Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Student's solution manual buku-buku fisika

Expand Messages
  • Hasbi Abi
    saya seorang mahasiswa Departemen Fisika FMIPA, Universitas Indonesia yang sedang kebingungan mendapatkan Student s solution manual dari buku-buku fisika yang
    Message 1 of 12 , Oct 31, 2004
    • 0 Attachment
      saya seorang mahasiswa Departemen Fisika FMIPA, Universitas Indonesia yang sedang kebingungan mendapatkan Student's solution manual dari buku-buku fisika yang dipakai di kuliah saya, semisal Principles of instrumental analysis (kuliah Instrumentasi fisika).tolong diberitahu alamat web sitenya atau bagaimana/dimana mendapatkannya.
       
      Terima Kasih sebelumnya.


      Do you Yahoo!?
      Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
    • amelia cherryll
      coba deh cari di toko buku di daerah bandung didekat kampus itb maaf saya lupa nama toko buku dan jalannya. Mungkin ada temen yg tau.. cheers, - chiril - ...
      Message 2 of 12 , Nov 2, 2004
      • 0 Attachment
        coba deh cari di toko buku di daerah bandung didekat
        kampus itb maaf saya lupa nama toko buku dan jalannya.
        Mungkin ada temen" yg tau..

        cheers,
        - chiril -

        --- Hasbi Abi <has_bee02@...> wrote:
        > saya seorang mahasiswa Departemen Fisika FMIPA,
        > Universitas Indonesia yang sedang kebingungan
        > mendapatkan Student's solution manual dari buku-buku
        > fisika yang dipakai di kuliah saya, semisal
        > Principles of instrumental analysis (kuliah
        > Instrumentasi fisika).tolong diberitahu alamat web
        > sitenya atau bagaimana/dimana mendapatkannya.
        >
        > Terima Kasih sebelumnya.
        >
        >
        > ---------------------------------
        > Do you Yahoo!?
        > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We
        finish.





        ___________________________________________________________ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun! http://uk.messenger.yahoo.com
      • Haryo Sumowidagdo
        kenapa *tidak* mencoba membuat solution manual sendiri ? dikerjakan ramai-ramai dengan kawan, diskusi ramai-ramai, hasilnya akan jauh lebih baik dari segi
        Message 3 of 12 , Nov 2, 2004
        • 0 Attachment
          kenapa *tidak* mencoba membuat solution manual sendiri ? dikerjakan
          ramai-ramai dengan kawan, diskusi ramai-ramai, hasilnya akan jauh lebih
          baik dari segi edukasi dibandingkan menggunakan solution manual. yang
          penting bukan benar salahnya solusi pada tahap awal, tapi *proses
          belajar dalam mengerjakan soal*. cuek aja kalau tanya2 ke kiri ke
          kanan, berarti kan ada usaha/niat untuk belajar, daripada sekedar
          melihat solution manual ?

          Remember, being wrong/mistaken is the *very* part of whatever you will
          be doing ... either in physics, science or not ... one should never be
          too afraid of being wrong ... as long as we have try our best ... I have
          done *stupid mistakes* in the past, I know that I will do *stupid
          mistakes* again in the future.

          Kalau anda kira fisikawan2 disini semuanya jago dan tidak pernah salah,
          wah salah duga itu. Mereka semua orang biasa, mereka bisa salah, yang
          penting adalah bagaimana mereka bisa belajar dari kesalahan. Dalam
          library program D0 yang besar totalnya beberapa giga byte, entah ada
          berapa bugs ditemukan (dan diciptakan) tiap minggu. Mungkin dari
          sekitar 50000 kabel readout detektor ada yang salah sambungannya,
          ketuker dua channel. But life goes on, eksperimen tetap berjalan, dan
          *ingat*, di sini tidak ada solution manual untuk menyelesaikan masalah2
          kami, semua masalah harus selesai sendiri. terkadang ada solusi,
          terkadang tidak. But that's the very heart of research - I would
          say even life !






          On Sun, 31 Oct 2004, Hasbi Abi wrote:

          > saya seorang mahasiswa Departemen Fisika FMIPA, Universitas Indonesia
          > yang sedang kebingungan mendapatkan Student's solution manual dari
          > buku-buku fisika yang dipakai di kuliah saya, semisal Principles of
          > instrumental analysis (kuliah Instrumentasi fisika).tolong diberitahu
          > alamat web sitenya atau bagaimana/dimana mendapatkannya.
          >
          > Terima Kasih sebelumnya.
        • Suhiro
          dunia baru , jalan tamansari tapi buku-bukunya fotocopian, kalo yg asli bisa lwt amazon.com apa di jl.dago, bisa pesan (TB.elfira kalo nggak salah
          Message 4 of 12 , Nov 2, 2004
          • 0 Attachment
            dunia baru , jalan tamansari
            tapi buku-bukunya fotocopian, kalo yg asli bisa lwt amazon.com apa di
            jl.dago, bisa pesan (TB.elfira kalo nggak salah namanya)...tapi harga asli
            tau sendiri :-)

            On Tue, 2 Nov 2004, amelia cherryll wrote:

            >
            >
            > coba deh cari di toko buku di daerah bandung didekat
            > kampus itb maaf saya lupa nama toko buku dan jalannya.
            > Mungkin ada temen" yg tau..
            >
            > cheers,
            > - chiril -
            >
            > --- Hasbi Abi <has_bee02@...> wrote:
            > > saya seorang mahasiswa Departemen Fisika FMIPA,
            > > Universitas Indonesia yang sedang kebingungan
            > > mendapatkan Student's solution manual dari buku-buku
            > > fisika yang dipakai di kuliah saya, semisal
            > > Principles of instrumental analysis (kuliah
            > > Instrumentasi fisika).tolong diberitahu alamat web
            > > sitenya atau bagaimana/dimana mendapatkannya.
            > >
            > > Terima Kasih sebelumnya.
            > >
            > >
            > > ---------------------------------
            > > Do you Yahoo!?
            > > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We
            > finish.
            >
            >
            >
            >
            >
            > ___________________________________________________________ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun! http://uk.messenger.yahoo.com
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > ===============================================================
            > ** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
            > ** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
            > <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
            > ===============================================================
            >
            > Yahoo! Groups Links
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
          • Reza Ervani
            ... E ya Setuju, mas Haryo, ada gak ya free ebooks yang bahasa Indonesia. Jadi yang dikerjain bukan cuma solution manual. Buku-buku bagus kayak Feynman
            Message 5 of 12 , Nov 5, 2004
            • 0 Attachment


              Haryo Sumowidagdo <sss5946@...> wrote:
               
              > kenapa *tidak* mencoba membuat solution manual sendiri ?
              > dikerjakan
              > ramai-ramai dengan kawan, diskusi ramai-ramai, hasilnya akan
              > jauh lebih
              > baik dari segi edukasi dibandingkan menggunakan solution
              > manual.  yang
              > penting bukan benar salahnya solusi pada tahap awal, tapi
              > *proses
              > belajar dalam mengerjakan soal*.  cuek aja kalau tanya2 ke
              > kiri
              > ke
              > kanan, berarti kan ada usaha/niat untuk belajar, daripada
              > sekedar
              > melihat solution manual ?

