Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Bls: [gbkp] Apakah semua orang Kristen pasti masuk neraka?

Expand Messages
  • hendri.daud_bpkp@yahoo.com
    Ntabeh surga e ningen, tapi adi isuruh kam leben kujah ningen, labo ka kam nggit, ma lang? Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
    Message 1 of 5 , Dec 31, 2012
    • 0 Attachment
      Ntabeh surga e ningen, tapi adi isuruh kam leben kujah ningen, labo ka kam nggit, ma lang?
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

      From: gmtarigan@...
      Sender: gbkp@yahoogroups.com
      Date: Sun, 30 Dec 2012 16:04:20 +0000
      To: <gbkp@yahoogroups.com>
      ReplyTo: gbkp@yahoogroups.com
      Subject: Re: Bls: [gbkp] Apakah semua orang Kristen pasti masuk neraka?

       

      Ku Surga kin atendu turang? Ikutken Jesus! Amin

      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

      From: Melina Milala <melinamilala@...>
      Sender: gbkp@yahoogroups.com
      Date: Sat, 29 Dec 2012 14:12:51 +0800 (SGT)
      To: <gbkp@yahoogroups.com>; permata-gbkp@yahoogroups.com<permata-gbkp@yahoogroups.com>
      ReplyTo: gbkp@yahoogroups.com
      Subject: Bls: [gbkp] Apakah semua orang Kristen pasti masuk neraka?

       

      Salom...
      Tulisannya panjang sekali, aku cuma share pengalaman kecil saja. Aku pernah tanya juga sma muslim tanggapan mereka tntg nonmuslim bila setelah meninggal kemana?
      mereka jwb: semua nonmuslim masuk dan kekal di neraka kalu muslim walau masuk neraka tapi akan masuk surga setelah dihukum sesuai perbuatannya (# jika dosanya sebanyak 3 mungkin dineraka 3 hari, perumpamaan$$%&)

      Aku bertanya kepada teman (kristen), jawabnya: kalu kristen masuk neraka memang kekal sama halnya sorga dan tidak ada pertimbangan apapun. Tapi tentang keselamatan Tuhan Yesus yang JAMIN.

      Aku berpikir: kalu surga itu identik dengan kesempurnaan, aku pilih JAMINAN saja, halnya dengan penjahat disisi kiri salib Tuhan Yesus.

      Maaf kalu ga nyambung ya..GBU

      Regards

       

      Rosmelina Sembiring Milala
      Ex-Im Dept.
       

      PT. MEARI JAYA
      ( Wood Working Industri )

      Jl. Sanian Bojongnangka Legok Tangerang
      Phn : 021-5467225/6
      Fax : 021-5467289
      e-mail : melinamilala@... OR rossameari74@...



      --- Pada Sab, 29/12/12, pinem reine <rei_feb@...> menulis:

      Dari: pinem reine <rei_feb@...>
      Judul: [gbkp] Apakah semua orang Kristen pasti masuk neraka?
      Kepada: "gbkp@yahoogroups.com" <gbkp@yahoogroups.com>, "permata-gbkp@yahoogroups.com" <permata-gbkp@yahoogroups.com>
      Tanggal: Sabtu, 29 Desember, 2012, 5:30 AM

       


      copas, semoga bisa melihat paradigma yang berbeda.
      Shalom.
       
      Salam, rekan-rekan semua,
       
      Saya punya seorang teman diskusi dalam hal agama, seorang yang pengetahuannya luas. Dia beragama Islam, jadi memberikan pengetahuan dari sudut pandang Islam. Pada satu kesempatan saya menanyakan kepada dia bagaimana pendapatnya tentang perbedaan agama dan bagaimana kemungkinan orang Kristen masuk surga dari sudut pandang Islam. Di bawah ini jawabannya cukup panjang lebar, mungkin menarik bagi rekan-rekan yang ingin memperluas wawasan dan tahu sudut pandang Islam dalam hal ini.
       
      Semoga berguna.
      ==========================
      Sent: Wednesday, December 19, 2012 1:05 PM
       
      IS: Temen kerja seruanganku sekarang lucu nih: dia mantan Islam yang masuk Katolik. hahaha ... masuknya dengan sepenuh kesadaran, karena merasa kebutuhan2 spiritual-mentalnya lebih terpenuhi di Katolik.
       
      JT: Wah, lucu juga tuh teman kerja seruanganmu :) .. dan hebat boleh kerja disana :) .. gimana pandanganmu tentang berbeda agama, H? Kemungkinan temanmu itu masuk sorga? Syirik dia kan menuhankan manusia?
       
      IS: Hehehe, bosnya si karyawan Kristen ini, sebut saja X, adiknya pun nikah dengan orang Kristen, dan akhirnya ikut masuk Kristen. Nah, menurut Pak X, perilaku adiknya ini (setelah masuk Kristen) justru lebih baik ketimbang waktu Islam dulu. hehehehe. Jadi dia gak masalah tuh, punya bawahan Kristen. Secara adiknya sendiri masuk Kristen.
       
      Soal masuk surga masuk neraka, itu sepenuhnya di tangan Tuhan. Nasibku sendiri aja, apa masuk surga/neraka aku gak tau. Apalagi nasib orang lain. hehehe
       
      Tapi menurutku, masalah kebenaran akidah (persepsi/keyakinan kita tentang Tuhan) adalah satu hal; sedangkan masuk surga atau neraka (keselamatan), adalah hal lain.
       
