Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

terapi brainwash untuk stroke hanyalah penipuan

Expand Messages
  • dokter_adhinur
    Heboh heboh soal terapi brainwash untuk pasien stroke , ternyata tidak lebih hanyalah terapi tanpa dasar, yang tidak ada dasar ilmu kedokterannya, tidak ada
    Message 1 of 3 , Feb 1, 2013
    • 0 Attachment
      Heboh heboh soal terapi brainwash untuk pasien stroke , ternyata tidak lebih hanyalah terapi tanpa dasar, yang tidak ada dasar ilmu kedokterannya, tidak ada diseluruh dunia, danmasih BERSIFAT EKSPERIMENTAL, hebatnya ( hanya terjadi di Indonesia ) , walau bersifat eksperimental SUDAH DILAKUKAN PADA MANUSIA dan DITARIK BAYARAN LEBIH DARI 10 juta juga malah !!!, dan lebih hebatnya lagi…tidak ada suara dari IDI

      Silahkan Baca !!!

      Brain Washing Made in Indonesia
      Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed SpS(K)
      ( Ketua Umum Perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia )

      Bila anda click internet dgn kata kunci "Brain Washing " (BW) maka akan muncul banyak sekali URL. Salah satunya yang ini http://psychology.wikia.com/wiki/BrainwashingIntinya sama yaitu, yang dimaksud dgn BW atau cuci otak itu adalah tindakan mengubah pikiran dan perilaku seseorang untuk kepentigan politik atau agama tertentu. Bila anda ingin mengetahui Cuci Otak di Indonesia, coba anda clickhttp://neurointervensi.blogspot.com/2011/09/stroke-cuci-otak-la-brain-wash.htmlHasilnya lain sekali. Di Indonesia, BW dipromosi sebagai sarana mengobati stroke. Itu dilakukan oleh seorang dokter radiologist. Jadi istilah BW sbg terapi cuci otak menyesatkan, jauh menyimpang dari maksud aslinya. Promosi ini bukan main gencar. Dilakukan di berbagai media spt koran, majalah, TV, BB, FB, juga SMS. Isinya pun seragam, yaitu testimoni keunggulan BW itu. Mirip yang dilakukan Klinik Tong Fang.. Seolah-olah, terapi baru itu sangat mujarab mengobati stroke. Semua kerak otak bisa dicuci bersih, membuat otak segar bugar, tak peduli berapa tahun seseorang menderita stroke.
      Dampak promosi BW sangat luar biasa, baik dikalangan dokter maupun masyarakat umum. Kalangan dokter mempertanyakan hasil terapi BW. Sudah menjadi suatu keharusan di masyarakat ilmiah kedokteran, bahwa penemuan suatu obat atau cara pengobatan baru, haruslah didahului oleh penelitian bertahap. Diawali dgn percobaan binatang. Bila berhasil, dilanjutkan dengan clinical trial pada subyek manusia. Bila berhasil, dilanjutkan dengan publikasi ilmiah. Publikasi ini untuk memperoleh respon para ahli. Kalau semua proses ini berjalan lancar, barulah diajukan pada otoritas pemberi ijin agar bisa digunakan pada masyarakat. Memang prosedur ini sangat ketat. Intinya, tidak boleh melakukan "trial and error" pada manusia.Nampaknya, prosedur BW tsb tidak mengindahkan kaidah ilmiah ini.
      Kalau kalangan dokter mempertanyakan hasilnya, tidak demikian dengan masyarakat umum. Mereka umumnya "tergiur" promosi BW. Lebih-lebih bagi pasien dan keluarga yang telah lama menderita stroke. Promosi ini ibarat angin sorga yang menyejukan. Mereka menaruh harapan besar. Sebagai promosi, BW itu sangat mujarab dan menggoda. Mudah diingat, diterima nalar masyarakat, dan merangsang orang untuk mencoba. Bukan itu saja, konon kabarnya orang yang tidak menderita stroke pun, ingin dicuci otaknya agar terhindar dari stroke, termasuk para pejabat tinggi kita, bukan main !!!.
      Nasib orang kena stroke memang malang. Penyakitnya berat, sembuhnya lama, biayanya mahal. Kepustakaan menyebutkan, 1/3 penderita stroke sembuh sempurna, 1/3 cacat, dan 1/3 sisanya meninggal. Angka kematian stroke sangat tinggi dan kecacatannya nomor wahid.
      Bisa cacat sementara atau permanen, bergantung beratnya penyakit, komplikasi, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Bila semua berjalan baik, cacat berlangsung sementara dan sembuh sempurna. Bila terjadi sebaliknya, cacat akan menetap dan meninggal. Gejala stroke mudah dikenal. Secara mendadak, orang mengalami lumpuh separo badan, sulit bicara dan menelan, gringgingen/kebas, dan gangguan keseimbangan. Gejala lainnya adalah kejang, tidak sadar, gangguan berpikir, dan gangguan psikologis. Gejala ini bisa semua atau sebagian. Bila terlambat atau tidak akurat ditangani, terjadilah cacat tetap atau gejala sisa (sequelae). Cacat tetap menurunkan kualitas hidup dan SDM. Bila kepala keluarga yang menderita, penghasilan jadi turun karena tidak kerja. Urusan keluarga kacau bila ibu yang menderita. Tabungan keluarga ludes untuk bayar biaya perawatan yang lama dan mahal.
      Celakanya, sudah habis biaya banyak, sembuh yang diharap tak kunjung tiba. Itu membuat bingung, sedih, dan frustrasi. Dicarilah terapi alternatif, tapi tak sembuh juga.
      Stroke adalah penyakit gangguan pembuluh darah otak (PDO) karena tersumbat (iskemik) atau pecah (perdarahan). Saat ini kejadian stroke meningkat.
      Dulu, stroke biasa menyerang orang usia lanjut. Itu terjadi karena kakunya PDO (arteriosklerosis) karena proses tua. Belakangan, stroke juga menyerang orang muda yang produktif. Itu dipicu pola hidup tidak sehat dan stres psikologis karena kerasnya persaingan hidup.
      Ada dua faktor risiko stroke, yakni yang tidak bisa diubah dan yang bisa diubah. Yang tidak bisa diubah, antara lain, umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan keturunan/genetik. Lainnya bisa diubah. Misalnya, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, penyakit kencing manis, kadar lemak tinggi, merokok/alkohol, gemuk, kurang olahraga, dan stres psikologis. Stroke bisa dicegah bila semua faktor terkontrol baik.
