Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Resensi:Ekosistem dan Ekonomi

Expand Messages
  • M akbar Wijaya
    MARET 1978 suatu pagi. Emil Salim menerima telepon dari ajudan Presiden Soeharto. Dia diminta menemui presiden di Pelabuhan Tanjung Priok. Emil Salim segera
    Message 1 of 1 , Dec 1, 2010
    • 0 Attachment
      MARET 1978 suatu pagi. Emil Salim
      menerima telepon dari ajudan Presiden Soeharto. Dia diminta menemui
      presiden di Pelabuhan Tanjung Priok. Emil Salim segera meluncur.
      Setibanya, dia dibawa masuk ke dalam kapal motor. Soeharto sudah
      menunggu.

      “Dahulu saya suka memancing di teluk
      Jakarta, tapi sekarang terpaksa harus lebih ke dalam Selat Sunda
      menjauhi Jakarta,” ujar Soeharto.

      “Cobalah lihat,” Soeharto menunjuk pekat
      dan hitamnya air laut yang dijejali sampah, kotoran dan buangan minyak,
      “pembangunan baru berjalan sepuluh tahun, tetapi sampah dan limbah
      sudah membunuh ikan-ikan di laut. Bagaimana nanti kalau kita mulai
      membangun industri? Akan musnahkah kehidupan lautan kita?”

      “Saya meminta jij [“anda” dalam
      bahasa Belanda] membantu saya menangani lingkungan hidup, mencegah
      jangan sampai alam kita rusak. Kita harus wujudkan pembangunan tanpa
      merusak lingkungan.”

      “Saya ekonom, Pak. Saya mengerti sedikit tentang ekonomi. Tapi tentang lingkungan ekologi saya tidak paham,” ujar Emil Salim.

      Soeharto lalu bercerita dengan serius.

      “Dulu di masa kecil saya suka bermain di
      hutan Wonosari yang masih penuh dengan monyet, ular dan pepohonan. Kini
      hutan itu sudah gundul. Dulu saya suka mandi dan membersihkan kerbau di
      sungai yang jernih. Kini sungai itu sudah kotor dan berwarna coklat.
      Kampung kini sudah rusak lingkungannya sedangkan pembangunan belum
      seberapa. Dan masih banyak yang harus kita bangun. Tugasmu mengembangkan
      pola pembangunan tanpa merusak lingkungan. Lagipula bukankah ekonomi
      berbicara tentang rumahtangga manusia dan ekologi tentang rumahtangga
      alam?” ujar Soeharto meyakinkan.

      Mendengar cerita itu Emil Salim tak berdaya untuk menolak. Jadilah dia Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

      Perkenalan pertama Emil Salim dengan isu
      lingkungan hidup bermula ketika Juni 1972 Soeharto menugaskannya
      memimpin delegasi Indonesia untuk menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup
      Sedunia (UNCHE) pertama di Stockholm, Swedia. Tapi pekerjaan kali ini
      jelas lebih pelik dan rumit. Pesan Soeharto untuk “merencanakan
      pembangunan tanpa merusak lingkungan” bukanlah perkara mudah. Dalam
      benak Emil Salim, pembangunan suatu negara berkaitan erat dengan
      pertumbuhan ekonomi rakyat. Dalam proses itu moda sarana teknologi
      pembangunan sering mengorbankan sisi ekologi dan kelestarian alam.
      Ibarat buah simalakama, Emil Salim dihadapkan pada persoalan dilematis.

      http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-358-ekosistem-dan-ekonomi.html
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.