Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Rumah Persembunyian Soekarno di Rengasdengklok

Expand Messages
  • Rinto Jiang
    Rekan2 semua, Saya dikirimin beberapa foto rumah yang dulu pernah dijadikan tempat persembunyian Bung Karno sesaat sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Fotonya
    Message 1 of 4 , May 26, 2005
    • 0 Attachment
      Rekan2 semua,

      Saya dikirimin beberapa foto rumah yang dulu pernah dijadikan tempat
      persembunyian Bung Karno sesaat sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.
      Fotonya telah saya upload di bagian Photo - Foto Aktual -
      Rengasdengklok, ada 4 foto, depan rumah, kamar tidur, altar penghormatan
      di ruang tamu (ada foto Bung Karno di pinggiran altar).

      Adakah teman2 yang tahu siapa nama kakek pemilik rumah ini? Just
      curious. Terima kasih sebelumnya.


      Rinto Jiang
    • yastaki_kurata
      Rekan Rinto, Berikut artikel yang saya dapatkan mengenai pemilik rumah tersebut. sumbernya adalah dari http://www.gpdi-gatep.org/wmview.php?ArtID=118 Koreksi
      Message 2 of 4 , May 26, 2005
      • 0 Attachment
        Rekan Rinto,

        Berikut artikel yang saya dapatkan mengenai pemilik rumah tersebut.
        sumbernya adalah dari http://www.gpdi-gatep.org/wmview.php?ArtID=118

        Koreksi sedikit, istilah "persembunyian" Soekarno kurang tepat. Bung
        Karno tidak bersembunyi tetapi "disembunyikan". Kalau kita setuju
        bahwa peristiwa rengas dengklok itu adalah penculikan, maka kata
        yang tepat sebetulnya adalah tempat "penyekapan". Tapi, karena
        tujuan "penculikan" itu adalah "baik" (supaya Bung Karno
        memproklamirkan kemerdekaan RI), maka kata itu terasa terlalu kasar.
        Oke, itu adalah hal lain lagi, yaitu sejarah. Maaf berpanjang-
        panjang kata

