Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Formularium obat-obat formularium

Expand Messages
  • ansigeg@yahoo.com
    Akhir akhir ini marak pembentukan formularium utk obat di RS di mana dokter yg berada di RS tsb harus wajib memakai obat yg sdh msk daftar formularium dan
    Message 1 of 9 , Oct 20, 2011
    View Source
    • 0 Attachment
      Akhir akhir ini marak pembentukan formularium utk obat di RS di mana dokter yg berada di RS tsb harus wajib memakai obat yg sdh msk daftar formularium dan ternyata hanya melibatkn farmasi besar dan raksasa yg sanggup memenuhi segala persyaratan. Lalu timbul pertanyaan ini utk siapa? Apakah utk pasien? dokter? Atau RS nya??? Apakah dibenarkan hal monopoli spt ini? Gmn nasib farmasi kecil atau yg tak mau gabung atau tak bs gabung? Pelan tp pasti akan mati....atau mgkn begini cara utk memangkas bgtu banyaknya farmasi yg tumbuh bagai jamur di musim hujan shgga obat me too demikian banyaknya?!
      Kurang lebih mohon maaf
      Anna sinardja
      Bali
    • HERU ARIYADI
      Penyusunan formularium dan perubahan formularium di RS ada SOP nya. Pada SOP menyebutkan keterlibatan para dokter. Salam, HERU A
      Message 2 of 9 , Oct 20, 2011
      View Source
      • 0 Attachment
        Penyusunan formularium dan perubahan formularium di RS ada SOP nya.
        Pada SOP menyebutkan keterlibatan para dokter.
        Salam,
        HERU A
      • melly liando
        Dear dr. Anna dan TS lainnya,    Ya seperti itulah wajah bisnis RS di Indo. Bahkan ada bbrp grup RS (contoh : RS. Mitra Grup) memprioritaskan product Kalbe.
        Message 3 of 9 , Oct 21, 2011
        View Source
        • 0 Attachment
          Dear dr. Anna dan TS lainnya,
             Ya seperti itulah wajah bisnis RS di Indo. Bahkan ada bbrp grup RS (contoh : RS. Mitra Grup) memprioritaskan product Kalbe.
          Yang di sayangkan, Komite Medik tidak murni klinisi. Banyak campur tangan bagian logistik,  dll yang notabene tidak terlalu peduli dengan efektivitas terapi suatu obat kpd pasien. Hanya mementingkan "CUAN" (Profit).
          Ini juga karena adanya cara pandang yang berbeda thdp Farmasi.
          Banyak kolega dokter yang hanya menilai farmasi sbg rekan bisnis.
          Perlu di sadari bahwa dari farmasi lah suatu obat di temukan dan membantu mengatasi suatu penyakit pada pasien.
          Lalu farmasi mana yang menemukan?? Pastilah farmasi innovator yang mendapatkan hak originator dan hak paten.
          Kalau mau memandang farmasi sebagai bisnis semata, tepatnya pandangan tsb ditujukan ke farmasi PMDN. Karena jelas mereka hanya menjiplak tanpa memperdulikan kualitas bahan baku obat.
          Tapi dengan farmasi PMA, selayaknya lebih mendapat penghargaan sebagi rekan dalam memfasilitasi pengadaan molekul obat dengan kualitas dan efektivitas yang bisa dipertanggung jawabkan.
          Kita ambil contoh : Methycobal Ampul. Menurut Eisai sbg perusahaan originator, senyawa Methycobal cepat terurai dan rusak jika terpapar cahaya. Maka Eisai membungkus setiap ampul dengan kemasan aluminium bag yang di design dapat dibuka pas di leher ampul, sehingga saat pemgambilan cairan tsb tidak perlu mengeluarkan ampul tsb dari bungkusnya. Setelah di sedot langsung di suntikkan.
          Lalu banyak PMDN yang menjiplak tanpa memperdulikan ke khas an senyawa Methycobal ini. Hampir semua mecobalamin me too tidak di kemas. Ampulnya dibiarkan 'telanjang'. Lalu karena telanjang itulah maka senyawa mecobalamin rusak dan tidak ada gunanya di suntikkan kepada pasien.
          Lalu buat apa pasien bayar harga mecobalamin me too yang juga tidak murah tetapi tidak memdapatkan efektivitas pengobatan dari senyawa mecobalamin ?????
          Pernah kah hal seperti ini di sadari kolega dokter dan logistik ????????
          Masih banyak contohnya dok. Misalnya sekarang gencar Dexa memasarkan Azomax syrup yang isinya Azithromycin. Segala cara dilakukan hingga salah satu medrep memelas kepada dokter supaya mengganti penggunaan Zithromax.
          Tetapi sewaktu dokter tsb menggunakan Azomax pada pasien2nya, banyak yang kembali karena tidak sembuh dari ISPA.
