Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains ?

Expand Messages
  • anen
    Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains ? Penulis : Huston Smith Cetakan : I, Februari 2003 Jumlah Halaman : 470 Penerbit : Mizan Harga Toko : Rp 49.000 Dapat
    Message 1 of 1 , May 12, 2003
    • 0 Attachment

      Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains ?

      Penulis: Huston Smith
      Cetakan: I, Februari 2003
      Jumlah Halaman: 470
      Penerbit: Mizan
      Harga Toko: Rp 49.000
       
      Dapat diperoleh di TB Office1Superstore Mall Ambasador, D'Best Fatmawati, Ranch Market Kebun Jeruk & Plaza Sinta Tanggerang.

      Tidak sulit disepakati bahwa zaman ini adalah zaman krisis spiritual ketika agama terguncang dengan amat dahsyat. Tetapi, tidak mudah untuk menyepakati apa yang menjadi penyebabnya.

      "Saintisme" -- itulah biang keladi krisis spiritual ini, simpul pengarang buku ini, Huston Smith, dengan amat tegas. Proklamasi ini bukan hal yang pertama kali disebutkan orang. Tetapi, ketika yang mengatakan itu adaah Huston Smith-- seorang juru bicara kontemporer agama-agama dunia, pengarang The World's Religions, sebuah buku standar dalam pengantar agama-agama dunia yang dipakai secara luas di berbagai universitas dunia -- tuduhan itu menjadi isu intelektual yang memanas. Persoalannya: pendefinisian saintisme ternyata rawan dirasuki penilaian filosofis.

      Misalnya, apakah teori evolusi Darwin termasuk sains atau saintisme? Kalangan tradisionalis semacam Smith, yang mengunggulkan agama atas sains, menilai teori evolusi Darwin sebagai saintisme. Di pihak lain, sebagian saintis - yang tidak sedikit di antaranya adalah juga penganut agama yang taat -- menganggap teori evolusi itu sebagai sains.

      Keruan saja, argumentasi Smith menuai kritik keras dari banyak kalangan, misalnya dari Ian Barbour (guru besar fisika dan teologi, pengarang Juru Bicara Tuhan), Ursula Goodenough (guru besar biologi), dan Peterson (guru besar teologi). Tetapi, ada juga fisikawan terkemuka, Varadaraja V. Raman, yang mencoba memahami posisi Smith dengan nada empatis. Keempat penanggap ini ditampilkan di Bagian Lampiran.

      Menghidupkan re3fleksi filsofisnya dengan sejumlah anekdot, humor, puisi, dan pengalaman pribadi, Smith tampaknya ingin berbicara dengan abhasa pikiran dan hati.

      Inilah buku kebijaksanaan bagi pembaca kontemporer untuk memasuki milenium baru.
      Literary Journal

       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.