Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Menjadi Superkreatif Melalui Metode Pemetaan Pikiran

Expand Messages
  • Hasan Askari
    Mengurai Keunggulan Isi Kepala Kita Pernah merasakan buntu dalam berpikir? Itu salah satu tanda bahwa kerja otak sedang perlu bantuan. Jika bantuan bisa segera
    Message 1 of 1 , Jul 1, 2003
      Mengurai Keunggulan Isi Kepala Kita

      Pernah merasakan buntu dalam berpikir? Itu salah satu tanda bahwa kerja otak sedang perlu bantuan. Jika bantuan bisa segera Anda berikan, kebuntuan itu segera terpecahkan. Proses berpikir pun bisa berjalan normal kembali.

      Buntu berpikir, bukanlah monopoli orang per orang. Hampir bisa dipastikan, kejadian tersebut pernah menimpa seluruh manusia. Tidak semua orang mampu dengan cepat mengantisipasinya. Biasanya, orang yang bisa cepat menemukan kembali alur berpikirnya adalah mereka yang terlatih membuat peta pikiran. Orang yang sangat terlatih mengatasi kebuntuan berpikir, biasanya juga sangat tinggi kreativitasnya.

      Dalam hidup manusia, kreativitas adalah salah satu senjata ampuh untuk mengembangkan diri dan lingkungannya. Pada taraf lebih lanjut, kreativitas juga mampu mengembangkan dan mengubah dunia. Ibnu Sina, Al Ghazali, Thomas Alfa Edison, juga pemikir lain adalah sekelompok ahli yang kreativitasnya mampu mengguncang dunia. Mereka bukanlah manusia yang diciptakan Allah SWT dengan fasilitas khusus. Mereka manusia biasa yang terus bersemangat melawan kebuntuan berpikirnya.

      Lewat alur berpikir yang lancar, mereka juga tiada bosan melakukan pencarian di bidang masing-masing. Artinya, asal sanggup mendayagunakan kemampuan otaknya secara maksimal, Anda pun bisa menyerupai mereka. Sayangnya, penelitian menunjukkan, makin lama, kapasitas otak yang dimanfaatkan manusia makin sedikit.

      Pada tahun 1950-an ahli ilmu jiwa memperkirakan rata-rata orang mendayagunakan 50 persen kapasitas otaknya. Di tahun 1960-1970 an, perkiraan itu turun tinggal 10 persen. Tahun 1980-an turun lagi jadi satu persen. Memasuki tahun 1990-an, pendayagunaan kapasitas otak turun lagi menjadi 0,01 persen.

      Lewat buku Menjadi Superkreatif Melalui Metode Pemataan Pikiran, Konsultan Kreativitas dan Pemecahan Masalah, Joyce Wycoff menawarkan cara cepat melatih otak. Dia mengajak kita memanfaatkan kemampuan otak secara maksimal. Joyce juga melatih kita membuat peta pikiran dan cara menerapkannya. Sebelum masuk pada pelatihan membuat pemetaan pikiran, Joyce mengungkap berbagai potensi otak yang selama ini tidak kita sadari.

      Secara singkat, dalam buku yang berjudul asli Mindmapping: Your Personal Guide to Exploring Creativity and Problem Solving ini, dia menyebutkan bahwa otak kita itu sedahsyat alam semesta. Dengan otak, manusia bisa mengenal dunia secara luas. Dengan otak, manusia juga bisa mengungkap sebagian misteri penciptaan alam ini.

      Begitu tingginya kemampuan otak, Peter Russel dalam The Brain Book mengungkapkan, Xerxes mampu menghafal seluruh nama anggota pasukannya yang berjumlah 100 ribu orang. Cardinal Mezzofanti mampu menguasai 70-80 bahasa. Orang Yahudi-Polandia yang dikenal Shass Pollaks juga mampu rutin mengenal tiap kata dalam tiap halaman 12 jilid Talmud.

      Intinya, dalam proses mengingat itu ada dua langkah yang harus dipenuhi, yakni menyimpan dan memanggil ulang. Proses penyimpanan memori dalam otak itu digambarkan Joyce mirip penyimpanan bayangan dalam hologram. Kalau ada satu bagian yang rusak, memori yang sudah tersimpan tidak hilang begitu saja.