          Sekali lagi yang dirugikan pasien. Sudah bayar mahal utk suatu obat metoo yang tak jelas efektivitasnya dan harus kembali konsul.
          Belum lagi efek resistensi kuman yang makin meningkat karena terapi tdk tuntas.
          Akhirnya dokter tsb kembali ke Zithromax.
          Banyak lagi contoh kasus spt : CLOPIDOGREL, AMLODIPINE, ALPRAZOLAM, CARBAMAZEPINE, dll.
          Kalau kolega dokter atau bagian logistik menjadi pasien, apakah mau bertaruh resiko "CUAN" diatas kesembuhan ??
          Mengatasi carut marut ini harus Pemerintah turun tangan. Tetapi apakah masalah ini menjadi prioritas pemerintah ??
          Masalah kesehatan, pendidikan, kesejahteraan tidaklah pernah menjadi prioritas pemerintah Indonesia.
          Seharusnya di dunia obat, hanya ada 2 jenis : originator atau generik. Itu saja.
          Karena me too product atau branded generik hanya mementingkan bisnis semata. Bahan baku obat barangkali tidak jauh berbeda dengan bahan baku generik.
          Tapi kenapa harga jualnya mahal ? mendekati harga originator? Karena margin nya utk biaya marketing.
          Untuk sponsor kolega dokter, sponsor apoteker, sponsor paramedik, sposnsor logistik, untuk partisipasi simposium, stand, dllllllllll.
          Jujur saya katakan, dokter, spoteker, paramedik, logistik, perhimpunan kedokteran semua mempunyai andil dalam menjadikan harga obat itu mahal. Terutama obat me too.
          Sedangkan obat originator mahal lebih karena ada biaya research yang jumlahnya jauh di atas biaya marketing.
          Ya dok, kembali ke kasus RS yang menetapkan suatu obat utk terapi. Siapa yang mau bertanggung jawab atas penetapann tsb? Apakah berani para kolega dokter "angkat kaki" dari RS seperti itu ? Bisakah RS tidak menjadi terlalu rakus utk juga mendapat keuntungan dari bisnis farmasi?? Bukankah RS bisa mendapat profit dari biaya registrasi, biaya sewa kamar rawat inap, biaya parkir, keuntungan dari penjualan obat. Kenapa harus juga mendapatkan extra keuntungan dari discount yang diberikan farmasi. Jelas jelas discount tsb tidak pernah sampai ke pasien. Discount tsb utk profit RS, untuk pembanguan RS.
          Inilah dok, kalau semua bisnis telah dijalankan dengan penuh rasa lapar sehingga timbul kerakusan. RS simbol pelayanan kepada pasien pun tak luput dari kerakusan.
          Mohon maaf jika tulisan ini pedas dan menyinggung banyak pihak, tetapi itulah realitanya.
          Semoga tulisan ini sperti cabe rawit yang demikian pedas sehingga membuka mata semua orang yg membaca dan menghidupkan kembali saraf saraf simpatik agar terjaga.
          Kalau ada kolega yang mau marah dengan tulisan saya, monggo dengan senang hati saya menerima dan akan tetap terus membaca dan menulis di milist ini.
          salam,
          dr. Melyanti
        • ansigeg@yahoo.com
          Ya bgtulah dan utk bs berpartisipasi dlm formularium fihak farmasi hrs ke luar duit bahkan ada yg sampai hampir 1 M trs dokter ditekan utk menulis obat ke
          Message 4 of 9 , Oct 21, 2011
          View Source
          • 0 Attachment
            Ya bgtulah dan utk bs berpartisipasi dlm formularium fihak farmasi hrs ke luar duit bahkan ada yg sampai hampir 1 M trs dokter ditekan utk menulis obat ke pasen yg blm tentu berkhasiat krn terapi sangat individual dan melalui EBM. Akhirnya ujung2 nya pasen jg yg menanggung. Harus ada perubahan.
            Anna sinardja
            Bali
          • Kadarsyah
            Formularium sangat baik, langkah sederhananya: 1. Apa pola penyakit di RS itu. 2. Dokter menentukan berdasarkan kompetensi/evidence based, apa yang diperlukan
            Message 5 of 9 , Oct 21, 2011
            View Source
            • 0 Attachment
              Formularium sangat baik, langkah sederhananya:
              1. Apa pola penyakit di RS itu.
              2. Dokter menentukan berdasarkan kompetensi/evidence based, apa yang
              diperlukan (tidak ada urusan dengan logistik/purchasing).
