Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

RE: [FISIKA] Fisikawan Indonesia Pertama (Bagian 1/2)

Expand Messages
  • IBS Manuaba
    ... From: qu ilmi [mailto:quilmi@yahoo.com] Sent: Sunday, September 30, 2001 10:46 PM To: fisika_indonesia@yahoogroups.com Subject: Re: [FISIKA] Fisikawan
    Message 1 of 8 , Oct 2, 1995
    • 0 Attachment
      -----Original Message-----
      From: qu ilmi [mailto:quilmi@...]
      Sent: Sunday, September 30, 2001 10:46 PM
      To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
      Subject: Re: [FISIKA] Fisikawan Indonesia Pertama (Bagian 1/2)


      Assalamu alaikum,

      Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
      Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
      pembina tim TOFI Indonesia?

      SEkian dulu,
      Wassalam.

      ----------------------
      Jawaban IBS Manuaba
      Yang dimaksudkan pak Prof. Yohannes (almarhum)disini adalah
      mantan dosen FMIPA Universitas Gadjahmada yang terkenal dengan
      istilah-istilah Fisika dalam bahasa Indonesia spt. canggih (sophisticated)
      yang dahulu semasa saya jadi mhs beliau sempat bingung dan kelabakan arti
      dari canggih tsb. Untuk jelasnya lihatlah kamus Fisika karangan beliau.

      Saya sekarang ingin tahu di mana Bapak Baiquni ? Mantan dosen saya ?
      Bagi yang mengetahui mohon sudi kiranya memberitahukan kepada saya.

