Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kursus Mental Aritmatika

Expand Messages
  • Bunaiya
    Melahirkan Einstein Ala Cina Booming mental aritmatika, mengembangkan otak secara seimbang. Daya pikir dan daya imajinasi anak lebih tinggi. Sayang, ummat
    Message 1 of 2 , Dec 19, 2000
    • 0 Attachment
      Melahirkan Einstein Ala Cina
      Booming mental aritmatika, mengembangkan otak secara seimbang. Daya pikir
      dan daya imajinasi anak lebih tinggi. Sayang, ummat Islam masih asing.
      "Berapa 17 + 86 + 57 - 24 + 68 + 96 + 57 - 26?," tanya seorang guru di
      depan 20 orang murid SD. Tiga detik setelah itu Susan (8) berteriak "331!"
      disusul beberapa temannya yang menjawab hampir bersamaan, penuh percaya
      diri.
      Subhanallah. Mengagumkan! Kemampuan mereka itu patut diacungi jempol,
      karena tak banyak anak yang mampu menjawab soal secepat itu. Tak lain,
      anak-anak itu adalah peserta pendidikan mental aritmatika yang sekarang
      sedang marak di masyarakat. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya,
      Bandung, Yogyakarta, Ujungpandang kini bermunculan lembaga kursus mental
      aritmatika.
      Apakah gerangan mental aritmetika ini, sehingga begitu menarik perhatian
      siswa dan orang tuanya?
      Mental aritmatika (MA) adalah sebuah metoda pengajarkan matematika kepada
      anak dengan menggunakan alat bantu soroban, yakni alat hitung tradisional
      Jepang atau Cina yang berupa kotak segi empat berisi manik-manik dalam
      jumlah tertentu. Dengan alat itu orang dapat menghitung dengan sangat
      cepat, bahkan lebih cepat daripada menggunakan kalkulator. Untuk tingkat
      pemula, para siswa diajarkan berhitung dengan menggunakan alat bantu sempoa
      atau sipoa atau disebut juga soroban. Tapi jika sudah mahir, tanpa
      menggunakan alat bantu tersebut, cukup dengan membayangkannya saja, seorang
      siswa tetap dapat menjawab soal hitungan cepat dan akurat. Inti dari
      belajar MA sebenarnya bukan untuk menghasilkan anak yang mampu berhitung
      cepat. Inti dari MA, kata Andreas Chang, Ketua Yayasan Abacus Mutatad
      Mental Aritmatika (AMMA), adalah untuk meningkatkan konsentrasi,
      kreativitas, dan juga kecerdasan emosional anak. Menurut pakar psikologi
      anak, Dr Seto Mulyadi yang juga sebagai konsultan AMMA, anak-anak yang
      belajar MA akan memiliki daya konsentrasi, daya ingat dan daya kreasi yang
      tinggi. Juga cenderung mempunyai rasa percaya diri tinggi dan logika
      berfikir yang jernih.
      Komentar senada juga dikemukakan Dr Dwijo Saputro DSPJ, psikiater anak pada
      RS Husada Jakarta. Menurutnya, belajar MA dapat mengoptimalkan fungsi otak
      secara keseluruhan. "Metode ini bisa membuat anak mampu berhitung lebih
      cepat, membuat daya ingat, kreativitas dan konsentrasi meningkat secara
      bermakna," katanya sebagaimana dikutip Surabaya Pos. Meskipun belum ada
      penelitian yang spesifik tentang pengaruh pendidikan MA terhadap fungsi
      kedua belahan otak, namun hal ini bisa diterangkan dengan konsep penggunaan
      otak kiri dan otak kanan. Sudah lama para ahli meyakini bahwa belahan otak
      kiri dan kanan manusia sama bentuknya tapi berbeda fungsinya. Hal ini
      seperti yang disampaikan pakar syaraf RSCM, Prof Mahar Mardjono kepada
      Higina. "Belahan kiri memiliki banyak pusat yang fungsinya sebagai
      kemampuan untuk membaca, menghitung, menulis, berkomunikasi verbal atau
      berbahasa, dan lain sebagainya. Sedangkan belahan kanan merupakan
      pusat-pusat untuk kemampuan berimajinasi, mengenal bentuk dan dimensi,
      warna, melihat jauh ke depan, serta kreativitas," ungkap guru besar FK UI
      ini.
