Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Renungen

Expand Messages
  • Martin Peranginangin
    SANG PEMENANG BESAR Bacaan: Ibrani 12:1-17 Siapa yang tidak akan terinsipirasi oleh seorang petarung yang bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan
    Message 1 of 1 , Apr 1, 2007
    • 0 Attachment
      SANG PEMENANG BESAR

      Bacaan: Ibrani 12:1-17

      Siapa yang tidak akan terinsipirasi oleh seorang petarung yang
      bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan kelihatannya telah
      menyerah! Pelari yang tersandung lalu jatuh, tetapi yang kemudian
      bangkit perlahan dan akhirnya memimpin pertandingan, menggemparkan
      imajinasi kita semua.

      Inspirasi yang sama akan memotivasi orang-orang Kristen yang
      memperoleh semangat dari teladan Tuhan dan Juru Selamatnya. Tidak
      ada seorang pun yang pernah dipermalukan melebihi Yesus,
      direndahkan, sebelum Ia bangkit kembali. Ia direndahkan, diludahi,
      dicambuk, dipukuli, dan dipaku di kayu salib. Ketika penderitaan-Nya
      telah berlalu, sebuah tombak ditikamkan ke lambung-Nya. Para
      prajurit memastikan kesuksesan mereka dan menyatakan bahwa Ia telah
      mati. Seorang tentara menjaga kubur-Nya. Bagaimana mungkin seseorang
      dapat direndahkan lebih daripada itu?

      Akan tetapi, itu bukanlah akhir dari segalanya! Tiga hari kemudian,
      Yesus bangkit dari kubur dan muncul kembali di hadapan banyak
      pengikut-Nya. Ia adalah pemenang dari pergumulan-Nya melawan
      kematian, dosa, dan neraka.

      Apakah Anda merasa kelelahan hari ini? Apakah Anda telah tersandung
      kesakitan? Lihatlah kembali pada penderitaan yang Yesus alami.
      Pandanglah pada kebangkitan-Nya atas kematian. Mintalah kepada Dia
      untuk memberikan kepada Anda kemenangan. Bayangkanlah apa yang telah
      Ia tawarkan kepada Anda, tak peduli seberapa dalamnya Anda telah
      jatuh! Tuhan kita adalah pemenang besar.--MRD

      Teladan yang terbesar, Dialah Tuhan
      Dengan kuasa kemenangan;
      Kekuatan yang membangkitkan Kristus dari kubur
      Memberi pengharapan dalam kekelaman hidup.--Branon

      Yesus mati untuk menyelamatkan kita,
      dan Ia hidup untuk menjaga kita.

      Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
      Judul buku: Kemenangan Dalam Kebangkitan
      Penulis : Martin R. De Haan
      Penerbit : RBC Ministries, Jakarta 2004
      Halaman : 46


      ========== CAKRAWALA ==========

      KEBANGKITAN KRISTUS

      [Artikel ini diterjemahkan dari bab The Incarnation and The
      Resurrection dalam buku World View in Conflict]

      Perjanjian Baru memberitakan kebangkitan Kristus sebagai peristiwa
      sejarah yang didukung kesaksian yang sangat kuat dari saksi-saksi
      mata (1Kor. 15:5-8). Bagi Rasul Paulus, historisitas kebangkitan
      merupakan syarat mutlak bagi kekristenan dan validitas bagi iman
      Kristen (1Kor. 15:12-19). Paulus menulis, "Dan jika Kristus tidak
      dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup
      dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam
      Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan
      pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari
      segala manusia" (1Kor. 15:17-19).

