Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

resep dokter boleh diganti apoteker?

Expand Messages
  • Billy N.
    PP no.51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 24 Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat: b. mengganti
    Message 1 of 13 , Sep 23, 2009
      PP no.51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
      Pasal 24
      Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
      Kefarmasian, Apoteker dapat:
      b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen
      aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau
      pasien.
      Penjelasan: Penggantian obat merek dagang dengan obat generik yang
      sama dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada pasien yang kurang
      mampu secara finansial untuk tetap dapat membeli obat dengan mutu yang
      baik.

      Bagaimana pendapat rekan-rekan?
      rgds
      Billy
    • deddi_ekaputra@yahoo.co.id
      Secara pribadi saya sangat setuju dgn pasal tsb, sejauh memang bahan aktifnya sama dan telah dikomunikasikan ke dokter penulis resep. Masyarakat yg kurang
      Message 2 of 13 , Sep 23, 2009
        Secara pribadi saya sangat setuju dgn pasal tsb, sejauh memang bahan aktifnya sama dan telah dikomunikasikan ke dokter penulis resep. Masyarakat yg kurang mampu berhak utk mendapatkan pengobatan yg berkualitas namun terjangkau harganya, salah satunya dgn pemakaian obat generik tsb.
        Regards,
        Deddi
      • adi dr
        saya sepakat dengan pasal tersebut... tetapi alangkah ironinya pengalaman saya di sebuah rumah sakit daerah dimana mayoritas pasien adalah pasien jamkesmas.
        Message 3 of 13 , Sep 23, 2009
          saya sepakat dengan pasal tersebut... tetapi alangkah ironinya pengalaman saya di sebuah rumah sakit daerah dimana mayoritas pasien adalah pasien jamkesmas. yang saya resepkan adalah GENERIK tetapi yang diterima pasien adalah Obat dengan Merek dagang tertentu. yang ternyata Medrepnya memberikan insentif tertentu dengan apotik/ oknum petugas apotik.
          oleh karena itu kebebasan itu seharusnya diikuti pembatasan tertentu - hanya boleh diganti dengan obat generik -


          Regards,


          adi_dr99
        • Kadarsyah
          Tidak perlu komunikasi ke dokter, apoteker berhak mengganti dengan syarat persetujuan dokter DAN/ATAU pasien. Berikan kepada ahlinya/yang kompeten. Tulis resep
          Message 4 of 13 , Sep 23, 2009
            Tidak perlu komunikasi ke dokter, apoteker berhak mengganti dengan syarat
            persetujuan dokter DAN/ATAU pasien. Berikan kepada ahlinya/yang kompeten.
            Tulis resep dengan nama generik.

            Apoteker diajari meracik, membuat, menganalisa bahan baku/obat jadi,
            GMP/CPOB, farmakope, QC/QA, stabilitas, regulasi/labelling, penarikan obat,
            farmasi klinik/informasi/konsultasi, harga/perbandingan harga, dlsb.
            Serahkan saja kepada ahlinya.

            Kalau berburuk sangka: paling nantinya KKN antara pabrik obat dan apoteker.

            Salam,
            Kadarsyah
          • adi dr
            dear dr Kadarsyah, benar bahwa hal tsb tidak perlu konsultasi ke dokter yang meresepkan kecuali ada interaksi obat yang bisa terjadi dari resep dokter. dan
            Message 5 of 13 , Sep 23, 2009
              dear dr Kadarsyah,
              benar bahwa hal tsb tidak perlu konsultasi ke dokter yang meresepkan kecuali ada interaksi obat yang bisa terjadi dari resep dokter. dan sekali lagi catatan saya adalah Apoteker tidak boleh mengganti obat dengan merek dagang lain, hanya boleh genti dengan obat GENERIK. hal ini untuk mencegah timbulnya KKN antara pabrik obat dan apotik.
              Sebagai dokter yang berpraktek di daerah, kita sering mendengar keluhan masyarakat ttg obat yg diresepkan dr A, dr B, dr C sangat mahal. begitu saya resepkan obat generik, saya minta pasien untuk kembali ke ruangan saya untuk mengontrol obat yang saya resepkan (trauma terhadap pengalaman saya yang oknum apotik salah ngasih obat). Begitu masuk ruangan saya, pasien langsung ngomong "mohon maaf dok, resepnya hanya saya tebus setengahnya. Uang saya hanya sekian ratus ribu". dengan kondisi seperti ini pasien mengira kitalah yang meresepkan obat yang harganya selangit. padahal kita ngeresepin GENERIK.


