Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Manusia butuh sabar dalam segala kondisi (1)

Expand Messages
  • Agus Santoso Tamsir
    Bismillahir Rahmaanir Rahiimi Assalaamu alaikum Wr. Wb.Pada email ini saya sadurkan artikel berjudul MANUSIA MEMBUTUHKAN SIFAT SABAR DALAM SEGALA KONDISI ,
    Message 1 of 1 , Nov 6, 2000
    • 0 Attachment
      Bismillahir Rahmaanir Rahiimi
      Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

      Pada email ini saya sadurkan artikel berjudul 'MANUSIA
      MEMBUTUHKAN SIFAT SABAR DALAM SEGALA KONDISI', dengan harapan
      kiranya dapat mengingatkan penulis agar dapat lebih memupuk rasa
      sabar dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Bila kiranya
      bermanfaat bagi pembaca, semoga barakahnya dapat semakin
      membentuk bangsa INDONESIA menjadi bangsa yang BERSYUKUR atas
      nikmat ALLAS SWT dan mendapatkan perlindunganNYA.

      Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

      Agus Santoso Tamsir
      (Al fakir)

      ))))))))))))))))))))))))))))))))))))(((((((((((((((((((((((((((((
      (((((((((((((((((((
      MANUSIA MEMBUTUHKAN SIFAT SABAR DALAM SEGALAM KONDISI

      Disadur dari
      SABAR Perisai seorang mukmin - oleh Ibnu Qayyim Al Jausiyah
      Terbitan Pustaka AZZAM

      Sesungguhnya seseorang itu berada di antara perintah yang wajib
      ia kerjakan, larangan yang wajib ia jauhi dan tinggalkan, takdir
      yang akan terjadi padanya, dan nikmat yang ia wajib bersyukur
      kepada PEMBERI-nya. Jika semua hal di atas tidak pernah berpisah
      dengannya, maka sabar menjadi kebutuhan baginya hingga akhir
      hayatnya.

      Apa saja yang diberikan kepada seorang hamba di dunia tidak lepas
      dari dua hal : (Pertama) Sesuatu yang sesuai dengan hawa
      nafsunya dan keinginan hawa nafsunya. (Kedua) Sesuatu yang
      bertentangan dengan hawa nafsunya dan keinginan hawa nafsunya.
      Dan ia harus bersabar dalam kedua kondisi tersebut.

      Jenis pertama yang sesuai dengan hawa hafsunya ialah kesehatan,
      kedamaian, jabatan, kekayaan, dan semua jenis kelezatan yang
      diperbolehkan. Dalam menghadapi hal ini, tidak ada sesuatu yang
      sangat ia butuhkan melainkan sifat sabar dengan memperhatikan
      hal-hal berikut :

      (1) Ia jangan cenderung kepadanya, tidak tertipu dengannya, tidak
      membuatnya arogan, pongah, dan kegembiraan tercela yang pelakunya
      tidak dicintai Allah.

      (2) Ia jangan larut dalam usaha mendapatkannya, dan
      berlebih-lebihan dalam meraihnya, karena ia akan berubah menjadi
      kebalikannya. Barang siapa berlebih-lebihan dalam makanan,
      minuman, dan berhubungan seksual, maka itu semua akan berubah
      menjadi kebalikannya, kemudian ia diharamkan dari makanan,
      minuman, dan hubungan seksual.

      (3) Ia harus bersabar terhadap pelaksanaan hak Allah di dalamnya
      dan tidak menyia-nyiakannya, kemudian nikmat tersebut dicabut
      daripadanya.

      (4) Ia harus bersabar dari mengarahkannya kepada hal-hal yang
      haram dan tidak menyiapkan dirinya terhadap apa saja yang
      diinginkannya dari hal-hal di atas, karena itu semua
      menjerumuskannya kepada hal-hal yang haram. Jika berhati-hati
      dengan keterlaluan, maka menjerumuskannya ke dalam hal-hal yang
      makruh. Tidak ada yang mampu bersabar terhadap kenikmatan
      kecuali orang-orang yang jujur.


