Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Literasi dan Misi Kenabian

Expand Messages
  • Penerbit Nuansa Cendekia
    Literasi dan Misi Kenabian http://www.shnews.co/detile-4099-literasi-dan-misi-kenabian.html Mula-mula harus diakui bahwa produk literasi (tulisan) —baik itu
    Message 1 of 1 , Jul 3, 2012
    • 0 Attachment
      Literasi dan Misi Kenabian

      Mula-mula harus diakui bahwa produk literasi (tulisan) —baik itu berupa media cetak (koran, majalah, buku dan sejenisnya), termasuk literasi online— merupakan kebutuhan sekunder masyarakat.

      Hal ini nyata jika kita melihat dari sisi perbandingan kebutuhan manusia yang pokok berupa makanan, pakaian dan komunikasi, yang memang faktanya dibutuhkan sehari-hari. Fakta tersebut diperkuat oleh kenyataan bahwa produk literasi di masyarakat modern juga bersandar atas kemajuan industri produsen makanan, pakaian, dan komunikasi. 

      Namun, bukan berarti literasi merupakan produk pinggiran. Cara pandang sejarah dan antropologi mampu merekam pentingnya literasi karena di dalamnya berfungsi memenuhi kebutuhan spiritual manusia, yang itu manfaatnya tak bisa diganti oleh produk non-spiritual.

      Buku, kitab, koran, majalah dan sejenisnya merupakan bagian yang mewadahi literatur. Mati-hidupnya industri literasi (koran-penerbit) sering dilihat penyebabnya hanya dari sisi kekurangan atau salah urus finansial. Tetapi, menurut saya, industri bacaan itu bisa tumbuh-berkembang secara baik dan membesar karena di balik target bisnis, punya sandaran spiritual. Ini baru bisa dipercaya jika kita berkenan menengok visi dari spirit dasar pendirian sebuah pabrik literasi.

      Sejarah telah mengabarkan itu dalam wujud manuskrip dari generasi ke generasi di masa lampau. Dari rekam jejaknya, literasi yang paling memenuhi kebutuhan banyak manusia ialah karya dari orang-orang besar yang kita kenal sekarang sebagai “karya nabi” atau kitab suci, sedangkan karya yang minim spiritualitas, biasanya tersisihkan dari evolusi peradaban. 

      Sebelum era kitab suci, banyak literatur berserakan. Tetapi, yang monumental sekaligus fenomenal hingga kini adalah literatur berbasis profetik. Masyarakat Babilonia Kuno, sekitar 6.000 tahun silam memiliki bukti tersebut dengan wujud Breshith atau Genesis. 

      Karya Agung
      Adalah Yapi Tambayong (Remy Sylado) yang melihat kitab ini sebagai karya awal yang agung. Dalam bukunya, 123 Ayat tentang Seni yang sangat menawan, Remy melukiskan: “Breshith sendiri yang di Barat sebagai Genesis itu, urut-urutannya sebagai bagian pertama dari lima kitab bahasa Ibrani yang diyakini berdasarkan sejarah sebagai Torah karya Nabi Musa (Moshe, Moses).”

      Dari buku itu, Remy juga mengisahkan tentang “lima sosok utama dalam Breshith yang biasa kita baca namanya yang dikenal oleh tiga agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam, masing-masing Adam, Ibrahim, Ishak, dan Yakub.” 
      Melalui cara pandangnya yang khas, Remy mengajak kita memahami misi kenabian sebagai sikap hidup manusia yang oleh para jurnalis modern sering diabaikan, yakni memainkan peranan sebagai “pemberita”, “pewarta”, atau “pemanggil” umat manusia agar senantiasa berjalan menuju pintu Tuhan. 

      Karena sedemikian penting spiritualitas, itulah mengapa hidup manusia senantiasa terikat pada literatur. Pengadaan kitab suci berlangsung hingga jual belinya dilegalisasi oleh negara —bahkan karena sejalan dengan penyelewengan pula—kemudian dikorupsi.
      Orang-orang pelanjut misi kenabian — yang harus diakui juga karena alasan materi—berwirausaha mendirikan “pabrik” koran atau penerbit buku. Mereka rela belepotan, tentu bukan semata urusan materi karena mereka sadar kalah prospektif jika dibanding usaha bisnis makanan atau bisnis properti. Mereka harus rela “menjadi tak kaya” karena alasan “idealisme”. 

      Itulah mengapa —seakan terdapat karma—jika pada urusan literasi yang mulia tersebut pelakunya mengabaikan misi profetik, biasanya akan hidup menjadi manusia tanggung. Katakanlah jadi wartawan targetnya semata gaji, apalagi ngamplop, tetap saja tak bisa membuktikan kaya, tak juga bahagia karena tak mendapat kepuasan spiritual.

      Saya paham dan bahkan “mengimani” bahwa materi merupakan kebutuhan. Tetapi, ngobyek materi dengan mengabaikan sisi spiritual adalah perilaku babu licik; pura-pura mengekor majikan, tapi ujung-ujungnya “ngutil” ceceran materi.

      Demikian faktanya, saking hebatnya literasi, ternyata mampu memberikan berkah bagi perolehan materi. Atas dasar ini, semestinya kita berkenan menjaga literasi dari sikap lacur dengan hanya menjadikannya sapi-perah untuk urusan material semata. Spiritualitas tak melulu harus ditempatkan steril dari materi, tetapi memang tetap dijaga sisi profetiknya. 

      Hal yang utama dari misi kenabian ialah etika. Itu penting karena misi besar semua tujuan spiritual kenabian ialah membangun kehidupan di bumi sebagai tujuan menghasilkan adab, tamadun, peradaban. Dari sini, penting pula misi kenabian perlu bersandar pada bahasa kaum, bukan sekadar memahami cara kaum “berbahasa”, melainkan juga memahami serta menghargai perbedaan “bahasa” di masing-masing kaum tersebut. 

      Setiap nabi senantiasa berbicara dengan bahasa kaumnya. Karena itu, literasi yang tidak memahami bahasa kaum tertentu—dan dirasa memang cocok untuk golongan yang dituju —sebaiknya dikarantina. Ungkapan “Nabi Muhammad perampok” memang bisa menyertakan berbagai alasan. Tetapi apa pun alasannya, tidak setiap kaum bisa menerima karena memiliki bahasa (rasa) yang berbeda. 
      Kita, orang Timur, bisa memahami cara pandang orang Barat yang senantiasa berpijak kebenaran pada “fakta”, untuk tujuan progress, dan karena itu pula urusan “rasa” sering diabaikan. Sementara itu, orang Timur, sekalipun tidak buta fakta, urusan “rasa” menjadi yang utama dipelihara untuk sebuah harmoni. 

      Oleh karena itulah perlu dalam sebuah proyek kemanusiaan, upaya “penyebaran”, “pemanggilan”, atau “pewartaan” memprioritaskan misi kenabian ketimbang sekadar membuktikan “fakta” yang belum tentu menghasilkan manfaat bagi kemanusiaan.

      Akhirul kalam, benar bahwa setan juga menyukai sastra, itu dibuktikan misalnya ia berkenan hadir diundang manusia manakala dipuja dengan mantra-mantra yang “sastrawi”. Karena itu yang membedakan manusia dengan setan bukan sastra itu sendiri, melainkan misi kenabian.

      *Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Bandung.

      (Sinar Harapan) 
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.