              E ya Setuju, mas Haryo, ada gak ya free ebooks yang bahasa Indonesia. Jadi yang dikerjain bukan cuma solution manual. Buku-buku bagus kayak "Feynman Lectures on Physics" juga bisa keroyokan diterjemahkan terus di upload ke internet, biar bisa dibaca banyak orang.

              Regards,

              Reza Ervani


              Do you Yahoo!?
              Check out the new Yahoo! Front Page. www.yahoo.com
            • Haryo Sumowidagdo
              ... Pribadi, saya berpendapat *lebih baik berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa Indonesia* dibandingkan *menerjemahkan karya karya yang sudah
              Message 6 of 12 , Nov 5, 2004
              • 0 Attachment
                On Fri, 5 Nov 2004, Reza Ervani wrote:

                > E ya Setuju, mas Haryo, ada gak ya free ebooks yang bahasa Indonesia.
                > Jadi yang dikerjain bukan cuma solution manual. Buku-buku bagus kayak
                > "Feynman Lectures on Physics" juga bisa keroyokan diterjemahkan terus
                > di upload ke internet, biar bisa dibaca banyak orang.

                Pribadi, saya berpendapat

                *lebih baik berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa
                Indonesia*

                dibandingkan

                *menerjemahkan karya karya yang sudah ada dalam bahasa Inggris ke dalam
                bahasa Indonesia*

                Alasannya karya2 yang sudah ada dalam bahasa Inggris *jauh* lebih banyak
                dibandingkan *sumber daya manusia* yang bisa menerjemahkan ke bahasa
                Indonesia. istilahnya: menerjemahkan itu seperti `reinvent the wheel',
                menulis ulang sesuatu yang sudah ada. padahal yang sudah ada itu
                tinggal dipakai, hanya perlu belajar bahasa Inggris saja.

                Sementara *sumber daya (materi/manusia)* di Indonesia untuk meningkatkan
                kemampuan bahasa Inggris juga lebih banyak dibandingkan sumber daya
                untuk menerjemahkan. Kalau kita lihat, SDM yang mampu menerjemahkan
                teks fisika/sains dengan benar masih sedikit, dan lebih baik kemampuan
                mereka diarahkan untuk meneliti dan/atau membangun generasi fisikawan
                masa depan.

                Pengaruh-nya dalam jangka pendek/panjang akan jauh lebih besar jika
                diambil langkah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris: tidak hanya
                fisika, tapi semua bidang ilmu, dan juga ekonomi/budaya.

                Saran lagi untuk yang masih di Indonesia: mulai biasakan membuat naskah,
                paper, log, tentang pekerjaan anda dalam bahasa Inggris. Anda ingin
                hasil kerja anda dikenal orang banyak, maka selalu biasakan menulis
                dalam bahasa Inggris. Sayang sekali kalau skripsi/penelitian yang sulit
                dan dilakukan berbulan2 tidak bisa dimengerti orang luar karena ditulis
                dalam bahasa Indonesia.

                Dulu waktu saya tugas akhir, pak Terry (pembimbing saya) meminta saya
                menulis paper dalam bahasa Inggris dari hasil pekerjaan tugas akhir
                saya, meskipun waktu itu saya belum menulis skripsi ! Meski pak Terry
                mengoreksi habis2an draft awal paper saya, tapi saya jadi belajar dari
                pengalaman itu. Hasil skripsi saya, dalam bentuk paper yang
                dipublikasi, bisa dimengerti orang banyak. Kemudian pas menulis skripsi
                sebenarnya, saya tinggal mengambil paper dan memperluasnya (tokh paper
                itu adalah hasil utamanya).




                *******************************************************************
                Suharyo (Haryo) Sumowidagdo
                DØ Experiment TEL: 1 630 840 8384
                Fermilab MS 352 FAX: 1 630 840 8886
                Batavia, IL 60510-0500 haryo@...
                USA www-d0.fnal.gov/~haryo

                `` But I don't have to know an answer. I don't feel frightened
                by not knowing things, by being lost in the mysterious universe
                without having any purpose, which is the way it really is, as far
                as I can tell, possibly. It doesn't frighten me.'' (A physicist)
                *******************************************************************
              • Reza Ervani
                Setuju banget mas Haryo. Tapi ada beberapa keuntungan juga (menurut saya lho) ketika publikasi dalam Bahasa Indonesia juga diperbanyak, setidaknya ada 2 (dua)
                Message 7 of 12 , Nov 6, 2004
                • 0 Attachment
                  Setuju banget mas Haryo.
                  Tapi ada beberapa keuntungan juga (menurut saya lho) ketika publikasi dalam Bahasa Indonesia juga diperbanyak, setidaknya ada 2 (dua) :)
                   
                  1. Memperlebar akses bagi mereka yang tidak bisa mempereoleh literatur-literatur dalam Bahasa Inggris (dan kemudian merasa tidak perlu), seperti kebanyakan guru-guru di Sekolah. Misalnya : Saya berpikir Chapter 1 dari "Feynman Lectures for Physics" bagus sekali kalau bisa dibaca banyak guru Fisika di Sekolah-sekolah. :)
                   
                  2. (Nah yang ini sendiri saya nggak yakin ...) Membuka peluang bagi Bahasa Indonesia untuk jadi Bahasa Sains itu sendiri (mungkin gak ya ?). Sepanjang pengetahuan saya yang masih sangat sedikit ini, sulit sekali menemukan website ilmu pengetahuan dalam Bahasa Indonesia.
                   
