ditelaah atau dipermasalahkan. Apakah perang agama e.g. Crusaders pada
      >masa lalu ini bisa kita bilang premanisme? Bukan kah "perang agama" dimasa
      >lalu itu melibatkan scala yang lebih besar (pemerintah/state/kingdom?).
      >
      >Sesuai dengan senina Simson, agama ataupun sumber agama itu harus dilhat
      >dalam konteks masa kini dan masa depan. Dalam konteks kehidupan
      >pluralisme, unsur-unsur ajaran agama yang yang tidak sesuai dengan
      >nilai-nilai kemanusiaan, misalnya "jihad atau crusade dalam arti physical
      >bukan spiritual" harus di enyahkan dari muka bumi ini. Apalagi telah
      >melibatkan aparat pemerintahan/state/kingdom.
      >
      >Dalam konteks yang lebih dalam dari sekedar membunuh pisiks adalah
      >pembunuhan ide. Sejak di Indonesia dulu (sebagai mahasiswa IPB), saya
      >telah melihat benih-benih kebencian tersembunyi. Wong setelah kuliah agama
      >di tingkat 1, yang tadinya teman akrab tiba-tiba langsung menjauh. Mungkin
      >yang lebih parah adalah dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan. Karena
      >berbeda agama, maka kompetisi sehat di bunuh, misalnya mau naik pangkat
      >atau mau jadi pegawai di institusi pemerintahan. Kadang-kadang secara
      >tersembunyi "public secreat", harus pakai sistem persent, berdasarkan
      >proporsi penduduk dan agama. Bagaimana kita bisa maju di masa kini dan
      >masa depan kalau semuanya hanya sekedar "retorika" agama?
      >
      >DG
      >
      >Akhir-akhir ini semakin marak tindakan premanisme yang dilakukan
      > >oleh sekelompok orang dengan mengenakan jubah agama. Sebenarnya,
      > >penganiayaan terhadap kebebasan beragama adalah urusan semua orang
      > >beriman dari agama manapun mereka berasal dan mereka yang bisa
      > >berpikir.
      > >
      > >Salah satu bukti bahwa sejarah tdk hanya sekedar catatan masa lalu,
      > >maknanya harus dilihat dalam konteks masa kini dan masa depan.
      > >Dengan kacamata ini pula kita toleh makna Sumpah Pemuda 1928 tempo
      > >hari dalam bingkai permasalahan masa kini.
      > >
      > >"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak
      > >baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan
      > >buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."
      > >
      > >
      > >
      > >sg
      >
      >
      ><http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFqODRtdXQ4BF9TAzMyOTc1MDIEX3MDOTY2ODgxNjkEcG9zAzEEc2VjA21haWwtZm9vdGVyBHNsawNmYw--/SIG=110oav78o/**http%3a//farechase.yahoo.com/>Yahoo!
      >FareChase - Search multiple travel sites in one click.
      >
      >Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com
      >
      >
      >
      >
      >----------
      >YAHOO! GROUPS LINKS
      >
      > * Visit your group "<http://groups.yahoo.com/group/gbkp>gbkp" on the
      > web.
      > *
      > * To unsubscribe from this group, send an email to:
      > *
      > <mailto:gbkp-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe>gbkp-unsubscribe@yahoogroups.com
      >
      > *
      > * Your use of Yahoo! Groups is subject to the
      > <http://docs.yahoo.com/info/terms/>Yahoo! Terms of Service.
      >
      >
      >----------

      Daniel Ginting, Ph.D, Research Assistant Professor
      Dep. Agronomy and Horticulture, Univ. of Nebraska
      Lincoln, NE
      phone:402-472-0258
    • simson ginting
      Kalau begitu persoalannya menjadi lain. Alkitab dari dulu sampai sekarang sama, tapi penafsiran manusia dari jaman ke jaman berubah. Sejarah gereja punya sisi
      Message 2 of 9 , Nov 1, 2005
      • 0 Attachment

         Kalau begitu persoalannya menjadi lain. Alkitab dari dulu sampai sekarang sama, tapi penafsiran manusia dari jaman ke jaman berubah. Sejarah gereja punya sisi gelap bahkan mengerikan.

         

         Dari satu segi, kita mendalami agama yang kita yakini adalah untuk mendalami firman Tuhan dalam konteks hubungan pribadi dengan Dia.

         

        Tapi manakala kita "memeriksa" ajaran agama lain (kitab sucinya) untuk mencari "apa yang tidak beres", sekedar utk diri sendiri tidak mengapa. Tapi kalau kita mempelajarinya dengan semangat "perang salib", maka ujung-ujungnya sulit dibayangkan apa jadinya.

         

        Saya terkesan dengan buku "Tidak Ada Gagang Pada Salib" karangan  Kosuke Koyama (Penerbit BPK). Dia mengaajak kita untuk melihat kehidupan agama-agama di dunia ini dengan pandangan teologia yang sudah disalibkan. Allah tidak memihak agama.  Agama Kristen tidaklah identik dengan Yesus Kristus. Akan tetapi Yesus Kristus berdiri pada pusat agama Kristen, kata Koyama.

         

        Mengkaji agama lain utk melihat apa yang "tidak beres" di dalam kitab suci mereka, akan berbeda dengan mempelajarinya sebagai studi perbandingan.

         

        sg

         



        Daniel Ginting <dginting@...> wrote:
        Senina Simson:

        Aku membidik SEMUA AGAMA,  termasuk kristen.  Tentu kita harus membidik
        semua agama dan prinsip di dalamnya yang tidak sesuai dengan nilai
        kemanusiaan.  Jangan malu-malu atau mencoba "down play" ajaran yang tidak
        cocok dengan nilai kemanusiaan, karena pada akhirnya agama itu akan
        menyebabkan kekacauan.  Maaf kalau "saat ini" kebetulan ajaran Islam sedang
        disorot.  Sejarah menunjukkan "ajakran risten" juga di sorot sehingga
        sampai pada masa kini. Mungkin dimasa datang, Hindu dan Budha, dalam
        konteks Indonesia. Jadi makanya untuk tidak kacau, Agama itu atau kitab
        sucinya harus di sorot, kok malah kekacauan yang terjadi, again-and
        again.  What is wrong with the teaching.  Seandainya "AGAMA" itu tidak ada,
        mungkin dunia ini selangkah lebih aman?