              Regards,


              adi_dr99
            • Kadarsyah
              Betul, yang diganti dari obat merek dagang ke obat generik bukan ke merek dagang lain. Salam, KD
              Message 6 of 13 , Sep 23, 2009
                Betul, yang diganti dari obat merek dagang ke obat generik bukan ke merek
                dagang lain.
                Salam,
                KD
              • Kadarsyah
                Resep obat generik harus diberikan obat generik. Resep dengan nama dagang dapat diganti obat generik (bukan dengan merek dagang lain) dan atas persetujuan
                Message 7 of 13 , Sep 23, 2009
                  Resep obat generik harus diberikan obat generik.
                  Resep dengan nama dagang dapat diganti obat generik (bukan dengan merek
                  dagang lain) dan atas persetujuan dokter dan/atau pasien.
                  Salam,
                  KD
                • Billy N.
                  halo... Saya sudah membuat tulisan di bawah ini pada tanggal 18 Maret 2008. Semoga berguna. rgds Billy ...
                  Message 8 of 13 , Sep 24, 2009
                    halo...
                    Saya sudah membuat tulisan di bawah ini pada tanggal 18 Maret 2008.
                    Semoga berguna.
                    rgds
                    Billy
                    ---

                    http://yahrapha.wordpress.com/2008/03/18/dokter-berselingkuh-pasien-menderita/
                    Dokter ‘Berselingkuh’, Pasien Menderita