      Trims.
      IBS Manuaba Denpasar Bali


      --- Misrin Achmad <misrin@...>
      wrote:
      > Rekan-rekan fisikawan yth.,
      > Perkenankan, di milis ini saya ingin berbagi
      > tulisan; pidato Alm. Prof. A. Baiquni, fisikawan
      > pertama kita.
      > Mungkin banyak di antara kita yang tidak
      > memiliki/belum pernah membacanya.
      > Naskah pidato ini telah diketik ulang dengan teliti
      > - apa adanya, oleh seorang kawan yang tidak mau
      > disebut namanya.
      > Semoga kita dapat memetik suri-tauladan dan
      > menyegarkan semangat kita dalam mempelajari fisika.
      > Wassalam,
      > Misrin
      >
      =======================================================================
      >
      > SUKA DUKA FISIKAWAN PERTAMA INDONESIA
      > Oleh: Achmad Baiquni
      > Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah X HFI Jawa Tengah
      > dan DIY, Surakarta 7 Agustus 1993.
      >
      > Dalam menanggapi permintaan teman-teman sejawat agar
      > saya memberikan ceramah pada pertemuan HFI di Solo,
      > saya telah menjanjikan suatu cerita tentang
      > suka-duka fisikawan pertama Indonesia. Namun sebelum
      > menulis cerita itu perlu saya jelaskan dulu siapa
      > fisikawan pertama itu. Sebab, orang dapat menunjuk
      > Prof. Bloembergen yang pernah berkunjung ke
      > Indonesia, dan Anggota Kehormatan HFI sebagai
      > fisikawan pertama atau Prof. Uhlenbeck, yang
      > keduanya adalah pemenang-pemenang Hadiah Nobel untuk
      > Fisika, karena mereka ketika masa mudanya bersekolah
      > di negeri kita ini sampai mereka herus mengikuti
      > pendidikan di Perguruan Tinggi. Tetapi apabila yang
      > dimaksud adalah fisikawan yang mendapatkan
      > pendidikan di bidang Fisika pada Perguruan Tinggi di
      > Indonesia maka ia tidak bisa lain kecuali orang yang
      > menjadi dewasa dalam kancah revolusi dan yang
      > pertama mendapat ijazah untuk bidang Fisika dan
      > Matematika dari Universitas yang bersangkutan, yang
      > diakui di luar negeri sebagai Bachelor of Science.
      > Tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian yaitu:
      > A. Periode perkenalan dengan gejala-gejala alamiah,
      > ketika saya masih anak remaja dan mendapatkan
      > pendidikan dasar.
      > B. Periode pemahaman gejala-gejala alamiah, ketika
      > saya menjadi dewasa dan mengikuti disiplin sains dan
      > matematika.
      > C. Periode pengembangan ilmu fisika, sejak saya
      > menyelesaikan studi saya dan meraih gelar doktor.
      > Dari cerita yang saya beberkan ini Anda akan
      > mengetahui betapa tidak mulusnya pendidikan fisika
      > yang saya peroleh. Kadang-kadangterhenti,
      > kadang-kadang terlantar, kadang-kadang
      > tersendat-sendat, banyak liku-liku yang harus
      > dilewati dan banyak kesulitan yang harus diatasi.
      >
      > 1. Berkenalan dengan gejala-gejala alamiah
      > Pelajaran pertama tentang fisika saya terima di
      > Taman Muda yang corak pendidikannya nasional, yang
      > memperkenalkan suhu benda beserta alat ukurnya:
      > termometer, tekanan udara beserta alat ukurnya:
      > barometer, sampai dengan hukum Boyle. Pendidikan
      > Taman Siswa di Solo ini saya ikuti sampai di kelas-2
      > Taman Dewasa, ketika pada suatu hari timbul di hati
      > saya suatu keinginan untuk belajar sampai
      > setinggi-tingginya.
      > Karena dorongan itulah saya pindah ke sekolah swasta
      > lain yang dapat saya gunakan sebagai persiapan untuk
      > memasuki jalur pendidikan yang dapat membawa saya ke
      > perguruan tinggi, yaitu yang dimiliki Perkumpulan
      > Theosofi; Ardjuna MULO namanya, yang menyajikan
      > pendidikan dasar lanjutan yang berbeda dengan Taman
      > Siswa, kurikulumnya mengacu pada Sekolah Negeri
      > (Hindia Belanda).
      > Saya harus mengejar pelajaran-pelajaran bahasa
      > Jerman, sejarah Bangsa Belanda dan ilmu Bumi Negeri
      > Belanda, dengan belajar sendiri untuk mempersiapkan
      > diri bagi Ujian Negara di Openbare Mulo School milik
      > Pemerintah pada waktu itu agar dapat masuk AMS,
      > suatu sekolah menengah umum.
      > Di Ardjuna itulah saya mempunyai guru matematika
      > yang unik; Bapak R.M. Soekarso Mangoenkawotjo
      > namanya, mantan Pamong Taman Siswa yang kecuali
      > sangat gigih menggembleng para peserta didik dalam
      > bidang aljabar dan ilmu ukur seringkali memberikan
      > pendidikan di bidang kesehatan dan ceramah-ceramah
      > umum, misalnya tentang tokoh-tokoh matematika. Saya
      > sangat terpukau dengan uraian-uraian beliau tentang
      > geometri Lobatschewskij setelah membahas tentang
      > geometri Euklides dengan aksioma-aksioma,
      > definisi-definisi dan lain-lain kelengkapannya.
      > Dalam salah satu ceramah mengenai Einstein dan teori
      > relativitasnya pada akhirnya beliau mengatakan bahwa
      > dengan materi sebesar ujung kapur tulis orang akan
      > memperoleh energi, yang cukup untuk menggerakkan
      > kapal api keliling dunia.
      > Sudah barang tentu pada waktu itu orang belum
      > mengetahui bagaimana caranya mengkonversi materi
      > menjadi energi itu untuk merealisasikan E = mc2. Di
      > dalam ceramah lain yang diberikan oleh seorang
      > insinyur Belanda, pembicara tamu ini menguraikan
      > tentang adanya cahaya yang meskipun di dalam
      > buku-buku pelajaran kami dinyatakan sebagai
      > gelombang, justru digambarkan sebagai
      > korpuskel-korpuskel, maksudnya foton-foton
      > barangkali, yang dihamburkan oleh sumber cahaya yang
      > bersangkutan. Jadi sebenarnya di depan mata otak
      > saya telah ditayangkan secara cepat: geometri
      > non-Euklides, teori relativitas dan teori kuantum;
      > sekalipun oleh orang-orang yang bukan ahlinya.
      > Cerita saya ini tidak akan lengkap bila saya tidak