        Bujur.


        At 11:40 PM 10/31/2005, you wrote:

        >
        >
        >Kalau kita mulai membidik agama lain sebagai sumber kejahatan atau apapun
        >namanya,  rasanya kita perlu hati-hati, jangan sampai tanpa sadar kita
        >mulai menganut "theologia premanisme".
        >
        >
        >
        >Karena itu isitilah "jubah" saya pakai, karena orang yang menganut agama
        >apapun, dari segi kemanusiaan banyak yang lebih memperlihatkan kasih
        >sayang daripada orang Kristen sendiri.
        >
        >Penyelewangan terjadi oleh orang-orang tertentu dengan kedok agama, bisa
        >dengan motif politik atau ekonomi, atau kedua-duanya.
        >
        >
        >
        >
        >
        >sg
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >Daniel Ginting <dginting@...> wrote:
        >Shalom:
        >
        >Premanisme berjubah agama?  Membaca link ini,
        >(<http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc),>http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc),
        >dimana
        >tiga siswa di penggal di Poso yang dimana pada waktu lalu konflic sectatian
        >antara muslim dan kristen memakan banyak korban, saya rasa sudah melebihi
        >tindakan premanisme dengan memakai jubah agama.
        >
        >Bukan jubah lagi, malah agama itu yang menjadikan dasar untuk melakukan
        >pembunuhan.  Marilah kita tidak memainkan "politically correct term" dengan
        >memakai istilah "jubah".  Yang jadi masalah adalah "AGAMA" itu
        >sendiri.  Memang "Agama" tidak sama dengan penganut agama, karena penganut
        >agama itu beragam-ragam tingkat penganutannya, pengertiannya,
        >interpretasinya, dsb-dsb.  Coba lihat begitu banyak aliran-aliran pada
        >agama yang sama.  Tetapi pada hakekatnya, Agama itu adalah "Garis besar
        >haluan bertindak", jadi agama itu yang seharusnya di telaah dan
        >dipermasalahkan.  Kalau mau lebih blatant, sumber agama itu sendiri (kitab
        >suci yang di pakai apakah itu bible, weda, kuran, gita, dsb-dsb) juga harus
        >ditelaah atau dipermasalahkan.  Apakah perang agama e.g. Crusaders pada
        >masa lalu ini bisa kita bilang premanisme?  Bukan kah "perang agama" dimasa
        >lalu itu melibatkan scala yang lebih besar (pemerintah/state/kingdom?).
        >
        >Sesuai dengan senina Simson, agama ataupun sumber agama itu harus dilhat
        >dalam konteks masa kini dan masa depan.  Dalam konteks kehidupan
        >pluralisme, unsur-unsur ajaran agama yang yang tidak sesuai dengan
        >nilai-nilai kemanusiaan, misalnya "jihad atau crusade dalam arti physical
        >bukan spiritual" harus di enyahkan dari muka bumi ini.  Apalagi telah
        >melibatkan aparat pemerintahan/state/kingdom.
        >
        >Dalam konteks yang lebih dalam dari sekedar membunuh pisiks adalah
        >pembunuhan ide.  Sejak di Indonesia dulu (sebagai mahasiswa IPB), saya
        >telah melihat benih-benih kebencian tersembunyi.  Wong setelah kuliah agama
        >di tingkat 1, yang tadinya teman akrab tiba-tiba langsung menjauh.  Mungkin
        >yang lebih parah adalah dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan.  Karena
        >berbeda agama, maka kompetisi sehat di bunuh, misalnya mau naik pangkat
        >atau mau jadi pegawai di institusi pemerintahan.  Kadang-kadang secara
        >tersembunyi "public secreat", harus pakai sistem persent, berdasarkan
        >proporsi penduduk dan agama.  Bagaimana kita bisa maju di masa kini dan
        >masa depan kalau semuanya hanya sekedar "retorika" agama?
        >
        >DG
        >
        >Akhir-akhir ini semakin marak tindakan premanisme yang dilakukan
        > >oleh sekelompok orang dengan mengenakan jubah agama. Sebenarnya,
        > >penganiayaan terhadap kebebasan beragama adalah urusan semua orang
        > >beriman dari agama manapun mereka berasal dan mereka yang bisa
        > >berpikir.
        > >
        > >Salah satu bukti bahwa sejarah tdk hanya sekedar catatan masa lalu,
        > >maknanya harus dilihat dalam konteks masa kini dan masa depan.
        > >Dengan kacamata ini pula kita toleh makna Sumpah Pemuda 1928 tempo
        > >hari dalam bingkai permasalahan masa kini.
        > >
        > >"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak
        > >baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan
        > >buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."
        > >
        > >
        > >
        > >sg
        >
        >
        ><http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFqODRtdXQ4BF9TAzMyOTc1MDIEX3MDOTY2ODgxNjkEcG9zAzEEc2VjA21haWwtZm9vdGVyBHNsawNmYw--/SIG=110oav78o/**http%3a//farechase.yahoo.com/>Yahoo!
        >FareChase - Search multiple travel sites in one click.
        >
        >Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com
        >
        >
        >
        >
        >----------
        >YAHOO! GROUPS LINKS
        >
        >    *  Visit your group "<http://groups.yahoo.com/group/gbkp>gbkp" on the
        > web.
        >    *
        >    *  To unsubscribe from this group, send an email to:
        >    *
        > <mailto:gbkp-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe>gbkp-unsubscribe@yahoogroups.com
        >
        >    *
        >    *  Your use of Yahoo! Groups is subject to the
        > <http://docs.yahoo.com/info/terms/>Yahoo! Terms of Service.
        >
        >
        >----------

        Daniel Ginting, Ph.D, Research Assistant Professor
        Dep. Agronomy and Horticulture, Univ. of Nebraska
        Lincoln, NE
        phone:402-472-0258



        Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

      • nomi sinulingga
        Membaca email-email ini, saya hanya mensyukuri karena kekristenan lebih dari pada sekedar agama. Agama memang banyak kekurangannya, bisa dimanipulasi bisa
        Message 3 of 9 , Nov 1, 2005
        • 0 Attachment
          Membaca email-email ini, saya hanya mensyukuri karena kekristenan lebih dari pada sekedar agama. Agama memang banyak kekurangannya, bisa dimanipulasi bisa dimasuki polotik dan banyak hal bias dilakukan kepada sebuah agama. Ketika kita menyadari kekristenan bukan hanya agama, tetapi melampaui agama. Dan Kekristenan memang harus dikemas dalam bentuk agama maka semua hal yang terjadi terhadap agama dapat juga terjadi kepada agama Kristen.
          Enggak perlu kita membidik agama apapun karena ketika Kristen menjadi agama, dia juga memiliki banyak kelemahan dan sejarah memberikan banyak contoh bagaimana agama kristen juga melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ALkitab.
           