                    Sudah menjadi ‘rahasia umum’ bahwa terdapat suatu kolusi atau
                    ‘perselingkuhan’ antara dokter & industri farmasi di seluruh dunia,
                    termasuk di Indonesia, yang sangat merugikan pasien. Sehingga,
                    beberapa waktu lalu sempat diberitakan bahwa pemerintah Indonesia akan
                    mengeluarkan peraturan pemerintah yang memperbolehkan apoteker untuk
                    mengganti obat yang diresepkan oleh dokter dengan obat lain yang lebih
                    murah. Diharapkan dengan adanya peraturan tersebut, ’selingkuh’ antara
                    dokter dengan industri farmasi dapat dihilangkan.
                    Namun, hal ini adalah ‘jalan pintas’ dalam memecahkan masalah
                    ‘perselingkuhan’ dokter dengan industri farmasi yang dapat menjadi
                    masalah baru, yaitu ketidakjelasan pertanggungjawaban atas obat yang
                    diberikan pada pasien.
                    Masalah-masalah baru yang muncul dapat berupa:
                    Pertama, jika obat pengganti/generiknya belum diuji bioekivalensi &
                    dinyatakan setara oleh laboratorium terakreditasi, maka biarpun isinya
                    sama, tetap saja dianggap berbeda, karena secara hukum merek terdaftar
                    mereka berbeda & sumber bahan bakunya pun seringkali didapat dari
                    sumber yang berbeda dengan kualitas yang berbeda.
                    Hal ini dapat menimbulkan ketikdapastian siapa yang bertanggung jawab
                    terhadap obat yang diresepkan & diganti di apotek, apakah dokter atau
                    apoteker?
                    Ke dua, banyak apotek yang tidak memiliki apoteker tetap, atau
                    apoteker hanya ada pada jam kerja. Sedangkan banyak dokter justru
                    praktik pribadi di luar jam kerja apoteker. Apa asisten apoteker yang
                    bertugas berwenang untuk mengganti resep dokter?
                    Ke tiga, bagaimana jika justru apotekernya yang ‘bermain’ dengan
                    mengganti obatnya dengan yang lebih mahal atau menggantinya dengan
                    obat yang memberi bonus/marketing fee/diskon besar, biarpun itu lebih
                    murah dari yang diresepkan dokter?
                    Ini membuka ‘celah’ bagi industri farmasi untuk berkerja sama yang
                    kurang etis dengan apoteker, yaitu dengan memberi ‘marketing fee’ atau
                    diskon yang lebih besar pada apoteker, sehingga dapat membuat apotek
                    hanya menyediakan/menjual obat-obatan dari industri farmasi tertentu
                    saja.
                    Dalam membereskan ‘perselingkuhan’ antara industri farmasi dengan
                    dokter adalah bukan hanya dengan membuat peraturan, tapi harus yang
                    lebih mendasar lagi, yaitu memperbaiki mentalitas & etika praktik para
                    dokter yang sebetulnya menjadi akar masalahnya. Ini bukan hanya
                    menjadi urusan internal profesi dokter saja, tetapi juga menjadi
                    urusan masyarakat, sehingga dibutuhkan dorongan dari masyarakat untuk
                    memperbaikinya. Masyarakat pun sulit berharap hal ini bisa
                    diselesaikan melalui jalur hukum yang di negeri ini masih kacau-balau
                    penegakkannya.
                    Kalaupun diperlukan pengaturan, seharusnya pemerintah bisa membatasi
                    harga obat generik bermerek, yaitu sekitar 1,2-2 kali harga obat
                    generiknya yang sudah ditetapkan pemerintah, seperti yang sudah
                    berlaku di negara-negara maju.
                    Diharapkan, para dokter berani menolak untuk ‘berselingkuh’ dengan
                    industri farmasi. Dari pihak pemerintah & aparatnya pun diharapkan
                    bisa menegakkan hukum dengan lebih baik. Sedangkan, asosiasi profesi
                    dokter/dokter gigi & apoteker pun bisa membina anggotanya dengan baik,
                    sehingga bisa para anggotanya bisa bekerja dengan lebih profesional &
                    beretika.
                    Adalah harapan kita semua bagi seluruh dokter & apoteker di negeri ini
                    untuk melayani semua pasien bukan hanya dengan ilmu pengetahuan &
                    standar profesi, tetapi juga dengan hati nurani, mentalitas,
                    moralitas, kejujuran, & etika yang baik.
                  • Djoni Darmadjaja
                    Selamat lebaran untuk semua, Saya sangat sependapat dengan Ts Kadarsyah dan Ts Billy untuk hal peresepan ini.dengan alasan sbb; 1. Sudah waktunya kita
                    Message 9 of 13 , Sep 25, 2009
                      Selamat lebaran untuk semua,
                      Saya sangat sependapat dengan Ts Kadarsyah dan Ts Billy untuk hal peresepan
                      ini.dengan alasan sbb;
                      1. Sudah waktunya kita menghargai profesi Apoteker sebagai patner
                      kita dalam pelyanan kesehatan, dengan tanggung jawab secara profesional pula
                      dari masing2 kita.Tentu mereka juga punya kewajiban melaksanakan tugasnya
                      secara terhormat,altruis dan kompeten serta kolegial.
                      2. Sudah terlalu lama kita sebagai dokter di cap oleh masyarakat
                      dari segala penjuru bahwa dokter dapat uang dari resep yang
                      dibuatnya.walaupun tidak semua dokter melakukan tapi anggapan masyarakat tak
                      dapat diubah begitu saja, apalagi sekarang musimnya orang saling
                      curiga.Apalagi memang banyak perusahaan farmasi yang bergaya dagang cara
                      multilevel marketing dengan menjadikan dokter sebagai distributor ujung
                      tombaknya.
                      3. Saya dengar dari teman-teman yang tahu ternyata di negara maju
                      pun peresepan dokter itu adalah nama generik, sekali sekali boleh obat
                      patent tapi yang original ( jadi obat mitu gak boleh diresepkan dengan merk
                      dagangnya)
                      4. Hanya di negara kita yang komponen obat lebih dari 50% biaya
                      pelayanan kesehatan, dinegara orang paling banter 30% saja.Sepertinya dokter
                      kita malu malu menetapkan tarif pelayanan profesional yang wajar, jadi main
                      samping melalui obat, bahkan sekarang sudah makin melenceng ke jualan alat
                      alat kesehatan seperti besi, plastik, sekrup dlsb. Padahal sebagai
                      profesional kita hendaknya bukan jualan barang tapi jualan jasa ( ini juga
                      konsep pelayanan kes negara liberal )
                      5. Dalam rangka mendukung konsep dokter keluarga, konsep pembiayaan
                      kesehatan manage care, pre paid system,dan sistim perlindungan kesehatan
                      semesta( bhs sononya Universal Coverage of health care financing )
                      6. Terakhir tapi bukan penghabisan, marilah kita berupaya mencegah
                      timbulnya resistensi kuman yang terlalu dini terhadap antibiotik pilihan
                      terapi.