      Masih menurut Mahar dan juga menurut pakar pendidikan Suyanto PhD, baik di
      sekolah maupun di keluarga, pendidikan di Indonesia saat ini cenderung
      menekankan penggunaan fungsi otak kiri. Karena itu perlu diseimbangkan
      dengan pelajaran yang mengaktifkan penggunaan otak kanan, antara lain
      dengan pelajaran MA ini, yang mengkondisikan siswa untuk membayangkan
      bentuk dan dimensi soroban dalam proses berhitungnya. Dari pengakuan orang
      tua yang anaknya mengikuti kursus MA, ternyata kursus ini dapat membantu
      perkembangan anaknya, baik segi prestasi, keterampilan dan kemampuan
      lainnya. Pengakuan Abas, orang tua Fikri (10) kepada Sahid, menurutnya,
      setelah anaknya ikut kursus MA sampai tingkat 7 tampak ada perkembangan.
      "Anak saya selalu siap menghadapi pelajaran di sekolah, disiplin, dan
      mempunyai motivasi yang kuat untuk maju," katanya.
      Suasana Ceria
      Kursus MA dibagi menjadi 10 tingkat. Lama satu tingkat sekitar tiga bulan.
      Tetapi jika prestasi anak bagus, bisa dipercepat. Proses belajar mengajar
      dilakukan dua kali atau satu kali dalam seminggu. Sedangkan lama belajar
      setiap pertemuan yaitu 1,5 jam hingga 2 jam.
      Sasaran utama dari penerapan MA ini adalah anak-anak berusia 6 -12 tahun.
      Bahkan menurut Ketua AMMA Indonesia, Andreas Chang MA, idealnya sedini
      mungkin, yakni ketika anak sudah bisa mengenal angka dan sejak bisa
      berhitung. Biasanya ini terjadi pada usia 3-4 tahun. "Pada usia ini
      perkembangan otak manusia mulai terbentuk dan bisa dikembangkan dalam hal
      imajinasi, kreativitas dan kecerdasannya. Otak masih murni dan belum
      terpengaruh," katanya agak berpromosi.
      Lepas dari berapa umur yang ideal, dalam mengajarkan MA diperlukan metode
      dan pendekatan yang agak berbeda dengan pendidikan di sekolah yang bersifat
      formal. Agar siswa tidak bosan dan jenuh maka pengajaran MA harus ada
      variasi.
      Disamping itu pendidikan MA lebih menekankan pada pola permainan, sehingga
      setiap anak yang mengikuti pendidikan ini tidak merasa takut Kegiatan
      belajar mengajar MA harus diselenggarakan dengan cara bermain dan suasana
      kelas yang menyenangkan. "Siswa harus dirangsang untuk berkompetisi agar
      mereka selalu termotivasi untuk meningkatkan prestasinya. Dan guru harus
      memberi penghargaan atas prestasi yang diraih siswa. Dengan cara ini siswa
      terkondisikan untuk senantiasa menyenangi pendidikan ini," kata Ida Sufilah
      Widayanti, pengajar di Mental Aritmatika Soroban (MAS) di Bandung. Bahkan,
      Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, menganjurkan berbagai variasi
      dalam pengajaran MA, misalnya lagu, dongeng, dan permainan. Gurunya pun
      harus menggunakan pendekatan personal terhadap anak. Hal ini menjadi
      fenomena baru bagi dunia pendidikan, khususnya pelajaran matematika, karena
      bukan rahasia lagi selama ini pelajaran matematika telah menjadi momok bagi
      banyak siswa. Seperti yang ditulis Fawzia Aswin Hadis dalam bukunya
      Psikologi Perkembangan Anak, "Numeric phobia (takut terhadap pelajaran
      berhitung) merupakan permasalahan klasik yang terjadi pada hampir semua
      jenjang pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi." Senada dengan hal itu,
      psikolog pendidikan Dhiany Tjokro, dalam sebuah dialog di televisi
      mengatakan, ketakutan anak-anak terhadap pelajaran matematika lebih
      disebabkan kurangnya kreativitas guru dalam mengajar, di samping juga
      karena kurangnya keterangan bagi siswa kenapa harus belajar dan bagaimana
      manfaat belajar matematika.
      Seperti mengikuti anjuran Kak Seto dan Ida, untuk merangsang siswa supaya
      rajin belajar YAI (Yayasan Mental Aritmatik Indonesia) memberikan rompi
      gratis kepada siswa yang naik tingkat. Selain itu, agar siswa tak jenuh
      belajar di kelas, YAI juga mengadakan wisata dan lomba penjelajahan
      aritmatika di kebun teh Wonosari, Lawang. Siswa dibagi per kelompok dan
      masing-masing kelompok mencari pos yang telah ditentukan untuk
      menyelesaikan soal-soal di pos tersebut. Di pos 1 misalnya, ada mainan
      balon yang di dalamnya ada soalnya.