          Sebagai orang Kristen, apa sikap kita melihat semua kejadian ini adalah yang paling penting. Bukan sekedar memberi penilaian terhadap yang lain...tetapi lebih melihat bagaimana Allah melihat semua kejadian ini.
           
          Selamat merenungkan semua kejadian yang membawa kematian ini.
          Manusia mampu membunuh tubuh, tetapi takutlah kepada Tuhan yang mampu membunuh jiwa.
           
          salam
          Nomi


          simson ginting <uncleiting2002@...> wrote:

          Kalau kita mulai membidik agama lain sebagai sumber kejahatan atau apapun namanya,  rasanya kita perlu hati-hati, jangan sampai tanpa sadar kita mulai menganut "theologia premanisme".

           

          Karena itu isitilah "jubah" saya pakai, karena orang yang menganut agama apapun, dari segi kemanusiaan banyak yang lebih memperlihatkan kasih sayang daripada orang Kristen sendiri.

          Penyelewangan terjadi oleh orang-orang tertentu dengan kedok agama, bisa dengan motif politik atau ekonomi, atau kedua-duanya.

           

           

          sg

           


           



          Daniel Ginting <dginting@...> wrote:
          Shalom:

          Premanisme berjubah agama?  Membaca link ini,
          (http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc), dimana
          tiga siswa di penggal di Poso yang dimana pada waktu lalu konflic sectatian
          antara muslim dan kristen memakan banyak korban, saya rasa sudah melebihi
          tindakan premanisme dengan memakai jubah agama.

          Bukan jubah lagi, malah agama itu yang menjadikan dasar untuk melakukan
          pembunuhan.  Marilah kita tidak memainkan "politically correct term" dengan
          memakai istilah "jubah".  Yang jadi masalah adalah "AGAMA" itu
          sendiri.  Memang "Agama" tidak sama dengan penganut agama, karena penganut
          agama itu beragam-ragam tingkat penganutannya, pengertiannya,
          interpretasinya, dsb-dsb.  Coba lihat begitu banyak aliran-aliran pada
          agama yang sama.  Tetapi pada hakekatnya, Agama itu adalah "Garis besar
          haluan bertindak", jadi agama itu yang seharusnya di telaah dan
          dipermasalahkan.  Kalau mau lebih blatant, sumber agama itu sendiri (kitab
          suci yang di pakai apakah itu bible, weda, kuran, gita, dsb-dsb) juga harus
          ditelaah atau dipermasalahkan.  Apakah perang agama e.g. Crusaders pada
          masa lalu ini bisa kita bilang premanisme?  Bukan kah "perang agama" dimasa
          lalu itu melibatkan scala yang lebih besar (pemerintah/state/kingdom?).

          Sesuai dengan senina Simson, agama ataupun sumber agama itu harus dilhat
          dalam konteks masa kini dan masa depan.  Dalam konteks kehidupan
          pluralisme, unsur-unsur ajaran agama yang yang tidak sesuai dengan
          nilai-nilai kemanusiaan, misalnya "jihad atau crusade dalam arti physical
          bukan spiritual" harus di enyahkan dari muka bumi ini.  Apalagi telah
          melibatkan aparat pemerintahan/state/kingdom.

          Dalam konteks yang lebih dalam dari sekedar membunuh pisiks adalah
          pembunuhan ide.  Sejak di Indonesia dulu (sebagai mahasiswa IPB), saya
          telah melihat benih-benih kebencian tersembunyi.  Wong setelah kuliah agama
          di tingkat 1, yang tadinya teman akrab tiba-tiba langsung menjauh.  Mungkin
          yang lebih parah adalah dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan.  Karena
          berbeda agama, maka kompetisi sehat di bunuh, misalnya mau naik pangkat
          atau mau jadi pegawai di institusi pemerintahan.  Kadang-kadang secara
          tersembunyi "public secreat", harus pakai sistem persent, berdasarkan
          proporsi penduduk dan agama.  Bagaimana kita bisa maju di masa kini dan
          masa depan kalau semuanya hanya sekedar "retorika" agama?

          DG

          Akhir-akhir ini semakin marak tindakan premanisme yang dilakukan
          >oleh sekelompok orang dengan mengenakan jubah agama. Sebenarnya,
          >penganiayaan terhadap kebebasan beragama adalah urusan semua orang
          >beriman dari agama manapun mereka berasal dan mereka yang bisa
          >berpikir.
          >
          >Salah satu bukti bahwa sejarah tdk hanya sekedar catatan masa lalu,
          >maknanya harus dilihat dalam konteks masa kini dan masa depan.
          >Dengan kacamata ini pula kita toleh makna Sumpah Pemuda 1928 tempo
          >hari dalam bingkai permasalahan masa kini.
          >
          >"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak
          >baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan
          >buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."
          >
          >
          >
          >sg


          Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.


          Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

        • dolata.ginting
          Menanggapi akan pernyataan pernyataan yang bernada miring tentang tingkah polah seseorang, itu merupakan watak yang memang dating dari sanany6a dan tak mungkin
          Message 4 of 9 , Nov 8, 2005
          • 0 Attachment
            Menanggapi akan pernyataan pernyataan yang bernada miring tentang tingkah
            polah seseorang, itu merupakan watak yang memang dating dari sanany6a dan
            tak mungkin untuk dirubah. Oleh karaena itu kita sebagai manusia yng
            berpendidikan, perlu rasanya mengantisipasi dengan cara:

            1. Tetap waspada seperti halnya IBLIS Masuk Gereja.
            2. Mengingatkan secara hormat dan tegas agar jabngan diteruskan
            apabila tindakan seseorang dianggap telah menyalahi aturan.
            3. Tetaplah berpegang teguh terhadap aturan yang telah disepakati untuk
            ditaati bersama.
            4. Tidak memberikan kesempatan dan ruang gerak bagi mereka yang ingin
            memanfaatkan situasi.

