Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kau Mau Menghapusku?

Expand Messages
  • Denmas Marto
    Eternal Sunshine of the Spotless Mind Kau Mau Menghapusku? Kalau ada polling judul-film terindah sepanjang masa, aku pilih film ini. Mengucapkannya saja bikin
    Message 1 of 1 , Apr 1, 2005
    • 0 Attachment
      Eternal Sunshine of the Spotless Mind
      Kau Mau Menghapusku?

      Kalau ada polling judul-film terindah sepanjang masa, aku pilih film
      ini. Mengucapkannya saja bikin mabuk, melambungkan imajinasi dalam
      ketakjuban magis: langgeng, jernih, tak bercela -- citra-citra elok yang
      tepatnya bukan dari dunia ini, yang mesti dihayati dalam ruang
      pengharapan. Dan film ini bertutur tentang sesuatu yang indah -- ya,
      Anda tentu sudah menduganya: cinta.

      Itulah yang kubayang-bayangkan sebelum menontonnya, setelah membaca
      sejumlah ulasan atas film ini. Namun, mungkinkah mengharapkan kecantikan
      romantis A Walk in the Clouds dari film yang digarap berdasarkan
      skenario Charlie Kaufman?

      Memang tidak. Karena Eternal Sunshine of the Spotless Mind malah
      mengobrak-abrik konvensi cerita cinta. Film ini tidak bertutur tentang
      cowok bertemu dengan cewek, cowok bertengkar dengan cewek, berpisah
      lantas, setelah beberapa liukan plot, akur lagi. Film ini ingin
      orisinil, memaparkan apa yang belum sempat dituturkan. Film ini bertutur
      tentang apa yang mungkin pernah diinginkan oleh orang-orang yang pernah
      jatuh cinta, namun terlampau rumit membayangkannya: ya, apa yang terjadi
      seandainya kita bisa menghapuskan kenangan akan si dia?

      Saat kita jatuh cinta terjadilah pertukaran. Warna rambutku menjadi
      bagian dari kenanganmu. Kecanggunganmu menjadi bagian dari kejemuanku.
      Itulah yang terjadi. Seperti dialami Joel (Jim Carrey, menyuguhkan
      aktingnya yang paling terkontrol, setingkat di atas The Truman Show) dan
      Clementine (Kate Winslet yang selalu mantap) setelah pertemuan tidak
      istimewa di Montauk, sebuah daerah berpantai, pada sebuah musim dingin
      yang memboyakkan dan mengajakmu membolos kerja. Mereka segera jatuh
      cinta. Mereka juga segera menemukan: bahwa perbedaan satu sama lain
      rasanya terlalu melelahkan untuk dikelola.

      Clementine pun mendatangi Lacuna Inc. Apakah lacuna? Kata bahasa Latin
      ini kalau tidak salah berarti rongga, hampa, ceruk -- bayangkanlah kolam
      atau danau. Secara kiasan, bisa dimaknai sebagai kekurangan, kerugian
      atau kesenjangan. Secara medis, bisa mengacu pada perusakan otak --
      prosedur yang dijalani Clementine untuk menghapuskan Joel dari benaknya.


      Ketika mengetahuinya, seriklah hati Joel. Apalagi yang bisa dilakukannya
      kecuali mengikuti jejak Clementine? Mendatangi Lacuna, ia disambut oleh
      Mary (Kirsten Dunst, bukan lagi MJ-nya Spiderman), dipertemukan dengan
      dokter Howard (Tom Wilkinson), untuk kemudian diserahkan pada dua
      "teknisi" tengil, Stan (Mark Ruffalo) dan Patricak (Elijah Wood,
      melepaskan bayang-bayang Frodo), yang akan mengerjakan prosedur
      penghapusan pikiran.

      Dalam keadaan tak sadar, saat kenangan berbaur dengan impian,
      berlangsunglah keganjilan (dan di sinilah sinematografi dan editing
      mencapai puncak keelokannya). Di tengah jalan, nyatanya, Joel tak pengin
      menghapuskan seluruh kenangan akan Clementine. Masih ada senyum yang
      hendak ia ingat, masih ada kehangatan yang masih mau ia dekap. Bisakah
      ia menembus lapisan kesadarannya sendiri dan menghentikan prosedur yang
      bekerja secara dingin itu?

      Kenangan kita akan orang lain rupanya baru separuh cerita. Percuma kalau
      kita menghapuskannya secara sepihak karena masih ada kenangan orang lain
      akan kita. Percuma -- karena orang itu bisa menyembunyikan Anda ke
      sudut-sudut kenangannya, ke tempat-tempat yang belum pernah Anda
      kunjungi. Begitulah, Joel berpetak umpet dengan komputer untuk
      menghidupkan kembali kenangan akan dirinya pada diri Clementine -- atau
      kira-kira seperti itu.

      Yang jelas, cinta rupanya lebih rumit daripada sekadar kenangan. Ia
      bukan seperti lembaran-lembaran naskah yang dengan gampang bisa kita
      pilih untuk kita arsipkan atau kita bakar. Kenangan mungkin melekat di
      otak, di pikiran, namun di manakah dia berakar? Kenapa Patrick justru
      memanfaatkan cara-cara (baca: kenangan akan) Joel -- kalau benar
      kenangan itu telah dihapus -- untuk merayu Clementine? Jadi, sisa apa
      yang ditinggalkan oleh kenangan yang dihapuskan? Getar-getar yang
      berpendar bukan di pikiran, namun menyuruk jauh di dalam relung hati.
      Barangkali.

      Kalau begitu? Eternal sunshine of the spotless mind agaknya kita alami
      justru dengan merengkuh seluruh kenangan. Ia bukan lagi ditentukan oleh
      kenangan-kenangan itu, melainkan oleh cara kita memandang
      kenangan-kenangan itu. Spotless mind adalah ketika lembaran yang
      bernoktah terkenang sebagai bersih cemerlang. Ketika nada-nada sumbang
      terngiang sebagai harmoni sebuah orkestra. Ini bukan kebutaan atau
      ketulian: melainkan karena kita memilih untuk tetap mencintai meskipun
      menyadari segala noktah dan nada sumbang yang mungkin menggayuti
      hubungan kita.

      Saat film berakhir, Joel dan Clementine kelihatannya mulai belajar hal
      itu. Jadi, tak lagi penting apakah mereka kelak live happily ever after
      atau tidak. *** (31/03/2005)

      ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND. Sutradara: Michael Gondry.
      Skenario: Charlie Kaufman. Pemain: Jim Carrey, Kate Winslet, Kirsten
      Dunst, Tom Wilkinson, Elijah Wood, Mark Ruffalo. Asal/Tahun: AS, 2004.

      Catatan Denmas Marto | Puisi, Fiksi, Renungan, Film, Buku, Artikel
      http://www.geocities.com/denmasmarto
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.