      Tapi ada juga lembaga kursus MA yang tidak mengikuti nasehat itu. Lantaran
      guru tidak ditanamkan dan dibekali untuk senantiasa dapat membangun suasana
      kelas yang menyenangkan, dan murid acapkali dibebani PR yang cukup banyak,
      kursus itu malah akhirnya menjadi beban juga bagi orang tua. "Anak saya
      tidak mau lagi ikut kursus MA karena sering banyak soal yang harus
      dikerjakan di rumah," ujar Tati, ibu dari Muhammad Toyar (8). Hal lain
      yang perlu diperhatikan adalah kerjasama antara orang tua siswa, pengelola
      dan guru di sekolah. Masalahnya, meskipun kursus MA sudah memasyarakat,
      masih ada pihak yang tampaknya belum memahami pendidikan ini serta
      dampaknya, sehingga ada yang merasa dirugikan. Hal ini seperti yang dialami
      oleh Munira (10). Nilai matematika Munira di buku rapor yang biasanya 9
      turun menjadi 7 karena pada berkas ujiannya hanya mencantumkan hasilnya
      tanpa ada coretan (proses perhitungan). Ketika dikonfirmasi oleh orang
      tuanya kepada gurunya, menurut guru tersebut, "Meskipun jawaban anak ibu
      benar, tapi ada kemungkinan dapat nyontek dari temannya," kata orang tua
      Munira menirukan ucapan guru anaknya.
      Jadi, kerjasama guru di sekolah, orang tua dan anak adalah mutlak. Oleh
      karena itu, sekalipun belajar MA, apabila anak menyelesaikan pelajaran
      matematika sebaiknya tetap memakai cara matematika. "Logika matematika
      tentulah memakai logika matematika, jangan dicampuradukan dengan logika
      sempoa, karena hasilnya tidak sebaik yang diinginkan," ujar Muchtar, guru
      SD Intergral Lukmanul Hakim Surabaya dan instruktur kursus MA.
      Berkantong tebal
      Meski belum ada data yang akurat mengenai jumlah pengelola maupun siswa
      yang mengikuti kursus ini se-Indonesia, penelusuran sementara menunjukkan
      lembaga yang menyelenggarakan kursus ini sudah lebih dari sepuluh
      jumlahnya. Sedangkan jumlah siswanya diperkirakan puluhan ribu anak.
      Sebagai contoh, Yayasan Aritmatika Indonesia (YAI) memiliki 40.000 siswa
      dari 200 cabang yang dimilikinya. AMMA memiliki 10.000 siswa dari 150-an
      cabangnya yang tersebar di seluruh Indonesia.
      Masih ada yang lain, seperti Sempoa Indonesia Pratama (SIP), Universal
      Mental Aritmatika (UMA), International Mental Aritmatic (IMA), Mental
      Aritmatika Soroban (MAS), Edukasi Mental Aritmatika Soroban (EMAS), Adil
      Sempoa Mandiri (ASMA), Akademi Keguruan Mental Aritmatika (AKRAMA)
      Indonesia, Soroban Indonesia Mental Aritmatika (SIMA), Hitung Cepat Sempoa
      (HCS) dan Universal Megabarand Centre (UMC).
      Jumlah lembaga pendidikan itu masih mungkin akan terus bertambah, karena di
      samping sedang trend di kalangan siswa perkotaan, bagi pengusaha sendiri
      syarat dan perizinannya tidaklah sulit. Bahkan pendiri lembaga kursus ini
      seakan membuka jalan lebar kepada masyarakat yang ingin menjalankan bisnis
      ini. Umumnya sistem yang dipakai adalah waralaba (franchise) dengan pola
      bagi hasil. YAI misalnya, mempersilakan orang untuk membuka usaha kursus
      berbendera YAI. Syaratnya, menyediakan tempat belajarnya serta membayar fee
      sebesar Rp 3,5 juta kepada YAI. Fee sebesar itu sudah termasuk pelatihan
      bagi seorang calon pengajar hingga level tertinggi. Kalau calon pengajarnya
      lebih dari satu akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 1,2 juta per
      orang.