      Kebangkitan adalah pusat Perjanjian Baru dan titik puncak
      (kulminasi) seluruh Injil. Cerita tentang kehidupan Kristus
      merupakan persiapan masuk ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
      Khotbah Petrus di hari Pentakosta, yang merupakan permulaan
      berdirinya gereja Kristus, berulang kali memberikan penekanan pada
      kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya melalui kuasa
      Allah. Paulus berulang kali menjelaskan perubahan yang tidak pernah
      diharapkannya untuk menjadi pengikut Kristus dan perubahan besar ini
      terjadi akibat pertemuan pribadinya dengan Kristus yang telah
      bangkit. A.M. Ramsey menulis, "Injil tanpa kebangkitan bukan sekadar
      Injil tanpa penutup; melainkan bukan Injil sama sekali .... Iman
      Kristen adalah kepercayaan atas kebangkitan-Nya." Menurut Allan
      Richardson,

      Seluruh kebenaran yang tersirat dari setiap bagian Injil,
      berpusat pada keyakinan Gereja kepada Yesus, yaitu Allah yang
      bangkit; tanpa keyakinan ini Injil tidak akan pernah
      dituliskan. Mengimani kebangkitan Kristus bukanlah salah satu
      aspek dari pengajaran Perjanjian Baru, tapi merupakan pokok
      dari seluruh pengajaran Perjanjian Baru.

      Dalam sejarah Kristologi, penyingkiran kebangkitan Kristus dengan
      memberikan alasan-alasan tertentu mulai menjadi "tren". Dalam
      pandangan mereka, kebangkitan Yesus semata-mata berarti Yesus tetap
      hidup di hati para pengikut-Nya. Bagaimanapun juga, teori seperti
      ini menyimpang dari bukti-bukti Perjanjian Baru dan dari sejarah
      yang mengklaim bahwa Yesus bangkit dari kematian sebagai fakta.
      Kubur telah kosong; dan berulang kali Kristus yang telah bangkit
      menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Pemunculan ini bukan
      halusinasi; tubuh-Nya tidak dicuri; Yesus tidak begitu saja
      kehilangan kesadaran diri di kayu salib untuk kemudian bangun
      kembali dari kubur-Nya. Yesus yang telah mati hidup kembali! Tanpa
      kenyataan ini mustahil untuk menjelaskan eksistensi Gereja.

      Sejauh kita tidak dituntun oleh praanggapan naturalistik, kita bisa
      menerima kemungkinan terjadinya mujizat; sesungguhnya mujizat
      kebangkitan itu mungkin. Tapi ketika perhatian dialihkan dari
      persoalan yang sebenarnya, kita harus melihat bukti-bukti yang ada
      dan apa yang dikatakan bukti-bukti tersebut berkenaan dengan
      penjelasan alternatif. Dengan kata lain, sangatlah masuk akal untuk
      mengadakan pendekatan mengenai historisitas kebangkitan dengan
      menggunakan metode yang sama yang berkaitan dengan inkarnasi. Setiap
      alternatif dari kebangkitan dinilai sebagai bagian dari pranggapan
      pihak yang memercayai kebangkitan dan pihak lain yang melawan teori
      tersebut. Ketika kita menemukan bahwa penjelasan-penjelasan
      alternatif tersebut tidak dapat diterima dengan alasan-alasan
      tertentu, kita akan menemukan bahwa memercayai kebangkitan lebih
      dapat diterima akal -- atau lebih sesuai dengan bukti-bukti yang ada
      dibandingkan dengan kepercayaan bahwa Yesus tidak bangkit dari
      kematian-Nya.

      Setiap teori yang kita ikuti yang berkenaan dengan kejadian sesudah
      Yesus harus diuji secara serius dan konsisten serta harus memenuhi
      poin-poin di bawah ini.

      1. Yesus telah mati.
      --------------------
      Penjelasan alternatif yang paling sering menyerang iman Kristen
      mengenai kebangkitan adalah pernyataan bahwa Yesus hanya pingsan
      atau kehilangan kesadaran di kayu salib. Kita dapat mengatakan bahwa
      pernyataan ini adalah suatu contoh khayalan seorang skeptis. Orang
      Romawi tidak akan pernah membiarkan Yesus yang hidup diturunkan dari
      kayu salib. Pandangan yang disebut teori pingsan ini menganggap
      tentara Romawi sangat lemah sehingga mengizinkan Yesus dalam keadaan
      hidup diserahkan kembali kepada teman-temannya. Efek tambahan lain
      yang mengerikan dari penyaliban Yesus, selain luka-luka akibat
      lubang paku dan pergeseran sambungan tulang, adalah ketidakmampuan
      menarik napas akibat tusukan tombak di tubuh-Nya. Kendati luka-luka
      ini tidak membunuhnya, tapi membuktikan bahwa Ia telah mati.

