Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fenfen, Penghayatan Perempuan Menjalani Takdir

Expand Messages
  • Anwar Holid
    Note: Resensi ini dimuat di Pikiran Rakyat, 24 November 2005. Penghayatan Perempuan Menjalani Takdir ... Kimya sang Putri Rumi Judul asli: Rumi’s Daughter
    Message 1 of 1 , Dec 3, 2005
    • 0 Attachment
      Note: Resensi ini dimuat di Pikiran Rakyat, 24 November 2005.


      Penghayatan Perempuan Menjalani Takdir
      --------------------------------------

      >> Fenfen

      Kimya sang Putri Rumi
      Judul asli: Rumi’s Daughter
      Penulis: Muriel Maufroy
      Penerjemah: Sobar Hartini
      Penerbit: Arasy, 2005
      Tebal: 532 halaman
      Harga: Rp.44.500,00


      SIAPA TAK KENAL RUMI? Berbagai ulasan mengenai kehidupan dan karyanya sudah sangat sering ditemui.
      Annemarie Schimmel dalam Akulah Angin Engkaulah Api (Mizan, 1993) mengupas hidup dan karya Rumi
      dengan rinci dan dalam. Abdul Hadi W.M., penyair sufistik terkemuka Indonesia dalam Rumi: Sufi dan
      Penyair (Pustaka, 1985) pun cukup representatif menceritakan kehidupan dia dengan menitikberatkan
      tulisan pada karya. Namun siapa kenal Kimya, sosok seorang perempuan yang terlibat sangat dalam di
      tengah-tengah Rumi dan Syams sang matahari? Padahal sebagai seorang gadis biasa yang kemudian
      menjadi murid sekaligus anak angkat Rumi dan menikah dengan Syams sang doost (kekasih hati),
      sosoknya jelas signifikan dalam kehidupan sufi agung itu.

      Muriel Maufroy mengabadikan sosoknya dalam novel sufistik berjudul Kimya sang Putri Rumi. Dia
      kisahkan kehidupan Kimya yang sederhana dan sosoknya yang lugu. Adalah Ahmed, murid Rumi yang
      berkelana ke kota tempat Kimya bersama keluarganya tinggal. Kehadirannya membuka mata hati Kimya
      yang masih sangat belia tentang dunia keterasingan dan ekstase yang sering dia alami dapat
      diterangkan.

      Sebuah hadis menyatakan, "Barangsiapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.” Kimya awalnya
      berusaha mengenal diri sendiri. Itulah yang mempertemukan dirinya dengan Rumi dan sang matahari,
      Syamsuddin Tabriz. Melalui cinta dari sang jiwa dan ruh yang diwakili oleh Rumi dan Syams, raga
      yang dia wakili berkelana demi pemurnian cahaya kalbu dalam usahanya menemui Tuhan. Ruh, jiwa dan
      raga adalah Syams, Maulana dan Kimya. Tiga sosok sentral ini menggiring pembaca pada asing dan
      agungnya dunia sufi yang dipenuhi perlambang yang sangat tidak biasa.

      Sebagai cermin bagi kalbu yang terbakar karena cinta kepada-Nya, Kimya adalah simbol perjalanan
      takdir menempa jiwa yang senantiasa gelisah karena ketidaktahuan. Hatinya sarat tanya, tanya yang
      sulit terjawab oleh orang biasa. Saat kebahagiaan melandanya, di waktu yang sama kerapuhan
      menerpa. Hanya Rumi dan Syams yang cukup dalam mengenal dan mampu membantunya menjawab berbagai
      tanya. Sebaliknya, tanpa dirinya Rumi dan Syams seolah takkan mampu menyempurnakan cinta mereka
      kepada Tuhan.

      Novel ini membawa pembaca berlayar menuju samudra pengetahuan luas yang berpangkal pada pertanyaan
      sederhana: apakah cinta itu? Ketika kepiluan terasa sangat menyesakkan dan wajah penderitaan hadir
      silih berganti dengan kegembiraan; Kimya mengetahuinya sebagai cinta yang tak terkira indah, bagai
      lidah api yang menjalar menjilati raga, jiwa dan kalbu. Kalbunya dahaga akan pengetahuan meronta
      mencari pelepasan.

      Perjalanan menempuh jiwa yang gelisah digambarkan sebagai "hati yang berdarah-darah." Kata Syams
      padanya, "Ingatlah mawar-mawar Tabriz, mereka dekat dengan Allah. Hanya hati yang
      berdarah-darahlah yang bisa menemukan-Nya." Kata-kata itu melekat erat dalam jiwanya, mengguncang
      hati dan pikirannya. Pernikahannya dengan Syams semakin mendekatkan Rumi dan sang matahari, pada
      saat yang sama mendekatkannya pada jiwa dan ruh yang seolah tak terpisahkan lagi.