      > menyatakan di sini bahwa salah satu keunggulan
      > pendidikan jaman penjajahan Belanda ialah adanya
      > mata pelajaran opstel, tulisan karangan, yang
      > diberlakukan sejak Sekolah Dasar. Sebagai akibatnya
      > saya harus banyak membaca. Pada waktu itu ada
      > semacam tabloid yang namanya Universum yang memuat
      > tulisan-tulisan ilmiah populer yang mengungkapkan
      > gagasan-gagasan ilmuwan, seperti teori Wegener
      > tentang bergeraknya benua-benua dan pulau-pulau,
      > yang mendahului teori tektonika lempeng yang kini
      > dipegang teguh oleh para ahli geologi; tentang hujan
      > radioaktivitas yang mungkin sekali kita kenal kini
      > sebagai sinar kosmos; tentang pengaruh radium di
      > Afrika pada aliran magma di bawah kerak bumi, dan
      > lain-lain sebagainya. Barangkali kesukaan saya pada
      > fisika dan matematika terbentuk pada masa remaja
      > itu.
      > Penjajahan Belanda digantikan oleh penjajahan Jepang
      > ketika saya masih duduk di kelas-1 AMS di Surabaya,
      > sehingga saya terpaksa kembali ke Solo dan bekerja
      > di Madrasah sebagai guru pelajaran berhitung dan
      > ilmu bumi disamping mengajari anak didik saya untuk
      > bersolat dan mengaji. Saya tidak melanjutkan sekolah
      > pada waktu itu karena saya tidak mau digunduli,
      > menunduk ke arah Tokyo atau ditempeleng Jepang.
      > Namun saya tidak pernah berhenti belajar. Pada saat
      > jatuhnya Pemerintah Hindia Belanda, rumah-rumah
      > orang Belanda yang penghuninya ditawan tentara
      > Jepang diobrak-abrik oleh penduduk dan
      > barang-barangnya ada di mana-mana. Toko buku bekas
      > membengkak isinya dengan buku-buku yang jenisnya
      > beraneka ragam. Saya menemukan buku-buku ilmiah
      > populer yang judulnya Relativiteit Theorie dan
      > Einstein en het heelal, kalau tidak salah karangan
      > Dr.Van Oss.
      > Saya juga membeli buku ilmu kimia, yang saya coba
      > sendiri eksperimen-eksperimennya di dapur nenek
      > saya, sehingga pada suatu saat, ketika saya membuat
      > reaksi karbon dengan sulfur dari gerusan arang dan
      > belerang, campuran itu membentuk cairan, menguap dan
      > terbakar, sehingga saya merasa tercekik menghirup
      > asap dioksida sulfur yang terjadi. Sejak saat itu
      > saya sangat berhati-hati dalam melakukan
      > percobaan-percobaan. Pengalaman ini penting sekali
      > bagi saya ketika saya diminta teman-teman saya,
      > setelah kembali masuk sekolah di SMA dalam zaman
      > revolusi fisik sesudah Proklamasi Kemerdekaan, untuk
      > memimpin laboratorium persenjataan Tentara Pelajar
      > di Solo. Ketika itu beberapa anggota corps Mahasiswa
      > bimbingan Profesor Johannes yang mengelola
      > laboratorium eksplosif sedang mencari orang yang
      > dapat menggantikan mereka serta dapat diserahi
      > memegang laboratorium tersebut; dan pilihan
      > teman-teman saya di SMA Negeri jatuh pada saya dan
      > saya menjadi Pemimpin Teknis Laboratorium di
      > Banjarsari yang memproduksi granat tangan sekitar
      > seribu buah setiap bulan bergantung pada persediaan
      > bahannya.
      > Di SMA inilah pelajaran fisika saya paling kacau.
      > Dikelas-1 saya hanya dapat pelajaran teori kinetik
      > gas, karena gurunya tidak ada; di kelas-2 guru yang
      > mengajar optika berkelana di luar negri sebagai juru
      > potret dengan Syahrir, sehingga kami diperintahkan
      > untuk mengutip semua rumus-rumus optika saja, sampai
      > saat ditemukan guru lain yang bersedia
      > menggantikannya sekalipun hanya untuk beberapa bulan
      > saja. Untung sekali di kelas-3 saya dapat pelajaran
      > kelistrikan dan kemagnetan dari Prof.Soehakso; waktu
      > itu beliau belum insinyur. Memang tidak ada mata
      > pelajaran lain yang sekacau pelajaran fisika,
      > padahal kami menghadapi ujian dalam suasana yang
      > tidak aman dan tidak tenteram. Tetapi kami lulus
      > juga ujian akhir SMA dengan baik. Periode pengenalan
      > fisika dan matematika ini sangat berkesan pada saya
      > dan membahagiakan saya, serta mendorong saya untuk
      > menekuninya.
      >
      > 2. Membenamkan diri dalam ilmu Eksakta
      > Setelah lulus sekolah menengah atas saya
      > mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Teknik di
      > Yogyakarta untuk jurusan Mesin, karena saya sangat
      > terpesona oleh kecanggihan mesin-mesin yang pernah
      > saya lihat waktu saya bermukim di Surabaya;
      > khususnya mesin intertype disebuah di sebuah
      > percetakan yang dipimpin oleh saudara sepupu saya.
      > Pada saat itu Sekolah Tinggi Teknik hanya mempunyai
      > jurusan Mesin, Kimia dan Sipil. Barangkali kerumitan
      > dan ketepatan gerak mesin-mesin yang memerlukan
      > penguasaan fisika dan matematika dalam desainnya
      > pada saat itu memuaskan diri saya di bawah sadar.
      > Baru
      === message truncated ===


      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone.
      http://phone.yahoo.com


      ===============================================================
      ** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
      ** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
      <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
      ===============================================================


      Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
    • qu ilmi
      Assalamu alaikum, Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof. Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya, pembina tim TOFI Indonesia? SEkian dulu,
      Message 2 of 8 , Sep 30, 2001
      • 0 Attachment
        Assalamu alaikum,

        Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
        Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
        pembina tim TOFI Indonesia?

        SEkian dulu,
        Wassalam.