            Demikianlah penanggapan saya

            Syaloom.

            D.Ginting

            -----Original Message-----
            From: gbkp@yahoogroups.com [mailto:gbkp@yahoogroups.com] On Behalf Of Daniel
            Ginting
            Sent: Monday, October 31, 2005 8:53 AM
            To: gbkp@yahoogroups.com
            Subject: [gbkp] Premanisme Dalam Jubah Agama
            Importance: High

            Shalom:

            Premanisme berjubah agama? Membaca link ini,
            (http://news.yahoo.com/s/nm/20051029/ts_nm/indonesia_violence_dc), dimana
            tiga siswa di penggal di Poso yang dimana pada waktu lalu konflic sectatian
            antara muslim dan kristen memakan banyak korban, saya rasa sudah melebihi
            tindakan premanisme dengan memakai jubah agama.

            Bukan jubah lagi, malah agama itu yang menjadikan dasar untuk melakukan
            pembunuhan. Marilah kita tidak memainkan "politically correct term" dengan
            memakai istilah "jubah". Yang jadi masalah adalah "AGAMA" itu
            sendiri. Memang "Agama" tidak sama dengan penganut agama, karena penganut
            agama itu beragam-ragam tingkat penganutannya, pengertiannya,
            interpretasinya, dsb-dsb. Coba lihat begitu banyak aliran-aliran pada
            agama yang sama. Tetapi pada hakekatnya, Agama itu adalah "Garis besar
            haluan bertindak", jadi agama itu yang seharusnya di telaah dan
            dipermasalahkan. Kalau mau lebih blatant, sumber agama itu sendiri (kitab
            suci yang di pakai apakah itu bible, weda, kuran, gita, dsb-dsb) juga harus
            ditelaah atau dipermasalahkan. Apakah perang agama e.g. Crusaders pada
            masa lalu ini bisa kita bilang premanisme? Bukan kah "perang agama" dimasa
            lalu itu melibatkan scala yang lebih besar (pemerintah/state/kingdom?).

            Sesuai dengan senina Simson, agama ataupun sumber agama itu harus dilhat
            dalam konteks masa kini dan masa depan. Dalam konteks kehidupan
            pluralisme, unsur-unsur ajaran agama yang yang tidak sesuai dengan
            nilai-nilai kemanusiaan, misalnya "jihad atau crusade dalam arti physical
            bukan spiritual" harus di enyahkan dari muka bumi ini. Apalagi telah
            melibatkan aparat pemerintahan/state/kingdom.

            Dalam konteks yang lebih dalam dari sekedar membunuh pisiks adalah
            pembunuhan ide. Sejak di Indonesia dulu (sebagai mahasiswa IPB), saya
            telah melihat benih-benih kebencian tersembunyi. Wong setelah kuliah agama
            di tingkat 1, yang tadinya teman akrab tiba-tiba langsung menjauh. Mungkin
            yang lebih parah adalah dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan. Karena
            berbeda agama, maka kompetisi sehat di bunuh, misalnya mau naik pangkat
            atau mau jadi pegawai di institusi pemerintahan. Kadang-kadang secara
            tersembunyi "public secreat", harus pakai sistem persent, berdasarkan
            proporsi penduduk dan agama. Bagaimana kita bisa maju di masa kini dan
            masa depan kalau semuanya hanya sekedar "retorika" agama?

            DG

            Akhir-akhir ini semakin marak tindakan premanisme yang dilakukan
            >oleh sekelompok orang dengan mengenakan jubah agama. Sebenarnya,
            >penganiayaan terhadap kebebasan beragama adalah urusan semua orang
            >beriman dari agama manapun mereka berasal dan mereka yang bisa
            >berpikir.
            >
            >Salah satu bukti bahwa sejarah tdk hanya sekedar catatan masa lalu,
            >maknanya harus dilihat dalam konteks masa kini dan masa depan.
            >Dengan kacamata ini pula kita toleh makna Sumpah Pemuda 1928 tempo
            >hari dalam bingkai permasalahan masa kini.
            >
            >"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak
            >baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan
            >buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."
            >
            >
            >
            >sg




            Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com

            Yahoo! Groups Links
          • Christina gtg.
            SUARA PEMBARUAN DAILY ... WashWatch Seandainya Paris Jadi Poso Christianto Wibisono ARI Kamis, 27 Oktober 2005, dua remaja imigran tewas tersetrum listrik di
            Message 5 of 9 , Nov 9, 2005
            • 0 Attachment
              SUARA PEMBARUAN DAILY
              ---------------------------------
              WashWatch
              Seandainya Paris Jadi Poso

              Christianto Wibisono

              ARI Kamis, 27 Oktober 2005, dua remaja imigran tewas tersetrum
              listrik di Paris. Masyarakat imigran Arab Muslim menuduh polisi
              mengejar dan membiarkan. Selama seminggu suntuk, 20 kota sekitar
              Paris dilanda kerusuhan berupa pembakaran ratusan mobil. Ini adalah
              krisis internal Prancis yang terserius sejak perang global melawan
              teror.

              Presiden Jacques Chirac, PM Dominique de Villepin dan Mendagri
              Nicolas Sarkozy membatalkan rencana kepergian untuk secara marathon
              mengatasi krisis SARA terberat di Prancis. Hari Sabtu, 29 Oktober, 3
              siswi Kristen dipenggal kepalanya di Poso secara "profesional" oleh
              teroris yang sudah mahir melakukan pembantaian semacam itu.
              Poso dan Ambon sudah sekitar lima tahun menjadi ajang konflik
              berdarah. Tapi jarang masuk CNN, sedang Paris segera tertayang di
              seluruh jaringan televisi global.