      John Stott mengungkapkan hal lain yang tidak masuk akal dari teori
      pingsan ini. Apakah kita percaya, dia berkata,

      Bahwa setelah penderitaan-penderitaan dan kesakitan pengadilan,
      ejekan, cambukan cemeti, dan penyaliban, dapatkah Ia bertahan
      hidup selama 36 jam di dalam kuburan batu tanpa kehangatan,
      tanpa makanan, dan tanpa perawatan kesehatan? Dan mampukah Ia
      dalam kelemahan, kesakitan, dan kelaparan memperlihatkan
      diri-Nya kepada murid-murid dan memberikan kesan bahwa Ia telah
      menaklukkan maut? Dapatkah Ia terus menyatakan bahwa Ia yang
      mati, kini telah bangkit, mengirim mereka hingga akhir zaman?
      Apakah Ia dapat bertahan hidup sendirian di dalam persembunyian
      selama empat puluh hari, agar dapat melakukan
      penampakan-penampakan diri-Nya yang mengejutkan, lalu ragu-ragu
      menghilang tanpa dapat dijelaskan? Ketidakheranan akan kejadian
      seperti ini jauh lebih tidak dapat dimengerti dibandingkan
      dengan ketidakpercayaan Thomas.

      Akhirnya, seluruh teori ini akan gugur karena fakta-fakta penyebab
      kematian pada korban tersalib. Penyaliban mengakibatkan penderitaan
      yang mengerikan, di mana akhirnya orang tersebut mengalami kematian
      karena serangan sesak napas akibat kurangnya zat asam di dalam darah
      (asphyxiation). Kondisi penyaliban menyebabkan seseorang tidak
      mungkin untuk menarik napas, kecuali jika sang korban dapat dengan
      cara apa pun meluruskan kaki agar otot dada bisa bebas sehingga
      diafragma dapat berfungsi normal. Kenyataan seperti ini yang
      menyebabkan tentara Romawi mengambil keputusan untuk mematahkan kaki
      dua dari tiga orang yang disalibkan pada saat itu -- untuk
      mempercepat asphyxiation yang dapat membunuh korban sehingga setiap
      orang dapat pulang ke rumahnya.

      Namun ketika tentara tersebut bermaksud mematahkan kaki Yesus,
      mereka menemukan bahwa Ia telah mati. Sangat penting ditegaskan
      bahwa kemungkinan untuk menarik napas jika orang tersebut masih
      hidup tidak mungkin terabaikan. Lebih lanjut, setiap korban yang
      disalib yang pingsan, baik karena tidak sadar, maupun takut,
      berpura-pura mati, tidak mungkin dapat memberhentikan pernafasan.
      Fakta ini tidak mungkin disangkal: bahwa Yesus telah mati.

      2. Akibat penyaliban, murid-murid berada dalam keadaan khawatir,
      bingung, dan takut.
      ----------------------------------------------------------------
      Penentang teori kebangkitan menyatakan bahwa murid-murid Yesus
      mencuri tubuh Yesus dan kemudian menciptakan cerita bohong tentang
      kebangkitan. Teori ini memerlukan dukungan sekelompok orang yang
      berkemauan kuat yang dapat menutupi suatu persekongkolan bahwa tubuh
      Yesus sebenarnya tidak dikubur, sebaliknya yang benar adalah bahwa
      para murid dalam keadaan yang sangat ketakutan dan kebingungan untuk
      dapat memikirkan apa pun juga selain menyelamatkan diri sendiri dan
      bersembunyi dari musuhnya. Kematian Yesus menyebabkan mereka dalam
      keadaan putus asa dan ketakutan yang dalam sehingga tidak mungkin
      memikirkan rencana-rencana seperti yang diajukan oleh teori kedua.