      Orang yang sudah “benar” akidahnya*, tapi tidak benar perilakunya, justru mungkin masuk neraka yang lebih dalam (indikasinya ada pada Al-Quran Surah 107: orang yang tidak punya kepekaan sosial dan enggan menolong sesama dinilai sebagai pendusta agama dan akan celaka, walaupun tubuh lahiriahnya melakukan ritual shalat), dibanding orang yang tidak benar akidahnya dan tidak benar perilakunya (ini kan sebenarnya lebih bisa dimaklumi: karena akidahnya sudah salah, perilakunya menjadi salah juga).
       
      Sebaliknya, orang yang tidak benar akidahnya, tapi benar perilakunya, menurutku sangat sangat sangat bisa berharap dan mengandalkan kebijaksanaan, kasih, dan pengampunan Tuhan.
       
      (*Aku kasih tanda kutip, karena idealnya, ketika akidah sudah benar, ditangkap dan dipahami dihayati dengan benar, harusnya perilaku ybs pun benar: kita mengenal “pohon yang baik” dari “buah2nya yg membawa kebaikan” Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik juga).
       
      Karena, belum tentu kebenaran itu sudah sampai (didakwahkan) dalam bentuk dan cara yang benar serta baik kepada ybs. Bisa jadi, kebenaran yang didakwahkan dan dipahami oleh ybs adalah kebenaran yang sudah diselewengkan manusia, ditambahi macam2 ajaran lainnya yang menyimpang dari ajaran asalnya, kurang dimengerti konteksnya, dll, sehingga ybs pun jadi ragu dan memutuskan bahwa itu bukan kebenaran yang dia cari.
       
      Mengutip pernyataan Muhammad Asad (dh Leopold Weiss) dalam tafsir Al-Qurannya:
       
      <<Allah tidak akan menghukum siapa pun karena menganut keyakinan yang keliru dan melakukan  perbuatan yang salah, kecuali jika pengertian tentang salah dan benar telah dijelaskan terlebih dahulu kepada orang tersebut. Bdk. Surah Al-An’aam [6]: 131-132:
       
      ::Dan demikianlah, Pemeliharamu tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat karena kezalimannya, selama penduduknya masih belum menyadari [makna benar dan salah]; (132) karena semua akan dinilai berdasarkan perbuatan-perbuatan [sadar] mereka --dan Pemeliharamu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (133) Dan hanya Pemeliharamu Yang Mahacukup, rahmat-Nya tiada terhingga.:: (Al-Quran [6]:131-133).>>
       
      Menurutku, yang demikian itulah pengertian sebenarnya dari istilah “kafir” (mengingkari/menutupi kebenaran), yakni: jika hati dan pikirannya sudah tahu bahwa X itu benar, tetapi ybs dengan sengaja menolak kebenaran itu, misalnya karena lebih mementingkan hawa-nafsunya, egoismenya, kepentingan duniawi diri-keluarga-dan kelompoknya, dll. Dalam hal ini, ybs dikatakan sebagai lebih memprioritaskan hawa-nafsunya, mempertuhankan hawa-nafsunya sendiri, ketimbang mempertuhankan Tuhan (Sang Kebenaran). Jika sudah begini, manusia sendirilah yang menutup diri (meng-kafir-i, meng-cover), pikiran dan hatinya terhadap ilmu dan pencerahan, dan siapa pun tidak bisa lagi menolongnya. (<<Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?>> Al-Quran 25:43). 
       
      Al-Quran menggunakan berbagai istilah untuk menjuluki non-muslim: Nas/insan (Manusia: muslim maupun non-muslim), Bani Adam (Keluarga Adam: mencakup yg muslim dan non-muslim), Bani Israil (Keluarga dan keturunan Israil), Ahlul-Kitab (para pengikut kitab-kitab suci terdahulu sebelum Al-Quran: kaum Yahudi dan Nasrani), musyrik (yang mempersekutukan Tuhan), kafir (yang menutupi/mengingkari kebenaran), munafik, dll.
       
      Dari penggunaan istilah di atas, jelaslah bahwa Yahudi dan Nasrani disebut sebagai Ahlul-Kitab (karena mengikuti kitab-kitab suci terdahulu sebelum Al-Quran), sehingga tidak identik dengan “kaum kafir” dan “kaum musyrik”. Sebagian ulama lain bahkan memperluas cakupan Ahlul-Kitab (pengikut kitab2 suci sebelum Al-Quran) sehingga juga meliputi umat beragama selain Yahudi dan Kristen yang memiliki kitab2 suci (Hindu dan Budha misalnya; walau ini menimbulkan polemik juga intra ulama).
       
      Untuk lebih lengkapnya tentang “Yahudi-Nasrani yang tidak identik dengan istilah kafir”, bisa simak uraian Prof Hamka Haq (mantan ketua MUI Sulsel dan penasehat MUI Pusat, mantan Purek IAIN Makassar dan Sekjen Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar), yg ku-copas di bagian paling bawah, setelah tulisanku ini.   
       
