Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [gbkp] baptisan?

Expand Messages
  • simson ginting
    Nampaknya perbincangan kembali ke prinsip aliran Protesntan yang dikumandangkan pada awal jaman reformasi dulu : sola scriptura (hanya Alkitab saja), sola
    Message 1 of 6 , Feb 1 5:32 AM
    • 0 Attachment
      Nampaknya perbincangan kembali ke prinsip aliran Protesntan yang dikumandangkan pada awal jaman reformasi dulu : sola scriptura (hanya Alkitab saja), sola gracia (hanya karena anugerah saja) dan sola deo (hanya karena Tuhan saja). Memang seharusnya begitu. Sekarang ini banyak sekali aliran Protestan yang sudah macam-macam ajarannya.
       
      Yang paling parah, kerendahan hati yang menjadi inti dari iman Kristen sudah memudar sama sekali. Sulit bagi kita membayangkan Kristen tanpa sikap rendah hati itu. Kalau Yasus tidak menghendaki kita anak-anakNya rendah hati, dulu Dia tidak akan lahir di kandang hewan.
       
      Mejuah-juah kita kerina.  
       
      sg

      tongat@... wrote:
      Daniel Ginting wrote:

      >  Jadi, marilah kita selalu
      >test berbagai tradisi dan ajran-ajaran baru dan kembali ke bible.

      >
          Cocok kali apa yg dibilang sama Bang Ginting, "Back to Bible"
          merupakan semangat yg paling ampuh.
          Tapi kalau boleh sedikit beropini, dalam menguji masalah-masalah
          yang  sudah menjadi  tradisi seperti baptis(babtis?) ini tadi, "Back
          to Bible" serasa kurang sreg. Penyederhanaannya, apakah mungkin
          pihak lain yg berbeda tradisi  tsb tidak merujuk pada Alkitab ?
          Apakah ada yg  berani mengatakan pendeta di gereja
          Baptis(_misalnya_) tidak pernah menguji pemahaman mereka dengan
          Alkitab ?

          Lalu ketika perbedaan itu tdk selesai walaupun sama-sama merujuk
          pada alkitab (bahkan kadang pada ayat yang sama), apa yg bisa
          dijadikan pedoman ?
          Apakah kemudian layak menafsirkan perintah Tuhan dengan semangat
          akulturasi atau pragmatisme ?
          Sejauh mana  mengkompromikan isi alkitab dengan nilai-nilai aktual
          dalam penafsirannya ?

          Pertanyaan-pertanyaan itu paling tidak sudah terjawab sebagian
          ketika kita memilih  baptis percik daripada baptis selam,  ketika
          kita merubah tradisi perjamuan kudus satu gelas besar digilir
          menjadi satu cawan kecil per orang, ataupun ketika kita tetap
          menggerutu setiap mengikuti acara nganting manuk yg bertele-tele.

          Ketika ayat Alkitab tidak lagi mencerahkan, semuanya tergantung
          dimana kita berdiri saat ini, dan seberapa besar keinginan kita
          melangkah.

          semoga siantusen,

           Toto A Trg



      Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com



      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
      http://mail.yahoo.com

    • Daniel Ginting
      Bujur sama mama Toto Tarigan . Saya panggil mama saja karena saya bere Tigan nih: Saya setuju, memang itulah maksud saya. Cuma kalau orang kristen
      Message 2 of 6 , Feb 1 10:38 AM
      • 0 Attachment
        Bujur sama "mama Toto Tarigan". Saya panggil mama saja karena saya bere
        Tigan nih:

        Saya setuju, memang itulah maksud saya. Cuma kalau orang kristen
        menganggap "sakramen-sakramen itu akan memberikan pengampunan ataupun
        kesalamatan, ini yang menjadi masalah dan kontradiksi dengan "Back to the
        Bible".

        Umpamanya sakramen perjamuan kudus. Orang pikir, kalau roti/anggur
        perjamuan itu yang menyelamatkan. Kadang-kadang orang membawa anggur/roti
        itu kerumah sakit, soalnya orang ini pikir roti ini udah ajaib bisa
        menyembuhkan si sakit padahal secara medis si sakit tidak bisa minum anggur
        atau roti pada saat itu. Lho itu kan pragmatis cara pemikirannya. Jadi
        kalau secara pragmatis saja itu bisa salah juga sih. Tetapi kalau
        dilandasi dengan landasan/pengertian yang benar apa itu sakramen, maka
        hal-hal yang mengarah ke "tahyulan" bisa dihindari.

        Katolik mempunyai tradisi dan sakramen yang lebih banyak. Aku tidak
        mempersalahkan tradisi, cuma tradisi itu harus berfondasikan yang
        benar. Contohnya orang sakit di minyaki, lantas sembuh atau makin
        parah. Kalau orang lantas percaya minyak ini yang ajaib bukan lagi
        mengarah ke "Christ is the healer dan tradisi abat pertama para rasul-rasul
        untuk penyembuhan" kan udah salah jadinya. Lantas banyak yang percaya
        pemberi minyak suci itu harus pendeta A, kalau tidak tidak di jamin
        hasilnya. Lantas rame-rame orang pergi kegereja A untuk
        penyembuhan. Kenapa harus ke gereja A atau pendeta A? Wong kalau kita
        percaya, kita sendiri bisa meminta langsung ke Dia yang memberikan
        penyembuhan kok. Ini hanya contoh saja.

        Demikian juga dengan baptisan. Seorang bayi yang sakit keras harus
        dibaptiskan dulu buru-buru. Pikir-pikir baptisan akan menyembuhkan, atau
        akan menyelamatkan si bayi dari neraka?. Ini juga kan udah agak
        nyimpang,karena sumber keselamatan itu bukan baptisannya kok.