      Sedangkan UMC, calon mitranya cukup menyediakan tempat yang harus disurvei
      terlebih dahulu. Sedangkan guru akan dilatih dengan biaya Rp 150.000 per
      tingkat atau Rp 1,5 juta hingga grand level. Sementara pola bagi hasilnya
      adalah dari biaya kursus yang Rp. 250.000 per tingkat, "Sekitar 30% untuk
      UMC dan 70% untuk pengelola. Sebab kami menyiapkan semua materinya, yakni
      buku, sempoa, dan kaos," kata Iwan Sugiarto, pemilik UMC. Pengelola kursus
      MA rata-rata menerapkan standar yang hampir sama dalam menentukan biaya.
      IMA memasang harga Rp 130.000 per bulan, YAI memungut uang pendaftaran Rp
      50.000 per orang dan biaya kursus Rp 275.000 per tingkat (tiga bulan).
      AMMA menentukan biaya kursus Rp 220.000 per tingkat. Harga yang lumayan
      mahal untuk ukuran kebanyakan orang tua siswa di Indonesia.
      Karena itu sampai saat ini pendidikan MA hanya bisa diikuti oleh kalangan
      yang berkantong tebal saja, seperti dari kalangan etnis Tionghoa.
      Selebihnya, masih banyak yang cuma jadi penonton. Sebenarnya tertarik,
      tapi apa daya biaya tak memadai. "Para orang tua dan anak-anak banyak yang
      tertarik dengan pendidikan yang kita tawarkan. Namun, mengingat biaya yang
      sangat mahal, peminat harus berpikir ulang dan tidak sedikit yang
      mengurungkan niatnya," ujar Sudartinah (65), aktivis Aisyiah Yogyakarta
      yang juga pengelola kursus MA.
      Menyikapi kondisi itu Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Universitas
      Negeri Yogyakarta, Marsigit MA, mengatakan secara substansi setuju pada
      pengajaran sempoa, namun ia menentang apabila formatnya dimasuki
      kepentingan bisnis yang menguntungkan orang-orang tertentu. Karena itu,
      Marsigit menyarankan agar orang tua dan siswa jangan memaksakan diri
      mengikutinya. "Selain mencekik siswa dan orang tua, juga memperdalam jurang
      pemisah antara yang mampu dan yang tidak," tegasnya. Sebenarnya tidak
      semuanya menetapkan harga tinggi. Ada pula yang berusaha membuat tarif yang
      relatif lebih terjangkau. AKRAMA yang berlokasi di Bandung misalnya, hanya
      mengenakan tarif per paket (3 bulan pendidikan) Rp 180 ribu untuk setiap
      guru utusan TK Al-Quran. Pengenaan harga yang lebih terjangkau itu tak lain
      didorong pula oleh idealisme untuk menyebarkan pendidikan ini dikalangan
      Muslim di berbagai lapisan masyarakat. Seperti dituturkan Direktur AKRAMA
      Endis Firdaus MAg, pada mulanya pendidikan ini kurang mendapat respon dari
      sekolah maupun kalangan Muslim.
      Untuk usaha ini AKRAMA mendapat dukungan dari
      Lembaga Pusat Pendidikan TK Al-Quran Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja
      Masjid Indonesia (LPPTKA BKPRMI) Jawa Barat, yang kemudian bekerjasama
      untuk menyelenggarakan pendidikan guru MA bagi guru-guru TKA/TPA. "Pada
      prinsipnya kami mendukung setiap kegiatan yang dapat meningkatkan ilmu
      pengetahuan bagi anak-anak Muslim. Namun, sekarang masih terbatas untuk
      guru-guru TKA/TPA di Jawa Barat. Ini pun belum semua daerah mengikuti
      pendidikan sempoa mengingat keterbatasan tempat," kata Dadang Anwar, Wakil
      Direktur LPPTKA BKPRMI Jawa Barat. Kini AKRAMA sedang mendidik dua angkatan
      calon pengajar mental aritmatika yang siap diterjunkan kembali ke daerahnya
      masing-masing.
      Lembaga lain yang juga peduli terhadap gejala itu adalah Yayasan Pendidikan
      Anak (PENA). Yayasan PENA memiliki lembaga pendidikan MA bernama Edukasi
      Mental Aritmatika Soroban (EMAS), yang melayani dan kerjasama pendidikan MA
      di daerah-daerah, khususnya sekolah Muslim dan pesantren, dengan lembaga
      Mental Aritmatika Soroban (MAS) sebagai proyek percontohannya. Sampai saat
      ini EMAS sudah memiliki cabang yang tersebar di kota-kota besar di Jawa.