      ***
       
      Tuhan itu mahagaib, maha di luar jangkauan persepsi kita manusia. Maka, ketika kita manusia salah mempersepsi-Nya, masa’ Tuhan tega amat nyiksa-nyiksa, padahal perilaku manusia itu sendiri bagus? Padahal si manusia itu sendiri sudah sekuat tenaga berusaha mencari dan mendekati Tuhan? Aku percaya, Tuhan lebih menghargai proses jerih payah manusia dalam menemukan/mencari/mendekati Sang Kebenaran, Kebaikan, Keindahan itu, ketimbang mempersoalkan hasil akhir-nya (yakni apakah ybs benar-benar telah sampai dan memahami Sang Kebenaran-Kebaikan-Keindahan itu dengan benar).
       
      Lagipula, siapa sih yang bisa memahami Tuhan dengan sebenar-benarnya? Dan, siapa berani menjamin 100% bahwa keyakinannya tentang Tuhan itu adalah seperti yang dimaui oleh Tuhan sendiri? We all are only trying our best to approach God, dengan menggunakan segenap potensi akal dan rasa kita seoptimal mungkin dalam mencari, mencerna, lalu memilih kebenaran.
       
      Kita umat beragama sama-sama percaya bahwa Tuhan itu Mahaadil, Mahacinta. Dalam ajaran Islam, Tuhan sendiri berfirman bahwa "Rahmat kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku". Jadi, walau ada banyak ayat yang menyatakan Dia Maha Penyiksa, ada jauuuuuh lebih banyak lagi ayat Al-Quran yang menyebutNya sebagai Mahakasih Sayang (Rahman rahim). Bahkan, "Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang". (QS 6:12 dan 54).
       
      Bahkan, setiap surah dalam Al-Quran selalu didahului oleh kalimat bismillahi rahmani rahiim (dengan nama Allah yang Mahakasih Mahasayang). Bahkan, tujuan pengutusan Nabi Muhammad menurut Al-Quran adalah “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam.” (Al-Quran 21:107). Semesta alam, mencakup seluruh makhluk, tanpa membedakan agama. (Tidak ditulis dalam ayat itu, bahwa Muhammad diutus untuk menjadi rahmat bagi kaum Muslimin saja. Maka, sudah seharusnya jika umat non-Muslim pun bisa merasakan kasih sayang umat Muslim. Jika sebaliknya yang terjadi, umat non-Muslim merasa dibenci bahkan ditindas oleh umat Muslim, berarti umat Muslim telah gagal meneladani misi utama nabi Muhammad Saw. sendiri: menjadi rahmat bagi seluruh alam).
       
      Nah, seperti telah ditegaskan di atas (QS 6:131-133), Yang Mahapengasih dan Penyayang mustahil menghukum orang yang tidak /belum tahu, atau menghukum orang yang sudah mati-matian berusaha memahami /mendekati Tuhannya, hidup dengan baik, tapi memiliki gambaran /konsepsi yang salah tentang Tuhannya. Aku percaya, Tuhan akan melihat dan membalas jerih-payah manusia dalam mendekat kepada-Nya: betapa pun hasil akhirnya (gambarannya/keyakinannya tentang Tuhan) ternyata salah, yang lebih dipentingkan Tuhan adalah niat baik hatinya (yang sudah sungguh-sungguh ingin mencari kebenaran, yang sudah sungguh-sungguh ingin mendekati Diri-Nya, mendekati Sang Maha Benar-Baik-Indah itu) serta amal perbuatan baiknya kepada sesama di dunia ini.
       
      Ini bukan spekulasi dan harapan pribadiku, tapi kusimpulkan dari ayat-ayat Al-Quran juga (dan setelah baca2 dan tanya sana-sini). Landasan Al-Qurannya banyak, misalnya:
       
      1. "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah (atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah (atom)pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (Al-Quran 99:7-8)
       
      2. “Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Al-Quran 2:112)
       
      3. "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Quran, 2:62)
       
      4. "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Quran 5:69)
       
      5. "Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang makruf (baik), dan mencegah dari yang mungkar (jahat) dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (Al-Quran 3: 113-114).
       
      6. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (Al-Quran [9]:120; [11]: 115; [12]:56, 90)
       
      ***
       
      Memang, di sisi lain, Al-Quran juga menyampaikan kritik kepada segolongan (besar?) umat Nasrani yang mempertuhankan Yesus. Semulia-mulianya Yesus, beliau oleh ajaran Islam tetaplah dipandang sebagai manusia, nabi utusan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Misalnya, di antara yang paling keras kritikannya adalah ayat ini:
       
      <<Sesungguhnya telah kafirlah (mengingkari/menutupi kebenaran) orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.>> (Al-Quran 5:17).
      (Dalam ayat ini terselip argumentasi, bahwa karena Yesus Al-Masih bisa wafat, maka sesungguhnya ada lagi yang berkuasa di atas Yesus Al-Masih itu, yang mengatur hidup-matinya Yesus Al-Masih itu, yakni Tuhan Yang Mahahidup, Pencipta Yesus itu. Sebab, andaikan Tuhan sendiri mati, siapa lagi yang bisa mengatur jagad raya ini saat Tuhan sedang mati itu? Siapa lagi yang bisa membangkitkan Yesus yang sudah wafat itu? kecuali Tuhan-nya Yesus yang lebih berkuasa dari Yesus yang sudah wafat itu?).
       