      Sebagian generasi salaf berkata : 'Terhadap musibah, orang
      beriman dan orang kafir bersabar, dan tidak ada yang mampu
      bersabar terhadap kesehatan kecuali orang-orang yang jujur.'

      Abdurrahman bin Auf ra berkata : 'Kami diuji dengan musibah,
      kemudian kami bersabar, dan kami diuji dengan kenikmatan,
      kemudian kami tidak bersabar terhadapnya.'

      Oleh karena itu, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah
      kekayaan, istri, dan anak-anak. Allah SWT berfirman :

      "Hai orang-orang yang beriman, jangan kekayaan kalian, dan
      anak-anak kalian melalaikan kalian dari ingat kepada Allah." (Al
      Munafiqun : 9)

      "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri
      kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagia kalian.
      Maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka." (At-Taghabun : 14)

      Yang dimaksud permusuhan ini bukanlah yang seperti dipahami
      manusia bahwa ia adalah permusuhan karena benci. Maksudnya
      ialah, permusuhan cinta yang menghalang-halangi para orang tua
      dari hijrah, jihad, mempelajari ilmu, bersedekah, dan
      masalah-masalah agama yang lain, sebagaimana disebutkan dalam
      JAMI' AT-TIRMIDZI hadits dari Israil yang berkata, bahwa berkata
      kepada kami Samak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang pernah
      ditanya seseorang tentang maksud ayat ini (At-Taghabun : 14).
      Ibnu Abbas menjawab :

      'Mereka adalah orang-orang Mekkah yang masuk Islam. Mereka ingin
      datang kepada Rasulullah SAW. Ketika mereka tiba di tempat
      Rasulullah SAW dan melihat orang-orang telah memahami agama, maka
      mereka bermaksud menghukum istri-istri dan anak-anaknya, kemudian
      Allah menurunkan ayat tersebut. At-Tirmidzi berkata, 'Hadits ini
      hasan shahih.'

      Betapa banyak kesempurnaan dan keberuntungan yang sirna dari
      dirinya disebabkan istrinya dan anaknya. Disebutkan dalam
      hadits,

      "Anak itu membuat orang pelit dan pengecut." (Diriwayatkan oleh
      Ibnu Majah dan Ahmad).

      Imam Ahmad berkata, bahwa berkata kepada kami Zaid bin Al-Habab
      yang berkata, bahwa berkata kepadaku Zaid bin Waqid yang berkata,
      bahwa berkata kepadaku Abdullah bin Buraidah yang berkata, bahwa
      aku mendengar ayahku berkata,

      "Rasulullah SAW sedang berkhutbah, tiba-tiba datanglah Al-Hasan
      dan Al-Husain yang menggunakan baju berwarna merah dan berjalan
      dengan tertatih-tatih, kemudian Rasulullah SAW turun dari mimbar
      untuk menggendong keduanya dan meletakkan keduanya di depannya.
      Beliau bersabda, 'Maha besar Allah yang berfirman, "Sesungguhnya
      kekayaan kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah. Aku melihat
      kedua anak kecil itu berjalan dengan tertatih-tatih yang
      membuatku tidak sabar hingga aku memotong pembicaraanku dan
      mengangkat keduanya.' " (Riwayat Ahmad).

      Ini adalah karena kesempurnaan kasih sayang beliau, kelembutan
      beliau, kecintaan beliau kepada anak-anak kecil, dan merupakan
      pengajaran bagi umat tentang kasih sayang, kecintaan dan
      kelembutan kepada anak-anak kecil.

      Jika bersabar terhadap kenikmatan itu susah, karena ia mempunyai
      fasilitas, dan orang yang kelaparan ketika tidak ada makanan
      lebih bisa bersabar daripada ketika makanan telah tersedia.
      Demikian pula, seorang suami, ketika berpisah dengan istrinya, ia
      lebih sabar daripada ketika berjumpa dengan istrinya.

      ======================== BERSAMBUNG =============





      _________________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Get your free @... address at http://mail.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.