        YasKur


        Tempat Penulisan Naskah Proklamasi
        Sumber: Internet
        SEJAK Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno-Hatta, 17
        Agustus 1495, rumah alm. Babah Djiaw Ki Siong di Dusun Bojong
        Ds./Kec. Rengasdengklok Kab. Karawang diabadikan sebagai rumah
        bersejarah. Rumah seorang petani keturunan Tionghoa di pinggir
        Sungai Citarum itu pernah dipakai tempat tinggal para "Bapak Bangsa"
        dalam menyusun naskah proklamasi, sebelum naskah itu dikumandangkan
        di Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.
        Karena dinobatkan sebagai rumah bersejarah, seluruh bangunan rumah
        yang berdinding kayu jati, beratap genting tua, dan beralaskan batu
        bata itu dan sampai sekarang masih ditempati anak cucu Djiaw Ki
        Siong sebagai pemiliknya, tak boleh diperbaiki apalagi diubah
        seenaknya. Pelarangan itu muncul karena kekhawatiran nilai keaslian
        rumah itu punah.
        Anehnya, dari dulu hingga sekarang, pemerintah hanya cukup
        memberikan nama rumah bersejarah yang harus dilestarikan. Di luar
        itu sama sekali tak pernah ada perhatian bagi si pemiliknya.
        Sementara itu, kondisi rumah kian tua dan terancam mengalami
        kerusakan. Andai rumah itu ambruk, bagaimana nasib keluarga yang
        sekarang menempati rumah itu?
        Ketika Babah Djiaw Ki Siong masih hidup, sejumlah perkakas rumah
        yang dulu pernah dipakai Bung Karno sekeluarga, Bung Hatta, dan
        tokoh proklamator lainnya diangkut ke museum di Jabar. Sayangnya,
        Djiaw Ki Siong -- yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani
        kecil -- tak sepeser pun mendapat ganti rugi saat barang-barang
        miliknya itu diboyong ke museum.
        "Meski demikian kedaannya, keluarga kami tetap bangga rumah ini
        telah dijadikan simbol rumah bersejarah bagi perjuangan bangsa.
        Bingungnya, rumah ini sudah lapuk dan sudah mengkhawatirkan bila
        dipakai tempat tinggal, sulit untuk diperbaiki karena dilarang
        pemerintah," kata Ny. Iin alias Djiaw Kwin Moy, cucu Djiaw Ki Siong
        yang sekarang menempati rumah tersebut. Di rumah itu pernah tinggal
        Bung Karno, Bung Hatta, Sukarni Yusuf Kunto, dr. Sucipto, Ny.
        Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada
        14-16 Agustus 1945.
        Pada tahun 1958, rumah bersejarah itu pernah dipindahkan karena
        tergusur pelebaran pembangunan Sungai Citarum. Sebelum dipindahkan,
        dua perangkat tempat tidur terbuat dari kayu jati, tempat tidur Bung
        Karno dan Bung Hatta, seperangkat tempat minum dan seperangkat meja
        kursi tempat duduk para tokoh proklamator, diambil pihak museum
        Bandung.
        "Engkong (kakek) Djiaw Ki Siong merelakan semua perkakas rumah untuk
        diabadikan sebagai benda bersejarah. Membangun rumah di tempat baru
        yang harus dipertahankan keasliannya pun semuanya dibiayai dari
        hasil jerih payah engkong, tanpa sepeser pun bantuan pemerintah,"
        kata Yayang, suami Ny. Iin. Padahal, engkong hanyalah seorang petani
        kecil di Rengasdengklok.
        Di antara para tokoh nasional yang memberi perhatian besar kepada
        keluarga Djiaw Ki Siong adalah Mayjen Ibrahim Adjie yang pada saat
        itu menjabat sebagai Pangdam III Siliwangi. Pangdam pernah memberi
        penghargaan kepada Babah Djiaw berupa selembar piagam nomor
        08/TP/DS/tahun 1961.
        Setelah Babah Djiaw meninggal pada tahun 1964 dan beberapa tahun
        berselang berganti kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto,
        rumah bersejarah diwariskan kepada anak pertama Babah Djiaw, yakni
        Ny. Tiaw Siong (ibunda Ny. Iin). Sekali lagi, tak ada perhatian apa
        pun dari pemerintah. Malah, Ny. Tiaw sempat tak dibolehkan menerima
        tamu siapa pun yang ingin tahu rumah bersejarah itu.
        Sekira tahun 1980-an, di Lapangan Rengasdengklok yang letaknya hanya
        beberapa puluh meter dari rumah alm. Djiaw, dibangun Tugu Perjuangan
        dengan biaya besar. Anehnya, pihak pemerintah sama sekali tak
        melirik keberadaan rumah Djiaw yang kondisinya sudah rusak termakan
        usia. Padahal, di rumah itu naskah proklamasi disusun sehari sebelum
        Indonesia merdeka.
        "Anehnya lagi, tatkala rumah ini akan direhab karena banyak bagian
        yang rusak, keluarga kami malah harus lapor kesana-kemari. Akhirnya
        tak dibolehkan direhab, khawatir bagian rumah bersejarah berubah
        wujud. Karena dilarang itu ya... sampai sekarang beginilah keadaan
        rumah kami yang kalau terus-terusan tak dibolehkan direhab bisa-bisa
