Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

Expand Messages
  • handa72@gmail.com
    Chiro is back!!!! Jadi pengen baca arsip review2 nya chiro yg dulu2.... Btw buat chiro.... Bagi alamat blog nya dunk... Mau subscribe neh.... Sent from my
    Message 1 of 13 , Sep 30, 2011
    • 0 Attachment
      Chiro is back!!!!

      Jadi pengen baca arsip review2 nya chiro yg dulu2....

      Btw buat chiro.... Bagi alamat blog nya dunk... Mau subscribe neh....

      Sent from my blackberry


      From: "Dimas Riyo Kusumo" <dio_chiro228@...>
      Sender: cinemagsforum@yahoogroups.com
      Date: Fri, 30 Sep 2011 17:09:01 +0100
      To: <cinemagsforum@yahoogroups.com>
      ReplyTo: cinemagsforum@yahoogroups.com
      Subject: RE: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

       

      Thanks Meli, Dian dan Happy. Eh tapi lucu juga kali ya kalo ada ada tukang review film ala stand up gitu.Lucu juga kan kalo diadakan tiap weekend di Blitz misalkan? Kan konsepnya Beyond Movies?

       

      From: cinemagsforum@yahoogroups.com [mailto:cinemagsforum@yahoogroups.com] On Behalf Of meliawati mail
      Sent: Friday, September 30, 2011 11:51 AM
      To: cinemagsforum@yahoogroups.com
      Subject: Re: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

       

       

      Ampun, ampuuunnn....sakit muka gw baca reviewnya si Chiro ini,
      gara-gara kebanyakan ketawanya..sempet lupa tadi , ini film yang
      direview apaan yak tadi? horor apa komedi?
      gw jadi ngebayangin dia bacain review ini live, ala stand up comedy
      gitu..wkwkwk...

      Great review, very entertaining! Must see the movie prove all the
      funny renditions. LMAO !