      Lalu, setelah membaca ayat di atas (“telah kafirlah orang yang berkata. “Sungguh Allah itu ialah Al-Masih bin Maryam), ada yang menambahkan kesimpulan: “karena yang mempertuhankan Yesus kafir, maka yang kafir pasti akan masuk neraka”. Walaupun kesimpulan seperti itu tidak ada dalam bunyi literal ayat di atas.
       
      Saya (dan golongan yang memilih pemikiran serupa) berupaya untuk lebih hati-hati dalam mengambil kesimpulan, dengan mempertimbangkan juga ayat-ayat lainnya dalam Al-Quran (misalnya ayat2 yang sudah disebut di atas: butir 1-6). Namun, ada lagi ayat Al-Quran yang lebih spesifik (ketimbang ayat2 pada butir 1-6 di atas) yang berbicara tentang nasib orang2 yang mempertuhankan Yesus, yakni dialog futuristik antara Allah dan Yesus di hari kiamat, sbb:
       
      <<Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.
       
      Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
       
      Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.>> (Al-Quran 5:116-118)
       
      Dalam ayat Al-Quran ini, Isa Al-Masih (Yesus Kristus), nabi yang sangat dihormati umat Muslim, menyerahkan sepenuhnya nasib orang-orang yang mempertuhankan dirinya kepada Allah saja. Di satu sisi, Yesus menandaskan kemahakuasaan Allah untuk menghukum manusia. Di sisi lain, Yesus menandaskan bahwa Allah –di samping Maha Perkasa– juga Maha Bijaksana. Jadi, kemungkinan pengampunan pun dibuka. Dengan kata lain, walau secara akidah Islam, penuhanan Yesus adalah suatu kesalahan, namun ajaran Islam sendiri (sebagaimana terbaca dalam jawaban spesifik Isa Almasih dalam ayat Al-Quran di atas) tetap membuka kemungkinan orang-orang yang “keliru akidah”nya ini untuk diampuni, yakni masuk surga. Segalanya dikembalikan kepada Allah.
       
      Jadi, saya membedakan antara kesalahan-kebenaran akidah (satu hal) dan keselamatan manusia (apakah masuk surga atau neraka, sebagai hal lain). Dengan kemahakuasaan, kasih sayang, kemahapengampunan, dan kemahabijaksanaan Allah, apakah kita sebagai manusia layak mendikte keputusan Allah? Tentu tidak.
       
      Dan sebagai Muslim, yang wajib meneladani ajaran-ajaran pokok semua nabi --termasuk Nabi Isa Al-Masih (yang dilafalkan sebagai Yesus Kristus dalam bahasa2 Barat)-- aku pun meneladani perkataan Yesus dalam Al-Quran di atas, sehubungan dengan saudara-saudara Nasrani yang mempertuhankan Yesus:  “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
       
      Menurutku, tidak layak jika aku (dan umat Muslim) berkata lebih dari itu, melebihi teladan Isa Al-Masih sendiri, yang dicontohkan dalam Al-Quran yang kami imani.
       
      Persoalan perselisihan akidah dan nasib manusia di akhirat, dikembalikan kepada Allah saja untuk diputuskan. Manusia hanya bisa berupaya sekuat tenaga untuk coba mendekati kebenaran sesuai kapasitas pemikiran dan imannya masing-masing. Lagi pula, Al-Quran sendiri menyatakan niscayanya perbedaan dan perselisihan di antara umat manusia di dunia ini:
       
      <<Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Al-Quran 5:48)
       
      Ini panduan universal, bahwa perbedaan aturan dan jalan itu merupakan ujian bagi manusia; namun, ujian itu hendaknya memicu manusia untuk saling berlomba berbuat kebajikan. Bukan malah memicu untuk perang dan berbuat kerusakan. Apalagi terlibat dalam saling klaim surga, dan berlomba menjebloskan umat lain ke dalam neraka. Ini sama sekali tidak produktif.
       
      Di bawah ini kukutip tulisan dari sebuah buku, sbb:
       
      QUOTE
      <<Dua orang laki-laki, yang satu Muslim dan yang lain Yahudi, terlibat percekcokan. “Demi Zat yang telah mengutamakan Muhammad atas seluruh alam...,” kata si Muslim. “Demi Zat Yang telah mengutamakan Musa atas seluruh alam…,” timpal si Yahudi. Maka, si Muslim mengangkat tangannya dan menampar wajah si Yahudi. Si Yahudi pun pergi menemui Nabi Muhammad Saw. untuk mengadukan perselisihannya dengan si Muslim. Lalu, Nabi Muhammad pun memanggil si Muslim untuk mengonfirmasikan hal tersebut, dan si Muslim pun menceritakan hal serupa. Maka, Nabi bersabda, “Janganlah mengutamakan aku atas Musa. Sungguh, semua manusia akan pingsan pada Hari Kiamat. Aku pun pingsan seperti mereka. Namun, aku menjadi orang yang  pertama sadar. (Ketika sadar), aku telah mendapati Musa berdiri di samping ‘Arasy (singgasana Allah—ed.). Aku tidak tahu, apakah Musa termasuk orang yang pingsan namun tersadar sebelum aku, atau dia termasuk yang diistimewakan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
       
      Hadis ini  menunjukkan kerendahhatian dan keadilan Nabi Muhammad sebagai pemimpin masyarakat yang heterogen di Madinah serta mengajarkan prinsip penanganan konflik antar-pemeluk agama. Perselisihan, pertengkaran, bahkan perang bisa dihindari jika kita dapat  mengendalikan ego, seperti teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad ini. Agar konflik antar-umat beragama dapat diredam, tokoh agama, apalagi umatnya, tidak sepatutnya menyombongkan diri di hadapan pemeluk atau tokoh agama lain, memperebutkan klaim siapa yang paling hebat.
       