      Pedoman terapi atau guidelines (GL) stroke mengacu pada kesepakatan berbagai perkumpulan profesi kedokteran tepercaya di dunia. Tujuannya, menyelamatkan kerusakan sel otak secepat mungkin agar terhindar dari cacat tetap. Semua dokter yang mengobati stroke harus mengacu ke sana, tidak boleh tidak.
      Untuk stroke iskemik yang baru terjadi (akut), diperlukan tindakan intervensi berupa trombolisis dan trombektomi. Trombolisis adalah memasukkan obat ke dalam PDO. Gunanya, melarutkan thrombus (bekuan darah) penyumbat PDO. Biasanya dipakai obat rt tPA atau urokinase.Trombektomi dilakukan dengan menyedot thrombus.
      Trombolisis hanya boleh dilakukan dalam waktu 6 jam sejak seseorang terkena stroke, trombektomi hanya boleh dilakukan sampai 8 jam. Setelah itu dilarang memasukkan obat apapun karena sangat berbahaya.
      Obat pelarut tidak berfungsi lagi bila bekuan darah sudah lama terbentuk. Jadi, selain tidak ada gunanya, bahayanya pun sangat besar. Yaitu, terjadinya perdarahan otak dengan akibat kematian tinggi. Itu terjadi karena obat pelarut yang dimasukkan menghancurkan mekanisme normal pembekuan darah. Di semua rumah sakit besar, prosedur ini jarang dilakukan karena pada umumnya pasien datang terlambat ke rumah sakit.
      Dalam GL stroke tidak dikenal istilah BW. Menurut media, BW dilakukan untuk menghilangkan sumbatan dengan cara memasukkan obat ke dalam PDO.
      Kalau itu yang dilakukan, prosedurnya disebut trombolisis dan obat yang digunakan adalah rt tPA atau urokinase. Pada BW tidak jelas obat apa yang dimasukkan karena tidak pernah diumumkan. Karena bahaya terjadinya perdarahan otak, trombolisis tidak boleh dilakukan melebihi 8 jam. Yang terungkap di media, BW bisa dilakukan kapan pun, tak peduli berapa tahun orang terserang stroke. Jelas, itu tidak sesuai dengan pedoman yang sudah teruji. Keberhasilan terapi intervensi stroke bukan segala-galanya. Bila semua persyaratan dipenuhi (tepat waktu, tepat indikasi, dan tepat obat), keberhasilan terapi hanya 40–45 persen.Apalagi kalau tak terpenuhi, kegagalannya jadi semakin besar. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah diungkapkan.
      Tayangan promo Brain Spa di Metro TV, Jumat (16 November 2012) menyebutkan: ''Inilah satu-satunya metode baru di Indonesia, bahkan juga di dunia''. Kalau itu benar, masyarakat ilmiah Indonesia, bahkan dunia, akan menyambutnya dengan sukacita.
      Artinya, telah ditemukan obat baru stroke oleh putra Indonesia. Namun, itu semua harus dilakukan melalui metode ilmiah yang ketat. Tanpa penelitian jelas, tidak boleh melakukan terapi langsung pada manusia. Sayangnya, masyarakat ilmiah kedokteran Indonesia tidak mengenal BW. Mereka yang berniat mencuci otaknya perlu hati-hati. Tanya dulu pendapat dokter lainnya. Terutama dari spesialis saraf yang biasa menangani stroke. Malu bertanya, bisa terjerumus di jalan.
      Belum lagi kalau ditinjau dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Banyak pasal Kodeki yang melarang dokter berpromosi.
      •Pasal-3, penjelasan point 1.d. menyebutkan "Dokter dilarang melakukan tindakan kedokteran yang tidak perlu atau tanpa indikasi yang jelas, karena ingin menarik bayaran yang lebih banyak",
      •Selanjutnya disebutkan "Melakukan usaha untuk menarik perhatian umum dengan maksud supaya praktek lebih dikenal orang lain dan pendapatannya bertambah. Misalnya mempergunakan iklan atau mengizinkan orang lain mengumumkan namanya atau hasil pengobatannya dalam surat kabar atau media massa lain ",
      •Pasal-4 menyebutkan "Setiap dokter harus menghindari diri dari perbuatan memuji diri ", Penjelasan Pasal-4, point a.2 menyebutkan "Tidak dibenarkan seorang dokter mengadakan wawancara dengan pers atau menulis karangan dalam majalah/harian untuk memperkenalkan dan mempromosikan cara ia mengobati sesuatu penyakit, karena orang awam yang membacanya tidak dapat menilai kebenarannya".
      •Penjelasan Pasal-4, point a.3 menyebutkan "Satu-satunya tempat untuk mengumumkan sesuatu yang dianggap bermanfaat dibidang kedokteran sehingga akan terbukti nanti apakah yang dikemukakan itu tahan kritik sesama ahli. Namun demikian, wawancara dan tulisan ilmiah yang berorientasi kepada masyarakat dan bersifat penyuluhan serta berdasarkan kejujuran ilmiah malahan sangat diharapkan dari seorang dokter".
      •Penjelasan Pasal-4, point a.5 menyebutkan "Setiap dokter yang menulis karangan yang bersifat mendidik ini, berjasa terhadap masyarakat.tulisan itu akan bertentangan dengan Etik Kedokteran, kalau dengan sengaja dibubuhi berbagai cerita tentang pengobatan sendiri, karena menjadi iklan bagi diri sendiri
      •Penjelasan Pasal-4, point a.7 menyebutkan "Sedapat-dapatnya dokter mencegah orang lain untuk menyiarkan nama dan hasil pengobatannya dalam surat kabar".
      •Pasal-6 menyebutkan "Setiap dokter senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan mengetrapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya serta hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat".
    • Dr.(Naturopathy) Ir. Donny Hosea MBA. PhD
      Hello, Dari blog, saya copy pastekan biar kalau mau dibahas jadi lebih lengkap: Friday, 30 September 2011
      Message 2 of 3 , Feb 8, 2013
      • 0 Attachment
        Hello,