                      Sekian urun rembug dari saya
                      Best regards, djoni d
                    • Kadarsyah
                      Matematika sederhananya: 1. Sekarang: Biaya konsultasi dokter Rp 100.000, obat Rp 500.000, dapat dari pabrik obat 30% = Rp 150.000 Jadi, dokter dapat: Rp
                      Message 10 of 13 , Sep 25, 2009
                        Matematika sederhananya:

                        1. Sekarang:
                        Biaya konsultasi dokter Rp 100.000, obat Rp 500.000, dapat dari pabrik obat
                        30% = Rp 150.000
                        Jadi, dokter dapat: Rp 100.000 + Rp 150.000 = Rp 250.000, pasien keluar
                        uang: Rp 100.000 + Rp 500.000 = Rp 600.000

                        2. Bagaimana kalau begini:
                        Biaya konsultasi dokter Rp 500.000, obat (generik) Rp 100.000, dapat dari
                        pabrik obat NOL.
                        Jadi, dokter dapat: Rp 500.000, pasien keluar uang: Rp 500.000 + Rp 100.000
                        = Rp 600.000

                        Salam,
                        Kadarsyah
                      • deddi_ekaputra@yahoo.co.id
                        Kira2 ada alternatif ketiga gak Dok? Ingat bahwa daya bayar masyarakat kita sangat kurang, jauh bila dibandingkan dgn Singapore atau Malaysia...walaupun sama2
                        Message 11 of 13 , Sep 25, 2009
                          Kira2 ada alternatif ketiga gak Dok? Ingat bahwa daya bayar masyarakat kita sangat kurang, jauh bila dibandingkan dgn Singapore atau Malaysia...walaupun sama2 negara serumpun Asia Tenggara.
                          Regards,
                          Deddi
                        • Djoni Darmadjaja
                          Untuk Ts Kadarsyah Logika Matematikanya sih sudah ok, memang sebaiknya begitu, bahwa jasa medis profesional lebih besar dari pada obat, dan tidak perlu dapat
                          Message 12 of 13 , Sep 25, 2009
                            Untuk Ts Kadarsyah

                            Logika Matematikanya sih sudah ok, memang sebaiknya begitu, bahwa jasa medis
                            profesional lebih besar dari pada obat, dan tidak perlu dapat tambahan haram
                            dari pabrik obat. Akan tetapi soal besarannya ya gak segitu banget kali.
                            Seperti komentar Ts Dedi kita harus juga mempertimbangkan Ability to pay dan
                            affordabilitas dari masyarakat kita.

                            Pada tahun 2007 Pengurus Besar IDI telah

                            Melakukan Kajian/penelitian kondisi produktivitas dan kompensasi yang
                            didapat serta yang diharapkan oleh semua sejawat dokter di Indonesia,
                            Penelitian ini meliputi 32 propinsi di Ind, kurang satu propinsi karena data
                            dari prop Lampung tidak masuk.

                            Hasilnya telah di SK kan oleh ketua IDI menjadi Panduan Dasar dasar
                            penentuan Imbalan Jasa medis Dokter Ind, yang sdh tentu diserahkan pada
                            Depkes untuk membuatnya menjadi Standar Jasa Medis dokter, yang sampai saat
                            ini kita belum punya ( Jepang sdh punya sejak th 80).

