Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [BukuKita] Bangsa Pemarah

Expand Messages
  • donny widjaja
    Setuju sekali dengan yang anda paparkan. Terlebih lagi jika pemerintah mendiamkan ormas tertentu bertindak sebagai mafia dengan kedok agama, padahal uang yang
    Message 1 of 3 , Sep 29, 2010
    • 0 Attachment
      Setuju sekali dengan yang anda paparkan. Terlebih lagi jika pemerintah mendiamkan ormas tertentu bertindak sebagai mafia dengan kedok agama, padahal uang yang menjadi tujuan utamanya.

      --- On Thu, 30/9/10, iin hermiyanto <hermiyanto_i@...> wrote:

      From: iin hermiyanto <hermiyanto_i@...>
      Subject: [BukuKita] Bangsa Pemarah
      To: "ikatanguruindonesia" <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>, "klub guru" <klubguruindonesia@yahoogroups.com>, "forum guru annisaa" <forumguruannisaa@yahoogroups.com>, "pustekkom pustekkom" <pustekkom@yahoogroups.com>, "pakguru" <pakguruonline@yahoogroups.com>, forum-pendidikan@yahoogroups.com, "bukukita" <bukukita@yahoogroups.com>
      Date: Thursday, 30 September, 2010, 8:30 AM







       









      KEKERASAN, kebrutalan, dan kerusuhan adalah tanda paling nyata sebuah

      masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehat. Yang dipamerkan

      justru emosi dan senjata. Yang diagungkan adalah kehendak menang sendiri

      bahkan dengan cara membunuh.



      Hal sepele saja bisa menyulut kebrutalan yang berakibat fatal dan

      menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda. Itulah yang sedang

      kita saksikan hari-hari ini di seantero negeri. Kerusuhan di Tarakan,

      Kalimantan Timur, merenggut tiga nyawa serta melukai puluhan lainnya.

      Ribuan perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi dan mencari tempat

      berlindung di kantor polisi atau markas tentara serta tempat-tempat

      ibadah.



      Tak hanya di Tarakan. Di Jakarta, dua kubu preman berseteru saling

      menyerang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tiga nyawa

      melayang sia-sia. Mereka seolah tak peduli imbauan Presiden Susilo

      Bambang Yudhoyono yang prihatin atas berbagai kerusuhan di Tanah Air.



      Kini bangsa ini menjadi bangsa pemarah. Kita kehilangan kemampuan

      bertoleransi. Kohesitas di antara beragam etnik kian renggang dan malah

      bersalin dengan semangat saling membantai, saling membunuh.



      Tragedi Tarakan yang berlangsung sejak Minggu (26/9) hingga kemarin

      adalah bukti kegagalan negara mengantisipasi. Padahal bukan baru sekali

      ini peristiwa bentrokan antaretnik muncul. Kita memiliki banyak

      pengalaman konflik antaretnik, tetapi kita tidak belajar dari pengalaman

      itu.



      Ada kasus kerusuhan antaretnik di Sampit, Kalimantan Tengah,

      beberapa tahun silam yang banyak menelan korban jiwa. Juga ada kasus

      Poso (Sulawesi Tengah), Ambon, Abepura (Papua), dan sejumlah tempat

      lain. Semuanya menebarkan maut dan amis darah.



      Semua itu menyebabkan masyarakat setempat hidup dalam trauma, saling

      curiga dan tidak percaya sesama anak bangsa. Dan sekarang hal yang

      memprihatinkan itu terjadi di Tarakan.



      Ada banyak faktor yang menyulut pecahnya konflik itu. Sebagian penyebabnya adalah rebutan penguasaan sumber daya ekonomi.



      Para pendatang menguasai sumber daya ekonomi tertentu dan

      menyingkirkan sumber daya ekonomi masyarakat lokal. Hal itu menimbulkan

      iritasi sosial kemudian meledak menjadi kerusuhan.



      Bentrokan mestinya dapat dicegah jika aparat negara sigap membaca

      fenomena dan tangkas melakukan antisipasi. Bentrokan antarkubu preman di

      Jakarta Selatan kemarin, misalnya, tanda-tandanya telah terjadi pekan

      lalu. Tetapi aparat lalai, alpa, atau tidak peduli. Setelah korban

      berjatuhan, barulah polisi datang.



      Pemerintah tidak boleh mendiamkan dan hanya sibuk memoles citra.

      Aparat negara tidak boleh menyepelekan kemudian lalai mengantisipasi.

      Harus ada ketegasan. Kerusuhan tidak bisa diselesaikan dengan pidato.



      Kita gemas melihat preman lebih berkuasa daripada aparat negara.

