Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kumcer Mohammad Diponegoro

Expand Messages
  • mansyur.alkatiri@cbn.net.id
    CORDOVA Bookstore Online Jl. Akses UI No. 40; (sebelah barat Gunadarma) Kelapa Dua, DEPOK Email: mansyur@cordova-bookstore.com Telp. 021-8004760; 0815-9168232
    Message 1 of 1 , Feb 1 11:47 PM
    • 0 Attachment
      CORDOVA Bookstore Online
      Jl. Akses UI No. 40; (sebelah barat Gunadarma)
      Kelapa Dua, DEPOK
      Email: mansyur@...
      Telp. 021-8004760; 0815-9168232
      ====================================


      Mohammad Diponegoro hadir kembali!

      Karya penulis penyair besar asal Yogyakarta ini, yang kini sudah almarhum,
      kembali hadir di depan kita, diangkat oleh penerbit NeoSantri dari Kota
      Gudeg.

      Selama hidupnya Mohammad Diponegoro telah menulis ratusan cerpen. Ia juga
      membaca cerpen-cerpennya sendiri untuk banyak radio, termasuk Radio
      Australia.

      Dapatkan buku-bukunya di CORDOVA Bookstore Online!
      Di email: mansyur@...

      Telp. 021-8004760 ATAU 0815-9168232

      BEBAS ONGKOS KIRIM untuk Jakarta dan sekitarnya.

      Pembayaran bisa melalui ATM BCA (375-1202600) atau Bank Mandiri
      (006-0004262501).

      Untuk buku-buku lainnya, silakan klik: www.geocities.com/cordovabookstore

      -----


      1. Judul buku:
      "ABAH BILANG, TUHAN TIDAK ADA (ODAH)"

      -Kumpulan cerpen-

      Karya: Mohammad Diponegoro

      Isi: 190 hal. (12 X 19 cm)
      Penerbit: NeoSantri
      Harga: Rp 25.000,-

      PENGAKUAN dari Taufiq Ismail, penyair dan sahabat Mohammad Diponegoro:

      "Mas Dipo -demikian panggilan akrab kawan-kawannya- termasuk penulis yang
      luas bacaannya, dan lebih penting lagi: saripati bacaannya tidak dia
      simpan sendiri, tetapi dibagikannya kepada orang lain.

      Agaknya belum ada yang melakukan studi tersendiri terhadap 600-an cerita
      pendek yang pernah ditulisnya, namun dari pengamatan saya, teknik
      penulisan yang melahirkan bentuk cerpennya sudah tak jadi masalah baginya.
      Otot-otot literernya sudah demikian lentur dan tanpa-lemaknya, sehingga
      bukan saja tercapai prestasi atletik tapi juga prestasi artistik.

      Suatu hal lagi sehubungan dengan bentuk: barangkali Mas Dipo satu-satunya
      pengarang cerita pendek kita yang piawai menulis cerpen untuk mata dan
      cerpen untuk telinga, dengan kata lain: cerpen grafika dan cerpen
      elektronika.

      Dia menulis untuk berbagai surat kabar dan majalah sejak 1950-an, juga
      belakangan untuk radio, yang dibaca dan direkamnya sendiri. Cerita
      pendeknya disiarkan Radio Australia tiap minggu selama 13 tahun dan
      memikat perhatian pendengar yang luas wilayahnya di Indonesia.

      Pengalaman hidup yang pekat (tentara zaman revolusi, tokoh Pelajar Islam
      Indonesia, pendiri dan sutradara Teater Muslim Yogyakarta yang kukuh
      melawan ofensif Lekra/PKI, wartawan dan redaktur majalah Suara
      Muhammadiyah) menyapukan warna tesendiri serta menuang bobot pada isi
      cerita pendeknya: simpati pada kehidupan dan taqarrub (mendekatkan diri)
      pada Tuhan."