              Kekerasan SARA di Paris mengurungkan niat Pangeran Charles untuk
              menggurui Bush agar tidak terlalu keras terhadap Islam.
              Dalam pidato makan malam kenegaraan, Charles hanya menyinggung soal
              pemanasan global dari wacana lingkungan hidup. Sebelumnya ada pesan
              sponsor dari masyarakat Muslim di Inggris untuk menegur Bush yang
              dianggap terlalu keras terhadap Islam.

              Terjemahan bahasa Inggris buku Oriana Fallaci The Force of Reason
              baru saja beredar. Fallaci mengingatkan bahwa Eropa bakal segera
              menjadi koloni Arab. Januari lalu, pengarang wanita Mesir dengan
              nama samaran Bat Ye'or menulis buku berjudul Eurabia. Europa akan
              berubah menjadi Eurabia, karena kaum imigran Timur Tengah justru
              berani menuntut hak eksklusif, separatis dan sektarian secara agama,
              sosial dan budaya. Mereka memberlakukan syariah di kota-kota, di
              mana Islam adalah mayoritas dan tidak mengakui hukum perdata yang
              sudah berlangsung sejak zaman Napoleon.

              Imigran sekuler dari Timur Tengah mengeluh bahwa dia lari dari
              negaranya untuk menghindari syariah, tapi malah dipaksa menerima
              syariah oleh pemerintah liberal Eropa yang mengorbankan hukum
              perdata di bawah hukum syariah. Dengan kata lain, justru di pelbagai
              wilayah yang mayoritas Muslim, Darul Islam dan hukum syariah Islam
              sudah diberlakukan di Paris, Hamburg, Denmark, Swedia, Inggris,
              Italia.

              Ekspansi syariah Islam ini juga berlangsung pesat di Detroit
              Michigan, di mana keturunan Arab merupakan mayoritas. Suasana sudah
              mirip Timur Tengah dan bukan Amerika Tengah. Islamisasi secara
              sosial budaya melanda Eropa karena secara demografis penduduk Islam
              berlipat ganda lebih cepat dari masyarakat kulit putih yang tidak
              berminat mempunyai keturunan/anak.

              Sebagian besar warga pribumi Eropa juga sudah tidak peduli dengan
              agama Kristen, menjadi sekuler dan atheis yang tidak ambil pusing
              apakah orang lain beragama Kristen atau Islam. Mereka tidak
              mempunyai sistem nilai yang berbobot untuk dipertahankan dan dibela.
              Karena itu, menurut Fallaci, Eropa sedang berubah menjadi Erabia.
              Dalam satu generasi Islamisasi di Eropa akan menjadi kenyataan
              melalui pemberlakuan syariah secara bertahap dari pelbagai kota
              (town-municipalities) disekitar ibukota metropolitan seperti Paris
              atau London.

              KERUSUHAN di Paris selama seminggu merupakan mata rantai dari
              konflik kebencian yang telah dimulai sejak pembunuhan Theo van Gogh
              setahun lalu di Belanda dan teror bom Bali, Madrid dan London. Paris
              hanya satu bagian mikro dari jihad global kelompok garis keras Islam
              radikal seluruh dunia.

              Oriana Fallaci (76 th) sendiri sudah menjadi atheis dan ia mengecam
              Paus dan Gereja Katolik yang dianggap terlalu lemah menghadapi arus
              syariah-isasi dunia dan Eropa. Tentu ia belum memperhitungkan sikap
              prinsipiil Paus Benediktus XVI yang ingin menegakkan kembali moral
              hakiki kebenaran dan keadilan tidak bisa direlatifkan.
              Sementara itu, Presiden Bush sedang menghadapi KTT Amerika yang
              paling sulit karena gembong garis keras anti AS, Presiden Hugo
              Chavez dari Venezuela sudah siap jadi penantang AS yang populis dan
              didukung opini public Amerika Latin.

              Semuanya sudah capek merasa selalu jadi junior, antek, bawahan,
              penerima bantuan dan sumbangan serta lebih miskin dari AS.
              Mereka merasa telah dieksploitasi oleh AS sebagai super power dan
              karena itu merasa harus mandiri, bersatu padu menghadapi AS baru
              bisa berperanan secara setara. Tentu saja tidak banyak yang
              melakukan mawas diri, kenapa Amerika Latin yang 100 tahun lalu sama
              makmur dan pendapatan per kapitanya dengan AS sekarang merosot jadi
              Dunia Ketiga.

              Buenos Aires sebelum Perang Dunia II dikenal sebagai Parisnya
              Amerika Latin dan menjadi kiblat wisatawan. Sekarang kalau orang
              mendengar tentang ibu kota Amerika Latin maka orang takut narkoba,
              gang, culik, bom dan teror serta demo yang jadi kriminal.
              Konfrontasi Dunia Ketiga vs AS sedang berlangsung di Mar del Plata,
              Argentina selama dua hari 4-5 November.

              Dengan insiden SARA di Paris, dunia harus insaf bahwa perang
              ideologi antara kebenaran, keadilan, dan hukum melawan teror,
              kebencian dan main hakim sendiri adalah tantangan dunia pasca 911.
              Jika masing-masing kubu Osama dan Bush mengklaim diri mereka sebagai
              wakil Allah atau Tuhan, tidak mungkin dua-duanya benar. Manusia
              harus berani melakukan mawas diri ke dalam lubuk hati nurani masing-
              masing.

              Apakah dunia ini akan rela diperintah menurut hukum dan moral yang
              manusiawi dengan memberikan imbalan kepada masyarakat awam yang
              patuh hukum serta memberikan hukuman pada mereka yang melanggar
              hukum. Atau dunia akan terpecah menjadi gang-gang sektarian,
              partisan, primordial dan primitive yang sudah bertiwikrama menjadi
              jaringan global tanpa bisa dilokalisasi dan diabaikan.

              Selama berabad-abad manusia hidup dalam lingkungan lokal, tribal,
              nasional yang sempit. Semua selalu mengandalkan kekuatan mayoritas
              untuk menundukkan dan menaklukkan yang minoritas. Walaupun belum
              tentu mayoritas itu benar dan adil, jujur dan mewakili hati nurani,
              tapi karena mereka mayoritas maka dibenarkan mewakili suatu bangsa
              (nation state). Sedang minoritas boleh ditindas bila perlu
              dibersihkan secara ethnic cleansing Bosnia atau Rwanda.