                            Bersama ini saya attach filenya hanya 6 halaman word, mudah2an bisa menjadi
                            bahan bagi Ts untuk merancang besaran imbalan jasa medis di tempat TS (
                            masih bisa divariasikan sesuai kondisi setempat )

                            Sekian, my best regards

                            Djoni d
                            -----------

                            Attachment: Panduan Penentuan Jasa Medis Dokter.doc

                            PANDUAN PENYUSUNAN IMBALAN JASA MEDIK IDI

                            Hasil survei Kompensasi dan Produktivitas Dokter Umum dan Dokter Spesialis
                            ( 2007) yang dilakukan di 32 Propinsi ( Lampung data tidak lengkap )

                            I. Langkah-Langkah Dasar dalam Penetapan Imbalan Jasa Medis

                            Dokter Umum

                            Dari hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan terhadap hasil tersebut maka
                            dapat dikembangkan langkah-langkah dasar dalam Penetapan lmbalan Jasa
                            Medik bagi Dokter Umum sebagai berikut :

                            1. Langkah Pertama
                            Berdasarkan hasil penelitian ini yang menampilkan kompensasi yang didapat
                            Dokter Umum ditempat kerja utama dan tempat kerja lain selama satu
                            Tahun sekitar Rp. 74.721.000, atau sekitar 5 ,12 kali dari pendapatan per
                            Kapita nasional /PKN ( US$ 1.600,-/tahun pada tahun 2007).
                            Merujuk kepada perhitungan diatas maka Besaran lmbalan Jasa Medik
                            Dokter Umum di tempat kerja utama dan tempat kerja lain yang didapat
                            Dalam waktu satu tahun diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut ;
                            5x 13 x INDEKS UMP x PKN/BULAN

                            2. Langkah Kedua
                            Menetapkan Besaran lmbalan Jasa Medik Dokter umum untuk layanan
                            Rawat Jalan, Rawat Inap,dan Tindakan merujuk kepada hasil peneiitian:
                            a. Tempat Kerja Utama:

                            Rawat jalan : 5,14 Jam/hari ,dengan 20,34 Pasien,/hari
                            Rawat Inap : 1,33 Jam/hari ,dengan 2,74 Pasien,/hari
                            Tindakan Medik : 0,75 Jam/hari, dengan 1,08 Pasien,/hari
                            Lain lain : 0,36 Jam/hari, dengan 0,60 Pasien,/hari
                            Jumlah : 7,6 Jam/hari, dengan 25 Pasien/hari
                            Prosentase : (70,5 %) (75.4 %)

                            b. Tempat Kerja Lain :
                            Rawat jalan : 2,44 Jam/hari ,dengan 7,06 Pasien,/hari
                            Rawat Inap : 0,31 Jam/hari ,dengan 0,48 Pasien,/hari
                            Tindakan Medik : 0,27 Jam/hari, dengan 0,36 Pasien,/hari
                            Lain lain : 0,11 Jam/hari, dengan 0,23 Pasien,/hari
                            Prosentase : (29,5 %) (24,6 %)


                            Rata-rata seluruh jam kerja Dokter Umum dikedua tempat kerja = 10,7 jam/hari
                            Rata-rata seluruh pasien dokter Umum di kedua tempat kerja = 33 pasien/hari

                            c. Pembobotan
                            Untuk mendapatkan besaran lmbalan Jasa Medik bagi Dokter Umum
                            Perlu ditetapkan pembobotan setiap kegiatan sebagai berikut:
                            Rawat jalan = 1 kali
                            Rawat inap = 2 kali
                            Tindakan = 5 kali

                            Merujuk pembobotan tersebut dan jumlah pendapatan per tahun maka
                            Besaran lmbalan Jasa Medik bagi Dokter Umum adalah :
                            Jumlah keseluruhan pelayanan pasien setelah pembobotan = 41,94orang/hari
                            dan dengan hari efektif per tahun = 280 hari maka jumlah pasien dilayani dalam
                            1 tahun = 11.491 pasien per tahun serta kompensasi yang didapat sebesar:
                            Rp.4.721.000, setahun maka imbalan Jasa Medik Dokter Umum untuk pelayanan:
                            - Rawat Jalan Rp. 6.502,/- Kunjungan
                            - Rawat Inap Rp. 13.005,/- Kunjungan
                            - Tindakan Rp.32.512,/- Tindakan


