Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Lemahnya Koordinasi Ancam Sumber Daya Air

Expand Messages
  • Djuni Pristiyanto
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/03/humaniora/1598137.htm Kamis, 03 Maret 2005 Lemahnya Koordinasi Ancam Sumber Daya Air Jakarta, Kompas - Sejak
    Message 1 of 1 , Mar 2, 2005
      http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/03/humaniora/1598137.htm
      Kamis, 03 Maret 2005

      Lemahnya Koordinasi Ancam Sumber Daya Air

      Jakarta, Kompas - Sejak beberapa tahun lalu dunia mengisyaratkan bahwa
      ketersediaan air bagi penduduk bumi tidak sebanding dengan peningkatan
      permintaan. Di Indonesia, kondisi makin parah karena lemahnya koordinasi
      penanganan sumber daya air belum juga teratasi.

      Padahal, jumlah lahan kritis semakin luas termasuk hilangnya kawasan
      tangkapan air, sedimentasi, dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS).
      Pencemaran air pun terus terjadi.

      Mengenai luasan lahan kritis, data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
      (Bappenas) tahun 1990 menunjukkan, lahan kritis di Indonesia mencapai 13,2
      juta hektar dan tahun 2004 naik menjadi 42,10 juta hektar. Sebanyak 60 DAS
      masuk prioritas pertama, 222 DAS prioritas kedua, dan 176 DAS prioritas ketiga.

      "Penyebabnya adalah tidak adanya koordinasi yang tepat antarinstansi dan
      sektor-sektor yang berkepentingan," kata Direktur Kehutanan dan Konservasi
      Sumber Daya Air Bappenas Dr Ir Edi Effendi Tedjakusuma MA dalam lokakarya
      "Pengelolaan Sumberdaya Air Berkelanjutan". Acara diselenggarakan
      Kementerian Lingkungan Hidup kerja sama dengan LSM WaterFinns dari
      Finlandia di Jakarta, Rabu (2/3).

      Pernyataan serupa diungkapkan Deputi Pelestarian Lingkungan Kementerian
      Lingkungan Hidup Sudariyono dan Kepala Sub-Direktorat Konservasi Sumber
      Daya Air Departemen Pekerjaan Umum M Ali. Menurut data PU, sejumlah waduk
      tingkat sedimentasinya berat, di antaranya Jatiluhur (Jawa Barat),
      Karangkates (Jawa Timur), Wonogiri (Jawa Tengah), dan Gragak di Bali.

      Sedimentasi juga menimpa lima danau, masing-masing Tondano, Limboto, Tempe,
      Toba, dan Poso. Sebelas sungai tercatat tercemar berat limbah industri,
      rumah tangga, dan logam berat merkuri (Hg). "Pendayagunaan sumber daya air
      tidak diimbangi upaya konservasi. Ini butuh penanganan bersama," katanya.

      Tidak dibahas

      Peserta dari Yayasan Konservasi Borneo Gusti Anshari menyayangkan sisi
      lingkungan tidak dibahas secara memadai dalam acara kemarin.

      Keberlanjutan sumber daya air, lanjut staf pengajar Universitas Tanjungpura
      itu, semestinya tidak hanya dikupas mengenai air minum dan dampaknya
      semata. "Harus ada pembahasan bagaimana upaya yang harus dilakukan terhadap
      lingkungan, demi keberlanjutan sumber daya air," katanya.

      Akan tetapi, hingga acara berakhir, tidak ada rekomendasi bentuk kerja sama
      yang dapat dilakukan antarkedua negara. (GSA)


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.