      Semua penganut beragama pasti menganggap nabinya (dan ajaran agamanya) lebih baik, dan akan mati-matian membelanya. Karena itu, daripada saling aktif bertengkar sehingga menimbulkan kerugian psikologis, harta, bahkan nyawa di kedua belah pihak, umat beragama hendaknya saling aktif berbuat baik, sesuai pesan Al-Quran: fastabiqul khairaat, berlomba-lombalah berbuat kebaikan (QS Al-Baqarah [2]: 148), sebab, innallaaha laa yuhibbul mufsidiin, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS Al-Qashash [28]: 77).
       
      Yang mendapat pahala Allah bukanlah yang aktif bertengkar meributkan siapa yang lebih hebat dan memperebutkan klaim surga, tapi yang berserah diri pada Allah dan membuktikannya dengan perbuatan baik (amal saleh). Yang mengaku beragama Islam pun belum tentu masuk surga, jika tidak berserah diri dan berbuat baik (lihat boks hh. 10-11 --ed.). Allah mengingatkan seluruh manusia, terutama umat Muslim, agar belajar dari pertengkaran panjang tak berkesudahan antara umat Yahudi (pengikut Musa a.s.) dan umat Nasrani (pengikut Isa
      Al-Masih a.s.) yang sibuk bertengkar memperebutkan klaim surga dan saling menyalahkan:
       
      ::Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani”. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah: “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar”.
       
      (Tidak!) Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
       
      Dan orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan
      orang-orang Nasrani (juga) berkata: “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan)”, padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada Hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan,”:: (QS Al-Baqarah [2]: 111–113).
       
      Ini merupakan peringatan Allah bagi orang Yahudi, Nasrani, juga Muslim agar tidak mengisi hidupnya di dunia dengan saling bertengkar memperebutkan surga akhirat. Siapa yang masuk surga atau neraka, biarlah Allah yang memutuskan nanti di akhirat. Di dunia ini, yang diperintahkan Allah bagi umat beragama adalah berserah diri kepada-Nya (aslama, yakni, menjadi muslim: orang yang berserah diri kepada Allah) dan banyak berbuat baik, bukan sibuk bertengkar mengenai siapa yang paling hebat.
       
      Allah juga dengan tegas melarang umat Muslim menghina sesembahan yang dianut non-Muslim, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan...” (QS Al-An‘âm [6]: 108).
       
      Sering terjadi, karena sibuk bertengkar, umat beragama malah lupa mengamalkan agamanya
      dengan berbuat baik. Sering manusia terjebak dalam pertengkaran yang tampaknya “membela agama”, padahal pada hakikatnya mereka hanya membela ego, hawa nafsu, dan kebanggaan diri masing-masing dengan memakai alasan agama. Bahkan, ironisnya, sering pula pertengkaran itu terjadi antar-mazhab dalam satu agama yang sama.
       
      Lalu, bagaimana dengan dakwah? Bukankah kita wajib menyampaikan kebenaran Islam? Mengajak non-Muslim ikut menikmati indahnya agama kita? Tentu saja dakwah wajib. Namun,
      dakwah dilakukan bukan dengan bertengkar atau saling tampar, tapi dengan bijaksana dan dengan cara terbaik: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” (QS Al-Nahl [16]: 125); Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka...” (QS ‘Ankabût [29]: 46)
      UNQUOTE
       
      Kalau kita sudah mati dan hidup di akhirat nanti, mudah-mudahan kita masuk surga ya, amin.
       
      Sekiranya di akhirat nanti terbukti bahwa yang benar adalah agama Islam, dan kamu wafat sebagai seorang Kristen, mungkin kamu bisa mengutipkan ayat-ayat Al-Quran di atas untuk mendapat ampunan dan kasih Allah, hehehe.
       
      Namun, sekiranya di akhirat nanti terbukti bahwa yang benar adalah agama Kristen, mungkin aku pun bisa mengutipkan ayat-ayat Bibel yang bicara tentang kasih cinta Yesus yang juga meliputi umat non-Kristen? (Boleh kasih bocorannya, Jhon?) 
       
      No. This is only joking…. di akhirat nanti, kemungkinan kita sudah tidak bisa lagi berkata-kata, berdebat, mengutip-ngutip ayat … pasrah saja dalam keadaan harap-harap cemas …
       
      Wallahu a’lam, dan Tuhan lebih tahu.
      ***
       
      “Yahudi-Nasrani” tidak identik dengan kaum “kafir” (dicuplik dari blog Prof Hamka Haq, http://islam-rahmah.com/ ; ybs mantan ketua MUI Sulsel, penasehat MUI Pusat, mantan Purek IAIN Makassar dan pimpinan pesantren di Sulsel):
       
      QUOTE
      5).Dilalah lafazh kafir juga perlu dipahami secara benar.  Masih banyak ustadz kita tidak dapat membedakan antara kafir dan ahl kitab, sehingga semua non Muslim, termasuk ahli kitab dicap semuanya kafir secara mutlak.  Padahal ahlu kitab itu tidak mutlak (tdk semuanya) kafir.  Yang kafir mutlak itu ialah mereka yang tidak percaya adanya Tuhan (Mulhid) atau percaya banyak Tuhan (musyrik).
       