      3. Yesus dikuburkan di kuburan baru yang digali di dalam batu yang
      keras.
      ------------------------------------------------------------------
      Kuburan tersebut lalu ditutup dengan mendorong batu besar di
      depannya. Khawatir akan kemungkinan bahwa para murid mencuri tubuh
      Yesus, Pontius Pilatus menempatkan pengawal untuk berjaga-jaga
      sehingga kuburan berada dalam keadaan aman dan tidak dapat diganggu.
      Dengan cara ini, musuh-musuh Yesus membantu meyakinkan kebenaran
      dari kebangkitan dengan menjaga kuburan sehingga tidak memungkinkan
      seorang pun mencuri tubuh Yesus. Tentu saja, orang-orang skeptik
      mengatakan bahwa teman-teman Yesus sendiri tidak mungkin dapat
      mencuri tubuh Yesus (karena ada tentara), maka kemungkinannya adalah
      bahwa tubuh Yesus telah dicuri oleh musuh-musuh-Nya. Inilah hal
      terakhir yang mungkin dilakukan oleh orang Romawi atau orang Yahudi.
      Mereka tidak menginginkan kesulitan apa pun dalam permasalahan ini,
      yang dapat timbul akibat kuburan yang kosong. Lagi pula, apabila
      musuh-musuh Yesus telah mencuri tubuh Yesus, mereka dengan sangat
      gembira akan segera memperlihatkannya pada saat orang-orang Kristen
      mulai mengkhotbahkan kebangkitan.

      4. Tiba-tiba Yesus hidup dan kuburan menjadi kosong.
      ----------------------------------------------------
      Teori alternatif yang menentang kebangkitan tidak dapat menjelaskan
      kubur yang kosong. Misalnya, banyak yang menyatakan bahwa mereka
      yang mengaku melihat, mendengar, dan menyentuh Yesus hanyalah
      berhalusinasi. Tapi kita tetap harus memberi jawaban tentang
      kenyataan bahwa tubuh Yesus, yang ditempatkan di tempat tertutup,
      termaterai, dan terjaga ketat itu telah hilang. Lebih lanjut, teori
      halusinasi yang tidak terbukti ini tidak sesuai dengan kenyataan.
      Jika hanya satu atau dua orang yang mengatakan "melihat" Yesus,
      pengalaman ini sangat mungkin kita abaikan dan menyebutnya
      halusinasi. William Lane Craig menunjukkan beberapa kesalahan pada
      teori halusinasi.

      Pertama bukan hanya satu tapi banyak orang yang melihat
      pemunculan Kristus. Kedua, mereka yang melihat-Nya tidak
      sendirian, tapi bersama-sama. Ketiga, kemunculan-Nya tidak
      terjadi sekali saja, tapi berulang kali. Keempat, mereka bukan
      hanya melihat Dia, melainkan juga menyentuh, berbicara, dan
      makan bersama-sama dengan Dia. Kelima, dan yang sangat
      menentukan, pemimpin agama yang fanatik tidak dapat
      memperlihatkan tubuh Yesus kembali. Tidak mungkin murid-murid
      Yesus memercayai kebangkitan gurunya jika mayat-Nya masih
      terbaring di kubur. Sama tidak mungkinnya jika para murid-Nya
      mencuri tubuh-Nya untuk menciptakan suatu cerita bohong. Lebih
      lanjut, sangat tidak mungkin bagi kekristenan muncul dan
      menetap di Yerusalem jika tubuh Kristus tetap di dalam kubur.
      Penguasa Yahudi pasti telah memperlihatkan tubuh tersebut
      sebagai jawaban singkat dan terlengkap mengenai permasalahan
      itu. Namun, yang mereka lakukan adalah menuduh para murid telah
      mencuri tubuh Kristus. Akhirnya, hipotesa dari kaum agamawi
      yang fanatik (yaitu teori halusinasi) yang gagal menjelaskan
      hilangnya tubuh Yesus, jatuh kepada hipotesa persekongkolan
      murid-murid-Nya yang juga diruntuhkan oleh bukti-bukti dari
      ketulusan hati para rasul, baik karakter mereka maupun
      kesediaan mereka menghadapi bahaya dalam memproklamirkan
      kebenaran dari kebangkitan Kristus.