        Dari blog, saya copy pastekan biar kalau mau dibahas jadi lebih lengkap:

        Friday, 30 September 2011
        http://neurointervensi.blogspot.com/2011/09/stroke-cuci-otak-la-brain-wash.html
        STROKE : CUCI OTAK ("Brain Wash"), BENARKAH BERMANFAAT ?
        Kalau kita googling dengan password “cuci otak,” maka akan muncul dari
        majalah Tempo tulisan pada halaman Kesehatan sebagai berikut :

        Sehat dengan Cuci Otak. Telah dikembangkan teknik cuci otak berbasis
        radiologi intervensi. Pasien stroke menahun dan lumpuh bisa kembali jalan.
        Jika dibuka artikelnya, ada pengantar sebagai berikut (artikel lengkap
        tidak bisa diakses) :

        Potongan lagu lawas Terlambat Sudah itu dinyanyikan Benny Panjaitan,
        dengan sedikit modifikasi, di atas ranjang rumah sakit. Suaranya lepas.
        Wajahnya cerah. Mengenakan kaus-T putih dan celana pendek hitam, vokalis
        grup zaman baheula, Panbers, itu tak lelah mengumbar senyum.
        "Saya bahagia sekali karena sudah bisa mengeluarkan suara yang asli,"
        kata Benny saat ditemui Tempo di Paviliun Kartika, Rumah Sakit Pusat
        Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa pekan lalu. Maklum, sejak
        dia mengalami stroke-pembuluh darah di otak kanannya pecah-Juni tahun
        lalu, suaranya tak bisa bebas keluar. "Mau keluarkan suara, tapi
        tertahan. Kesal," kata pria 64 tahun ini. (Tempo 27 Juni 2011).

        Tak ayal, berita ini menyebar secara luas, informasi ini dibaca oleh
        kalangan awam maupun dokter. Bagi kalangan medis, informasi ini menjadi
        tanda tanya besar, benarkah pengobatan pasien stroke dengan cuci otak
        ini begitu hebatnya ? namun mengapa hanya ada di Indonesia dan tidak
        pernah dirilis dalam jurnal-jurnal ilmiah ? Bagi kalangan awam yang
        memiliki keluarga dengan stroke, ini merupakan angin segar, mereka
        segera mencari informasi atau bahkan langsung datang ke tempat bersangkutan.

        Berdasarkan informasi yang menyebar dalam beberapa mailing list, dokter
        yang melakukan prosedur “brain wash” ini menggunakan Heparin dan
        Integrilin (Eptifibatide) dalam prosedur cerebral DSA. Prosedur DSA
        dengan menggunakan heparin jamak dilakukan diseluruh belahan dunia,
        interventionist menggunakan dosis antara 3000-5000 U (40-60 U/kg).
        Sedangkan Eptifibatide adalah antiplatelet injeksi semacam Abciximab dan
        Tirofiban, dan memang banyak laporan diberikan untuk kasus stroke akut.
        Bagaimana sesungguhnya pengobatan a la “Brain wash” ini dari sudut
        pandang dunia kedokteran dan neurointervensi ?

        Telah disebutkan, bahwa penggunaan heparin dalam dunia neurointervensi
        merupakan sesuatu yang rutin dilakukan, hal ini dikarenakan saat
        tindakan dokter menggunakan kateter dan guidewire serte material lainnya
        (sesuai penyakit pasien) kedalam pembuluh darah. Heparin biasanya
        diberikan berupa flushing pada awal prosedur diagnostic, dan dapat
        dilanjutkan dengan continous infusion (heparinized saline) pada prosedur
        intervensi terapeutik. Sedangkan penggunaannya bersama antiplatelet
        injeksi secara bersamaan diberikan oleh operator dalam kondisi yang
        sangat khusus, biasanya pada kasus emergensi, misalnya terjadi
        komplikasi trombosis berulang saat tindakan dilakukan. Penggunaan
        kombinasi heparin dan antiplatelet injeksi tidak diberikan secara rutin
        dalam prosedur neurointervensi. Penggunaan kombinasi kedua obat ini pada
        prosedur intervensi dilaporkan memiliki komplikasi perdarahan
        intracranial yang fatal (Qureshi et.al, Journal Stroke 2002). Namun
        penggunaan masing-masing obat ini tanpa dikombinasi memberikan manfaat
        pada pasien.