      Pernikahan Kimya sendiri bukan pernikahan biasa. Jika suami-istri lekat berdua dan hidup dalam
      manisnya madu setelah menikah, pernikahan Kimya dan Syams tidak demikian. Syams lebih sering
      berada di luar rumah daripada bersamanya. Pernikahan itu pun tetap memancing prasangka dari
      orang-orang sekitar yang sebelumnya mencurigai Syams sebagai biang keladi menjauhnya Rumi dari
      Tuhan. Musik, tarian dan anggur yang diperkenalkan Syams kepada Rumi dan orang-orang Konya seolah
      barang haram yang telah menjauhkan Rumi dari Tuhan. Sungguh menarik sikap penduduk Konya terhadap
      mereka kala itu. Awal kedatangan Syams dianggap sebagai keburukan yang sulit ditoleransi hingga
      memunculkan prasangka terhadap Rumi. Betapa rentan mereka menghadapi hal yang tidak diketahui dan
      betapa tidak sabarnya mereka menunggu hingga waktu mengungkap segalanya. Hal semacam itu membawa
      Kimya makin jauh dari ingar bingar kehidupan dunia; jiwanya berkali-kali mengelana terpisah dari
      raga. Ibarat lilin berhadapan dengan matahari, ketika jiwanya bertemu dengan jiwa Rumi dan Syams,
      dia adalah Kimya yang bahagia. Namun ketika kembali ke dunia nyata, dia adalah Kimya yang gelisah.
      Meskipun demikian Kimya tetap setia menjalani takdir dan cinta.

      KIMYA menekankan aspek cinta seorang makhluk kepada Dia. Ketika cinta berkobar kepada-Nya, yang
      lain hanyalah jalan menuju pada-Nya. “Cinta, cinta sejati adalah sama seperti seseorang yang
      melihat cerminan Tuhan. Sandarannya begitu menarik, dan ketertarikan itu seperti menjauhkan kita
      dari sang cermin itu sendiri” (hal. 488). Perjalanan cinta itu menukik dan terjal dengan batu-batu
      tajam di sekitarnya. Luka dan derita adalah niscaya.

      Orang kerap mengira perjalanan menuju Tuhan identik dengan kedamaian, ketenteraman, dan kenyamanan
      hati; padahal sebaliknya, untuk membuktikan cinta kepada Tuhan seorang hamba harus siap diuji
      dengan segala yang dimilikinya. Tak diragukan lagi, Kimya terluka, terempas, tersedot hingga
      hilang tak tergapai nalar. Seiring semakin intensnya hubungan Kimya dengan Syams, perjalanannya
      pun mendekati akhir. Pengalaman intim yang berharga bersama suami sedikit demi sedikit menuntunnya
      pada pengetahuan akan Dia. "Aku lenyap ke dalam wujud," katanya. Saat itu terjadi, kegembiraan dan
      kepedihan bercampur aduk, membuat dunianya jungkir balik tak menentu.

      Ketika hidupnya hampir berakhir, Kimya masih seorang perempuan dengan tanya dalam hatinya. Namun
      semua tersingkap dan tersibak saat dia berkata, "Hatiku berkembang, mekar sudah!" Itulah ketika
      Kimya menyadari akhirnya dengan segenap kesadaran. Keberserahdirian yang luar biasa menjadikannya
      begitu hidup bahkan saat kematian menjemput, meskipun raganya kurus seolah tak terurus. Tubuhnya
      dingin namun jiwanya mengelana bebas penuh cinta dan syukur dalam menjelang pertemuannya dengan
      Yang Sejati, sebenar-benarnya doost, kekasih.

      Lepas dari apakah novel sejarah ini menceritakan nukilan kisah hidup Kimya, Rumi dan Syams dengan
      benar, Muriel Mufroy sangat berhasil mempersuasi pembaca sehingga peristiwa dalam buku ini seolah
      benar-benar terjadi. Kimya hidup dan mampu 'menggerakkan' keingintahuan pembaca. Cinta sekaligus
      keberserahdiriannya dalam novel ini dapat menjadi cermin bagi siapa saja yang sedang meniti cinta
      menuju pada-Nya.[]

      Fenfen, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.

      Alamat:
      Jalan Kapten Abdul Hamid,
      Panorama II No. 26 B
      Bandung 40141
      Telepon: (022) 2037348
      HP: 08156140621
      Email: ferniatiseptina@...


      Never underestimate people. They do desire the cut of truth.
      Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati.

      © Natalie Goldberg
      ----------------------------------------------------------------------
      Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog sederhana ini:

      http://halamanganjil.blogspot.com



      __________________________________
      Start your day with Yahoo! - Make it your home page!
      http://www.yahoo.com/r/hs
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.