      Halusinasi biasanya memerlukan penerima-penerima yang telah
      dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu seseorang yang siap untuk
      melihat sesuatu atau berharap untuk melihat sesuatu. Para murid
      secara kejiwaan tidak dipersiapkan untuk menerima halusinasi
      tersebut.

      Kesaksian para saksi mata tentang kebangkitan luar biasa kuatnya.
      Dalam hal karakter, orang yang mengatakan telah melihat Yesus adalah
      orang yang tidak tercela. Catatan dari saksi mata ini datang di awal
      pergerakan kekristenan dan cerita tentang kebangkitan bukanlah
      cerita legenda yang mulai beredar lama setelah kejadian. Cerita
      didasarkan pada kesaksian saksi mata yang berada di tahun ketika
      kejadian tersebut terjadi dan secara umum diberitakan di zaman yang
      sama di mana orang-orang yang mengalami kejadian tersebut masih
      hidup.

      5. Saksi-saksi mata dari kebangkitan Kristus secara tiba-tiba
      mengalami perubahan.
      -------------------------------------------------------------
      Setelah kematian Yesus, murid-murid yang sangat takut dibunuh
      tersebut bersembunyi di dalam kamar terkunci. Beberapa minggu
      kemudian pada hari Pentakosta, orang-orang yang sama ini dengan
      berani berkhotbah mengenai kebangkitan di depan umum. Tidak lagi
      takut dibunuh, bahkan banyak dari antara mereka menjadi martir demi
      iman mereka, khususnya bagi iman mereka tentang kebangkitan Yesus.
      Teori alternatif mengenai kebangkitan harus mampu menjelaskan asal
      mula berdirinya Gereja. Jika kebangkitan tidak pernah terjadi, kuasa
      atau pengalaman apa yang dapat mengubah kumpulan kecil dari murid
      yang ketakutan ini menjadi kelompok yang bersedia menderita siksaan
      dan mati secara mengerikan karena menolak meninggalkan kepercayaan
      akan kebangkitan? Kuasa apa yang dapat mengubah mereka menjadi
      orang-orang pemberani untuk menyebarkan Injil ke setiap pelosok
      negara Romawi bahkan ke seluruh dunia?

      Pertimbangan dari bukti-bukti tambahan tetap ada, baik yang secara
      langsung, maupun tidak langsung, namun tidak didiskusikan karena
      waktu yang tidak cukup. Hal yang selalu harus kita tekankan adalah
      kenyataan bagaimana orang-orang terbaik, termulia, dan terpercaya
      yang tidak mengambil keuntungan apa pun dan telah meninggalkan
      segala yang bersifat duniawi karena memercayai kebangkitan Yesus
      dari kematian. Seperti dikatakan Ladd, "Sekarang kita berada di atas
      batu karang. Sangatlah tidak mungkin untuk mempertanyakan kenyataan
      yang tidak perlu disangsikan yang dipunyai para murid mengenai
      kebangkitan Yesus." Tapi kemudian kita harus bertanya, "Bukti
      sejarah apa yang menimbulkan iman ini? Kenyataan sejarah seperti apa
      yang menyebabkan mereka percaya bahwa Yesus telah bangkit dari
      kematian-Nya? Apa hipotesa terbaik yang dapat menerangkan
      kepercayaan gereja mula-mula tentang kebangkitan yang benar-benar
      terjadi? "Seluruh bukti-bukti," kata Alan Richardson, "menghasilkan
      kesimpulan bahwa gereja tidak menciptakan kepercayaan mengenai
      kebangkitan Yesus; kebangkitan Yesus sendirilah secara historis yang
      menciptakan Gereja, yang menumbuhkan iman kepercayaan. Dengan kata
      lain, hanya kebangkitan yang sebenarnya dapat menjelaskan iman
      murid-murid pertama yang akhirnya menciptakan Gereja.