        Kutipan dari majalah Tempo diatas perlu dilihat kembali dengan dasar
        ilmiah yang memadai. Kutipan bahwa dengan “brain wash” pasien stroke
        menahun dan lumpuh bisa berjalan kembali adalah menyesatkan. Ditambah
        lagi ungkapan bahwa Benny Panjaitan mengalami stroke berupa pecahnya
        pembuluh darah otak sebelah kanan. Apabila faktanya memang demikian
        (karena apa yang sesungguhnya dilakukan pada “brain wash” tidak pernah
        dipublikasikan secara ilmiah), ada beberapa hal yang perlu diluruskan.
        Pertama, pemberian heparin dan antiplatelet injeksi tidak dapat
        mengobati stroke yang sudah lama terjadi, apalagi megembalikan
        kelumpuhan. Heparin dan antiplatelet bekerja untuk mencegah terjadinya
        penyumbatan baru, bukan menghancurkan penyumbatan pada pembuluh darah.
        Jadi sifatnya preventif bukan kuratif. Kedua, penggunaannya pada kasus
        stroke perdarahan tidak pada tempatnya, kombinasi keduanya malah akan
        meningkatkan resiko perdaran otak, apa yang terjadi pada Benny Panjaitan
        mungkin hanyalah tindakan cerebral DSA (digital substraction
        angiography) rutin yang biasa dilakukan untuk mengetahui kelainan/
        penyebab dari perdarahannya.

        Namun, apapun, adanya isu ini harus disikapi secara bijak. Memang dalam
        dunia kedokteran selalu ada inovasi-inovasi yang terus dikembangkan
        untuk kepentingan perbaikan kualitas hidup, tetapi inovasi itu dilakukan
        berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.
        Tanpa mengikuti kaidah ilmiah, pengobatan baru yang dianggap fenomenal
        tidak ubahnya seperti pengobatan “alternatif” yang banyak beredar di
        masyarakat.

        Diakui atau tidak, pengobatan stroke masih merupakan tantangan bagi
        dunia kedokteran. Banyak sekali neuro-intervensionist dunia yang saat
        ini konsen pada penatalaksanaan penyakit ini. Belum ada satupun laporan
        (setidaknya sampai saat ini) mengenai efektifitas kombinasi terapi
        diatas untuk stroke, yang ada justru laporan negatif tentang efek
        sampingnya.
        Tulisan ini setidaknya dapat memberikan tambahan informasi bagi siapapun
        yang ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya “brain wash” yang fenomenal
        itu, terutama bagi masyarakat, yang awam akan dunia kedokteran.
        Posted by Ahsan at 06:36
        1 comment:

        Novin Aliyah12 July 2012 01:54

        Maaf, kalo boleh tau, basic pendidikan Anda apa ya? Apakah dari
        Spesialis Radiologi jg ato bukan? krn tulisan Anda tidak jelas & akurat
        untuk mendeskriditkan dokter spesialis bidangnya yg menawarkan Terapi yg
        Anda katakan "Brain Wash", Mohon jika akan mengcounter pilihan
        masyarakat yg Anda katakan tidak tepat, berikan kami penjelasan yg lugas
        & tampilkan keprofesionalitasan Anda jika memang Anda ahli medis bidang
        radiologi, supaya kami (yg awam) dapat menentukan pilihan kami dengan
        lebih bijak. Terima Kasih

        Saya pikir ini penting, walau saya bukan ahlinya dalam dunia neorology
        atau Radiology seperti apa yg dipostkan Novi dlm blog tersebut yg
        mengaku dirinya awam, tetapi menganggab bahwa pilihan masyarakat sdh
        tepat n dg demikian yg mengcounter perlu ber kredibilitas sebagai seorg
        ahli.

        Mungkinkah pikiran saya ini penting? jadi walaupun di bodohi, sebaiknya
        kalau bukan ahli (walau pun bisa berlogika menemukan apa yg terjadi,
        jangan coaba2 mengcounter sampai pada kondisi nantinya setelah jatuh
        korban baru boleh begitu?)
        Apakah yg dikemukakan Ahsan merupakan hal yg tdk jelas n tdk akurat?