                  Regards,
                  Reza Ervani
                   


                  Haryo Sumowidagdo <sss5946@...> wrote:
                   
                  > Pribadi, saya berpendapat

                  > *lebih baik berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa
                  > Indonesia*

                  > dibandingkan

                  > *menerjemahkan karya karya yang sudah ada dalam bahasa Inggris ke dalam
                  > bahasa Indonesia*

                  Alasannya karya2 yang sudah ada dalam bahasa Inggris *jauh* lebih banyak
                  dibandingkan *sumber daya manusia* yang bisa menerjemahkan ke bahasa
                  Indonesia. istilahnya: menerjemahkan itu seperti `reinvent the wheel',
                  menulis ulang sesuatu yang sudah ada. padahal yang sudah ada itu
                  tinggal dipakai, hanya perlu belajar bahasa Inggris saja.

                  Sementara *sumber daya (materi/manusia)* di Indonesia untuk meningkatkan
                  kemampuan bahasa Inggris juga lebih banyak dibandingkan sumber daya
                  untuk menerjemahkan. Kalau kita lihat, SDM yang mampu menerjemahkan
                  teks fisika/sains dengan benar masih sedikit, dan lebih baik kemampuan
                  mereka diarahkan untuk meneliti dan/atau membangun generasi fisikawan
                  masa depan.

                  Pengaruh-nya dalam jangka pendek/panjang akan jauh lebih besar jika
                  diambil langkah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris: tidak hanya
                  fisika, tapi semua bidang ilmu, dan juga ekonomi/budaya.

                  Saran lagi untuk yang masih di Indonesia: mulai biasakan membuat naskah,
                  paper, log, tentang pekerjaan anda dalam bahasa Inggris. Anda ingin
                  hasil kerja anda dikenal orang banyak, maka selalu biasakan menulis
                  dalam bahasa Inggris. Sayang sekali kalau skripsi/penelitian yang sulit
                  dan dilakukan berbulan2 tidak bisa dimengerti orang luar karena ditulis
                  dalam bahasa Indonesia.

                  Dulu waktu saya tugas akhir, pak Terry (pembimbing saya) meminta saya
                  menulis paper dalam bahasa Inggris dari hasil pekerjaan tugas akhir
                  saya, meskipun waktu itu saya belum menulis skripsi ! Meski pak Terry
                  mengoreksi habis2an draft awal paper saya, tapi saya jadi belajar dari
                  pengalaman itu. Hasil skripsi saya, dalam bentuk paper yang
                  dipublikasi, bisa dimengerti orang banyak. Kemudian pas menulis skripsi
                  sebenarnya, saya tinggal mengambil paper dan memperluasnya (tokh paper
                  itu adalah hasil utamanya).




                  *******************************************************************
                  Suharyo (Haryo) Sumowidagdo
                  D� Experiment TEL: 1 630 840 8384
                  Fermilab MS 352 FAX: 1 630 840 8886
                  Batavia, IL 60510-0500 haryo@...
                  USA www-d0.fnal.gov/~haryo

                  `` But I don't have to know an answer. I don't feel frightened
                  by not knowing things, by being lost in the mysterious universe
                  without having any purpose, which is the way it really is, as far
                  as I can tell, possibly. It doesn't frighten me.'' (A physicist)
                  *******************************************************************





                  Do you Yahoo!?
                  Check out the new Yahoo! Front Page. www.yahoo.com
                • Haryo Sumowidagdo
                  ... Agreed. Saya mungkin terlalu ekstrim di posting yang pertama. At least untuk buku buku tingkat dasar seperti Halliday Resnick atau Beiser masih mungkin,
                  Message 8 of 12 , Nov 6, 2004
                  • 0 Attachment
                    On Sat, 6 Nov 2004, Reza Ervani wrote:

                    > 1. Memperlebar akses bagi mereka yang tidak bisa mempereoleh
                    > literatur-literatur dalam Bahasa Inggris (dan kemudian merasa tidak
                    > perlu), seperti kebanyakan guru-guru di Sekolah. Misalnya : Saya
                    > berpikir Chapter 1 dari "Feynman Lectures for Physics" bagus sekali
                    > kalau bisa dibaca banyak guru Fisika di Sekolah-sekolah. :)

                    Agreed. Saya mungkin terlalu ekstrim di posting yang pertama. At least
                    untuk buku buku tingkat dasar seperti Halliday Resnick atau Beiser masih
                    mungkin, karena pasarnya banyak. Untuk buku2 fisika tingkat tiga dan
                    empat seperti mekanika klasik, teori elektromagnetik, atau mekanika
                    kuantum akan lebih baik jika:

                    Penerbit lokal meminta lisensi untuk mencetak buku semacam itu tersebut
                    di Indonesia (untuk menekan harga produksi) dan menjual buku tsb di
                    Indonesia.

                    > 2. (Nah yang ini sendiri saya nggak yakin ...) Membuka peluang bagi
                    > Bahasa Indonesia untuk jadi Bahasa Sains itu sendiri (mungkin gak ya
                    > ?). Sepanjang pengetahuan saya yang masih sangat sedikit ini, sulit
                    > sekali menemukan website ilmu pengetahuan dalam Bahasa Indonesia.

                    Sebelum bahasa Indonesia menjadi bahasa sains, maka harus terlebih
                    dahulu ada *komunitas sains Indonesia*, di sini berarti komunitas sains
                    yang terdiri dari orang2 berkebangsaan Indonesia. Untuk sampai ke sana,
                    tidak ada cara lain selain saintis Indonesia meningkatkan prestasinya
                    hingga layak bergabung dengan komunitas sains internasional. Komunitas
                    sains yang ekslusif/lokal tidak berarti banyak, karena sains itu sendiri
                    sifatnya terbuka dan internasional.

                    Untuk melakukan hal ini, sekali lagi, karya2 saintis Indonesia harus
                    dikenal di tingkat internasional, dan saya tidak melihat cara lain
                    selain mulai menyebarkan karya2 saintis Indonesia dalam bahasa Inggris,
                    yang secara de facto sudah merupakan bahasa internasional dalam sains
                    saat ini.