      Mereka leluasa menenteng samurai, parang, dan kelewang di jalan-jalan di

      tengah kota, mencari musuh, tanpa dilucuti polisi. Mereka bahkan

      memiliki senjata api dan melepaskan tembakan. Saling membunuh dan tidak

      bersikap toleran adalah budaya paling primitif dari sebuah peradaban.

      Ternyata bangsa ini belum juga beranjak dari situ.



      Dikuip dari Editorial Media Indonesia



      Sebagai tambahan: Konflik, pertikaian dan bentrkan yang terjadi tak lepas dari contoh dan model prilaku para pejabat dalam cara menangani masalah internalnya, dan itu disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia. berikutnya, faktor kondisi sosiologis masyarakat kita yang masih terpuruk kemiskinan dan banyaknya pengangguran menjadikan orang mudah terpancing emosi sehingga menimbulkan banyak friksi dan gesekan dan muaranya adalah bentrokan. Aparat hukum yang lamban dan tidak tegas menangani pelaku kekerasan juga bisa dilihat sebagai keberpihakan oleh masyarakat, sehingga masyarakat cenderung meremehkan para aparat. nampaknya kita harus mulai kembali mencari cara untuk menegakkan Bhinneka Tunggal Ika dan kejujuran pada diri masing-masing bahwa kita sebagai anak bangsa tidak ingin negara ini hancur karena ulah pihak-pihak yang mersa sok kuasa dan egois.



      Sebagai Guru, ini bisa menjadi bahan pelajaran untuk memberikan pemahaman pada siswa tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa terjadi, dan menjadi bahan diskusi bagi siswa apa yang seharusnya diperbuat mereka dan mencegah agar hal ini tidak terus berulang.



      Fastabiqul Khairat (berlomba-lombalah dalam kebajikan) 



      Regards,



      Iin Hermiyanto






















      [Non-text portions of this message have been removed]
    • thalhah@indosat.net.id
      Pemarah karena sudah frustrasi dengan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Banyak berita orang miskin bunuh diri, orang2 seperti ini jika diprovokasi jadilah
      Message 2 of 3 , Oct 3, 2010
      • 0 Attachment
        Pemarah karena sudah frustrasi dengan kemiskinan dan kesenjangan
        ekonomi. Banyak berita orang miskin bunuh diri, orang2 seperti ini jika
        diprovokasi jadilah mereka teroris karena harapan hidupnya memang sudah
        tidak ada. Kenapa mereka miskin? Karena hartanya dirampok oleh koruptor
        seperti Bahasyim (Rp 1 Triliun), Gayus, dan sejenisnya. Jadi koruptor
        inilah yang men-create terorisme dan kerusuhan sehingga mereka layak
        ditembak mati oleh Densus 88.
        Jadi kalau mau mencegah ini seharusnya:
        1. Hukum mati koruptor kakap agar menjadi pelajaran
        2. Pemimpin harus mencontohkan kerja keras, melayani dan hidup
        sederhana
        3. Perkecil kesenjangan sosial

        Koruptor dan aparat penegak hukum yang korup selama ini adalah teman
        dari bos2 preman, mereka bagi hasil dari kejahatan yang dilakukan.


        ----Original Message----
        From: donthegoldsmith@...
        Date: Sep 30, 2010 12:35
        To: <bukukita@yahoogroups.com>
        Subj: Re: [BukuKita] Bangsa Pemarah

        Setuju sekali dengan yang anda paparkan. Terlebih lagi jika pemerintah
        mendiamkan ormas tertentu bertindak sebagai mafia dengan kedok agama,
        padahal uang yang menjadi tujuan utamanya.

        --- On Thu, 30/9/10, iin hermiyanto <hermiyanto_i@...> wrote:

        From: iin hermiyanto <hermiyanto_i@...>
        Subject: [BukuKita] Bangsa Pemarah
        To: "ikatanguruindonesia" <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>, "klub
        guru" <klubguruindonesia@yahoogroups.com>, "forum guru annisaa"
        <forumguruannisaa@yahoogroups.com>, "pustekkom pustekkom"
        <pustekkom@yahoogroups.com>, "pakguru" <pakguruonline@yahoogroups.com>,
        forum-pendidikan@yahoogroups.com, "bukukita" <bukukita@yahoogroups.com>
        Date: Thursday, 30 September, 2010, 8:30 AM







         









        KEKERASAN, kebrutalan, dan kerusuhan adalah tanda paling nyata
        sebuah

        masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehat. Yang dipamerkan

        justru emosi dan senjata. Yang diagungkan adalah kehendak menang
        sendiri

        bahkan dengan cara membunuh.



        Hal sepele saja bisa menyulut kebrutalan yang berakibat fatal dan

        menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda. Itulah yang sedang

        kita saksikan hari-hari ini di seantero negeri. Kerusuhan di Tarakan,

        Kalimantan Timur, merenggut tiga nyawa serta melukai puluhan lainnya.