              Sekarang ini nation-state sudah terterobos oleh lalu lintas migrasi
              yang sulit dibendung. Imigran Muslim, walaupun minoritas, berani
              menuntut hak di Eropa dan AS dan sedang dalam proses menjadi
              mayoritas di Eropa. Dalam posisi minoritas, mereka berhasil
              menerapkan asas tirani minoritas dengan menuntut syariah di pelbagai
              wilayah dan masalah perdata. Dalam posisi mayoritas mereka akan
              menerapkan full syariah di bumi Eropa.

              Masalah besar bagi dunia ialah apakah rezim syariah yang akan
              diterapkan di Eropa itu bisa melanjutkan tradisi demokrasi liberal
              Eropa. Atau akan bermutasi menjadi rezim Timur Tengah yang tidak
              jelas apa dan siapa modelnya.

              Apakah Prancis setelah dikuasai Islam akan menjadi seperti Libia di
              bawah Khadafi, atau Mesir di bawah Mubarak, atau Iran di bawah
              Khamenei, atau Saudi Arabia?
              Kalau Eropa menjadi Erabia dan masuk kubu Timur Tengah, apakah dunia
              akan lebih makmur. Apakah Erabia bisa mempertahankan tingkat
              kesejahteraan sosial ekonomi yang dicapai dengan susah payah
              pembangunan ekonomi pasar dalam asas negara kesejahteraan?

              Apakah Erabia bisa mengulangi kisah sukses Harun Al Rasyid (763-809)
              membangun kalifah Baghdad yang makmur, terbuka, toleran, pluralis
              dan mencapai salah puncak keemasan Islam? Harun Al Rasyid memberikan
              asas meritokrasi terhadap sarjana non-Muslim untuk berkarya di
              Baghdad.
              *
              RENTETAN pertanyaan yang menggelitik tersebut semakin relevan dengan
              kenyataan pahit, konflik SARA di Paris. Dunia menghadapi pilihan
              untuk memilih rezim dan system sosial politik toleran majemuk
              berdasarkan hukum yang menghormati harkat dan martabat manusia.
              Atau, justru terjebak ingin melestarikan hukum sektarian primordial
              primitif yang hanya berlaku untuk satu suku, agama, bangsa secara
              eksklusif.

              Artinya, manusia dunia akan dibagi dan dipecah menurut suku dan
              agama yang harus dimenangkan oleh salah satu dengan melenyapkan yang
              lain bila perlu dengan kekerasan. Oriana Fallaci dan Bat Ye'or
              menilai dunia tampak sudah muak, benci dan jenuh terhadap Barat.
              Sedang Barat sendiri telah kehilangan assertiveness untuk membela
              nilai-nilai luhur yang dimilikinya.

              Maka, ideologi paling agresif model syariah-lah yang akan menguasai
              dunia. Kalau Eropa jadi Erabia, itu risiko dari kelemahan dan
              ketakutan Barat yang tidak yakin akan sistem nilai sosial budaya dan
              akar sejarahnya dalam perjuangan menegakkan hak asasi manusia.

              Fallaci tentu belum memperhitungkan faktor kekuatan ketiga di luar
              Barat dan Islam, yaitu Asia Timur. Inilah yang secara modern disebut
              sebagai skenario Huntington tentang the clash of civilizations.
              Tiongkok tidak asing dengan konflik itu karena sudah pernah
              mengalami sejarah Sam Kok (220-280), perang tiga negara
              memperebutkan dominasi Tiongkok.

              Meramal masa depan tanpa membaca sejarah akan berujung kekeliruan.
              Jadi penganut Huntington mesti membaca Sam Kok supaya paham kenapa
              Hu Jintau tenang-tenang saja dalam kondisi Paris menjadi Poso atau
              Detroit menjadi Medina. *
            • Daniel Ginting
              Shalom: Ini juga terjadi di suatu kota di Canada. Saya sependapat karena memang orang barat tampaknya seperti acuh tak acuh akan masalah ini. Jadi ribut
              Message 6 of 9 , Nov 9, 2005
              • 0 Attachment
                Shalom:

                Ini juga terjadi di suatu kota di Canada. Saya sependapat karena memang
                orang barat tampaknya seperti "acuh tak acuh" akan masalah ini. Jadi ribut
                hanya kalau udah terlambat.

                Kembali ke masalah isu "Agama" dan "pelaku agama" yang kita diskusikan pada
                minggu yang lalu. Masyarakat awam bule berprinsip agama itu semua baik,
                cuma ada beberapa pelakunya yang tidak baik". Ini tentu., karena banyak
                orang barat yang muak dengan agama "kristen" karena "tingkah pelaku agama
                kristen". Bagi saya pendapat yang mengatakan "semua agama baik" adalah
                salah fatal, tanpa melihat korelasi antara ajaran agama itu dan data di
                lapangan, atau sebenarnya tak acuh atas data dilapangan. Sikap ini
                jugalah yang saya khawatirkan terhadap kaum awam non-muslim di
                Indonesia. Bisa jadi di tanah karo atau toba, syariah akan terjadi kalau
                orang-orang karo dan toba non-islam bersikap acuh tak acuh saja sama data
                dilapangan.

                Hari ini departemen luar negeri mengeluarkan list negara-negara dimana
                persekusi karena menganut agama yang lain dari yang mayoritas. Urutan
                teratas? Negara Islam. Dengan kasus di Indonesia. Kok hanya Gusdur yang
                kaok-kaok mengutuk pemenjaraan tiga wanita yang dituduh mengganti agama
                anak-anak yang mengikuti acara mereka? Mana MUI? Mana partai-partai Islam
                lainnya? Mana ada lembaga-lembaga Islam yang mencela pembunuhan
                siswa-siswa itu? Begitu juga dengan yang terjadi pemboman oleh terorist
                islam. Mana negara Islam yang mau mencela? Apa MUI mau membela
                orang-orang yang gereja mereka ditutup atau dirusak? Mengapa mereka tidak
                membuat fatwa untuk orang-orang yang merusak atas nama Islam "kata senina
                S. Ginting berjubah agama islam?

                Inilah makanya lebih baik kita tidak perlu berbasa-basi tentang "ketidak
                baikan agama" itu, apakah islam, kristen, dsbnya. Kalau agama baik tentu
                bisa dilihat dari buahnya, apa busuk atau tidak.