        ambruk," kata Ny. Iin. Ia menolak keras rumor bahwa rumahnya itu
        mendapat aliran sumbangan untuk biaya perawatan.
        Babah Djiaw pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah
        bersejarah itu harus bersabar. Tak dibolehkan merengek minta-minta
        sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari
        menunggu rumah ini demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu
        yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa.
        Karena manutnya akan wasiat engkong Djiaw, Ny. Tiaw yang
        kesehariannya berjualan kue di Pasar Rengasdengklok terpaksa harus
        berada di rumah. Begitu juga Ny. Iin yang sudah hampir tiga tahun
        setelah ibundanya meninggal selalu berada di rumah. Sementara itu,
        yang berjualan di toko adalah sang suami. Sayang, keluarga Yayang
        tak bisa berjualan kue di pasar, setelah tahun lalu Pasar
        Rengasdengklok habis dilalap api.
        Berkat kesetiaan Ny. Tiaw dan Ny. Iin, sebagai ahli waris rumah
        bersejarah, setiap tamu dilayani dengan baik. Mereka pun mampu
        memberi keterangan sejarah tentang keberadaan rumah miliknya kepada
        setiap tamu yang datang. Memang, tak dimungkiri, di antara sekian
        puluh ribu tamu ada saja yang memberi uang alakadarnya.
        "Tak apa-apalah rumah bersejarah ini tak diperhatikan siapa pun.
        Yang penting, kami pemiliknya punya kebanggaan tersendiri ikut
        menoreh perjuangan bangsa ini," kata Ny. Iin sambil menyatakan bahwa
        ia dan keluarganya sering bermimpi bertemu Bung Karno, Bung Hatta,
        dan sejumlah tokoh yang dulu pernah menginap di rumahnya.
        Rumah bersejarah milik alm. Djiaw Ki Siong berada di sebuah
        perkampungan di lingkungan padat perumahan masyarakat Dusun Bojong.
        Dari lapangan Tugu Perjuangan ke rumah itu, ada jalan sempit belum
        beraspal. Bila hujan turun, jalan becek menyulitkan tamu berkunjung
        ke rumah itu.
        Di ruang tamu berukuran 6 x 8 meter terdapat dua buah meja ukir
        jati. Di atasnya terpampang buku-buku sejarah perjuangan. Ada buku
        tamu tebal dan sudah penuh diisi tandatangan puluhan ribu tamu. Di
        dinding tembok kayu terpampang gambar alm. Djiaw Ki Siomg
        berdampingan dengan gambar Bung Karno berbingkai kaca.
        "Di kamar inilah Bung Karno, Ibu Fatmawati dang putra ciliknya
        Guntur istirahat tidur. Di samping kiri kamar, tempat Bung Hatta dan
        tiga tokoh proklamator istirahat, sementara bangku dipan ini tempat
        para ajudan Bung Karno berjaga," kata Yayang sambil menunjuk dua
        buah kamar yang sudah lama tak pernah dipakai tempat tidur.
        Sementara itu, tempat istirahat keluarga Yayang berada di belakang
        ruang tamu yang sekarang sudah direnovasi secara permanen.
        Pascareformasi, rumah Djiaw Ki Siong cukup sering dikunjungi para
        tamu. Sejumlah tokoh nasional seperti Akbar Tanjung, Roy B.B. Janis,
        Guntur Soekarnoputra, Gempar Soekarnoputra, Harmoko, dan sejumlah
        tokoh dari fungsionaris PDIP sering datang juga. Adapun Megawati
        Soekarnoputri baru berjanji saja, karena sampai sekarang belum
        berkunjung.
        Tokoh pejuang yang juga seniman kondang Karawang, R.H. Tjetjep
        Supriyadi menyesalkan pemerintah yang sama sekali tak memerhatikan
        rumah sejarah Babah Djiaw Ki Siong. Termasuk juga, para pejuang
        Rengasdengklok yang dulunya ikut bergerilya, berjuang membela
        negara.
        "Saya malu Tugu Pangkal Perjuangan Rengasdengklok amburadul. Jalan
        menuju Rengasdengklok rusak berat, apalagi jika melihat kondisi
        rumah Djiaw Ki Siong yang hampir roboh. Heran saya, kok jadi begini
        perhatian para pemimpin bangsa," tegas R.H. Tjetjep Supriyadi, yang
        mengaku ikut berjuang dalam perang gerilya di Rengasdngklok.
        Tjejep membeberkan, sebetulnya Hari Proklamasi Kemerdekaan RI
        rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada Hari Kamis
        tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Ki Siong.
        Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah babah itu. Bendera
        merah putih sudah berani dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada
        Rabu tanggal 15 Agustus, karena tahu esok harinya Indonesia akan
        merdeka.
        "Ketika naskah proklamasi mau dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore
        kedatangan Ahmad Subarjo. Ia mengundang Bung Karno dkk. berangkat ke
        Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56,"
        kata Tjetjep Supriadi.(H. Undang Sunaryo/MD/Dodo Rihanto/"PR")