                    Jangan lupa, saat ini publikasi ilmiah sudah berlipat ganda dibandingkan
                    pada zaman 50, 100, atau 200 tahun yang lalu. 50 tahun yang lalu masih
                    banyak Departemen Fisika di AS yang mengharuskan mahasiswa PhD untuk
                    bisa menguasai dua tiga bahasa asing selain Inggris (Prancis, Jerman,
                    Russia). Saat ini kondisinya adalah: bahkan untuk publikasi ilmiah
                    dalam bahasa Inggris pun, *ada begitu banyak* publikasi, sehingga dalam
                    banyak sekali kasus (saya tidak punya angka, dugaan saya cukup
                    signifikan) literatur dalam bahasa Inggris pun sudah cukup untuk riset
                    dalam apa saja. Saya selama ini hanya membaca publikasi bahasa Inggris,
                    dan belum pernah terpaksa harus menerjemahkan karya lain dalam bahasa
                    Jerman atau Prancis, misalnya.

                    Jadi, saran saya sebelumnya untuk mulai menuliskan karya2 ilmiah dalam
                    bahasa Inggris - semata2 untuk kemajuan saintis Indonesia agar karya2
                    saintis Indonesia lebih mudah dimengerti di dunia internasional. Bukan
                    gengsi2an atau tidak cinta bahasa Indonesia, tapi karena saya ingin
                    sains Indonesia maju dan bisa dikenal dunia internasional.


                    *******************************************************************
                    Suharyo (Haryo) Sumowidagdo
                    DØ Experiment TEL: 1 630 840 8384
                    Fermilab MS 352 FAX: 1 630 840 8886
                    Batavia, IL 60510-0500 haryo@...
                    USA www-d0.fnal.gov/~haryo

                    `` But I don't have to know an answer. I don't feel frightened
                    by not knowing things, by being lost in the mysterious universe
                    without having any purpose, which is the way it really is, as far
                    as I can tell, possibly. It doesn't frighten me.'' (A physicist)
                    *******************************************************************
                  • Hasbi Abi
                    Membaca tulisan (terutama dari mba reza) saya mahasiswa Departemen fisika UI yang sedang kebingungan kenapa jarang ada solution s manual ( kalau untuk
                    Message 9 of 12 , Mar 7, 2005
                    • 0 Attachment
                      Membaca tulisan (terutama dari mba reza) saya mahasiswa Departemen fisika UI yang sedang kebingungan kenapa jarang ada solution's manual ( kalau untuk instructor memang wajar, tapi yang student's juga jarang) buku-buku pegangan kuliah fisika seperti Quantum mechanics-nya Gasiorowicz,dll padahal di preface-nya jelas ditulis ada solution manualnya.Apa karena dengan adanya buku itu mendidik mahasiswa jadi malas, tidak mau mencari solusi sendiri ??? saya pikir tidak juga, toh terkadang ujian dari dosen beda banget dengan soal-soal yang ada di buku. Belajar mengerjakan soal-soal yang ada di buku saja sulit apalagi dengan tuntas menjawab soal-soal ujian.Terutama yang namanya mekanika kuantum ( saya dapat dua skuel Pendahuluan mekanika kuantum dan mekanika kuantum non-relativistic ) belajarnya setengah mati ?!
                      1. minta petunjuk/nasihat dong gimana cara belajar yang baik ??
                      2. Buku apa yang mudah dimengerti tentang quantum mechanics(selain gasiorowicz tadi) ?? 3. atau di perpustakaan mana bisa saya dapatkan buku solution's manual-nya(di perpustakaan jurusan, fakultas dan universitas saya tidak ada), padahal kalau beli harganya bisa ratusan ribu rupiah ??? 
                      Saya sangat mengharapkan balasannya.

                      Reza Ervani <rezaervani@...> wrote:
                      Setuju banget mas Haryo.
                      Tapi ada beberapa keuntungan juga (menurut saya lho) ketika publikasi dalam Bahasa Indonesia juga diperbanyak, setidaknya ada 2 (dua) :)
                       
                      1. Memperlebar akses bagi mereka yang tidak bisa mempereoleh literatur-literatur dalam Bahasa Inggris (dan kemudian merasa tidak perlu), seperti kebanyakan guru-guru di Sekolah. Misalnya : Saya berpikir Chapter 1 dari "Feynman Lectures for Physics" bagus sekali kalau bisa dibaca banyak guru Fisika di Sekolah-sekolah. :)
                       
                      2. (Nah yang ini sendiri saya nggak yakin ...) Membuka peluang bagi Bahasa Indonesia untuk jadi Bahasa Sains itu sendiri (mungkin gak ya ?). Sepanjang pengetahuan saya yang masih sangat sedikit ini, sulit sekali menemukan website ilmu pengetahuan dalam Bahasa Indonesia.
                       
                      Regards,
                      Reza Ervani
                       


                      Haryo Sumowidagdo <sss5946@...> wrote:
                       
                      > Pribadi, saya berpendapat

                      > *lebih baik berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa
                      > Indonesia*

                      > dibandingkan

                      > *menerjemahkan karya karya yang sudah ada dalam bahasa Inggris ke dalam
                      > bahasa Indonesia*

                      Alasannya karya2 yang sudah ada dalam bahasa Inggris *jauh* lebih banyak
                      dibandingkan *sumber daya manusia* yang bisa menerjemahkan ke bahasa
                      Indonesia. istilahnya: menerjemahkan itu seperti `reinvent the wheel',
                      menulis ulang sesuatu yang sudah ada. padahal yang sudah ada itu
                      tinggal dipakai, hanya perlu belajar bahasa Inggris saja.

                      Sementara *sumber daya (materi/manusia)* di Indonesia untuk meningkatkan
                      kemampuan bahasa Inggris juga lebih banyak dibandingkan sumber daya
                      untuk menerjemahkan. Kalau kita lihat, SDM yang mampu menerjemahkan
                      teks fisika/sains dengan benar masih sedikit, dan lebih baik kemampuan
                      mereka diarahkan untuk meneliti dan/atau membangun generasi fisikawan
                      masa depan.

                      Pengaruh-nya dalam jangka pendek/panjang akan jauh lebih besar jika
                      diambil langkah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris: tidak hanya
                      fisika, tapi semua bidang ilmu, dan juga ekonomi/budaya.

                      Saran lagi untuk yang masih di Indonesia: mulai biasakan membuat naskah,
                      paper, log, tentang pekerjaan anda dalam bahasa Inggris. Anda ingin
                      hasil kerja anda dikenal orang banyak, maka selalu biasakan menulis
                      dalam bahasa Inggris. Sayang sekali kalau skripsi/penelitian yang sulit
                      dan dilakukan berbulan2 tidak bisa dimengerti orang luar karena ditulis
                      dalam bahasa Indonesia.

