Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Buletin Mingguan Dunia Ibu, 191, April 2006 (I)

Expand Messages
  • Rahma
    **~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~** Buletin Mingguan www.dunia-ibu.org Edisi No: 191-04-01-2006
    Message 1 of 1 , Apr 3, 2006
    • 0 Attachment
      **~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**
      Buletin Mingguan www.dunia-ibu.org
      Edisi No: 191-04-01-2006
      **~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**

      Daftar Isi:
      Rangkuman Diskusi :
      ~ Kapan fase oral berhenti?
      ~ Kantong Plastik ASI

      Tips dan Tricks :
      ~ Beberapa pesan penting untuk Asisten

      **~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**

      Kapan fase oral berhenti?

      [Tanya]

      Ini tentang anak keduaku, adakah diantara para ibu yang anaknya
      sampai
      lewat usia 2thn masih suka saja memasukkan sesuatu ke mulut? (fase
      oral). Bagaimana ya..tips-nya, kami sudah berkali-kali kasih tahu ke
      anakku mana yang boleh masuk mulut mana yang tidak, tapi sepertinya
      dia tidak peduli. Dulupun ketika fase oral di masa bayinya juga
      sudah kami larang, tapi tetap saja, rasanya tidak afdol kali yaa,
      kalau setiap benda tidak mampir ke mulutnya, Sampai umur berapa kira-
      kira fase ini berhenti? Terima kasih [Rhm]

      [Jawab]

      Mbak, Anakku sekarang usianya 3tahun 5bulan masih juga suka
      memasukkan sesuatu/mainan ke mulut. Walaupun selalu diingatkan,
      ternyata masih saja masukkan mainan ke mulut. Memang tidak sesering
      waktu usianya masih 2 tahunan. Maaf ya kalau imelku tidak membantu,
      soalnya ternyata kita punya masalah yang sama [Ly]

      Maaf kalau sudah pernah dapat artikel dibwah ini. Anakku juga (masih
      3.5bulan sih) sukanya ngenyot jempol dan ngempeng. Mudah-mudahan
      nanti bisa berhenti sendiri [Ktk]

      Artikel 6 KEBIASAAN BAYI YANG MASIH TERBAWA SAMPAI BATITA

      Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari
      anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan
      sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa
      bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita.
      Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun
      beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua
      mencermati hal ini? "Yang terpenting, orang tua paham betul mana
      yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak,"
      jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.

      1. NGENYOT JARI, NGEMPENG DAN NGEDOT
      Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak
      bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui
      fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah
      mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng,
      ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak
      pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila
      selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan
      tersebut.

      Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak
      tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan
      tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi
      kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa
      dilakukan.
      * Kenalkan cara minum menggunakan gelas.
      * Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti
      mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau
      tangannya tidak bersih dan sebagainya.
      * Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau
      karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.
      * Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan
      kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis
      mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
      * Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan
      kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan
      memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini
      sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa "ditipu" oleh orang
      tuanya sendiri.

      Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan
      kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus,
      secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure
      feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi
      kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak
      mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya
      akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

      2. NGOMPOL DAN PUP DI CELANA
      Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal.
      Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil)
      maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal,
      sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau
      begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai
      mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali
      dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut
      beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan
      BAK dan BAB di celana.

      * Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
      * Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak
      kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun.
      Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa
      membantunya tidak ngompol lagi.
      * Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan
      membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak
      terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau
      dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa
      keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.
      * Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian
      mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang
      sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi
      kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu
      dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami
      mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya
      gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya
      kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun
      kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan
      ia mengalami gangguan psikologis.
      * Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab
      masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus
      terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya,
      sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan
      teman-temannya.

      3. MEMAINKAN ALAT KELAMIN
      Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut
      teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa
      psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic.
      Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia
      balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak
      untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak
      berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat
      kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman
      masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat
      sensitif.

      Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa
      mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya
      kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan
      sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila
      menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak
      apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase
      ini.

      Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar.
      Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas,
      anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh
      dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin.

      4. NGECES
      Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi
      karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna.
      Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak,
      hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa
      disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita
      awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua
      sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa
      diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang
      dewasa.

      Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak,
      misalnya, "Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong." Pada fase
      imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan
      menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan
      anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang
      sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah
      berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan
      mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu,
      tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini
      sudah ditinggalkannya.
      Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya
      masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila
      sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan
      ini. "Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan."

      5. NANGIS MINTA SESUATU
      Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita
      bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara
      berkomunikasi. Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa
      berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan
      sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa
      menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai
      cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan
      tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua
      sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
      * Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya,
      tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk
      minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
      * Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk
      mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan
      sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan
      sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.
      * Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan
      tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap
      mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali
      saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan
      kesempatan dan mencari-cari celah.
      * Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila
      anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa
      melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta
      sesuatu, anak bisa "dihukum" sesuai kesepakatan yang dibuat bersama.

      6. KELEKATAN YANG BERLEBIHAN
      Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal
      yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang
      lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau
      significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang
      sering dilihatnya.

      Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and
      distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa
      sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa
      berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak
      mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang
      tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di
      luar mereka.

      Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya,
      akan "takut" berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya
      tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua
      untuk menyiasatinya:
      * Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia
      ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
      * Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
      * Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang
      ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun
      tidak "berbahaya" baginya.
      * Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya
      agar akan tumbuh perasaan trust.
      * Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama.
      Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya,
      pasti nanti akan kembali lagi. Bila dibiarkan saja, kelekatan yang
      berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak
      berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya
      kehidupan sosialnya pun akan terganggu.

      TIPS UNTUK ORANG TUA
      Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan
      bayi yang masih terbawa sampai batita.
      * Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah
      mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware.
      Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan
      kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.
      * Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada
      anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu
      dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
      * Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang
      diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa
      yakin bahwa perbuatannya benar.
      * Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan
      itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya
      mengatakan, "Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti
      juga?" Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih
      terbatas.
      * Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang
      diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua
      adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.

      -----------------------------------------------------------------

      Kantong Plastik ASI

      [Tanya]

      Aku dapat sms dari ibu Ktk, Ibu DI juga yang saat ini lagi cuti
      melahirkan, beliau titip pertanyaan, begini isinya :
      "Ass. Mbak Vr. Aku mau minta tolong. Tolong tanya ke DI, dulu kan
      pernah membahas tentang kantong plastik penampung ASI untuk ditaruh
      dikulkas. Itu merknya apa? beli dimana? Aku lagi mencari, terima
      kasih ya [Vr]

      [Jawab]

      Kantong plastiknya merk avent aku belinya di toko bayi itc cempaka
      mas Rp 40.000,-/40 pcs tapi tidak terpakai sampai sekarang selain
      untuk digunakan khusus untuk botol merk avent ternyata juga mesti
      pakai penjepitnya (untuk ditutup), aku sudah keliling itc, cari
      penjepitnya avent, tapi tidak ketemu juga dan terlalu ribet,
      menurutku jadi aku prefer beli banyak botol-botol kecil untuk
      menyimpan asi di kulkas tapi kalau mau, bayari saja punyaku :) [Ley]

      DSA anakku menyarankan pakai plastik biasa saja yang ada klipnya
      (yang biasa dipakai untuk menaruh obat dari apotik) plastik ini
      murah, tidak sampai Rp 5.000,- untuk satu bungkusnya (isi 50 atau
      100 ya? lupa) Paling bagus untuk menyimpan ASI memang botol kaca,
      setelah itu botol plastik yang padat (kayak botol susu yang bening
      itu) dan terakhir yah plastik biasa. Aku sempat praktekkan,
      Alhamdulilah tidak apa-apa, kebayang saja mesti menyiapkan botol 30
      buah tidak muat freezernya. Karena 1 botol/plastik diisi hanya untuk
      sekali minum, paling 50 - 100 cc ya. Bahkan pernah aku tugas keluar
      kota 2-3 hari aku tempatkan di plastik ini, selain bisa muat di
      kulkas hotel yang kecil itu, waktu pulang juga lebih ringkas, bisa 1
      termos isi 20 -30 plastik [Rn]

