Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

SIRAH NABAWIYAH; Nasab, Kelahiran dan Penyusuan Nabi Saw (2)

Expand Messages
  • Santosa
    SIRAH NABAWIYAH (Dr. Muhammad Sa id Ramadhan Al-Buthy) Nasab, Kelahiran dan Penyusuan Nabi Saw (2) Beberapa Ibrah Dari bagian Sirah Nabi Saw di atas dapat
    Message 1 of 1 , Nov 8, 2001
      SIRAH NABAWIYAH

      (Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy)


      Nasab, Kelahiran dan Penyusuan Nabi Saw (2)


      Beberapa 'Ibrah


      Dari bagian Sirah Nabi Saw di atas dapat diambil beberapa prinsip dan pelajaran yang penting antara lain:



      1.. Di dalam nasab Nabi Saw yang mulia tersebut terdapat beberapa dalil yang jelas, bahwa Allah mengutamakan bangsa Arab dari semua manusia dan mengutamakan Quraisy dari semua kabilah yang lain. Hal ini dengan jelas dapat kita baca pula di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Juga terdapat hadits-hadis lain yang semakna, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa Nabi Saw pernah berdiri di atas mimbar kemudian bersabda

      " Siapakah aku?) Para sahabat menjawab,"Engkau adalah Rasul Allah, semoga keselamatan atasmu."Nabi Saw bersabda,"Aku adalah Muhammad bin Abdul-Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk (manusia), kemudian Dia menjadikan mereka dua kelompok, lalu menjadikan aku di dalam kelompok yang terbaik, kemudian Dia menjadikan mereka beberapa kabilah, dan menjadikan aku di dalam kabilah yang terbaik, kemudian Dia menjadikan mereka beberapa rumah, dan menjadikan aku di dalam rumah yang terbaik dan paling baik jiwanya." (At Tirmidzi, IX/236, Kitabul Manaqib)


      Ketahuilah, bahwa di antara konsekuensi mencintai Rasulullah Saw ialah mencintai kaum dan kabilah di mana Rasulullah Saw lahir. Bukan dari segi individu dan jenis tetapi dari segi hakikat semata. Ini karena hakikat Arab Quraisy telah mendapatkan kehormatan dengan bernasabnya Rasulullah Saw kepada kabilah tersebut.


      Hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya orang-orang Arab atau Quraisy yang menyimpang dari jalan Allah, dan merosot tingkat kehormatan Islamnya. Karena penyimpangan atau kemerosotan ini secara otomatis akan memutuskan dan menghapuskan kaitan nisbat antara mereka dan Rasulullah Saw.





      2.. Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah Saw dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama kehilangan kakeknya juga, sehingga pertumbuhan pertama kehidupannya jauh dari asuhan bapak dan tidak mendapat kasih sayang dari ibunya.


      Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah. Diantaranya, agar musuh Islam tidak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan ke dalam hati, atau menuduh bahwa Muhammad Saw telah mereguk "susu" dakwah dan rislahnya semenjak kecilnya, dengan bimbingan dan arahan bapak dan kekakenya. Sebab kakek Abdul Muththalib adalah seorang tokoh di antara kaumnya. Kepadanyalah tanggung jawab memberikan jamuan makan dan minum para hujjaj diserahkan (Tradisi orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah adalah bahwa setiap orang diharuskan mengumpulkan dana sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk membeli makanan dan minuman yang disiapkan untuk para tamu yang datang di musim haji). Adalah wajar bila seorang kakek atau bapak membimbing dan mengarahkan cucu atau anaknya kepada "warisan" yang dimilikinya.


      Hikmah Allah telah menghendaki agar musuh-musuh Islam tidak menemukan jalan kepada keraguan seperti itu, sehingga Rasul-Nya tumbuh dan berkembang jauh dari tarbiyah (asuhan) bapak, ibu dan kakenya. Bahwa masa kanak-kanaknya yang pertama, sesuai dengan kehendak Allah, harus dijalani di pedalaman Bani Sa'd, jauh dari keluarganya. Ketika kakeknya meninggal, ia berpindah kepada asuhan pamannya, Abu Thalib, yang hidup sampai tiga tahun sebelum hijrah.Sampai akhir kehidupannya, pamannya tidak pernah menyatakan diri masuk Islam. Ini juga termasuk hikmah lain, agar tidak muncul tuduhan bahwa pamannya memiliki "saham" di dalam dakwahnya dan bahwa persoalannya adalah persoalan kabilah, keluarga, kepemimpinan dan kedudukan.


      Demikianlah hikmah Allah menghendaki agar Rasul-Nya tumbuh sebagai anak yatim, dipelihara oleh 'inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakannya dan harta yang akan membuatnya hidup dalam kemegahan, agar jiwanya tidak cenderung kepada kemewahan dan kedudukan. Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yang mengitarinya, sehingga orang-orang akan mencampur adukkan kesucian nubuwwah dengan kemegahan dunnia dan agar orang-orang tidak menuduhnya telah mendakwahkan nubuwwah demi mencapai kemegahan dunia. (bersambung)





      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.