        --- Misrin Achmad <misrin@...>
        wrote:
        > Rekan-rekan fisikawan yth.,
        > Perkenankan, di milis ini saya ingin berbagi
        > tulisan; pidato Alm. Prof. A. Baiquni, fisikawan
        > pertama kita.
        > Mungkin banyak di antara kita yang tidak
        > memiliki/belum pernah membacanya.
        > Naskah pidato ini telah diketik ulang dengan teliti
        > - apa adanya, oleh seorang kawan yang tidak mau
        > disebut namanya.
        > Semoga kita dapat memetik suri-tauladan dan
        > menyegarkan semangat kita dalam mempelajari fisika.
        > Wassalam,
        > Misrin
        >
        =======================================================================
        >
        > SUKA DUKA FISIKAWAN PERTAMA INDONESIA
        > Oleh: Achmad Baiquni
        > Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah X HFI Jawa Tengah
        > dan DIY, Surakarta 7 Agustus 1993.
        >
        > Dalam menanggapi permintaan teman-teman sejawat agar
        > saya memberikan ceramah pada pertemuan HFI di Solo,
        > saya telah menjanjikan suatu cerita tentang
        > suka-duka fisikawan pertama Indonesia. Namun sebelum
        > menulis cerita itu perlu saya jelaskan dulu siapa
        > fisikawan pertama itu. Sebab, orang dapat menunjuk
        > Prof. Bloembergen yang pernah berkunjung ke
        > Indonesia, dan Anggota Kehormatan HFI sebagai
        > fisikawan pertama atau Prof. Uhlenbeck, yang
        > keduanya adalah pemenang-pemenang Hadiah Nobel untuk
        > Fisika, karena mereka ketika masa mudanya bersekolah
        > di negeri kita ini sampai mereka herus mengikuti
        > pendidikan di Perguruan Tinggi. Tetapi apabila yang
        > dimaksud adalah fisikawan yang mendapatkan
        > pendidikan di bidang Fisika pada Perguruan Tinggi di
        > Indonesia maka ia tidak bisa lain kecuali orang yang
        > menjadi dewasa dalam kancah revolusi dan yang
        > pertama mendapat ijazah untuk bidang Fisika dan
        > Matematika dari Universitas yang bersangkutan, yang
        > diakui di luar negeri sebagai Bachelor of Science.
        > Tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian yaitu:
        > A. Periode perkenalan dengan gejala-gejala alamiah,
        > ketika saya masih anak remaja dan mendapatkan
        > pendidikan dasar.
        > B. Periode pemahaman gejala-gejala alamiah, ketika
        > saya menjadi dewasa dan mengikuti disiplin sains dan
        > matematika.
        > C. Periode pengembangan ilmu fisika, sejak saya
        > menyelesaikan studi saya dan meraih gelar doktor.
        > Dari cerita yang saya beberkan ini Anda akan
        > mengetahui betapa tidak mulusnya pendidikan fisika
        > yang saya peroleh. Kadang-kadangterhenti,
        > kadang-kadang terlantar, kadang-kadang
        > tersendat-sendat, banyak liku-liku yang harus
        > dilewati dan banyak kesulitan yang harus diatasi.
        >
        > 1. Berkenalan dengan gejala-gejala alamiah
        > Pelajaran pertama tentang fisika saya terima di
        > Taman Muda yang corak pendidikannya nasional, yang
        > memperkenalkan suhu benda beserta alat ukurnya:
        > termometer, tekanan udara beserta alat ukurnya:
        > barometer, sampai dengan hukum Boyle. Pendidikan
        > Taman Siswa di Solo ini saya ikuti sampai di kelas-2
        > Taman Dewasa, ketika pada suatu hari timbul di hati
        > saya suatu keinginan untuk belajar sampai
        > setinggi-tingginya.
        > Karena dorongan itulah saya pindah ke sekolah swasta
        > lain yang dapat saya gunakan sebagai persiapan untuk
        > memasuki jalur pendidikan yang dapat membawa saya ke
        > perguruan tinggi, yaitu yang dimiliki Perkumpulan
        > Theosofi; Ardjuna MULO namanya, yang menyajikan
        > pendidikan dasar lanjutan yang berbeda dengan Taman
        > Siswa, kurikulumnya mengacu pada Sekolah Negeri
        > (Hindia Belanda).
        > Saya harus mengejar pelajaran-pelajaran bahasa
        > Jerman, sejarah Bangsa Belanda dan ilmu Bumi Negeri
        > Belanda, dengan belajar sendiri untuk mempersiapkan
        > diri bagi Ujian Negara di Openbare Mulo School milik
        > Pemerintah pada waktu itu agar dapat masuk AMS,
        > suatu sekolah menengah umum.
        > Di Ardjuna itulah saya mempunyai guru matematika
        > yang unik; Bapak R.M. Soekarso Mangoenkawotjo
        > namanya, mantan Pamong Taman Siswa yang kecuali
        > sangat gigih menggembleng para peserta didik dalam
        > bidang aljabar dan ilmu ukur seringkali memberikan
        > pendidikan di bidang kesehatan dan ceramah-ceramah
        > umum, misalnya tentang tokoh-tokoh matematika. Saya
        > sangat terpukau dengan uraian-uraian beliau tentang
        > geometri Lobatschewskij setelah membahas tentang
        > geometri Euklides dengan aksioma-aksioma,
        > definisi-definisi dan lain-lain kelengkapannya.
        > Dalam salah satu ceramah mengenai Einstein dan teori
        > relativitasnya pada akhirnya beliau mengatakan bahwa
        > dengan materi sebesar ujung kapur tulis orang akan
        > memperoleh energi, yang cukup untuk menggerakkan
        > kapal api keliling dunia.
        > Sudah barang tentu pada waktu itu orang belum
        > mengetahui bagaimana caranya mengkonversi materi
        > menjadi energi itu untuk merealisasikan E = mc2. Di
        > dalam ceramah lain yang diberikan oleh seorang
        > insinyur Belanda, pembicara tamu ini menguraikan
        > tentang adanya cahaya yang meskipun di dalam
        > buku-buku pelajaran kami dinyatakan sebagai
        > gelombang, justru digambarkan sebagai
        > korpuskel-korpuskel, maksudnya foton-foton
        > barangkali, yang dihamburkan oleh sumber cahaya yang
        > bersangkutan. Jadi sebenarnya di depan mata otak
        > saya telah ditayangkan secara cepat: geometri
        > non-Euklides, teori relativitas dan teori kuantum;
        > sekalipun oleh orang-orang yang bukan ahlinya.
        > Cerita saya ini tidak akan lengkap bila saya tidak
        > menyatakan di sini bahwa salah satu keunggulan
        > pendidikan jaman penjajahan Belanda ialah adanya
        > mata pelajaran opstel, tulisan karangan, yang
        > diberlakukan sejak Sekolah Dasar. Sebagai akibatnya
        > saya harus banyak membaca. Pada waktu itu ada
        > semacam tabloid yang namanya Universum yang memuat
        > tulisan-tulisan ilmiah populer yang mengungkapkan
        > gagasan-gagasan ilmuwan, seperti teori Wegener
        > tentang bergeraknya benua-benua dan pulau-pulau,
        > yang mendahului teori tektonika lempeng yang kini
        > dipegang teguh oleh para ahli geologi; tentang hujan
        > radioaktivitas yang mungkin sekali kita kenal kini
        > sebagai sinar kosmos; tentang pengaruh radium di
        > Afrika pada aliran magma di bawah kerak bumi, dan
        > lain-lain sebagainya. Barangkali kesukaan saya pada
        > fisika dan matematika terbentuk pada masa remaja
        > itu.
        > Penjajahan Belanda digantikan oleh penjajahan Jepang
        > ketika saya masih duduk di kelas-1 AMS di Surabaya,
        > sehingga saya terpaksa kembali ke Solo dan bekerja
        > di Madrasah sebagai guru pelajaran berhitung dan
        > ilmu bumi disamping mengajari anak didik saya untuk
        > bersolat dan mengaji. Saya tidak melanjutkan sekolah
        > pada waktu itu karena saya tidak mau digunduli,
        > menunduk ke arah Tokyo atau ditempeleng Jepang.
        > Namun saya tidak pernah berhenti belajar. Pada saat
        > jatuhnya Pemerintah Hindia Belanda, rumah-rumah
        > orang Belanda yang penghuninya ditawan tentara
        > Jepang diobrak-abrik oleh penduduk dan
        > barang-barangnya ada di mana-mana. Toko buku bekas
        > membengkak isinya dengan buku-buku yang jenisnya
        > beraneka ragam. Saya menemukan buku-buku ilmiah
        > populer yang judulnya Relativiteit Theorie dan
        > Einstein en het heelal, kalau tidak salah karangan
        > Dr.Van Oss.
        > Saya juga membeli buku ilmu kimia, yang saya coba
        > sendiri eksperimen-eksperimennya di dapur nenek
        > saya, sehingga pada suatu saat, ketika saya membuat
        > reaksi karbon dengan sulfur dari gerusan arang dan
        > belerang, campuran itu membentuk cairan, menguap dan
        > terbakar, sehingga saya merasa tercekik menghirup
        > asap dioksida sulfur yang terjadi. Sejak saat itu
        > saya sangat berhati-hati dalam melakukan
        > percobaan-percobaan. Pengalaman ini penting sekali
        > bagi saya ketika saya diminta teman-teman saya,
        > setelah kembali masuk sekolah di SMA dalam zaman
        > revolusi fisik sesudah Proklamasi Kemerdekaan, untuk
        > memimpin laboratorium persenjataan Tentara Pelajar
        > di Solo. Ketika itu beberapa anggota corps Mahasiswa
        > bimbingan Profesor Johannes yang mengelola
        > laboratorium eksplosif sedang mencari orang yang
        > dapat menggantikan mereka serta dapat diserahi
        > memegang laboratorium tersebut; dan pilihan
        > teman-teman saya di SMA Negeri jatuh pada saya dan
        > saya menjadi Pemimpin Teknis Laboratorium di
        > Banjarsari yang memproduksi granat tangan sekitar
        > seribu buah setiap bulan bergantung pada persediaan
        > bahannya.
        > Di SMA inilah pelajaran fisika saya paling kacau.
        > Dikelas-1 saya hanya dapat pelajaran teori kinetik
        > gas, karena gurunya tidak ada; di kelas-2 guru yang
        > mengajar optika berkelana di luar negri sebagai juru
        > potret dengan Syahrir, sehingga kami diperintahkan
        > untuk mengutip semua rumus-rumus optika saja, sampai
        > saat ditemukan guru lain yang bersedia
        > menggantikannya sekalipun hanya untuk beberapa bulan
        > saja. Untung sekali di kelas-3 saya dapat pelajaran
        > kelistrikan dan kemagnetan dari Prof.Soehakso; waktu
        > itu beliau belum insinyur. Memang tidak ada mata
        > pelajaran lain yang sekacau pelajaran fisika,
        > padahal kami menghadapi ujian dalam suasana yang
        > tidak aman dan tidak tenteram. Tetapi kami lulus
        > juga ujian akhir SMA dengan baik. Periode pengenalan
        > fisika dan matematika ini sangat berkesan pada saya
        > dan membahagiakan saya, serta mendorong saya untuk
        > menekuninya.
        >
        > 2. Membenamkan diri dalam ilmu Eksakta
        > Setelah lulus sekolah menengah atas saya
        > mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Teknik di
        > Yogyakarta untuk jurusan Mesin, karena saya sangat
        > terpesona oleh kecanggihan mesin-mesin yang pernah
        > saya lihat waktu saya bermukim di Surabaya;
        > khususnya mesin intertype disebuah di sebuah
        > percetakan yang dipimpin oleh saudara sepupu saya.
        > Pada saat itu Sekolah Tinggi Teknik hanya mempunyai
        > jurusan Mesin, Kimia dan Sipil. Barangkali kerumitan
        > dan ketepatan gerak mesin-mesin yang memerlukan
        > penguasaan fisika dan matematika dalam desainnya
        > pada saat itu memuaskan diri saya di bawah sadar.
        > Baru
        === message truncated ===


