Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Mencuri Tapi Bukan

Expand Messages
  • moderatorgbkp
    Oleh Eka Darmaputera MENCURI di zaman sekarang, ternyata banyak jenisnya. Sadarkah Anda? Ada mencuri yang masih dianggap mencuri . Karena itu pelakunya -
    Message 1 of 1 , Mar 1, 2004
    • 0 Attachment
      Oleh Eka Darmaputera

      "MENCURI" di zaman sekarang, ternyata banyak jenisnya. Sadarkah Anda?
      Ada "mencuri" yang masih dianggap "mencuri". Karena itu pelakunya -
      bila tertangkap - langsung dihajar habis-habisan. Mereka adalah para
      pencopet jalanan, maling jemuran, dan pemulung yang sering main
      sambar barang orang.

      Tapi ada "mencuri" jenis lain. Jenis ini, pada hakikatnya,
      adalah "mencuri" juga. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi anehnya,
      masyarakat tidak menganggapnya sebagai kejahatan yang serius. Dan
      pelakunya pun tidak merasakannya sebagai aib yang memalukan.
      Acapkali, dengan bangga, si pelaku menceritakan "sukses"nya
      melakukan "kejahatan"nya. Dan kita dengan asyik mendengarkannya,
      memuji-muji ke "lihai"annya.

      Mahasiswa-mahasiswa kita di luar negeri, konon amat terkenal
      karena "bakat"nya melakukan "pencurian" jenis kedua ini. Ada yang
      mengikat koin yang ia pakai untuk bertelepon. Setiap kali "pulsa"nya
      habis, koin itu ditariknya. Lalu dimasukkan kembali, dan dengan koin
      yang satu itu ia bertelpon lagi. Begitu berkali-kali. Bisa berjam-
      jam, dengan biaya cuma satu koin. Hebat, bukan?

      Perbuatan yang ini lebih "sadis" lagi. Beberapa hari sebelum pulang,
      si "pencuri" mengundang teman-temannya bertelpon. Boleh menelpon ke
      mana saja, sebebas-bebasnya. Tarifnya cuma seperempat dari biasa,
      asal dibayar tunai waktu itu juga. Ketika tagihan datang? No problem,
      si "pencuri" sudah aman, nun jauh di sana.

      SEBENARNYA bukan cuma mahasiswa. Banyak orang merasa puas, bila bisa
      naik kereta api tanpa membeli tiket, atau berangkat ke luar negeri
      dengan hanya membayar biaya fiskal separo harga.

      Dan di zaman sekarang, siapa sih yang masih menyebut Anda "pencuri",
      bila Anda memakai telpon kantor untuk menelpon kekasih Anda, memakai
      mobil dinas untuk bertamasya, atau membawa pulang kertas, amplop,
      klip, atau perangko sekadarnya dari kantor? Justru orang yang
      mempersoalkan soal "tetek bengek" inilah, yang dianggap "sok suci"
      dan "eksentrik", bukan?

      Okelah, contoh-contoh tersebut barangkali memang kecil, remeh dan
      sepele. Menuntut orang untuk seratus persen jujur dalam segala hal,
      saya akui, adalah tidak realistis. "Bohong-bohong dikit" itu biasa,
      dan perlu. Ia adalah semacam "bumbu" kehidupan. Membuat hidup lebih
      bercita-rasa, tidak hambar. Sungguh membosankan bergaul dengan orang
      yang terlalu "alim".

      Ya, asal kita tidak lupa. Bahwa biasanya berawal dari membiarkan
      yang "kecil-kecil" itulah - dan mengatakan "ah, keciiiil, ngapain
      diributin amat, sih ?!" - sebuah lubang besar sedang kita biarkan
      terbentuk. Dan di ujungnya, adalah bencana.

      Dengan perkataan lain, dijauhkanlah kiranya kita dari meremehkan soal-
      soal kecil. Sebab, seperti kata Yesus, "Barang siapa tidak benar
      dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-
      perkara besar" (Lukas 16:10b).