      William Lane Craig menyimpulkannya sebagai berikut.

      Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa kubur Yesus ditemukan
      kosong oleh pengikut-pengikut-Nya. Lebih lanjut, tidak ada
      penjelasan alamiah yang dapat diajukan untuk menjelaskan
      kenyataan ini agar dapat diterima oleh akal. Kedua, beberapa
      bagian dari bukti-bukti sejarah berkata tentang banyaknya saksi
      mata di berbagai kesempatan, pada tempat yang berbeda yang
      menyaksikan pemunculan Yesus secara fisik dan dengan tubuh yang
      hidup dari kematian. Lagipula, tidak ada penjelasan alamiah
      bagi teori halusinasi yang dapat diterima akal untuk
      menjelaskan pemunculan-Nya ini. Dan terakhir, iman Kristen
      mula-mula bergantung pada iman mereka pada kebangkitan. Lebih
      lagi, iman ini tidak dapat diperhitungkan sebagai akibat dari
      pengaruh-pengaruh alamiah belaka. Ketiga hal besar ini, yaitu
      kubur yang kosong, pemunculan setelah kebangkitan-Nya, dan awal
      munculnya iman Kristen, semuanya menunjuk pada satu kesimpulan
      yang tidak dapat dibantah, yaitu bahwa Yesus bangkit dari
      kematian-Nya.

      Ini bukanlah pernyataan yang mudah diterima oleh orang-orang modern
      dan juga bukan pernyataan yang dapat diterima oleh penduduk
      Yerusalem ketika mereka mendengarnya dari para murid. Tetapi inilah
      pernyataan terbaik yang dapat menerangkan kepada kita apa yang patut
      diketahui setelah kematian Yesus.

      KESIMPULAN

      Pandangan dunia yang naturalisme menolak kemungkinan adanya mujizat,
      yaitu kejadian dalam hukum-hukum alamiah, yang disebabkan kekuatan
      supranatural, yang ada di luar hukum alamiah tersebut, yang
      memutarbalikkan segala pemahaman normal yang telah berlaku. Tapi
      kaum naturalistik ini tidak mampu membuktikan ketidakmungkinan
      mujizat secara ilmu pengetahuan, melebihi dari apa yang dapat mereka
      buktikan dalam kebenaran yang alamiah. Karena itu, saya menentangnya
      dengan menyatakan mujizat adalah peristiwa yang mungkin terjadi.

      Di sini, bukan saja saya sampai pada penyataan soal mujizat bisa
      atau tidak, tetapi lebih dari itu, saya telah mengevaluasi
      bukti-bukti dari pandangan dunia Kristen yang begitu agung mengenai
      mujizat kebangkitan. Jika seorang mengesampingkan praanggapan
      pandangan dunia naturalistiknya, menempatkan diri dalam pandangan
      dunia yang menerima kemungkinan dunia terbuka kepada pengaruh kausal
      dari kedaulatan Allah, dan secara jujur menyelidiki alternatif dalam
      terang bukti-bukti yang ada, ia dapat menemukan bahwa sistem
      pandangan dunia memperlihatkan kekonsistenannya dengan akal dan apa
      yang patut kita ketahui mengenai dunia.

      Jika mujizat ini tidak pernah terjadi, pandangan dunia kekristenan
      berada dalam bahaya yang serius, namun hal ini tidak pernah terjadi.
      Jika mujizat ini sungguh-sungguh terjadi (dan kita telah mengetahui
      dukungan-dukungan yang begitu banyak bagi kehistorisannya),
      pandangan dunia kekristenan semakin diteguhkan.

      Now all has been heard;
      here is the conclusion of the matter:
      Fear God and keep his
      commandments
      for this is the whole duty of man
      For God will bring every deed into
      judgement
      including every hidden thing
      whether It is good or evil.

      Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
      Judul majalah: Momentum, Edisi 26/April 1995
      Penulis : Ronald H. Nash
      Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1995
      Halaman : 24 -- 25 dilanjutkan 32 -- 36


      ---------------------------------
      8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
      with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.