      Bahkan sudah banyak permintaan untuk membuka cabang di Sumatera, Sulawesi
      dan Kalimantan. Untuk mempercepat penyebaran pendidikan MA, terutama di
      kalangan Muslim, termasuk di daerah-daerah terpencil, manajer pemasaran
      EMAS, Tati Resmiati menawarkan bentuk kerjasama. Untuk sekolah Islam atau
      pesantren yang ingin mengakses pendidikan ini bisa mengirimkan gurunya
      untuk dilatih oleh EMAS, "Kerjasama ini selain untuk memberdayakan guru di
      sekolah yang bersangkutan, dari segi harga pun bisa disesuaikan dengan daya
      beli masyarakat setempat," ujar alumni Jurusan Teknologi Pendidikan IKIP
      Bandung ini kepada Sahid.
      Tentu saja masyarakat membutuhkan pendidikan yang biayanya terjangkau tapi
      kualitasnya tetap terjaga. Sebab belakangan muncul lembaga yang menawarkan
      kursus ini dengan harga yang relatif murah, tapi kualitasnya tidak dapat
      dipertanggungjawabkan. Menurut sumber Sahid, kini telah ada lembaga atau
      perorangan yang menawarkan pendidikan MA dengan biaya murah, namun
      kelanjutannya tidak jelas. Paket pengajaran MA yang umumnya selesai
      maksimal 10 tingkat, hanya diberikan dua atau tiga tingkat dengan operasi
      penjumlahan dan pengurangan saja, padahal seharusnya ada perkalian,
      pembagian dan sebagainya. Disamping itu, mereka juga tidak memiliki
      kurikulum dan standar pendidikan yang sesuai dengan prinsip pengajaran MA.
      Pengelola yang seperti itu jelas hanya ingin meraih keuntungan materi
      saja, bahkan ada kecenderungan terjadi penipuan. Seorang ibu yang tak ingin
      disebut namanya pernah menyampaikan keluhan kepada Sahid. Ia mengikuti
      pelatihan pada sebuah kursus pendidikan guru MA. Sayangnya, ia mendaftar
      pada lembaga yang tidak becus, sehingga hanya mendapat sebagian kecil dari
      paket pelajaran yang seharusnya. Akibatnya, ia kebingungan untuk
      melanjutkan materi yang diberikan kepada siswanya. "Saya sekarang bingung,
      karena materi yang saya berikan kepada anak-anak sudah habis, sementara
      saya belum tahu kelanjutan paket sempoa ini," sesalnya.
      Mudah-mudahan keluhan ibu guru malang itu tidak banyak terulang pada yang
      lainnya. Sebab menurut perkiraan Endis Firdaus, lima tahun mendatang MA
      akan masuk dalam kurikulum sekolah. "Pendidikan mental aritmatika saat ini
      sedang mengalami booming dan masih terasa eksklusif. Tapi mungkin untuk
      lima tahun mendatang ada penurunan kuantitas bagi pihak pengelola apabila
      pemerintah sudah memasukannya ke dalam kurikulum sekolah," katanya kepada
      Sahid.
      Meski saat ini belum ada tanda-tanda Depdiknas memasukkan metoda MA ini ke
      kurikulum sekolah, tapi saat ini sudah ada beberapa sekolah yang memasukkan
      materi kursus MA sebagai kegiatan ekstrakulikulernya, sehingga menjadi
      salah satu daya tarik bagi orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah
      yang bersangkutan. Sekolah tersebut antara lain SD Plus AlGhifari di
      Bandung dan SD Ta'mirul Islam di Solo. Langkah yang menarik untuk ditiru
      sekolah Islam lainnya. Sebab, seperti kata Nabi, "Tuntutlah ilmu hingga ke
      negeri Cina." Sekarang ilmu dari Cina telah datang ke negeri ini. Tunggu
      apa lagi?
      [Dadang, Pambudi, Akbar, Bachroni, Saiful ]
    • susanadewi03
      - Kepada yth... apakah kursus sempoa ini bisa franchise? bagaimana caranya? bisakah mendapat brosurnya atau kontak ke siapa? terima kasih peminat buka kursus
      Message 2 of 2 , Apr 28, 2004
      • 0 Attachment
        -
        Kepada yth...
        apakah kursus sempoa ini bisa franchise?
        bagaimana caranya?
        bisakah mendapat brosurnya atau kontak ke siapa?

        terima kasih

        peminat buka kursus sempoa anak anak
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.