      JENIS "mencuri" yang selanjutnya adalah "mencuri yang bukan materi".
      Aneh? Sama sekali tidak. Sebab dalam praktik, ini sebenarnya nyaris
      selalu terjadi. Dalam bentuk yang sangat bervariasi. Apa misalnya?

      Misalnya, MENCURI WAKTU. Atau memanfaatkan waktu, tidak sesuai dengan
      peruntukannya. Datang terlambat, tapi pulang lebih cepat. Bekerja
      asal-asalan, lebih asyik menelpon, bercengkerama, membaca koran,
      sementara di depan loket orang telah menanti berjam-jam sambil
      berdesak-desakan.

      Dan, jangan lupa, "jam karet"! Ini adalah pemborosan waktu yang luar
      biasa, serta bentuk hukuman yang paling semena-mena. Mengapa? Sebab
      yang dihukum, adalah justru yang disiplin, yang tertib, yang taat.
      Sementara yang terlambat? " Ah, jangan khawatir! Tenang saja, toh
      pasti ditunggu!"

      Apalagi? O ya, ini. Yaitu kebiasaan buruk yang bernama "menunda-nunda
      pekerjaan" hingga saat terakhir. "Entar aja, deh, masih lama
      ini!" "Pencuri-pencuri waktu" ini, walau diberi waktu berminggu-
      minggu, tetap saja baru mulai bekerja sampai hampir tenggat waktu.
      Akibatnya? Bekerja terburu-buru, dan hasilnya pasti tidak bermutu.

      CELAKANYA, orang yang disiplin, tertib waktu, dan selalu memanfaatkan
      setiap waktu yang tersedia untuk bekerja dengan serius, sekarang ini
      bukan cuma amat jarang, tapi juga tidak disukai orang.

      Saya pernah membaca bagaimana nelayan-nelayan asal Vietnam dimusuhi
      nelayan-nelayan Amerika. Begitu juga pekerja-pekerja migran dari
      negara-negara Asia lainnya. Mereka dibenci karena satu sebab saja,
      yaitu karena bekerja terlalu keras. Ini dianggap merusak irama dan
      pasaran kerja orang Amerika. Pekerja-pekerja Asia ini bersedia
      bekerja lebih keras, dengan jam kerja lebih panjang, dan upah lebih
      kecil.

      Siapa pun tidak perlu munafik dalam hal ini. Siapa sih yang tidak
      suka dengan tenaga sedikit mendapat upah tinggi? Tapi bukan itu
      permasalahannya. Persoalan kita di sini adalah soal menghargai waktu,
      serta memanfaatkannya seefektif, seefisien, dan seproduktif mungkin.
      Dalam bahasa yang lebih teologis: menatalayani sebaik-baiknya salah
      satu karunia Tuhan yang paling berharga, yaitu "kairos".

      "Mencuri waktu", pada hakikatnya, adalah meremehkan sang Pemberi. Dan
      ini jelas bukan perkara remeh. Sebab ini juga merupakan pelanggaran
      hukum ketiga, "Menyebut Nama Allah dengan sembarangan". Jadi, kalau
      pakai istilah ternis, "double fault" .

      Tuhan, dengan seluruh ketulusan dan segenap kemurahan hati-Nya,
      mengaruniakan "waktu" kepada manusia. Dengan tujuan, agar karunia ini
      dinikmati dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tapi marilah kita ingat
      kembali apa yang kita kerjakan seminggu yang terakhir ini!

      Berapa banyak "waktu" yang kita manfaatkan untuk mengerjakan yang
      baik, yang bermanfaat dan yang membangun? Dan berapa banyak yang
      kita "buang" untuk mengerjakan hal-hal yang tidak penting dan tidak
      mendesak - walau mungkin mengasyikkan?