              3. Susun daftar obatnya ada 2 jenis: generik/branded generics/me-too atau
              yang patentnya masih berlaku. Kalau generic/branded generic/me-too kualitas
              harus sama dengan originator/patent habis. Ini tanggung jawab BPOM untuk
              memastikannya. Data tahun 2009 di AS,perusahaan generik No. 3 adalah Sandoz
              (anak perusahaan Novartis dengan penjualan USD 3 milyar/hampir sama dengan
              pasar obat Indonesia setahun). Apakah ada yang meragukan kualitas generik
              Sandoz/Novartis? Yang habis patent harga mesti turun, sudah pulang pokok dan
              untung banyak dalam masa patent itu (Di Jepang dilakukan itu).
              4. Cari harga termurah, 2-3 perusahaan saja agar distribusi terjamin.
              5. Semua harus pakai obat formularium itu (generik/branded generic/me-too
              yang kualitas prima = originator dan harga murah abis), yang patent masih
              berlaku mahal okay2 saja, itu paling 10-20% saja dan untuk penyakit yang
              spesilistik banget.
              Salam,
              Kadarsyah
            • Dendi Kadarsan
              Wah kalo masalah bisnis mah sama aje.Entah farmasi atau lainnya.RS juga bisa begitu kalau memang dikelola semata2 bisnis. Sebenarnya yg perlu dibenahi adalah
              Message 6 of 9 , Oct 21, 2011
              View Source
              • 0 Attachment
                Wah kalo masalah bisnis mah sama aje.Entah farmasi atau lainnya.RS juga bisa begitu kalau memang dikelola semata2 bisnis.
                Sebenarnya yg perlu dibenahi adalah sistem jaminan kesehatan universal.Dengan sistem ini harga2 bisa ditekan.Coba kita liat DPHO askes.Harganya bisa 75persen atau bahkan 50persen dari harga pasar.Askes hanya mengelola PNS dan pensiunan dg jumlah kepesertaan paling2 10persen penduduk Indonesia.Coba bayangkan kalo yg dijamin 100persen penduduk Indonesia.Tentu sistem ini bisa menekan harga obat.Makanye kate beberapa sumber sistem ini masih ga jalan krn hambatan dari para perusahaan farmasi.
              • Andre Zaini, dr
                Setuju dengan jaminan kesehatan universal. Tapi penerapannya agak sulit ya dok. Seperti kata dokter askes hanya 10% rakyat tunggakannya besar. Bagaimana kalau
                Message 7 of 9 , Oct 21, 2011
                View Source
                • 0 Attachment
                  Setuju dengan jaminan kesehatan universal. Tapi penerapannya agak sulit ya dok. Seperti kata dokter askes hanya 10% rakyat tunggakannya besar. Bagaimana kalau 100%? Pemerintah ngga berani.. Selama pemerintah ngga berani mengeluarkan modal, kita ngga akan punya power terhadap industri. Saat ini asuransi yang ada sesuai dengan kasta masyarakatnya. Kartu perunggu ngga akan dikasih obat untuk kartu platinum. Gakin, SKTM lebih fokus terhadap generik. Jadi industri tidak terusik dengan obat mahalnya.
                  Satu lagi tentang pengadaan obat di RS ada komite yang mengaturnya. Dan obat yang masuk juga harus menyertakan bukti penelitian kalau dia sesuai standar originator. Ngga fair juga divisi R&D perusahaan farmasi produksi mee too itu dibilang tidak bekerja. Memang kita lebih banyak ketemu marketing mereka bukan penelitinya. Begitu pendapat saya.
                  Regards,
                  Andre Zaini, dr.
                • andi taqwa
                  Merubahnya juga perlu perjuangan karena melibatkan beberapa pihak dan perubahan bisa menimbulkan hal yang bisa  merugikan  pihak lain .....Harus benar-benar
                  Message 8 of 9 , Oct 22, 2011
                  View Source
                  • 0 Attachment
                    Merubahnya juga perlu perjuangan karena melibatkan beberapa pihak dan perubahan bisa menimbulkan hal yang bisa  merugikan  pihak lain .....Harus benar-benar kontrol penuh di pihak Dokter atau Komite Medik dicantumkan pada SOP sehingga tidak sepihak dalam melakukan penawaran alkers maupun obat-obatan untik menghindari menumpuknya barang atau obat yang tidak digunaklan digudang....
                    salam sehat
                    andi taqwa
                  • Yudhistya
                    Sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi statement dokter juga manusia. Melihat semua yang terjadi di dunia kesehatan, dari dokter yang angin anginan bekerja
                    Message 9 of 9 , Nov 6, 2011
                    View Source
                    • 0 Attachment
                      Sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi statement dokter juga manusia. Melihat semua yang terjadi di dunia kesehatan, dari dokter yang angin anginan bekerja karena bayaran tak sepadan, dokter yang penuh pengabdian, dokter yang hanya mencari keuntungan. Ya dokter memang manusia.
                    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.