      Telah terjadi perdebatan panjang di Twitter antara saya dgn sejumlah ustadz seperti itu. Kesimpulanya, alasan-alasan saya yang menunjukkan bhw tidak semua ahlu kitab (Kristen, Yahudi) itu kafir, tdk dapat dipatahkan oleh mereka.  Kalau pembaca tdk sempat ikuti diskusi itu melalui twitter, silakan baca rangkuman diskusinya yang saya sdh muat di blog saya juga Islam Rahmah http://wp.me/p1n8EA-8E   .
       
      Mereka memang menggebu-gebu “mengeroyok” saya, sampai mereka mengemukakan dalil pamungkasnya  dengan mengutip Q.S.Al-Ankabut ayat 47, padahal dalam ayat itu justru ada kalimat yg berbunyi : wa min haula’i man yu’min (di antara mereka ahl kitab itu ada yang beriman).  Dengan demikian, non Muslim (Kristen) bisa saja dipilih. Karena tidak termasuk dlm kategori “kafir/musyrik” dalam ayat-ayat larangan yang telah dikutip oleh Pak Sahid.
      UNQUOTE
       
       
      QUOTE
      Seri I
      Salah satu sifat org yang tdk FAQIH (berilmu & bijak) dalam agama ialah berpikir hitam putih, tanpa alternatif.  Semua non Muslim dicap nya Kafir, padahal Yahudi dan Kristen tidak mutlak Kafir; Al-Qur’an sendiri menyebut mereka Ahlu Kitab.  Bahasa Al-Qur’an amat sejuk, ahl kitab pun disebut ahl mitsaq (penganut perjanjian damai). Bagi kita bangsa Indonesia, seharusnya bahasa sejuk Al-Qir’an seperti itulah yang disebarkan untuk persatuan & kebhinnekaan, bukan mengkafirkan.  Jadi banyak ustadz yang masih perlu diingatkan tentang apa arti kafir sebenarnya dan apa bedanya dg AHLU KITAB
       
      Ketika saya menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu tidak secara mutlak (tidak semua) kafir, ada yang menanggapi dengan mengatakan bahwa saya lupa pada Surah Al-Bayyinah yang menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu kafir.  Saya menjawab: Alhamdulillah, saya tdk lupa S.Al-Bayinah:1.  Tapi coba perhatikan, pd ayat itu trdapat kata (harf jarr)  من “MIN”, yang menurut kaedah tafsir berarti sebagian (tidak semua ahl kitab) itu kafir.  Mungkin si penanya itu belum memahami kaedah-kaedah tafsir seperti itu.  Bahkan untuk memahami Al-Qur’an, sangat diperlukan metodologi untuk dapat mengartikan dan menfasirkannya secara benar (mendekati kebenaran), tidak hanya melihatnya secara harfiyah.
       
      Seri  II
      Banyak ayat menunjukkan bahwa ahlu kitab tidak mutlak (tdk semua) kafir. Prhatikan pada Q.S.Al-Baqarah:62 , disebutkan bahwa di antara mereka ada yang beriman dan beramal shaleh, walau imannya tentu berbeda dengan Islam.  Bahkan dalam Q.S.Al`Ankabut:46, disebutkan bahwa Tuhan yang diimani oleh Ahlu Kitab sama dengan Tuhan yang diimani oleh umat Islam. Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid (Dan Tuhan kami dan Tuhanmu -hai ahli Kitab- itu SATU adanya).   Sedang Q.S.Al-Kafirun, yang turun di Mekah, bukan menyangkut Ahl Kitab, melainkan kaum musyrikin, jahiliyah paganisme yang semuanya mutlak kafir.  Jadi utk menafsirkan ayat, di samping memerlukan metodologi, juga memerlukan ilmu sejarah.  Tidak hanya asal mengartikan secara tekstual hitam-putih.
       
      Adapun menyangkut larangan dalam Q.S. Al-Maidah:51, sudah saya jelaskan lewat Edaran  Baitul Muslimn Indonesia http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l  .  Dalam Edran itu, dijelaskan bahwa larangan pada Q.S.Al-Maidah: 51, itu berlaku pada zaman / saat / kondisi, Yahudi dan Kristen berbuat zalim kepada umat Islam.  Tapi saat mereka hidup dalam masyarakat damai, seperti di Madinah, Maka kita seharusnya mencontoh sikap Rasulullah SAW untuk menerima mereka.
       
      Perhatikan pula, pada dasarnya larangan memilih pemimpin dari non Muslim, merujuk kepada konsep Wali (pemimpin) di zaman Nabi SAW, yaitu Raja atau Kaisar berkuasa absolut.   Maka Sepanjang kekuasaannya tidak absolut, tak ada larangan, hukum syariat membolehkannya.   Perhatikan Negara Islam SUDAN, pernah punya Wakil Presiden dari Kristen, yaitu Abel Alier (1976-1982),Yosep Lagu (1982-1985), G.K.Arof (1994-2000), dan Moses K.Machar (2001-2005).  Tentu saja para ulama di Negara Islam Sudan, tidak melupakan Q.S.Al-Bayinah, S.Al-Maidah dll.  Mereka tidak menjual ayat, tapi itulah ISLAM RAHMAH yang mereka terapkan dalam bernegara.   Dalam Negara Islam SUDAN, yang jelas-jelas Syariat Islam menjadi konstitusinya saja, ulamanya membolehkan memilih Kristen pada posisi Wakil, maka tentu di Negara Pancasila RI juga boleh jika untuk kepentingan persatuan bangsa, apalagi hanya posisi wakil Gubernur.
       