        Ribuan perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi dan mencari tempat

        berlindung di kantor polisi atau markas tentara serta tempat-tempat

        ibadah.



        Tak hanya di Tarakan. Di Jakarta, dua kubu preman berseteru saling

        menyerang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tiga nyawa

        melayang sia-sia. Mereka seolah tak peduli imbauan Presiden Susilo

        Bambang Yudhoyono yang prihatin atas berbagai kerusuhan di Tanah Air.



        Kini bangsa ini menjadi bangsa pemarah. Kita kehilangan kemampuan

        bertoleransi. Kohesitas di antara beragam etnik kian renggang dan
        malah

        bersalin dengan semangat saling membantai, saling membunuh.



        Tragedi Tarakan yang berlangsung sejak Minggu (26/9) hingga kemarin

        adalah bukti kegagalan negara mengantisipasi. Padahal bukan baru
        sekali

        ini peristiwa bentrokan antaretnik muncul. Kita memiliki banyak

        pengalaman konflik antaretnik, tetapi kita tidak belajar dari
        pengalaman

        itu.



        Ada kasus kerusuhan antaretnik di Sampit, Kalimantan Tengah,

        beberapa tahun silam yang banyak menelan korban jiwa. Juga ada kasus

        Poso (Sulawesi Tengah), Ambon, Abepura (Papua), dan sejumlah tempat

        lain. Semuanya menebarkan maut dan amis darah.



        Semua itu menyebabkan masyarakat setempat hidup dalam trauma, saling

        curiga dan tidak percaya sesama anak bangsa. Dan sekarang hal yang

        memprihatinkan itu terjadi di Tarakan.



        Ada banyak faktor yang menyulut pecahnya konflik itu. Sebagian
        penyebabnya adalah rebutan penguasaan sumber daya ekonomi.



        Para pendatang menguasai sumber daya ekonomi tertentu dan

        menyingkirkan sumber daya ekonomi masyarakat lokal. Hal itu
        menimbulkan

        iritasi sosial kemudian meledak menjadi kerusuhan.



        Bentrokan mestinya dapat dicegah jika aparat negara sigap membaca

        fenomena dan tangkas melakukan antisipasi. Bentrokan antarkubu preman
        di

        Jakarta Selatan kemarin, misalnya, tanda-tandanya telah terjadi
        pekan

        lalu. Tetapi aparat lalai, alpa, atau tidak peduli. Setelah korban

        berjatuhan, barulah polisi datang.



        Pemerintah tidak boleh mendiamkan dan hanya sibuk memoles citra.

        Aparat negara tidak boleh menyepelekan kemudian lalai mengantisipasi.

        Harus ada ketegasan. Kerusuhan tidak bisa diselesaikan dengan pidato.



        Kita gemas melihat preman lebih berkuasa daripada aparat negara.

        Mereka leluasa menenteng samurai, parang, dan kelewang di jalan-jalan
        di

        tengah kota, mencari musuh, tanpa dilucuti polisi. Mereka bahkan

        memiliki senjata api dan melepaskan tembakan. Saling membunuh dan
        tidak

        bersikap toleran adalah budaya paling primitif dari sebuah peradaban.

        Ternyata bangsa ini belum juga beranjak dari situ.



        Dikuip dari Editorial Media Indonesia



        Sebagai tambahan: Konflik, pertikaian dan bentrkan yang terjadi tak
        lepas dari contoh dan model prilaku para pejabat dalam cara menangani
        masalah internalnya, dan itu disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia.
        berikutnya, faktor kondisi sosiologis masyarakat kita yang masih
        terpuruk kemiskinan dan banyaknya pengangguran menjadikan orang mudah
        terpancing emosi sehingga menimbulkan banyak friksi dan gesekan dan
        muaranya adalah bentrokan. Aparat hukum yang lamban dan tidak tegas
        menangani pelaku kekerasan juga bisa dilihat sebagai keberpihakan oleh
        masyarakat, sehingga masyarakat cenderung meremehkan para aparat.
        nampaknya kita harus mulai kembali mencari cara untuk menegakkan
        Bhinneka Tunggal Ika dan kejujuran pada diri masing-masing bahwa kita
        sebagai anak bangsa tidak ingin negara ini hancur karena ulah pihak-
        pihak yang mersa sok kuasa dan egois.



        Sebagai Guru, ini bisa menjadi bahan pelajaran untuk memberikan
        pemahaman pada siswa tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa
        terjadi, dan menjadi bahan diskusi bagi siswa apa yang seharusnya
        diperbuat mereka dan mencegah agar hal ini tidak terus berulang.



        Fastabiqul Khairat (berlomba-lombalah dalam kebajikan) 



        Regards,



        Iin Hermiyanto






















        [Non-text portions of this message have been removed]
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.