Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Catatan Kecil untuk novel Tadarus Cinta Buya Pujangga

Expand Messages
  • kang ahsa
    Membaca novel buat saya bagian dari hiburan. Karena memang novel bukan sesuatu yang sakral dan pelajaran yang tertuang dalam novel bisa multi tafsir. Tidak ada
    Message 1 of 1 , Jun 11, 2013
    • 0 Attachment
      Membaca novel buat saya bagian dari hiburan. Karena memang novel bukan
      sesuatu yang sakral dan pelajaran yang tertuang dalam novel bisa multi
      tafsir. Tidak ada ketentuan dalam masalah tersebut.

      Untuk buku yang berbau agama dan keagamaan, baru ada nuansa sakral dan
      nilai-nilai penting bagi umat manusia. Kadang untuk mempertahankan
      sakralitas itu orang-orang yang menjabat selaku pemegang otoritas
      agama terjun dalam menilai dan menyampaikan kepada publik.

      Untuk novel memang ada juga yang kena semprot otoritas agama. Saya
      kira itu bagian dari jiwa liar dan tidak terkontrol dalam proses
      menulisnya. Namanya juga novel, pasti tidak beanr-benar berasal dari
      fakta. Dominan imajinasi yang tertuang. Karena itu, sumber daya
      kreatif dan tujuan sang penulis dalam menulis novel harusnya
      dipertanyakan sebelum meluncurnya karya di tengah masyarakat.

      Nah novel Tadarus Cinta Buya Pujangga karya Akmal N.Basral bukan
      termasuk yang sakral. Karena itu, saya ingin memberikan catatan. Ini
      sih dari ketidaktahuan saya yang awam dalam sastra dan dunia
      penerbitan.

      Novel yang tebalnya 375 halaman ini diterbitkan Salamadani Grafindo.
      Setidaknya ada beberapa catatan:

      1. Kavernya bagus dan menggambarkan suasana masa lalu Minangkabau.
      Hanya saja kalau menilik isi novel yang mengisahkan kehidupan Hamka,
      tampaknya kurang mengena dan tidak memilki daya tarik. Pembeli buku
      yang melihat di toko tidak akan mengenal kalau itu novel tentang
      kehidupan Hamka. Apalagi dengan judul Buya Pujangga. Pasti kurang
      dikenali. Hanya orang yang gaul dengan sastra yang kenal.

      2. Alur cerita linier dengan intrik keluarga dan adat istiadat menjadi
      bumbu dari isi novel.

      3. Pengambaran suasana alam Minangkabau dan kehidupan masyarakatnya
      yang seakan-akan terpampang di depan mata.

      4. Mengisahkan perjuangan seorang anak ulama yang menjadi tokoh Islam
      Indonesia, masa pergerakan organisasi Islam, dan tumbuhnya rasa
      kebangsaan dari tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terdahulu.

      5. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Keluarga ulama melahirkan
      ulama. Sisi genetis ini tidak dilabrak dan saya kira penulis sedang
      mempertahankannya. Dalam kehidupan sekarang ini saya kira yang
      demikian sedikit. Banyak putra ulama yang menjadi orang bejad moral.
      Bahkan, orang-orang yang disebut ulama sendiri berperilaku yang
      bertentangan dengan agama.

      6. Ini yang terakhir, mungkin sebuah pertanyaan: mengapa sosok
      pujangga yang dimunculkan menjadi judul? Bukankah Hamka itu lebih
      populer dan dominan dalam hidupnya dengan sosok ulama atau aktivitas
      keagamaan?

      7. Saya masih menemukan ketidak sesuaian standar editologi dalam novel
      tersebut. Mungkin itu hal teknis dari pekerja buku yang perlu
      disempurkan melalui edukasi publishing. Padahal, di penerbit tersebut
      menerbitkan buku panduan untuk editor dari master penerbitan. Kenapa
      tidak dijadikan acuan. Tapi biarlah itu hal teknis.

      Nah itu catatan saya. Mungkin ada yang berminat share bagi yang sudah
      baca novel Tadarus Cinta Buya Pujangga. Salam. [ahsa]

      --
      http://www.kompasiana.com/kangahsa
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.