      Aku juga pakai plastik ini, murmer dan ringkas dalam penyimpanan.
      Jadi
      bisa menyimpan ASI banyak di freezer, juga bawanya di termos es bisa
      muat banyak. Alhamdulillah anakku yang kecil (hamper 3 bulan) tidak
      ada masalah, demikian pula kakaknya, yang kebagian ASI juga. Aku
      sudah mencari plastik ASI Avent di ITC sudah putar-putar tidak
      dapat, tapi ternyata mbak Ley dapat yah? Soalnya semua toko yang
      kutanyai jawabannya sama, plastik ini sudah tidak ada dari Aventnya
      soalnya tidak diproduksi lagi. Ada yang bilang mau diganti ama
      produk botol susu sekali pakai. Tahu cerita mbak Ley ternyata ribet,
      syukur juga tidak dapat kemarin :)) [Al]

      Kalau mencari produk Avent kayanya jangan di ITC, lebih baik di Sogo
      (tapi kalau tidak salah cuma dipusatkan di Sogo Plaza Senayan deh).
      Biasanya disitu lengkap, malah terakhir kesitu dikasih katalognya
      segala. Soalnya pengalaman aku, waktu itu juga mencari container ASI
      yg isi 4 (sebenarnya sama dengan botol susu biasanya, tapi tutupnya
      bukan berupa dot, tapi ada piringan kedap udaranya, memang ditujukan
      buat menyimpan ASI perahan), waktu itu mencari di ITC kuningan,
      ketemu tapi harganya mahal sekali, buka harga Rp 225.000,-, dan
      mentok di Rp 175.000,-, tidak bisa turun lagi. Eh, waktu lagi di
      sogo, barang yang sama harganya cuma Rp 126.000,-. Kalau untuk
      asesoris kayanya di Sogo itu lumayan banyak kok, jepitannya juga aku
      pernah lihat. Sebenarnya kelebihannya plastik Avent ini cuma karena
      dia sudah pre-sterilized dan dijepit pakai jepitan supaya kedap
      udara, jadi ASInya tidak akan terkontaminasi. Mungkin kalau pakai
      plastik biasa, harus dipastikan kesterilannya juga kali ya. Si
      plastik ini memang bisa dipakai di botol Avent, tapi bukan botol
      Avent yang biasa, tapi botol khusus yang untuk plastik, jadi
      bentuknya kaya silinder, atas bawah bolong. Ini memang praktis kalau
      mau bepergian dan tidak mau repot cuci-cuci botol, jadi si plastik
      yang berisi ASI itu langsung dijepit dibotolnya dan si bayi minum
      langsung dari plastiknya itu, habis itu langsung buang plastiknya.
      Tapi ini juga harus pakai dot khusus. Memang rada ribet. Makanya aku
      lebih memilih pakai brestmilk containernya sekalian, selain lebih
      higienis, dan juga bisa dipakai sebagai botol susu biasa, tinggal
      piringannya diganti dot saja [Rn]

      Kalau aku, plastik aventnya aku tutup pakai karet gelang, terus waktu
      menyimpannya di kulkas aku masukkan plastik kresek yang kecil sekali
      itu. Tujuannya untuk menghindari kebocoran, jadi kalau waktu diambil
      dari frezer & plastiknya menempel di alas frezer, yang menempel
      adalah plastik kreseknya, jadi plastik aventnya tetap bagus. Dulu
      itu aku beli plastik karena kulkasnya tidak muat kalau semuanya isi
      botol. Lagipula kalau sudah jarang minum susu karena minumnya pakai
      botol besar saja,ya banyak botol yang tidak terpakai. Di rumahku ada
      lebih dari 15 botol yang tidak terpakai, kalau ada yang mau boleh
      saja japri aku [MM]