                            3. Langkah Ketiga :
                            Berdasarkan kompensasi yang diharapkan Dokter Umum di tempat kerja utama dan tempat kerja lain selama satu tahun adalah sekitar Rp.208.004.000,- atau sekitar 14,2 kali dari pendapatan per kapita nasional /PKN (US $ 1.600,-/tahun).
                            Merujuk kepada pendapatan yang diharapkan tersebut maka dapat dilakukan
                            Koreksi untuk perhitungan ini, menjadi :
                            Dengan faktor koreksi ini maka lmbalan Jasa Medik untuk pelayanan Dokter Umum akan menjadi :

                            Rawat Jalan= 14/5x Rp. 6,502,-/ kunjungan = Rp. 18,206/ kunjungan
                            Rawat Inap =14/5x Rp.1 3,005,-/kunjungan = Rp. 36,414/ kunjungan
                            Tindakan = 14/5 x Rp. 32,512,-/ tindakan = Rp. 91,034/ tindakan

                            4. Langkah Keempat :
                            Melakukan penyesuaian peningkatan dari lmbalan Jasa Medik Dokter Umum
                            Yang telah dihitung pada Langkah 3 dengan mempertimbangkan peningkatan
                            variabel-variabel sebagai berikut :
                            a. Jumlah Anak
                            b. Status Pegawai Non PNS
                            c. Produktivitas jumlah Pasien
                            d. Produktivitas jam Pelayanan
                            e. Besar Biaya Pendidikan
                            t .Lama Praktik
                            g. Lokasi Praktik

                            II. Langkah-Langkah Dasar dalam Penetapan lmbalan Jasa Medik

                            Dokter Spesialis
                            Dari hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan terhadap hasil tersebut maka
                            dapat dikembangkan langkah-langkah dasar dalam Penetapan lmbalan Jasa
                            Medik bagi Dokter Spesialis sebagai berikut:

                            1 Langkah Pertama :
                            Berdasarkan hasi penelitian ini yang menampilkan kompensasi yang
                            didapat Dokter Spesiaiis di tempai kerja utama dan tempat kerja lain selama
                            satu tahun sekitar Rp. 233.255.984 atau 16 kali dari pendapatan per kapita
                            nasional /PKN (US $ 1.600,-/tahun).
                            Merujuk kepada perhitungan diatas maka Besaran lmbalan Jasa Medik
                            Dokter Spesialis di tempat kerja utama dan tempat kerja lain yang didapat
                            dalam waktu satu tahun diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut :

                            16 x 13 x INDEKS UMP x PKN/BULAN

                            2. Langkah Kedua:
                            Menetapkan Besaran lmbalan Jasa Medik Dokter spesialis untuk layanan
                            Rawat Jalan, Rawat Inap dan Tindakan, merujuk kepada hasil penelitian:

                            a. Tempat Kerja Utama:

                            Rawat jalan : 3,39 Jam/hari ,dengan 14,85 Pasien,/hari
                            Rawat Inap : 2,08 Jam/hari ,dengan 6,61 Pasien,/hari
                            Tindakan Medik : 1,52 Jam/hari, dengan 1,78 Pasien,/hari
                            Lain lain : 0,49 Jam/hari, dengan 1,68 Pasien,/hari
                            Jumlah : 7,50 Jam/hari, dengan 25 Pasien/hari
                            Prosentase : (64,2 %) (66,3 %)

                            b. Tempat Kerja Lain :
                            Rawat jalan : 2,15 Jam/hari ,dengan 8,22 Pasien,/hari
                            Rawat Inap : 0,90 Jam/hari ,dengan 2,58 Pasien,/hari
                            Tindakan Medik : 0,84 Jam/hari, dengan 1,01 Pasien,/hari
                            Lain lain : 0,17 Jam/hari, dengan 0,61 Pasien,/hari
                            Jumlah : 4,1 jam/hari, dengan 12 Pasien/hari
                            Prosentase : (35,8 %) (33,7 %)