        Bagem lebe, bujur.


        At 07:47 PM 2/1/2005, you wrote:

        >Daniel Ginting wrote:
        >
        > > Jadi, marilah kita selalu
        > >test berbagai tradisi dan ajran-ajaran baru dan kembali ke bible.
        > >
        > >
        > Cocok kali apa yg dibilang sama Bang Ginting, "Back to Bible"
        > merupakan semangat yg paling ampuh.
        > Tapi kalau boleh sedikit beropini, dalam menguji masalah-masalah
        > yang sudah menjadi tradisi seperti baptis(babtis?) ini tadi, "Back
        > to Bible" serasa kurang sreg. Penyederhanaannya, apakah mungkin
        > pihak lain yg berbeda tradisi tsb tidak merujuk pada Alkitab ?
        > Apakah ada yg berani mengatakan pendeta di gereja
        > Baptis(_misalnya_) tidak pernah menguji pemahaman mereka dengan
        > Alkitab ?
        >
        > Lalu ketika perbedaan itu tdk selesai walaupun sama-sama merujuk
        > pada alkitab (bahkan kadang pada ayat yang sama), apa yg bisa
        > dijadikan pedoman ?
        > Apakah kemudian layak menafsirkan perintah Tuhan dengan semangat
        > akulturasi atau pragmatisme ?
        > Sejauh mana mengkompromikan isi alkitab dengan nilai-nilai aktual
        > dalam penafsirannya ?
        >
        > Pertanyaan-pertanyaan itu paling tidak sudah terjawab sebagian
        > ketika kita memilih baptis percik daripada baptis selam, ketika
        > kita merubah tradisi perjamuan kudus satu gelas besar digilir
        > menjadi satu cawan kecil per orang, ataupun ketika kita tetap
        > menggerutu setiap mengikuti acara nganting manuk yg bertele-tele.
        >
        > Ketika ayat Alkitab tidak lagi mencerahkan, semuanya tergantung
        > dimana kita berdiri saat ini, dan seberapa besar keinginan kita
        > melangkah.
        >
        > semoga siantusen,
        >
        > Toto A Trg
        >
        >
        >
        >
        >Visit our web: www.gbkp.or.id and www.permatagbkp.com
        >
        >Yahoo! Groups Links
        >
        >
        >
        >

        Daniel Ginting, Ph.D, Research Assistant Professor
        Dep. Agronomy and Horticulture, Univ. of Nebraska
        Lincoln, NE
        phone:402-472-0258
      • tongat@gmx.net
        ... Cocok kali apa yg dibilang sama Bang Ginting, Back to Bible merupakan semangat yg paling ampuh. Tapi kalau boleh sedikit beropini, dalam menguji
        Message 3 of 6 , Feb 1 5:47 PM
        • 0 Attachment
          Daniel Ginting wrote:

          > Jadi, marilah kita selalu
          >test berbagai tradisi dan ajran-ajaran baru dan kembali ke bible.
          >
          >
          Cocok kali apa yg dibilang sama Bang Ginting, "Back to Bible"
          merupakan semangat yg paling ampuh.
          Tapi kalau boleh sedikit beropini, dalam menguji masalah-masalah
          yang sudah menjadi tradisi seperti baptis(babtis?) ini tadi, "Back
          to Bible" serasa kurang sreg. Penyederhanaannya, apakah mungkin
          pihak lain yg berbeda tradisi tsb tidak merujuk pada Alkitab ?
          Apakah ada yg berani mengatakan pendeta di gereja
          Baptis(_misalnya_) tidak pernah menguji pemahaman mereka dengan
          Alkitab ?

          Lalu ketika perbedaan itu tdk selesai walaupun sama-sama merujuk
          pada alkitab (bahkan kadang pada ayat yang sama), apa yg bisa
          dijadikan pedoman ?
          Apakah kemudian layak menafsirkan perintah Tuhan dengan semangat
          akulturasi atau pragmatisme ?
          Sejauh mana mengkompromikan isi alkitab dengan nilai-nilai aktual
          dalam penafsirannya ?

          Pertanyaan-pertanyaan itu paling tidak sudah terjawab sebagian
          ketika kita memilih baptis percik daripada baptis selam, ketika
          kita merubah tradisi perjamuan kudus satu gelas besar digilir
          menjadi satu cawan kecil per orang, ataupun ketika kita tetap
          menggerutu setiap mengikuti acara nganting manuk yg bertele-tele.

          Ketika ayat Alkitab tidak lagi mencerahkan, semuanya tergantung
          dimana kita berdiri saat ini, dan seberapa besar keinginan kita
          melangkah.

          semoga siantusen,

          Toto A Trg
        • tongat@gmx.net
          ... Aku nguda denga bang, la kuakap metunggung sa i leboh mama adi lenga lit mami na ;-) ps : Pak Moderator, lit kang mail-archive ta ? Bujur, Toto A Trg
          Message 4 of 6 , Feb 4 12:55 PM
          • 0 Attachment
            Daniel Ginting wrote:

            >Bujur sama "mama Toto Tarigan". Saya panggil mama saja karena saya bere
            >Tigan nih:
            >
            >Saya setuju, memang itulah maksud saya. Cuma kalau orang kristen
            >menganggap "sakramen-sakramen itu akan memberikan pengampunan ataupun
            >
            >

            Aku nguda denga bang, la kuakap metunggung sa i leboh mama adi lenga lit
            mami na ;-)

            ps : Pak Moderator, lit kang mail-archive ta ?

            Bujur,
            Toto A Trg
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.