                      Dulu waktu saya tugas akhir, pak Terry (pembimbing saya) meminta saya
                      menulis paper dalam bahasa Inggris dari hasil pekerjaan tugas akhir
                      saya, meskipun waktu itu saya belum menulis skripsi ! Meski pak Terry
                      mengoreksi habis2an draft awal paper saya, tapi saya jadi belajar dari
                      pengalaman itu. Hasil skripsi saya, dalam bentuk paper yang
                      dipublikasi, bisa dimengerti orang banyak. Kemudian pas menulis skripsi
                      sebenarnya, saya tinggal mengambil paper dan memperluasnya (tokh paper
                      itu adalah hasil utamanya).




                      *******************************************************************
                      Suharyo (Haryo) Sumowidagdo
                      D� Experiment TEL: 1 630 840 8384
                      Fermilab MS 352 FAX: 1 630 840 8886
                      Batavia, IL 60510-0500 haryo@...
                      USA www-d0.fnal.gov/~haryo

                      `` But I don't have to know an answer. I don't feel frightened
                      by not knowing things, by being lost in the mysterious universe
                      without having any purpose, which is the way it really is, as far
                      as I can tell, possibly. It doesn't frighten me.'' (A physicist)
                      *******************************************************************





                      Do you Yahoo!?
                      Check out the new Yahoo! Front Page. www.yahoo.com

                      ===============================================================
                      **  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
                      **  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                                           <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
                      ===============================================================



                      __________________________________________________
                      Do You Yahoo!?
                      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                      http://mail.yahoo.com

                    • Suharyo Sumowidagdo
                      Ini bukan kesalah anda, tapi kesalahan *sistem pendidikan* di Indonesia. Di sini, meski beban PR dari kuliah itu berat, beban itu ditanggung bersama antara
                      Message 10 of 12 , Mar 8, 2005
                      • 0 Attachment
                        Ini bukan kesalah anda, tapi kesalahan *sistem pendidikan* di Indonesia.
                        Di sini, meski beban PR dari kuliah itu berat, beban itu ditanggung
                        bersama antara sesama mahasiswa, asisten dosen, dan dosen sendiri.
                        Sesama mahasiswa, biasanya mahasiswa duduk sama2 mengerjakan PR,
                        mendiskusikan hasilnya. Asisten dosen menyediakan waktu untuk menilai
                        PR, menulis komentar kalau ada yang salah di jawaban PR. Dosen sendiri
                        menyediakan waktu untuk menerima mahasiswa jika ada pertanyaan. Dan
                        dosen menghargai jika mahasiswa menanyakan tentang PR, sebab itu berarti
                        si mahasiswa sudah mencoba. Dosen juga mencoba menyediakan contoh
                        problem di dalam kelas untuk dibahas.

                        Di Indonesia, hal seperti itu tidak jalan. Sesama mahasiswa diskusi, di
                        Indonesia kebanyakan berarti yang satu pintar/punya solusi, yang lain
                        menyontek jawabannya. Dosen kebanyakan tidak pernah punya waktu untuk
                        mahasiswa, dan juga mahasiswa kadang kalau menanyakan ke dosen, biasanya
                        kebanyakan ingin mengalihkan beban mengerjakan soal, dan bukannya karena
                        dia mentok di satu titik (setelah usaha) dan perlu penjelasan di titik
                        tersebut. Berapa mahasiswa yang datang ke dosen, menunjukkan
                        pekerjaan/coret2an dia dulu, baru bertanya ?

                        Saya punya kebiasaan kalau ada orang datang bertanya ke saya, pertama2
                        saya minta dia menerangkan problem dia di email/papan tulis/kertas/media
                        apa saja, dia mentok dimana, dan dari melihat apa yang sudah dia
                        lakukan, saya tunjukkan kemana dia harus melangkah, dimana dia salah dan
                        bagaimana dia memperbaikinya. Kalau belum apa2 cuma bilang: ini ada
                        soal susah, gimana sih ngerjainnya, Lha, emangnya siapa yang dapet soal.

                        Dari beberapa kasus, cukup banyak memang orang yang tidak bisa bukan
                        karena bodoh atau apa, tapi memang background/latarbelakang-nya kurang
                        atau bolong2. Saya nggak segan2 bilang kalau memang saya pandang ada
                        yang bolong2 latar belakangnya, saya akan bilang kamu belajar lagi dari
                        materi tingkat 1 atau 2. Pernah ada yang TA mengenai osilasi RLC di
                        rangkaian listrik, dan ybs tidak tahu sama sekali tentang PD orde 2
                        untuk sistem osilasi umum, lha ini mahasiswa belajar apa dulu di tingkat
                        2 ? Yang salah bukan yang ngasih TA, tapi si mahasiswa yang seharusnya
                        sudah tahu PD orde 2 untuk sistem osilasi, lupa ! Alias dulu belajarnya
                        tidak serius dan hanya untuk lulus ujian. Minimal dia seharusnya ingat
                        pernah belajar di tingkat 2, dan membaca lagi catatannya. Ketika saya
                        bilang ini materi tingkat 2, kamu cukup baca lagi catatan kuliah, dia
                        malah nggak mau baca lagi, ya wis, saya nggak bakal mau membantu orang
                        malas seperti itu.

                        Jadi gimana solusinya ? Saran saya: kumpulkan teman2 yang bisa diajak
                        diskusi serius dan kerja sama, cari kenalan dosen yang baik, dan
                        mulailah merintis study group sendiri untuk belajar. Atau kalau kira2
                        ada study group yang sudah matang, coba join. Kamu 'gak bakal survive
                        kalau cuma usaha sendiri, dan ini saya kira berlaku di mana saja.

                        Buku-buku-buku, hmm, pengalaman saya kamu tidak akan pernah kekurangan
                        buku untuk dibaca. Untuk tingkat sarjana saja, ada segudang buku QM di
                        pasaran: selain Gasiorowicz ada Griffiths, Shankar, Liboff,
                        Bransden-Joachain. Tingkat pascasarjana, ada Sakurai, Schiff,
                        Merzbacher, Cohen-Tannoudji, Landau.

                        Forget it soal cari solution manual. Kenapa dengan study grup tidak
                        mencoba membuat solution manual sendiri. Lalu ketik/tulis yang rapi
                        dan simpan.