                            Rata-rata seluruh jam kerja dokter spesialis di kedua tempat kerja = 10,8 jam/hari
                            Rata-rata seluruh pasien dokter spesialis di kedua tempat kerja = 37 pasien/hari

                            c. Pembobotan
                            Untuk mendapatkan besaran imbalan Jasa medik bagi Dokter spesiaiis
                            Perlu ditetapkan pembobotan setiap tindakan sebagai berikut :
                            Merujuk Pembobotan tersebut dan jumlah pendapatan per tahun maka
                            Besaran lmbalan Jasa Medik bagi Dokter spesialis adalah :
                            Rawat jalan = 37 pasien/hari x 1 = 37 pasien/hari
                            Rawat inap = 9,19 pasien/hari x 2 = 18,38 pasien/hari

                            Tindakan = 2,79 pasien/hari x 5 = 13,95 pasien/hari

                            Jumlah keseluruhan pelayanan pasien setelah pembobotan = 55,4orang/hari
                            dan dengan hari efektif per tahun = 280 hari maka jumlah
                            pasien dilayani dalam 1 tahun = 15.572 pasien per tahun serta
                            kompensasi yang didapat sebesar Rp. 233.255.984,- setahun maka lmbalan Jasa
                            Medik Dokter spesialis untuk pelayanan adalah :
                            Rawat Jalan Rp. 15.037/ kunjungan
                            Rawat lnap Rp. 30.074/ kunjungan
                            Tindakan Rp75.186/ tindakan


                            3. Langkah Ketiga :
                            Berdasarkan kompensasi yang diharapkan Dokter spesialis ditermpat kerja
                            Utama dan tempat kerja lain selama satu tahun adalah sekitarRp 650.000.000,- atau 44,5 kali dari pendapatan per kapita nasiona / pKN (US $ 1.600,-/tahun).
                            Merujuk kepada pendapatan yang diharapkan tersebut, maka dapat
                            Dilakukan koreksi untuk perhitungan ini sebagai berikut :
                            RAWAT JALAN = 1 KALI
                            RAWAT INAP = 2 KALI
                            TINDAKAN = 5 KALI

                            4,5 x 13 x INDEKS UMp x pKN/BULAN

                            Dengan faktor koreksi ini maka lmbalan Jasa Medik Dokter Spesialis untuk
                            Pelayanan akan menjadi :
                            Rawat Jalan 44,5/16 x Rp.15.037,/kunjungan = Rp. 41.822,/kunjungan

                            Rawat Inap 44,5/6 x Rp 30.074/kunjungan = Rp. 83.643,-/ kunjungan
                            Tindakan 44,5/6 x Rp. 75.186/ tindakan =Rp. 209.111,-/ tindakan

                            4. Langkah Keempat :
                            Melakukan penyesuaian peningkatan dari lmbalan Jasa Medik Dokter
                            spesialis yang telah dihitung pada Langkah 3 dengan mempertimbangkan
                            peningkatan variabel-variabel sebagai berikut :
                            a. Status Pegawai Non PNS
                            b. Lama Praktik
                            c. Motivasi
                            d. Produktivitas jumlah Pasien
                            e. Produktivitas jam Pelayanan
                            t. Proses Perizinan
                            g. Malpraktik
                            h. Daerah Asal Pasien
                            i. Lokasi Praktik
                          • Kadarsyah
                            Tadi itu contoh yang mungkin bagi sebagian pasien kita kebesaran, kalau mau yang lebih kecil barangkali begini: Sekarang: Dokter Rp 25.000, obat Rp 100.000,
                            Message 13 of 13 , Sep 26, 2009
                              Tadi itu contoh yang mungkin bagi sebagian pasien kita kebesaran, kalau mau
                              yang lebih kecil barangkali begini:

                              Sekarang:
                              Dokter Rp 25.000, obat Rp 100.000, pasien keluar uang: Rp 125.000

                              Diganti polanya:
                              Dokter Rp 50.000, obat (generik) Rp 25.000, pasien keluar uang: Rp 75.000

                              Salam,
                              Kadarsyah
                            Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.