        Salam,

        On 2/1/2013 11:18 PM, dokter_adhinur wrote:
        > Heboh heboh soal terapi brainwash untuk pasien stroke , ternyata tidak lebih hanyalah terapi tanpa dasar, yang tidak ada dasar ilmu kedokterannya, tidak ada diseluruh dunia, danmasih BERSIFAT EKSPERIMENTAL, hebatnya ( hanya terjadi di Indonesia ) , walau bersifat eksperimental SUDAH DILAKUKAN PADA MANUSIA dan DITARIK BAYARAN LEBIH DARI 10 juta juga malah !!!, dan lebih hebatnya lagi…tidak ada suara dari IDI
        >
        > Silahkan Baca !!!
        >
        > Brain Washing Made in Indonesia
        > Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed SpS(K)
        > ( Ketua Umum Perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia )
        >
        > Bila anda click internet dgn kata kunci "Brain Washing " (BW) maka akan muncul banyak sekali URL. Salah satunya yang ini http://psychology.wikia.com/wiki/BrainwashingIntinya sama yaitu, yang dimaksud dgn BW atau cuci otak itu adalah tindakan mengubah pikiran dan perilaku seseorang untuk kepentigan politik atau agama tertentu. Bila anda ingin mengetahui Cuci Otak di Indonesia, coba anda clickhttp://neurointervensi.blogspot.com/2011/09/stroke-cuci-otak-la-brain-wash.htmlHasilnya lain sekali. Di Indonesia, BW dipromosi sebagai sarana mengobati stroke. Itu dilakukan oleh seorang dokter radiologist. Jadi istilah BW sbg terapi cuci otak menyesatkan, jauh menyimpang dari maksud aslinya. Promosi ini bukan main gencar. Dilakukan di berbagai media spt koran, majalah, TV, BB, FB, juga SMS. Isinya pun seragam, yaitu testimoni keunggulan BW itu. Mirip yang dilakukan Klinik Tong Fang.. Seolah-olah, terapi baru itu sangat mujarab mengobati stroke. Semua kerak otak bisa dicuci bersih, membuat otak segar bugar, tak peduli berapa tahun seseorang menderita stroke.
        > Dampak promosi BW sangat luar biasa, baik dikalangan dokter maupun masyarakat umum. Kalangan dokter mempertanyakan hasil terapi BW. Sudah menjadi suatu keharusan di masyarakat ilmiah kedokteran, bahwa penemuan suatu obat atau cara pengobatan baru, haruslah didahului oleh penelitian bertahap. Diawali dgn percobaan binatang. Bila berhasil, dilanjutkan dengan clinical trial pada subyek manusia. Bila berhasil, dilanjutkan dengan publikasi ilmiah. Publikasi ini untuk memperoleh respon para ahli. Kalau semua proses ini berjalan lancar, barulah diajukan pada otoritas pemberi ijin agar bisa digunakan pada masyarakat. Memang prosedur ini sangat ketat. Intinya, tidak boleh melakukan "trial and error" pada manusia.Nampaknya, prosedur BW tsb tidak mengindahkan kaidah ilmiah ini.
        > Kalau kalangan dokter mempertanyakan hasilnya, tidak demikian dengan masyarakat umum. Mereka umumnya "tergiur" promosi BW. Lebih-lebih bagi pasien dan keluarga yang telah lama menderita stroke. Promosi ini ibarat angin sorga yang menyejukan. Mereka menaruh harapan besar. Sebagai promosi, BW itu sangat mujarab dan menggoda. Mudah diingat, diterima nalar masyarakat, dan merangsang orang untuk mencoba. Bukan itu saja, konon kabarnya orang yang tidak menderita stroke pun, ingin dicuci otaknya agar terhindar dari stroke, termasuk para pejabat tinggi kita, bukan main !!!.
        > Nasib orang kena stroke memang malang. Penyakitnya berat, sembuhnya lama, biayanya mahal. Kepustakaan menyebutkan, 1/3 penderita stroke sembuh sempurna, 1/3 cacat, dan 1/3 sisanya meninggal. Angka kematian stroke sangat tinggi dan kecacatannya nomor wahid.
        > Bisa cacat sementara atau permanen, bergantung beratnya penyakit, komplikasi, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Bila semua berjalan baik, cacat berlangsung sementara dan sembuh sempurna. Bila terjadi sebaliknya, cacat akan menetap dan meninggal. Gejala stroke mudah dikenal. Secara mendadak, orang mengalami lumpuh separo badan, sulit bicara dan menelan, gringgingen/kebas, dan gangguan keseimbangan. Gejala lainnya adalah kejang, tidak sadar, gangguan berpikir, dan gangguan psikologis. Gejala ini bisa semua atau sebagian. Bila terlambat atau tidak akurat ditangani, terjadilah cacat tetap atau gejala sisa (sequelae). Cacat tetap menurunkan kualitas hidup dan SDM. Bila kepala keluarga yang menderita, penghasilan jadi turun karena tidak kerja. Urusan keluarga kacau bila ibu yang menderita. Tabungan keluarga ludes untuk bayar biaya perawatan yang lama dan mahal.
        > Celakanya, sudah habis biaya banyak, sembuh yang diharap tak kunjung tiba. Itu membuat bingung, sedih, dan frustrasi. Dicarilah terapi alternatif, tapi tak sembuh juga.
        > Stroke adalah penyakit gangguan pembuluh darah otak (PDO) karena tersumbat (iskemik) atau pecah (perdarahan). Saat ini kejadian stroke meningkat.
        > Dulu, stroke biasa menyerang orang usia lanjut. Itu terjadi karena kakunya PDO (arteriosklerosis) karena proses tua. Belakangan, stroke juga menyerang orang muda yang produktif. Itu dipicu pola hidup tidak sehat dan stres psikologis karena kerasnya persaingan hidup.
        > Ada dua faktor risiko stroke, yakni yang tidak bisa diubah dan yang bisa diubah. Yang tidak bisa diubah, antara lain, umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan keturunan/genetik. Lainnya bisa diubah. Misalnya, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, penyakit kencing manis, kadar lemak tinggi, merokok/alkohol, gemuk, kurang olahraga, dan stres psikologis. Stroke bisa dicegah bila semua faktor terkontrol baik.
        > Pedoman terapi atau guidelines (GL) stroke mengacu pada kesepakatan berbagai perkumpulan profesi kedokteran tepercaya di dunia. Tujuannya, menyelamatkan kerusakan sel otak secepat mungkin agar terhindar dari cacat tetap. Semua dokter yang mengobati stroke harus mengacu ke sana, tidak boleh tidak.
        > Untuk stroke iskemik yang baru terjadi (akut), diperlukan tindakan intervensi berupa trombolisis dan trombektomi. Trombolisis adalah memasukkan obat ke dalam PDO. Gunanya, melarutkan thrombus (bekuan darah) penyumbat PDO. Biasanya dipakai obat rt tPA atau urokinase.Trombektomi dilakukan dengan menyedot thrombus.
        > Trombolisis hanya boleh dilakukan dalam waktu 6 jam sejak seseorang terkena stroke, trombektomi hanya boleh dilakukan sampai 8 jam. Setelah itu dilarang memasukkan obat apapun karena sangat berbahaya.
        > Obat pelarut tidak berfungsi lagi bila bekuan darah sudah lama terbentuk. Jadi, selain tidak ada gunanya, bahayanya pun sangat besar. Yaitu, terjadinya perdarahan otak dengan akibat kematian tinggi. Itu terjadi karena obat pelarut yang dimasukkan menghancurkan mekanisme normal pembekuan darah. Di semua rumah sakit besar, prosedur ini jarang dilakukan karena pada umumnya pasien datang terlambat ke rumah sakit.
        > Dalam GL stroke tidak dikenal istilah BW. Menurut media, BW dilakukan untuk menghilangkan sumbatan dengan cara memasukkan obat ke dalam PDO.
        > Kalau itu yang dilakukan, prosedurnya disebut trombolisis dan obat yang digunakan adalah rt tPA atau urokinase. Pada BW tidak jelas obat apa yang dimasukkan karena tidak pernah diumumkan. Karena bahaya terjadinya perdarahan otak, trombolisis tidak boleh dilakukan melebihi 8 jam. Yang terungkap di media, BW bisa dilakukan kapan pun, tak peduli berapa tahun orang terserang stroke. Jelas, itu tidak sesuai dengan pedoman yang sudah teruji. Keberhasilan terapi intervensi stroke bukan segala-galanya. Bila semua persyaratan dipenuhi (tepat waktu, tepat indikasi, dan tepat obat), keberhasilan terapi hanya 40–45 persen.Apalagi kalau tak terpenuhi, kegagalannya jadi semakin besar. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah diungkapkan.
        > Tayangan promo Brain Spa di Metro TV, Jumat (16 November 2012) menyebutkan: ''Inilah satu-satunya metode baru di Indonesia, bahkan juga di dunia''. Kalau itu benar, masyarakat ilmiah Indonesia, bahkan dunia, akan menyambutnya dengan sukacita.
        > Artinya, telah ditemukan obat baru stroke oleh putra Indonesia. Namun, itu semua harus dilakukan melalui metode ilmiah yang ketat. Tanpa penelitian jelas, tidak boleh melakukan terapi langsung pada manusia. Sayangnya, masyarakat ilmiah kedokteran Indonesia tidak mengenal BW. Mereka yang berniat mencuci otaknya perlu hati-hati. Tanya dulu pendapat dokter lainnya. Terutama dari spesialis saraf yang biasa menangani stroke. Malu bertanya, bisa terjerumus di jalan.
        > Belum lagi kalau ditinjau dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Banyak pasal Kodeki yang melarang dokter berpromosi.
        > •Pasal-3, penjelasan point 1.d. menyebutkan "Dokter dilarang melakukan tindakan kedokteran yang tidak perlu atau tanpa indikasi yang jelas, karena ingin menarik bayaran yang lebih banyak",
        > •Selanjutnya disebutkan "Melakukan usaha untuk menarik perhatian umum dengan maksud supaya praktek lebih dikenal orang lain dan pendapatannya bertambah. Misalnya mempergunakan iklan atau mengizinkan orang lain mengumumkan namanya atau hasil pengobatannya dalam surat kabar atau media massa lain ",
        > •Pasal-4 menyebutkan "Setiap dokter harus menghindari diri dari perbuatan memuji diri ", Penjelasan Pasal-4, point a.2 menyebutkan "Tidak dibenarkan seorang dokter mengadakan wawancara dengan pers atau menulis karangan dalam majalah/harian untuk memperkenalkan dan mempromosikan cara ia mengobati sesuatu penyakit, karena orang awam yang membacanya tidak dapat menilai kebenarannya".
        > •Penjelasan Pasal-4, point a.3 menyebutkan "Satu-satunya tempat untuk mengumumkan sesuatu yang dianggap bermanfaat dibidang kedokteran sehingga akan terbukti nanti apakah yang dikemukakan itu tahan kritik sesama ahli. Namun demikian, wawancara dan tulisan ilmiah yang berorientasi kepada masyarakat dan bersifat penyuluhan serta berdasarkan kejujuran ilmiah malahan sangat diharapkan dari seorang dokter".
        > •Penjelasan Pasal-4, point a.5 menyebutkan "Setiap dokter yang menulis karangan yang bersifat mendidik ini, berjasa terhadap masyarakat.tulisan itu akan bertentangan dengan Etik Kedokteran, kalau dengan sengaja dibubuhi berbagai cerita tentang pengobatan sendiri, karena menjadi iklan bagi diri sendiri
        > •Penjelasan Pasal-4, point a.7 menyebutkan "Sedapat-dapatnya dokter mencegah orang lain untuk menyiarkan nama dan hasil pengobatannya dalam surat kabar".
        > •Pasal-6 menyebutkan "Setiap dokter senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan mengetrapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya serta hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat".
        >
        >
        >
        >
        > ------------------------------------
        >
        > [ Forum Kesehatan : http://www.medisiana.com ]Yahoo! Groups Links
        >