      Cheers,
      -Meli-

      On 9/30/11, DIAN STEVANUS PAULANA <dian_stevanus@...> wrote:
      >
      > OMG.. reviewnya bagus dan lucu gilaaaaa... LOL.. LOL again.. ☺ ☺ salut,
      > salut buat Chiro.. belum pernah gw ketawa sekenceng ini..
      >
      >
      > From: cinemagsforum@yahoogroups.com [mailto:cinemagsforum@yahoogroups.com]
      > On Behalf Of Dimas Riyo Kusumo
      > Sent: 30 September 2011 3:43
      > To: cinemagsforum@yahoogroups.com
      > Subject: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review
      >
      >
      > JULIA’S EYES
      >
      > Saya nggak tau dengan anda, tapi saya suka ngerasa mesakne (alias kasihan,
      > dalam bahasa Prancis Kromo Inggil) kalo ngeliat kondisi cewek-cewek inceran
      > psikopat/dedemit/mertua jahat di film-film thriller (atau bahasa Jawa nya,
      > damsel in distress). Pertama, walaupun si cewek ini cantik, baik hati dan
      > rajin taraweh, gak bakal ada satu orangpun dari sahabat, guru dosen, polisi
      > sampe hansip yang bakal percaya sama semua omongannya. Ini terbukti terjadi
      > di nyaris setiap film thriller. Si cewek bisa aja jadi saksi tunggal
      > pembunuhan seorang siswa SMA oleh Nyi Roro Kidul di lantai disko atau dapat
      > penglihatan ala Final Destination bahwa Jakarta akan banjir setiap lima
      > tahun sekali, namun sahabat, polisi, sampai suami yang sudah bertahun-tahun
      > menikah dengan harmonis nya pun tidak akan percaya. Mekanisme kayak gini
      > mungkin emang perlu, demi supaya agar, pertama, si tokoh cewek bisa berubah
      > menjadi sosok mandiri dan kuat. Penonton pastinya akan langsung berada di
      > belakang sang tokoh utama dan mendukung seluruh aksi-aksinya dalam menguak
      > kebenaran (go go Power Rangers!). Namun ini juga berarti, mengingat bahwa
      > tiada ada satu orang pun yang percaya pada kesaksian sang damsel in
      > distress, wanita malang tersebut akan dipaksa oleh plot ala thriller untuk
      > pergi kemana-mana sendirian. Ngecek stasiun kereta api malem-malem,
      > sendirian. Ngecek asal-usul pembunuh/setan sendirian bahkan sampe masuk ke
      > WC umum aja sendirian. Ini kan sudah keterlaluan namanya. Tapi, seperti
      > kata-kata bijak orang Barat yang berbunyi: Curiosity killed the cat atau
      > yang artinya “jangan kebanyakan nanya jadi kucing.” Becanda ding. Artinya
      > kira-kira “Jangan banyak nanya lah kalo gak mau celaka,” sang pemeran utama
      > wanita ini niscaya akan mendapatkan teror teror badaniah batiniah luar dalem
      > dunia akherat atas keberanian dan rasa penasarannya itu. Those are
      > inevitable in thrillers. Karena, menurut gua, what makes thrillers tick are,
      > among others: (1) Kesendirian/Terisolasi, dan (2) Ketidaktahuan (sisanya
      > tinggal diisi sendiri sesuai selera anda. Kemudian tiriskan. Sajikan selagi
      > hangat.) Nah, di dalam film Spanyol berjudul Julia’s Eyes (Bahasa Spanyol
      > nya Los Ojos De Julia—ini beneran) bikinan dua sutradara bernama Guillem
      > Morales dan Oriol Paulo (terimakasih imdb) dan diproduseri oleh sang maestro
      > asal Sumatera Utara, Guillermo Del Toro, semua situasi film thriller
      > dimasukin semuanya—and then some. Kalo penonton disuruh megang catatan yang
      > berisi tick boxes adegan-adegan wajib film thriller, niscaya semua kotak nya
      > kecontreng sehabis nonton film ini. Pertanyaan selanjutnya: Is that a bad
      > thing? Not necessarily. In fact, dengan banyaknya adegan dan situasi film
      > thriller, Julia’s Eyes menjadi sangat, sangat, mengasyikan.
      >
      > Nggak percaya? Mari siapkan buku catatan anda selagi mendengarkan plot film
      > ini. Seorang wanita bernama Julia (diperankan oleh aktris Belen Rueda)
      > menemukan saudara kembarnya yang bernama Sara (diperankan juga oleh Belen
      > Rueda) tewas gantung diri di basement rumahnya. Seperti kisah thriller dan
      > misteri pada umumnya, kematian sang saudara kembar ini tidak seperti apa
      > yang kita kira sebelumnya. Dan Julia tahu ini. Dia merasa saudaranya tidak
      > bunuh diri, tapi dibunuh oleh seseorang. Atau sesuatu. Tentu saja seperti
      > kisah-kisah tegang lainnya, proses penguakan misterinya harus dibikin ribet.
      > Sudahkah saya bilang kalau Julia bermasalah dengan indera penglihatannya?
      > Dalam kisah ini, baik Julia maupun mendiang saudaranya, Sara, menderita
      > kelainan pada indera penglihatan mereka, yang membuat daya pandang mereka
      > perlahan-lahan menurun seiring berjalannya waktu, menuju kebutaan. Dan oh,
      > stress dan panik hanya akan membuat proses kebutaan ini semakin cepat. Ah,