      Seri III
      Lalu yang dipersoalkan lagi, bahwa umat Kristen sekarang bukan Ahl Kitab.  Penulis jawab bahwa Memang ada yg mau menghapus AHL KITAB dari Kamus Islam, katanya: Ahl Kitab hanya di zaman Nabi Musa dan Isa a.s.  Padahal AHLU KITAB yang disebut dalam Al-Qur’an mengacu pada kaum Yahudi dan Kristen yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.   Khusus kaum Kristen di zaman Nabi, keyakinan mereka adalah trinitas yg disahkan pada Konsili Nikea sejak 325 M.  Keyakinan itu pula yang dianut Kristen di zaman sekarang, maka dengan sendirinya Ahl Kitab tetap ada sampai skarang.
       
      Bahkan ada Ahl Kitab yang mendapat pujian, karena rajin membaca kitab sucinya dan beribadah di malam hari (Q.S.Ala Imran:113).  Juga di antara mereka, walaupun tetap pada agamanya, tapi percaya pada kebenaran Nabi SAW dan Al-Qur’an, serta berakhlak mulia (Q.S.Ala Imran:199).  Karena itu Al-Quran melarang kita mencerca Ahl Kitab, kecuali mereka yang zalim, karena Tuhan kita dan Tuhan mereka sama, satu adanya (Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid)  (Q.S. Al-‘Ankabut: 46).  Saya hanya sekadar menunjukkan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Ahl Kitab yang sering diabaikan.   Lebih rinci soal Ahl Kitab, diuraikan khusus pd Bab VI buku saya ISLAM RAHMAH UTK BANGSA, buka http://wp.me/p1n8EA-41
       
      Seri IV
      Memahami Al-Qur’an harus secara konprehensif, kita tidak boleh melupakan ayat-ayat yang menilai tdk semua ahlu kitab itu kafir, seperti telah diungkapan.  Kaum musyrikin yang memang semua kafir, berbeda dengan ahl kitab yang diakui tidak semuanya kafir; baca QS.Ala Imran:113, di sana berbunyi (laysuw sawa yang artinya mereka itu tidak sama).  Karena itu Al-Qur’an selalu memisahkan antara Ahl Kitab (yg tdak semua Kafir) dengan Musyrikin yg sccara mutlak kafir.  Andai kata Ahl Kitab dan Musyrikin itu sama (sinonim) maka tidak perlu dipisah, cukup Al-Qur’an menyebut Musyrikin saja, tapi ternyata Al-Qur’an memisahkannya.  Untuk jelasnya perhatikan kembali  Q.S.Al-Ankabut:46  (Tuhan kita dan Ahl Kitab SATU); lalu ayat 47 jelas-jelas menegaskan bahwa sebagian mereka beriman (wa min haula’i man yu`min).
       
      Ahl Kitab yang tetap pada agamanya, namun mengakui kebenaran Nabi dan Al-Quran, dan tidak memusuhi Islam, tdk disebut Kafir (Q.S.Ala Imran:113).  Ahlu Kitab yang percaya Allah itu Esa dan Yesus tubuh manusia (Matius 26:2) yg mewadahi Dimensi Roh KasihNYA, mereka tidak kafir.  Mirip konsep Wihadtul Wujud dalam Tasawuf Islam, (Allah memilih hambaNYA yang sufi sebagai wadah PancaranNYA) seperti yang dialami Al-Hallaj.   Analoginya: Allah yg hakikat-NYA Maha Esa, hadir dalam berbagai dimensi sifat, sehingga bagi umat Islam terdapat 99 asmaul husna-NYA dlm AlQur’an, yang menunjukkan dimensi-dimensi sifat Allah, bahkan ada yang menjadikannya 100 dengan memasukkan nama: Al-Syafi’ (Allah Maha Penyembuh).  Yang kafir ialah percaya TIGA jenis dan TIGA zat Tuhan, sehingga Tuhan berbilang – politeistis (Q.S.Al-Maidah:17 & 73, Al-Tawbah:30).
       
      Sepanjang mereka hanya meyakini Yesus sebatas manusia (tubuh yang mewadahi dimensi Roh Kasih Allah YME), bukan zat setara dg Tuhan, mereka tidk musyrik.  Perhatikan, dalam Al-Qur’an, Yesus juga disebut sabagai Wadah Firman2-NYA, Wadah Roh (Spirit)-NYA yg dilimpahkan ke Maryam (Q.S.Al-Nisa: 171).  Ahlu Kitab yang mengimani Yesus sbg WADAH Cinta Kasih Allah, menyebut juga Nabi seperti itu, sbg “anak” Allah, tapi Nabi menolaknya.   Mereka itulah yg bertamu di Masjid Nabawi Madinah, dan diizinkan oleh Nabi beribadah di sana (Tafsir Al-Qurthubi Juz 4 h. 4&5).
       