      Untuk meningkatkan kemampuan memanggil ulang memori yang sudah tersimpan di otak, Joyce menawarkan empat langkah yakni, pengulangan, asosiasi, intensitas, dan keterlibatan. Keempat langkah itu bakal lebih membantu pemanggilan ulang jika dibantu dengan membuat peta pikiran.
      Selanjutnya, Joyce menjelaskan cara kerja otak. Secara umum, kinerja otak itu bergantung pada dua bagian, yakni belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Belahan otak kanan banyak bekerja untuk menangkap gambar, irama, warna, dan berimajinasi. Sedangkan belahan kiri banyak berhubungan dengan bahasa, logika, angka, juga hal lain yang berurutan.

      Pemilahan kinerja masing-masing belahan otak itu pernah dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap penderita epilepsi. Psikolog Roger Sperry pada awal tahun 1960-an pernah memotong syaraf penghubung kedua belahan otak tersebut untuk menyembuhkan penderita epilepsi. Upaya itu memang membuat penderita sembuh.

      Efek lain yang ditimbulkan pemotongan syaraf -- yang sering disebut corpus callosum -- itu adalah tidak sinkronnya kerja kedua belahan otak sang penderita. Saat penderita ditunjukkan gambar apel di belahan penglihatan sebelah kanan -- yang dikoordinasi otak kiri-- dia bisa menyebut benda yang ada dalam gambar itu. Tapi ketika gambar yang sama dialihkan ke bidang penglihatan sebelah kanan -- yang dikoordinasi otak kanan -- dia tidak bisa menyebutkan benda yang tergambar.

      Setelah menjelaskan prinsip kerja masing-masing belahan otak, Joyce langsung mengajak pembacanya membuat peta pemikiran lewat beberapa latihan. Langkah pertama yang diperlukan untuk membuat peta pikiran adalah menuliskan kata kunci yang sedang dipikirkannya. Kemudian kata-kata lain yang berhubungan dengan kata kunci itu ditulis di sekitarnya dan dihubungkan dengan garis. Biasanya dari tampilan itu muncul rangkaian pemikiran baru.

      Secara khusus, peta pikiran itu sangatlah membantu seseorang dalam membuat karya tulis. Dari peta yang dibuatnya, penulis bisa menuangkan idenya lebih runut, dan berjiwa. Pembaca tulisan itu pun bakal mudah untuk memahami makna yang terkandung.

      Selain untuk penulisan, pembuatan peta pikiran juga sangat bermanfaat untuk membantu menjalankan proyek sesuai jadwal. Peta pikiran yang dibuat tim pelaksana proyek, bakal menunjukkan langkah-langkah efisien yang harus ditempuh untuk menyelesaikan proyek tersebut. Secara umum, buku ini memberi jalan pintas untuk menuangkan ide efisien dengan baik.

      Fisik buku ini juga tampil cukup ramah dengan pembaca. Huruf yang tercetak lebih besar, dan ilustrasi di akhir bab, membuat buku ini mudah dibaca. Proses penerjamahan buku ini juga dilakukan lewat beberapa penyesuaian dengan konteks Indonesia. Hal itu memudahkan kita untuk menggambarkan ide yang terkandung dalam masing-masing kalimat.

      Yang patut diwaspadai, buku ini tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan dalam mengembangkan diri. Sebab, materi yang termuat di dalamnya, terkesan sangat mengunggulkan kerja otak. Sepertinya, kinerja otak adalah satu-satunya faktor yang menentukan kreativitas dan pengembangan pribadi setiap orang.

      Padahal, selain otak, perkembangan manusia juga banyak dipengaruhi emosi dan penghayatan spiritualnya. Oleh sebab ukuran kemampuan manusia bergeser dari IQ ke EQ, dan ke SQ. Dengan kata lain, ukuran kemampuan manusia berkembang dari kecerdasan intelektual, ke kecerdasan emosional, dan terakhir beralih ke kecerdasan spiritual.

      Pencetus konsep kecerdasan spiritual, psikolog Danah Zohar dan fisikawan Ian Marshall menjelaskan bahwa kecedasan intelektual hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan kualitas manusia. Kata mereka, kecerdasan intelektual yang banyak mengandalkan otak itu baru bisa bekerja efektif jika didukung kecedasan emosional dan kecedasan spiritual. Jadi, setelah baca buku ini, nikmati juga buku lain sebagai pengimbang. irfan junaidi

      Judul Buku : Menjadi Superkreatif Melalui Metode Pemetaan Pikiran,
      Penulis : Joyce Wycoff
      Penerjemah : Rina S Marzuki
      Penerbit : Kaifa, Bandung
      Cetakan : I, Juli 2002

      --
      __________________________________________________________
      Sign-up for your own FREE Personalized E-mail at Mail.com
      http://www.mail.com/?sr=signup
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.