Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

(OOT) Waktu adalah Jiwa Dunia

Expand Messages
  • Anwar Holid
    Waktu adalah Jiwa Dunia ... Hidup adalah secangkir teh; makin sepenuh hati kita meminum, makin cepatlah kita mencapai ampasnya. ... RENUNGKANLAH pada saat kita
    Message 1 of 1 , Jan 1, 2006
    • 0 Attachment
      Waktu adalah Jiwa Dunia
      -----------------------
      >> Anwar Holid


      Hidup adalah secangkir teh; makin sepenuh hati kita meminum, makin cepatlah kita mencapai
      ampasnya.
      ---James Barrie, penulis Peter Pan


      RENUNGKANLAH pada saat kita bahagia, renungkanlah pada saat kita sedih; apa yang terjadi dalam
      hidup kita? Ketika bahagia, waktu begitu cepat berlalu; sementara ketika sedih, waktu terasa
      begitu lama bergulir, seolah-olah tak mau berakhir, sampai suatu saat ada sesuatu, atau seseorang,
      mengingatkan diri kita lagi: semua itu akan berlalu.

      Katakanlah kita sakit hati, baik oleh seseorang atau keadaan. Pada saat kejadian kita sulit
      menerima kenyataan itu, menyalahkan diri dan orang lain, termasuk keadaan. Tapi seiring waktu
      berlalu, suasana jiwa yang berubah, kondisi yang berlainan, tanpa terasa disembuhkan oleh waktu.
      Kita jadi maklum, bisa menerima peristiwa tersebut, berusaha mengambil pelajaran dari sana, atau
      bahkan menertawakan kebodohan saat itu. Benar yang ditulis Seneca (5 SM-65 M): Waktu menyembuhkan
      hal yang tidak dapat dilakukan oleh akal.

      Waktu mengubah keadaan: mulai dari cuaca, kehidupan sosial, politik, ekonomi, mode, semangat
      zaman, seluruh peristiwa baik yang telah diperkirakan maupun mustahil terjadi, termasuk jiwa
      orang. Kalau kecewa melakukan atau gagal mendapat sesuatu, kita kerap dinasihati begini:
      Barangkali memang belum waktunya; terimalah dengan tabah. Kalau sudah waktunya, kita tak kuasa
      melakukan apa-apa.

      Waktu dipersepsi berbeda-beda dari zaman ke zaman. Jika dahulu orangtua menasihati agar kita sabar
      menunggu sesuatu sampai saatnya tiba, jangan tergesa-gesa; di zaman kapitalisme mutakhir ini kita
      tahu bahwa waktu adalah uang. Kalau bisa segala-galanya berlangsung cepat, agar dalam waktu
      singkat bisa dapat sebanyak-banyaknya. Prinsip ini terus-menerus dilawan oleh mereka yang ingin
      menghargai waktu apa adanya, bahwa segala sesuatu harus terjadi bila memang dikehendaki oleh
      takdir, diizinkan oleh keadaan. Mereka khawatir bila individu sampai tercerabut dari waktu maupun
      keadaan, sampai akhirnya terasing atau teralienasi dari realitas maupun lingkungan sosial.

      Di stiker mobil angkutan kota kerap terbaca versi parodinya: ‘Anda butuh waktu, kami butuh uang.’
      Maka sopir angkot sering ugal-ugalan dan tergesa-gesa, karena mereka mengejar setoran, sementara
      penumpangnya sejak awal telah merasa terdesak oleh sempitnya waktu. Orang jadi merasa wajar bila
      menjalankan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, padahal sebenarnya semua orang tahu: waktu tak
      menunggu siapa pun, waktu tak menunggu seorang pun.

      KITA HANYA bisa memaknai waktu sekarang (persis saat kini), bukan masa lalu sebab telah ada dalam
      kenangan, bukan pula masa depan karena masih dalam angan-angan. Yang sedang terjadi selalu ada
      dalam masa kini, tak peduli berapa lama. Itu sebabnya kita selalu bilang masa lalu tak perlu jadi
      ancaman, sementara masa depan jangan sampai dikhawatirkan.

      Konsep waktu memungkinkan kita memberi tanda pada kehidupan: peringatan, janji, rutinitas,
      prioritas, sejarah, revolusi, evolusi, cita-cita, kematian, kehidupan. Peringatan, misalnya
      memperingati peristiwa tertentu atau ulang tahun, memberi kesadaran bahwa manusia telah melakukan
      sesuatu dalam jangka waktu tertentu: mencapai apa dia, telah melakukan apa saja dalam hidupnya,
      apa yang dia dapat dari sana.

      Waktu melahirkan kesadaran akan hidup: ada sesuatu yang terus bertambah tua, sampai suatu ketika
      akhirnya mati. Tapi waktu tetap ada, entah kapan akan berhenti. Barangkali dia abadi. Karena
      mungkin abadi itulah, sudah ada (diciptakan) sebelum manusia sadar atas kehadirannya,
      manusia---baik fisikawan, filosof, astronom---masih terus berdebat tentang apa sebenarnya waktu.
      Namun satu hal pasti, waktu terus bergerak; andai dia berhenti, sesaat saja, segalanya akan
      berhenti dan setelah itu tak akan ada waktu lagi.