        __________________________________________________
        Do You Yahoo!?
        Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone.
        http://phone.yahoo.com
      • qu ilmi
        Assalamu alaikum, Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof. Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya, pembina tim TOFI Indonesia? SEkian dulu,
        Message 3 of 8 , Sep 30, 2001
        • 0 Attachment
          Assalamu alaikum,

          Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
          Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
          pembina tim TOFI Indonesia?

          SEkian dulu,
          Wassalam.

          --- Misrin Achmad <misrin@...>
          wrote:
          > Rekan-rekan fisikawan yth.,
          > Perkenankan, di milis ini saya ingin berbagi
          > tulisan; pidato Alm. Prof. A. Baiquni, fisikawan
          > pertama kita.
          > Mungkin banyak di antara kita yang tidak
          > memiliki/belum pernah membacanya.
          > Naskah pidato ini telah diketik ulang dengan teliti
          > - apa adanya, oleh seorang kawan yang tidak mau
          > disebut namanya.
          > Semoga kita dapat memetik suri-tauladan dan
          > menyegarkan semangat kita dalam mempelajari fisika.
          > Wassalam,
          > Misrin
          >
          =======================================================================
          >
          > SUKA DUKA FISIKAWAN PERTAMA INDONESIA
          > Oleh: Achmad Baiquni
          > Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah X HFI Jawa Tengah
          > dan DIY, Surakarta 7 Agustus 1993.
          >
          > Dalam menanggapi permintaan teman-teman sejawat agar
          > saya memberikan ceramah pada pertemuan HFI di Solo,
          > saya telah menjanjikan suatu cerita tentang
          > suka-duka fisikawan pertama Indonesia. Namun sebelum
          > menulis cerita itu perlu saya jelaskan dulu siapa
          > fisikawan pertama itu. Sebab, orang dapat menunjuk
          > Prof. Bloembergen yang pernah berkunjung ke
          > Indonesia, dan Anggota Kehormatan HFI sebagai
          > fisikawan pertama atau Prof. Uhlenbeck, yang
          > keduanya adalah pemenang-pemenang Hadiah Nobel untuk
          > Fisika, karena mereka ketika masa mudanya bersekolah
          > di negeri kita ini sampai mereka herus mengikuti
          > pendidikan di Perguruan Tinggi. Tetapi apabila yang
          > dimaksud adalah fisikawan yang mendapatkan
          > pendidikan di bidang Fisika pada Perguruan Tinggi di
          > Indonesia maka ia tidak bisa lain kecuali orang yang
          > menjadi dewasa dalam kancah revolusi dan yang
          > pertama mendapat ijazah untuk bidang Fisika dan
          > Matematika dari Universitas yang bersangkutan, yang
          > diakui di luar negeri sebagai Bachelor of Science.
          > Tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian yaitu:
          > A. Periode perkenalan dengan gejala-gejala alamiah,
          > ketika saya masih anak remaja dan mendapatkan
          > pendidikan dasar.
          > B. Periode pemahaman gejala-gejala alamiah, ketika
          > saya menjadi dewasa dan mengikuti disiplin sains dan
          > matematika.
          > C. Periode pengembangan ilmu fisika, sejak saya
          > menyelesaikan studi saya dan meraih gelar doktor.
          > Dari cerita yang saya beberkan ini Anda akan
          > mengetahui betapa tidak mulusnya pendidikan fisika
          > yang saya peroleh. Kadang-kadangterhenti,
          > kadang-kadang terlantar, kadang-kadang
          > tersendat-sendat, banyak liku-liku yang harus
          > dilewati dan banyak kesulitan yang harus diatasi.
          >
          > 1. Berkenalan dengan gejala-gejala alamiah
          > Pelajaran pertama tentang fisika saya terima di
          > Taman Muda yang corak pendidikannya nasional, yang
          > memperkenalkan suhu benda beserta alat ukurnya:
          > termometer, tekanan udara beserta alat ukurnya:
          > barometer, sampai dengan hukum Boyle. Pendidikan
          > Taman Siswa di Solo ini saya ikuti sampai di kelas-2
          > Taman Dewasa, ketika pada suatu hari timbul di hati
          > saya suatu keinginan untuk belajar sampai
          > setinggi-tingginya.
          > Karena dorongan itulah saya pindah ke sekolah swasta
          > lain yang dapat saya gunakan sebagai persiapan untuk
          > memasuki jalur pendidikan yang dapat membawa saya ke
          > perguruan tinggi, yaitu yang dimiliki Perkumpulan
          > Theosofi; Ardjuna MULO namanya, yang menyajikan
          > pendidikan dasar lanjutan yang berbeda dengan Taman
          > Siswa, kurikulumnya mengacu pada Sekolah Negeri
          > (Hindia Belanda).
          > Saya harus mengejar pelajaran-pelajaran bahasa
          > Jerman, sejarah Bangsa Belanda dan ilmu Bumi Negeri
          > Belanda, dengan belajar sendiri untuk mempersiapkan
          > diri bagi Ujian Negara di Openbare Mulo School milik
          > Pemerintah pada waktu itu agar dapat masuk AMS,
          > suatu sekolah menengah umum.
          > Di Ardjuna itulah saya mempunyai guru matematika
          > yang unik; Bapak R.M. Soekarso Mangoenkawotjo
          > namanya, mantan Pamong Taman Siswa yang kecuali
          > sangat gigih menggembleng para peserta didik dalam
          > bidang aljabar dan ilmu ukur seringkali memberikan
          > pendidikan di bidang kesehatan dan ceramah-ceramah
          > umum, misalnya tentang tokoh-tokoh matematika. Saya
          > sangat terpukau dengan uraian-uraian beliau tentang
          > geometri Lobatschewskij setelah membahas tentang
          > geometri Euklides dengan aksioma-aksioma,
          > definisi-definisi dan lain-lain kelengkapannya.
          > Dalam salah satu ceramah mengenai Einstein dan teori
          > relativitasnya pada akhirnya beliau mengatakan bahwa
          > dengan materi sebesar ujung kapur tulis orang akan
          > memperoleh energi, yang cukup untuk menggerakkan
          > kapal api keliling dunia.
          > Sudah barang tentu pada waktu itu orang belum
          > mengetahui bagaimana caranya mengkonversi materi
          > menjadi energi itu untuk merealisasikan E = mc2. Di
          > dalam ceramah lain yang diberikan oleh seorang
          > insinyur Belanda, pembicara tamu ini menguraikan
          > tentang adanya cahaya yang meskipun di dalam
          > buku-buku pelajaran kami dinyatakan sebagai
          > gelombang, justru digambarkan sebagai
          > korpuskel-korpuskel, maksudnya foton-foton
          > barangkali, yang dihamburkan oleh sumber cahaya yang
          > bersangkutan. Jadi sebenarnya di depan mata otak
          > saya telah ditayangkan secara cepat: geometri
          > non-Euklides, teori relativitas dan teori kuantum;
          > sekalipun oleh orang-orang yang bukan ahlinya.
          > Cerita saya ini tidak akan lengkap bila saya tidak
          > menyatakan di sini bahwa salah satu keunggulan
          > pendidikan jaman penjajahan Belanda ialah adanya
          > mata pelajaran opstel, tulisan karangan, yang
          > diberlakukan sejak Sekolah Dasar. Sebagai akibatnya
          > saya harus banyak membaca. Pada waktu itu ada
          > semacam tabloid yang namanya Universum yang memuat
          > tulisan-tulisan ilmiah populer yang mengungkapkan
          > gagasan-gagasan ilmuwan, seperti teori Wegener
          > tentang bergeraknya benua-benua dan pulau-pulau,
          > yang mendahului teori tektonika lempeng yang kini
          > dipegang teguh oleh para ahli geologi; tentang hujan
          > radioaktivitas yang mungkin sekali kita kenal kini
          > sebagai sinar kosmos; tentang pengaruh radium di
          > Afrika pada aliran magma di bawah kerak bumi, dan
          > lain-lain sebagainya. Barangkali kesukaan saya pada
          > fisika dan matematika terbentuk pada masa remaja
          > itu.
          > Penjajahan Belanda digantikan oleh penjajahan Jepang
          > ketika saya masih duduk di kelas-1 AMS di Surabaya,
          > sehingga saya terpaksa kembali ke Solo dan bekerja
          > di Madrasah sebagai guru pelajaran berhitung dan
          > ilmu bumi disamping mengajari anak didik saya untuk
          > bersolat dan mengaji. Saya tidak melanjutkan sekolah
          > pada waktu itu karena saya tidak mau digunduli,
          > menunduk ke arah Tokyo atau ditempeleng Jepang.
          > Namun saya tidak pernah berhenti belajar. Pada saat
          > jatuhnya Pemerintah Hindia Belanda, rumah-rumah
          > orang Belanda yang penghuninya ditawan tentara
          > Jepang diobrak-abrik oleh penduduk dan
          > barang-barangnya ada di mana-mana. Toko buku bekas
          > membengkak isinya dengan buku-buku yang jenisnya
          > beraneka ragam. Saya menemukan buku-buku ilmiah
          > populer yang judulnya Relativiteit Theorie dan
          > Einstein en het heelal, kalau tidak salah karangan
          > Dr.Van Oss.
          > Saya juga membeli buku ilmu kimia, yang saya coba
          > sendiri eksperimen-eksperimennya di dapur nenek
          > saya, sehingga pada suatu saat, ketika saya membuat
          > reaksi karbon dengan sulfur dari gerusan arang dan
          > belerang, campuran itu membentuk cairan, menguap dan
          > terbakar, sehingga saya merasa tercekik menghirup
          > asap dioksida sulfur yang terjadi. Sejak saat itu
          > saya sangat berhati-hati dalam melakukan
          > percobaan-percobaan. Pengalaman ini penting sekali
          > bagi saya ketika saya diminta teman-teman saya,
          > setelah kembali masuk sekolah di SMA dalam zaman
          > revolusi fisik sesudah Proklamasi Kemerdekaan, untuk
          > memimpin laboratorium persenjataan Tentara Pelajar
          > di Solo. Ketika itu beberapa anggota corps Mahasiswa
          > bimbingan Profesor Johannes yang mengelola
          > laboratorium eksplosif sedang mencari orang yang
          > dapat menggantikan mereka serta dapat diserahi
          > memegang laboratorium tersebut; dan pilihan
          > teman-teman saya di SMA Negeri jatuh pada saya dan
          > saya menjadi Pemimpin Teknis Laboratorium di
          > Banjarsari yang memproduksi granat tangan sekitar
          > seribu buah setiap bulan bergantung pada persediaan
          > bahannya.
          > Di SMA inilah pelajaran fisika saya paling kacau.
          > Dikelas-1 saya hanya dapat pelajaran teori kinetik
          > gas, karena gurunya tidak ada; di kelas-2 guru yang
          > mengajar optika berkelana di luar negri sebagai juru
          > potret dengan Syahrir, sehingga kami diperintahkan
          > untuk mengutip semua rumus-rumus optika saja, sampai
          > saat ditemukan guru lain yang bersedia
          > menggantikannya sekalipun hanya untuk beberapa bulan
          > saja. Untung sekali di kelas-3 saya dapat pelajaran
          > kelistrikan dan kemagnetan dari Prof.Soehakso; waktu
          > itu beliau belum insinyur. Memang tidak ada mata
          > pelajaran lain yang sekacau pelajaran fisika,
          > padahal kami menghadapi ujian dalam suasana yang
          > tidak aman dan tidak tenteram. Tetapi kami lulus
          > juga ujian akhir SMA dengan baik. Periode pengenalan
          > fisika dan matematika ini sangat berkesan pada saya
          > dan membahagiakan saya, serta mendorong saya untuk
          > menekuninya.
          >
          > 2. Membenamkan diri dalam ilmu Eksakta
          > Setelah lulus sekolah menengah atas saya
          > mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Teknik di
          > Yogyakarta untuk jurusan Mesin, karena saya sangat
          > terpesona oleh kecanggihan mesin-mesin yang pernah
          > saya lihat waktu saya bermukim di Surabaya;
          > khususnya mesin intertype disebuah di sebuah
          > percetakan yang dipimpin oleh saudara sepupu saya.
          > Pada saat itu Sekolah Tinggi Teknik hanya mempunyai
          > jurusan Mesin, Kimia dan Sipil. Barangkali kerumitan
          > dan ketepatan gerak mesin-mesin yang memerlukan
          > penguasaan fisika dan matematika dalam desainnya
          > pada saat itu memuaskan diri saya di bawah sadar.
          > Baru
          === message truncated ===