      > Julia, you are so screwed. Saat Julia menceritakan kecurigaannya pada
      > suaminya, sang suami, sebagaimana pasangan yang penyayang dan berpedoman
      > pada sila Persatuan yang Adil dan Beradab, tidak mengindahkan keluh kesah
      > sang istri. Pundung, Julia pun melakukan riset sendiri. Tapi tentu riset-nya
      > tidak gampang karena semua orang yang ditemui Julia, dari mulai tetangga,
      > pelayan, sampe anak jin sekalipun, semuanya bertingkah misterius. It’s like
      > they know more than they are saying. Sama lah tingkahnya kayak ngebayangin
      > Christoper Nolan ngomong:
      >
      > “Selamat datang di press junket lanjutan film the Dark Knight. Saya bisa
      > katakan di sini bahwa di film ini akan ada kejutan gila-gilaan. Salah
      > satunya adalah kemunculan KEMBALI dari MUSUH UTAMA, BEBUYUTAN Batman, yaitu,
      > ADALAH—YAK cukup sampai di sini saja press junket hari ini.Sekian dan
      > wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
      > Para penonton pun langsung adu cakar-cakaran. Ini lah perasaan yang berhasil
      > diciptakan oleh sang pembuat film terhadap tokoh Julia dan para penonton.
      > Sepanjang masa putar film, Julia dan penonton dibuat pengen ngedangdut:
      > “sungguh mati aku jadi penasaraaaaaan.....” karena plot dan kondisinya
      > seperti disalin dari buku Thriller 101 (if there is such thing) sebagaimana
      > dijelaskan di atas. Tapi ini nggak berarti film Julia’s Eyes ini menjadi
      > jelek karena semua tergantung skill para pembuatnya (termasuk pemainnya).
      > Oke, anggaplah begini. Pada masa sekolah, pernahkah anda membiarkan teman
      > sebangku anda mencontek jawaban-jawaban ujian anda tahu-tahu dia mendapatkan
      > nilai lebih bagus dari anda? Ditambah lagi dia dapat beasiswa penuh ke
      > universitas ternama di Bandung dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan
      > multinasional di Jakarta? (that mother fumbling scheming conniving little
      > sh—ampe di mana tadi??) Nah, duo sutradara Julia’s Eyes, Guillem Morales dan
      > Oriol Paulo ini bisa diibaratkan sebagai teman atau mantan teman anda itu.
      > Hasil kerjaannya banyak nyalin tapi hasilnya lebih bagus daripada
      > thriller-thriller kebanyakan. Padahal bahan-bahannya juga dari
      > thriller-thriller kebanyakan (contoh: dalam setiap kesempatan, tokoh
      > ceweknya selalu ditinggal sendirian sama sang suami entah si suami bilang
      > “aku ambil kopor di parkiran dulu ya, kamu tunggu aja di hotel yang ada
      > pelayan creepy nya ini” dan bahkan setelah sampai di parkiran, “Nah sekarang
      > kamu tunggu di mobil, di parkiran ini ya. Aku mau ngomong sama satpamnya.”
      > Mbok ya diajak aja gitu istrinya. Kasian itu lagi ketakutan! Di film ini
      > juga masih ada penyakit di kala klimaks film, yaitu Penduduk Komplek
      > Perumahan yang Kayaknya Pada Mudik Lebaran Semua Sampe-Sampe Gak Bisa
      > Mendengar Pemeran Utama Jerit-Jerit Diserang Pembunuh/Setan/Tukang Es dan
      > bapak-bapak polisi yang kelakuannya sungguh mirip ciri-ciri orang hamil:
      > Telat Datangnya.) Tapi satu hal yang saya bisa jamin—anda gak bakal bisa
      > menebak dalang/pelaku/setan-nya siapa di film ini. Saya berani garansi
      > (*syarat dan ketentuan berlaku). Hal yang paling berhasil dari film ini
      > adalah unsur misteri nya. Dan pay off nya pun tegang dan memuaskan. Kalo
      > film ini diibaratkan humor, punch line nya nendang.
      >
      > Salah satu pilar kekuatan Julia’s Eyes adalah pemeran utamanya, Belen Rueda.
      > Selain film Spanyol The Orphanage (film horor yang juga creepy mampus yang
      > juga diproduseri oleh Bang Toro (Guillermo Del Toro that is)), saya belum
      > nonton film-film dia yang lainnya. Tapi cukuplah kalau saya bilang pelakon
      > ini sungguh mantap memainkan sosok wanita yang di satu sisi, berdeterminasi
      > tinggi, tapi juga penuh dengan ketakutan—karena penglihatannya yang semakin
      > lama semakin memburuk (tunggu sampai film ini menempatkan anda di point of
      > view Julia, yang buram dan obskur. Bohong namanya kalo nggak ngeri ngeliat
      > sosok bayangan yang berdiri di ujung ruangan gelap—menunggu untuk menyerang
      > Julia/Anda).
      >
      > Anyway Kolong WayWay, saya ucapkan salut pada duo sutradaranya, dan sang
      > produser Guillermo Del Toro yang sukses menelurkan film misteri/thriller
      > yang sangat bertunangan alias engaging. It’s like as if those guys had
      > cunningly set up mouse traps along the maze for us to step on and made sure
      > that we like it.
      >
      > Well, at least I do.
      >
      >
      > Chiro
      >
      >
      >
      > :BCA:
      >