                        Homework is good for you. Problem di PR itu lebih ringan dari problem
                        di lapangan, baik mau kerja di industri maupun riset/akademia. Problem
                        di lapangan, *tidak* ada solution manualnya.



                        On Mon, 7 Mar 2005, Hasbi Abi wrote:

                        > Membaca tulisan (terutama dari mba reza) saya mahasiswa Departemen
                        > fisika UI yang sedang kebingungan kenapa jarang ada solution's manual
                        > ( kalau untuk instructor memang wajar, tapi yang student's juga
                        > jarang) buku-buku pegangan kuliah fisika seperti Quantum mechanics-nya
                        > Gasiorowicz,dll padahal di preface-nya jelas ditulis ada solution
                        > manualnya.Apa karena dengan adanya buku itu mendidik mahasiswa jadi
                        > malas, tidak mau mencari solusi sendiri ??? saya pikir tidak juga, toh
                        > terkadang ujian dari dosen beda banget dengan soal-soal yang ada di
                        > buku. Belajar mengerjakan soal-soal yang ada di buku saja sulit
                        > apalagi dengan tuntas menjawab soal-soal ujian.Terutama yang namanya
                        > mekanika kuantum ( saya dapat dua skuel Pendahuluan mekanika kuantum
                        > dan mekanika kuantum non-relativistic ) belajarnya setengah mati ?!
                        > 1. minta petunjuk/nasihat dong gimana cara belajar yang baik ?? 2.
                        > Buku apa yang mudah dimengerti tentang quantum mechanics(selain
                        > gasiorowicz tadi) ?? 3. atau di perpustakaan mana bisa saya dapatkan
                        > buku solution's manual-nya(di perpustakaan jurusan, fakultas dan
                        > universitas saya tidak ada), padahal kalau beli harganya bisa ratusan
                        > ribu rupiah ??? Saya sangat mengharapkan balasannya.
                      • kartiko_samodro
                        He...he....saya 100% setuju dengan Pak Suharyo Waktu kuliah, sering kita sekolah cuma untuk cari nilai saja...belajarnya juga dari diktat dan nyari manual
                        Message 11 of 12 , Mar 8, 2005
                        • 0 Attachment
                          He...he....saya 100% setuju dengan Pak Suharyo

                          Waktu kuliah, sering kita sekolah cuma untuk cari nilai
                          saja...belajarnya juga dari diktat dan nyari manual solusi
                          soal..yang sering jadi tanpa memahami konsepnya...
                          pas TA jadi bingung karena umumnya TA sudah merupakan rangkaian
                          konsep - konsep dari yang sudah kita pelajari sebelumnya...
                          belum lagi hubungan murid dengan dosen yang cenderung tidak begitu
                          mesra dalam berdiskusi...(bisa dosennya sibuk saja atau muridnya
                          emang males..)

                          Menarik sekali cerita Pak Suharyo ini...