      Apakah waktu itu mengalir, hilang, atau berlalu? Yang sesungguhnya terjadi malah manusia tambah
      tua, anak-anak tumbuh jadi remaja, orang dewasa beruban dan keriput; keadaan terus berubah, segala
      sesuatu justru berlalu, Bumi terus berputar, sementara waktu terus ada. Dia satu-satunya yang
      tetap, bertahan, ada. Seluruh peristiwa terjadi dalam ruang dan waktu, mau yang besar-besaran,
      melibatkan banyak sekali orang dan faktor, maupun yang dilakukan diam-diam tanpa ketahuan seorang
      pun.

      Meski kadang-kadang berulang---makanya ada sejarah, evolusi, masa lalu, masa depan, orang
      terkenang kejayaan masa silam atau berhasrat menyelamatkan masa depan---fenomena waktu berbeda dan
      berubah secara konstan. Pagi ini, meski terasa sama dengan pagi kemarin, kejadiannya berbeda,
      keadaannya telah ganti, peristiwa-peristiwa yang dihadapi lain lagi, bahkan tanggal definitifnya
      pun telah berubah. Meski dalam periode tertentu waktu berulang---hari, minggu, bulan, musim---kita
      tahu dia tidaklah berulang persis seperti prasangka kita.

      Satu hal pasti, kita yakin, selama ada waktu, segalanya masih mungkin terjadi; hanya saja kita
      sendiri yang bisa merasakan apa kesempatan tersebut masih terbuka lebar atau sudah sempit dan
      nyaris tertutup.

      ADANYA waktu memungkinkan manusia memikirkan segala hal relevan: merencanakan, memprediksi,
      menangguhkan, mendahulukan; pada saat bersamaan tahu kemungkinan berhasil dan bisa menerima
      kegagalan. Karena berencana, manusia belajar menentukan prioritas; apa yang penting, mendesak,
      harus didahulukan, atau ditunda.

      Sebenarnya manusia diajari agar benar-benar awas terhadap keadaan, hati-hati terhadap setiap
      peristiwa, agar mereka bisa maksimal menikmatinya; tujuannya agar manusia senantiasa sadar bahwa
      yang paling penting dalam hidup adalah menghargai saat kini, apa pun kondisinya. Pepatah Cina
      dengan tepat menjelaskan itu: Anggur hari ini aku minum hari ini; derita esok aku tanggung besok.
      Tegas Seneca: hiduplah sekarang, sebab segala yang akan terjadi adalah milik wilayah tak menentu.

      Manusia memang belajar dari waktu; ironiknya, mereka kerap alpa, suka mengulang-ulang kesalahan,
      persis pernyataan Hegel (1837): Yang diajarkan oleh pengalaman dan sejarah adalah bahwa orang dan
      pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah, atau bertindak berdasar pada pelajaran
      yang mungkin diambil dari sana. Kebenaran atas pernyataan ini jelas: bila di sisi ideal manusia
      berusaha mencapai peradaban setinggi-tingginya, menciptakan tanda kemanusiaan seagung mungkin, di
      sisi lain manusia masih gagal meninggalkan sifat barbarnya: perang, mencaplok milik orang lain,
      tiran, egoistik. Sangat sulit menemukan seorang individu genius yang mampu melampaui massa yang
      cenderung bodoh, bermental lemah, pengecut, beraninya keroyokan.

      Barangkali itu sebabnya kenapa waktu diberikan nyaris tanpa batas kepada manusia, sejak manusia
      perlahan-lahan berusaha memaknai dan mendefinisikan 'waktu' sesuai argumen masing-masing, hingga
      kini dia belum berhenti---setidak-tidaknya masa berakhirnya masih ditunda, ditangguhkan,
      dipelihara menjadi misteri.

      APA di awal tahun ini kamu bikin resolusi? Mencanangkan janji-janji? Kamu yakin akan mampu
      melaksanakan salah satunya? Jawabannya mungkin tidak. Kalau tidak ditepati, kenapa harus bikin
      janji? Janji amat mudah dilanggar. Tapi kalau yakin bahwa dengan melaksanakannya hidup bakal lebih
      baik, lebih berarti, setiap saat, dengan segala perubahannya, barangkali memang saatnya dilakukan,
      semampu kamu.[]

      >> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.

      NOTE: Sedikit versi lain tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, suplemen Kampus, 29 Desember 2005,
      dengan judul 'Waktu yang Berganti.' Aku berterima kasih pada Kang Ipe Pempasa yang memberi
      kesempatan menulis di sana. Bab 'Time' di dalam The Little Book of Philosophy karya André
      Comte-Sponville sangat layak disarankan; buku ini tersedia di Rumah Buku.
      ________________________
      Kontak:
      Jalan Kapten Abdul Hamid,
      Panorama II No. 26 B
      Bandung 40141
      Telepon: (022) 2502261
      HP: 08156-140621
      Email: wartax@...


      Never underestimate people. They do desire the cut of truth.
      Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati.

      © Natalie Goldberg
      ----------------------------------------------------------------------
      Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog sederhana ini:

      http://halamanganjil.blogspot.com




      __________________________________
      Yahoo! for Good - Make a difference this year.
      http://brand.yahoo.com/cybergivingweek2005/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.