    • Dimas Riyo Kusumo
      Huahaha. Tengkyu Mas Handa. Blog gua jarang di update tapi kalau mau lihat bisa di klik di sini: http://www.ngupilkualat.blogspot.com From:
      Message 2 of 13 , Oct 1, 2011
      • 0 Attachment

        Huahaha. Tengkyu Mas Handa. Blog gua jarang di update tapi kalau mau lihat bisa di klik di sini: http://www.ngupilkualat.blogspot.com

         

        From: cinemagsforum@yahoogroups.com [mailto:cinemagsforum@yahoogroups.com] On Behalf Of handa72@...
        Sent: Saturday, October 01, 2011 7:43 AM
        To: cinemagsforum@yahoogroups.com
        Subject: Re: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

         

         

        Chiro is back!!!!

        Jadi pengen baca arsip review2 nya chiro yg dulu2....

        Btw buat chiro.... Bagi alamat blog nya dunk... Mau subscribe neh....

        Sent from my blackberry


        From: "Dimas Riyo Kusumo" <dio_chiro228@...>

        Sender: cinemagsforum@yahoogroups.com

        Date: Fri, 30 Sep 2011 17:09:01 +0100

        To: <cinemagsforum@yahoogroups.com>

        ReplyTo: cinemagsforum@yahoogroups.com

        Subject: RE: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

         

         

        Thanks Meli, Dian dan Happy. Eh tapi lucu juga kali ya kalo ada ada tukang review film ala stand up gitu.Lucu juga kan kalo diadakan tiap weekend di Blitz misalkan? Kan konsepnya Beyond Movies?

         

        From: cinemagsforum@yahoogroups.com [mailto:cinemagsforum@yahoogroups.com] On Behalf Of meliawati mail
        Sent: Friday, September 30, 2011 11:51 AM
        To: cinemagsforum@yahoogroups.com
        Subject: Re: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review

         

         

        Ampun, ampuuunnn....sakit muka gw baca reviewnya si Chiro ini,
        gara-gara kebanyakan ketawanya..sempet lupa tadi , ini film yang
        direview apaan yak tadi? horor apa komedi?
        gw jadi ngebayangin dia bacain review ini live, ala stand up comedy
        gitu..wkwkwk...

        Great review, very entertaining! Must see the movie prove all the
        funny renditions. LMAO !