      "MENCURI WAKTU" adalah ironi paling besar yang dapat dilakukan oleh
      manusia! Pada satu pihak, betapa kita menginginkan "waktu"! Sangat
      berduka, ketika sang Khalik meniup peluit panjang, tanda bahwa "waktu
      telah habis". Namun begitu, di lain pihak, akuilah, betapa karunia
      yang paling berharga ini, juga adalah karunia yang paling banyak kita
      jadikan mubazir dan kita sia-siakan!

      "Waktu" sering kita rendahkan nilainya, bagaikan "barang surplus"
      atau "sisa ekspor", yang dijual murah dan tersedia berlimpah
      di "factory outlet". Padahal astaga, Saudara, ia sesungguhnya begitu
      singkat dan begitu terbatas! Betapa ia menuntut pengelolaan yang
      seoptimal-optimalnya! Dan doa yang tak berkeputusan, "Ajarilah kami
      menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang
      bijaksana" (Mazmur 90:12)

      MANIFESTASI yang lain dari "mencuri yang bukan materi", adalah:
      MENCURI REPUTASI DAN NAMA BAIK SESEORANG. Apa pula ini?

      Secara umum, yang kita maksudkan dengan perbuatan "mencuri" adalah,
      secara tidak sah mengambil sesuatu yang berharga dari orang
      lain. "Sesuatu yang berharga" ini bisa bermacam-macam wujudnya. Bisa
      harta benda, bisa keluarga, bisa jabatan, dan sebagainya. Dan salah
      satu yang paling berharga adalah "nama baik".

      Yang ingin saya bicarakan secara khusus, adalah tindakan
      mendiskreditkan serta menghancurkan kredibilitas orang lain. Atau
      kini lazim disebut sebagai "pembunuhan karakter" atau "character
      assasination". Caranya bukan dengan menikamkan senjata tajam atau
      meletuskan senjata api. Tapi cukup dengan kata-kata.

      Entah mengapa, tapi agaknya pada manusia ada semacam kecenderungan
      naluriah yang menggemari cerita-cerita "miring" tentang orang lain.
      Seringkali tanpa maksud jahat sama sekali. Melainkan sekadar supaya
      ada bahan pembicaraan yang mengasyikkan, sambil cari kutu, gunting
      rambut atau minum kopi.

      Yang bersangkutan tidak membayangkan, betapa gara-gara iseng-iseng
      mereka itu, nama baik orang dicuri dan reputasi orang dibunuh mati.
      Apa yang barangkali dibangun sedikit demi sedikit selama puluhan
      tahun, dihancurkan dalam sekejap. Dan biasanya tak mungkin diperbaiki.

      Sebab, konon, di dunia ini ada tiga hal yang sekali keluar tak
      mungkin lagi ditarik kembali. Apa itu? Pertama, adalah anak panah
      yang telah melesat dari busurnya. Kedua, adalah kesempatan yang tidak
      dimanfaatkan. Dan ketiga adalah, perkataan yang keburu keluar dari
      mulut kita.

      "Mencuri nama baik" adalah secara tidak sah mengambil sesuatu yang
      paling berharga dari orang lain. Seperti tulis Shakespeare, dalam
      OTHELLO, "Nama baik seorang lelaki maupun perempuan, wahai tuan /
      adalah permata mulia yang paling dekat dengan jiwa. / Barang siapa
      mencuri pundi-pundi, ia mencuri sampah / sesuatu yang tak bermakna
      apa-apa / Tapi yang merampas nama baik / merampas sesuatu yang tak
      membuatnya kaya / namun menjadikan orang lain kehilangan semua"

      "Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar", tulis Amsal 22:1.
      Sebab itu, hati-hatilah, jangan sekadar karena iseng, Anda
      mencurinya, atau dalam dendam Anda menghancurkannya. Ini tidak
      sedikit pun membuat Anda bertambah kaya. Tapi sebaliknya, membuat
      sesama Anda kehilangan segala-galanya. 280204
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.