        --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Rinto Jiang <rinto@r...>
        wrote:
        > Rekan2 semua,
        >
        > Saya dikirimin beberapa foto rumah yang dulu pernah dijadikan
        tempat
        > persembunyian Bung Karno sesaat sebelum Proklamasi 17 Agustus
        1945.
        > Fotonya telah saya upload di bagian Photo - Foto Aktual -
        > Rengasdengklok, ada 4 foto, depan rumah, kamar tidur, altar
        penghormatan
        > di ruang tamu (ada foto Bung Karno di pinggiran altar).
        >
        > Adakah teman2 yang tahu siapa nama kakek pemilik rumah ini? Just
        > curious. Terima kasih sebelumnya.
        >
        >
        > Rinto Jiang
      • david_kwa2003
        RRS, Setahu saya, dari sumber-sumber lain, nama pemilik rumah kebanggaan itu adalah Djiauw Kie Siong deh, bukan Djiaw Ki Siong (ejaan van Ophuijzennya salah).
        Message 3 of 4 , May 26, 2005
        • 0 Attachment
          RRS,

          Setahu saya, dari sumber-sumber lain, nama pemilik rumah kebanggaan
          itu adalah Djiauw Kie Siong deh, bukan Djiaw Ki Siong (ejaan van
          Ophuijzennya salah). Rupanya penulis salah mengeja atu tidak mengerti
          ejaan van Ophuijzen sama sekali. Dilafalkannya ya tetap jiau ki siong.