                          --- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, Suharyo Sumowidagdo
                          <sss5946@g...> wrote:
                          >
                          > Ini bukan kesalah anda, tapi kesalahan *sistem pendidikan* di
                          Indonesia.
                          > Di sini, meski beban PR dari kuliah itu berat, beban itu ditanggung
                          > bersama antara sesama mahasiswa, asisten dosen, dan dosen sendiri.
                          > Sesama mahasiswa, biasanya mahasiswa duduk sama2 mengerjakan PR,
                          > mendiskusikan hasilnya. Asisten dosen menyediakan waktu untuk
                          menilai
                          > PR, menulis komentar kalau ada yang salah di jawaban PR. Dosen
                          sendiri
                          > menyediakan waktu untuk menerima mahasiswa jika ada pertanyaan.
                          Dan
                          > dosen menghargai jika mahasiswa menanyakan tentang PR, sebab itu
                          berarti
                          > si mahasiswa sudah mencoba. Dosen juga mencoba menyediakan contoh
                          > problem di dalam kelas untuk dibahas.
                          >
                          > Di Indonesia, hal seperti itu tidak jalan. Sesama mahasiswa
                          diskusi, di
                          > Indonesia kebanyakan berarti yang satu pintar/punya solusi, yang
                          lain
                          > menyontek jawabannya. Dosen kebanyakan tidak pernah punya waktu
                          untuk
                          > mahasiswa, dan juga mahasiswa kadang kalau menanyakan ke dosen,
                          biasanya
                          > kebanyakan ingin mengalihkan beban mengerjakan soal, dan bukannya
                          karena
                          > dia mentok di satu titik (setelah usaha) dan perlu penjelasan di
                          titik
                          > tersebut. Berapa mahasiswa yang datang ke dosen, menunjukkan
                          > pekerjaan/coret2an dia dulu, baru bertanya ?
                          >
                          > Saya punya kebiasaan kalau ada orang datang bertanya ke saya,
                          pertama2
                          > saya minta dia menerangkan problem dia di email/papan
                          tulis/kertas/media
                          > apa saja, dia mentok dimana, dan dari melihat apa yang sudah dia
                          > lakukan, saya tunjukkan kemana dia harus melangkah, dimana dia
                          salah dan
                          > bagaimana dia memperbaikinya. Kalau belum apa2 cuma bilang: ini
                          ada
                          > soal susah, gimana sih ngerjainnya, Lha, emangnya siapa yang dapet
                          soal.
                          >
                          > Dari beberapa kasus, cukup banyak memang orang yang tidak bisa
                          bukan
                          > karena bodoh atau apa, tapi memang background/latarbelakang-nya
                          kurang
                          > atau bolong2. Saya nggak segan2 bilang kalau memang saya pandang
                          ada
                          > yang bolong2 latar belakangnya, saya akan bilang kamu belajar lagi
                          dari
                          > materi tingkat 1 atau 2. Pernah ada yang TA mengenai osilasi RLC di
                          > rangkaian listrik, dan ybs tidak tahu sama sekali tentang PD orde 2
                          > untuk sistem osilasi umum, lha ini mahasiswa belajar apa dulu di
                          tingkat
                          > 2 ? Yang salah bukan yang ngasih TA, tapi si mahasiswa yang
                          seharusnya
                          > sudah tahu PD orde 2 untuk sistem osilasi, lupa ! Alias dulu
                          belajarnya
                          > tidak serius dan hanya untuk lulus ujian. Minimal dia seharusnya
                          ingat
                          > pernah belajar di tingkat 2, dan membaca lagi catatannya. Ketika
                          saya
                          > bilang ini materi tingkat 2, kamu cukup baca lagi catatan kuliah,
                          dia
                          > malah nggak mau baca lagi, ya wis, saya nggak bakal mau membantu
                          orang
                          > malas seperti itu.
                          >
                          > Jadi gimana solusinya ? Saran saya: kumpulkan teman2 yang bisa
                          diajak
                          > diskusi serius dan kerja sama, cari kenalan dosen yang baik, dan
                          > mulailah merintis study group sendiri untuk belajar. Atau kalau
                          kira2
                          > ada study group yang sudah matang, coba join. Kamu 'gak bakal
                          survive
                          > kalau cuma usaha sendiri, dan ini saya kira berlaku di mana saja.
                          >
                          > Buku-buku-buku, hmm, pengalaman saya kamu tidak akan pernah
                          kekurangan
                          > buku untuk dibaca. Untuk tingkat sarjana saja, ada segudang buku
                          QM di
                          > pasaran: selain Gasiorowicz ada Griffiths, Shankar, Liboff,
                          > Bransden-Joachain. Tingkat pascasarjana, ada Sakurai, Schiff,
                          > Merzbacher, Cohen-Tannoudji, Landau.
                          >
                          > Forget it soal cari solution manual. Kenapa dengan study grup
                          tidak
                          > mencoba membuat solution manual sendiri. Lalu ketik/tulis yang
                          rapi
                          > dan simpan.
                          >
                          > Homework is good for you. Problem di PR itu lebih ringan dari
                          problem
                          > di lapangan, baik mau kerja di industri maupun riset/akademia.
                          Problem
                          > di lapangan, *tidak* ada solution manualnya.
                          >
                          >
                          >
                          > On Mon, 7 Mar 2005, Hasbi Abi wrote:
                          >
                          > > Membaca tulisan (terutama dari mba reza) saya mahasiswa
                          Departemen
                          > > fisika UI yang sedang kebingungan kenapa jarang ada solution's
                          manual
                          > > ( kalau untuk instructor memang wajar, tapi yang student's juga
                          > > jarang) buku-buku pegangan kuliah fisika seperti Quantum
                          mechanics-nya
                          > > Gasiorowicz,dll padahal di preface-nya jelas ditulis ada solution
                          > > manualnya.Apa karena dengan adanya buku itu mendidik mahasiswa
                          jadi
                          > > malas, tidak mau mencari solusi sendiri ??? saya pikir tidak
                          juga, toh
                          > > terkadang ujian dari dosen beda banget dengan soal-soal yang ada
                          di
                          > > buku. Belajar mengerjakan soal-soal yang ada di buku saja sulit
                          > > apalagi dengan tuntas menjawab soal-soal ujian.Terutama yang
                          namanya
                          > > mekanika kuantum ( saya dapat dua skuel Pendahuluan mekanika
                          kuantum
                          > > dan mekanika kuantum non-relativistic ) belajarnya setengah
                          mati ?!
                          > > 1. minta petunjuk/nasihat dong gimana cara belajar yang baik ??
                          2.
                          > > Buku apa yang mudah dimengerti tentang quantum mechanics(selain
                          > > gasiorowicz tadi) ?? 3. atau di perpustakaan mana bisa saya
                          dapatkan
                          > > buku solution's manual-nya(di perpustakaan jurusan, fakultas dan
                          > > universitas saya tidak ada), padahal kalau beli harganya bisa
                          ratusan
                          > > ribu rupiah ??? Saya sangat mengharapkan balasannya.
                        • Richard Hutasoit
                          Bung Haryo, Itulah ironisnya pendidikan Indonesia. Orientasi pendidikan kita masih sebatas perolehan nilai. Dulu waktu kuliah di ITB, saya bisa belajar hanya
                          Message 12 of 12 , Mar 11, 2005
                          • 0 Attachment
                            Bung Haryo,
                            Itulah ironisnya pendidikan Indonesia. Orientasi pendidikan kita masih sebatas perolehan nilai. Dulu waktu kuliah di ITB, saya bisa belajar hanya dalam satu malam, belajar dari soal-soal ujian tahun yang lalu dan pada akhir semester dapat nilai A. Saya tidak pernah bertanya pada dosen, dan dosenpun tidak kenal saya. Hasilnya, sekarang saya sudah lupa apa yang pernah dipelajari.
                            Hal yang berbeda saya rasakan di sini, California. Dalam 3 minggu kuliah dosen sudah kenal kita, tugas-tugas bejibun dan ini memang diperiksa dosen dan di baca tiap barisnya. Selain itu harus ikut study group atau kelas tutorial. Student dibiasakan latihan menulis dan mendebat dosennya. Hasilnya memang ilmunya lebih lengket di otak.
                             
                             
                             
                            Richard H
                            Sacramento,CA


                            kartiko_samodro <kartiko_samodro@...> wrote:


                            He...he....saya 100% setuju dengan Pak Suharyo

                            Waktu kuliah, sering kita sekolah cuma untuk cari nilai
                            saja...belajarnya juga dari diktat dan nyari manual solusi
                            soal..yang sering jadi tanpa memahami konsepnya...
                            pas TA jadi bingung karena umumnya TA sudah merupakan rangkaian
                            konsep - konsep dari yang sudah kita pelajari sebelumnya...
                            belum lagi hubungan murid dengan dosen yang cenderung tidak begitu
                            mesra dalam berdiskusi...(bisa dosennya sibuk saja atau muridnya
                            emang males..)

                            Menarik sekali cerita Pak Suharyo ini...