          __________________________________________________
          Do You Yahoo!?
          Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone.
          http://phone.yahoo.com
        • Misrin Achmad
          Bukan, beliau adalah Prof. Ir. Herman Yohannes, ahli teknik nuklir, Rektor ke-2 dan salah seorang pendiri UGM. Beliau dikenal sebagai orang yang sederhana dan
          Message 4 of 8 , Oct 2, 2001
          • 0 Attachment
            Bukan, beliau adalah Prof. Ir. Herman Yohannes, ahli teknik nuklir, Rektor ke-2 dan salah seorang pendiri UGM. Beliau dikenal sebagai orang yang sederhana dan sangat jujur. Semasa masih aktif, beliau tidak mau menggunakan kendaraan dinas untuk keperluan pribadinya dan memilih naik becak saja. Begitu pensiun, beliau belum mempunyai rumah sendiri sehingga bekas murid-murid beliau-lah yang membuatkannya rumah.
            Di akhir hayatnya beliau justru banyak menekuni penelitian teknologi tepat-guna. Briket arang dan kompor bio-massa adalah salah satu hasil karya beliau.
            (Kalau anda tahu Helmi Yohannes, presenter berita MetroTV, itu salah satu puteranya. Oh ya, beliau berasal dari Pulau Rote, NTT).

            Wassalam.
            Misrin

            >>> quilmi@... 10/01/01 12:45PM >>>
            Assalamu alaikum,

            Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
            Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
            pembina tim TOFI Indonesia?

            SEkian dulu,
            Wassalam.
          • Misrin Achmad
            P. Baiquni sudah meninggal dunia. (Tanggal dan tahunnya saya lupa). Wassalam, Misrin ... From: qu ilmi [mailto:quilmi@yahoo.com] Sent: Sunday, September 30,
            Message 5 of 8 , Oct 2, 2001
            • 0 Attachment
              P. Baiquni sudah meninggal dunia.
              (Tanggal dan tahunnya saya lupa).
              Wassalam,
              Misrin

              >>> manuaba@... 10/02/95 03:40PM >>>


              -----Original Message-----
              From: qu ilmi [mailto:quilmi@...]
              Sent: Sunday, September 30, 2001 10:46 PM
              To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
              Subject: Re: [FISIKA] Fisikawan Indonesia Pertama (Bagian 1/2)


              Assalamu alaikum,

              Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
              Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
              pembina tim TOFI Indonesia?

              SEkian dulu,
              Wassalam.

              ----------------------
              Jawaban IBS Manuaba
              Yang dimaksudkan pak Prof. Yohannes (almarhum)disini adalah
              mantan dosen FMIPA Universitas Gadjahmada yang terkenal dengan
              istilah-istilah Fisika dalam bahasa Indonesia spt. canggih (sophisticated)
              yang dahulu semasa saya jadi mhs beliau sempat bingung dan kelabakan arti
              dari canggih tsb. Untuk jelasnya lihatlah kamus Fisika karangan beliau.

              Saya sekarang ingin tahu di mana Bapak Baiquni ? Mantan dosen saya ?
              Bagi yang mengetahui mohon sudi kiranya memberitahukan kepada saya.