      Waktu itu aku belinya di Mahakam Baby Shoppe, diatasnya Apotik
      Mahakam-Le Gourmet yang di jalan Mahakam. Seingatku harganya Rp
      100.000,- (kira-kira 1,5tahun lalu) untuk limapuluh plastik kalau
      tidak salah. Bagusnya sudah ada cc-nya di plastic-plastik ini jadi
      tidak bingung sudah pompa berapa cc. Tapi menurut Klinik Laktasi di
      Carolus dulu, plastik bening biasa juga tidak apa-apa kok (yang
      biasa buat plastik gula 1/4 kg). Atau kalau mau bisa pakai plastik
      yang ada zippernya kalau yang biasa tidak ada merk zippernya
      biasanya warna merah, yang lokal merk Bagus kalau yang impor merk
      Ziplock. Ini biasanya ada di supermarket [Gt]

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Jika ada yang ingin anda tanyakan seputar pernik-pernik pernikahan,
      perkembangan anak usia prasekolah dan masa-masa ABG dan banyak hal
      lainnya...klik di http://forum.dunia-ibu.org

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Beberapa pesan penting untuk Asisten

      1. Jangan bukain pintu kepada siapapun. [Nad]

      2. Kalau ditelpon, jangan bilang kalau bapak ibu tidak di rumah?
      [Nad]

      3. Kalau ibu di kamar mandi ada yang menelpon tolong ya bilang saja
      lagi di kamar mandi [Nad]

      4. Kalau ada yang mau mencatat listrik, kamu bacakan saja, jangan
      dibukakan pagar [Ssn]

      5. Jangan pernah bawa kunci gerbang keluar rumah kalau ada tamu
      (mengingat sekarang banyak hipnotis-hipnotisan)[Dn]

      6. Kalau anak jatuh, tidak usah takut bilang, harus bilang malah [Dn]

      7. Kalau aku lebih parah bu, kalau kita pergi sekeluarga dan hanya
      meninggalkan pembantu di rumah, mereka "boleh dan harus" tidak
      membukakan pintu untuk siapapun walaupun itu saudara, karena kalau
      kita yang datang kan sudah bawa kunci jadi tidak perlu menunggu
      mereka bukakan pintu. Aku bilang ke mereka tidak perlu takut nanti
      saudara kita marah atau mengadu ke kita, seandainya ada perlu pasti
      akan menghubungi kita lewat telpon. Jadi kalau kita pergi
      mereka "bebas" di rumah tidak perlu berjaga-jaga takut ada bel tidak
      mendengar [RM]

      8. Dan walaupun ada kita di rumah, kalau dengar bel "tidak boleh"
      langsung bawa kunci dan bukakan pintu, mesti lihat dulu dan tanya
      apa keperluannya. Kalau memang benar dan penting baru ambil kunci
      dan dibukakan [RM]

      9. Kalau pacaran jangan pernah mengajak anak-anak (takut dewasa
      sebelum waktunya) [Vt]

      10. Anak-anak (terutama yang cewek) jangan pernah boleh dipegang-
      pegang laki-laki missal satpam (kadang suka menyubit gemas lihat
      anak montok, padahal anakku sudah beranjak dewasa) [Vt]

      11. Kalau mau pergi seperti ke warung atau ke indomart, jangan ajak
      anak-anak. Tinggal di rumah sama tantenya, atau tunggu ibu ada baru
      pergi. Kejadian anak temanku, diajak mbaknya naik angkot ke pasar,
      bawa 2 anak. Turun dari angkot, mbaknya bayar ongkos, anaknya
      menyelonong, ditabrak motor sampai gegar otak [Vt]

      12.Jangan nonton film atau sinetron tentang setan/hantu [Vt]

      13. Jangan nonton berita kriminal macam buser atau sejenis yang
      sadis dan vulgar [Vt]

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Anda dan keluarga ingin tetap sehat dan tak mudah sakit? Mudah
      saja, gunakan aromaterapi dan dapatkan infonya di
      http://www.bisnisaromaterapi.com

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.