          Kiongchiu,
          DK

          --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "yastaki_kurata"
          <yastaki_kurata@y...> wrote:
          > Rekan Rinto,
          >
          > Berikut artikel yang saya dapatkan mengenai pemilik rumah tersebut.
          > sumbernya adalah dari http://www.gpdi-gatep.org/wmview.php?ArtID=118
          >
          > Koreksi sedikit, istilah "persembunyian" Soekarno kurang tepat.
          Bung
          > Karno tidak bersembunyi tetapi "disembunyikan". Kalau kita setuju
          > bahwa peristiwa rengas dengklok itu adalah penculikan, maka kata
          > yang tepat sebetulnya adalah tempat "penyekapan". Tapi, karena
          > tujuan "penculikan" itu adalah "baik" (supaya Bung Karno
          > memproklamirkan kemerdekaan RI), maka kata itu terasa terlalu
          kasar.
          > Oke, itu adalah hal lain lagi, yaitu sejarah. Maaf berpanjang-
          > panjang kata
          >
          > YasKur
          >
          >
          > Tempat Penulisan Naskah Proklamasi
          > Sumber: Internet
          > SEJAK Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno-Hatta, 17
          > Agustus 1495, rumah alm. Babah Djiaw Ki Siong di Dusun Bojong
          > Ds./Kec. Rengasdengklok Kab. Karawang diabadikan sebagai rumah
          > bersejarah. Rumah seorang petani keturunan Tionghoa di pinggir
          > Sungai Citarum itu pernah dipakai tempat tinggal para "Bapak
          Bangsa"
          > dalam menyusun naskah proklamasi, sebelum naskah itu dikumandangkan
          > di Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.
          > Karena dinobatkan sebagai rumah bersejarah, seluruh bangunan rumah
          > yang berdinding kayu jati, beratap genting tua, dan beralaskan batu
          > bata itu dan sampai sekarang masih ditempati anak cucu Djiaw Ki
          > Siong sebagai pemiliknya, tak boleh diperbaiki apalagi diubah
          > seenaknya. Pelarangan itu muncul karena kekhawatiran nilai keaslian
          > rumah itu punah.
          > Anehnya, dari dulu hingga sekarang, pemerintah hanya cukup
          > memberikan nama rumah bersejarah yang harus dilestarikan. Di luar
          > itu sama sekali tak pernah ada perhatian bagi si pemiliknya.
          > Sementara itu, kondisi rumah kian tua dan terancam mengalami
          > kerusakan. Andai rumah itu ambruk, bagaimana nasib keluarga yang
          > sekarang menempati rumah itu?
          > Ketika Babah Djiaw Ki Siong masih hidup, sejumlah perkakas rumah
          > yang dulu pernah dipakai Bung Karno sekeluarga, Bung Hatta, dan
          > tokoh proklamator lainnya diangkut ke museum di Jabar. Sayangnya,
          > Djiaw Ki Siong -- yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani
          > kecil -- tak sepeser pun mendapat ganti rugi saat barang-barang
          > miliknya itu diboyong ke museum.
          > "Meski demikian kedaannya, keluarga kami tetap bangga rumah ini
          > telah dijadikan simbol rumah bersejarah bagi perjuangan bangsa.
          > Bingungnya, rumah ini sudah lapuk dan sudah mengkhawatirkan bila
          > dipakai tempat tinggal, sulit untuk diperbaiki karena dilarang
          > pemerintah," kata Ny. Iin alias Djiaw Kwin Moy, cucu Djiaw Ki Siong
          > yang sekarang menempati rumah tersebut. Di rumah itu pernah tinggal
          > Bung Karno, Bung Hatta, Sukarni Yusuf Kunto, dr. Sucipto, Ny.
          > Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada
          > 14-16 Agustus 1945.
          > Pada tahun 1958, rumah bersejarah itu pernah dipindahkan karena
          > tergusur pelebaran pembangunan Sungai Citarum. Sebelum dipindahkan,
          > dua perangkat tempat tidur terbuat dari kayu jati, tempat tidur
          Bung
          > Karno dan Bung Hatta, seperangkat tempat minum dan seperangkat meja
          > kursi tempat duduk para tokoh proklamator, diambil pihak museum
          > Bandung.
          > "Engkong (kakek) Djiaw Ki Siong merelakan semua perkakas rumah
          untuk
          > diabadikan sebagai benda bersejarah. Membangun rumah di tempat baru
          > yang harus dipertahankan keasliannya pun semuanya dibiayai dari
          > hasil jerih payah engkong, tanpa sepeser pun bantuan pemerintah,"
          > kata Yayang, suami Ny. Iin. Padahal, engkong hanyalah seorang
          petani
          > kecil di Rengasdengklok.
          > Di antara para tokoh nasional yang memberi perhatian besar kepada
          > keluarga Djiaw Ki Siong adalah Mayjen Ibrahim Adjie yang pada saat
          > itu menjabat sebagai Pangdam III Siliwangi. Pangdam pernah memberi
          > penghargaan kepada Babah Djiaw berupa selembar piagam nomor
          > 08/TP/DS/tahun 1961.
          > Setelah Babah Djiaw meninggal pada tahun 1964 dan beberapa tahun
          > berselang berganti kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto,
          > rumah bersejarah diwariskan kepada anak pertama Babah Djiaw, yakni
          > Ny. Tiaw Siong (ibunda Ny. Iin). Sekali lagi, tak ada perhatian apa
          > pun dari pemerintah. Malah, Ny. Tiaw sempat tak dibolehkan menerima
          > tamu siapa pun yang ingin tahu rumah bersejarah itu.
          > Sekira tahun 1980-an, di Lapangan Rengasdengklok yang letaknya
          hanya
          > beberapa puluh meter dari rumah alm. Djiaw, dibangun Tugu
          Perjuangan
          > dengan biaya besar. Anehnya, pihak pemerintah sama sekali tak
          > melirik keberadaan rumah Djiaw yang kondisinya sudah rusak termakan
          > usia. Padahal, di rumah itu naskah proklamasi disusun sehari
          sebelum
          > Indonesia merdeka.
          > "Anehnya lagi, tatkala rumah ini akan direhab karena banyak bagian
          > yang rusak, keluarga kami malah harus lapor kesana-kemari. Akhirnya
          > tak dibolehkan direhab, khawatir bagian rumah bersejarah berubah
          > wujud. Karena dilarang itu ya... sampai sekarang beginilah keadaan
          > rumah kami yang kalau terus-terusan tak dibolehkan direhab bisa-
          bisa
          > ambruk," kata Ny. Iin. Ia menolak keras rumor bahwa rumahnya itu
          > mendapat aliran sumbangan untuk biaya perawatan.