                Do not give me christianity but give me Christ
                Do not give me islam but give me peace
                Do not give me buddhism but give humanity
                etc. etc.





                At 06:20 AM 11/9/2005, you wrote:
                >SUARA PEMBARUAN DAILY
                >---------------------------------
                >WashWatch
                >Seandainya Paris Jadi Poso
                >
                >Christianto Wibisono
                >
                >ARI Kamis, 27 Oktober 2005, dua remaja imigran tewas tersetrum
                >listrik di Paris. Masyarakat imigran Arab Muslim menuduh polisi
                >mengejar dan membiarkan. Selama seminggu suntuk, 20 kota sekitar
                >Paris dilanda kerusuhan berupa pembakaran ratusan mobil. Ini adalah
                >krisis internal Prancis yang terserius sejak perang global melawan
                >teror.
                >
                >Presiden Jacques Chirac, PM Dominique de Villepin dan Mendagri
                >Nicolas Sarkozy membatalkan rencana kepergian untuk secara marathon
                >mengatasi krisis SARA terberat di Prancis. Hari Sabtu, 29 Oktober, 3
                >siswi Kristen dipenggal kepalanya di Poso secara "profesional" oleh
                >teroris yang sudah mahir melakukan pembantaian semacam itu.
                >Poso dan Ambon sudah sekitar lima tahun menjadi ajang konflik
                >berdarah. Tapi jarang masuk CNN, sedang Paris segera tertayang di
                >seluruh jaringan televisi global.
                >
                >Kekerasan SARA di Paris mengurungkan niat Pangeran Charles untuk
                >menggurui Bush agar tidak terlalu keras terhadap Islam.
                >Dalam pidato makan malam kenegaraan, Charles hanya menyinggung soal
                >pemanasan global dari wacana lingkungan hidup. Sebelumnya ada pesan
                >sponsor dari masyarakat Muslim di Inggris untuk menegur Bush yang
                >dianggap terlalu keras terhadap Islam.
                >
                >Terjemahan bahasa Inggris buku Oriana Fallaci The Force of Reason
                >baru saja beredar. Fallaci mengingatkan bahwa Eropa bakal segera
                >menjadi koloni Arab. Januari lalu, pengarang wanita Mesir dengan
                >nama samaran Bat Ye'or menulis buku berjudul Eurabia. Europa akan
                >berubah menjadi Eurabia, karena kaum imigran Timur Tengah justru
                >berani menuntut hak eksklusif, separatis dan sektarian secara agama,
                >sosial dan budaya. Mereka memberlakukan syariah di kota-kota, di
                >mana Islam adalah mayoritas dan tidak mengakui hukum perdata yang
                >sudah berlangsung sejak zaman Napoleon.
                >
                >Imigran sekuler dari Timur Tengah mengeluh bahwa dia lari dari
                >negaranya untuk menghindari syariah, tapi malah dipaksa menerima
                >syariah oleh pemerintah liberal Eropa yang mengorbankan hukum
                >perdata di bawah hukum syariah. Dengan kata lain, justru di pelbagai
                >wilayah yang mayoritas Muslim, Darul Islam dan hukum syariah Islam
                >sudah diberlakukan di Paris, Hamburg, Denmark, Swedia, Inggris,
                >Italia.
                >
                >Ekspansi syariah Islam ini juga berlangsung pesat di Detroit
                >Michigan, di mana keturunan Arab merupakan mayoritas. Suasana sudah
                >mirip Timur Tengah dan bukan Amerika Tengah. Islamisasi secara
                >sosial budaya melanda Eropa karena secara demografis penduduk Islam
                >berlipat ganda lebih cepat dari masyarakat kulit putih yang tidak
                >berminat mempunyai keturunan/anak.
                >
                >Sebagian besar warga pribumi Eropa juga sudah tidak peduli dengan
                >agama Kristen, menjadi sekuler dan atheis yang tidak ambil pusing
                >apakah orang lain beragama Kristen atau Islam. Mereka tidak
                >mempunyai sistem nilai yang berbobot untuk dipertahankan dan dibela.
                >Karena itu, menurut Fallaci, Eropa sedang berubah menjadi Erabia.
                >Dalam satu generasi Islamisasi di Eropa akan menjadi kenyataan
                >melalui pemberlakuan syariah secara bertahap dari pelbagai kota
                >(town-municipalities) disekitar ibukota metropolitan seperti Paris
                >atau London.
                >
                >KERUSUHAN di Paris selama seminggu merupakan mata rantai dari
                >konflik kebencian yang telah dimulai sejak pembunuhan Theo van Gogh
                >setahun lalu di Belanda dan teror bom Bali, Madrid dan London. Paris
                >hanya satu bagian mikro dari jihad global kelompok garis keras Islam
                >radikal seluruh dunia.
                >
                >Oriana Fallaci (76 th) sendiri sudah menjadi atheis dan ia mengecam
                >Paus dan Gereja Katolik yang dianggap terlalu lemah menghadapi arus
                >syariah-isasi dunia dan Eropa. Tentu ia belum memperhitungkan sikap
                >prinsipiil Paus Benediktus XVI yang ingin menegakkan kembali moral
                >hakiki kebenaran dan keadilan tidak bisa direlatifkan.
                >Sementara itu, Presiden Bush sedang menghadapi KTT Amerika yang
                >paling sulit karena gembong garis keras anti AS, Presiden Hugo
                >Chavez dari Venezuela sudah siap jadi penantang AS yang populis dan
                >didukung opini public Amerika Latin.
                >
                >Semuanya sudah capek merasa selalu jadi junior, antek, bawahan,
                >penerima bantuan dan sumbangan serta lebih miskin dari AS.
                >Mereka merasa telah dieksploitasi oleh AS sebagai super power dan
                >karena itu merasa harus mandiri, bersatu padu menghadapi AS baru
                >bisa berperanan secara setara. Tentu saja tidak banyak yang
                >melakukan mawas diri, kenapa Amerika Latin yang 100 tahun lalu sama
                >makmur dan pendapatan per kapitanya dengan AS sekarang merosot jadi
                >Dunia Ketiga.
                >
                >Buenos Aires sebelum Perang Dunia II dikenal sebagai Parisnya
                >Amerika Latin dan menjadi kiblat wisatawan. Sekarang kalau orang