                            --- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, Suharyo Sumowidagdo
                            <sss5946@g...> wrote:
                            >
                            > Ini bukan kesalah anda, tapi kesalahan *sistem pendidikan* di
                            Indonesia.
                            > Di sini, meski beban PR dari kuliah itu berat, beban itu ditanggung
                            > bersama antara sesama mahasiswa, asisten dosen, dan dosen sendiri.
                            > Sesama mahasiswa, biasanya mahasiswa duduk sama2 mengerjakan PR,
                            > mendiskusikan hasilnya.   Asisten dosen menyediakan waktu untuk
                            menilai
                            > PR, menulis komentar kalau ada yang salah di jawaban PR.  Dosen
                            sendiri
                            > menyediakan waktu untuk menerima mahasiswa jika ada pertanyaan.  
                            Dan
                            > dosen menghargai jika mahasiswa menanyakan tentang PR, sebab itu
                            berarti
                            > si mahasiswa sudah mencoba.  Dosen juga mencoba menyediakan contoh
                            > problem di dalam kelas untuk dibahas.
                            >
                            > Di Indonesia, hal seperti itu tidak jalan.  Sesama mahasiswa
                            diskusi, di
                            > Indonesia kebanyakan berarti yang satu pintar/punya solusi, yang
                            lain
                            > menyontek jawabannya.  Dosen kebanyakan tidak pernah punya waktu
                            untuk
                            > mahasiswa, dan juga mahasiswa kadang kalau menanyakan ke dosen,
                            biasanya
                            > kebanyakan ingin mengalihkan beban mengerjakan soal, dan bukannya
                            karena
                            > dia mentok di satu titik (setelah usaha) dan perlu penjelasan di
                            titik
                            > tersebut.  Berapa mahasiswa yang datang ke dosen, menunjukkan
                            > pekerjaan/coret2an dia dulu, baru bertanya ?
                            >
                            > Saya punya kebiasaan kalau ada orang datang bertanya ke saya,
                            pertama2
                            > saya minta dia menerangkan problem dia di email/papan
                            tulis/kertas/media
                            > apa saja, dia mentok dimana, dan dari melihat apa yang sudah dia
                            > lakukan, saya tunjukkan kemana dia harus melangkah, dimana dia
                            salah dan
                            > bagaimana dia memperbaikinya.  Kalau belum apa2 cuma bilang: ini
                            ada
                            > soal susah, gimana sih ngerjainnya, Lha, emangnya siapa yang dapet
                            soal.
                            >
                            > Dari beberapa kasus, cukup banyak memang orang yang tidak bisa
                            bukan
                            > karena bodoh atau apa, tapi memang background/latarbelakang-nya
                            kurang
                            > atau bolong2.  Saya nggak segan2 bilang kalau memang saya pandang
                            ada
                            > yang bolong2 latar belakangnya, saya akan bilang kamu belajar lagi
                            dari
                            > materi tingkat 1 atau 2. Pernah ada yang TA mengenai osilasi RLC di
                            > rangkaian listrik, dan ybs tidak tahu sama sekali tentang PD orde 2
                            > untuk sistem osilasi umum, lha ini mahasiswa belajar apa dulu di
                            tingkat
                            > 2 ?  Yang salah bukan yang ngasih TA, tapi si mahasiswa yang
                            seharusnya
                            > sudah tahu PD orde 2 untuk sistem osilasi, lupa !  Alias dulu
                            belajarnya
                            > tidak serius dan hanya untuk lulus ujian.  Minimal dia seharusnya
                            ingat
                            > pernah belajar di tingkat 2, dan membaca lagi catatannya.  Ketika
                            saya
                            > bilang ini materi tingkat 2, kamu cukup baca lagi catatan kuliah,
                            dia
                            > malah nggak mau baca lagi, ya wis, saya nggak bakal mau membantu
                            orang
                            > malas seperti itu.
                            >
                            > Jadi gimana solusinya ?  Saran saya: kumpulkan teman2 yang bisa
                            diajak
                            > diskusi serius dan kerja sama, cari kenalan dosen yang baik, dan
                            > mulailah merintis study group sendiri untuk belajar.  Atau kalau
                            kira2
                            > ada study group yang sudah matang, coba join.  Kamu 'gak bakal
                            survive
                            > kalau cuma usaha sendiri, dan ini saya kira berlaku di mana saja.
                            >
                            > Buku-buku-buku, hmm, pengalaman saya kamu tidak akan pernah
                            kekurangan
                            > buku untuk dibaca.  Untuk tingkat sarjana saja, ada segudang buku
                            QM di
                            > pasaran: selain Gasiorowicz ada Griffiths, Shankar, Liboff,
                            > Bransden-Joachain.  Tingkat pascasarjana, ada Sakurai, Schiff,
                            > Merzbacher, Cohen-Tannoudji, Landau.
                            >
                            > Forget it soal cari solution manual.  Kenapa dengan study grup
                            tidak
                            > mencoba membuat solution manual sendiri.  Lalu ketik/tulis yang
                            rapi
                            > dan simpan.
                            >
                            > Homework is good for you.  Problem di PR itu lebih ringan dari
                            problem
                            > di lapangan, baik mau kerja di industri maupun riset/akademia. 
                            Problem
                            > di lapangan, *tidak* ada solution manualnya.
                            >
                            >
                            >
                            > On Mon, 7 Mar 2005, Hasbi Abi wrote:
                            >
                            > > Membaca tulisan (terutama dari mba reza) saya mahasiswa
                            Departemen
                            > > fisika UI yang sedang kebingungan kenapa jarang ada solution's
                            manual
                            > > ( kalau untuk instructor memang wajar, tapi yang student's juga
                            > > jarang) buku-buku pegangan kuliah fisika seperti Quantum
                            mechanics-nya
                            > > Gasiorowicz,dll padahal di preface-nya jelas ditulis ada solution
                            > > manualnya.Apa karena dengan adanya buku itu mendidik mahasiswa
                            jadi
                            > > malas, tidak mau mencari solusi sendiri ??? saya pikir tidak
                            juga, toh
                            > > terkadang ujian dari dosen beda banget dengan soal-soal yang ada
                            di
                            > > buku. Belajar mengerjakan soal-soal yang ada di buku saja sulit
                            > > apalagi dengan tuntas menjawab soal-soal ujian.Terutama yang
                            namanya
                            > > mekanika kuantum ( saya dapat dua skuel Pendahuluan mekanika
                            kuantum
                            > > dan mekanika kuantum non-relativistic ) belajarnya setengah
                            mati ?!
                            > > 1. minta petunjuk/nasihat dong gimana cara belajar yang baik ?? 
                            2.
                            > > Buku apa yang mudah dimengerti tentang quantum mechanics(selain
                            > > gasiorowicz tadi) ?? 3. atau di perpustakaan mana bisa saya
                            dapatkan
                            > > buku solution's manual-nya(di perpustakaan jurusan, fakultas dan
                            > > universitas saya tidak ada), padahal kalau beli harganya bisa
                            ratusan
                            > > ribu rupiah ???  Saya sangat mengharapkan balasannya.








                            ===============================================================
                            **  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
                            **  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                                                 <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
                            ===============================================================




                            Do you Yahoo!?
                            Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

                          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.