          > Babah Djiaw pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah
          > bersejarah itu harus bersabar. Tak dibolehkan merengek minta-minta
          > sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari
          > menunggu rumah ini demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu
          > yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa.
          > Karena manutnya akan wasiat engkong Djiaw, Ny. Tiaw yang
          > kesehariannya berjualan kue di Pasar Rengasdengklok terpaksa harus
          > berada di rumah. Begitu juga Ny. Iin yang sudah hampir tiga tahun
          > setelah ibundanya meninggal selalu berada di rumah. Sementara itu,
          > yang berjualan di toko adalah sang suami. Sayang, keluarga Yayang
          > tak bisa berjualan kue di pasar, setelah tahun lalu Pasar
          > Rengasdengklok habis dilalap api.
          > Berkat kesetiaan Ny. Tiaw dan Ny. Iin, sebagai ahli waris rumah
          > bersejarah, setiap tamu dilayani dengan baik. Mereka pun mampu
          > memberi keterangan sejarah tentang keberadaan rumah miliknya kepada
          > setiap tamu yang datang. Memang, tak dimungkiri, di antara sekian
          > puluh ribu tamu ada saja yang memberi uang alakadarnya.
          > "Tak apa-apalah rumah bersejarah ini tak diperhatikan siapa pun.
          > Yang penting, kami pemiliknya punya kebanggaan tersendiri ikut
          > menoreh perjuangan bangsa ini," kata Ny. Iin sambil menyatakan
          bahwa
          > ia dan keluarganya sering bermimpi bertemu Bung Karno, Bung Hatta,
          > dan sejumlah tokoh yang dulu pernah menginap di rumahnya.
          > Rumah bersejarah milik alm. Djiaw Ki Siong berada di sebuah
          > perkampungan di lingkungan padat perumahan masyarakat Dusun Bojong.
          > Dari lapangan Tugu Perjuangan ke rumah itu, ada jalan sempit belum
          > beraspal. Bila hujan turun, jalan becek menyulitkan tamu berkunjung
          > ke rumah itu.
          > Di ruang tamu berukuran 6 x 8 meter terdapat dua buah meja ukir
          > jati. Di atasnya terpampang buku-buku sejarah perjuangan. Ada buku
          > tamu tebal dan sudah penuh diisi tandatangan puluhan ribu tamu. Di
          > dinding tembok kayu terpampang gambar alm. Djiaw Ki Siomg
          > berdampingan dengan gambar Bung Karno berbingkai kaca.
          > "Di kamar inilah Bung Karno, Ibu Fatmawati dang putra ciliknya
          > Guntur istirahat tidur. Di samping kiri kamar, tempat Bung Hatta
          dan
          > tiga tokoh proklamator istirahat, sementara bangku dipan ini tempat
          > para ajudan Bung Karno berjaga," kata Yayang sambil menunjuk dua
          > buah kamar yang sudah lama tak pernah dipakai tempat tidur.
          > Sementara itu, tempat istirahat keluarga Yayang berada di belakang
          > ruang tamu yang sekarang sudah direnovasi secara permanen.
          > Pascareformasi, rumah Djiaw Ki Siong cukup sering dikunjungi para
          > tamu. Sejumlah tokoh nasional seperti Akbar Tanjung, Roy B.B.
          Janis,
          > Guntur Soekarnoputra, Gempar Soekarnoputra, Harmoko, dan sejumlah
          > tokoh dari fungsionaris PDIP sering datang juga. Adapun Megawati
          > Soekarnoputri baru berjanji saja, karena sampai sekarang belum
          > berkunjung.
          > Tokoh pejuang yang juga seniman kondang Karawang, R.H. Tjetjep
          > Supriyadi menyesalkan pemerintah yang sama sekali tak memerhatikan
          > rumah sejarah Babah Djiaw Ki Siong. Termasuk juga, para pejuang
          > Rengasdengklok yang dulunya ikut bergerilya, berjuang membela
          > negara.
          > "Saya malu Tugu Pangkal Perjuangan Rengasdengklok amburadul. Jalan
          > menuju Rengasdengklok rusak berat, apalagi jika melihat kondisi
          > rumah Djiaw Ki Siong yang hampir roboh. Heran saya, kok jadi begini
          > perhatian para pemimpin bangsa," tegas R.H. Tjetjep Supriyadi, yang
          > mengaku ikut berjuang dalam perang gerilya di Rengasdngklok.
          > Tjejep membeberkan, sebetulnya Hari Proklamasi Kemerdekaan RI
          > rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada Hari Kamis
          > tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Ki Siong.
          > Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah babah itu. Bendera
          > merah putih sudah berani dikibarkan para pejuang Rengasdengklok
          pada
          > Rabu tanggal 15 Agustus, karena tahu esok harinya Indonesia akan
          > merdeka.
          > "Ketika naskah proklamasi mau dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore
          > kedatangan Ahmad Subarjo. Ia mengundang Bung Karno dkk. berangkat
          ke
          > Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56,"
          > kata Tjetjep Supriadi.(H. Undang Sunaryo/MD/Dodo Rihanto/"PR")
          >
          >
          >
          > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Rinto Jiang <rinto@r...>
          > wrote:
          > > Rekan2 semua,
          > >
          > > Saya dikirimin beberapa foto rumah yang dulu pernah dijadikan
          > tempat
          > > persembunyian Bung Karno sesaat sebelum Proklamasi 17 Agustus
          > 1945.
          > > Fotonya telah saya upload di bagian Photo - Foto Aktual -
          > > Rengasdengklok, ada 4 foto, depan rumah, kamar tidur, altar
          > penghormatan
          > > di ruang tamu (ada foto Bung Karno di pinggiran altar).
          > >
          > > Adakah teman2 yang tahu siapa nama kakek pemilik rumah ini? Just
          > > curious. Terima kasih sebelumnya.
          > >
          > >
          > > Rinto Jiang
        • ~YOGHA
          Yang saya herankan juga kenapa anak keturunan Tokoh-Tokoh yang pernah berada di rumah bersejarah tersebut juga diam saja ya?.. tentunya kita sudah tahu
          Message 4 of 4 , May 28, 2005
          • 0 Attachment
            Yang saya herankan juga kenapa anak keturunan Tokoh-Tokoh yang pernah berada
            di rumah bersejarah tersebut juga diam saja ya?.. tentunya kita sudah "tahu"
            bagaimana political will dan kemampuan pemerintah dalam hal menjaga
            kelestarian cagar budaya dan sejarah..