        --
        We care human as human not as sickness object --
        "Absolutely Drug less Health Care solution Organization"
      • Cahya Legawa
        Selama saya belajar kedokteran, saya sendiri tidak pernah mengenal ada yang namanya teknik /Brain Wash/ untuk mengatasi stroke, bagian Saraf atau Bedah Saraf
        Message 3 of 3 , Feb 11, 2013
        • 0 Attachment
          Selama saya belajar kedokteran, saya sendiri tidak pernah mengenal ada
          yang namanya teknik /Brain Wash/ untuk mengatasi stroke, bagian Saraf
          atau Bedah Saraf juga tidak pernah memperkenalkan hal tersebut.

          Jadi beredaran tulisan tentang pro kontra Brain Wash di beberapa milis
          kesehatan tentunya sedikit menyita perhatian saya. Saya berusaha mencari
          kronologi yang tepat. Lalu saya menemukan berita ini:
          http://health.liputan6.com/read/509165/pengobatan-stroke-pakai-brain-washing-dinilai-tak-tepat
          ===============================
          Liputan6.com, Jakarta : Brain washing (BW) alias cuci otak umumnya dikenal sebagai cara untuk mengubah pikiran dan perilaku seseorang untuk kepentigan tertentu. Namun BW di Indonesia yang kini menjadi tren merupakan sarana pengobatan stroke.