      ------

      2. Judul:
      YUK, NULIS CERPEN YUK

      - non-fiksi


      Karya: Mohammad Diponegoro

      Isi: hal. (13 X 19,5 cm)
      Penerbit: NeoSantri
      Harga: Rp 25.000,-

      "Dunia cerpen ialah alam di dasar laut karang. Makin dalam kita menyelam
      dengan minat tajam, makin asyik dan terpukau kita oleh keindahan dan
      kekayaannya. Kita bisa tergulir untuk jatuh cinta dan akhirnya membatalkan
      sama sekali niat untuk lari dari dunia cerpen."

      Demikianlah Mohammad Diponegoro mengungkapkan wawasannya tentang cerpen
      dalam buku ini. Ia memang mencintai dunia cerpen sampai akhir hayatnya.
      Kedudukannya sebagai pembaca cerpen di Radio Australia memungkinkan hal
      itu: Lebih dari 260 cerpen ditulisnya, baik asli maupun terjemahan.

      Dalam buku ini, bukan saja wawasan mengenai cerpen diungkapkan, tetapi
      juga perjalanan panjang yang harus dilalui oleh penulis cerpen yang ingin
      berhasil. Tahap menata niat, tahap menata langkah, tahap mempermahir diri
      sampai dengan bagaimana menyunting cerpen, semua diantarkan dengan gaya
      bercerita yang akrab oleh Mohammad Diponegoro.

      Dilengkapi dengan ilustrasi pengalaman jago-jago cerpen dunia seperti
      Edgar Allan Poe, Somerset Muagham, Ernest Hemingway, Eudora Welty, William
      Faulkner, Anton Chekov, O. Henry, H. Munro, Nathaniel Hawtorn, Elizabeth
      Enright, Jack London, DH Lawrence, Henry James, Pearl S. Buck dan
      pengalaman dari para pengarang Indonesia sendiri.

      -----

      3. Judul:
      "MEREKA MASIH MENYEBUTKU KAFIR"

      -Kumpulan cerpen-

      Karya: Jarot Dosot Purwanto

      Isi: (12 X 19 cm)
      Penerbit: NeoSantri
      Harga: Rp 22.500,-

      JAROT DOSO PURWANTO bisa jadi memang berbakat sebagai pribadi penuh warna
      "dari sononya". Semasa masih duduk di SMA Muhammadiyah I (Muhi)
      Yogyakarta, misalnya, ia sudah membentuk Kelompok Diskusi Marhaen. Sebuah
      kelompok beranggota siswa-siswa SMA itu yang sama-sama menjadi pengagum
      Bung Karno sekaligus pengkritik Presiden Soeharto. Tergabung didalamnya
      Budiman Sudjatmiko yang lalu menjadi Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD).

      Ketika kuliah, Jarot dikenal "hobi" keluar-masuk organisasi. Semula ia
      masuk Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), lalu pindah ke Himpunan
      Mahasiswa Islam (HMI). Belakangan masuk pula ke Hizbut Tahrir (HT). Usai
      nonaktif dari HT, Jarot dikenal sebagai aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa
      Muslim Indonesia (KAMMI) Yogyakarta dan sempat menakmiri sebuah masjid
      Nahdlatul Ulama (NU).

      Selepas S-1 Fisipol UGM, Jarot bekerja sebagai wartawan Republika,
      membawahi desk politik dan agama. Tapi saat naluri aktivisnya mencium
      tanda kian rapuhnya rezim Orde Baru, ia buru-buru cuti dan balik ke Jogja
      untuk studi S-2 Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada (UGM). Namun dasar
      aktifis, waktunya pun banyak tersita untuk mengurus gerakan mahasiswa.
      Walhasil, bukan tesis yang segera dihasilkan, tapi kumpulan cerpen ini.
      Sebuah kumpulan cerpen yang banyak mencatat ketidakpuasannya atas kinerja
      rezim otoritarian Orde Baru.

      Makanya, biarpun teman-teman S-2 nya rata-rata sudah menyandang gelar
      master, Jarot masih suka memakai kaos lusuh bertuliskan: "Don't Ask Me
      About My Thesis". Hahaha. Maklum, tesisnya belum rampung sampai ketika
      buku ini dibuat.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.