Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Mengubah Dunia: Kewirausahawan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru

Expand Messages
  • Nuah P Tarigan
    Mengubah Dunia: Kewirausahawan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru Wirausahawan bisnis diperuntukan bagi ekonomi, wirausahawan sosial bagi perubahan sosial.
    Message 1 of 2 , Dec 1, 2006
    • 0 Attachment
      Mengubah Dunia: Kewirausahawan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru



      Wirausahawan bisnis diperuntukan bagi ekonomi, wirausahawan sosial bagi perubahan sosial. Mereka, tulis Bornstein, adalah individu penggagas dan kreatif yang mempertanyakan keadaan status quo, mengeksplorasi peluang-peluang baru, menolak untuk berhenti, dan mengubah dunia untuk lebih baik.

      How to change the world memaparkan cerita-cerita yang menakjubkan dari individu-individu luar biasa-beberapa dari Amerika Serikat, lainnya dari Brazil hingga Hungaria-yang menyediakan sebuah in search of excellence bagi sector nirlaba. Di Amerika Serikat, satu orang bernama J.B. Scharmm mampu membuat ribuan murid SMA tidak mampu dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Di Afrika Selatan, seorang perempuan, Veronica Khosa, telah berhasil mengembangkan model pelayanan berbasisi rumah bagi pasien AIDs dan mengubah kebijakan kesehatan pemerintah. Di Brazil, Fabio Rosa berhasil membantu ratusan ribu penduduk pedesaan terpencil untuk mendapatkan pelayanan listrik. Seorang Amerika lain, James Grant, berhasil menyelamatkan 25 juta jiwa melalui pengarahan dan pemasaran kampanye global untuk imunisasi, Ashoka, yang berinvestasi pada dan mendukung para wirausahawan sosial ini dan lebih dari seribu lainnya lagi mengangkat pengaruh kekuatan gagasan baru mereka ke seluruh dunia.

      Kisah luar biasa ini menyoroti sebuah transformasi massa yang tisak pernah terliput oleh media. Di seluruh dunia, segmen masyarakat yang paling cepat tumbuhnya adalah sector nirlaba, ketika jutaan orang kebanyakan-wirausahawan sosial-sementara melangkah untuk memecahkan masalah dimana para birokrat telah menuai kegagalan. How to change the world menunjukan, sebagaimana yang disarankan dalam judul, bahwa hanya dengan kebulatan tekad dan inovasi, seseorang dapat membuat perubahan positif di dunia, buku ini dapat menjadi bacaan yang memberi banyak inspirasi dan menjadi buku saku yang sangat berharga.

      DAVID BORNSTEIN adalah seorang wartawan spesialisasi dalam menulis tentang inovasi sosial. Buku pertamanya, The Price of a Dream: The Story of The Grameen Bank terpilih sebagai finalis penganugerahan buku dari perpustakaan umum New York untuk keunggulan di bidang jurnalistik. Artikel - artikelnya termuat di Atlantic Monthly dan New York Times, dan menjadi penulis pendamping dokumen PBS "To Our Credit". Dia tinggal di kota New York.

      Tersedia di pasar bulan Januari 2004, 320 halaman ISBN: 0-19-513805-8. Buku ini juga bisa dipinjam di perpustakaan CERIC FISIP UI, Ged. C Lt. 2 FISIP UI Depok, senin - jum'at, 09.00 s/d 16.00 .






