Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

10543120 Jam Bersama Nur Mahmudi Ismail

Expand Messages
  • EMAN SULAEMAN
    Aug 27, 2013

    120 Jam Bersama Nur Mahmudi Ismail

    Buku tipis ini disusun tak lain karena penulis ingin berbagi cerita dengan pembaca. Ternyata, masih ada sosok pemimpin yang layak dijadikan sumber inspirasi, yang memiliki oase hikmah cukup luas. Sosok pemimpin yang terlihat biasa, namun ia laksana mutiara. Ketika belum diangkat dari dasar laut, mutiara tersebut belum terlihat indah kemilaunya. Namun, setelah mutiara tersebut dibuka dan dikupas, kemilaunya begitu luar biasa. Nur Mahmudi bisa diibaratkan seperti mutiara yang indah. Hanya karena belum diangkat ke permukaan, keindahan kemilaunya belum banyak dinikmati oleh khalayak luas.

    Kalau kita amati secara jujur, kini hampir semua kalangan masyarakat merasa apatis terhadap pemimpin di negeri ini. Semua tidak seperti yang diharapkan. Jangankan untuk memberikan kemajuan dan kesejahteraan, untuk menengok rakyatnya saja mereka enggan. Jika demikian, bagaimana mungkin mereka bisa merasakan kehidupan kaum papa di bawah sana, bagaimana mereka bisa berempati sebagai pemimpin yang katanya mengayomi rakyatnya.

    Keindahan akhlak seseorang dalam keseharian tentu tidak lahir begitu saja. Perlu waktu yang panjang dan perlu proses yang melibatkan banyak orang. Ketika menulis buku ini, bukan figuritas seorang Nur Mahmudi yang ingin ditonjolkan, apalagi dikultuskan. Tetapi, sebuah sisi menarik seorang pemimpin yang berbeda dari pemimpin biasa yang sering kita lihat. Bukan suatu yang utopis manakala lahir seorang pemimpin muda yang energik, cerdas, kreatif, inovatif, membaur dengan rakyatnya, dan saleh. Meskipun sangat langka, kita tetap berharap akan datangnya sosok pemimpin yang dicintai rakyat.

    Nur Mahmudi memberikan satu harapan bagi banyak kalangan untuk mengejawantahkan nilai-nilai kebaikan seorang pemimpin. Berbekal pendidikan tingginya di Amerika Serikat, juga tempaan nilai-nilai ruhani yang kuat ketika menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, rasa-rasanya sosok pemimpin muda ini layak dijadikan tonggak harapan baru untuk banyak orang. Bukan harapan yang muluk, tetapi sebuah asa yang realistis. Sudah saatnya para pemimpin yang memiliki nilai kecerdasan tinggi, tingkat keberagamaan yang baik, dan pengalaman memimpin wilayah tampil ke ranah perpolitikan di negeri ini.

    Lihat saja ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz memimpin. Kombinasi antara kepiawaiannya dalam mengelola pemerintahan, kesalehan, dan sebagai sosok yang dekat dengan rakyat membuat keadaan pada saat itu benar-benar menjadi contoh kepemimpinan tersukses hingga sekarang. Stabilitas politik terkendali, rakyat pun hidup makmur. Hingga, pada saat itu sangat sulit mencari orang miskin untuk diberikan sedekah. Sebuah pentas pemerintahan yang memang benar-benar pernah ada dan diakui keabsahannya.

    Bukan untuk bernostalgia dengan kisah para orang-orang saleh terdahulu, hanya saja tidak bolehkah kita mencontoh orang-orang yang sukses pada zamannya? Kita mencoba mengulang perjalanan mereka untuk menjadikan negeri ini, meskipun tidak bisa sesukses Khalifah Umar bin Abdul Aziz, minimal berupaya masuk track menuju ke sana. Berjalan menuju jalan lurus yang telah digariskan Rasulullah saw..(less)