            Bukankah mereka ( anak tokoh-tokoh tsb ) juga bukan orang yg tidak
            mampu....baik dalam hal dana ataupun melobi pihak berwenang dalam hal
            pelestarian rumah bersejarah tersebut...

            Salam

            ~ Yogha


            Message: 1
            Date: Thu, 26 May 2005 11:23:54 -0000
            From: "yastaki_kurata" <yastaki_kurata@...>
            Subject: Re: Rumah Persembunyian Soekarno di Rengasdengklok

            Rekan Rinto,

            Berikut artikel yang saya dapatkan mengenai pemilik rumah tersebut.
            sumbernya adalah dari http://www.gpdi-gatep.org/wmview.php?ArtID=118

            Koreksi sedikit, istilah "persembunyian" Soekarno kurang tepat. Bung
            Karno tidak bersembunyi tetapi "disembunyikan". Kalau kita setuju
            bahwa peristiwa rengas dengklok itu adalah penculikan, maka kata
            yang tepat sebetulnya adalah tempat "penyekapan". Tapi, karena
            tujuan "penculikan" itu adalah "baik" (supaya Bung Karno
            memproklamirkan kemerdekaan RI), maka kata itu terasa terlalu kasar.
            Oke, itu adalah hal lain lagi, yaitu sejarah. Maaf berpanjang-
            panjang kata

            Salam
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.