          Teknik yang dimaksudkan bukan seperti cuci otak pada umumnya, melainkan teknik membersihkan otak dari penyumbatan yang membuat seseorang mengalami stroke. Banyak dokter yang beranggapan cara pengobatan itu tidak tepat karena dilakukan seorang dokter radiologi dan belum dilakukan serangkaian penelitian ilmiah yang menjamin cara itu aman.

          Stroke merupakan penyakit yang lama sembuh dan membutuhkan biaya yang mahal. Kepustakaan menyebutkan, sepertiga penderita stroke bisa sembuh sempurna, sepertiga cacat, dan sepertiga sisanya meninggal dunia.

          Ketua Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (Perdossi) Prof. Dr. dr. Hasan Machfoed, SpS (K), MS menjelaskan, promosi teknik pengobatan BW lumayan gencar seperti yang pernah dilakukan Klinik Tong Fang. Padahal, terapi cuci otak itu dianggap menyesatkan dan jauh menyimpang dari maksud aslinya.

          "Dampak promosi BW sangat luar biasa, baik di kalangan dokter maupun masyarakat umum," ujar Profesor Hasan seperti yang dikutip Liputan6.com, Senin (11/2/2013).

          Menurutnya, dalam promosi disebutkan BW dilakukan oleh seorang dokter radiologi. Dan semua kerak otak diklaim bisa dicuci bersih sehingga otak menjadi segar bugar, tak peduli berapa tahun seseorang menderita stroke.

          "Kalau kalangan dokter mempertanyakan hasilnya, tidak demikian dengan masyarakat umum. Mereka umumnya 'tergiur' promosi BW. Lebih-lebih bagi pasien dan keluarga yang telah lama menderita stroke. Promosi ini ibarat angin sorga yang menyejukan. Mereka menaruh harapan besar," ujarnya.

          Profesor Hasan mengatakan, sejumlah kalangan dokter mempertanyakan hasil terapi BW karena sudah menjadi keharusan dalam dunia ilmiah medis, bahwa setiap penemuan obat atau cara pengobatan baru harus didahului penelitian yang bertahap. Biasanya diawali dengan percobaan pada binatang, dan jika berhasil dilanjutkan dengan clinical trial pada subjek manusia. Setelah itu dilanjutkan melalui publikasi ilmiah.

          Apalagi cara Brain Washing ini tak masuk dalam panduan terapi stroke (Guidelines/GL). Sementara dalam promosi di media, BW digadang-gadang bisa menghilangkan sumbatan di otak dengan cara memasukkan obat ke dalam PDO (Pembuluh Darah Otak), namun tak jelas obat apa yang dimasukkan karena belum pernah dipublikasikan.

          BW kabarnya bisa dilakukan kapan pun, tak peduli berapa tahun penderita stroke. Padahal, teknik trombolisis hanya boleh menggunakan obat tak melebih delapan jam.

          "Jelas, itu tidak sesuai dengan pedoman yang sudah teruji. Keberhasilan terapi intervensi stroke bukan segala-galanya. Bila semua persyaratan dipenuhi (tepat waktu, tepat indikasi, dan tepat obat), keberhasilan terapi hanya 40�45 persen. Apalagi kalau tak terpenuhi, kegagalannya jadi semakin besar. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah diungkapkan".

          Profesor Hasan mencontohkan, tayangan iklan brain washing di televisi pada Jumat (16 November 2012) menyebutkan: ''Inilah satu-satunya metode baru di Indonesia, bahkan juga di dunia''.

          "Kalau itu benar, masyarakat ilmiah Indonesia, bahkan dunia, akan menyambutnya dengan sukacita. Artinya, telah ditemukan obat baru stroke oleh putra Indonesia. Namun, itu semua harus dilakukan melalui metode ilmiah yang ketat. Tanpa penelitian jelas, tidak boleh melakukan terapi langsung pada manusia".

          "Sayangnya, masyarakat ilmiah kedokteran Indonesia tidak mengenal BW. Mereka yang berniat mencuci otaknya perlu hati-hati. Tanya dulu pendapat dokter lainnya. Terutama dari spesialis saraf yang biasa menangani stroke. Malu bertanya, bisa terjerumus di jalan. Belum lagi kalau ditinjau dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Banyak pasal Kodeki yang melarang dokter berpromosi".

          Serangan Stroke

          Gejala stroke yang mudah dikenal yakni seseorang mengalami lumpuh separuh badan secara mendadak, sulit bicara dan menelan, gringgingen/kebas, dan gangguan keseimbangan. Gejala lainnya adalah kejang, tidak sadar, gangguan berpikir, dan gangguan psikologis. Gejala ini bisa semua atau sebagian. Bila terlambat atau tidak akurat ditangani, terjadilah cacat tetap atau gejala sisa (sequelae).

          Stroke merupakan penyakit pembuluh darah otak (PDO) karena tersumbat (iskemik) atau pecah (pendarahan). Jumlah penderita stroke saat ini juga meningkat. Dulu, stroke menyerang orang lanjut usia akibat kakunya PDO (arteriosklerosis) karena proses tua.

          Namun, belakangan ini stroke bisa menyerang orang muda yang masih produktif. Ini bisa dipicu pola hidup yang tidak sehat, stres psikologis karena kerasnya persaingan hidup. Dan jika penderita mengalami cacat maka akan menurunkan kualitas hidup pasien dan keluarganya jika penderita merupakan kepala keluarga.

          Faktor risiko stroke ada dua macam, yang bisa diubah dan tak bisa diubah. Faktor risiko yang tak bisa diubah antara lain umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan keturunan. Sedangkan yang bisa diubah seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, penyakit kencing manis, kadar lemak tinggi, merokok atau minum alkohol, gemuk, kurang olahraga, dan stres.

          Untuk pedoman terapi stroke biasanya mengacu pada kesepakatan berbagai perkumpulan profesi kedokteran yang terpercaya di dunia demi menyelamatkan kerusakan otak secepat mungkin.