      Missi Rasulullah SAW: Rahmatan lil-‘alamin dan Kaffatan li al-nas, bahwa Islam adalah sumber rahmah (kasih sayang) bgi semua manusia.  Nabi tdk bertugas mengislamkan semua manusia, sebab ternyata beliau sendiri mengajak kaum non Muslim kerjasama dalam negara Madinah.  Nabi membangun masyarakat plural, bahkan ipar2nya dan pembantunya juga ada yg beragama Yahudi tanpa dipaksakan masuk Islam.
       
      Kemudian, ada ustadz atau yang mengaku ulama mempertanyakan metode kontekstual yang disinggung dalam Edaran Baitul Muslimin.  Mereka belum mengerti, sehingga mengira pemahaman kontekstual adalah memelintir (memperkosa) ayat.  Untuk itu, perlu dijelaskan guna membuktikan bhw metode pemahaman kontekstual tdk seperti apa yang mereka tuduhkan itu.
       
      Misalnya Q.S.Al-Taubah:36: “Perangilah orang musyrik seluruhnya”; jika dipahami secara tekstual, berarti umat Islam wajib perang tiap hari.  Karena itu, harus dipahami secara kontekstual, bahwa ayat tsb. hanya berlaku pada kondisi diperangi di zaman Nabi, atau kondisi yg sama sesudahnya.  Contoh lain: Hadits larangan buang air menghadap/membelakangi ka`bah.  Nabi tegaskan: “Hendaklah kalian menghadap ke Timur atau ke Barat”.   Kalau hadits tsb diterapkan di Indonesia secara tekstual, maka umat Islam Indonesia akan selamanya meghadap / membelakangi ka’bah pada saat buang air, sehingga bertentangan dengan substansi larangan Nabi.  Jadi harus disesuaikan dengan konteksnya, bahwa menghdap ke Barat /Timur itu memang cocok di Madinah, karena di sana kiblat berada di arah Selatan.  ...
       
      Begitu pula halnya larangan memilih pemimpin (wakil non Muslim) hrs dipahami scr kontekstual, berlaku ketika non Muslim menzalimi umat Islam.  Tetapi dlm konteks kedamaian warga yg pulral, sperti di Madinah pd zaman Nabi SAW, umat Islam dapat bekerjasama dengan non Muslim.   Maka utk zaman moderen, demi membangun perdamaian dan persatuan bangsa, non Muslim boleh saja dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin.  Negara Islam Sudan, misalnya, berdasarkan UUD Syariat nya memberi contoh untuk hal ini.   Apa yg berlaku di Sudan membuktikan bahwa Islam itu Rahmatan lil-alamin, rahmat utk semua manusia (Kaffatan li al-nas).
       
      Cara itu pula dierapkan oleh Khalifah-khalifah Islam di zaman klassik, mengangkat sejumlah ilmuwan Kristen pada posisi tertentu demi kajayaan Dinasti Islam Abbasiyah.  Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Makmun pada zaman keemasan Dinasti Abbasiyah membangun Badan Penerjemahan (BAITUL HIKMAH) dan mengangkat Hunayn bin Ishaq bersama puteranya Ishaq bin Hunayn dari kalangan Kristen, mengepalai lembaga tersebut, sekaligus Ketua Tim Dokter istana. Penerjemah dari Kristen Nestoria adalah Bakhtisyu’, juga diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Baghdad. Demikian dlm buku sejarah Akhbar al-‘Ulama’ bi Akhyar al-Hukama’ Juz I, h. 77 oleh Al-Qufty; Tarikh al-Islami Juz 4 h.491 oleh Al-Dzahaby dan Wafyat al-A’yani wa Anba’u Abna’ al-Zaman Juz I, h. 205 oleh Ibn Khillikan.
       
      Disamping konteks kedamaian, juga konteks kekuasaan pemimpin skarang, yg tdk lagi absolut, bukan Kaisar, Raja, dan bukan Khalifah.   Pemimpin Non Muslim di Negeri mayoritas Muslim, biasanya sebatas Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, dan sekali lagi apalagi kalau hanya wakil Gubernur.
       
      Terima kasih.
      Hamka Haq.
      UNQUOTE
       
       
       
       


    • simson m. gintings
      Yesus mengatakan dalam Yoh 14:6  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku . Tidak ada
      Message 2 of 5 , Jan 2, 2013
      • 0 Attachment

        Yesus mengatakan dalam Yoh 14:6  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku".

        Tidak ada pernyataan sejelas ini yg dapat kita temukan dalam agama apapun,  sehingga kebenarannya pun tidak perlu dukungan dari kitab suci agama lain karena memang tidak ada  pun tidak perlu. Karena, Yesus sendiri yang mengatakannya.  Inilah sebenarnya fondasi dari iman Kristen. Kita tidak perlu merasa dikuatkan apabila dalam kitab suci agama lain mengakui tentang Yesus (walau dengan nama lain), atau merasa kecil hati bila kitab suci mereka mengatakan tentang Yesus secara tidak benar.

        Kebenaran iman Kristen hanya ada di dalam Alkitab, bukan sumber lain.


        Mejuah-juah kita kerina bas mengketi tahun simbaru 2013.


        sg
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.