              Trims.
              IBS Manuaba Denpasar Bali


              --- Misrin Achmad <misrin@...>
              wrote:
              > Rekan-rekan fisikawan yth.,
              > Perkenankan, di milis ini saya ingin berbagi
              > tulisan; pidato Alm. Prof. A. Baiquni, fisikawan
              > pertama kita.
              > Mungkin banyak di antara kita yang tidak
              > memiliki/belum pernah membacanya.
              > Naskah pidato ini telah diketik ulang dengan teliti
              > - apa adanya, oleh seorang kawan yang tidak mau
              > disebut namanya.
              > Semoga kita dapat memetik suri-tauladan dan
              > menyegarkan semangat kita dalam mempelajari fisika.
              > Wassalam,
              > Misrin
              >
              =======================================================================
              >
              > SUKA DUKA FISIKAWAN PERTAMA INDONESIA
              > Oleh: Achmad Baiquni
              > Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah X HFI Jawa Tengah
              > dan DIY, Surakarta 7 Agustus 1993.
              >
              > Dalam menanggapi permintaan teman-teman sejawat agar
              > saya memberikan ceramah pada pertemuan HFI di Solo,
              > saya telah menjanjikan suatu cerita tentang
              > suka-duka fisikawan pertama Indonesia. Namun sebelum
              > menulis cerita itu perlu saya jelaskan dulu siapa
              > fisikawan pertama itu. Sebab, orang dapat menunjuk
              > Prof. Bloembergen yang pernah berkunjung ke
              > Indonesia, dan Anggota Kehormatan HFI sebagai
              > fisikawan pertama atau Prof. Uhlenbeck, yang
              > keduanya adalah pemenang-pemenang Hadiah Nobel untuk
              > Fisika, karena mereka ketika masa mudanya bersekolah
              > di negeri kita ini sampai mereka herus mengikuti
              > pendidikan di Perguruan Tinggi. Tetapi apabila yang
              > dimaksud adalah fisikawan yang mendapatkan
              > pendidikan di bidang Fisika pada Perguruan Tinggi di
              > Indonesia maka ia tidak bisa lain kecuali orang yang
              > menjadi dewasa dalam kancah revolusi dan yang
              > pertama mendapat ijazah untuk bidang Fisika dan
              > Matematika dari Universitas yang bersangkutan, yang
              > diakui di luar negeri sebagai Bachelor of Science.
              > Tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian yaitu:
              > A. Periode perkenalan dengan gejala-gejala alamiah,
              > ketika saya masih anak remaja dan mendapatkan
              > pendidikan dasar.
              > B. Periode pemahaman gejala-gejala alamiah, ketika
              > saya menjadi dewasa dan mengikuti disiplin sains dan
              > matematika.
              > C. Periode pengembangan ilmu fisika, sejak saya
              > menyelesaikan studi saya dan meraih gelar doktor.
              > Dari cerita yang saya beberkan ini Anda akan
              > mengetahui betapa tidak mulusnya pendidikan fisika
              > yang saya peroleh. Kadang-kadangterhenti,
              > kadang-kadang terlantar, kadang-kadang
              > tersendat-sendat, banyak liku-liku yang harus
              > dilewati dan banyak kesulitan yang harus diatasi.
              >
              > 1. Berkenalan dengan gejala-gejala alamiah
              > Pelajaran pertama tentang fisika saya terima di
              > Taman Muda yang corak pendidikannya nasional, yang
              > memperkenalkan suhu benda beserta alat ukurnya:
              > termometer, tekanan udara beserta alat ukurnya:
              > barometer, sampai dengan hukum Boyle. Pendidikan
              > Taman Siswa di Solo ini saya ikuti sampai di kelas-2
              > Taman Dewasa, ketika pada suatu hari timbul di hati
              > saya suatu keinginan untuk belajar sampai
              > setinggi-tingginya.
              > Karena dorongan itulah saya pindah ke sekolah swasta
              > lain yang dapat saya gunakan sebagai persiapan untuk
              > memasuki jalur pendidikan yang dapat membawa saya ke
              > perguruan tinggi, yaitu yang dimiliki Perkumpulan
              > Theosofi; Ardjuna MULO namanya, yang menyajikan
              > pendidikan dasar lanjutan yang berbeda dengan Taman
              > Siswa, kurikulumnya mengacu pada Sekolah Negeri
              > (Hindia Belanda).
              > Saya harus mengejar pelajaran-pelajaran bahasa
              > Jerman, sejarah Bangsa Belanda dan ilmu Bumi Negeri
              > Belanda, dengan belajar sendiri untuk mempersiapkan
              > diri bagi Ujian Negara di Openbare Mulo School milik
              > Pemerintah pada waktu itu agar dapat masuk AMS,
              > suatu sekolah menengah umum.
              > Di Ardjuna itulah saya mempunyai guru matematika
              > yang unik; Bapak R.M. Soekarso Mangoenkawotjo
              > namanya, mantan Pamong Taman Siswa yang kecuali
              > sangat gigih menggembleng para peserta didik dalam
              > bidang aljabar dan ilmu ukur seringkali memberikan
              > pendidikan di bidang kesehatan dan ceramah-ceramah
              > umum, misalnya tentang tokoh-tokoh matematika. Saya
              > sangat terpukau dengan uraian-uraian beliau tentang
              > geometri Lobatschewskij setelah membahas tentang
              > geometri Euklides dengan aksioma-aksioma,
              > definisi-definisi dan lain-lain kelengkapannya.
              > Dalam salah satu ceramah mengenai Einstein dan teori
              > relativitasnya pada akhirnya beliau mengatakan bahwa
              > dengan materi sebesar ujung kapur tulis orang akan
              > memperoleh energi, yang cukup untuk menggerakkan
              > kapal api keliling dunia.
              > Sudah barang tentu pada waktu itu orang belum
              > mengetahui bagaimana caranya mengkonversi materi
              > menjadi energi itu untuk merealisasikan E = mc2. Di
              > dalam ceramah lain yang diberikan oleh seorang
              > insinyur Belanda, pembicara tamu ini menguraikan
              > tentang adanya cahaya yang meskipun di dalam
              > buku-buku pelajaran kami dinyatakan sebagai
              > gelombang, justru digambarkan sebagai
              > korpuskel-korpuskel, maksudnya foton-foton
              > barangkali, yang dihamburkan oleh sumber cahaya yang
              > bersangkutan. Jadi sebenarnya di depan mata otak
              > saya telah ditayangkan secara cepat: geometri
              > non-Euklides, teori relativitas dan teori kuantum;
              > sekalipun oleh orang-orang yang bukan ahlinya.
              > Cerita saya ini tidak akan lengkap bila saya tidak
              > menyatakan di sini bahwa salah satu keunggulan
              > pendidikan jaman penjajahan Belanda ialah adanya
              > mata pelajaran opstel, tulisan karangan, yang
              > diberlakukan sejak Sekolah Dasar. Sebagai akibatnya
              > saya harus banyak membaca. Pada waktu itu ada
              > semacam tabloid yang namanya Universum yang memuat
              > tulisan-tulisan ilmiah populer yang mengungkapkan
              > gagasan-gagasan ilmuwan, seperti teori Wegener
              > tentang bergeraknya benua-benua dan pulau-pulau,
              > yang mendahului teori tektonika lempeng yang kini
              > dipegang teguh oleh para ahli geologi; tentang hujan
              > radioaktivitas yang mungkin sekali kita kenal kini
              > sebagai sinar kosmos; tentang pengaruh radium di
              > Afrika pada aliran magma di bawah kerak bumi, dan
              > lain-lain sebagainya. Barangkali kesukaan saya pada
              > fisika dan matematika terbentuk pada masa remaja
              > itu.
              > Penjajahan Belanda digantikan oleh penjajahan Jepang
              > ketika saya masih duduk di kelas-1 AMS di Surabaya,
              > sehingga saya terpaksa kembali ke Solo dan bekerja
              > di Madrasah sebagai guru pelajaran berhitung dan
              > ilmu bumi disamping mengajari anak didik saya untuk
              > bersolat dan mengaji. Saya tidak melanjutkan sekolah
              > pada waktu itu karena saya tidak mau digunduli,
              > menunduk ke arah Tokyo atau ditempeleng Jepang.
              > Namun saya tidak pernah berhenti belajar. Pada saat
              > jatuhnya Pemerintah Hindia Belanda, rumah-rumah
              > orang Belanda yang penghuninya ditawan tentara
              > Jepang diobrak-abrik oleh penduduk dan
              > barang-barangnya ada di mana-mana. Toko buku bekas
              > membengkak isinya dengan buku-buku yang jenisnya
              > beraneka ragam. Saya menemukan buku-buku ilmiah
              > populer yang judulnya Relativiteit Theorie dan
              > Einstein en het heelal, kalau tidak salah karangan
              > Dr.Van Oss.
              > Saya juga membeli buku ilmu kimia, yang saya coba
              > sendiri eksperimen-eksperimennya di dapur nenek
              > saya, sehingga pada suatu saat, ketika saya membuat
              > reaksi karbon dengan sulfur dari gerusan arang dan
              > belerang, campuran itu membentuk cairan, menguap dan
              > terbakar, sehingga saya merasa tercekik menghirup
              > asap dioksida sulfur yang terjadi. Sejak saat itu
              > saya sangat berhati-hati dalam melakukan
              > percobaan-percobaan. Pengalaman ini penting sekali
              > bagi saya ketika saya diminta teman-teman saya,
              > setelah kembali masuk sekolah di SMA dalam zaman
              > revolusi fisik sesudah Proklamasi Kemerdekaan, untuk
              > memimpin laboratorium persenjataan Tentara Pelajar
              > di Solo. Ketika itu beberapa anggota corps Mahasiswa
              > bimbingan Profesor Johannes yang mengelola
              > laboratorium eksplosif sedang mencari orang yang
              > dapat menggantikan mereka serta dapat diserahi
              > memegang laboratorium tersebut; dan pilihan
              > teman-teman saya di SMA Negeri jatuh pada saya dan
              > saya menjadi Pemimpin Teknis Laboratorium di
              > Banjarsari yang memproduksi granat tangan sekitar
              > seribu buah setiap bulan bergantung pada persediaan
              > bahannya.
              > Di SMA inilah pelajaran fisika saya paling kacau.
              > Dikelas-1 saya hanya dapat pelajaran teori kinetik
              > gas, karena gurunya tidak ada; di kelas-2 guru yang
              > mengajar optika berkelana di luar negri sebagai juru
              > potret dengan Syahrir, sehingga kami diperintahkan
              > untuk mengutip semua rumus-rumus optika saja, sampai
              > saat ditemukan guru lain yang bersedia
              > menggantikannya sekalipun hanya untuk beberapa bulan
              > saja. Untung sekali di kelas-3 saya dapat pelajaran
              > kelistrikan dan kemagnetan dari Prof.Soehakso; waktu
              > itu beliau belum insinyur. Memang tidak ada mata
              > pelajaran lain yang sekacau pelajaran fisika,
              > padahal kami menghadapi ujian dalam suasana yang
              > tidak aman dan tidak tenteram. Tetapi kami lulus
              > juga ujian akhir SMA dengan baik. Periode pengenalan
              > fisika dan matematika ini sangat berkesan pada saya
              > dan membahagiakan saya, serta mendorong saya untuk
              > menekuninya.
              >
              > 2. Membenamkan diri dalam ilmu Eksakta
              > Setelah lulus sekolah menengah atas saya
              > mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Teknik di
              > Yogyakarta untuk jurusan Mesin, karena saya sangat
              > terpesona oleh kecanggihan mesin-mesin yang pernah
              > saya lihat waktu saya bermukim di Surabaya;
              > khususnya mesin intertype disebuah di sebuah
              > percetakan yang dipimpin oleh saudara sepupu saya.
              > Pada saat itu Sekolah Tinggi Teknik hanya mempunyai
              > jurusan Mesin, Kimia dan Sipil. Barangkali kerumitan
              > dan ketepatan gerak mesin-mesin yang memerlukan
              > penguasaan fisika dan matematika dalam desainnya
              > pada saat itu memuaskan diri saya di bawah sadar.
              > Baru
              === message truncated ===