      [Non-text portions of this message have been removed]
    • haryanto bode
      Bagaimanasih pandangan alkitab terhadap hukuman mati? Toh Yesus di hukum mati, dan beberapa murud2nya dihukum mati. Ada yang mau memberikan masukkan dari sudut
      Message 2 of 2 , Dec 1, 2006
      • 0 Attachment
        Bagaimanasih pandangan alkitab terhadap hukuman mati? Toh Yesus di hukum mati, dan beberapa murud2nya dihukum mati. Ada yang mau memberikan masukkan dari sudut pandang alkitab dan sejarah gereja? Saya rasa ini juga topik menarik untuk didiskusikan. Habibie: Saya Tak Setuju Hukuman Mati Jakarta, (Analisa) Ketua Dewan The Habibie Center Prof.Dr.Bacharuddin Jusuf Habibie menyatakan dirinya tidak setuju dengan hukuman mati, karena hal itu bertentangan dengan hak Tuhan. "Saya tidak setuju adanya hukuman mati itu," kata mantan Presiden Indonesia BJ Habibie saat memberi tanggapan ketiga pemenang Habibie Award di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (30/11). Ia menjelaskan, hukuman mati itu, merupakan putusan yang tidak dapat diperbaiki, jika ternyata dikemudian hari ada bukti menyebutkan yang bersangkutan tidak bersalah. "Setelah setahun hukuman mati, ternyata baru diketahui orang yang bersangkutan adalah tidak bersalah, maka orang yang mati tidak akan bisa hidup
        lagi," ujarnya. Habibie menegaskan, yang menentukan hidup dan mati seseorang adalah Tuhan, karena itu, dirinya tidak sependapat dengan adanya hukuman mati tersebut. Begitu juga dengan bayi yang baru lahir, lanjut Habibie, dia memiliki hak untuk hidup dan mengalami proses pembelajaran, pendidikan hingga akhirnya terampil dan dapat meyelesaikan pekerjaan. Jika anak sakit, tugas kita adalah menyehatkan agar dia dapat kembali bekerja dan berproduktif, bukan justru dibunuh. "Karena itu, jika ada perusahaan yang telah bangkrut, kita jangan justru menikamnya," kata Habibie saat menanggapi presentasi salah satu pemenang. Tiga pemenang yang menerima penghargaan Habibie Award itu adalah Dr Thee Kian We (71) dalam bidang ekonomi, Freddy Permana Zen, D.Sc (35) untuk bidang Ilmu Dasar dan Prof Dr. Askandar Tjoktoprawiro, bidang Ilmu Kedokteran. Dr Thee Kian We menyampaikan pidato ilmiahnya mengenai Kemampuan Teknologi dan Peningkatan Daya Saing Industri Indonesia dan Freddy
        Permana Zen, D.Sc menyampaikan Dunia Kuantum: Dampaknya Pada Perkembangan Teknologi dan Sosial. Sementara Prof Dr. Askandar Tjoktoprawiro menyampaikan makalahnya Kegemukan dan Gangguan Metabolisme Tubuh Bisa Memicu Penyakit Gula dan Jantung. Gaya Hidup Yang Berhubungan dengan Penyakit Tersebut Akan Menjadi Bom Waktu Bagi Masalah Kesehatan di Indonesia. BJ Habibie mengatakan memang pemerintah harus mengandalkan pada manufaktur, seperti yang telah disampaikan Dr Thee Kian We bahwa industri manufaktur Indonesia pesat, tetapi kurang efisien selama orde baru dan perkembangan serta kendala yang dihadapi setelah krisis ekonomi asia. Tiadanya kebijaksanaan industri yang sejak awal terfokus pada pembangunan sektor industri manufaktur yang efisien dan berdaya saing internasional tinggi menyebabkan menjelang krisis ekonomi Asia struktur industri Indonesia masih rentan sekali terhadap gejolak eksternal, seperti krisis ekonomi Asia, katanya. (Ant)


        Nuah P Tarigan <nuah.tarigan@...> wrote: Mengubah Dunia: Kewirausahawan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru



        Wirausahawan bisnis diperuntukan bagi ekonomi, wirausahawan sosial bagi perubahan sosial. Mereka, tulis Bornstein, adalah individu penggagas dan kreatif yang mempertanyakan keadaan status quo, mengeksplorasi peluang-peluang baru, menolak untuk berhenti, dan mengubah dunia untuk lebih baik.

        How to change the world memaparkan cerita-cerita yang menakjubkan dari individu-individu luar biasa-beberapa dari Amerika Serikat, lainnya dari Brazil hingga Hungaria-yang menyediakan sebuah in search of excellence bagi sector nirlaba. Di Amerika Serikat, satu orang bernama J.B. Scharmm mampu membuat ribuan murid SMA tidak mampu dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Di Afrika Selatan, seorang perempuan, Veronica Khosa, telah berhasil mengembangkan model pelayanan berbasisi rumah bagi pasien AIDs dan mengubah kebijakan kesehatan pemerintah. Di Brazil, Fabio Rosa berhasil membantu ratusan ribu penduduk pedesaan terpencil untuk mendapatkan pelayanan listrik. Seorang Amerika lain, James Grant, berhasil menyelamatkan 25 juta jiwa melalui pengarahan dan pemasaran kampanye global untuk imunisasi, Ashoka, yang berinvestasi pada dan mendukung para wirausahawan sosial ini dan lebih dari seribu lainnya lagi mengangkat pengaruh kekuatan gagasan baru mereka ke seluruh dunia.

        Kisah luar biasa ini menyoroti sebuah transformasi massa yang tisak pernah terliput oleh media. Di seluruh dunia, segmen masyarakat yang paling cepat tumbuhnya adalah sector nirlaba, ketika jutaan orang kebanyakan-wirausahawan sosial-sementara melangkah untuk memecahkan masalah dimana para birokrat telah menuai kegagalan. How to change the world menunjukan, sebagaimana yang disarankan dalam judul, bahwa hanya dengan kebulatan tekad dan inovasi, seseorang dapat membuat perubahan positif di dunia, buku ini dapat menjadi bacaan yang memberi banyak inspirasi dan menjadi buku saku yang sangat berharga.

        DAVID BORNSTEIN adalah seorang wartawan spesialisasi dalam menulis tentang inovasi sosial. Buku pertamanya, The Price of a Dream: The Story of The Grameen Bank terpilih sebagai finalis penganugerahan buku dari perpustakaan umum New York untuk keunggulan di bidang jurnalistik. Artikel - artikelnya termuat di Atlantic Monthly dan New York Times, dan menjadi penulis pendamping dokumen PBS "To Our Credit". Dia tinggal di kota New York.

        Tersedia di pasar bulan Januari 2004, 320 halaman ISBN: 0-19-513805-8. Buku ini juga bisa dipinjam di perpustakaan CERIC FISIP UI, Ged. C Lt. 2 FISIP UI Depok, senin - jum'at, 09.00 s/d 16.00 .



        [Non-text portions of this message have been removed]






        ---------------------------------
        Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

        [Non-text portions of this message have been removed]
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.