        Cheers,
        -Meli-

        On 9/30/11, DIAN STEVANUS PAULANA <dian_stevanus@...> wrote:
        >
        > OMG.. reviewnya bagus dan lucu gilaaaaa... LOL.. LOL again.. ☺ ☺ salut,
        > salut buat Chiro.. belum pernah gw ketawa sekenceng ini..
        >
        >
        > From: cinemagsforum@yahoogroups.com [mailto:cinemagsforum@yahoogroups.com]
        > On Behalf Of Dimas Riyo Kusumo
        > Sent: 30 September 2011 3:43
        > To: cinemagsforum@yahoogroups.com
        > Subject: [cinemagsforum] Julia's Eyes - The Review
        >
        >
        > JULIA’S EYES
        >
        > Saya nggak tau dengan anda, tapi saya suka ngerasa mesakne (alias kasihan,
        > dalam bahasa Prancis Kromo Inggil) kalo ngeliat kondisi cewek-cewek inceran
        > psikopat/dedemit/mertua jahat di film-film thriller (atau bahasa Jawa nya,
        > damsel in distress). Pertama, walaupun si cewek ini cantik, baik hati dan
        > rajin taraweh, gak bakal ada satu orangpun dari sahabat, guru dosen, polisi
        > sampe hansip yang bakal percaya sama semua omongannya. Ini terbukti terjadi
        > di nyaris setiap film thriller. Si cewek bisa aja jadi saksi tunggal
        > pembunuhan seorang siswa SMA oleh Nyi Roro Kidul di lantai disko atau dapat
        > penglihatan ala Final Destination bahwa Jakarta akan banjir setiap lima
        > tahun sekali, namun sahabat, polisi, sampai suami yang sudah bertahun-tahun
        > menikah dengan harmonis nya pun tidak akan percaya. Mekanisme kayak gini
        > mungkin emang perlu, demi supaya agar, pertama, si tokoh cewek bisa berubah
        > menjadi sosok mandiri dan kuat. Penonton pastinya akan langsung berada di
        > belakang sang tokoh utama dan mendukung seluruh aksi-aksinya dalam menguak
        > kebenaran (go go Power Rangers!). Namun ini juga berarti, mengingat bahwa
        > tiada ada satu orang pun yang percaya pada kesaksian sang damsel in
        > distress, wanita malang tersebut akan dipaksa oleh plot ala thriller untuk
        > pergi kemana-mana sendirian. Ngecek stasiun kereta api malem-malem,
        > sendirian. Ngecek asal-usul pembunuh/setan sendirian bahkan sampe masuk ke
        > WC umum aja sendirian. Ini kan sudah keterlaluan namanya. Tapi, seperti
        > kata-kata bijak orang Barat yang berbunyi: Curiosity killed the cat atau
        > yang artinya “jangan kebanyakan nanya jadi kucing.” Becanda ding. Artinya
        > kira-kira “Jangan banyak nanya lah kalo gak mau celaka,” sang pemeran utama
        > wanita ini niscaya akan mendapatkan teror teror badaniah batiniah luar dalem
        > dunia akherat atas keberanian dan rasa penasarannya itu. Those are
        > inevitable in thrillers. Karena, menurut gua, what makes thrillers tick are,
        > among others: (1) Kesendirian/Terisolasi, dan (2) Ketidaktahuan (sisanya
        > tinggal diisi sendiri sesuai selera anda. Kemudian tiriskan. Sajikan selagi
        > hangat.) Nah, di dalam film Spanyol berjudul Julia’s Eyes (Bahasa Spanyol
        > nya Los Ojos De Julia—ini beneran) bikinan dua sutradara bernama Guillem
        > Morales dan Oriol Paulo (terimakasih imdb) dan diproduseri oleh sang maestro
        > asal Sumatera Utara, Guillermo Del Toro, semua situasi film thriller
        > dimasukin semuanya—and then some. Kalo penonton disuruh megang catatan yang
        > berisi tick boxes adegan-adegan wajib film thriller, niscaya semua kotak nya
        > kecontreng sehabis nonton film ini. Pertanyaan selanjutnya: Is that a bad
        > thing? Not necessarily. In fact, dengan banyaknya adegan dan situasi film
        > thriller, Julia’s Eyes menjadi sangat, sangat, mengasyikan.
        >
        > Nggak percaya? Mari siapkan buku catatan anda selagi mendengarkan plot film
        > ini. Seorang wanita bernama Julia (diperankan oleh aktris Belen Rueda)
        > menemukan saudara kembarnya yang bernama Sara (diperankan juga oleh Belen
        > Rueda) tewas gantung diri di basement rumahnya. Seperti kisah thriller dan
        > misteri pada umumnya, kematian sang saudara kembar ini tidak seperti apa
        > yang kita kira sebelumnya. Dan Julia tahu ini. Dia merasa saudaranya tidak
        > bunuh diri, tapi dibunuh oleh seseorang. Atau sesuatu. Tentu saja seperti
        > kisah-kisah tegang lainnya, proses penguakan misterinya harus dibikin ribet.
        > Sudahkah saya bilang kalau Julia bermasalah dengan indera penglihatannya?
        > Dalam kisah ini, baik Julia maupun mendiang saudaranya, Sara, menderita
        > kelainan pada indera penglihatan mereka, yang membuat daya pandang mereka
        > perlahan-lahan menurun seiring berjalannya waktu, menuju kebutaan. Dan oh,
        > stress dan panik hanya akan membuat proses kebutaan ini semakin cepat. Ah,
        > Julia, you are so screwed. Saat Julia menceritakan kecurigaannya pada