              __________________________________________________
              Do You Yahoo!?
              Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone.
              http://phone.yahoo.com


              ===============================================================
              ** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
              ** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
              <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
              ===============================================================


              Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/




              ===============================================================
              ** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
              ** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
              <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
              ===============================================================


              Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
            • Yudi Darma
              ... kalau saya tidak salah beliau berpulang ke rahmatullah pada tanggal 22 desember 2000 yudi ... __________________________________________________ Do You
              Message 6 of 8 , Oct 2, 2001
              • 0 Attachment
                --- Misrin Achmad <misrin@...>
                wrote:
                > P. Baiquni sudah meninggal dunia.
                > (Tanggal dan tahunnya saya lupa).

                kalau saya tidak salah beliau berpulang ke rahmatullah
                pada tanggal 22 desember 2000

                yudi

                > >>> manuaba@... 10/02/95 03:40PM >>>
                >
                >
                > -----Original Message-----
                > From: qu ilmi [mailto:quilmi@...]
                > Sent: Sunday, September 30, 2001 10:46 PM
                > To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
                > Subject: Re: [FISIKA] Fisikawan Indonesia Pertama
                > (Bagian 1/2)
                >
                >
                > Assalamu alaikum,
                >
                > Maaf saya pingin sedikit bertanya, apakah Prof.
                > Yohannes dalam cerita ini adalah Yohannes Surya,
                > pembina tim TOFI Indonesia?
                >
                > SEkian dulu,
                > Wassalam.
                >


                __________________________________________________
                Do You Yahoo!?
                Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone.
                http://phone.yahoo.com
              • Dzulfikar
                Rabu, 03/10/2001, 12:53 WIB SingTel segera realisasikan pembelian saham di Telkomsel, Oktober Laporan Novi Nuryanti satunet.com - Rencana perusahaan
                Message 7 of 8 , Oct 3, 2001
                • 0 Attachment
                  Rabu, 03/10/2001, 12:53 WIB
                  SingTel segera realisasikan pembelian saham di Telkomsel, Oktober
                  Laporan Novi Nuryanti


                  satunet.com - Rencana perusahaan telekomunikasi Singapura SingTel untuk
                  membeli saham di unit usaha PT Telkom, Telkomsel, kemungkinan akan selesai
                  pada awal buan ini.


                  Dirut PT Telkom Muhammad Nazief seperti dikutip harian Business Times, Rabu
                  mengatakan, pihaknya akan menjual saham tambahan kepada SingTel, jika
                  perusahaan Singapura ini tertarik untuk menambah sahamnya dari yang
                  direncanakan sebelumnya yang di atas 22,3 %.

                  SingTel saat ini tengah menegosiasikan untuk membeli 22,3 % saham milik
                  perusahaan telekomunikasi Belanda KPN N V di Telkomsel senilai antara 500
                  juta hingga 600 juta dolar AS.

                  Pejabat humas SingTel belum bisa dimintai konfirmasinya mengenai rencana
                  ini.

                  Sebelumnya diberitakan SingTel kehilangan kewenangan monopolinya di
                  Singapura pada tahun 1997. Dengan kecilnya pasar domestik negara berpenduduk
                  4 juta jiwa ini, SingTel memutuskan untuk melakukan ekspansi ke pasar Asia.

                  Sejauh ini SingTel telah menanamkan modalnya lebih dari 3 miliar dolar AS di
                  20 pasar asing termasuk Thailand, Taiwan, India dan Filipina. [jar/*]
                Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.