                >mendengar tentang ibu kota Amerika Latin maka orang takut narkoba,
                >gang, culik, bom dan teror serta demo yang jadi kriminal.
                >Konfrontasi Dunia Ketiga vs AS sedang berlangsung di Mar del Plata,
                >Argentina selama dua hari 4-5 November.
                >
                >Dengan insiden SARA di Paris, dunia harus insaf bahwa perang
                >ideologi antara kebenaran, keadilan, dan hukum melawan teror,
                >kebencian dan main hakim sendiri adalah tantangan dunia pasca 911.
                >Jika masing-masing kubu Osama dan Bush mengklaim diri mereka sebagai
                >wakil Allah atau Tuhan, tidak mungkin dua-duanya benar. Manusia
                >harus berani melakukan mawas diri ke dalam lubuk hati nurani masing-
                >masing.
                >
                >Apakah dunia ini akan rela diperintah menurut hukum dan moral yang
                >manusiawi dengan memberikan imbalan kepada masyarakat awam yang
                >patuh hukum serta memberikan hukuman pada mereka yang melanggar
                >hukum. Atau dunia akan terpecah menjadi gang-gang sektarian,
                >partisan, primordial dan primitive yang sudah bertiwikrama menjadi
                >jaringan global tanpa bisa dilokalisasi dan diabaikan.
                >
                >Selama berabad-abad manusia hidup dalam lingkungan lokal, tribal,
                >nasional yang sempit. Semua selalu mengandalkan kekuatan mayoritas
                >untuk menundukkan dan menaklukkan yang minoritas. Walaupun belum
                >tentu mayoritas itu benar dan adil, jujur dan mewakili hati nurani,
                >tapi karena mereka mayoritas maka dibenarkan mewakili suatu bangsa
                >(nation state). Sedang minoritas boleh ditindas bila perlu
                >dibersihkan secara ethnic cleansing Bosnia atau Rwanda.
                >
                >Sekarang ini nation-state sudah terterobos oleh lalu lintas migrasi
                >yang sulit dibendung. Imigran Muslim, walaupun minoritas, berani
                >menuntut hak di Eropa dan AS dan sedang dalam proses menjadi
                >mayoritas di Eropa. Dalam posisi minoritas, mereka berhasil
                >menerapkan asas tirani minoritas dengan menuntut syariah di pelbagai
                >wilayah dan masalah perdata. Dalam posisi mayoritas mereka akan
                >menerapkan full syariah di bumi Eropa.
                >
                >Masalah besar bagi dunia ialah apakah rezim syariah yang akan
                >diterapkan di Eropa itu bisa melanjutkan tradisi demokrasi liberal
                >Eropa. Atau akan bermutasi menjadi rezim Timur Tengah yang tidak
                >jelas apa dan siapa modelnya.
                >
                >Apakah Prancis setelah dikuasai Islam akan menjadi seperti Libia di
                >bawah Khadafi, atau Mesir di bawah Mubarak, atau Iran di bawah
                >Khamenei, atau Saudi Arabia?
                >Kalau Eropa menjadi Erabia dan masuk kubu Timur Tengah, apakah dunia
                >akan lebih makmur. Apakah Erabia bisa mempertahankan tingkat
                >kesejahteraan sosial ekonomi yang dicapai dengan susah payah
                >pembangunan ekonomi pasar dalam asas negara kesejahteraan?
                >
                >Apakah Erabia bisa mengulangi kisah sukses Harun Al Rasyid (763-809)
                >membangun kalifah Baghdad yang makmur, terbuka, toleran, pluralis
                >dan mencapai salah puncak keemasan Islam? Harun Al Rasyid memberikan
                >asas meritokrasi terhadap sarjana non-Muslim untuk berkarya di
                >Baghdad.
                >*
                >RENTETAN pertanyaan yang menggelitik tersebut semakin relevan dengan
                >kenyataan pahit, konflik SARA di Paris. Dunia menghadapi pilihan
                >untuk memilih rezim dan system sosial politik toleran majemuk
                >berdasarkan hukum yang menghormati harkat dan martabat manusia.
                >Atau, justru terjebak ingin melestarikan hukum sektarian primordial
                >primitif yang hanya berlaku untuk satu suku, agama, bangsa secara
                >eksklusif.
                >
                >Artinya, manusia dunia akan dibagi dan dipecah menurut suku dan
                >agama yang harus dimenangkan oleh salah satu dengan melenyapkan yang
                >lain bila perlu dengan kekerasan. Oriana Fallaci dan Bat Ye'or
                >menilai dunia tampak sudah muak, benci dan jenuh terhadap Barat.
                >Sedang Barat sendiri telah kehilangan assertiveness untuk membela
                >nilai-nilai luhur yang dimilikinya.
                >
                > Maka, ideologi paling agresif model syariah-lah yang akan menguasai
                >dunia. Kalau Eropa jadi Erabia, itu risiko dari kelemahan dan
                >ketakutan Barat yang tidak yakin akan sistem nilai sosial budaya dan
                >akar sejarahnya dalam perjuangan menegakkan hak asasi manusia.
                >
                >Fallaci tentu belum memperhitungkan faktor kekuatan ketiga di luar
                >Barat dan Islam, yaitu Asia Timur. Inilah yang secara modern disebut
                >sebagai skenario Huntington tentang the clash of civilizations.
                >Tiongkok tidak asing dengan konflik itu karena sudah pernah
                >mengalami sejarah Sam Kok (220-280), perang tiga negara
                >memperebutkan dominasi Tiongkok.
                >
                >Meramal masa depan tanpa membaca sejarah akan berujung kekeliruan.
                >Jadi penganut Huntington mesti membaca Sam Kok supaya paham kenapa
                >Hu Jintau tenang-tenang saja dalam kondisi Paris menjadi Poso atau
                >Detroit menjadi Medina. *
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                >Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com
                >
                >Yahoo! Groups Links
                >
                >
                >
                >

                Daniel Ginting, Ph.D, Research Assistant Professor
                Dep. Agronomy and Horticulture, Univ. of Nebraska
                Lincoln, NE
                phone:402-472-0258
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.