        > suaminya, sang suami, sebagaimana pasangan yang penyayang dan berpedoman
        > pada sila Persatuan yang Adil dan Beradab, tidak mengindahkan keluh kesah
        > sang istri. Pundung, Julia pun melakukan riset sendiri. Tapi tentu riset-nya
        > tidak gampang karena semua orang yang ditemui Julia, dari mulai tetangga,
        > pelayan, sampe anak jin sekalipun, semuanya bertingkah misterius. It’s like
        > they know more than they are saying. Sama lah tingkahnya kayak ngebayangin
        > Christoper Nolan ngomong:
        >
        > “Selamat datang di press junket lanjutan film the Dark Knight. Saya bisa
        > katakan di sini bahwa di film ini akan ada kejutan gila-gilaan. Salah
        > satunya adalah kemunculan KEMBALI dari MUSUH UTAMA, BEBUYUTAN Batman, yaitu,
        > ADALAH—YAK cukup sampai di sini saja press junket hari ini.Sekian dan
        > wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
        > Para penonton pun langsung adu cakar-cakaran. Ini lah perasaan yang berhasil
        > diciptakan oleh sang pembuat film terhadap tokoh Julia dan para penonton.
        > Sepanjang masa putar film, Julia dan penonton dibuat pengen ngedangdut:
        > “sungguh mati aku jadi penasaraaaaaan.....” karena plot dan kondisinya
        > seperti disalin dari buku Thriller 101 (if there is such thing) sebagaimana
        > dijelaskan di atas. Tapi ini nggak berarti film Julia’s Eyes ini menjadi
        > jelek karena semua tergantung skill para pembuatnya (termasuk pemainnya).
        > Oke, anggaplah begini. Pada masa sekolah, pernahkah anda membiarkan teman
        > sebangku anda mencontek jawaban-jawaban ujian anda tahu-tahu dia mendapatkan
        > nilai lebih bagus dari anda? Ditambah lagi dia dapat beasiswa penuh ke
        > universitas ternama di Bandung dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan
        > multinasional di Jakarta? (that mother fumbling scheming conniving little
        > sh—ampe di mana tadi??) Nah, duo sutradara Julia’s Eyes, Guillem Morales dan
        > Oriol Paulo ini bisa diibaratkan sebagai teman atau mantan teman anda itu.
        > Hasil kerjaannya banyak nyalin tapi hasilnya lebih bagus daripada
        > thriller-thriller kebanyakan. Padahal bahan-bahannya juga dari
        > thriller-thriller kebanyakan (contoh: dalam setiap kesempatan, tokoh
        > ceweknya selalu ditinggal sendirian sama sang suami entah si suami bilang
        > “aku ambil kopor di parkiran dulu ya, kamu tunggu aja di hotel yang ada
        > pelayan creepy nya ini” dan bahkan setelah sampai di parkiran, “Nah sekarang
        > kamu tunggu di mobil, di parkiran ini ya. Aku mau ngomong sama satpamnya.”
        > Mbok ya diajak aja gitu istrinya. Kasian itu lagi ketakutan! Di film ini
        > juga masih ada penyakit di kala klimaks film, yaitu Penduduk Komplek
        > Perumahan yang Kayaknya Pada Mudik Lebaran Semua Sampe-Sampe Gak Bisa
        > Mendengar Pemeran Utama Jerit-Jerit Diserang Pembunuh/Setan/Tukang Es dan
        > bapak-bapak polisi yang kelakuannya sungguh mirip ciri-ciri orang hamil:
        > Telat Datangnya.) Tapi satu hal yang saya bisa jamin—anda gak bakal bisa
        > menebak dalang/pelaku/setan-nya siapa di film ini. Saya berani garansi
        > (*syarat dan ketentuan berlaku). Hal yang paling berhasil dari film ini
        > adalah unsur misteri nya. Dan pay off nya pun tegang dan memuaskan. Kalo
        > film ini diibaratkan humor, punch line nya nendang.
        >
        > Salah satu pilar kekuatan Julia’s Eyes adalah pemeran utamanya, Belen Rueda.
        > Selain film Spanyol The Orphanage (film horor yang juga creepy mampus yang
        > juga diproduseri oleh Bang Toro (Guillermo Del Toro that is)), saya belum
        > nonton film-film dia yang lainnya. Tapi cukuplah kalau saya bilang pelakon
        > ini sungguh mantap memainkan sosok wanita yang di satu sisi, berdeterminasi
        > tinggi, tapi juga penuh dengan ketakutan—karena penglihatannya yang semakin
        > lama semakin memburuk (tunggu sampai film ini menempatkan anda di point of
        > view Julia, yang buram dan obskur. Bohong namanya kalo nggak ngeri ngeliat
        > sosok bayangan yang berdiri di ujung ruangan gelap—menunggu untuk menyerang
        > Julia/Anda).
        >
        > Anyway Kolong WayWay, saya ucapkan salut pada duo sutradaranya, dan sang
        > produser Guillermo Del Toro yang sukses menelurkan film misteri/thriller
        > yang sangat bertunangan alias engaging. It’s like as if those guys had
        > cunningly set up mouse traps along the maze for us to step on and made sure
        > that we like it.
        >
        > Well, at least I do.
        >
        >
        > Chiro
        >
        >
        >
        > :BCA:
        >