          Untuk stroke iskemik yang baru terjadi (akut), diperlukan tindakan intervensi berupa trombolisis dan trombektomi. Trombolisis adalah memasukkan obat ke dalam PDO. Tujuannya adalah agar bekuan darah (thrombus) yang menyumbat PDO larut. Biasanya digunakan obat rt tPA atau urokinase dan harus dilakukan dalam waktu 6 jam sejak seseorang terkena stroke.

          Sedangkan trombektomi dilakukan dengan menyedot thrombus dan hanya boleh dilakukan sampai delapan jam. Setelah itu, dilarang memasukkan obat apa pun karena sangat berbahaya menimbulkan kematian. Obat pelarut tak berfungsi lagi jika bekuan darah sudah lama terbentuk.

          Perdebatan BW

          Ramainya tren Brain Washing ini ditanggapi Ahli Bedah Saraf dari RSAU Antariksa, Halim, Dr dr Wawan M, SpBS dan Dr Yudi Y Wiwoho, SpBS. Menurut Doktor Wawan, informasi yang selama ini beredar di Broadcast BlacBerry Messenger tak sepenuhnya salah. Beberapa hal yang dinilai salah menurut Dr Wawan dan Dr Yudi adalah tak ada pasien stroke yang langsung berobat ke radiologi karena keahlian radiologi dalam bidang penunjang medik.

          "Jadi tidak menerima pasien baru langsung, namun pasien rujukan dari spesialis saraf atau bedah saraf," ujar Dr Wawan.

          Ia juga menjelaskan, tak ada istilah Brain Washing atau cuci otak untuk pengobatan stroke, melainkan Endovascular Treatment/Neurovaskular intervensi. Pihak yang mengerjakannya juga bukan radiologi, tapi juga bisa seorang Kardiolog, Neurolog atau Bedah Syaraf yang mendalami bidang Endovascular Treatment/Neuro Intervensi/Radiologi Intervensi.

          "Nama tekniknya basicnya DSA = Digital Substraction Angiography untuk diagnostik, yang bisa dilanjutkan/bersamaan dilakukan tindakan Coiling atau Stenting, Balloning atau Embolisasi atau Trombolisis, tergantung jenis patologinya. Dan ini sudah dikerjakan sejak 20an tahun yang lalu. Nama alat ronsennya (nama umum) adalah Fluoroscopy," jelasnya.

          Menurutnya, teknik pengobatan stroke dengan Endovascular Treatment/Neurovaskular intervensi sudah ada sejak ia di zaman kuliah kedokteran. Namun, belum banyak dokter spesialis yang mengerjakannya.

          Sedangkan Dr Wawan mengatakan salah satu hal yang benar dari informasi yang beredar, dokter yang menjalankan terapi BW memang radiolog. Namun dr Terawan merupakan Spesialis Radiologi yang mendalami Radiologi Intervensi. doketr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI, merupakan dokter yang mengenalkan pengobatan Brain Washing.

          Dr Wawan menjelaskan, dengan tindakan Endovascular Treatment yang dikerjakan adalah membuka sumbatan aliran pembuluh darah otak yang mengalami stroke iskemik atau infark dengan stenting atau ballooning.

          "Selama sel otaknya belum rusak total, maka apabila sumbatannya dibuka, maka sel otak tersebut akan membaik fungsinya namun biasanya tidak bisa 100 persen. Untuk kasus aneurisma dan AVM dapat dilakukan tindakan embolisasi atau coiling," ungkapnya.

          "Mengenai istilah Brain Wash, tidak ada dalam terminologi medis. Yang ada adalah trombolisis itu pun terbatas pada kasus sumbatan akut dan dikerjakan dalam jam-jam pertama serangan stroke," pungkasnya.(Mel/Igw)
          ===============================
          Namun permasalahan yang masih menjadi tanda tanya bagi saya adalah,
          metode yang diterapkan sama sekali tidak pernah terbuka secara jelas,
          sehingga sulit menilai apa yang sebenarnya terjadi dalam pengobata a la
          Brain Wash ini. Sesuatu yang tidak terbuka, tidak bisa dibuktikan
          keilmiahannya.

          Di milis sebelah saya baca, PERDOSSI sudah menolak klaim efektivitas
          teknik Brain Wash sampai terbukti secara ilmiah (evidence based)
          demikian. Saya rasa apa yang ditulis Ahsan dua tahun yang lalu bukannya
          tidak akurat, namun tetap pada nalar skeptis (mempertanyakan); dan
          ketika pertanyaan tidak bisa terjawab secara ilmiah, maka layak diragukan.

          On 08/02/2013 20:27, Dr.(Naturopathy) Ir. Donny Hosea MBA. PhD wrote:
          > Saya pikir ini penting, walau saya bukan ahlinya dalam dunia neorology
          > atau Radiology seperti apa yg dipostkan Novi dlm blog tersebut yg
          > mengaku dirinya awam, tetapi menganggab bahwa pilihan masyarakat sdh
          > tepat n dg demikian yg mengcounter perlu ber kredibilitas sebagai seorg
          > ahli.
          >
          > Mungkinkah pikiran saya ini penting? jadi walaupun di bodohi, sebaiknya
          > kalau bukan ahli (walau pun bisa berlogika menemukan apa yg terjadi,
          > jangan coaba2 mengcounter sampai pada kondisi nantinya setelah jatuh
          > korban baru boleh begitu?)
          > Apakah yg dikemukakan Ahsan merupakan hal yg tdk jelas n tdk akurat?

          --
          Sincerely yours,

          Cahya Legawa
          Twitter: @haridiva

          Sent by Mozilla Thunderbird on Windows Vista Business Edition



          [Non-text portions of this message have been removed]
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.