      • Handa
        @chiro: gw dah buka, baca n subscribe blog nya.... iya kok dikit ya isi nya? terus ada bbrp film horror indonesia yg dulu sempat di-posting di milis ini gak
        Message 3 of 13 , Oct 1, 2011
        • 0 Attachment
          @chiro:

          gw dah buka, baca n subscribe blog nya....
          iya kok dikit ya isi nya? terus ada bbrp film horror indonesia yg dulu
          sempat di-posting di milis ini gak ada di blog nya.... padahal sumpah
          lucu banget.... kalo gak salah diantaranya itu horror buatannya hary
          dagoe deh..... itu bener2 bikin gw sampe sakit perut bacanya saking
          lucunya......
          mungkin anggota2 baru milis ini yang terkesima dengan review julia's
          eyes akan lebih terkesima lagi karena review julia's masih gak
          seberapa gokil dibandingin posting2 chiro yg dulu2....

          eniwei, sering2 bikin ulasan se-gokil ini ya bro......

          smoga ada yg mau bikin novel nya..... watch out raditya dika.....!!!!


          On 10/1/11, Dimas Riyo Kusumo <dio_chiro228@...> wrote:
          > Huahaha. Tengkyu Mas Handa. Blog gua jarang di update tapi kalau mau lihat
          > bisa di klik di sini: http://www.ngupilkualat.blogspot.com
          >
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.